Ruang Pers

Keterangan Pers Presiden

Tentang Hasil Kunjungan ke AS, Meksiko, dan Brasil

 

TRANSKRIPSI
KETERANGAN PERS PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DENGAN WARTAWAN INDONESIA
RIO DE JANEIRO, BRASIL
20 NOVEMBER 2008



Para wartawan yang saya cintai,
Hari ini adalah kegiatan resmi terakhir delegasi kita di Brasil, yaitu dalam bentuk pertemuan antara beberapa Menteri kita dengan dunia usaha Brasil. Sedangkan sebentar lagi kita akan terbang ke Lima, Peru, dan segera setelah kita sampai di Peru suasananya berganti lagi dengan suasana kegiatan ataupun pertemuan-pertemuan yang bersifat multilateral. Meskipun kegiatan bilateral selalu saja ada. Ada rencana untuk pertemuan Presiden Rusia dengan saya, dan biasanya di sela-sela itu juga ada pertemuan saya dengan para pemimpin yang lain.

Perihal kegiatan kita selama di Brasil, baik di Brasilia maupun di Rio De Janeiro ini, pada prinsipnya sudah Saudara-saudara liput. Oleh karena itu, yang ingin saya sampaikan ini adalah substansi ataupun konteks dari apa yang insya Allah kita dapatkan untuk memenuhi kepentingan Indonesia. Jadi judulnya the persuit of our national interests, yang bersifat kegiatan, karena Saudara sudah mengikuti dan telah meliputnya tidak perlu saya ulangi lagi.

Saya awali dari aspek apa sesungguhnya nilai atau nilai strategis hubungan kita dengan Brasil. Paling tidak ada beberapa perspektif mengapa kita dalam kunjungan ke Brasil ini menandatangani satu katakanlah deklarasi untuk kemitraan strategis Indonesia Brasil.

Pertama, kita lihat dari kesamaan, entah identitas atau peran, baik Brasil maupun Indonesia, Brasil dan Indonesia sama-sama negara demokrasi yang besar, sama-sama emerging economies dan potensi domestic market Brasil besar, domestic market kita juga growing. Dan dengan 230 juta penduduk tentu akan menjadi pasar dalam negeri yang besar. Dan kedua negara merupakan negara kunci, negara penting di kawasan atau subkawasannya masing-masing, Amerika Latin, sedangkan kita adalah ekonomi terbesar di Asia Tenggara.

Perspektif yang lain adalah bagaimana kita melihat opportunity yang dapat kita bangun, yang dapat kita dapatkan dalam hubungan strategis ke depan. Saya meyakini bahwa dengan dibukanya kerangka yang lebih luas hubungan bilateral ini, maka peluang yang akan kita dapatkan akan menjadi lebih besar. Simply, karena kita belum betul-betul meningkatkan hubungan kita ini pada level yang semestinya sesuai dengan potensi yang kita miliki. Jadi boleh dikatakan belum jenuh, jenuh dalam arti sesuai dengan kapasitas yang dapat dikembangkan oleh masing-masing negara.

Yang ketiga, mengapa saya meletakan pentingnya hubungan kita dengan Brasil ini. Kalau kita bisa meningkatkan kehadiran Indonesia di Brasil, maka ini juga bisa menjadi satu gateway untuk kerjasama di wilayah ini secara luas. Dan terus terang saya berbicara dengan Menlu di beberapa kesempatan sejauh mana intensitas hubungan kita di Amerika Latin, terutama dalam aspek ekonomi, dikatakan belum terlalu besar. Oleh karena itu sekali lagi, ini opportunity yang tidak boleh kita sia-siakan.

Sedangkan yang keempat atau yang terakhir, Saudara tahu bahwa Brasil ini negara terbesar dalam banyak aspek, misalnya pengekspor atau produsen dan pengekspor kopi terbesar, biofuel terbesar, kedelai, tebu atau gula dan sebagainya. Dan sejalan dengan keinginan kita untuk meningkatkan produksi pangan, untuk menuju kemandirian pangan, terutama bahan pangan pokok dan juga untuk mengembangkan biofuel atau energy mix kita ini bisa kita capai, baik untuk sasaran 2050 maupun 2025. Maka pantas kalau kita melakukan kerjasama di bidang pertanian dan bahan bakar nabati ini, dalam bentuk penelitian dan pengembangan inovasi, dan berbagai hal yang tujuannya akhirnya bisa meningkatkan produksi dan produktivitas pertanian kita.

Dari empat perspektif itulah, maka tepat kalau kita di awal abad 21 ini, setelah 55 tahun kita menjalin hubungan diplomatik dengan Brazil, kita meningkatkannya pada tingkat yang strategis. Saudara para wartawan senior, para wartawan mengikuti dalam empat tahun terakhir ini banyak sekali kita bangun strategic partnership dengan negara-negara besar tertentu, semata-mata untuk memenuhi kepentingan kita yang lebih luas di waktu yang akan datang.

