Tanggal 29 September 2009, jam menunjukkan pukul 16:45 waktu Boston, Amerika Serikat. Rombongan presiden mulai berjalan menuju Universitas Harvard, salah satu universitas paling bergengsi di Amerika Serikat. Pukul 18:00 nanti Presiden SBY akan memberikan pidato di depan civitas akademika John F Kennedy School of Goverment di Universitas itu Di tengah jalan laporan dari Paspampres masuk bahwa ada demo di depan Universitas yang dilakukan oleh sekelompok mahasiswa. Tentu saja mahasiswa-mahasiswa bule. Mereka membentangkan poster-poster besar dengan tulisan tangan menggunakan spidol. Hurufnya pun besar-besar.
Ketika Presiden SBY dan rombongan melewati para pendemo itu, rasanya deg-degan juga. Apalagi yang didemo kali ini? Rasanya sudah beberapa tahun terakhir ini tak pernah lagi ada demo-demo terhadap Presiden RI ketika sedang berkunjung ke luar negeri. Mereka melakukan demo dengan tertib di trotoar. Yang mengejutkan adalah bunyi poster-poster itu, yang diacungkan ketika Presiden SBY lewat. Bunyinya, antara lain: “Thank you Indonesia”, “Indonesia is a hero G-20”, “SBY is the real hero of climate change”.
Sebuah kejutan yang menyenangkan. Rupanya para mahasiswa itu mengikuti perdebatan dalam KTT G-20 seperti yang dilaporkan media massa tentang peran konstruktif Indonesia dalam menjembatani pertentangan dalam mengatasi krisis ekonomi dunia dan isu perubahan iklim sembari meingankan beban masyarakat miskin. Bahkan para mahasiswa tersebut juga mengikuti peran krusial Indonesia dalam menyelamatkan Konferensi PBB tentang Perubahan Iklim di Bali yang akhirnya menghasilkan Bali Road Map. Mereka mengharapkan Presiden SBY terus melanjutkan peran yang penting dalam konferensi PBB berikutnya di Kopenhagen, Denmark.
Tak ada yang mensponsori atau memobilisasi mereka seperti yang sering terjadi di tanah air ini. Sepenuhnya adalah spontanitas mereka sendiri, karena mereka mempunyai perhatian khusus tentang isu perubahan iklim, dan peran negara-negara G-20 yang baru saja melakukan KTT di Pittsburgh, Amerika Serikat.
Pikiran saya melayang, berangan-angan, kapan ya bisa melihat demo positif di depan Istana Merdeka? Hahaha..., namanya angan-angan, boleh saja. Maklum, selama ini yang setiap kali muncul di depan Istana adalah demo negatif yang isinya mengeritik, mengecam, bahkan memaki-maki pemerintah atau bahkan Presiden. Tidak jarang pula dilakukan dengan wajah garang, tinju mengepal, dan suara lantang yang dibantu oleh loudspeaker yang besar di atas truk. Belum lagi sumpah serapah yang tak pantas.
Tetapi ini bukan hanya “penyakit” kebanyakan pendemo di Indonesia, yang hanya bisa bersuara minor. “Penyakit” seperti ini banyak juga berjangkit di kalangan LSM, pengamat, dan pihak oposisi. Mungkin juga karena kita masyarakat Indonesia seringkali sulit mengakui kebaikan orang lain apalagi memberikan pujian. Banyak di antara kita baru bersuara kalau ada yang bisa disalahkan. Padahal, sikap yang adil adalah memberikan kritik yang membangun ketika ada yang harus diperbaiki, dan memberikan pujian ketika ada kebaikan yang harus dipuji.
Dalam ilmu manajemen, ada strategi reward and punishment atau carrot and stick. Ganjaran yang positif diberikan untuk perilaku yang baik, dan sebaliknya hukuman diberikan atas perbuatan yang salah. Fair jadinya. Dengan begitu semua orang dalam organisasi akan tertantang berbuat yang terbaik dan menghindari berbuat kesalahan. Sebaliknya jika sebuah organisasi menerapkan strategi punishment and punishment atau stick and stick tanpa ada reward and carrot niscaya organisasi itu akan hancur, karena tak ada insentif untuk berbuat baik dan semua orang tercekam karena ketakutan untuk berbuat salah.
Pemerintahan juga membutuhkan positif intensif sama dengan organisasi lainnya. Sebagaimana mendapat tepukan di punggung ketika sebuah pekerjaan dilakukan dengan baik, pujian yang diberikan pada saat yang tepat memberi motivasi untuk terus melakukan yang terbaik bagi bangsa dan negara.
Mungkin masih ada saja yang berpendapat kalau pemerintah berbuat baik itu memang sudah tugasnya, sementara kalau pemerintah dianggap melakukan kesalahan pantas untuk dikecam. Kalau Anda masih berpandangan semacam ini, itu hak Anda. Tapi Anda tergolong dengan orang-orang yang hanya bisa menghukum dan menghukum. Itu sudah kuno. Saya anjurkan Anda untuk mencoba roti bakar selai kaya di warung kopi Phoenam di Makassar. Mudah-mudahan pikiran Anda terbuka setelah menikmatinya.
Arsip
| « | Oktober 2009 | » | ||||
| M | S | S | R | K | J | S |
| 1 | 2 | 3 | ||||
| 4 | 5 | 6 | 7 | 8 | 9 | 10 |
| 11 | 12 | 13 | 14 | 15 | 16 | 17 |
| 18 | 19 | 20 | 21 | 22 | 23 | 24 |
| 25 | 26 | 27 | 28 | 29 | 30 | 31 |



