Ruang Pers

Keterangan Pers Presiden

Tentang Inisiatif ASEAN plus Three

 

TRANSKRIPSI
KONFERENSI PERS PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
TENTANG LANGKAH MENGHADAPI KRISIS GLOBAL DAN ASEAN + 3
KANTOR PRESIDEN, 16 OKTOBER 2008


Tadi saya telah menerima Menteri Luar Negeri, Menteri Keuangan yang juga Menko Perekonomian, Menko Polhukam untuk membahas tentang keperluan dilaksanakannya pertemuan puncak ASEAN.

Pertama untuk membahas langkah-langkah ASEAN, langkah-langkah kawasan menghadapi krisis keuangan global ini. Dengan mengambil pelajaran tahun 1997 Asia Tenggara atau Asia mengalami krisis yang nampaknya waktu itu kerjasama diantara negara-negara Asia belakangan kita rasakan kurang efektif. Kita ingin, apalagi Asia sudah punya konsep ASEAN economic community. Apalagi sudah ada forum Asia Timur, ya intinya ASEAN + 3, ASEAN bersama-sama dengan China, Jepang, dan Korea Selatan.

Kita ingin dan saya hari ini menulis surat kepada para Pemimpin ASEAN tetapi tentu yang saya tujukan kepada Perdana Menteri Thailand yang sedang menjadi Chairman ASEAN sekarang ini, untuk bisa mengacarakan pertemuan ASEAN di sela-sela pertemuan puncak ASEM di Bejing tersebut. Saya juga berpendapat yang akan dilanjutkan dengan pembicaraan Menlu dengan Sekjen ASEAN dan Menteri Luar Negeri yang lain bagus barangkali kalau, bukan hanya pertemuan ASEAN tapi ASEAN + 3, sehingga langkah-langkah regional itu menjadi lebih efektif. Tentu sumber dayanya lebih besar, kerjasamanya lebih kredibel kalau China, Jepang, Korea Selatan dan ASEAN menyerasikan langkah kita untuk menghadapi krisis keuangan global ini. Ini yang saya sarankan tadi melalui surat kepada Pimpinan ASEAN.

Yang kedua juga menyangkut perkembangan situasi di perbatasan Kamboja dengan Thailand. Meskipun waktu saya menelpon kedua Perdana Menteri, Perdana Menteri Kamboja dan Perdana Menteri Thailand, Beliau berdua mengatakan terus ingin mencari langkah-langkah damai perundingan negosiasi. Tetapi terjadi clashed kemarin, meskipun sekarang terus dilakukan negosiasi dan perundingan. Rasanya bagus dan tepat kalau dalam pertemuan itu kita menghimbau agar betul-betul bisa dicegahlah konflik bersenjata sesama anggota ASEAN. Itu yang, apa namanya, menjadi posisi Indonesia.

Kemudian tentunya itu sudah muncul di surat kabar pikiran Presiden Arroyo saya kira pers sudah mengikuti, posisi Indonesia, kita akan mendengarkan pikiran seperti apa yang disampaikan oleh Presiden Arroyo itu untuk membangun semacam pooling dari sumber-sumber keuangan untuk mengatasi masalah-masalah di ASEAN. Meskipun demikian Indonesia berpendapat sambil mendengarkan pandangan dari Philipina itu mari kita tindak lanjuti upaya untuk merumuskan yang disebut dengan Chiangmai Inisiative yaitu ASEAN + 3 itu memikirkan untuk mengumpulkan sebuah dana ASEAN + 3 dana kawasan dengan syarat-syarat tertentu bisa digunakan untuk membantu negara-negara yang mengalami kesulitan keuangan. Ini sedang berjalan proses untuk merumuskan seperti apa aturan mainnya, semacam charter-nya, begitu dan aturan-aturan yang berkaitan dengan itu. Oleh karena itu posisi Indonesia. Saya tentu menunggu seperti apa yang dipikir oleh Presiden Arroyo, dan kemudian syukur-syukur bisa, kita klopkan dengan yang disebut Chiangmai Inisiative.

Itulah Saudara-saudara, yang menjadi sikap Indonesia dan prinsipnya Indonesia ingin betul-betul mendayagunakan asosiasi ini baik ASEAN maupun ASEAN + 3 untuk mengambil mengambil langkah bersama dalam mengatasi krisis keuangan global termasuk memelihara keamanan dan ketertiban di kawasan ASEAN. Ada pertanyaan?.

M. Kardena, Suara Karya
Pak mengenai konflik itu sendiri Pak kemarin ada dua orang tewas itu Pak di Kamboja, mungkin Bapak sebagai Kepala Negara melihatnya apakah ada kemungkinan konflik itu akan terbuka meluas atau bagaimana Pak?.

Presiden RI
Harapan saya, sesuai pula dengan komitmen dan apa yang sampaikan oleh kedua Perdana Menteri ya tidak meluas. ASEAN harus dengan semangat kekeluargaan yang baik, semangat ASEAN security community harus bisa ikut mendorong untuk tidak menjadi konflik terbuka. Yang paling baik dua-duanya menahan diri dan kemudian melanjutkan perundingan, Indonesia siap untuk menjadi bagian dari penyelesaian konflik yang damai itu.
Terima kasih.



Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan