Ruang Pers
Keterangan Pers Presiden
Keterangan Pers dengan Wartawan Indonesia Saat Kunjungan ke Sapporo, Jepang
TRANSKRIPSI
KETERANGAN PERS PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DENGAN PARA WARTAWAN INDONESIA
PADA SAAT KUNJUNGAN KE SAPPORO, JEPANG
SAPPORO-JEPANG, 10 JULI 08
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Saudara-saudara,
Para Wartawan yang saya cintai,
Sebagaimana Saudara ketahui, kemarin saya menghadiri Pertemuan Puncak G8 diperluas atau yang kita sebut dengan G8 Outreach Summit. Dan sekaligus, saya melakukan pertemuan-pertemuan bilateral yang berkaitan langsung dengan kepentingan nasional kita.
Ada pertanyaan mengapa Indonesia diundang, diikutsertakan dalam pertemuan puncak yang prestigious ini. Pertama, sebagaimana pula yang saya dan para delegasi Indonesia ikuti, kita diundang sebagai salah satu major economies, oleh karena itulah, kita ikut dalam sesi Major Economies Meeting. Yang kedua, kita juga diundang dalam kapasitas ikut menyukseskan Konferensi PBB tentang perubahan iklim dimana Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Indonesia telah menjadi tuan rumah atau menyukseskan dari Konferensi PBB itu, yang dunia akhirnya mengetahui telah dilahirkan Bali Roadmap dan Bali Actions Plan pada bulan Desember tahun lalu.
Dalam pertemuan puncak kemarin, saya sebagai Ketua Delegasi Indonesia diberikan kesempatan oleh Perdana Menteri Jepang, Fukuda, untuk berbicara awal, termasuk pembicara awal yang berkaitan dengan climate change. Dan setelah itu, dalam sesi berikutnya lagi yang membahas tentang perkembangan ekonomi global, perkembangan keadaan energi dan keadaan pangan. Saya juga diberi kesempatan untuk menjadi lead speaker yang berbicara awal yang berkaitan dengan food security yang dihadapi masyarakat global dewasa ini. Ini juga berkaitan dengan surat yang saya layangkan kepada Sekjen PBB, Presiden Bank Dunia, Perdana Menteri Jepang sebagai tuan rumah dari G8 Outreach Summit kemarin itu, yang berkaitan dengan permasalahan pangan dan krisis harga minyak, termasuk rekomendasi yang saya sampaikan pada beliau-beliau itu.
Atas dasar itulah, kita diberi opportunity, diberi kesempatan kemarin untuk menyampaikan pandangan-pandangan Indonesia. Dan bahkan salah satu pertemuan bilateral yang saya lakukan, Presiden Bank Dunia juga memerlukan untuk bisa bertemu dengan saya sebagai apresiasi dan respon positif dari apa yang saya sampaikan, agar dunia, institusi-institusi internasional ikut mengambil langkah-langkah yang konkret untuk menyelamatkan masyarakat global, utamanya negara-negara berkembang dari krisis harga minyak dan krisis harga pangan ini.
Saudara-saudara,
Sebagaimana Saudara ketahui yang hadir dalam pertemuan puncak kemarin, Pemimpin dari G8, Pemimpin dari boleh dikatakan Developing Seven minus Australia, dengan Australia menjadi 8, kemudian Sekretaris Jenderal PBB, lantas beberapa Pimpinan Organisasi Internasional, Presiden Uni Eropa, kemudian Pimpinan World Bank, IMF, International Energi Agency, OECD dan lain-lain. Topik summit ada 4 sebenarnya. Pertama adalah climate change. Yang kedua, dinamika ekonomi global. Yang ketiga, energy security. Dan yang keempat, food security.
Saudara-saudara,
Pandangan dan rekomendasi saya, yang telah saya sampaikan kemarin sudah diberitahukan kepada Saudara dan saya monitor sebagian, bahkan telah dirilis kepada publik kita dalam liputan Saudara atas jalannya Pertemuan Puncak G8+8 di Toyako, Hokkaido, Jepang ini. Yang ingin saya sampaikan sekarang ini adalah suasana atau iklim dari diskusi dan pembahasan di antara kami para world leaders yang kemarin hadir di pertemuan puncak itu.
Saya merasakan bahwa ya mungkin semuanya sadar bahwa masalah climate change, pangan dan minyak dunia ini betul-betul kalau tidak ditangani dengan baik, menimbulkan persoalan yang serius pada tingkat masyarakat global, utamanya di negara berkembang. Maka saya merasakan bahwa sikap para pemimpin kemarin itu lebih terbuka, berbicaranya lebih blak-blakan, direct, dan kemudian ada nuansa untuk bersedia lebih fleksibel, bersedia katakanlah untuk to take and to give. Dan ini sangat penting apabila Pemimpin G8 dan major economies, seperti China, India, Brasilia dan lain-lain juga bersedia untuk membangun konsensus untuk mencapai kesepakatan-kesepakatan tertentu, tentu akan baik bagi mencari solusi berbagai masalah global yang di sana-sini terus terang ada kebuntuan.
