Ruang Pers
Keterangan Pers Presiden
Hasil Kunjungan Kerja di Beijing Mengikuti KTT ASEM
TRANSKRIPSI
KETERANGAN PERS PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DENGAN WARTAWAN INDONESIA
DALAM RANGKA KUNJUNGAN KERJA KE BEIJING – CINA
HOTEL THE PENINSULA - BEIJING, 26 OKTOBER 2008
Presiden RI :
Bismilahirahmanirrahim,
Malam ini dengan didampingi delegasi Indonesia saya akan menyampaikan penjelasan kepada Saudara untuk bisa dikomunikasikan kepada rakyat Indonesia.
Alhamdulillah, kegiatan utama dalam rangkaian pertemuan puncak ASEM telah selesai, sebagaimana yang saya sampaikan pada saat saya memberikan penjelasan pada entry briefing di tempat ini, hari Rabu malam, saya sampaikan bahwa kita selalu memiliki tiga kegiatan utama, tiga wilayah kepentingan.
Pertama yang bersifat bilateral, apa yang kita dapatkan dengan kegiatan bilateral ini misalnya kita dengan China dan kegiatan bilateral saya dengan para Pemimpin dunia yang lain, apa manfaat nyatanya.
Yang kedua adalah dalam kaitan kegiatan regional, ASEAN dan East ASIA Forum atau yang kita sebut dengan ASEAN dan ASEAN+3, apa saja yang telah kita lakukan, dan kemudian yang ketiga baru multilateral Summit sebagaimana yang dilaksanakan sejak kemarin dan hari ini, ASEM Summit.
Saudara-saudara,
Tentu kita punya kepentingan, kita punya agenda, kita punya tujuan, dalam keadaan negara kita seperti ini, dunia seperti ini, kita mengalami dampak dari krisis keuangan di Amerika dan krisis keuangan dunia maka Saudara semua mengetahui tugas kita adalah meminimalkan dampak, mengurangi dampak, tidak bisa dinolkan. Saya tidak ingin memberikan angin surga kepada Saudara-saudara kita karena saya tidak jujur nanti. Saya sampaikan pasti ada dampaknya. Negara lain juga mulai kena dampak, ada yang berat, ada yang sedang.
Yang kita usahakan adalah melakukan kebijakan, langkah-langkah, tindakan cepat, apapun untuk mengurangi dampak itu dan sasarannya ada tiga agar pasar keuangan kita sebagai bagian pasar keuangan dunia bisa akhirnya distabilkan, tidak gonjang-ganjing terus, saham, nilai tukar dan lain-lain.
Yang kedua kita ingin sektor riil, real economy, meskipun saya tahu ada pengaruhnya, ada penciutan dari kegiatannya tapi bisa relatif kita jaga, itu yang kedua.
Yang ketiga, kita ingin rakyat kita terutama golongan yang lemah bisa kita proteksi untuk tidak mendapatkan dampak yang tidak kita hendaki. Itu kepentingan kita, tujuan kita, kepentingan itu sesungguhnya kita bawa.
Jadi kalau sebagian mendampingi saya ada satu rangkaian pertemuan secara intensif mulai dari pertemuan saya dengan Presiden Hu Jiantao, dengan semua pihak di China disini yang bisa meneruskan kerjasama kita di bidang ekonomi utamanya, itu selalu berorientasi pada tiga itu. Kita bawa ke situ, bagaimana ada satu pengaman keuangan, bagaimana komitmen untuk pendanaan jalan terus, bagaimana kerjasama pembangunan infrastruktur jalan terus, tidak terhenti dan lain-lain.
Jadi, satu rangkaian pertemuan dengan dua lembaga perbankan China, dengan satu lembaga infrastruktur di China termasuk dengan Presiden Hu Jiantao. Semua berorientasi bagaimana dalam suasana seperti ini kerjasama kita dengan China yang ekonominya jauh lebih besar, lebih kuat, lebih kokoh, membawa manfaat langsung bagi kita. Itu, detailnya nanti Menteri terkait bisa menjelaskan.
