Ruang Pers
Keterangan Pers Presiden
Keterangan Pers Soal Harga Minyak Dunia yang Hampir 150 Dolar AS
DOORSTOP
PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
TENTANG HANRGA MINYAK DUNIA
DI BANDARA INTERNASIONAL SULTAN MAHMUD BADARUDDIN II
PALEMBANG
2 JULI 2008
Saudara-saudara,
Situasi dunia masih belum menunjukkan tanda-tanda yang menggembirakan. Krisis utamanya minyak, kemudian yang kedua pangan masih belum ada tanda-tanda untuk bisa diatasi. Terus terang setiap malam, tengah malam, sudah beberapa hari ini saya mengikuti perkembangan meroketnya harga minyak yang dua minggu terakhir ini justru hampir menembus 150 dolar AS tiap barrelnya.
Ini sudah SOS, sudah lampu merah. Saya juga mengikuti semua debat, polemik, pada tingkat global yang saya sangat tidak suka kalau saling salah menyalahkan. Menyalahkan produsen, kurang banyak memproduksi minyak. Menyalahkan konsumen, terlalu banyak mengkonsumsi minyak. Spekulan dan lain-lain. Lebih baik dunia mencari solusi, duduk bersama. Itu yang saya ikuti dan terus terjadi. Juga dimana-mana di seluruh dunia termasuk negara-negara maju. Saya lihat satu pantangan dan kemudian masyarakat di negara-negara itu betul-betul melakukan apa saja, yang penting jangan mengkonsumsi BBM yang berasal dari fosil. Dia kembangkan energi alternatif termasuk dari biofuel juga hal-hal lain yang bisa diproduksi. Kecil-kecilan, sedang, yang penting mereka tetap memiliki sumber energi yang terjangkau harganya.
Nah, terhadap itu semua perlu saya harus menyampaikan komentar dan insya Allah minggu depan saya pertama kali dalam sejarah akan hadir dalam pertemuan G8 plus 8 di Jepang. Negara-negara ekonomi terbesar dan besar dunia akan berkumpul. Alhamdulillah, Indonesia diikutkan di situ untuk membahas masalah ini. Dan saya sudah mengirim surat kepada Perdana Menteri Jepang Fukuda sebagai tuan rumah, saya ingin agar pembicaraan yang sangat serius untuk mengatasi masalah energi dan pangan ini.
Pendapat saya yang pertama, pada tingkat global sudah saatnya para produsen minyak terbesar negara-negara di dunia. Bukan hanya OPEC, bukan hanya Saudi Arabia, tetapi juga yang lain-lain seperti Rusia, Venezuela, dan negara-negara lain duduk bersama dengan negara-negara konsumen minyak yang juga besar di Amerika Serikat sendiri, Cina, India. Kalau emerging economies juga dianggap mengkonsumsi minyak besar termasuk Indonesia, itupun kita siap bersama-sama untuk duduk bersama dan perusahaan-perusahaan multi national yang bergerak di bidang minyak, duduk bersama hitung-hitungan.
Jangan hanya menyalahkan produksinya kurang atau produksinya lebih. Sumber utamanya mengapa harga minyak seperti itu kan tidak klop antara supply dengan demand, antara produksi dengan konsumsi. Duduk bersama, dihitung apa yang bisa dilakukan dan sampai sejauhmana produksi minyak ditingkatkan sekarang ini. Kalau tidak mampu lagi, sampai sejauhmana konsumsinya diturunkan. Hanya dengan cara itu kita bisa menahan untuk tidak meroket terus harga minyak di tingkat dunia ini.
Saya akan sampaikan pandangan ini minggu depan di Jepang. Dengan demikian lebih konkret, lebih konklusif, lebih bisa diterima masyarakt dunia. Itu menyangkut minyak.