Saudara-saudara,
Yang perlu saya sampaikan, apa yang saya bicarakan dengan Presiden Lula, termasuk para delegasi bicarakan dengan tuan rumah di Brasil ini dalam bentangan waktu katakanlah lima tahun ke depan. Kita sepakat untuk meningkatkan kerjasama di bidang ekonomi. Di bidang perdagangan, terus terang baru tiga tahun terakhir ini volume perdagangan meningkat dengan pesat, karena tahun 2006 itu nilai perdagangan kita 1,3 miliar dolar. Tahun 2007, 1,7 miliar dolar. Tahun 2008 ini sampai bulan September yang lalu, itu sudah 1,7 dan menurut Menteri Perdagangan Brasil, tahun ini bisa tembus atau lebih dari 2 billion. Kalau itu terjadi, maka dalam waktu tiga tahun ini nilai perdagangan kita atau volume perdagangan kita naik lebih dari 50%. Ini suatu achievement yang patut kita syukuri. Dan tahun 2006, 2007, kita berada pada surplus. Pada sampai September, kita defisit 60 kalau tidak salah. Duta Besar, 60 juta, that’s fine untuk ukuran segitu dan bisa saja akhir tahun ini kita kembali surplus dari segi perdagangan.

Tapi yang penting menembus seperti itu sudah suatu capaian yang menurut saya patut kita syukuri. Saudara tahu, bahwa meskipun Brasil adalah negara yang saya sebut kemarin agroindustrial country yang besar dalam ukuran global, tetapi selalu ada komplementaritas antara Indonesia dan Brasil ya. Kita ini diam-diam memasok karet yang pertama, kemudian sawit dan kokoa itu yang kedua, sawit setelah Malaysia, kokoa itu kalau enggak salah setelah Pantai Gading ya. Kemudian tekstil kita adalah eksportir yang keempat untuk Brasil. Dari magnitude itu menurut saya sangat bisa kita tingkatkan.

Kemudian kalau kita berbicara apa yang kita impor dari Brasil, ada besi, baja, bahan kimia, kapas. Tetapi dengan pembicaraan untuk kepentingan yang baik di negeri kita, sambil kita meningkatkan produksi daging sapi di dalam negeri ke depan, karena strategi pertanian kita, setelah beras alhamdulillah bisa kembali berswasembada, jagung sudah mulai aman, kita bikin lebih aman lagi. Lantas gula, tebu sudah mulai baik, kita bikin baik lagi. Yang masih jauh kedelai dan juga daging sapi. Oleh karena itu, pantas dan tepat kalau kita bisa bekerja sama dengan Brasil dalam rangka trade, ekspor dan impor itu yang kira-kira dalam jangka panjang membawa kebaikan. Sampai pada saatnya nanti kita lebih mencukupi kebutuhan itu.

Ini saya melihat konteks dari trade, jangan hanya dilihat volume, meskipun itu penting. Jangan pula dilihat hanya surplus atau defisit, meskipun itu penting, ingat dalam komponen pertumbuhan, growth itu equal dengan consumption, government expenditure, investment dan kemudian nett dari ekspor dan impor kita. Tetapi melihatlah ke depan, tengoklah ke depan dari ekonomi Brasil dan ekonomi Indonesia dengan komplementaritas yang tinggi tadi, apa yang dapat kita kembangkan.

Saudara-saudara,
Di bidang investasi terus terang relatif modest, kalau tidak boleh dikatakan kecil untuk ukuran ekonomi Brasil dan ekonomi Indonesia. Oleh karena itu, Kadin harapan saya harus lebih banyak lagi untuk melakukan interaksi, para Menteri terkait. Dan Presiden Lula ingin kemarin kepada saya, agar para Menteri lebih sering kontak, bahkan Menteri Luar Negeri Brasil ingin ada pertemuan joint commission tiap tahun, berganti-ganti begitu. Ini bagus menurut saya untuk masing-masing mengenal dan mengidentifikasi opportunities untuk investasi yang akan datang. Saya menganggap ini masih kecil dan harus kita tingkatkan. Dalam era globalisasi jarak tidak menjadi penghalang, karena bisa ada comperative advantages yang lain untuk mengatasi biaya transportasi, kalau itu dimaknai dengan biaya persatuan mil laut dari transportasi komoditas kita.