Alhamdulillah, pembicaraan saya dengan Presiden Hu Jiantao membawakan harapan bahwa strategic partnership akan terus kita lanjutkan dengan besaran yang makin ditingkatkan baik investasi, pendanaan untuk investasi itu, termasuk perdagangan yang saling menguntungkan.
Saudara-saudara,
Yang regional, ASEAN dan ASEAN+3 kita memikirkan bagaimana ya tentu tidak kita harapkan kalau krisis ini masih berlanjut dan makin dalam baik dari segi ASEAN+3 ada satu mekanisme penyelamatan, menolong mereka yang sangat terpukul. Itulah. Saya bicara dengan gamblang pada hari pertama dan teman-teman saya para Pemimpin ASEAN dan ASEAN+3 rupanya juga punya pikiran yang serupa dan kita sepakat, Saudara pernah mendengar Chiang Mai Initiative itu mem-pool atau mengumpulkan dana dari negara-negara ASEAN+3.
Harapannya nanti, harapannya menjadi 80 juta, ulangi, 20 miliar dollar Amerika Serikat dengan mekanisme tertentu, dengan instrumen tertentu, dengan prosedur tertentu bisa membantu negara-negara yang memerlukan bantuan.
Kita sepakat dalam ASEAN+3 kemarin kita akan menugasi menteri-menteri keuangan kita dengan pihak, dengan semacam working group untuk mempercepat bagaimana instrumen, pengaturan, kerangka, segala hal yang berkaitan dengan Chiang Mai Initiative itu sehingga pada saatnya bisa digunakan.
Pada tingkat sekarang itu, namun disamping itu saya menyampaikan dalam pertemuan itu kiranya hubungan ekonomi kita jangan terganggu, harus terus mengalir karena itu juga insentif bagi pertumbuhan, bagi great, bagi production, consumption dan sebagainya. Itu yang secara konkret kita putuskan, kita rumuskan secara bersama dalam pertemuan ASEAN dan ASEAN+3.
Kalau Saudara tahu kemarin saya bertemu dengan Perdana Menteri Hun Sen, dengan Perdana Menteri Thailand, itu semata-mata saya memberikan, merespon agar sengketa diantara kedua negara bisa diselesaikan secara damai. ASEAN ini dipuji sebagai model, menyelesaikan masalah secara damai, banyak dicontoh oleh organisasi kawasan. Kalau tiba-tiba kita tidak bisa bertahan, 80 billion itu harapannya, sasaran dari Chiang Mai Initiative itu, saya ulangi 80 billion bukan juta, billion.
Ok, saya masuk lagi tadi masalah dispute antara Thailand dengan Kamboja, saya ingin selesaikan secara damai dan kedua Perdana Menteri menyampaikan kepada saya terus akan melaksanakan negosiasi secara damai. Saya berikan more support, kewajiban kita sesama negara ASEAN. Jangan sampai 2 bulan lagi kita menandatangani piagam ASEAN yang baru, New ASEAN Charter kita sepakat ada ASEAN Political Security Community, ASEAN Economic Community, ASEAN Social Culture Community, kok tiba-tiba ada bentrok bersenjata. Saya kira akan sangat mengganggu citra dan nama baik ASEAN. Itu kurang lebih yang berkaitan dengan ASEAN dan ASEAN+3.
Yang multilateral, Saudara tahu bahwa ASEAN ini dilaksanakan 2 tahun sekali. Hampir semua Pemimpin Asia dan Eropa yang tergabung dalam forum ASEAN datang. 45 Kepala Pemerintahan atau Kepala Negara. Sudah dipersiapkan jauh sebelumnya.
Oleh karena itu agendanya bukan hanya bagaimana kerjasama menghadapi financial crisis, ada agenda climate change, ada agenda dialog antar civilizations, ada sustainable development, disaster management dan isu-isu lain, meskipun kemarin katakanlah satu hari penuh kita membahas tentang permasalahan ekonomi global dan krisis keuangan global ini.
