Ruang Pers
Keterangan Pers Presiden
Doorstop Ucapan Belasungkawan Meninggalnya Dr.Sjahrir dan Hasil Pertemuan dengan Prof. Muhammad Yunus
TRANSKRIPSI
DOORSTOP PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
MENGENAI
UCAPAN BELASUNGKAWA ATAS MENINGGALNYA DR. SYAHRIR DAN HASIL PERTEMUAN DENGAN PROF. MUHAMMAD YUNUS
HOTEL BALI INTERCONTINENTAL, 28 JULI 2008
Saudara-saudara,
Ada dua hal yang ingin saya sampaikan. Pertama sehubungan dengan meninggalnya Dr. Syahrir, salah satu Anggota Dewan Pertimbangan Presiden Bidang Ekonomi, saya atas nama Pemerintah dan atas nama keluarga mengucapkan bela sungkawa yang sedalam-dalamnya. Almarhum adalah salah satu tokoh yang saya anggap kritis, dalam arti menyampaikan pandangan-pandangan yang critical, kemudian mengemukakan persoalan apa adanya yang dalam pengembangan kebijakan di bidang ekonomi selama ini betul-betul sangat membantu saya sebagai Presiden dan tentunya sebagai Kepala Pemerintahan dan dengan jajarannya. Saya mendoakan Almarhum bisa diterima di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa.
Saya juga baru menelpon Ibu Syahrir yang masih berada di Singapura. Dan kami berharap beliau dan keluarga tegar menghadapi cobaan ini. Terus terang kita kehilangan Dr. Syahrir yang sebagaimana Saudara ketahui, nampaknya penyakit yang diderita oleh beliau itu sepertinya belum lama benar, beberapa bulan yang lalu, tetapi ini semua tentu kehendak Tuhan Yang Maha kuasa. Itu yang pertama, Saudara-saudara.
Sedangkan yang kedua, menyangkut pertemuan saya dengan Prof. Muhammad Yunus yang baru saja saya laksanakan. Kami melakukan perbincangan yang mendalam bersama para Menteri terkait untuk saling bertukar pikiran tentang, bukan hanya strategi, bukan hanya kebijakan, tapi justru langkah-langkah teknis, kegiatan-kegiatan nyata untuk mengurangi kemiskinan, utamanya melalui pemberian kredit mikro. Banyak yang saya timba dari pengalaman Grameen Bank, dari pengalaman Prof. Muhammad Yunus yang menerima penghargaan nobel perdamaian tentang pilihan-pilihan atau metodologi, bagaimana bisa membantu kaum miskin keluar dari kemiskinannya dengan cara melakukan usaha mikro dengan pinjaman yang bersifat mikro pula.
Saya juga menyampaikan kepada Prof. Yunus tadi bahwa Indonesia juga terus mengembangkan kebijakan, mengembangkan cara-cara yang lebih efektif untuk mengurangi kemiskinan, untuk mengembangkan usaha mikro kecil dan menengah. Saya sampaikan pada beliau tadi, bahwa bagi yang sangat miskin, the poorest of the poor, itu memang konsep Indonesia itu adalah safety nett, kita berikan bantuan langsung. Tapi kalau komunitas yang lebih berdaya, tapi belum berdaya benar, kita lakukan empowerment dengan Program Pemberdayaan Masyarakat untuk membangun infrastruktur di komunitas itu, yang diperlukan oleh mereka dan dibangun oleh mereka sendiri. Dan yang ketiga, yang baru kita kembangkan sejak tahun lalu, yang ternyata klop betul dengan pikiran Prof. Muhammad Yunus adalah ya Kredit Usaha Rakyat atau micro credit yang progress-nya cukup baik.
Satu hal yang saya bicarakan secara mendalam tadi, memang ada kegiatan-kegiatan yang Pemerintah sepenuhnya bertanggung jawab, seperti bantuan langsung kepada masyarakat, program-program pengurangan kemiskinan yang menggunakan anggaran belanja kita, ini kewajiban kita, atas nama konstitusi. Tapi ada kegiatan yang sepenuhnya non Pemerintah atau swasta, termasuk yang ada di Indonesia, bank-bank milik negara yang lebih bisa berhubungan langsung dengan usaha mikro, usaha kecil dan usaha menengah. Dan saya sependapat betul dengan cara-cara itu, sehingga biarlah masyarakat kita lebih tumbuh jiwa kewirausahaannya, biarlah bank-bank kita itu berhubungan langsung dengan mereka, dengan demikian ownership, kepemilikan tangggung jawab, dan semangat untuk menjalankan usaha yang maju dan berhasil itu lebih tinggi lagi daripada Pemerintah langsung menangani masalah-masalah yang teknis.
Itu yang tadi kami bicarakan secara mendalam dan mudah-mudahan keseluruhan Micro Credit Summit yang dilaksanakan di Indonesia mulai hari ini yang oleh banyak orang dikatakan sangat banyak yang datang, mencerminkan keseriusan dari banyak negara, banyak peserta dan tema yang dipilih juga klop, apalagi situasi dunia sekarang ini yang ditandai dengan meroketnya harga minyak dan meningkatnya harga pangan.
Sebagai tuan rumah, Indonesia tentu bersyukur dan senang mudah-mudahan konferensi ini menghasilkan sesuatu yang deliverable, sesuatu yang betul-betul bisa dilakukan segera untuk membantu rakyat miskin, sebagaimana program-program yang kita lakukan juga. Saya berharap delegasi Indonesia yang hadir dalam summit ini juga bisa menimba pengalaman, kita tidak usah malu belajar dari pengalaman negara lain yang terbukti sukses, karena mereka juga belajar dari pengalaman kita, pengalaman yang menurut mereka anggap sebagai success stories.
Demikian, terima kasih.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



