Ruang Pers

Keterangan Pers Presiden

Tentang Insiden Penembakan Presiden dan PM Timor Leste

Kantor Presiden, Jakarta, Jumat, 18 April 2008

 

TRANSKRIPSI
PERNYATAAN PERS PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PERIHAL
INSIDEN PENEMBAKAN TERHADAP
PRESIDEN RAMOS HORTA DAN PERDANA MENTERI XANANA GUSMAO
DI TIMOR LESTE TANGGAL 11 FEBRUARI 2008
KANTOR PRESIDEN, 18 APRIL 2008



Bismillahirrahmanirrahim,
Saudara-saudara,
Malam hari ini saya ingin mengeluarkan pernyataan, merespon berbagai pemberitaan media massa sejak kemarin dan hari ini, menyangkut pernyataan yang dikeluarkan oleh Presiden Ramos Horta di Dili, Timor Leste, yang pernyataan itu berkaitan dengan peristiwa penembakan terhadap Presiden Ramos Horta dan Perdana Menteri Xanana Gusmao beberapa saat yang lalu.

Dalam pernyataan Presiden Horta, dikatakan bahwa ada unsur luar, dan yang dimaksud adalah pihak-pihak yang ada di Australia dan di Indonesia, yang diduga terlibat dalam peristiwa penembakan pada tanggal 11 Februari tahun 2008 yang lalu. Sesungguhnya, pada tanggal 10 April yang lalu, saya berbicara melalui telepon dengan Presiden Ramos Horta ketika, beliau waktu itu sedang dirawat di Australia.

Dikatakan oleh Presiden Ramos Horta, dalam pembicaraan telepon bersama saya, bahwa dari hasil investigasi yang sedang berlangsung ada sejumlah informasi yang mengait kepada percakapan telepon antara Renaldo dengan pihak-pihak yang ada di Indonesia. Yang kemudian saya tahu, pihak-pihak itu bukan hanya di Indonesia, tapi juga di Australia dan di negara-negara lain.

Dalam percakapan itu, Presiden Horta meminta bantuan pemerintah Indonesia dengan sebuah kerjasama yang baik, untuk menindaklanjuti informasi yang didapat dari investigasi yang tengah berlangsung itu, agar siapa yang terlibat dalam usaha pembunuhan Presiden Ramos Horta dan Perdana Menteri Xanana bisa diketemukan, dan tentunya diproses menurut hukum yang berlaku. Bahkan Presiden Ramos Horta mengatakan waktu itu, dalam kunjungan Perdana Menteri Xanana, yang akan dilaksanakan pada akhir bulan ini, masalah itu akan diangkat dan dijadikan salah satu agenda pertemuan bilateral. Bahkan disebut juga bahwa Jaksa Agung Timor Leste juga diharapkan bisa memberikan penjelasan pada mitranya, pada counterpart-nya sewaktu kunjungan itu dilaksanakan di Jakarta, Indonesia.

Tanpa harus menunggu kunjungan Perdana Menteri Xanana, karena saya menganggap masalah ini tentu masalah yang serius, maka pemerintah Indonesia mengambil langkah-langkah yang pro-aktif. Saya segera menginstruksikan kepada Kapolri, Jenderal Sutanto, untuk dengan cepat melakukan langkah-langkah yang diperlukan, bekerjasama dengan pihak Timor Leste. Dan, beberapa saat setelah itu, telah dikirim dua pejabat senior Polri, pada tanggal 12 April dan kemudian kembali pada tanggal 15 April, ke Dili, dan juga bertemu dengan Jaksa Agung Timor Leste. Disitulah, setelah dilakukan pembicaraan, analisis secara bersama, secara resmi, Jaksa Agung Timor Leste meminta kepada pihak Indonesia, kepada kepolisian dengan warrant arrest untuk mencari dan menangkap mereka-mereka yang diduga kuat terlibat dalam peristiwa penembakan itu, yang juga diduga telah menyeberang perbatasan Indonesia-Timor Leste secara ilegal.

Polri, setelah itu juga melakukan tindakan yang cepat dan profesional dengan semangat, sekali lagi kerjasama yang baik, untuk betul-betul mengetahui siapa sesungguhnya yang terlibat dalam peristiwa penembakan itu.