Semua berbicara, tetapi yang jelas kita sepakat bahwa kita harus meningkatkan kerjasama secara konkret baik secara regional tadi, ada Uni Eropa, ada ASEAN, ada ASEAN+3 maupun antar organisasi kawasan ini untuk tujuannya sama sebetulnya, memulihkan kepercayaan dan menstabilkan pasar keuangan. Yang kedua memastikan ekonomi riil terus bergerak dengan kerjasama ini dan yang ketiga tetap bagaimana kita bisa melindungi the poor, mereka-mereka yang akan terpukul.
Dalam pembahasan yang sangat serius ini kerena sebentar lagi konon akan ada pertemuan internasional di Amerika Serikat menyangkut langkah-langkah global untuk menghadapi financial crisis ini. Kita semua bicara, berharap dan ingin menyampaikan pikiran-pikiran ASEM agar pertemuan itu betul-betul menghasilkan sesuatu yang konkret.
Dalam pidato saya, yang saya sampaikan di depan forum, saya mengusulkan agar pertemuan Washington itu paling tidak mengagendakan tiga hal. Upaya global apa, yang krisis keuangan ini dalam 1-2 tahun itu bisa diatasi. Diatasi dalam arti tidak menimbulkan gejolak dan masalah yang sangat besar, in immediate, objective, agenda jangka pendek.
Yang kedua, ini menjadi semangat kita semua, kita merasa tidak aman dengan sistem, dengan arsitektur keuangan global sekarang ini. Betapa rawannya setiap saat kita bisa, yang tidak tahu menahu ikut terguncang kejadian di Amerika Serikat menjalar ke dunia, kita kena pukulannya. Kita merasa ini tidak boleh begini terus, unsafe, unpredictable. Harus ditata kembali.
Oleh karena itu kita bicara. Bagaimana sesungguhnya prinsip-prinsipnya, imperatifnya, tatanannya sehingga betul-betul adil, aman, dan membawa keuntungan bagi semua.
Yang ketiga, ekonomi itu bukan hanya ekonomi keuangan, the real economy ya perdagangan, ya produksi, konsumsi, interaksi dari itu semuanya, mekanisme pasar. Kita harapkan bisa segera ditata kembali sehingga dalam jangka panjang, in the long run, kita tetap bisa memelihara ekonomi dunia yang makin bisa mencegah terjadinya in balances, ketidakseimbangan antara produksi dengan konsumsi, supply dengan demand, ekonomi bubble dengan ekonomi riil, negara maju dan negara berkembang, dan sebagainya.
Ini pekerjaan maha besar dan tentunya memerlukan pikiran dan kerja besar dari seluruh masyarakat global. Itu yang dibicarakan tapi dengan tentunya sejumlah konsensus, sejumlah kesepakatan, sejumlah langkah-langkah bersama yang akan dilakukan.
Dan disela-sela itu Saudara mengikuti, saya bertemu dengan beberapa Kepala Negara atas permintaan beliau-beliau saya telah bertermu Presiden Perancis Sarcozy, saya bertemu dengan Perdana Menteri Belanda Balkenende, saya bertemu dengan Presiden European Commission, Barroso, saya bertemu dengan Presiden Bulgaria, siapa lagi itu ya? Perdana Menteri Austria yang semula belum mau datang ke Indonesia dan kalau dalam ruangan saya bertemu dengan banyak dari beliau.
Itulah intisari, yang penting saya sampaikan kepada rakyat Indonesia melalui Saudara semuanya, kami semua datang mengemban misi untuk kepentingan kita terutama dalam jangka pendek, jangka menengah, mengurangi dampak dari krisis keuangan global terhadap perekonomian di negeri sendiri.
Namun, kita masih harus bekerja sangat-sangat gigih, sangat keras. Kita belum tahu sampai kapan krisis ini berlangsung. Kita tidak tahu. Oleh karena itu sedia payung sebelum hujan, lebih bagus kita melakukan semuanya. Adakalanya harus cepat, adakalanya harus mengambil resiko tapi ingat ini untuk kepentingan bangsa, penyelamatan semuanya. Dengan catatan harus bebas dari penyimpangan dan apapun, tapi kecepatan penting.
