Nah, sekarang baru ada yang namanya capres dan cawapres secara resmi. Karena memang sudah ditetapkan oleh KPU secara resmi, karena telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh undang-undang, seperti syarat dukungan suara atau kursi, syarat kesehatan, pelaporan harta kekayaan, dan sebagainya. Bahkan telah diberi nomor pula. Sebelumnya, semuanya baru menjadi balon (bakal calon) capres dan balon cawapres. Khusus untuk capres SBY dan pasangannya Boediono, mendapat nomor urut 2.
Tentu saja setelah penetapan resmi dari KPU itu maka kompetisi politik dalam pilpres 2009 ini boleh dikata dimulai, walaupun kampanye baru boleh dimulai tanggal 2 Juni sebagaimana yang diatur oleh KPU. Wajar pula jika sekarang ini para kontestan sedang mengatur strategi guna memenangkan pilpres 2009. Kalau suhu politik agak meningkat jangan terlalu dirisaukan, yang penting masing-masing kontestan bermain cantik, dan pemilu berjalan damai. Seperti pertandingan final Piala Champion antara MU dan Barca, keduanya bermain cantik, siapapun yang menang penonton puas.
Di tengah kompetisi politik yang mulai menghangat ini Presiden SBY tetap harus menjalankan tugas negara sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, meninggalkan tanah air selama beberapa hari. Ada pertemuan puncak ASEAN dan Korea Selatan di Jeju, Korsel. Ini adalah tonggak sejarah kerjasama antar ASEAN dan Korea Selatan yang telah berlangsung 20 tahun. Semua kepala pemerintahan negara-negara ASEAN juga hadir. Presiden Korsel mengirim utusan khusus agar Presiden SBY pun sebagai negara terbesar di ASEAN dapat hadir walau pertemuan itu diadakan di awal masa kampanye. Kunjungan ke Jeju ini berarti Presiden SBY tidak bisa menghadiri permulaan masa kampanye tanggal 2 Juni 2009.
Ini bukan pertama kalinya bagi Presiden SBY. Dalam pemilu legislatif yang baru saja usai Presiden SBY pun meninggalkan tanah air di tengah masa kampanye karena tugas negara. Kala itu adalah menghadiri pertemuan G-20 di London yang memang sangat penting karena membahas solusi global terhadap krisis ekonomi dunia. Sebagai satu-satunya anggota G-20 dari ASEAN dan dari negara-negara berpenduduk muslim mayoritas, kehadiran Presiden SBY di London sangatlah penting. Urusan kampanye menjadi nomor dua.
Memang Presiden SBY disumpah untuk mendahulukan tugas negara ketimbang untuk kepentingan pribadi atau partai. Dan itu yang selalu ditegaskan oleh Presiden SBY ketika dihadapkan pada pilihan-pilihan seperti itu. Justru di situ pulalah kekuatan Presiden SBY selama ini. Ketika banyak orang mengkhawatirkan bahwa pemerintahan akan terbengkalai di masa kampanye pilpres inim jawabannya jelas, tidak perlu khawatir, karena pemerintahan berjalan dengan baik.
Bagi presiden yang sedang menjabat yang kembali mencalonkan diri untuk masa jabatan ke dua, kekuatannya justru jika ia menjalankan pemerintahannya dengan baik. Karena seorang incumbent justru dinilai oleh rakyat terutama pada apa yang telah dilakukannya selama menjalankan amanah rakyat dalam masa jabatannya. Jika ia menjalankan tugas pemerintahannya dengan baik dan rakyat merasakan manfaatnya, maka besar kemungkinan rakyat akan memilihnya kembali.
Rakyat di negara manapun akan memilih kembali pejabat yang sedang menjabat yang telah terbukti berhasil memajukan kepentingan rakyat, karena rakyat ingin apa yang sudah baik dilanjutkan. Jadi, jangan khawatir, karena negara berada di tangan pemimpin yang baik. Yang perlu khawatir justru kami yang berada di Jeju, karena disarankan oleh dokter untuk tidak ke mana-mana, khawatir kalau terkena flu babi. Itu sudah resiko tugas negara.
Dari Kilometer 0,0
Senin, 1 Juni 2009
Antara Kampanye dan Jeju
Dr. Andi A.Mallarangeng, dikutip dari harian Jurnal Nasional