Oleh karena itu, saya terperanjat atau surprised ketika mendengar pernyataan Presiden Ramos Horta beberapa saat yang lalu, yang sesungguhnya, apa yang kami bicarakan melalui telepon itu disampaikan kepada publik. Pengertian saya, pembicaraan itu belum tepat disampaikan ke publik untuk memberikan ruang kepada Kepolisian Indonesia dan counterpart-nya di Timor Leste untuk bekerjasama mencari, menemukan, siapa mereka-mereka itu yang diduga terlibat dalam peristiwa penembakan. Saya pun memerintahkan kepada para Menteri dan Kapolri serta pihak-pihak terkait untuk tidak dulu mempublikasikan masalah ini, dengan tujuan, sekali lagi agar upaya kita untuk mencari mereka-mereka yang terlibat dalam kejahatan dapat berlangsung dengan efektif.

Saudara-saudara,
Dengan latar belakang seperti itu, dan sekali lagi dengan kecepatan tindak jajaran Kepolisian kita, maka tadi malam dan tadi pagi, 18 April 2008, Polri telah berhasil menangkap dan menahan tiga Warga Negara Timor Leste. Saya ulangi, tiga Warga Negara Timor Leste. Mereka ditangkap dan ditahan berdasarkan arrest warrant yang dikeluarkan oleh pemerintah Timor Leste sendiri. Mereka-mereka yang telah berhasil ditangkap dan ditahan adalah, satu, Egidio Lay Carvalho, yang kedua, Jose Gomes, dan yang ketiga, Ismail Sansao Moniz Soares. Ketiga-tiganya adalah oknum atau anggota tentara Timor Leste. Jadi bukan Warga Negara Indonesia, sebagaimana yang dipikirkan, dibicarakan, sekali lagi mereka bukan Warga Negara Indonesia.

Saat ini saya belum bisa memberikan penjelasan yang lebih luas, dan nantinya saya berharap, Kepolisian kita bisa menjelaskan kepada Suadara lebih lengkap dan lebih luas lagi, setelah mereka menuntaskan tugasnya. Operasi pun sedang dilanjutkan. Interogasi sedang dilakukan, dengan kerjasama yang baik dengan pihak-pihak Timor Leste.

Dalam kesempatan ini saya tentu mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada Kepolisian kita yang dengan semangat kerjasama yang tinggi antar dua negara, telah berhasil meringkus mereka-mereka yang diduga terlibat dalam peristiwa penembakan itu.

Saudara-saudara,
Sebenarnya, segera setelah terjadi upaya asasinasi terhadap para pemimpin di Timor Leste pada tanggal 11 Februari yang lalu, saya langsung mengeluarkan statement yang mengutuk tindakan yang tidak bertanggung jawab itu, dan yang saya anggap mengancam demokrasi dan mengancam eksistensi pemerintah yang sah di Timor Leste. Saya juga mengirim surat kepada Perdana Menteri Xanana pada tanggal 25 Februari 2008 dan sekaligus memenuhi permintaan beliau untuk kita memberikan bantuan logistik, pengangkutan materiil dari Indonesia ke Timor Leste. Bahkan sebelumnya, sebelum Presiden Ramos Horta menelpon saya, pada tanggal 10 April yang lalu, saya menelpon beliau pada tanggal 23 Maret 2008, segera setelah saya kembali dari kunjungan saya ke Timur Tengah dan Afrika, karena saya melihat tayangan beliau, di rumah sakit di Australia, dalam keadaan yang baik. Saya berharap Presiden Horta bisa segera pulih dan bisa memimpin kembali bangsa dan negara Timor Leste.

Ini menunjukkan bahwa Indonesia ingin mempertahankan hubungan baik di antara kedua negara. Saya pun siap menyambut kunjungan kerja Perdana Menteri Xanana pada akhir bulan ini di Jakarta. Oleh karena itu, saya sangat berharap kepada leadership di Timor Leste untuk tidak mengeluarkan statement yang bisa menimbulkan salah intepretasi atau salah pengertian, seolah-olah ada keterlibatan pihak Indonesia dalam peristiwa penembakan tanggal 11 Februari 2008 yang lalu. Statement atau berita seperti ini akan mengganggu hubungan bilateral kita yang sekarang ini dalam keadaan yang sangat baik.