Saya mengajak apa yang sudah kita lakukan di Indonesia, kita lanjutkan dengan sekuat tenaga agar sekali lagi kita bisa meminimalkan dampak dari krisis keuangan global ini. Saya kira itulah penjelasan saya. Saya beri kesempatan sekarang kepada Saudara-saudara untuk mengajukan pertanyaan.
Muh. Ihsan – Pemred Warta Ekonomi :
Presiden, nama saya Ihsan dari majalah Warta Ekonomi. Pertama-tama saya mengucapkan selamat atas peran Bapak di KTT ASEM ini, saya kira semua yang ada disini sangat bangga dengan pemikiran Bapak yang disumbangkan terhadap KTT ASEM kali ini.
Yang berikutnya saya ingin mengajukan pertanyaan berkaitan dengan krisis ini sejalan upaya-upaya yang telah dilakukan baik secara internal maupun regional bagaimana Bapak mempersiapkan langkah-langkah berikutnya terutama terkait dengan usulan-usulan yang muncul dari para pengusaha. Misalnya ada yang mengusulkan bahwa jaminan untuk peningkatan rekening di bank tidak hanya 2 miliar tapi diatas 2 miliar kalau mungkin sampai seluruh yang disimpan di bank. Itu yang pertama.
Kemudian yang kedua juga mengenai praktek amnesti, belakangan ini muncul isu mengenai tek amnesti karena diperkirakan ada cukup banyak jumlah uang yang akan bisa sangat menolong kita dan saya dengar juga dibanyak negara hal ini dilakukan.
Kemudian yang ketiga, masih terkait dengan krisis ini, ok, baik terima kasih.
Presiden RI :
Terima kasih dari Warta Ekonomi. Ya, kami terus mengolah opsi apapun yang bisa menyelamatkan perekonomian kita. Dalam keadaan seperti ini saya harus open terhadap pikiran dari siapapun karena orang punya tujuan yang baik.
Alhamdulillah, sejak awal kita ingin mereka mau duduk bersama, tidak selamatkan diri masing-masing seperti tahun 1998 dulu, capital outflow luar biasa panik disana-disini. Sejak awal kita mencegah. Alhamdulillah, sejauh ini kita masih bisa saling berkomunikasi dan terus bersama-sama mengatasi masalah ini.
Kembali kepada apa yang disampaikan oleh teman-teman dunia usaha maupun non dunia usaha, ada sejumlah pikiran pada prinsipnya saya mengalirkan itu untuk dilakukan kajian secara seksama dan tentunya dalam waktu yang cepat, dalam bahasa asing kita sebut dengan, kita lakukan exercise, semuanya itu.
Saya ingin menggunakan, apa patuh, menggunakan sistem meskipun keputusan hanya satu jam, tapi saya tidak akan meninggalkan bahwa itu sistemik, tidak bertabrakan dengan Undang-Undang Dasar, undang-undangnya ada, kalau nggak ada ya Perpu, begitu mekanismenya tapi sistem kita gunakan.
Tentang simpanan, jaminan simpanan memang dari 100 juta kita naikan 2 miliar itupun saya katakan lihat perkembangannya, lihat dinamikanya, karena selalu ada plus dan minusnya, blanket guaranty ada plus dan minusnya, kasih 2 M ada plus dan minusnya. 100 juta jelas tidak cukup. Negara-negara lain kita dengar ada yang blanket guaranty, full guaranty. Saya minta hidup, terbuka pikiran kita, Departemen Keuangan, Bank Indonesia, jajaran Pemerintah, Wapres sekarang di belakang, maksud saya di tanah air, saya tugasi untuk mengkoordinasikan langkah-langkah itu.
Pada saatnya tentu akan saya ambil keputusan secara final kalau dengan deposit 2 miliar ini, ulangi, jaminan deposit 2 miliar ini kita bisa mengelola dan tidak terjadi apa-apa berarti itu policy kita. Manakala ada perubahan cepat ya kita lakukan exercise kembali, yang penting selamat, yang penting opsi itu tepat, tepat waktu, tepat policy-nya.