Kerjasama yang lain energi. Energi ini, Brasil dan Meksiko kemarin juga menginginkan kerjasama di bidang batubara. Batubara kita kandungannya cukup untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri, itu masih ada ekstra. Oleh karena itu, memungkinkan untuk devisa kita, kita bisa melakukan ekspor batubara. Dan dengan kapasitas masih ada 18 miliar, saya kira itu cukup aman. Dan hitungan kasar kita memang 150 tahun kita punya kandungan batubara masih bisa kita gunakan. Tetap dalam prinsip ramah lingkungan, tetap dalam prinsip apa konservasi untuk tambang ini, tapi kita bisa melakukan kerjasama di bidang itu. Energi juga berkaitan dengan biofuel, upstream-nya itu urusan Menteri Pertanian dan downstream-nya itu urusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral. Oleh karena itu, kita juga ingin kerjasama di bidang energi biofuels ini.

Pertanian Saudara-saudara, disamping trade yang berkaitan dengan komoditas pertanian, kita ingin betul belajar dari Brasil. Urusan produktivitas, terutama kedelai yang kemarin sama-sama kita dengarkan penjelasan Embrapa, Kemudian juga nanti komoditas pangan yang lainnya. Menteri Pertanian kedua negara telah melakukan pembicaraan dan ke depan akan lebih sering Embrapa saya sudah undang pula untuk lebih luas kerjasama dengan counterpart-nya di Indonesia. Kita ingin betul Saudara-saudara, karena rakyat kita mengkonsumsi tahu dan tempe dalam jumlah yang besar dan rata-rata produksi kita ini masih 1,5 ton per hektar, kita ingin meningkatkan, syukur-syukur kalau menjadi dua setengah ton per hektar. Saya pernah meninjau perkebunan kedelai di Nganjuk, waktu itu mencapai 2,5 ton, tapi itu baru di situ. Tapi rata-rata nasional masih 1,5 ton, oleh karena itu mesti kita tingkatkan. Kita belajar, itu penting karena negara lain juga belajar kepada Indonesia pada urusan yang lain. Research and development and innovation itu menjadi salah satu pilar dari kerjasama pertanian kita disamping trade yang telah saya sampaikan tadi.

Saudara-saudara,
Kita juga kemarin bertukar pikiran tentang upaya masing-masing negara mengurangi kemiskinan. Kita menggalang kerjasama dengan negara-negara di Asia, Korea Selatan, Jepang dan ASEAN, misalkan untuk usaha mikro kecil dan menengah. Tetapi kali ini kita ingin sharing experiences, mencocokan policy, program approach, bagaimana sama-sama kita bisa mengurangi kemiskinan secara efektif.

Saudara mengenal kita menjalankan program pengurangan kemiskinan dengan tiga cluster. Cluster A itu bantuan langsung masyarakat, diibaratkan ikan. Cluster B pemberdayaan masyarakat memberikan grant untuk infrastruktur lokal yang dilakukan oleh mereka sendiri, ibaratnya pancing. Dan kemudian program untuk pemberian pinjaman modal yang mudah, yaitu kredit usaha untuk rakyat, yang kita sebut dengan katakanlah perahu.

Sementara di Brasil ada program dompet keluarga dan ada program namanya kelaparan nol. Kalau kita dalami sesungguhnya memiliki kemiripan yang tinggi. Tapi yang ingin kita capai adalah dengan sharing experiences itu barangkali ada apa namanya, titik-titik tertentu yang patut kalau itu sama-sama kita saling bertukarkan. Ini menarik karena Brasil GDP 1,3 triliun Dolar Amerika Serikat, tapi juga memiliki permasalahan kemiskinan di dalam negerinya. Amerika Serikat pun juga punya. Oleh karena itu, tidak keliru kalau kita sangat gigih sekarang ini mengeluarkan anggaran dan menjalankan program-program untuk pengentasan kemiskinan.

Saudara-saudara,
Tadi malam kita sama-sama mengikuti “Malam Indonesia”. Simboliknya atau ceremony-nya adalah memperingati 55 tahun hubungan Indonesia–Brasil. Yang ingin saya sampaikan bukan yang itu. Ketika diperagakan batik produksi kita ternyata feedback yang saya terima, mereka terkesan, mereka berminat, mereka ingin tahu lebih banyak lagi. Oleh karena itu, saya sudah meminta Duta Besar, saya sudah meminta Sekretaris Kabinet, agar dipikirkan di Indonesia bersama Kadin, Menteri terkait, para pengusaha batik, para designer batik untuk bisa bekerja sama dan di Sao Paulo itu ada fashion tiap tahun dua kali bulan Juli. Senang kalau kita bisa menembus pasar di sini, tentunya lebih luas lagi di kelak kemudian hari. Dan kalau dimulai dari batik mungkin juga bisa dilanjutkan dengan produk-produk kreatif yang lain, handicraft dan sebagainya, sehingga ekonomi kreatif ini yang merupakan suatu sumber ekonomi baru di negeri kita bisa kita pasarkan secara lebih luas lagi.