Sekarang yang kedua, apa dampaknya bagi Indonesia. Mengapa, saya katakan tadi setiap tengah malam saya mengikuti melalui televisi-televisi internasional, negara-negara Barat itu siang hari mereka. Di situlah analisis dibahas termasuk solusi apa yang kita tempauh untuk mengatasi masalah ini. Indonesia harus mengantisipasi. Saya memberi contoh dan saya mengajak semuanya, jangan terlena, jangan tidak punya sense of crisis, jangan merasa keadaan biasa-biasa saja dan kemudian menyalahkan policy, menyalahkan keputusan ini dan itu.
Sadarilah rakyat Indonesia, bahwa harga minyak ini pada tingkat dunia masih naik dan akan terus naik. Tadi pagi saya telepon beberapa menter,i antara lain Menkeu. Saya tanya, saudara tahu saat kita menaikkan kemarin dengan sangat terpaksa. Tapi penting untuk menyelamatkan ekonomi kita, APBN kita setinggi 28,7 persen itu dengan asumsi harga minyak sekitar 110 sampai 120 dolar AS per barrel. Sekarang ini harganya 145 dolar. Saya punya catatan dengan harga 140 dollar per barrel, subsidi yang kita berikan untuk BBM saja itu mencapai Rp 205 triliun. Kalau ditambah subsidi untuk listrik Rp 80 triliun - Rp 90 triliun jumlahnya ini sudah mendekati Rp 300 triliun hanya untuk subsidi BBM dan listrik. Itupun kalau harganya 140 dolar. Sekarang mendekati 150 dolar. Kalau 150 dolar tembus, dan ICP kita di situ maka untuk bahan bakar minyak saja akan kita keluarkan uang Rp 230 triliun ditambah Rp 90 triliun listrik, jadi Rp 320 triliun. Kalau 160 dolar gila lagi, bisa saja minyak dunia gila sampai 160 dolar, maka akan kita keluarkan Rp 254 triliun hanya untuk BBM ditambah lagi listrik Rp 90 triliun, Rp 340-an triliun.
Inii lebih besar dari anggaran atau pengeluaran semua lembaga negara termasuk jajaran pemerintah. Ini betul-betul lampu merah kalau tidak ada solusi yang cespleng. Kita mengantisipasi, kita berharap tidak tembus 150 dolar per barel, tetapi tanda-tandanya akan tembus. Solusinya masyarakat dunia harus bertemu untuk mencegah naik sampai itu.
Apalagi sampai 160 dolar dan sampai yang tidak bisa kita bayangan 200 dollar per barrel. Nah, untuk dalam negeri, untuk bangsa kita, untuk rakyat kita saya mengajak, bukan hanya menyerukan penghematan mari kita lakukan habis-habisan. Listrik, AC, kemudian penggunaan-penggunaan untuk transportasi semua mari kita lakukan penghematan. Rumah tangga demi rumah tangga, kantor demi kantor, tempat bisnis demi tempat bisnis karena listrik dan bahan bakar yang digunakan itu mengambil banyak sekali dari APBN kita untuk subsidi. Makin banyak diambil, dana untuk pendidikan, kesehatan, untuk meningkatkan kesejahteraan petani, guru dan lain-lain.
Saudara tahu setiap kali saya datang ke daerah tadi malam bertemu dengan para guru, tentu guru ingin meningkatkan kesejahteraannya, memerlukan anggaran tambahan. Ketemu kemarin di Jambi, para sekretaris desa, ingin meningkatkan kesejahteraannya, ketemu kita waktu di Kalimantan, minta infrastruktur ditambah. Itu juga uang yang besar. Tidak mungkin ditingkatkan kalau subsidi kita masih besar-besaran. Oleh karena itu penghematan all out harus kita lakukan. Bangsa yang lain juga begitu, bukan maunya SBY. Maunya orang yang bertanggungjawab untuk menyelamatkan masa depan bangsa ini. Jadi saya menginstruksikan, terutama jajaran pemerintah, saya mengimbau lembaga-lembaga negara. Saya meminta rakyat kita untuk betul-betul untuk melakukan penghematan secara sungguh-sungguh. Dengan penghematan itu harapan kita konsumsi BBM, konsumsi listrik berkurang. Kalau berkurang, subsidi juga berkurang. Itu yang pertama penghematan.
