Ruang Pers
Keterangan Pers Presiden
Doorstop Tentang Perkembangan Harga Minyak Dunia
TRANSKRIPSI
DOORSTOP PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DENGAN PARA WARTAWAN
MENGENAI
PERKEMBANGAN HARGA MINYAK DUNIA
BANDAR UDARA SULTAN MAHMUD BADARUDDIN II
SUMATERA SELATAN, 1 JULI 2008
Sdri. Rarasati Syarief, Reporter Seputar Indonesia
Selamat pagi, Pak.
Presiden Republik Indonesia
Pagi.
Sdri. Rarasati Syarief, Reporter Seputar Indonesia
Pak Presiden, mengenai harga minyak dunia di New York saat ini harganya sudah mencapai 142,2 US Dollar per barel. Kemarin padahal tanggal 24 Juni masih 136 per barel. Bagaimana merespon soal kenaikan yang terus naik?
Presiden Republik Indonesia
Ya. Betul situasi dunia masih belum menunjukkan tanda-tanda yang mengembirakan. Krisis utamanya minyak kemudian yang kedua pangan masih belum ada tanda-tanda untuk bisa diatasi. Terus terang setiap malam, tengah malam sudah beberapa hari ini saya mengikuti perkembangan meroketnya harga minyak yang dua minggu terakhir ini justru hampir menembus 150 dolar tiap barelnya. Ini sudah SOS, sudah lampu merah.
Saya juga mengikuti semua debat, polemik pada tingkat global yang saya tidak suka kalau saling salah-menyalahkan, menyalahkan produsen, kurang banyak memproduksi minyak, menyalahkan konsumen terlalu banyak mengkonsumsi minyak, spekulan dan lain-lain. Lebih baik dunia mencari solusi, duduk bersama, itu yang saya ikuti dan terus terjadi. Juga dimana-mana di seluruh dunia, termasuk negara-negara maju, saya lihat satu tantangan dan kemudian masyarakat di negara-negara itu betul-betul melakukan apa saja, yang penting jangan mengkonsumsi BBM yang berasal dari fosil, ya kembangkan energi alternatif, termasuk dari biofuels dan hal-hal lain yang bisa diproduksi kecil-kecilan, sedang, yang penting mereka bisa tetap memiliki sumber energi yang terjangkau harganya.
Terhadap itu semuanya, kalau saya harus menyampaikan komentar dan insya Allah minggu depan saya pertama kali dalam sejarah akan hadir dalam Pertemuan G8 Plus 8 di Jepang. Negara-negara ekonomi terbesar dan besar dunia akan berkumpul, alhamdulillah Indonesia diikutkan di situ untuk membahas masalah ini. Dan saya sudah mengirim surat kepada Perdana Menteri Jepang Fukuda sebagai tuan rumah, saya ingin ada pembicaraan yang sangat serius untuk mengatasi masalah energi dan pangan ini.
Pendapat saya yang pertama, pada tingkat global sudah saatnya para produsen minyak terbesar negara-negara di dunia, bukan hanya OPEC, bukan hanya Saudi Arabia, tapi juga yang lain-lain, seperti Rusia, Venezuela dan negara-negara lain duduk bersama dengan negara-negara konsumen minyak yang juga besar, ya Amerika Serikat sendiri, China, India. Kalau emerging economies juga dianggap mengkonsumsi minyak besar, termasuk Indonesia, Indonesia pun siap bersama-sama untuk duduk bersama dan perusahaan-perusahaan multinasional yang bergerak di bidang minyak. Duduk bersama, hitung-hitungan, jangan saling menyalahkan produksinya kurang atau konsumsinya lebih.
Sumber utamanya mengapa harga minyak kayak begini itukan tidak klop antara supply dengan demand, antara produksi dengan konsumsi, ya duduk bersama, dihitung apa yang bisa dilakukan, sampai sejauh mana produksi minyak bisa ditingkatkan sekarang ini. Kalau tidak mampu lagi, ya berarti sampai sejauh mana konsumsi diturunkan, hanya dengan cara itu kita bisa menahan untuk tidak meroket terus harga minyak di tingkat dunia ini. Saya akan sampaikan pandangan itu minggu depan di Jepang, dengan demikian lebih konkret, lebih konklusif, lebih bisa diterima oleh masyarakat dunia, itu menyangkut minyak, Saudara-saudara.