Saya bisa membandingkan bulan September tahun lalu di Markas Besar PBB New York juga dilakukan semacam leaders gathering, waktu itu yang memimpin Sekjen PBB, Presiden Sarkozy dari Perancis juga ada dan Kanselir Merkel dari Jerman juga ada, Presiden Bush dari Amerika juga ada, Presiden Thabo Mbeki dari Afrika Selatan juga ada, dan banyak lagi pemimpin, saya juga di situ karena diundang. Suasananya tidak seperti kemarin, masih kelihatan berjarak, masih kelihatan ada perbedaan yang tajam, misalkan tentang climate change, tentang memenuhi target pengurangan emisi karbondioksida pada tahun 2050. Saya merasakan semuanya itu, dengan posisinya yang tentu berorientasi pada kepentingan nasionalnya masing-masing. Tetapi suasana kemarin mudah-mudahan pertanda baik, meskipun masih harus kita buktikan nanti ke depan. Suasananya lebih cair dan hampir semuanya menyebut Bali Roadmap, hampir semuanya tidak ingin Bali Roadmap itu tidak bisa dilanjutkan, diwujudkan dan diaplikasikan, sehingga dunia tidak memiliki kerangka baru pengganti Kyoto Protocol yang berjangka waktu sampai dengan tahun 2012.
Dan mengapa saya lihat kemarin semua cukup serius menurut saya, masalah krisis harga minyak dan harga pangan ini ternyata dampaknya bisa saja mengenai negara-negara maju, meskipun persoalannya berbeda. Sering saya katakan di Indonesia dalam kelakar saya, bagi negara berkembang ini sudah urusan sesuap nasi, bagi negara-negara kaya, negara-negara maju, ini urusan sebuah mercy, berbeda. Tetapi kalau terjadi the global crisis katakanlah kalau kita gagal, tidak serius dan main-main ini, dampaknya akan dirasakan oleh semua.
Saudara-saudara,
Lantas posisi Indonesia seperti apa? Ini penting untuk diketahui oleh Saudara-saudara kita di tanah air, kemana pun saya dan delegasi Indonesia bertugas di forum internasional, apapun agenda dan topiknya, apakah itu yang menyangkut kerjasama multilateral, kerjasama regional selalu ada kewajiban saya untuk berorientasi kepada kepentingan bangsa kita, kepentingan nasional kita, apa yang bisa didapatkan oleh Indonesia. Kalau toh kita berkontribusi, jelas karena Indonesia bagian dari masyarakat dunia, tapi tentu memperhitungkan aspek-aspek dalam negeri kita, aspek-aspek pembangunan kita dan kepentingan rakyat kita.
Yang pertama, pandangan kita secara umum, secara menyeluruh menyangkut krisis harga minyak. Saya sampaikan kemarin dalam intervensi saya, dalam statement saya, agar kita bisa betul-betul memelihara stabilitas harga minyak jangka panjang, long term price stability, itu tidak boleh ada kepincangan atau gap, atau yang saya sebut dengan mismatch antara sisi supply dan sisi demand, antara sisi produksi minyak itu dengan sisi konsumsi.
Banyak teori harga minyak meroket seperti ini, karena satu, supply dan demand, penawaran dan permintaan, produksi dan konsumsi. Kedua, faktor geopolitik. Ketiga, faktor spekulasi pasar. Tapi saya punya pendapat dan sebagian dari pemimpin dunia juga ternyata sama pendapatnya dengan kita. Yang paling fundamental ini adalah supply dengan demand. Permintaan luar biasa ada negara–negara maju yang mengkonsumsi minyak atau BBM dalam jumlah yang besar, termasuk China dan India yang pertumbuhan ekonominya 9 sampai 11% per tahun. Lah ini kalau tidak diimbangi dengan produksi yang memadai atau sumber-sumber lain yang sifatnya non fosil, maka akan betul-betul ada mismatch yang dalam, dan di situlah harga akan cenderung meroket dan bertengger pada level yang sangat tinggi.
Rekomendasi saya konkret kemarin, negara produsen minyak besar, negara konsumen minyak besar dan perusahaan-perusahaan minyak besar, major oil producers, major oil consumers, major oil companies itu harus duduk bersama merundingkan, kemudian bagaimana memformulasikan satu perimbangan yang tepat, menyangkut supply and demand ini. Tidak boleh masing-masing, produsen kumpul sendiri, konsumen kumpul sendiri, perusahaan-perusahaan minyak kumpul sendiri, apalagi terus cenderung salah-menyalahkan, tidak akan ada solusi. Solusinya harus begitu.
Masalah krisis harga pangan, sebagian karena krisis harga minyak. Tapi juga terus terang berkaitan dengan bagaimana memelihara keseimbangan antara produksi pangan dunia dan konsumsi pangan dunia. Penduduk di dunia sekarang 6.4 miliar manusia, kemudian produksi pangan di banyak negara mengalami penurunan karena banyak faktor, termasuk climate change. Oleh karena itu, solusinya yang saya sarankan kemarin, ya bagaimanapun secara global, output dari produksi pangan ini harus meningkat, produktivitas pertanian kita meningkat. Itulah saya menyarankan ada semacam second green revolution. Di Indonesia sejak tahun 2005 kita sudah melakukan revitalisasi pertanian, perikanan, dan kehutanan, sama sebetulnya dengan green revolution itu dengan anggaran yang cukup, dengan program yang intensif, dan apa namanya, tindakan-tindakan lain.