Itu yang saya jawab masalah kemungkinan pemberian jaminan penuh kepada simpanan kita di bank kita. Memang ada, wah nanti takut seperti BLBI, takut seperti 1998, ya kita dengar, tetapi jangan kehilangan akal sehat, apa ya persis seperti 1998, apa kasusnya sama. Oleh karena itu kuncinya adalah kita pilih opsi itu yang betul-betul menjadi solusi, solusi.
Tex amnesti, negara lain pernah melakukan seperti ini juga ada plus dan minusnya, selalu ada tetapi ingat tax amnesti ini apakah menjadi solusi atau tidak, apakah dengan tax amnesti itu akan betul-betul kita memiliki kekuatan yang besar untuk menggerakkan ekonomi pada saat yang krisis untuk ekspansi, untuk penambahan likuiditas dan lain-lain, dicek ya atau tidak, dan lain-lain.
Dengan demikian, sama kalau dari aspek entah politik, entah hukum, entah semuanya itu grup, dan itu nyata-nyata memecahkan masalah berarti opsi yang harus kita pertimbangkan. Ini sedang di exercise di tanah air, mereka melaporkan kepada saya tadi malam bahwa dalam waktu dekat akan dilaporkan kepada saya bagaimana hasil dari exercise itu.
Saya katakan Saudara-saudara, kita harus open dalam keadaan seperti ini mana yang betul-betul cespleng menyelesaikan masalah dan mana yang ternyata bukan. Agar kita menyelesaikan masalah ini ya kokoh, bukan tambal sulam, tetapi memang betul-betul mencegah terjatuhnya ekonomi kita dalam krisis yang tentunya tidak kita harapkan seperti 10 tahun yang lalu.
Itu jawaban saya perihal apa yang sendang dilakukan kajian cepat di tanah air sekarang ini, merespon pikiran bukan hanya teman-teman dunia usaha beberapa pihak termasuk para ekonom juga mengatakan tentang tadi itu, jaminan simpanan penuh maupun sebuah tax amnesti.
Novi Lumanaw – Investor Daily :
Terima kasih. Sekali lagi saya mengucapkan selamat kepada Bapak Presiden atas pidato tadi di sesi ketiga KTT ASEM dan di forum bisnis, luar biasa Pak. Pak saya cuma satu pertanyaan saya, terkait dengan rekomendasi, deklarasi yang, nama saya Novi Lumanaw dari Investor Daily.
Pertanyaan saya terkait dengan deklarasi yang dikeluarkan pada KTT ASEM hari ini, tadi disebutkan dalam salah satu butir bahwa para Pemimpin negara-negara Asia dan Eropa itu diminta untuk melakukan reformasi pada sistem finansial dan sistem keuangan negara masing-masing, dengan melibatkan IMF didalamnya.
Terkait dengan masalah ini Pak, apakah Pemerintah Indonesia akan melakukan langkah-langkah lain selain dari apa yang Bapak sudah berikan pada beberapa waktu yang lalu yaitu 10 direktif dan apakah Indonesia juga akan melibatkan IMF dalam mereformasi sistem, keuangan, dan finansial, karena seperti kita ketahui bersama bahwa Indonesia telah keluar dari IMF. Terima kasih.
Presiden RI :
Terima kasih. Deklarasi itu tentu mengemukakan pandangan secara umum, teresap secara umum, bahwa dalam keadaan seperti ini bukan hanya sistem atau architecture dari global financial, sistem yang ditata tapi diharapkan masing-masing negara harus membikin arsitek keuangannya, itu menjadi risilient, menjadi kokoh, tidak mudah terguncang karena krisis.
Saudara-saudara,
Sesungguhnya kita karena sudah diuji oleh sejarah 10 tahun yang lalu, selama 10 tahun terakhir ini kita melakukan reformasi, restructuring, membangun arsitektur baru dalam perbankan kita. Sebenarnya hasilnya mulai kelihatan, sebelum terjadinya gunjang-ganjing keuangan global ini, kredit macetnya drop, namanya MPL, apa namanya jumlah kredit yang dialirkan juga tinggi, besar. Lantas CAR itu, Capital Adequacy Rationya juga bagus, jadi performance dari perbankan kita fine, nice. BI sendiri, kita sudah mengetahui, researchnya dan lain-lain.
