Ruang Pers

Keterangan Pers Presiden

Keterangan Pers dengan Wartawan Indonesia Soal Hasil Kunjungan Kerja ke Kuala Lumpur, Malaysia

 

TRANSKRIPSI
KETERANGAN PERS PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DENGAN PARA WARTAWAN INDONESIA
PADA SAAT KUNJUNGAN KE KUALA LUMPUR, MALAYSIA
CROWN PLAZA HOTEL-KUALA LUMPUR, MALAYSIA
7 JULI 2008



Bismillahirrahmanirrahim,
Para Wartawan yang saya cintai,
Saya akan memberikan penjelasan kepada Saudara berkaitan dengan kegiatan saya dan delegasi hari ini di Kuala Lumpur, Malaysia. Pertama, sebagaimana biasanya setiap kunjungan saya ke luar negeri, meskipun agenda utamanya adalah pertemuan multilateral seperti sekarang ini, saya datang untuk menghadiri Pertemuan Puncak D-8 dan insya Allah yang akan dilanjutkan dengan Pertemuan Puncak G-8 diperluas, selalu ada agenda kita yang dapat memberikan manfaat atau benefit bagi kepentingan nasional kita. Oleh karena itu, tadi pagi saya melakukan pertemuan dengan dua dunia usaha Malaysia yang sedang dan akan menjalin kerjasama di bidang investasi, utamanya dalam rangka pembangunan infrastruktur di Indonesia.

Saya lanjutkan, dua perusahaan itu adalah Plus Expressways Berhad, yang kedua adalah MTD Capital Berhad. Yang pertama bekerja sama dengan pihak Indonesia untuk membangun jalan tol dari Cikampek ke Palimanan dan juga jalan tol dari Cibitung ke Cilincing, dengan nilai investasi sekitar 9 trilyun rupiah. Dari apa yang telah dikerjasamakan, dipersiapkan, dan direncanakan, ada satu, dua masalah yang harus diselesaikan dan disampaikan kepada saya tadi seperti biasanya pembebasan tanah, saya terima hal itu dan sudah saya instruksikan kepada Menteri terkait yang dalam hal ini penjurunya adalah Menteri Pekerjaan Umum untuk segera diselesaikan. Saudara tahu bahwa hambatan utama dalam pembangunan infrastruktur atau utamanya fasilitas jalan adalah pembebasan tanah.

Selama ini rakyat kita cukup kooperatif dan mereka mengerti bahwa itu untuk kepentingan yang lebih luas, jual belinya pun baik dan saya selalu menggariskan agar rakyat mendapatkan harga pembelian yang wajar dan baik, jangan sebaliknya. Namun selalu ada pihak-pihak yang memang tidak semudah itu, karena alasan satu dan lain hal. Ada juga yang sering saya katakan spekulan tanah, membeli cepat-cepatan, dijual mahal sekali sehingga berhenti proyek itu.

Saya berharap beberapa titik permasalahan yang ada dapat diatasi oleh Bupati, Walikota setempat bersama-sama Pemerintah Pusat agar upaya untuk membangun infrastruktur yang diperlukan untuk menggerakan di daerah itu untuk kepentingan rakyat bisa segera diselesaikan.

Yang kedua, saya menerima Pimpinan dari MTD Capital Berhad yang juga bekerja sama dengan pihak Indonesia membangun pelabuhan laut di Cilegon, terutama untuk pemasukan, pengaturan batubara, dan kemudian juga jalan tol antara Cibitung dengan Cilincing. Yang tadi bukan itu ya? Tadi pertama tadi, Palimanan-Cikampek, dan satu lagi? Oh ya. Salah yang pertama tadi Plus Expressways Berhad itu jalannya adalah Cikampek-Palimanan, kemudian Cimanggis-Cibitung, itu yang betul, dengan investasi Rp 9 triliun. Yang kedua, MTD Capital ini membangun pelabuhan laut di Cilegon dan kemudian jalan Cibitung-Cilincing. Inipun juga ada masalah dalam pembangunan jalan tol, sama untuk segera diselesaikan.