Sekarang yang kedua, apa dampaknya bagi Indonesia? Mengapa saya katakan tadi tiap tengah malam saya mengikuti melalui televisi-televisi internasional? Karena negara-negara barat itu siang hari mereka. Di situlah dianalisis, dibahas, termasuk solusi apa yang bisa kita tempuh untuk mengatasi masalah ini.
Indonesia harus terus mengantisipasi, saya memberi contoh dan saya mengajak semuanya jangan terlena, jangan tidak punya sense of crisis, jangan merasa keadaan biasa-biasa saja, dan kemudian menyalahkan policy, menyalahkan keputusan ini dan itu. Sadarilah rakyat Indonesia, bahwa harga minyak ini pada tingkat dunia masih naik dan terus naik.
Tadi pagi saya telepon beberapa Menteri, antara lain Menteri Keuangan, saya tanya, Saudara tahu bahwa ketika kita menaikkan kemarin dengan sangat terpaksa, tapi penting untuk menyelamatkan ekonomi kita, APBN kita setinggi 28,7% itu dengan asumsi harga minyak sekitar 110 sampai 120 dolar tiap barelnya. Sekarang ini harganya 145 dolar. Saya punya catatan dengan harga 140 dolar per barel, subsidi yang kita berikan untuk BBM saja itu mencapai Rp 205 triliun, kalau ditambah subsidi untuk listrik Rp 80 sampai Rp 90 triliun, jumlahnya ini sudah mendekati Rp 300 triliun, hanya untuk subsidi BBM dan listrik, itu pun kalau harganya 140 dolar. Sekarang mendekati 150 dolar. Kalau 150 tembus dan ICP kita di situ, maka untuk bahan bakar minyak saja akan kita keluarkan uang Rp 230 triliun, ditambah Rp 90 triliun subsidi listrik, jadi Rp 320 triliun. Kalau 160 dolar gila lagi dan bisa saja minyak dunia gila sampai 160 dolar, maka kita akan keluarkan Rp 254 triliun hanya untuk BBM ditambah listrik Rp 90 triliun, jadi Rpo 340-an triliun. Ini lebih besar dari anggaran atau pengeluaran semua lembaga negara, termasuk jajaran pemerintah. Ini betul-betul lampu merah, kalau tidak ada solusi yang cespleng. Kita mengatisipasi, kita berharap tidak tembus 150, tetapi tanda-tandanya akan tembus. Solusinya segera masyarakat dunia bertemu untuk mencegah naik sampai itu, apalagi 160, sampai yang tidak bisa kita bayangkan 200 dolar per barel.
Untuk dalam negeri, untuk bangsa kita, untuk rakyat kita, pertama-tama saya mengajak, bukan hanya menyerukan penghematan, mari kita lakukan habis-habisan listrik, AC, kemudian penggunaan-penggunaan untuk transportasi semua. Mari kita lakukan penghematan rumah tangga demi rumah tangga, kantor demi kantor, tempat bisnis demi tempat bisnis, karena listrik dan bahan bakar yang digunakan itu mengambil banyak sekali dari APBN kita untuk subsidi. Makin banyak diambil, makin sedikit dana untuk pendidikan, untuk kesehatan, meningkatkan kesejahteraan petani, guru, dan lain-lain.
Saudara tahu setiap kali saya datang ke daerah, tadi malam bertemu dengan para guru tentu guru ingin meningkatkan kesejahteraannya, memerlukan anggaran tambahan. Bertemu kemarin di Jambi, para sekretaris desa, perangkat desa ingin meningkatkan kesejahteraannya. Ketemu waktu kita di Kalimantan, minta infrastruktuktur ditambah itu juga uang yang besar. Tidak mungkin semua kita tingkatkan, kalau APBN kita tidak selamat, kalau subsidi kita masih besar-besaran. Oleh karena itu penghematan all out harus kita lakukan, bangsa yang lain juga begitu, bukan hanya maunya SBY, maunya orang yang bertanggung jawab untuk menyelamatkan masa depan bangsa ini.