Kita harus lebih proaktif. Duta Besar ini harus menjadi opportunities seeker, mencari opportunity. Di situ kita bisa menembus pasar yang harapan kita lebih meragamkan lagi ekspor kita dibanding komoditas yang klasik. Saya tidak tahu apakah handicraft, furniture juga bisa dipasarkan di sini. Kalau baik sekali, carilah, catch the market dengan cara-cara yang bagus, promosi yang bagus, marketing yang bagus, dengan demikian makna dari strategic partnership itu betul-betul terwujud pada manfaat yang lebih besar di waktu yang akan datang.

Yang terakhir Saudara-saudara, pembicaraan saya dengan Presiden Lula ini sudah yang kelima kali. Saya bertemu pertama kali dengan beliau bilateral meeting di New York tahun lalu, kemudian bertemu lagi di Hokkaido-Jepang ketika menghadiri pertemuan G8 +8, kemudian beliau berkunjung ke Jakarta pada bulan Juli yang lalu. Lantas kami bertemu kembali minggu lalu di Washington DC menghadiri G-20 Summit, dan kemudian hari ini, kemarin bertemu lagi.

Selama itu karena kami kerap bertukar pikiran ya dan saya kenal sosok Presiden Lula ini pemimpin yang menurut saya memiliki visi yang baik, bisa mengkomunikasikan visinya dengan baik pula. Saya lihat jalan pikiran beliau, ide-ide beliau banyak yang klop dengan apa yang kita lakukan di Indonesia, apa yang saya pikirkan juga. Maka ini bagus kalau mengakhiri kunjungan ke Brasil kali ini saya ingin sampaikan tiga hal yang ternyata, baik Presiden Lula maupun saya melakukan penggarisbawahan.

Pertama adalah berkaitan dengan bagaimana dunia secara lebih efektif bisa mengatasi krisis keuangan global yang masih belum ada tanda-tanda akan berakhir ini. Saudara tahu satu, dua hari ini capital market di seluruh dunia, di Amerika, di Eropa, di Asia juga mengalami penurunan. Barangkali dipicu oleh urusan bailout untuk industri otomotif di Amerika yang konon belum mendapat persetujuan, baik dari kongres ataupun dari senat, menimbulkan ketakutan baru, new fear terhadap global recession yang dikhawatirkan akan deep dan berkepanjangan, akhirnya membikin keadaan capital market seperti ini.

Di situ, baik Lula maupun saya berpendapat, saya sampaikan pendapat saya ini. Ingat Saudara pada 1 Syawal yang lalu di Jakarta, Presiden Lula menyampaikan dalam bahasa yang sedikit berbeda, tapi esensinya sama kemarin di Washington Summit, “Negara-negara besar, negara-negara maju lebih memiliki kemampuan untuk mengatasi persoalan ekonomi di negaranya, Amerika Serikat, Eropa. Jadi yang lebih utama bagaimana mereka memobilisasi semua potensi yang dimiliki untuk memulihkan kembali perekonomiannya, seolah-olah seperti tidak ada krisis keuangan, sehingga flowing dari trade and investment ini terjadi. Kalau itu bisa dilakukan, maka kecemasan puluhan negara berkembang untuk tertutup pasarnya pada komoditas ekspor yang akibatnya terjadi pengangguran atau kemunduran sektor riil di negara-negara berkembang, di emerging economies itu segera bisa dipulihkan.”

Jadi bahasa yang digunakan, selamatkan dulu negaranya masing-masing sebelum membantu negara yang lain menyelamatkan ekonominya. Itu kalau kita terbang di pesawat, kalau ada menggunakan masker itu, dipakai dulu maskernya, baru dipakaikan yang lain. Barangkali metaphor yang bisa kita lakukan seperti itu. Poinnya adalah sama. Karena terus terang mereka memiliki kemampuan untuk menyediakan, mengambil dari reserve-nya, dari beberapa negara ataupun dengan potensi-potensi yang lain.

Yang kedua, pandangan yang sama saya dengan Lula adalah, saudara tahu waktu saya memberikan statement di Jakarta sudah agak lama, kegiatan sehari-hari masyarakat, kegiatan yang biasa dilakukan tidak perlu berubah dengan berita krisis di Amerika, krisis di Eropa. Karena itu sudah merupakan ekonomi, kegiatan sehari-hari yang biasa membeli, tetap membeli, yang biasanya apa namanya, menggunakan uang yang dimiliki, terutama kelompok-kelompok yang memiliki kemampuan, tetap dilakukan. Terjadi pergerakan sektor riil, sehingga produksi barang dan jasa oleh usaha domestik itu juga ada yang membeli. Dengan demikian, insya Allah sektor riil tidak akan sangat terpukul.

Sama dengan yang disampaikan Presiden Lula, kalau semuanya seperti biasanya membeli-membeli, menjual-menjual itu, maka produksi itu tetap bisa jalan, tidak perlu gulung tikar, tidak perlu ada PHK, industri-industri dalam negeri itu. Jadi sebetulnya semangatnya adalah bagaimana kita tetap menjaga sektor riil di negaranya masing-masing, meskipun tentu ada pengaruh, ada dampak dari krisis keuangan global ini.