Saya melalui forum ini menggarisbawahi sekali lagi, agar jajaran Departemen kita yang terkait, jajaran Pemerintah Daerah, lebih responsif kalau menyelesaikan masalah harus konklusif, jangan berhenti di jalan, capai, kita berusaha untuk menjalin kerjasama dengan semua pihak, mendorong ekonomi tumbuh, investasi berjalan, pembangunan infrastruktur juga terus kita lakukan.

Kalau hambatan-hambatan birokrasi, masalah-masalah itu tidak diselesaikan secara serius dan ini masih terjadi. Saudara tahu di Kalimantan kemarin, saya juga memberikan teguran yang keras institusi atau Pemerintah yang juga cenderung tidak memberikan percepatan di dalam pengurusan, akhirnya rakyat dirugikan, ekonomi tidak tumbuh.

Saya minta Saudara-saudara pers lihatlah jajaran Pemerintah di negeri kita, siapa yang lalai, siapa yang responsif terhadap hal-hal seperti ini. Semua berbagi tanggung jawab agar semua rencana mengalir, berjalan dengan baik. Kalau begini terus, kita memiliki kehilangan peluang dan sudah saatnya bagi yang lalai, ini saya minta para Menteri, para Pimpinan Daerah juga, untuk memberikan sanksi yang tegas, karena kehilangan kesempatan sudah kita kalau ada yang tidak berjalan dalam upaya pembangunan infrastruktur ataupun bentuk investasi dan kerjasama yang lain.

Saudara-saudara,
Setelah itu saya menerima representasi dari generasi muda yang kemarin melakukan seminar yang diprakarsai atau disponsori oleh KBRI kita dan IAPMI, Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia, yang memberikan pandangan-pandangan, rekomendasi kepada saya apa yang bisa dilakukan oleh putra-putri Indonesia di luar negeri semacam yang tinggal di Malaysia ini, untuk ikut berkontribusi pada pembangunan bangsanya. Disampaikan kepada saya, bagaimana meningkatkan pendidikan, lantas bagaimana mengembangkan energi dalam suasana meroketnya harga minyak sekarang ini. Dan juga kegiatan-kegiatan positif lain yang bisa dilakukan oleh bangsa kita dengan kontribusi mereka.

Saya sambut dengan baik dan ini menurut saya langkah maju, kalau putra-putri Indonesia dimanapun berada, itu terus berkontribusi untuk kepentingan pembangunan bangsanya, termasuk pembangunan ekonomi. Saya menyambut baik dan saya juga menyambut baik gagasan mereka untuk membangun semacam networking di antara ekspatriat Indonesia yang ada di luar negeri, dimanapun mereka berada agar ada kontribusi riil terhadap pembangunan ekonomi di tanah air.

Saudara-saudara,
Sebagaimana Saudara saksikan tadi, saya melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri Malaysia Bapak Abdullah Ahmad Badawi. Dan dalam pertemuan one on one tadi pada prinsipnya kami berdua me-review implementasi dari pertemuan sebelumnya di Bukittinggi pada tahun 2007, dan di Kuala Lumpur pada Januari 2008 yang lalu.

Saya mengucapkan terima kasih bahwa ada sejumlah agenda yang telah ditindaklanjuti, sebagai contoh mulai didirikannya atau dilaksanakannya pendidikan untuk anak-anak pekerja Indonesia di Sabah. Lantas juga mengingat kemarin ada ganjalan-ganjalan di antara kita, maka ada intermedia dialogue antara wartawan atau journalists Malaysia dan Indonesia untuk membangun kesepahaman, agar terhindar dari masalah-masalah yang mengganggu hubungan kedua bangsa. Itu suatu achievement juga sama-sama kita dorong.

Kemudian yang Saudara saksikan tadi, hari ini kita meresmikan dibentuknya Eminent Persons Group, baik dari Malaysia dan Indonesia untuk juga melakukan kontribusinya dalam rangka memelihara, menjaga dan memajukan hubungan strategis di antara kedua bangsa.

