Demokrasi kita semakin maju. Minggu lalu kita menyaksikan bersama debat capres untuk pertama kalinya dalam sejarah republik ini.

Tiga capres hadir dalam satu ruangan saling mengemukakan visi misinya, dan juga mengomentari pernyataan capres lainnya. Debat itu bahkan disiarkan langsung di televisi sehingga seluruh rakyat bisa mengikutinya.

Ketiga capres tampil dengan gayanya masing-masing yang khas. Yang menarik, dalam banyak persoalan ternyata ketiga capres sepakat. Presiden SBY pun beberapa kali menyatakan persetujuannya dengan ide-ide capres lainnya.

Bagi Presiden SBY, ide yang baik, dari mana pun datangnya, adalah ide yang baik, yang perlu didukung. Kita tak perlu tabu bersepakat dengan kompetitor kita jika memang ide itu adalah untuk kebaikan bersama.

Beberapa pengamat tampaknya mengritik debat ini karena para capres banyak bersepakat tentang ide-ide, visi dan misinya. Mereka menginginkan debat yang "panas" di mana para capres saling menyerang dan berbantahan. Alasannya, agar rakyat bisa melihat perbedaan di antara para capres.

Mereka menginginkan perdebatan ala Amerika yang seru. Padahal demokrasi bukan sebuah sistem terlepas dari konteks lokalnya. Dalam budaya kita, perbedaan tidak harus dipaksakan untuk hadir, dan kesantunan tetaplah nilai yang dijunjung tinggi.

Bagi Presiden SBY, ide tidak harus ditolak hanya karena ide itu datang dari lawan politik. Lantas bagaimana rakyat bisa membedakan satu capres dengan capres lainnya jika mereka sama bersetuju? Pertanyaan ini berasumsi bahwa rakyat hanya bisa melihat yang tersurat, yang terucap di bibir. Padahal rakyat bisa menilai kualitas jawaban masing-masing capres, kejujurannya, dan kesungguhannya memenuhi ucapannya itu.

Rakyat bisa menilai apa yang tersirat dari berbagai jawaban dan pernyataan para capres. Dan yang lebih penting lagi, semua pernyataan para capres dicocokkan dengan rekam jejak masing-masing capres. Sebuah pernyataan bukan sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan dilihat dalam konteks rekam jejak masing-masing.

Rakyat menilai masing-masing capres dalam debat ini terutama dari rekam jejaknya masing-masing. Itulah yang dinamakan memilih retrospektif. Ketiga capres bisa saja sepakat untuk mengutamakan pemerintahan yang bersih dan pemberantasan korupsi, tapi rakyat bisa menilai siapa yang benar-benar menjalankannya secara sungguh-sungguh.

Jangan pandang enteng kemampuan rakyat untuk menilai, karena mereka bisa merasakan. Karena itu, saya tetap optimistis dengan kemajuan demokrasi kita yang terlihat dalam debat capres malam itu. Lagi pula, masih ada debat capres dan debat cawapres dua kali lagi masing-masing. Kita harus pandai bersyukur dengan karunia Tuhan dan kerja keras kita bersama. Soal bagaimana penilaian rakyat nanti, kita serahkan saja pada rakyat. Jangan khawatir, rakyat cerdas kok.