Kemudian Saudara-saudara, komentar Lula kemarin ketika bertemu saya, sama dengan yang saya sampaikan kepada Saudara waktu konferensi pers di Washington DC setelah Summit selesai. Bahwa Washington Summit is a good beginning, it’s a good start. Tentu satu, dua, tiga kali Summit tidak bisa mengatasi persoalan global yang begini ruwet, begini complicated, dan kompleks ya, tetapi semangat itu ada. Dan saya sampaikan pada Presiden Lula kemarin, yang penting Summit yang akan datang dirancang bulan April, itu harus bisa mengevaluasi, apakah upaya untuk menyetop pendarahan, stop the bleeding ibaratnya begitu, sehingga keuangan global kembali mengalir secara bertahap, dan lantas juga untuk menjaga real ekonomi global dengan cara yang sama-sama tidak proteksionis itu jalan atau tidak. Itu yang sangat penting dan seterusnya ya, semua sudah bicara tidak perlu kita ulangi lagi, we need new financial architecture. Tapi tentu kita atasi dulu masalah yang urgen sekarang ini, yang lebih diprioritas, sebelum kita mencoba untuk menata kembali arsitektur keuangan global ini demi keadilan dan agar lebih aman dan stable di waktu yang akan datang.

Saudara-saudara,
Itulah sebetulnya di luar dari kronologi dan kegiatan apa yang kita lakukan selama di Brasil ini. Dua hari efektif dan apa konteks ataupun esensi dari masing-masing, apakah hasil dari bilateral, maupun apa yang kita tuangkan dalam deklarasi dan memorandum of understanding itu.

Saudara-saudara itu, kalau ada pertanyaan yang berkaitan dengan ini, saya persilakan. Kalau pertanyaan yang berkaitan dengan APEC, dengan global economic cooperation, dengan yang lebih dalam lagi, lebih tepat nanti disampaikan pada saat kita bertemu di Lima. Karena nanti malam kita sudah sampai di Lima.

Sdri. Uni Lubis, ANTV
Terima kasih Pak Presiden, selamat siang. Pertama, atas nama teman-teman yang tadi berkesempatan untuk pergi ke Cristo Oriento, kami mengucapkan terima kasih, karena sudah dibantu. Buat teman-teman itu sangat berarti.

Tetapi sebetulnya entry-nya adalah kami melihat apa yang disampaikan oleh yang di Embrapa kemarin, bahwa setiap sektor itu dimulai dengan membangun infrastruktur di sini itu memang betul-betul terjadi. Kemarin kita dapat presentasi di bidang pertanian dan itu adalah kunci mereka untuk maju. Kami hari ini menyaksikan bagaimana industri pariwisata mereka juga di-support oleh infrastruktur yang sangat-sangat baik, sehingga memudahkan semuanya dan saya yakin, kami yakin ini juga membuat mereka juga bisa maju.

Terkait dengan ini, kami tahu bahwa Bapak Presiden juga mendorong pembangunan infrastruktur di dalam negeri. Situasi krisis ini kira-kira apakah mengganggu beberapa hal dan itu juga kalau boleh saya juga melihat kondisi ke di dalam negeri saat ini, Pak, dengan kondisi bunga kredit dan segala macam juga ada kekhawatiran, bahwa berbagai sektor riil, termasuk infrastruktur itu juga mengalami masalah. Apa kira-kira pikiran Bapak Presiden mengenai hal-hal tersebut? Kira-kira itu. Kalau boleh, Pak, sebetulnya ini tidak terkait dengan kunjungan ini, tetapi kalau boleh meminta komentar soal survey, nggak boleh yah.

Presiden Republik Indonesia
Nanti saja kalau suasananya sudah lebih rileks sedikit. Pertanyaan pertama penting itu.

Baik. Ya kalau Saudara, para wartawan, karena wartawan ini juga luar biasa kerjanya siang dan malam, lari sana, lari sini, sama dengan yang kami lakukan. Kalau ada setengah jam, satu jam untuk melihat sesuatu itu baik-baik saja. Saya dengar juga tadi berkesempatan untuk melihat itu, saya kira untuk menjaga keseimbangan pikiran itu baik. Saya tadi, saya gunakan untuk mencari tahu keadaan dalam negeri, sementara para wartawan mengunjungi tempat itu. Dan sebagai contoh, yang di Gorontalo itu alhamdulillah meskipun 7,7 skala richter. Damage-nya sangat kecil dan kita syukuri. Kemudian juga saya dapat informasi tentang betul, masalah kredit kita, masalah nilai tukar kita dan sebagainya. Saya gunakan untuk mencari tahu keadaan dalam negeri kita, tetapi semuanya masih dalam batas pengendalian kita, jelas ada pengaruh di dalam negeri.