Itulah Saudara-saudara yang dapat saya sampaikan dalam kesempatan yang baik ini, dan saya akan menyampaikan dalam bahasa Inggris.

Yesterday and today, the press has been reporting on President Jose Ramos Horta’s statement from Dili which said that there are elements from Australia and Indonesia involved in the shooting incident of President Ramos Horta and Prime Minister Xanana Gusmao on February 11th 2008.

Actually, President Ramos Horta spoke with me on the telephone last week, precisely on April 10th, when he was still in Australia. In that communication, President Horta briefed me on the investigation activities being conducted on the shooting incident and asked for assistance from the Indonesian Government.

Immediately afterwards, I instructed the Chief of the Indonesian Police, General Sutanto, to follow up and carry out pro-active steps. Two higher-ranking police officers went to Dili twice, on April 13th and then on 15th April 2008, to collect information from the Prosecutor-General of Timor Leste and to analyze them together. It was at this time, that the Prosecutor-General officially asked with arrest warrants, the Indonesian Police to arrest certain names that were suspected of involvement in the shooting. And the Indonesian Police, based on this information, acted swiftly to locate the whereabouts of these suspects. Everything progressed quickly, professionally and with a high spirit of cooperation.

That is why, I am a bit surprised to hear President Ramos Horta’s statement yesterday, because it is my understanding that the telephone conversation on April 10th is not for public knowledge yet. I had instructed my Ministers and Police Chief not to disclose that information to the public, in order to give an opportunity for the Indonesian police to hunt these suspects.

Today, I can inform you that this morning, the Indonesian Police has arrested three citizens of Timor Leste in accordance with the arrest warrants. They are, 1. Egidio Lay Carvalho, 2. Jose Gomes, and 3. Ismail Sansao Moniz Soares. I would like to emphasize once again that these three suspects are all members of the military of Timor Leste, which have been involved the rebellions activities and suspected to have been involved in the shooting incident.

At this moment, I cannot give you any further details, because the police are still processing them. But I can assure you that the Indonesian Police are working hard on this issue, and the cooperation between the Indonesian Police, the Government of Timor Leste and the Australian Police are continuing. I would also like to congratulate the Indonesian Police for their achievement in rapidly apprehending these suspects from Timor Leste.

As you all know, I condemned the shooting assassination attempt on President Ramos Horta and Prime Minister Xanana Gusmao, and I consider this as an assault on democracy. I have also written a letter to Prime Minister Gusmao on 25th of February 2008, and have provided logistical assistance as requested by the Government of Timor Leste. We are now awaiting the request from the Timor Leste Government for the return of these suspects, who have illegally entered our territory. With these arrests and with the investigation that continued to unravel, the question that surrounded the whole incident on February 11th can now be answered with more clarity.

It is my fervent hope that the leadership of Timor Leste would not issue any statement to insinuate any involvement on the part of Indonesia, which may cause confusion or misinterpretation by the international community and for the Indonesian People. Statements such as these could disrupt our bilateral relations that are currently in excellent conditions.

At the end of April, precisely on the 29th of April, I welcome the working visit of Prime Minister Xanana Gusmao in Jakarta, and we will discuss bilateral issue as well as other things where Indonesia can be of assistance.

Thank you.


Satu catatan ya, mungkin tadi tanggalnya, dua pejabat senior Polri itu berangkat atau menuju ke Dili, berkunjung ke Dili pada tanggal 13 April dan 15 April, mungkin saya bicara 12 April tadi. Jadi yang betul tanggal 13 dan 15, betul ya, tidak keliru ya.

Ok, thank you, terima kasih.
Wassalamu’alaikum.


*****

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan


Redaksi | Syarat & Kondisi | Peta Situs | Kontak
© 2006 Situs Web Resmi Presiden Republik Indonesia - Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono
Hak Cipta dilindungi Undang-undang