Saya juga menggarisbawahi untuk implementasi visa pelajar yang sesungguhnya sudah maju konsepnya, tinggal difinalkan, agar segera bisa direalisasi. Menanggapi yang tadi diangkat dalam joint press statement saya dengan Perdana Menteri Malaysia terhadap yang disebut dengan pekerja asing tanpa izin, yang katanya akan mendapatkan sanksi hukum. Saya katakan bahwa kita punya kesepakatan, konsensus untuk menggalang kerjasama yang sebaik-baiknya dalam bidang ketenagakerjaan. Saya garis bawahi tadi Saudara dengar, dengan hadirnya pekerja Indonesia di Malaysia, dua-duanya mendapatkan manfaat, ekonomi Malaysia tumbuh, bergerak, kemudian kita juga mendapatkan lapangan untuk pekerjaan itu, oleh karena itu, harus kita sukseskan.

Saya terus mengatakan kepada pekerja Indonesia, ikuti hukum, tatanan yang berlaku, penuhi persyaratan yang ada. Demikian juga KBRI melakukan tugas-tugas untuk membantu. Memang masih ada satu, dua elemen di tanah air kita yang tidak benar, sehingga yang menjadi korban pekerja kita. Entah urusan perijinan yang lain, entah paspor, entah dan lain-lain, ini yang saya minta untuk dilakukan kontrol dan tindakan tegas bagi yang bersalah.

Selebihnya kalau ada masalah-masalah di Malaysia, ya kita selesaikan dengan baik-baik, saya menggarisbawahi kepada Pak Lah untuk segera diwujudkan yang disebut dengan Mandatory Consular Notification. Dengan demikian, pihak kita tahu dan kita bisa engaged, bersama-sama menyelesaikan masalah itu. Itu satu hal yang saya bicarakan juga dengan Pak Lah tadi.

Kemudian kita ingin terus melakukan kerjasama ekonomi khususnya dan kita membahas juga bagaimana ke depan kerjasama bilateral di bidang ketahanan pangan dan ketahanan energi, energy and food security. Itulah pokok-pokok yang saya bicarakan dengan Pak Abdullah Ahmad Badawi dalam pertemuan one-on-one tadi yang kami lakukan.

Saudara-saudara,
Besok akan dilaksanakan Pertemuan D-8, karena ketatnya jadwal saya untuk menghadiri pertemuan G-8 diperluas di Hokkaido, maka besok saya tidak bisa mengikuti penuh, setengah hari, setelah itu Menteri Luar Negeri akan mewakili saya untuk mengikuti Pertemuan D-8 sampai selesai. Saudara tahu bahwa dua tahun terakhir 2006, 2008, kepemimpinan D-8 pada Indonesia. Saya memimpin D-8 ini sampai besok untuk saya serahkan, saya serah terimakan kepada Perdana Menteri Malaysia yang mendapat giliran untuk memimpin D-8 ini.

Dalam masa kepemimpinan kita, kita terus mengembangkan kerjasama D-8 ini, dan ada catatan-catatan yang merupakan capaian pada kurun waktu dua tahun ini, sebagai contoh perdagangan antar negara D-8 tahun 2005 jumlahnya 31 miliar dolar Amerika Serikat, pada tahun 2007 telah meningkat menjadi 60 miliar dolar Amerika Serikat.

Kelembagaan kita perkuat dan, alhamdulillah, Permanent Secretary telah disetujui dan salah satu putra terbaik Indonesia, Dr. Dipo Alam menjadi Sekretaris Jenderal, dan insya Allah nanti akan melanjutkan tugasnya 4 tahun ke depan. Disamping Sekretaris Jenderal juga akan ada Direktur dari Iran dan juga ahli ekonomi dari Turki. Ada sekitar 31 pertemuan yang dilakukan selama 2 tahun dan 15 pertemuan itu sendiri dilaksanakan di Jakarta. Kita mengembangkan pembicaraan di bidang perdagangan, kepariwisataan, micro finance, kesehatan, lantas kita juga menyusun roadmap untuk kerjasama kita 10 tahun kemudian.

Dapat saya simpulkan bahwa kerjasama D-8 makin berkembang, memang banyak masalah yang kita hadapi, tetapi dengan ketekunan dan inisiatif yang kita kembangkan, maka D-8 pada saat sekarang ini lebih berkembang, lebih baik dibandingkan kurun-kurun waktu sebelumnya. Harapan kita, kita terus lakukan lagi kerjasama yang lebih baik.