Yang saya maksudkan, saya sarankan kemarin kepada pemimpin-pemimpin dunia itu, agar ada bantuan dari negara maju, agar ada kerjasama dan kemitraan, misalnya teknologi, investasi, atau financing, research and development, dan segi-segi lain, yang akhirnya produksi pangan di semua negara itu meningkat. Kalau ada yang turun, dipertahankan turunnya tidak akan drastis sekali.
Dan global partnership ini juga menyangkut dengan distribusi yang adil, menyangkut dengan rezim perdagangan yang fair. Oleh karena itu, Indonesia juga menyampaikan pendapat, agar putaran DOHA, WTO Negosiation itu betul-betul bisa konklusif, terlalu banyak perbedaan, terlalu banyak ganjalan-ganjalan selama ini. Beberapa minggu lagi akan ada Pertemuan WTO di Geneva. Dan kemarin saya senang, mudah-mudahan betul-betul bisa diwujudkan nampaknya para pemimpin dunia lebih fleksibel dan sanggup untuk berkompromi, to take and give lagi. Tapi kita uji lagi nanti, apakah betul-betul seperti itu. Karena kalau tidak adil, tidak fair, produk pertanian negara berkembang tidak bisa dipasarkan, tidak ada insentif, tidak ada revenue, bagaimana mungkin ekonomi kita akan tumbuh dengan baik. Ini dari sisi agriculture product, dari sisi bagaimana akses kepada pasar global dari negara-negara berkembang dalam memasarkan hasil-hasil pertaniannya.
Menyangkut climate change, sekali lagi yang saya sampaikan sesungguhnya, mengulangi kembali spirit pertemuan di Bali, Bali Roadmap, Bali Actions Plan harus dilanjutkan. Harus ada target 2050 minimal 50% reduction dan mesti ada target jangka menengah 2025. Sebab kalau tidak dilepas begitu saja, sangat tinggi resikonya, apakah betul-betul tahun 2050, kita bisa melakukan reduksi 50% dari CO2 itu.
Dan kemarin semua blak-blakan, angkat bicara, kalau saling tunggu enggak akan jadi-jadi, siapa yang mulai dulu, siapa yang mengurangi dulu, masing-masing punya kepentingan konon begitu. Saya katakan bahwa, baik negara maju dan negara berkembang harus berbuat lebih banyak, tetapi negara maju harus berinisiatif, harus take lead, harus mempelopori, dengan demikian semuanya akan ikut.
Saya juga sampaikan kerjasama yang konkret antara Indonesia-Australia. Sebagai contoh dan ketika saya one-on-one dengan para pemimpin dunia yang lain, beliau juga ingin tahu lebih banyak tentang kemitraan Indonesia dengan Australia di dalam pengelolaan hutan di Indonesia.
Saudara-saudara,
Berkaitan dengan climate change ini, perlu saya sampaikan bahwa Indonesia telah membentuk Dewan Nasional untuk penanganan perubahan iklim, dan ini menunjukkan kesungguhan, keseriusan bangsa kita menyelamatkan Indonesia kita, bumi kita, lingkungan kita, agar dalam kerjasama ini kita juga dapat sesuatu, karena harus adil, kalau kita menangkap karbon, hutan kita, ya harus ada kompensasi yang akan terus kita perjuangkan ke depan ini.
Kemudian saya juga menyarankan kepada Sekjen PBB kemarin, agar pasca pertemuan di Hokkaido ini ada pertemuan tingkat Menteri yang juga dihadiri, yang juga mewakili 18 negara itu. Mengapa? Tahun depan direncanakan akan dilakukan lagi pertemuan semacam di Hokaido ini, dengan tujuan agar menyangkut climate change di Kopenhagen bisa kita hasilkan yang sesuatu yang konkret. Ndak mungkin kita ketemu lagi tanpa harus ada rumusan-rumusan yang lebih riil, yang mesti dilakoni oleh para Menteri lingkungan atau Menteri terkait lainnya dari negara-negara tersebut.
Saudara-saudara,
Hal terakhir yang ingin saya sampaikan adalah pertemuan bilateral saya yang dilakukan kemarin sebanyak 7 pertemuan. Oleh karena itu, dari subuh sampai malam kegiatan delegasi Indonesia padat sekali, karena ini kesempatan yang baik untuk bertemu dengan para Kepala Negara dan Kepala Pemerintahan itu. Pertama-tama, Sekjen PBB dan tujuh pertemuan bilateral ini sesungguhnya permintaan beliau-beliau semua untuk bertemu dengan saya, Indonesia, karena ingin ada kerjasama yang konkret. Tentu saja kita bersyukur dan menyambut baik keinginan untuk kerjasama yang konkret itu.
Dengan Sekjen PBB, intinya tetap pada climate change, meskipun saya juga saya sampaikan hal-hal lain yang berkaitan dengan kepentingan kita, ya terutama yang paling urgent masalah food and energy ini. Dengan Korea Selatan, Presiden Lee Myung-bak yang baru, saya baru pertama kali bertemu beliau. Dan ingat kerjasama strategis kita dengan Korea itu penting dan terus berkembang. Kita ingin di bawah kepemimpinan Presiden Lee apa yang telah kita lakukan, dilanjutkan dan bahkan dikembangkan. Kita bicara itu kemarin.