Jadi saya menginstruksikan, terutama jajaran Pemerintah, saya menghimbau lembaga-lembaga negara, saya meminta rakyat kita untuk betul-betul melakukan penghematan secara sungguh-sungguh. Dengan penghematan itu harapan kita, konsumsi BBM, konsumsi listrik berkurang. Kalau berkurang, subsidi juga berkurang. Itu yang pertama penghematan.
Yang kedua, saya ingin semua hasil penelitian sebagian sudah dilakukan kecil-kecilan untuk membangun energi alternatif, seperti biofuel, dua tahun kita sudah menggalakan. Saya minta sekaranglah untuk diproduksi besar-besaran, tentu jangan menggunakan biofuel yang digunakan untuk pangan, cegah atau batasi itu. Tapi seperti jarak pagar, seperti biomassa, limbah-limbah, itu sangat bisa kita olah menjadi diesel menjadi kerosene, menjadi sumber BBM yang lain. Mesinnya tidak mahal, dulu barangkali kalau harga minyak 35 dolar, 40 dolar tidak ekonomis, tidak menguntungkan, sekarang dengan harga minyak di atas 100 dolar, bahkan 140 dolar hampir pasti menguntungkan. Saya minta semua dikembangkan, saya lihat negara lain juga begitu industri rumah tangga, industri kecil, industri menengah untuk mengganti bahan bakar minyak yang berasal dari fosil.
Angin, hydro, surya yang dulu juga dianggap tidak ekonomis, sekarang menjadi ekonomis. Jangan kehilangan akal, jangan kehilangan inisiatif, jangan menyerah, saya minta semuanya para peneliti, para praktisi, dunia usaha, mari ada gerakan nasional untuk mengembangkan energi alternatif besar-besaran di seluruh Indonesia. Lagi-lagi kalau ini kita kembangkan konsumsi untuk BBM dan listrik yang disubsidi turun dan anggaran itu bisa kita gunakan untuk membiayai sumber-sumber pembangunan yang lain, untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat kita.
Yang ketiga, ini masih tetap berkaitan dengan tingginya harga minyak ini, APBN. APBN kalau betul-betul lebih dari Rp 300 triliun untuk subsidi, belum subsidi pertanian, belum subsidi yang lain, tentu sangat tidak sehat, mengganggu perekonomian kita. Tidak mungkin Pemerintah terus-menerus menaikan harga BBM, tetapi konsekuensinya, mari kita kelola bersama APBN ini yang tepat, yang cespleng, yang jitu.
Saya mengajak DPR RI lebih fokus sebetulnya untuk bersama-sama menyelamatkan keadaan, menata APBN, menggalakan energi alternatif supaya betul-betul bangsa ini bersatu mengatasi krisis harga minyak ini. Kemudian belum nanti melonjaknya harga pangan yang tinggi diperlukan pertemuan hati, pertemuan komitmen, pertemuan pikiran, Pemerintah dengan DPR untuk mengatasi ini, Pemerintah dengan masyarakat, Pemerintah dengan dunia usaha. Pada saat seperti ini tidak boleh sendiri-sendiri, dengan kepentingannya sendiri-sendiri. Dalam keadaan ini bersatu, terbuka, transparan, supaya rakyat itu juga bisa mengikuti apa yang harus kita lakukan secara bersama.
Pengeluaran-pengeluaran yang tidak kita perlukan, yang bisa kita hemat, bisa kita tunda siapa pun, Lembaga Negara, Lembaga Pemerintah, Provinsi, Kabupaten dan Kota, mari kita tata sehingga tidak perlu Pemerintah harus dengan resiko yang sangat tinggi menaikan harga BBM kita. Ini memerlukan kesadaran bersama, memerlukan sense of crisis bersama untuk mengatasi masalah ini.
Hanya dengan cara itu Saudara-saudara, bangsa ini selamat, bangsa ini bisa terus membangun, bangsa ini bisa merespon perkembangan ekonomi global yang masih begini, mendung, menggantung badai karena meroketnya harga minyak.
Itulah yang ingin saya sampaikan respon pertanyaan tadi dan saya juga sudah beberapa hari ini mendapatkan pertanyaan yang serupa, tidak dari wartawan, “Pak SBY, dengan harga minyak dunia begini, kok nampaknya gawat. Bagaimana kita bersama-sama menyelamatkan ekonomi di negeri kita ini?” Itu penjelasan saya.
Terima kasih.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



