Ruang Pers

Keterangan Pers Presiden

Tentang Latihan Gabungan TNI 2008

 

TRANSKRIPSI
KETERANGAN PERS PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
KEPADA PARA WARTAWAN
DI DEK C, HANGGAR HELIKOPTER, KAPAL KRI Dr. SOEHARSO BONTANG, 16 JUNI 2008


Kita menyaksikan sejak kemarin hingga hari ini pelaksanaan Latihan Gabungan TNI Tahun 2008. Latihan Gabungan dilaksanakan oleh TNI sebagai katakanlah laporan serta pertanggungjawaban yang disampaikan kepada rakyat, kepada negara atas pelaksanaan reformasi yang telah dijalankan selama sepuluh tahun ini.

Saudara mengetahui reformasi TNI tiada lain adalah berhenti berpolitik praktis, kemudian kembali kepada peran dan fungsi sebagai kekuatan pertahanan negara. Apa yang ditampilkan dalam rangkaian Latihan Gabungan ini adalah kemampuan atau kapabilitas dan dan profesionalitas TNI untuk mengemban tugas mempertahankan keutuhan kedaulatan negara, sebagaimana yang diamanatkan oleh Undang Undang Dasar 1945.

Secara khusus pada hari TNI 5 Oktober tahun 2007 yang lalu, saya meminta kepada TNI untuk menyelenggarakan latihan gabungan dalam skala besar sebagaimana yang telah dilaksanakan sekarang ini. Mengapa? Menghadapi tantangan keadaan, menghadapi perkembangan dan dinamika global yang bisa saja bertentangan dengan kepentingan nasional kita, yang bisa saja mengancam keutuhan dan kedaulatan negara kita, maka TNI kita harus siap mengemban tugas, siap berperang, katakanlah begitu agar keutuhan dan kedaulatan negara terus dapat kita tegakan.

Yang kita saksikan tiada lain adalah operasi gabungan TNI yang dilaksanakan secara berangkai dalam bentuk kampanye militer, yang secara terpadu, angkatan darat, angkatan laut dan angkatan udara menjalankan misi gabungannya. Dari segi profesionalitas yang telah ditunjukkan satuan dan prajurit-prajurit TNI kita, saya menilai sendiri kemampuan itu mengembirakan, dan ini menjadi modal utama kita untuk mengemban tugas negara, mempertahankan keutuhan dan kedaulatan Indonesia.

Kemudian kita juga mengembangkan, menguji coba doktrin yang juga terus dimutakhirkan, merespon perkembangan dan tantangan keadaan. Alat persenjataan atau sistem persenjataan yang baru juga telah digunakan dalam latihan gabungan ini. Ini juga meningkatkan kapabilitas pertahanan kita secara menyeluruh. Tentu saja makin ke depan kemampuan pertahanan kita harus semakin kuat. Tentu saja anggaran pertahanan kita, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan penerimaan negara juga harus kita tingkatkan. Tetapi yang lebih penting adalah tentara kita dengan sistem persenjataan yang ada dengan anggaran berapapun yang dapat disediakan oleh pemerintah harus tetap siap sedia menjalankan tugas menghadapi ancaman dari manapun datangnya. Semangat mereka harus tetap tinggi, mental mereka harus tetap kuat, kemudian mereka semua bisa beroperasi, menjalankan tugas siang dan malam, baik di darat, laut dan udara, di bawah kepemimpinan dan komando para panglima dan komandannya untuk semua tugas dapat dilaksanakan secara berhasil.

Itulah dari kaca mata negara, dari kaca mata pemerintah, apa yang dilakukan oleh jajaran TNI dalam pelaksanaan Latihan Gabungan TNI pada tahun 2008 ini. Demikian penjelasan saya, saya berikan kesempatan kepada Saudara yang ingin mengajukan pertanyaan.

Sdr. Roni (Wartawan Majalah Angkasa dan Komando):
Selamat siang Bapak Presiden, saya Roni dari Majalah Angkasa dan Komando, kemarin kita sudah lihat uji coba rudal terbaru dari China yang ditembakan dari KRI Layang dan menurut laporan perkenannya sudah sangat tepat. Nah, yang ingin saya tanyakan apakah Angkatan Laut ini akan dilengkapi Alutsista semacam rudal terbaru dari China ke depannya, lalu di Angkatan Udara juga Korp Paskas sudah dilengkapi rudal segitiga dan itu juga bagus perkenaannya. Jadi yang ingin saya tanyakan apakah pembelian alutsita dari China ke depannya bagaimana pak, terima kasih.

