Siapa bilang kampanye hanya bisa berbentuk rapat akbar dengan mobilisasi massa yang besar, yang diisi dengan jargon-jargon retorika dan angin surga belaka? Siapa bilang kampanye di Indonesia hanya bisa berbentuk arak-arakan sambil berhura-hura melanggar aturan lalu lintas? Siapa bilang kampanye di Indonesia harus menyeramkan, rawan kekerasan dan memperbodoh?
Tidak benar, saudara-saudara. Kampanye cerdas dan kampanye modern juga bisa dilakukan di Indonesia. Tidak benar, karena kampanye tertib, simpatik, dan damai juga bisa dilakukan di Indonesia. Lihatlah kampanye perdana yang dilakukan oleh Presiden SBY di Jakarta minggu lalu. Mungkin Anda juga melihatnya di televisi bagaimana SBY menyampaikan pidato politik awal masa kampanye, yang dilakukan di gedung tertutup dan dihadiri oleh sekitar 2 ribu orang undangan saja.
Pidato politik yang berjudul Mewujudkan Pemerintahan Bersih Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat itu berjalan dengan semarak, disambut dengan 37 kali tepuk tangan dan lima kali standing ovation. Hadirin mendengarkan dengan seksama pidato politik tersebut sembari menyambut dengan gempita pesan-pesan yang disampaikan oleh capres SBY. Selama 40 menit pidato politik SBY memberikan semangat tentang cita-cita mewujudkan pemerintahan yang bersih untuk rakyat kepada 2 ribu orang hadirin dan jutaan penonton televisi di rumah masing-masing di seluruh Indonesia.
Inilah model kampanye modern yang akan dilakukan oleh Presiden SBY sebagai salah seorang capres dalam kampanye Pilpres 2009 ini. Tampaknya model kampanye semacam ini akan menjadi model kampanya di Indonesia di masa mendatang. Audiens dari kampanye seperti ini sebenarnya bukanlah terutama hadirin yang hanya 2 ribu itu, tetapi jutaan pemirsa televisi, pendengar radio, pembaca media cetak dan elektronik di luar hadirin dalam kampanye terbatas tersebut. Dalam hal ini, kampanye modern ini memang menggunakan media sebagai sarana komunikasi kepada jutaan pemilih.
Ini adalah kampanye cerdas karena memberikan kesempatan kepada calon presiden untuk menjelaskan visi misinya ataupun rekam jejaknya secara utuh dan sistematis, dan bukan hanya jargon-jargon kampanye yang diselingi oleh musik dangdut yang menjadi ciri khas kampanye rapat akbar. Rakyat pemilih pun dapat menyimak secara lengkap apa saja yang menjadi pesan calon presiden yang sedang berkampanye. Dan mereka bisa menyimaknya dari rumah masing-masing. Tak perlu melakukan arak-arakan yang rawan kecelakaan dan rawan benturan antar massa. Rakyat bahkan bisa mengikuti kampanye dengan tenang dan damai sambil minum kopi dan makan pisang goreng di tengah keluarga dan handai taulan.
Hebatnya lagi, jika rakyat tidak menyukai isi kampanye, tinggal pindah channel, maka selesailah sudah kampanye itu. Memang kampanye modern semacam ini memberikan kekuasaan dan kemerdekaan kepada rakyat untuk mendengarkan atau tidak mendengarkan kampanye politik, mendukung atau tidak mendukung, serta memilih atau tidak memilih siapapun calon presiden yang sedang berkampanye. Dengan demikian para capres harus melakukannya dengan cara yang menarik dan meyakinkan sehingga rakyat bersedia mendengarkan, mendukung dan akhirnya memilih.
Yang menarik, dan ini merupakan insentif bagi para pelaku kampanye, kampanye modern seperti ini ternyata ongkosnya jauh lebih murah daripada rapat akbar. Yang dibutuhkan hanyalah sewa gedung dan ongkos dekorasi. Itupun bahan dekorasi bisa digunakan berulang-ulang di tempat lain. Tak perlu ada ongkos mobilisasi massa, karena undangan datang sendiri. Padahal ongkos mobilisasi massa dan transposrtasinya dan berbagai tetek bengek lainnya adalah salah satu pos pengeluaran besar dalam kampanye rapat akbar. Belum lagi sewa stadion yang lebih mahal, setting panggung dan honor para artis yang selangit. Kampanye modern adalah kampanye murah, meriah tetapi tampak anggun dan damai.
Presiden SBY, yang sejak dulu ingin mewujudkan kampanye cerdas dan damai di negeri ini, berharap bahwa kampanye modern pada Pilpres 2009 ini akan menjadi trend setter bagi kampanye yang cerdas dalam kompetisi politik di Indonesia di masa mendatang. Lagi pula, rakyat sudah cerdas, saatnya berkampanye secara cerdas pula.
Dari Kilometer 0,0
Senin, 8 Juni 2009
Kampanye Modern
Dr. Andi A.Mallarangeng, dikutip dari harian Jurnal Nasional