Yang kedua, saya ingin semua hasil penelitian yang sudah dilakukan kecil-kecilan untuk mengambangun energi alternatif seperti biofuel. Dua tahun saya sudah menggalakkan, saya minta sekaranglah untuk diproduksi besar-besaran. Tentu jangan menggunakan biofuel yang digunakan utnuk pangan. Cegah dan batasi, tapi seperti jarak pagar, sepeti biomassa, limah-limbah, itu sangat bisa kita olah menjadi diesel, menjadi kerosene, menjadi sumber BBM yang lain. Mesinnya tidak mahal. Dulu mungkin waktu harga minyak 35 dolar-40 dollar per barrel tidak ekonomi, tidak menguntungkan. Tetapi sekarang setelah harga minyak di atas 100 dolar sampai 140 dolar, hampir pasti menguntungkan.
Saya minta semua dikembangkan, saya lihat negara lain juga begitu. Industri Rumah tangga, industri kecil, industri menengah untuk menggati bahan bakar minyak yang berasal dari fosil. Angin, hydro, surya yang dulu dianggap tidak ekonomis, sekarang menjadi ekonomis. Jangan kehilangan akal, jangan kehilangan inisiatif, jangan menyerah. Saya minta semuanya para peneliti dan para praktisi, dunia usaha, mari ada gerakan nasional untuk mengembangkan energi alternatif secara besar-besaran di seluruh Indonesia. Lagi-lagi kalau ini kita kembangkan, konsumsi untuk BBM dan listrik akan turun, anggaran itu bisa kita gunakan untuk membaiayai sumber-sumber pembangunan yang lain untuk meningkatkan kesejhteraan rakyat kita.
Yang ketiga, masih berkaitan dengan tingginya harga minyak ini, APBN. APBN kalau betul-betul lebih dari Rp 300 triliun untuk subsidi. Belum subsidi pertanian, belum subdidi yang lain. Ini tentu tidak sehat, mengganggu perekonomian kita. Tidak mungkin pemerintah terus-menerus menaikan harga BBM. Tetapi konsekuensinya, mari kita kelola APBN ini yang tepat, yang cespleng, yang jitu. Saya mengajak DPR lebih fokus sebetulnya untuk bersama-sama menyelamatkan keadaaan, menata APBN, menggalakkan energi alternatif, supaya betul-betul bangsa ini bersatu mengatasi krisis harga minyak ini. Kemudian nanti belum lagi melonjakkannya harga pangan yang tinggi diperlukan pertemuan hati, pertemuan pikiran, pemerintah dan DPR untuk mengatasi ini, pemerintah dengan masyarakat, pemerintah dengan dunia usaha.
Pada saat ini tidak boleh sendiri-sendiri dengan kepentingannya sendiri-sendiri. Dalam keadaan ini bersatu, terbuka dan transparan supaya rakyat juga bisa mengikuti apa yang harus kita lakukan bersama. Pengeluaran-pengeluaran yang tidak kita perlukan yang bisa kita hemat dan bisa kita tunda. Siapapun lembaga negara, lembaga pemerintah, provinsi, kabupaten dan kota mari kita tata sehingga tidak perlu pemerintah harus dengan risiko yang sangat tinggi menaikkan harga BBM kita. Ini memerlukan kesadaran bersama, memerlukan sense of crisis bersama untuk mengatasi masalah ini.
Hanya dengan cara itu, saudara-saudara, bangsa ini selamat. Bangsa ini bisa terus membangun, bangsa ini merespon perkembangan ekonomi global yang masih begini, mendung menggantung, badai karena meroketnya harga minyak.
Itulah yang ingin saya sampaikan merespon pertanyaan tadi. Dan saya juga sudah beberapa hari ini mendapatkan pertanyaan serupa, tidak dari wartawan. Pak SBY dengan harga minyak dunia begini, kok nampaknya gawat. Bagaimana kita bersama-sama menyelamatkan ekonomi di negeri kita ini. Itu penjelasan saya.
Terimakasih.