Itulah hal-hal penting yang dapat saya sampaikan sekarang ini. Dan berikutnya lagi nanti inti dari pembicaraan D-8 besok, termasuk isu utama yang dibahas di pertemuan G-8 diperluas akan saya sampaikan di Hokkaido Jepang. Saya berikan kesempatan kepada para Wartawan yang ingin mengajukan pertanyaan.

Sdr. Osdar, SKH. Kompas
Selamat sore, Pak. Bapak-bapak Menteri dan pejabat lainnya, hal kecil yang tadi walaupun diungkapkan sebentar, tapi karena tadi sudah dijelaskan oleh Bapak Dino, kami garis bawahi tentang pertemuan penerimaan kaum profesional ini. Di sini, kami mendengar bahwa mereka itu diterima dengan spontan oleh Bapak Presiden. Walaupun ini hanya hal yang sepintas, tapi ternyata itu memberi sesuatu yang cukup berarti, karena ternyata yang ada di sini bukan hanya pekerja-pekerja yang katakanlah, mohon maaf TKI yang bermasalah, yang menimbulkan masalah itu, ternyata juga ada, mereka cukup ya terpandanglah di sini. Kami minta, hanya konfirmasi saja tentang pernyataan Bapak Juru Bicara tadi, bahwa itu diterima memang secara spontan Bapak Presiden, apakah itu memang demikian, diperhitungkan gitu? Terima kasih, itu saja.

Presiden Republik Indonesia
Ya, saya sungguh memberikan apresiasi kepada mereka, karena sikap positifnya, karena pikiran optimisnya, dan inisiatif untuk mengajak yang lain-lain apa yang bisa disumbangkan untuk negerinya. Mereka kaum terpelajar, para ahli, kaum profesional, yang menurut saya merupakan capital, modal bagi bangsa kita, intellectual capital antara lain. Dan Ini membuktikan bahwa putra-putri Indonesia, dimanapun di luar negeri atau di dalam negeri, kalau mereka sungguh ingin berkarya, berkontribusi untuk pembangunan bangsanya, tentu akan lebih cepat cita-cita kita, Indonesia menuju negara maju di abad ini.

Bukan hanya China atau India yang selama ini kita kenal memiliki putra-putri terbaiknya tersebar di berbagai negara, dan kemudian mereka berkontribusi untuk negaranya. Indonesia ternyata punya potensi yang tidak kecil untuk itu. Oleh karena itu, saya sungguh menyambut baik apa yang diniatkan oleh mereka itu untuk melakukan sesuatu bagi bangsa dan negaranya.

Saudara masih ingat tahun lalu di Sydney, Australia, saya diminta untuk membuka semacam Konferensi Pelajar Indonesia di luar negeri, mahasiswa dan siswa. Waktu itu judulnya adalah ”Stay abroad all return home?” Maksudnya pertanyaan kepada mereka semua ”Apakah tetap berada di luar negeri atau harus kembali ke Indonesia?”. Ketika saya ditanya oleh mereka, pandangan saya sebagai Presiden, saya katakan itu pilihan anda, mengabdi kepada negara bisa dilakukan darimana saja, dengan profesi atau jabatan apa saja. Dari Indonesia banyak yang bisa dilakukan, kalau anda memang sungguh memilih bekerja di luar negeri sebagai pilihan profesi atau pilihan pekerjaan, saya persilakan, asalkan tetap cinta kepada tanah airnya, kepada bangsanya dan betul-betul terus berkontribusi.

Apa yang saya dengarkan hari ini contoh konkret apa yang mereka bisa lakukan dan mereka berjanji akan mengajak ekspatriat, putra-putri kita di seluruh dunia untuk juga melakukan hal yang sama dengan membangun networking atau jaringan. Oleh karena itu, saya sambut dengan baik, Pemerintah akan mendukung biarkan mereka membangun networking itu, yang bebas dari politik praktis, sehingga betul-betul apa yang dilakukan untuk kepentingan pembangunan ekonomi ataupun kepentingan pembangunan di bidang yang lain.

Jadi benar secara resmi, saya memberikan apresiasi dan mereka adalah putra-putri kita yang punya standing baik di Malaysia ini. Dan ternyata apa yang saya dengar tadi, mereka juga punya peran yang penting di sini. Oleh karena itu, bagus kalau mereka memiliki kesadaran dan komitmen untuk juga berkontribusi bagi kepentingan tanah airnya.