Infrastruktur, benar. Sudah sangat sering saya menyatakan apa yang harus kita lakukan tahun-tahun mendatang untuk pembangunan infrastruktur. Dengan pertama, pengaruh pada APBN kita, kalau sektor riil terganggu, pajak akan menurun, penerimaan akan berkurang, sehingga kita tata kembali, pendapatan dengan pembelanjaan. Kita lihat kembali defisit, kita lihat kembali financing untuk defisit itu. Tapi ingat Saudara-saudara, saya nyatakan berkali-kali dan sekarang juga sedang dilakukan exercise oleh jajaran Pemerintah di Departemen Keuangan, Wapres juga mengkoordinasikan beberapa pekerjaan itu, para Menteri juga bekerja sekarang di tanah air untuk melihat bagaimana yang lebih workable dan lebih feasible budget kita.

Tapi dua hal saya sampaikan, meskipun ada budjet efisiensi itu, tetapi untuk dua hal pembangunan infrastruktur yang sudah dianggarkan ya, termasuk bagian dari gross stimulation, komponen penting dari budjet itu jangan diganggu. Yang kedua, adalah untuk social safety nett, untuk penanggulangan kemiskinan, membantu yang lemah, itu juga jangan dikurangi. Kalau ada efisiensi, efisiensi yang berkaitan dengan spending dari Kementerian dan Lembaga yang bisa kita tunda pengeluarannya, yang bisa kita efisienkan.

Pertama dari situ, harapan kita alokasi anggaran untuk infrastruktur masih bisa dijalankan, tentu belum cukup. Oleh karena itulah, kemarin saya minta Menteri-menteri untuk menindaklanjuti komitmen yang sudah saya bicarakan dengan misalkan dengan China, Presiden Hu Jintao, komitmen kita dengan Jepang, dengan pemimpin sebelumnya. Untuk Korea, kemarin saya di Brazilia ketemu dengan Presiden Lee Myung-Bak juga untuk kerjasama lanjutan. Nampaknya alhamdulillah ada juga dalam waktu satu, dua, tiga tahun ke depan, kerjasama infrastruktur di luar itu, ya dengan sumber-sumber financing dari negara-negara sahabat, ini juga harapan kita ikut menyangga.

Kemudian memang dulunya kan, kalau itu porsi Pemerintah, irigasi yang tidak punya daya tarik komersial, ya Pemerintah. Tapi kalau infrastruktur ini memiliki nilai komersial, itu saya mengundang public private partnership. Dan ini saya sudah sampaikan sebelum berangkat, Saudara Uni supaya dunia usaha juga sama-sama dengan Pemerintah, ayo kita share di sini untuk sama-sama financing dari pembangunan infrastruktur ini.

Dan satu pengaman yang terakhir dan akan saya lakukan nanti untuk memanggil kembali, mengundang para Gubernur, agar dengan Otonomi Daerah, dengan distribusi atau desentralisasi fiskal, saya lihat juga uang-uang daerah yang belum digunakan, nongkrong di tabungan, alirkan untuk infrastructure building. Sebab yang disampaikan tepat sekali. Tiga hal yang harus kita lakukan bersama-sama kedepan di era krisis keuangan ini.

Pertama, adalah mari kita yakini pembangunan infrastruktur itu kita jaga supaya ada lapangan kerja yang tercipta. Yang kedua, ekspor. Kalau ekspor kita ini yang tradisional misalkan ke Jepang, ke China, ke Amerika, sedikit ke Eropa mengalami gangguan, kita cari akal, kemana saja, contohnya Brasil mungkin manalagi begitu. Kalau misalkan ada urusan nilai tukar, kalau nilai tukar seperti ini bagi eksportir memang relatif, secara relatif lebih senang, lebih kompetitif kita punya barang-barang, bagi importir barangkali sebaliknya. Tetapi maksud saya semua insentif yang bisa kita berikan untuk ekspor ini masih bisa mengalir harus kita berikan, itu yang kedua. Jadi dalam suasana krisis ekspor kita mesti kita jaga.

Yang ketiga, yang tidak kalah pentingnya pergerakan sektor riil, kredit dan suku bunga. Saya sudah sampaikan, termasuk dari Washington kemarin kepada Bank Indonesia. Dan melalui Wapres, saya sampaikan juga kemarin tolong, “Pak Jusuf, bicarakan dengan BI, bicarakan dengan Departemen Keuangan, saya dengar perumahan kita memerlukan likuiditas yang lebih banyak lagi, kemudian saya dengar teman-teman dunia usaha ingin ada policy untuk infrastuktur yang masuk akal.” Saya tahu BI juga hati-hati, tapi tidak boleh hati-hati sendiri, harus dalam kerangka yang utuh, agar sektor riil kita, meskipun ada pengaruhnya tetap terjaga.