Jadi sebetulnya kita telah melakukan sejumlah reformasi dan restructuring dari sistem perbankan kita, dari pasar-pasar keuangan kita ada pasar modal, capital market, ada pasar keuangan, ada pasar valuta asing. Semua sudah kita tata selama 10 tahun ini.
Namun demikian, krisis ini memukul sistem mana saja. tidak ada negara yang immune, yang kebal. Oleh karena itu kita, jangan under estimate, jangan bolak-balik “fundamental ekonomi kita sudah kuat”, jangan. Mari kita lihat apanya yang kita pastikan bahwa ini tidak menggangu, dalam rangka menghadapi krisis keuangan global ini, dalam rangka memelihara momentum pertumbuhan dan dalam rangka melanjutkan pembangunan kita. Itu resep umum dan tanpa ada deklarasi di Beijing ini pun kita masuk ke situ, ya kasarnya kita harus yakin dengan sistem kita sendiri, dengan arsitektur kita sendiri.
IMF, kita sudah punya pengalaman bekerja sama dengan IMF di waktu yang lalu, tidak perlu saya angkat kembali, tapi yang jelas negeri kita, bangsa kita memiliki trauma, waktu IMF ikut mengatasi permasalahan di negeri kita, krisis moneter, krisis keuangan, krisis ekonomi dulu.
Oleh karena itu saya berpendapat tidak perlu lagi kita harus menggunakan resep IMF, biarkan negara-negara lain tapi dengan pengalaman yang kita miliki saya yakin kita bisa untuk mengatasi masalah kita ini dengan niat yang baik dan membikin sistem kita lebih bagus. Demikian jawaban saya.
Marthen Selamet Susanto – Pemred Koran Jakarta :
Selamat malam Pak, nama saya Selamet Susanto dari Koran Jakarta, Koran baru Pak. Saya hanya ada 1 pertanyaan, tapi sebelum pertanyaan saya mau sampaikan juga selain kita sukses di ASEAN Beach Games Pak, putera terbaik kita kemarin Chris John berhasil mempertahankan gelarnya dan menjadi super champion, jadi dia sudah 10 kali berturut-turut mempertahankan gelarnya.
Presiden RI :
Kita patut berbangga. Selamat, bangga kita.
Marthen Selamet Susanto – Pemred Koran Jakarta :
Pertanyaan saya hanya satu saja. Waktu penjelasan kepada delegasi Rabu malam, Bapak bilang bahwa negara kita adalah negara mega bio diversty selain Kongo dan Brasil tetapi kita tidak bisa memanfaatkannya makanya perlu ada perubahan strategi ekonomi kita ke depannya supaya kalau ada krisis kita tidak terkena.
Tadi Bapak sudah menjelaskan panjang lebar, yang saya ingin tahu hanya perubahan strategi seperti apa yang akan kita lakukan kedepan. Terima kasih, selamat malam.
Presiden RI :
Terima kasih. Tentu ini harus kita pikirkan bersama. Saya sudah mulai mengajak teman-teman, para ekonom, para praktisi, para pelaku dunia usaha, semua untuk meningkatkan ekonomi Indonesia ke depan setelah selama 20 tahun ini kita menghadapi krisis demi krisis, negara-negara lain juga beberapa kena krisis yang terus berdatangan di terutama dua dasawarsa terakhir ini. Ini menunjukan bahwa sistem keuangan, sistem ekonomi global, globalisasi, global capitalism, global finansial sistem ini ternyata belum aman benar.
Menghadapi itu, tentu tidak boleh saya berpikir sendiri, harus saya ajak putera-puteri terbaik bangsa yang cerdas, yang menguasai ekonomi, menguasai semuanya bersama-sama kita rumuskan. Tapi yang jelas begini, kita tidak boleh tergantung kepada ekspor, kita harus besarkan pasar domestik.
Ekspor penting untuk devisa, tapi kalau seperti sekarang ini permintaan barang-barang dari negara-negara besar berkurang, kita repot untuk menjualkan barang, menjual barang kita, apalagi kompetisi akan sangat keras masih ada satu pengaman.