Sdr. Panca, LKBN ANTARA
Assalamu’alaikum, Bapak Presiden. Saya Panca dari Kantor Berita ANTARA. Saya mau menanyakan pada 2006, kita, Indonesia memimpin D-8 tentunya ada target-target untuk hingga kepemimpinan terakhir. Apakah sampai hari ini ada target tersebut yang belum tercapai dan apakah target yang belum tercapai disampaikan kepada Malaysia untuk bisa dipenuhi? Terima kasih, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Baik. Sebenarnya waktu kita bertemu di Bali, harapan kita lebih konkret kerjasama intra D-8 ini. Kembali D8 dibangun untuk lebih membangun kerjasama di bidang pertanian, industri, energi dan perdagangan. Apa yang dilakukan oleh D-8 2 tahun ini sudah mengarah ke situ. Jadi kalau dikatakan makin berkembang, ya makin berkembang.

Yang kedua, kita juga mentargetkan ada kelembagaan yang baik, tidak mungkin sebuah kebersamaan tanpa unsur sekretariat yang terus-menerus untuk mengevaluasi, mengkoordinasikan, mengembangkan berbagai bentuk kerjasama. Alhamdulillah inipun sudah kita bentuk dan dikukuhkan pada pertemuan di Kuala lumpur ini.

Kemudian ada satu lagi yang sudah cukup maju, yang disebut dengan Preferential Trade Agreement. Sudah maju, ada satu, dua titik yang mesti dirampungkan dan besok akan saya sampaikan kepada Perdana Menteri Malaysia sebagai agenda yang sudah kita majukan untuk diselesaikan lebih lanjut.

Jadi saya katakan sasaran ataupun hal-hal yang ingin kita capai dari pertemuan di Bali sebagian besar sudah kita capai minus Preferential Trade Agreement tadi untuk dirampungkan. Tetapi Saudara-saudara, selalu kita punya yang disebut dengan never ending goal, unfinished agenda, selalu kita ingin mencapai lebih besar lagi, lebih banyak lagi dan itu akan terus menjadi tugas dari D-8 ke depan di bawah kepemimpinan para Kepala Pemerintahan yang digilir untuk memimpin organisasi ini. Demikian.

Sdr. Andi, LKBN ANTARA
Terima kasih. Saya Andi dari Antara, Pak. Pertanyaan saya adalah Pemerintah Malaysia ingin mengembalikan sekitar 24 ribu orang Aceh, dan kemarin mereka sudah memutuskan akan memulangkan. Apakah kesiapan dari Indonesia untuk menerima pemulangan 24 ribu, walaupun akan jalan secara bertahap?

Kemudian minggu lalu, Pemerintah Malaysia mengumumkan kebijakan pembebasan pajak untuk investasi di Iskandar, pembangunan wilayah di Iskandar, di Johor, itu mereka mengeluarkan pajak, mulai dari pajak keuntungan, pajak barang modal dan ini akan mereka fokus pada mengundang investasi dari Timur tengah yang sedang kaya menikmati penghasilan dari minyak. Dan memangnya mereka merencanakan betul 18.000 itu tenaga kerja dari Indonesia, Pak. Apakah kita punya kebijakan, saya dengar bahwa Indonesia belum memberikan belum insentif seperti itu, saya khawatir Malaysia lebih kompetitif untuk mengundang investor asing? Terima kasih, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Oke. Untuk Malaysia, ulangi untuk penduduk Aceh. Sebenarnya terus terang, pasca tsunami telah dilakukan rehabilitasi dan rekontruksi di Aceh. Dan menyusul telah dilakukannya penyelesaian Aceh secara damai, sekarang ini situasi keamanan di Aceh juga memungkinkan untuk dibangunnya kembali Aceh, sebagaimana yang telah dilakukan oleh Saudara-saudara kita di provinsi lain. Oleh karena itu, sesungguhnya tidak ada alasan bagi Saudara-saudara kita yang dari Aceh untuk tidak kembali ke Aceh.