Itu semua kita lihat, dan saya akan terus kontrol. Dan nanti segera setelah sampai di tanah air, saya pastikan semua akan kita cek ulang apakah budjet, apakah policy moneter, apakah policy fiscal. Dengan demikian apa yang bisa kita lakukan, kita lakukan. I don’t believe masyarakat global, masyarakat regional bisa serta merta menolong kita, karena mereka juga mengalami kesulitan masing-masing. Ya sudah, kita sendiri bismillah apa yang bisa kita lakukan, kita lakukan. Terima kasih.

Sdr. Bambang Sukartiono, KOMPAS
Selamat siang Bapak Presiden dan Ibu yang saya hormati,
Pertanyaan saya berkaitan dengan tadi yang dikatakan oleh Bapak Presiden tentang tindak lanjut dari Pertemuan G-20, terutama adalah karena kondisi ini, semua negara maju praktis jika sedang melambat pertemuan ekonominya, sehingga kemampuan untuk membantu juga terbatas. Satu-satunya harapan tentu memang pertumbuhan dalam negeri sendiri, juga termasuk untuk menambah atau menambal apa namanya, budjet kita ini, kita juga mungkin akan mendapatkan atau berharap bantuan dari Lembaga Bantuan Internasional. Pertanyaan saya adalah, apakah kita juga akan berharap untuk minta bantuan kepada IMF, itu Pak yang pertama.

Yang kedua adalah mengenai kerjasama kita di bidang energi ini, Pak. Apakah dalam prospek ini kita juga akan meningkatkan kapasitas ekspor kita dalam perspektif ini, Pak, dalam ke Brasil dan sebagainya. Terima kasih, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Sebelum saya menyampaikan jawaban kepada Pimpinan Kompas, Redaksi Kompas, tambahan tadi. Menyusul dari serangkaian pertemuan yang saya pimpin langsung antara Pemerintah dengan dunia usaha, sejak bulan Mei yang lalu, itu kita sepakat untuk menjalankan 15 proyek yang berkaitan dengan pangan, energi dan infrastruktur. Yang ini juga diharapkan sekali lagi, menjaga sektor riil dan menciptakan lapangan pekerjaan. Jadi itupun kita usahakan dalam batas kemampuan yang kita miliki.

Kembali kepada pertanyaan, apakah kita masih berpikir mengharapkan jasa IMF? Saya sudah sampaikan dua kali, baik di Beijing maupun di Washington DC, format kerjasama internasional kita tidak sama dengan format 10 tahun yang lalu, kita mengharapkan IMF untuk memberikan bantuan keuangan. Pertama, yang terbaik bagi kita, kita ganti format yang lain, tidak dengan IMF, sebagaimana yanag kita lakukan di waktu yang lalu.

Saudara tahu bahwa saya ingin dan alhamdulillah bisa mempercepat pinjaman uang kita ke IMF, saya bisa membubarkan kerjasama dengan CGI, karena ada trauma psikologis dan ada pro dan kontra yang tidak ada habis-habisnya dan melelahkan. Oleh karena itulah, saya pikir dengan resiko yang saya ambil waktu itu, sudah kita percepat pembayaran utang pada IMF, kita hentikan dengan CGI, kita bisa kok merancang seperti itu.

Justru karena bukan itu format pilihan kita, maka apa yang Indonesia lakukan sekarang ini dengan lembaga internasional yang lain, Asian Development Bank, World Bank ataupun negara-negara tertentu, kerangka bilateral, dengan Jepang, dengan Australia, dan negara-negara lain nantinya kalau diperlukan, kalau diperlukan, sebagai yang disebut dengan second line of defence. Itu kita bisa lakukan secara bilateral dengan format lain dan tidak sama dengan format yang dulu, kita bekerja sama langsung dengan IMF untuk kebaikan negeri kita.

Lantas dengan energi, energi ini macam-macam, ada minyak, ada gas, ada batubara, ada biofuel, ada yang namanya renewable resources energy yang Brasil ini sangat terkenal. Saya ingin sebetulnya pertama-tama dengan Brasil ini bahan bakar nabati, biofuel. Yang kedua, oke kalau kerangkanya pas kerjasama di bidang batubara. Yang ketiga, kita tidak salah kalau melirik, mempelajari mengapa Brasil sangat tidak tergantung pada minyak, sumber energinya, justru pada sumber-sumber yang renewable, sangat mungkin kita masuk kepada kerjasama seperti itu dengan Brasil.