Dan dengan Perdana Menteri India, Manmohan Singh, kita juga ingin beliau menggarisbawahi konsultasi dan kerjasama yang lebih dekat masalah climate change, juga kerjasama di bidang ekonomi, khususnya perdagangan dalam konteks misalkan ASEAN, India free trade area. Ada yang harus kita negosiasikan. Jelas, negosiasi itu untuk kepentingan kita, terutama dan kemudian untuk kerjasama yang lebih konkret, sehingga akhirnya mendatangkan keuntungan, bukan bagi negara ASEAN saja, bukan bagi India, tapi yang paling penting juga untuk bangsa kita.
Saya juga menerima, melaksanakan pertemuan dengan Presiden Meksiko, dengan Presiden Calderon Hinojosa yang juga sangat tertarik dengan kerjasama Indonesia dengan Australia dan beliau juga ingin kerjasama lebih konkret, terutama di bidang ekonomi dan energi.
Dengan Perdana Menteri Australia, kita ingin apa yang sudah kita lakukan, kita lanjutkan, kita kembangkan lagi dengan lebih luas dan lebih besar.
Presiden World Bank menyampaikan kepada saya tertarik dan dengan apa yang dilakukan Indonesia yang riil untuk mengatasi climate change ini dan juga upaya kita untuk, apa namanya mengembangkan sumber-sumber energi yang sifatnya non fosil, yang World Bank juga ingin terus bekerja sama untuk membantu Indonesia mencapai tujuan-tujuan itu.
Dan yang terakhir, tadi malam saya bertemu dengan tuan rumah, Perdana Menteri Jepang yang juga memberikan atensi yang tinggi terhadap Indonesia. Dan beliau ingin setelah ditandatanganinya Indonesia-Jepang Economic Partnership Agreement lebih luas lagi, lebih banyak lagi manfaat yang kita dapatkan. Dengan demikian, harapan saya lebih terbuka untuk apa namanya masyarakat kita, termasuk kalau Saudara memahami dari EPA ini kita akan mendapatkan pasar yang lebih luas di Jepang, lantas investment tentunya lebih berkembang, tenaga-tenaga profesional kita yang juga siap untuk di tugaskan di sini, sebagai contoh perawat dan perawat lansia yang ditargetkan 1.000 orang untuk dua tahun ini, yang insya Allah dalam waktu dekat ini akan dikirimkan 300 orang, ini professional workers yang tentunya baik bagi citra kita di luar negeri. Dan sejumlah opportunity, termasuk meningkatkan peluang bagi usaha mikro kecil dan menegah, UMKM Indonesia, termasuk UMKM Jepang, yang tentunya membawa kebaikan bagi kita semua.
Itulah Saudara-saudara, inti dari apa yang kita lakukan, apa yang kita capai dalam Pertemuan G8+8 ini. Dan insya Allah lusa, hari Sabtu, Presiden Brasilia, Presiden Lula, akan berkunjung ke Indonesia dan akan saya gunakan kesempatan itu untuk membicarakan kerjasama yang lebih luas. Ingat Saudara, Brazilia ini adalah negara yang sukses di bidang pertanian, termasuk pertanian kedelai, termasuk bahan bakar nabati, biofuels dan saya sudah saya sampaikan beliau, Indonesia ingin menimba pengalaman, ingin bekerja sama. Dengan demikian di negeri kita juga akan lebih berkembang lagi pertanian dan biofuel industry. Itulah yang saya sampaikan. Saya berikan kesempatan yang ingin menanyakan hal-hal tertentu kepada saya.
Sdr. Osdar, SKH. Kompas
Terimakasih, Bapak Presiden. Selamat siang Bapak Presiden dan semuanya. Saya Osdar dari Kompas. Cuma mau mengulangi pertanyaan, mungkin yang lebih detil seruan Bapak Presiden kemarin tentang permintaan seruan kepada negara-negara produsen minyak untuk memberi bantuan soal pangan ini, mungkin bisa didetailkan sedikit, Pak, ya dan starateginya yang mungkin bisa, yang sedikit konkret. Terima kasih, Pak Presiden.
Presiden Republik Indonesia
Baik. Ya ini seruan moral, morale appeal. Rasanya kok tidak adil, tidak tepat, ketika dalam suasana seperti ini ada negara-negara, utama produsen minyak besar yang mendapatkan keuntungan yang luar biasa, windfall profit. Mungkin tiap hari, tiap minggu itu sampai 1 miliar dolar Amerika Serikat. Tapi di sisi lain, akibat kenaikan minyak dan pangan, banyak negara yang sangat menderita. Oleh karena itulah, saya dalam forum-forum terhormat itu menghimbau negara-negara produsen minyak besar, bukan hanya Saudi Arabia, tapi juga negara-negara lainnya yang tentunya bisalah memberikan bantuan untuk mereka yang mengalami kesulitan hidup, terutama pangan, khususnya pangan, baik lewat WPF maupun langsung ke negara-negara yang bersangkutan.