Yang kedua, memang diperlukan kesiapan dan persiapan yang baik, diperlukan koordinasi teknis antara Pemerintah Pusat, Provinsi Aceh dan pihak Malaysia, bagaimana proses untuk pengembalian mereka ke Indonesia. Duta Besar kita, Pak Da’i Bachtiar telah melakukan serangkaian pertemuan, sudah bertemu tokoh-tokoh dan semua perwakilan dari saudara-saudara kita yang dari Aceh, dijelaskan tentang policy dan apa yang kita lakukan dalam proses ini semua.

Pembicaraan dengan pihak Malaysia pun juga telah dilakukan oleh Menteri Luar Negeri maupun oleh Duta Besar kita. Dengan demikian, harapan saya setelah rampung semuanya, mereka bisa kembali ke Aceh untuk melanjutkan kehidupan dan apa yang bisa dilakukan di negeri sendiri. Memang diperlukan timeline, diperlukan satu pengaturan semuanya ini, agar setelah di apa namanya yang bersangkutan kembali ke Aceh tidak ada masalah-masalah lagi yang mengganggu proses ini. Itu pada tingkat policy yang kita putuskan dan selebihnya akan ditindaklanjuti oleh jajaran Departemen Luar Negeri dan oleh Kedutaan Besar kita maupun oleh Pemerintah Provinsi Aceh bekerja sama dengan Pemerintah Malaysia.

Yang kedua, mengenai kebijakan investasi, dari satu negara ke negara lain berbeda-beda. Kita dengan Malaysia, dengan Singapura, dengan Thailand, dengan Filipina juga berbeda. Kepentingan ekonominya tidak selalu sama, tax policy juga demikian. Tetapi yang jelas, kita menyadari ada kompetisi, itulah sebabnya 2 tahun terakhir ini secara intensif dan ekstensif, kita ingin meningkatkan daya saing, competitiveness kita untuk katakanlah Zona Ekonomi Eksklusif yang ada di Pulau Batam dan kemudian nanti Bintan dan Karimun. Dengan harapan kita bisa lebih menarik investasi dari luar.

Sesungguhnya sudah cukup banyak fleksibilitas, kebijakan untuk menarik investasi ke dalam negeri, baik di bidang fiskal maupun non fiskal, namun semuanya itu akan kita cocokkan dengan Undang-Undang kita, dengan Peraturan Pemerintah kita dan kepentingan untuk melindungi kepentingan kita, seraya menarik investasi ke dalam negeri. Tapi satu hal, kita juga melakukan terobosan-terobosan untuk itu dan kita bisa membandingkan, bisa saja membandingkan dengan Johor Bahru, dengan di Shenzhen dan Guangzhou dan daerah-daerah yang lain, mana yang baik dan kita bisa lakukan, kita lakukan. Mana yang tidak memungkinkan, karena hambatan katakanlah undang-undang dan undang-undang itu masih berlaku, tentu tidak bisa serta-merta kita lakukan kebijakan itu.

Investasi kita terus naik. Saya ingin mendapatkan gambaran sedikit dari Saudara Luthfi ya, coba dijelaskan untuk menyambung penjelasan saya ini, apa saja yang kita lakukan, sehingga memberikan ketenangan kepada publik dalam negeri, bahwa bukan kita tidak berbuat apa-apa di bidang investasi ini, kita melakukan banyak hal dan jelaskan berapa perkembangan investasi di negara kita dan opportunity apalagi yang bisa kita capai sebagaimana yang diangkat Saudara kita dari Antara tadi. Terima kasih, Pak Luthfi.

Ketua BKPM
Terima kasih, Bapak Presiden.
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Perlu kami laporkan kepada Bapak Presiden dan Teman-teman Pers, bahwa sebenarnya kegiatan investasi di Indonesia juga sudah cukup baik. Jadi ada beberapa barometernya, Pak, bahwa pada tahun 2007, minat investasi tumbuh antara 2007 dibandingkan 2006, tumbuh sekitar 73% sekitar 14,12 miliar dolar tertinggi dalam sejarah realisasi investasi di Indonesia. Kemudian kontribusi nett domestic-nya tumbuh 69% dan kontribusi asingnya tumbuh 73%.