Jadi domestic market harus makin kuat, ekonomi daerah harus juga makin kuat. Kita harus bisa mencukupi kebutuhan yang saya anggap dengan basic consumption, pangan, beras utamanya ataupun yang lain-lain.
Intinya Saudara-saudara, ketika dunia mengalami krisis, ada gonjang-ganjing, kita masih bisa survive dengan desain, dengan bagaimana kita mengelola perekonomian kita. Sumber daya alam kita ada, minyak, gas, tambang, hutan, kelapa sawit, dan lain-lain. Pasar dalam negeri kita ada 230 juta, daya beli makin naik, income per kapita makin naik. Daerah-daerah juga bisa melakukan kegiatan ekonomi lokal.
Pertemuan antara produksi dan konsumsi ini, supply dan demand ini dengan strategi yang bagus, manajemen yang bagus, tentunya saya yakin pasar dalam negeri kita akan makin tinggi. Sehingga semua potensi, semua sumber ekonomi yang bisa kita kembangkan, mari kita kembangkan.
Termasuk tadi, kita ini dianggap mega bio diversity sehingga untuk jamu, obat tradisional, herbal itu sangat mungkin kita kembangkan menjadi ekonomi baru, sumber ekonomi baru, yang tentunya kepentingan dalam negeri iya, kepentingan ekspor iya, dan yang lain-lain.
Pangan, tiga tahun kita banting tulang, alhamdulillah, akhirnya beras kita aman, insya Allah. Kita akan lakukan untuk komoditas pangan yang lainnya, strategis. Jadi maksud saya sumber daya dalam negeri yang kita miliki, mari kita optimalkan pendayagunaannya, pengembangannya sehingga ekonomi kita secara domestik kuat, tidak rentan terhadap gonjang-ganjing. Tentu, supaya lebih cepat lagi pertumbuhannya kan begitu.
Ada kerjasama internasional investasi, foreign direct investment tentu ada hubungan segi pendanaan, tentu ini opportunity bagi kita, tapi manakala itu ada gejolak kita sudah punya satu pengaman di dalam negeri. Itulah yang saya maksudkan kemarin bahwa kita ingin mengembangkan apa saja untuk membikin ekonomi domestik kita makin kuat. Demikian.
Sarwono – Media Indonesia :
Terima kasih. Nama saya Sarwono, Pak, dari Media Indonesia. Bapak tadi menjelaskan tentang Chiang Mai Initiative yang targetnya itu 80 miliar US$. Saya ingin tahu kapan itu terealisasi, dan kalau tidak salah 80 persen dana itu dari three plus (Korea Selatan, Cina dan Jepang) sisanya adalah dari negara ASEAN. Indonesia berapa yang akan disumbangkan? Dan itu kapan?
Yang kedua Pak, sejak kemarin rupiah sudah mencapai 10.000 rupiah per satu dollar, kira-kira apa yang harus dilakukan pemerintah. Sekian, terima kasih Pak.
Presiden RI :
Baik. Untuk Chiang Mai Initiative memang konsesus ataupun kesepakatan awal itu diharapkan kita bisa memobilisasi dana, fulling fund, sebesar 80 miliar dollar Amerika Serikat, 80 persen dari plus three, 20 persen dari ASEAN, ASEAN ten, 10.
Justru itulah yang kita sudah tugaskan para Menteri Keuangan dan kelompok kerja untuk memikirkan semuanya itu, supaya nanti hitung-hitungannya jelas. Tetapi saya tidak akan mengatakan sekarang dulu, biar tuntas dulu, bisa dibayangkanlah kalau misalkan 80 billion, 80 persennya dari plus three ada sekitar 15 atau berapa itu, 15, ya dilihat saja kemampuan negara masing-masing, mungkin dari GDP, mungkin dari reserve, dari segala macam, lebih bagus kita tunggu saja nanti hitung-hitungan yang jelas supaya klop tapi yang jelas dalam kemampuan kita, dan ada manfaat untuk kita juga.