Saya memang secara spesifik menyebut Saudi Arabia sebagai contoh. Saudi Arabia tentu mendapatkan keuntungan yang luar biasa dari meroketnya harga minyak ini. Dan oleh karena itu, alhamdulillah kalau Saudi Arabia juga memberikan bantuan, saya tidak tahu jumlahnya berapa ratus, 500 juta US dollar, seperti itukan bagus sekali sebetulnya untuk meringankan beban negara-negara. Tentunya tidak ada atau belum ada mekanisme, atau ikatan, atau imperatif siapa yang, apakah Perserikatan Bangsa-Bangsa. Oleh karena itu, ya kewajiban sayalah kemarin pada forum yang penting itu, mudah-mudahan bisa diteruskan oleh pers global ke seluruh dunia, baik kalau ada empati dan memberikan bantuan secara langsung. Itu yang dapat kita lakukan kemarin menyangkut bantuanlah kepada yang sedang susah.
Sdr. Supriyadi, SKH. Seputar Indonesia
Terima kasih, Bapak Presiden. Saya Supriyadi dari Koran Sindo, Pak. Yang ingin saya tanyakan, saat di outreach working lunch, Bapak kan, saya melihat duduk bersebelah dengan Presiden Bush. Yang ingin saya tanyakan, apakah ada hal-hal pembicaraan dengan Presiden Bush dalam kesempatan tersebut meski secara non formal seperti itu yang apa untuk misalkan masalah, misalnya masalah apa, komitmen Amerika terhadap masalah pangan misalkan seperti itu, masalah kenaikan pangan, Pak.
Terus yang kedua, dalam pertemuan bilateral dengan Presiden World Bank, apakah disebutkan dalam pertemuan tersebut, World Bank ada komitmen juga untuk membantu negara-negara berkembang terkait dengan penanganan masalah food crisis, Pak. Itu cukup. Terima kasih, Pak.
Presiden Republik Indonesia
Saya kemarin waktu pertemuan berlangsung, pertama pagi, kalau soal duduk sebelah kiri saya Presiden Rusia, sebelah kanan saya Presiden Afrika Selatan. Kemudian sesi yang kedua, sebelah kiri saya Perdana Menteri Inggris, sebelah kanan saya Presiden Amerika Serikat. Ini hanya urusan duduk dan kita tidak ada pertemuan bilateral kiri kanan, tapi betul-betul kita membahas agenda yang sudah disiapkan oleh Chairman, oleh Perdana Menteri Fukuda dan oleh Forum G8.
Kalau dalam kesempatan sebelum dimulai ya di antara kita saling salam-menyalam gitu semua, karena ada yang baru pertama kali saya ada yang pertama kali ketemu Perdana Menteri Inggris. Saya katakan pada Perdana Menteri Gordon Brown, ”Saya senang mendengar pidato Anda, karena peduli pada masalah kemiskinan, pada masalah MDGs, pada masalah-masalah negara-negara berkembang.” Saya harus sampaikan seperti itu dan bahkan PM Brown mengatakan, ”Mari kita lanjutkan kerjasama. Saya juga senang karena Indonesia juga berperan dalam banyak hal di dunia ini, oleh karena itu ingin kerjasama ditingkatkan.”
Saya bertemu dengan Kanselir Merkel, beliau secara khusus memang memberikan apresiasi terhadap keberhasilan kita pada Bali Conference di Denpasar itu, dengan demikian harapan dari situ masih berlanjut ke depan. Ya sambil persiapan apa namanya pertemuan atau setelah pertemuan selalu ada pembicaraan-pembicaraan seperti itu, ringan, tetapi tidak ada yang sangat substantif. Dengan Presiden Bush kemarin saya tidak membahas apapun, karena tidak ada isu yang memang perlu saya bicarakan dengan Presiden bush untuk konteks ini, semua sudah dibicarakan dalam forum bersama itu.
Yang kedua, dengan World Bank justru Robert Zoellick, Presiden World Bank itu karena saya berkirim surat, dianggap saya serius itu untuk mengatasi masalah ini. Beliau datang untuk itu, dan berjanji akan terus meningkatkan kerjasama dengan Indonesia. Terutama berkaitan dengan masalah ini, masalah food, masalah energy dan masalah climate change. Saya akan tugasi Menteri terkait nanti, apa yang bisa dikerjasamakan dengan World Bank. Supaya kita mengurusi APBN kita, mengurusi ekonomi kita, mengurusi Saudara kita yang mengalami kesulitan karena kenaikan harga-harga dunia dan harga-harga domestik, ada kerjasama yang baik tentu membawa kebaikan bagi negeri kita. Dengan negara berkembang, tentunya saya yakin World Bank juga melakukan hal yang kurang lebih sama.
Sdr. Beny, LKBN ANTARA
Terima kasih, Bapak Presiden. Saya Beny, Pak dari ANTARA, Pak. Saya mengikuti perkembangan di press room waktu di Toyako sepertinya ada gambaran perbedaan nyata dari G8 dan negara-negara G5 dalam masalah yang sedang dihadapi sekarang dalam 4 isu itu, sehingga yang terjadi dari pandangan media adalah Pertemuan KTT G8 itu hanya menyebutkan komitmen-komitmen saja, Pak, untuk mencapai tujuan 2050. Sementara yang dibutuhkan adalah langkah-langkah konkret sebelum mencapai tujuan itu sendiri. Jadi bagaimana bisa, kalau tidak ditetapkan dari sekarang, G8 yang mendorong, agar komitmen tersebut tercapai dengan program-program jangka pendek itu.