Dan kemudian kalau ditanyakan untuk dibandingkan dengan Iskandar, Pak, bahkan sebenarnya kalau yang untuk pajak impor, pajak untuk barang modal, itu semua sudah kita berikan. Kita juga sekarang memberikan kompetitivitas dengan adanya disebut dengan tax allowance, di Malaysia dikenal dengan tax allowance yang 8 tahun, kita memberikan bisa sampai 16 tahun. Kemudian kalau yang PPN dan BEP yang ditangguhkan, kita juga sudah melaksanakan yang sama. Perbedaan yang mendasar antara dengan Indonesia dengan Malaysia, terutama di Iskandar itu adalah di Iskandar itu ada beberapa industri, terutama services yang diberikan hal seperti kediaman atau seperti rumah second home Malaysia itu, diberikan kebebasan-kebebasan tax yang disebut dengan tax holiday atau penangguhan pajak penghasilan. Di Indonesia kita tidak mempunyai hal tersebut. Seperti diutarakan Bapak Presiden, kita ingin kita ingin menciptakan nilai tambah daripada komunitas dasar kita. Karena komoditas dasar kita itulah kita mempunyai comparative advantage yang tersendiri.

Dan kami laporkan juga kepada Bapak Presiden, bahwa Januari-Mei 2008 ini, pertumbuhan daripada investasi dibandingkan dengan periode yang sama 2007 sudah tumbuh sekitar 80,4%, Pak. Jadi ini sudah mencapai 10 miliar dolar realisasi. Dan kami yakin bahwa pada tahun 2008 ini, kita akan bisa memenuhi target yang diminta oleh Ibu Menko sekarang, maaf, dan Menteri Keuangan yaitu 15,2% dibandingkan periode yang sama 2007.

Jadi pertumbuhannya baik dan tetapi memang dibandingkan dengan Malaysia itu, yang Iskandar itu memang diberikan untuk, terutama industri-industi jasa dan second home Malayasia, begitu loh. Yang menjadi perbedaan juga, bahwa, yang saya ingin ingatkan bahwa sebenarnya kalau datang investasi dari Timur Tengah, orang Timur Tengah itu tidak berinvestasi di bidang bukan industrialis, yang industrialis itu hanya baru Emirate, jadi mungkin konsep mereka itu adalah untuk mendapatkan untuk real estate, rumah sakit dan industri-industri jasa yang bisa dikerjasamakan dengan negara-negara Arab yang sekarang lagi booming dengan dolar, Pak. Terima Kasih, Bapak Presiden.

Presiden Republik Indonesia
Terima kasih. Saya tambahkan, Saudara. Waktu saya selesai menghadiri Konferensi Puncak Organisasi Konferensi Islam di Dakar, Senegal, saya singgah di Dubai. Dan waktu itu bertemu dengan top businessmen di Timur Tengah lebih dari 30, dan dilanjutkan dengan pertemuan saya one on one dengan mereka, ada komitmen dan keseriusan untuk mereka juga melakukan investasi di Indonesia. Bahkan setelah itu delegasi demi delegasi telah saya terima di Jakarta bersama Menteri terkait untuk kelanjutan itu.

Artinya kita juga terus memelihara atau meningkatkan intensitas kerjasama kita dengan Timur Tengah. Saudara tahu dengan windfall profit minyak ini, ada miliaran dolar capital yang ada di Timur Tengah yang siap diinvestasikan. Kita juga aktif sebetulnya untuk menggalang kerjasama di bidang investasi ini.

Dan tentu saja setiap pengembangan undang-undang, setiap policy harus kita lihat secara utuh dan ada yang kita konsultasikan dengan DPR RI, ada yang sepenuhnya otoritas Pemerintah. Tapi satu hal meskipun Saudara Luthfi menjelaskan perkembangan yang positif, yang bagus, kita sendiri juga belum puas, masih ada hambatan-hambatan di dalam negeri, inilah yang menjadi tugas besar kami, dan tugas besar semua.

Jadi kalau governance, baik Pusat maupun Daerah betul-betul responsive dan welcome terhadap pertumbuhan dunia usaha, bukan hanya investasi dari luar, tapi juga dari dalam negeri sendiri, maka akan lebih cepat kebangkitan dunia usaha dan akan membantu banyak bagi pengurangan kemiskinan dan pengurangan pengangguran. Demikian.