Dengan demikian ini solusi bukan masalah. Dan kapannya kita kalau lihat suasana kebatinan secepat-cepatnya, determined sayapun, pencairannya harus cepat. Saya setuju, cepat, tepat. Oleh karena itu yang sedang kita bahas.
Yang kedua masalah nilai tukar rupiah terhadap dollar. Saudara tahu, kita tidak bisa, dan saya tidak boleh menanggapi gejolak pasar tiap hari, tiap hari berubah. Saya keliru sebagai pengambil keputusan, penentu kebijakan yang makro tiba-tiba mengambil keputusan hari itu, karena minyak misalkan menjadi 66 dollar per barel, karena saham drop 7 persen, atau negara lain lebih tinggi atau lebih rendah, atau nilai tukar atau naik atau turun, tidak boleh tapi ada range, range-nya itu sebetulnya dibandingkan negara lain setahun terakhir bagaimana, 6 bulan terakhir bagaimana, kita lihat semuanya itu.
Monitory policy itu menjadi otoritas Bank Indonesia. Saya tahu, ada mekanisme intervensi di pasar menjaga ini-itu, dan saya selalu berpesan kepada Gubernur Bank Indonesia, Pak Boediyono policy-nya harus pas. Nilai tukar ini kan tidak bisa kita kontrol kecuali kita packed. Subject, fundamentalnya bagaimana, negara lain bagaimana.
Tapi yang penting nilai tukar sedemikian rupa, sehingga untuk kegiatan ekspor dan impor tepat. Jangan dikira ada yang seneng, kurs-nya misalkan 12.000 per satu dollar Amerika Serikat, eksportir senang itu. Tapi importir bilang tidak. Oleh karena itu sedemikian rupa hidup semuanya, pas gitu. Ini Bank Indonesia.
Ada kalanya untuk menjaga, ada intervensi dari cadangan kita. Ada kalanya tidak perlu, karena itu kontra produktif. Oleh karena itu kalau ditanya kepada saya apa langkahnya, langkah terus kita lakukan. Bank Indonesia, bekerja, bersama-sama tentunya dengan konsultasi, dengan pihak pemerintah, Menteri Keuangan. Oleh karena itu kita lihat saja perkembangannya hari-hari mendatang ini dan nanti hitung-hitungannya bagaimana, jadi total. Ekspor, impor, balance of payment kita, ingat devisa kita dan lain-lain.
Ada negara lain yang terdepresiasi, itu jauh sekali. Ada yang lebih dari 50 persen. Korea berapa? Australia? terlalu kuat tidak bagus, terlalu lemah juga tidak bagus. Yang jelas kalau dulu saya mengatakan dulu sekitar misalkan delapan setengah, sampai sembilan setengah, itu baik bagi eksportir dan importir pergerakan ekonomi. Tapi ini kan sudah berubah, seluruhnya di seluruh dunia. Tentu nanti harus ada bench mark yang pas berapa.
Report yang terpenting yang perlu disampaikan kepada rakyat, kita terus mengelola itu, kita dalam hal ini Bank Indonesia dan kita akan lakukan sesuatu dalam, yang berada dalam jangkauan kita bagaimana nilai tukar itu pas. Dan saya minta Saudara-saudara kita tidak perlu terpengaruh yang tidak-tidak nanti terus panik, memborong itu-memborong ini, jadi susah.
Ayo kita kelola bersama-sama, tenang, rasional. Kalau kurang jelas tanya kepada entah Bank Indonsia atau pemerintah dan berikan penjelasan yang gamblang kepada rakyat. Rakyat ingin tahu, yang sebenarnya seperti apa. Inilah kewajiban pemerintah, inilah transparansi sebetulnya.
Demikian Saudara-saudara, saya kira sudah, saya mulai subuh sampai hampir subuh, 4 hari ini tidak berhenti, berikan kesempatan sebentar untuk bernafas sedikit malam hari ini, bersama-sama.
Terima kasih, besok kita masih ada kegiatan ke Beijing University of Chinese Medicine. Saya mengajak beberapa rektor, beberapa ahli dan pelaku bisnis perobatan, perjamuan, untuk sama-sama kita lihat besok. Terima kasih, selamat malam.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