Yang kedua, soal food crisis, Pak. Apakah tidak diusulkan juga dibentuk semacam lumbung padi bersama di antara negara-negara ASEAN untuk mengatasi krisis pangan itu, jadi diciptakan suatu distribusi pangan yang lebih ideal begitu, Pak?
Yang ketiga juga, bagaimana dibentuk sistem informasi, agar supply dan demand terhadap pangan itu juga bisa diketahui lebih cepat, sehingga bisa diambil prediksi untuk memberikan bantuan yang lebih pantas. Terima kasih, Bapak.
Presiden Republik Indonesia
Baik. Yang pertama, cara melihatnya begini. Kemarin itu justru lebih lunak, lebih cair, pertemuan-pertemuan sebelumnya jauh lebih berjarak. Saya mengatakan tadi, saya hadir dalam pertemuan para pemimpin dunia di New York September tahun lalu yang masih kelihatan sulit untuk membangun titik temu. Setelah itu ada Pertemuan APEC di Sydney, 21 negara, negara majunya juga banyak, sama posisinya, di situ juga ada India, ulangi, ada China, Jepang dan ada negara-negara lain. Setelah itu saya menghadiri lagi ada ASEAN Summit dan East Asian Summit di Singapura, topiknya juga climate change, di situ juga masih ada jarak-jarak, bahkan awal dari pertemuan di Bali itu juga alot, hampir deadlock. Tuhan Maha Besar, kita diberi kesempatan sejarah, bersama-sama PBB untuk membangun tonggak penting di Bali waktu itu.
Kalau kita bandingkan dengan pertemuan-pertemuan selanjutnya, saya justru ada titik maju kemarin itu. India menyampaikan sudah ada national actions plan, sudah ada target. China menggarisbawahi pentingnya pengurangan emisi karbon, yang lain-lain kurang lebih dengan bahasa yang sama. Jelas dalam pertemuan puncak tidak bisa ada rumusan angka, rumusan timeline yang pasti, karena itu nanti akan dalam Forum UNFCCC akan dirumuskan seperti apa. Tapi bagi saya, dengan semua setuju 2050 katakanlah ada target dan hampir semuanya setuju a midterm target, itu sudah langkah maju.
Sejauh ini betul, sebagaimana saran saya kepada Sekjen PBB ini, jangan sampai masuk angin, jangan sampai momentum ini tiba-tiba lepas, kalau tidak segera ditindaklanjuti. Itulah harapan saya, para Menteri Lingkungan segera bertemu. Kemudian Polandia sebagai tuan rumah dengan PBB harapan saya juga bekerja sangat intensif bulan-bulan terakhir ini menuju ke Kopenhagen, dengan demikian yang masih di apa namanya, dikhawatirkan oleh dunia tidak terjadi.
Saya tidak mengatakan bahwa everything will be going well, saya tidak pernah, karena bagaimanapun setiap negara punya kepentingan masing-masing. Tetapi dengan malapetaka di dunia sekarang ini dirasakan oleh semua bangsa, rasanya ada kewajiban moral, ada morale obligations kepada semua bangsa, semua pemimpin untuk lebih peduli dan betul-betul bersepakat pada kerjasama global.
Itu yang bisa saya jelaskan kemarin, sehingga kuncinya setelah pertemuan kemarin apa gitu? Jelas antara G8 katakanlah dengan sisanya ada perbedaan, selalu. Di antara G8 sendiri, kita lihat Amerika Serikat dengan Uni Eropa juga ada perbedaan, di antara negara-negara berkembang sendiri juga ada perbedaan. Oleh karena itu, yang mengikat adalah common but differentiate responsibilities and respective capabilities, dan apa namanya kegiatan bersama untuk adaptation, mitigation, financing dan sekaligus tranfers of technology. Itu yang mengikat, itu building blocks-nya.
Yang kedua, sebelum informasi itu apa, sebelumnya apa? Lumbung padi disebut-sebut kemarin memang harus ada logistic stock dalam sistem, the global system, paling tidak Presiden World Bank juga menyampaikan seperti itu. Saya diskusi dengan para Menteri waktu kemarin datang, termasuk di Kuala Lumpur mesti harus ada juga satu cadangan pangan. Siapa tahu ada malapetaka kemanusiaan, ada bencana alam, kalau toh bukan bencana alam, ada komunitas di negara tertentu yang sungguh menghadapi tragedi, kelaparan yang meluas, bagaimana mungkin kita bisa membantu kalau tidak ada stock at hand, semacam lumbung pangan pada tingkat dunia. Kemarin membahas seperti itu.