Sdri. Soraya, Kantor Berita Bloomberg
Terima kasih. Saya Soraya, Pak, Kantor Berita Bloomberg. Ada dua pertanyaan saya, Pak, mengenai yang pertama terkait dengan rencana Bapak untuk pertemuan ke G-8, itu sejak pertemuan di Bali mengenai iklim itu, keliatannya belum ada banyak perubahan kemajuan ke arah pencapaian Perjanjian Kyoto. Kira-kira dari Bapak Presiden apa-apa saja yang akan disampaikan demi mempercepat proses tersebut. Itu yang pertama.

Yang kedua, mengenai harga minyak yang sudah mencapai tembus 145 dolar per barel. Apakah Pemerintah Indonesia bisa rull out adanya kenaikan lagi harga minyak, mengingat bahwa angka subsidi menurut salah satu laporan itu bisa tembus angka Rp 230 triliun. Terima kasih, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Baik. Sebetulnya untuk agenda G-8 diperluas belum akan saya sampaikan sekarang. Tapi untuk gambaran, saya akan menyampaikan statement dalam Pertemuan Puncak G-8 terpulang kepada opportunity yang saya miliki nanti untuk semua betul-betul bisa memenuhi apa yang telah kita konsensuskan di Bali, Bali Roadmap dan semua kesepakatan berangkat dari Bali Roadmap itu.

Saya tentu nanti dengan bahasa yang konkret akan mengingatkan bahwa, baik itu negara maju maupun negara berkembang harus menjalankan kewajibannya, to do more berdasarkan prinsip common but differentiated responsibilities, respective capabilities.

Indonesia sendiri akan saya sampaikan memberi contoh sebagai negara berkembang antara lain bersama Australia telah menggalang suatu kerjasama untuk forest management, yang tentunya akan menyumbang banyak bagi carbon capture. Dengan kerjasama itu, kalau dilakukan juga oleh negara maju, negara berkembang dalam desain yang sama, dalam format yang sama, tentu akan banyak menyumbang bagi upaya mencegah global warming, karena banyak negara yang memiliki wilayah hutan yang bisa disumbangkan untuk climate change ini.

Dan ada sejumlah isu yang tentu yang akan kita angkat nanti, tapi saya tidak ingin prematur. Biar nanti saya kembangkan di sana, yang penting saya berangkat dari our consensus, dari Konferensi Bali, termasuk roadmap yang kita gunakan. Kuncinya adalah semua harus willing to do more, hanya dengan itu yang bisa kita capai.

Kemudian yang kedua, dengan harga minyak mencapai 145 dolar AS, minggu lalu saya mengeluarkan statement bahwa yang harus kita lakukan di Indonesia adalah penghematan total, agar subisidi itu berkurang, baik subsidi untuk BBM maupun subsidi untuk listrik. Kemudian percepatan dari semua upaya diversifikasi sumber energi, bukan hanya minyak dan gas, batubara, tapi juga energi terbarukan dan bahkan bahan bakar sintetis yang kita dorong untuk kita kerjakan.

Kemudian saya tahu, bahwa tentu ada tambahan subsidi. Menyangkut APBN ini yang juga kita carikan solusinya, agar APBN kita selamat untuk tahun 2008 dan tentunya tahun 2009. Sejauh ini tidak ada rencana untuk menaikkan kembali bahan bakar minyak, mengingat selalu ada dampak terhadap inflasi, terhadap daya beli rakyat kita. Oleh karena itu, kita pilih solusi lain agar meskipun harga masih begini untuk bisa mengamankan APBN kita dan mengamankan perekonomian nasional kita.

Saya berharap dalam pertemuan G-8 diperluas ini, agenda pangan dan energi juga dibicarakan secara serius. Saya juga telah mengirim surat kepada Perdana Menteri Fukuda sebagai tuan rumah, agar sekali lagi food security, energy security itu mendapatkan atensi pembahasan yang baik disamping climate change, yang memang menjadi agenda penting dalam G-8 Outreach ini. Terima Kasih.

Baik terima kasih Saudara-saudara, sampai ketemu lagi.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabakatuh.


*****


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan