Isi Pesan
:
Halo Pak Presiden? Bagaimana kabarnya? Saya Teminto masih pelajar 2 SMA dan berumur 16 tahun. Saya turut prihatin dengan keadaan bangsa ini. Saya ingin sekali melakukan suatu hal untuk memajukan Indonesia. Mungkin, saya belum cukup umur, tapi saya mau membantu bapak menyelesaikan masalah bangsa ini walaupun itu kecil. Seperti dalam hal korupsi, kebutuhan pokok yang semangkin mahal, parawisata Indonesia yang harus dikembangkan, bidang pendidikan Indonesia, tata letak kota, dan lain-lain. Dalam hal korupsi, saya sarankan untuk membuat hukum yang lebih ketat dan tegas. Menurut saya, hukum di Indonesia masi kurang tegas dan masih ada pihak lain yang mudah untuk di suap. Hukum yang pantas bagi pelaku korupsi dalam jumlah besar adalah hukum mati. Tak ada alasan bagi mereka untuk hidup dan menjunjung HAM mereka. Karena mereka (pelaku korupsi) tidak memilki nurani untuk memprioritaskan HAM orang lain. Yang kedua, perlu adanya pelatihan iman/ agama buat pemerintah sehingga di setiap pekerjaan yang mereka lakukan, selalu mengandalakan Tuhan, dan menutup kemungkinan untuk korupsi. Yang ketiga, saya akan terapkan hidup untuk jujur, tidak meyontek, mencuri, dan mengambil hak orang lain.
Dalam hal kebutuhan poko yang semangkin mahal, perlu adanya pembagian sembako yang langsung sampai pada sasaran, peningkatan gaji petani, mengembangkan ilmu pertanian, tidak mengimport barang dari luar, harga pupuk yang tak semangkin mahal, dan memberikan ilmu pendidikan gratis bagi petani. Selama ini, pekerjaan sebagai petani, sering dianggap remeh, padahal petani itu sangat berjasa dalam memenuhi kebutuhan pangan, sudah semestinya memberikan fasilitas yang layak dan penaikkan gaji bagi petani. Jaman dahulu, penjajah bangsa Eropa, terpikat menjajah Indonesia yang agraris, hijau, banyak rempah-rempah, dan kaya. Apakah kenyamanan itu masih dapat dirasakan oleh kpenduduk Tanah Air? Sebaiknya, batasi juga pembangunan gedung-gedung dan perumahan. Bar ada lahan hijau yang membantu mengurangi masalah global warming. Siapa tahu bisa. Ia bukan?
Pendidikan di Indonesia sering dianggap remeh oleh penduduknya sendiri, kadang dianggap gak penting, dan sering dibandingkan dengan negara lain. Sebaiknya, pendidikan itu gratis seperti di Jerman, Kualitas pendidikan harus bagus dengan guru-guru berkualitas dan fasilitas yang memenuhi. Seperti gelas yang terisi penuh, tentu akan tumpah. Perumpamaan itu mendeskripsikan otak kita. Jadi, apakah otak kita muat untuk menampung semua ilmu yang di dapat dari sekolah jika mata pelajaran di Indonesia kebanyakkan?
Apa bila mau membuat bangsa ini menjadi benar, buat dahulu masyarakatnya menjadi benar, serta menanamkan sikap positif di antara masyarakat.
Saya rela untuk membantu bapak, walaupun tak dibayar Saya ingin hidup saya berdampak untuk negara tercintaku. Cita-cita saya adalah menjadi seorang arsitektur yang berguna bagi Indonesia untuk membangun negri ini yang tak kalah dengan negara berkembang lainnya. Saya sangat senang terlibat dalam organisasi sosial. Saya mulai memiliki kesadaran ini setelah memperoleh firman ALLAH di gereja saya. Dalam hati saya, mulai terukir untuk menjadikan Indonesia yang tak kalah dengan negara berkembang lainnya. Ketika itu, saya diingatkan tentang kemajuan negara Kolumbia dalam segala aspek oleh 8 orang yang masih muda. Maka itu, timbullah rasa dari dalam hati saya untuk memajukan Indonesia, sehingga saya menulis komentar seperti ini. Walaupun saya masih kecil, belum tahu tentang hal apa pun, saya memiliki iman bahwa Indonesia akan dilawat Tuhan, Tuhan akan meninggikan bangsa ini, bangsa ini akan dimurnikan dari kejahatan, dan tak ada hal yang mustahil bagi Allah. Ketika Ia sudah membuka pintu, tak ada satu pun yang berani menutup pintu itu. Saya juga teringat dengan kisah tokoh di Alkitab yang bernama DAUD. Dau mengalahkan Goliat yang begitu besar. Secara pandang manusai, itu tak mungkin, tapi Daud berani dan memiliki iman untuk mengalahkan Goliat. Akhirnya, Daud berhasil mengalahkan Goliat dengan pedang.
Dari cerita di atas, membuat iman saya semangkin teguh untuk berani mengambil keputusan ini.
Saya harap, saya dapat membantu Pak Presiden SBY. Saya rela... Saya juga harus banyak belajar ilmu-ilmu yang memajukan bangsa ini dan mengerahkan segala kemampuan saya. Semoga Tuhan memberkati bangsa ini dan seluruh isinya.
Terima kasih!