Kalau ditanyakan ASEAN, saya sudah menulis surat sebetulnya kepada Perdana Menteri Singapura beberapa bulan yang lalu sebagai Chairman dari ASEAN dan saya akan mengulangi lagi nanti untuk pertemuan di Thailand, Bangkok, untuk ASEAN sendiri mesti ada satu mekanisme, satu kerjasama. Ingat bahwa di ASEAN itu ada negara surplus, misalnya Kamboja, Thailand, Vietnam, insya Allah Indonesia akan masuk karena sudah surplus sekarang. Ada juga yang Filipina dan mungkin negara-negara yang memerlukan. Malaysia pun sebetulnya tidak cukup surplus untuk padi, karena kelapa sawitnya banyak, mesti ada. Tetapi ingat Saudara-saudara, tidak semua bisa dikontrol, tidak semua bisa diikat seperti itu, karena ada market mechanism. Harapan saya adalah betul ada market mechanism supaya efisien harga itu, tetapi menghadapi krisis kemanusian mesti ada peran Pemerintah. Kalau kita bicara kawasan, ada peran organisasi kawasan semacam ASEAN tadi.
Yang ketiga, masalah informasi itu benar. Menurut pikiran saya, salah satu mengapa ada spekulasi harga minyak? Saudi Arabia misalnya, ini bukan hanya supply dan demand, ini juga faktor spekulan. Perdana Menteri Manmohan Singh juga ada speculative atau speculated bubble menyangkut harga ini. Meskipun kalau saya pribadi lebih banyak pada faktor supply and demand. Tapi bisa saja ada, untuk mengurangi itu adalah informasi yang betul, harus ada information yang bisa didapatkan oleh semua negara. Kalau dalam teori ekonomi, kalau ada imperfect market information dari market kita, itu bisa macam-macam, contohnya spekulasi. Hal yang sama juga pada pangan, harus ada jelas data, konsumsi, produksi, penawaran, permintaan, daerah yang surplus, daerah yang defisit, baik pangan maupun energi. Dengan demikian, global imbalances di bidang pangan dan di bidang energi ini bisa kita atasi, bisa kita tutup. Kuncinya memang informasi. Mestinya lebih tepat kalau lembaga-lembaga internasional di sini, PBB, apakah WTO, atau FAO, atau World Bank, atau IMF, silakan. Tapi jangan dibiarkan negara mencari informasi sendiri-sendiri, harus bisa di-share, bisa didapatkan oleh semua negara di dunia ini. Saya kira itu Saudara Beny yang saya jawab tiga pertanyaan tadi.
Sdri. Agustina Wuntu, RRI
Terima kasih, Pak Presiden. Saya Agustina dari RRI. Karena hanya satu pertanyaan saja, kalau begitu Bapak di Indonesia akan terjadi pemadaman listrik yang akan kalau enggak salah ini mulai kemarin, Pak, saya baca di koran itu, terutama di Jakarta. Bagaimana dengan pendapat Bapak dengan krisis ini, Pak?
Presiden Republik Indonesia
Saya berkomunikasi dengan para Menteri tadi malam. Saya berbicara dengan Menteri ESDM, saya berbicara dengan sejumlah pejabat kita di sana. Yang saya bicarakan justru ada kekurangan supply atau pasokan BBM di Jambi karena masuk SMS siang dan malam masuk ke saya sejak dua hari yang lalu sampai tadi malam. Saya, mengapa terjadi, karena isunya macam-macam, rumornya macam-macam. Jawaban yang saya diterima tadi malam adalah tadi saya minta dicek, apa betul karena pendangkalan sungai di Indragiri ya? Di Jambi itu, maka yang tadinya kapal yang bawa supply BBM itu 3 hari menjadi 7 hari. Saya katakan kalau seperti itu, mosok nggak bisa lewat darat. Katanya sudah diputuskan oleh Muspida, Pimpinan Gubernur akan dilewatkan darat. Tetapi tetap saya tegur, Pertamina saya tegur, Jajaran Pemerintah, baik Pusat dan Daerah kenapa tidak diantisipasi. Jadi semuanya itu bisa diantisipasi, pemimpin harus turun. Kalau hanya begitu, ya semua menjadi pemimpin. Saya tidak puas dengan cara-cara seperti itu. Kalau terlambat sekian jam oke, tapi kalau satu hari, dua hari, tiga hari ndak bisa diterima. Itu membawa BBM entah dari kilang, entah di Riau ataupun saya di Palembang ada tidak yang cukup nggak, itukan bisa 24 jam bisa sampai itu. Jadi menurut saya ini contoh sense of urgency, contoh ketidakcepatan, tidak responsifnya beberapa pejabat kita mengatasi masalah-masalah ini. Itu yang saya terima.
Kalau listrik belum ada laporan. Ada yang bisa menjelaskan listrik apa itu di Jakarta? Kalau kerusakan listrik suatu saat bisa terjadi, entah gardu, entah sistem saluran, distribusi bisa terjadi. Kalau soal, apakah listrik di Indonesia cukup atau tidak cukup, saya kira sudah puluhan kali saya mengatakan sejak Bung Karno sampai dua tahun yang lalu, listrik kita 25.000 megawatt. Itu tidak cukup, dulu cukup, sekarang tidak. Itulah kita bikin crash program 10.000 megawatt tambahan yang sudah kita mulai sejak tahun lalu , tapi perlu waktu dua, tiga tahun, itupun nanti kita tambah lagi, nggak akan cukup. Kalau nasional seperti itu balance-nya, supply dan demand-nya, tetapi kalau gangguan listrik entah di kota X atau Z setiap saat bisa saja terjadi. Saya belum dapat laporan, karena apa? Biasanya cepat kalau ada seperti itu masuk ke SMS juga, tapi yang tadi malam, tengah malam saya bicara jam 12 malam dengan pihak Indonesia masalah BBM kita di Jambi. Tadi si Hanibal apa itu?