Presiden Republik Indonesia:
Kebijakan dasar kita adalah sistem persenjataan alat dan perlengkapan militer yang bisa diproduksi di dalam negeri oleh industri-industri strategis kita wajib hukumnya diproduksi di dalam negeri.

Yang kedua, sistem persenjataan, peralatan dan perlengkapan militer yang tidak bisa dibikin di dalam negeri, baru kita adakan, kita beli dari negara sahabat. Dengan catatan dalam kerjasama itu mesti ada proses alih teknologi, ini kebijakan dasar kita.

Kita juga ingat dulu pernah punya pengalaman yang sangat berharga tapi pahit ketika negara kita diembargo, kena sanksi dalam waktu yang panjang. Akhirnya sulit untuk mempertahankan kesiagaan kita, sulit untuk membeli sparepart, sulit untuk menggunakan semua itu, padahal untuk kepentingan negara kita sendiri karena sanksi, karena embargo, karena persyaratan politik yang begitu keras. Atas dasar pengalaman itu satu, dan atas tujuan untuk meningkatkan industri dalam negeri, maka secara selektif kita masih mengadakan sistem persenjataan dari luar, tapi tidak boleh bergantung hanya satu dua negara saja, harus kita diversifikasikan.

Permasalahan atau berkaitan dengan negara mana, system persenjataan apa, mana yang dianggap lebih bermutu, saya serahkan semuanya kepada TNI sendiri pada Kepala Staf Angkatan Darat, Laut dan Udara di bawah koordinasi Panglima TNI. Yang paling tepat menentukan adalah TNI sendiri, para pengguna di lapangan para prajurit. Pemerintah dalam hal ini saya, memastikan anggaran tersedia, pemerintah memastikan semua itu sesuai dengan kebijakan dasar termasuk strategi pertahanan yang kita tetapkan.

Sdr. Basir, (Wartawan Tribun Kaltim):
Terima kasih Pak, saya Basir Pak dari Tribun Kaltim, Pak dengan kondisi seperti sekarang dengan sejumlah alutsista yang masih kurang untuk TNI kita, kira-kira 2009 ada rencana kenaikan anggaran nggak pak, untuk TNI Pak? terima kasih Pak.

Presiden Republik Indonesia:
Anggaran yang dialokasikan pada sektor-sektor pertahanan, pendidikan, kesehatan atau dialokasikan kepada lembaga-lembaga pemerintah, lembaga-lembaga negara, pada prinsipnya terus menerus mengalami kenaikan. Ini sejalan dengan pertumbuhan ekonomi, sejalan dengan peningkatan penerimaan negara, dan sejalan dengan besaran APBN itu sendiri.

Namun sebagaimana saudara ketahui peningkatan ini tidak selalu dapat kita laksanakan secara signifikan. Ada kalanya karena persoalan ekonomi di dalam negeri seperti sekarang ini, karena harga minyak, harga pangan yang mengalir dari tingakt global maka kita melakukan penyesuaian anggaran, termasuk anggaran pertahanan kita. Sebenarnya secara nominal terus naik, tahun 2005 anggaran pertahanan kita, ini berjumlah Rp 23 triliun, tahun 2008 ini Rp 36 triliun naik meskipun terus terang rasio anggaran pertahananan terhadap APBN dan terhadap PDB atau GDB untuk Indonesia ukurannya relatif kecil.

Oleh karena itu sekarang sedang kita susun dan masih kita akan bicarakan dengan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, menyangkut anggaran tahun 2009 nanti. Tetapi kalau ada kenaikan anggaran kita pastikan harus, digunakan untuk melanjutkan modernisasi dan pembangunan kekuatan terutama yang berkaitan dengan alat persenjataan utama kita, sesuai dengan prioritas yang ditetapkan. Saya belum bisa mengatakan naiknya berapa, kemudian untuk apa saja, karena pertama kita harus lihat utuh nanti struktur dari APBN 2009. Yang kedua kita cocokkan dengan yang menjadi prioritas TNI sendiri pertahanan kita. Dan yang ketiga, kita bahas bersama dengan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia tapi insyaAllah tiap tahun akan kita lakukan peningkatan anggaran pertahanan kita.

Sdr. Suhartono, (Wartawan Kompas):
Selamat siang Bapak Presiden, Suhartono dari Kompas Pak, Pak yang pertama ini dua belas tahun setelah kita terakhir kali mengadakan Latgab tahun 1996 di kawasan Batam, tahun ini baru terjadi lagi karena anggaran dana kita yang terbatas. Kira-kira apakah Presiden memikirkan lagi Pak, tahun-tahun ke depan apakah akan regular diadakan setiap tahun atau dua tahun, tiga tahun. Kemarin Pak Teo, sudah mengusulkan tiga tahun pak dengan anggaran yang terbatas Pak.

Pak kalau terkait dengan lokasi ini Pak, apakah terkait juga dengan kita ingin menunjukkan eksistensi NKRI kita Pak, karena beberapa kali NKRI kita terlanggar Pak. Misalkan sinyalemen pendirian helipad yang baru-baru ini oleh negara tetangga, terima kasih.

Presiden Republik Indonesia:
Baik yang pertama, latihan yang dilakukan oleh jajaran TNI tidak boleh dan tidak pernah terputus, mengalir apakah Angkatan Darat, Angkatan Laut ataupun Angkatan Udara, bisa saja dalam bentuk angkatan itu sendiri untuk melaksanakan latihan atau dalam bentuk latihan gabungan antar angkatan.

Kita punya pengalaman 27 tahun lalu tahun 1980, 1981 juga dilakukan satu latihan gabungan dalam rentang waktu yang panjang dan wilayah yang luas dari Sumatera sampai Papua waktu itu, seperti sekarang ini. Kemudian sebagaimana saudara katakan 1996 dulu juga pernah ada latihan gabungan tetapi dengan skala yang lebih kecil. Sekarang karena sudah sepuluh tahun kita berbenah diri dalam reformasi yang saya sampaikan tadi, sudah saatnya TNI untuk kembali menyelenggarakan latihan gabungan skala besar sekaligus untuk menguji kesiagaan kita, sekaligus untuk menguji kemampuan kita untuk mempertahankan keutuhan negara kita.

Apakah latihan gabungan skala besar dengan melibatkan kekuatan yang cukup luas seperti ini akan terus kita lanjutkan, kita harus melihatnya dari beberapa segi. Pertama, dalam sistem latihan di TNI itu ada latihan awal, kemudian berakhir pada latihan puncak, kembali lagi siklusnya, sampai latihan puncak dan seterusnya. Kita ikuti saja apa yang diinginkan oleh TNI untuk memelihara kesiagaan dan kemampuan pertahanannya.

Yang kedua, tentunya juga berkaitan dengan anggaran, mesti kita tata secara baik anggaran pertahanan untuk pendidikan latihan dan kesiagaan, untuk kesejahteraan prajurit termasuk kebutuhan rutinnya, dan untuk memodernisasi serta membangun kekuatan perangnya. Ini kita lihat utuh dengan demikian menurut pandangan saya, memang secara berkala harus terus kita lakukan latihan gabungan seperti ini, dimulai dari latihan masing-masing angkatan, latihan-latihan tanpa pasukan dalam bentuk gladi posko misalkan, membiasakan para panglima, para komandan itu memimpin pertempuran operasi gabungan dalam waktu yang luas dalam wilayah yang luas, dalam waktu yang cukup lama dan wilayah yang luas. Kemudian menurut saya paling tidak lima tahun sekali kita bisa menyelenggarakan latihan puncak latihan gabungan antar angkatan.

Pertanyaan yang kedua, tidak ada kaitan langsung dengan situasi aktual, wilayah kita ini luas, ada yang mengatakan secara geopolitik, geostrategi ada wilayah corong barat, corong tengah, corong timur. Perang sekarang ini, perang modern ini sekarang ini juga sangat banyak ragamnya. Kita harus bisa bertempur dimana saja, mempertahankan apa saja demi tegaknya kedaulatan kita. Oleh karena itu kalau kali ini dipilih daerah yang membentang di wilayah Indonesia barat dan Indonesia tengah katakanlah itu sesuai dengan apa namanya, kepentingan kita untuk memastikan bahwa kita bisa menjalankan misi militer diwilayah manapun, dan apabila kita bisa mengerahkan pasukan, memproyeksikan kekuatan dengan operasi lintas udara, operasi ampibi, operasi logistik maka ini pun juga bisa kita lakukan dimana saja. Jadi kesimpulannya tidak berkaitan langsung dengan situasi khusus katakanlah di perairan sebelah timur Kalimantan, karena itu juga kita lakukan mulai dari Batam, Pontianak bahkan juga apa namanya terjadi di daerah-daerah yang lain.

Demikian cara kita melihat keseluruhan kontaks keamanan di negeri ini termasuk latihan yang kita lakukan, terima kasih.


******


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan RI