Sdr. Hanibal, ANTV
Dalam konferensi pers kemarin, Bapak menyinggung tentang, ketika membahas tentang investasi dimana banyak pejabat atau birokrasi yang tidak tanggap mengantisipasi segala macam persoalan. Sementara saat ini juga sudah tampak jelas bahwa menuju ke 2009, baik birokrasi maupun juga ada pejabat Pemerintah yang tampaknya sudah mulai tidak konsentrasi kepada tugas-tugas yang harus diembannya. Menghadapi itu, Pak, saya ingin menanyakan, kira-kira apa sih yang harus dilakukan para birokrat, para pejabat dan juga, karena orang di luar menganggap misalnya Kabinet mulai tidak efektif segala macam, Pak. Terima kasih.
Presiden Republik Indonesia
Kalau spekulasi, pandangan memang beragam, cemas. Saya sudah bicara kepada jajaran Kabinet, saya sudah berbicara kepada para Gubernur seluruh Indonesia, saya ingin meskipun bulan ini sudah mulai kampanye Pemilu Legislatif, sekian bulan lagi Pemilu Legislatif, sekian bulan lagi Pemilu Presiden dan Wakil Presiden, saya minta pejabat pemerintahan paling tidak yang di bawah saya dan saya harapkan juga pejabat-pejabat negara untuk tetap memprioritaskan atau katakanlah tidak lalai pada pelaksanaan tugasnya, sebagaimana apa yang telah diamanahkan. Kalau Menteri ya Menteri, Gubernur ya Gubernur, Bupati ya Bupati, Walikota ya Walikota, Anggota DPRD, DPR, Presiden, termasuk saya, Wakil Presiden, semua tentu harus sepenuhnya menjalankan tugas sampai jatuh tempo, sampai batas waktu menurut Undang-Undang Dasar. Seperti saya ini jatuh tempo pada tanggal 20 Oktober tahun 2009. Saya tidak boleh terus, wah ini sedang berkampanye ria, berpolitik ria, ah kita tinggalkan saja. Dosanya luar biasa, rakyat akan mengaudit. Saya minta rakyat Indonesia mengaudit, apakah betul-betul ada pejabat pemerintahan yang sudah meninggalkan betul pekerjaannya dan lebih mengutamakan atau habis waktunya untuk kegiatan politik praktis.
Saya sampaikan juga kepada para Menteri, para Gubernur silakan. Silakan untuk juga berjuang sesuai dengan Undang-Undang Dasar, untuk kepentingan kompetisi politik, untuk kepentingan demokrasi. Boleh pada saat kampanye, misalkan seorang Menteri, seorang Gubernur dari partai politik X bisa berkampanye menurut aturan, sesuai kiranya diamanahkan Undang-Undang, diatur oleh KPU, ikuti. Boleh, tidak perlu rikuh sama saya. Ini demokrasi, ini Undang-Undang. Yang tidak boleh itu, tinggalkan sama sekali tugasnya sebagai pejabat Pemerintah. habis waktunya untuk itu. Satu.
Yang kedua, dengan bahasa terang saya sampaikan kepada para Gubernur boleh suatu saat saya ingin jadi Wakil Presiden, saya ingin jadi Presiden, boleh, dan rakyat makin banyak pilihan makin bagus itu. Tetapi sekarang ketika yang bersangkutan menjadi Gubernur, saya Presiden, ya harus ikut aturan main Pemerintah, kalau rapat ya rapat, ada policy Pemerintah ya dijalankan, ada tugas ya dilaksanakan. Tidak boleh karena wah saya nantikan akan jadi Capres, saya jadi Cawapres, sekarang belum-belum sudah beroposisi. Tidak ada istilah Gubernur, Bupati, Walikota, Menteri beroposisi kepada kepala pemerintahannya. Ini etika politik, ini fatsum politik.
Nantinya begitu yang bersangkutan jadi Capres, jadi sekarang Cawapres, kalau sekarang jadi Cagub, jadi Cawagub nah di situ aturan main berlaku, boleh berkompetisi dalam berkampanye, begini, begitu. Sekarangkan belum, ya. Saya pun belum bisa berkampanye, wong saya ini bukan Capres, saya Presiden. Kalau saya ikut-ikutan berkampanye ria, susah nanti, habis waktu saya, padahal banyak PR yang harus saya lakukan.
Jadi intinya pandai-pandai menempatkan diri, kalau memang harus menjalankan amanah politik sesuai dengan Undang-Undang aturan main, silakan, tetapi yang tidak boleh meninggalkan tugas pokoknya sebagai pejabat Pemerintah yang telah diatur oleh Undang-Undang, yang telah disumpah pada saat yang bersangkutan mengemban tugas sebagai pejabat publik.
Saya kira itu. Ini bahasa saya bahasa terang, silakan disampaikan kepada yang lain, tidak ada udang dibalik batu dan tidak perlu ada dusta di antara kita, karena semuanya blak-blakan, terus terang begitu.
Terima kasih.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