Sdr. Bambang Harimurti, Tempo
Terima kasih Pak. Pelajaran dari kunjungan ke Brazil ini salah satu cara mengatasi krisis selain meningkatkan ekspor, mungkin juga memindahkan impor menjadi supply dari dalam negeri. Saya dengar dari Pak Menteri ESDM misalnya tahun depan kapasitas etanol kita akan meningkat dari 3 sampai 200 ribu, menjadi 4 juta kilo liter per tahun. Lalu tahun berikutnya kapasitas biodiesel kita akan menjadi 5 juta kilo liter. Ini menurut saya, krisis ini bisa kita jadikan suatu kesempatan untuk melakukan sesuatu, memobilisasi program, karena saya juga di satu sisi saya kemarin ke Lampung Pak sebelum ke sini. Saya sedih itu melihat petani yang tahun lalu jual setandan kelapa sawitnya 1.800 sekarang 100 perak pun tidak ada yang angkat Pak, karena semua pabrik sudah full tank-nya, sehingga ada berita beberapa bunuh diri karena tidak bisa bayar utangnya, ini petani yang 2 hektar, 6 hektar gitu, Pak. Mungkin dalam kesempatan sekarang justru men-swicth, menambah jumlah apa, presentase dari biofuel kita, Pak, itu akan menolong.

Pertama, Pertamina kemarin saya cek sama Pak Ari juga akan mengurangi belanja dolarnya kalau dia beli kelapa sawit, tidak impor minyak. Dan kedua itu mengalirkan uang kepada daerah-daerah yang menghasilkan kelapa sawit, Pak, rupiahnya jadi jalan lagi. Jadi kita semua bisa enak. Polusinya kurang sehingga Pak Rahmat Witular bisa minta carbon rating free dari negara-negara maju. Dan mungkin itu perlu didorong Pak, mungkin Bapak harus memastikan misalnya mobil-mobil tahun depan misalnya itu harus bisa men-switch nya masih bisa fleksi Pak seperti di Brazil itu. Itu yang saya lihat sehingga itu juga akan menghalangi impor mobil-mobil built in, karena mobil-mobil yang dalam negeri akan lebih mudah untuk melakukan itu Pak.

Dalam rangka ini saya kira bukan proteksi yang dilarang dalam WTO, tapi justru ini memberi kesempatan untuk men-switch banyak hal-hal yang harus kita impor, artinya beli dolar, sekarang tekanan pada dolar berkurang dan kita juga membantu petani-petani kecil kita di kelapa sawit maupun yang lainnya. Terima kasih, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Terima kasih. Benar, esensinya adalah dalam suasana perekonomian global seperti ini, semua upaya kalau berkaitan dengan ekspor, mengamankan ekspor kita di luar negeri, supaya tidak ditolak. Tetapi kita juga sejauh mungkin mencegah impor yang menguras devisa, impor yang tidak sangat kita perlukan barang-barang luxurious misalnya, bisa kita substitute dengan apa yang bisa kita hasilkan di dalam negeri. Jadi strategi dasarnya seperti itu dan yang disampaikan itu benar.

Yang kita lakukan adalah seperti sekarang ini, berkaitan dengan kelapa sawit misalnya pasar global juga up and down. Ketika dulu pasar globalnya sangat menjanjikan, siang dan malam saya bertemu dengan pengusaha kelapa sawit, yang tidak selalu mudah untuk mari kita aturlah, jangan semuanya keluar, di dalam kasihan rakyat kita membeli minyak yang plastikan itu ataupun yang dalam kemasan harganya besar. Sampai kita kasih insentif, sampai kita kasih kebijakan pajak yang lain. Ketika sekarang harga kelapa sawit jatuh, ketemu-ketemu lagi, yang minta-minta sekarang teman-teman usaha sawit, tolong Pemerintah berbuat. Oke take and give. Hidup ini kan begitu bertenggang rasa untuk rakyat, bukan untuk siap-siapa. Oleh karena itu, kita sudah kembangkan policy yang baru. Pak Purnomo jelaskan singkat nanti, sangat singkat apa yang telah kita lakukan, esensinya di situ sebetulnya, supaya petani-petani sawit meskipun seluruh dunia juga begitu, bukan hanya Indonesia, kita bantu bagaimana mengurangi kesulitannya.

Krisis 10 tahun yang lalu, yang bersuka cita petani-petani itu karena harga kita bersaing, dunia tidak ada resesi, yang susah kita, yang di perkotaan sangat terpukul. Sekarang justru sebaliknya para petani itu menjadi susah karena company-nya juga mengalami kesusahan, akibat pasar yang menciut di luar negeri, all policies must be connected to that untuk mengatasi dan menjaga keseimbangan itu.

Jadi yang disampaikan benar dan kita juga telah melangkah sejauh ini, termasuk yang kita bicarakan dengan dunia usaha yang 15 proyek tadi, mengait ke itu juga. Persoalannya adalah ya biasalah ini, kantong kanan, kantong kiri. Kalau insentif kita berikan, pasokan pajak berkurang. Tahun depan, ada persoalan dengan penerimaan, tapi dalam jangka menengah setahun, dua tahun, tiga tahun, empat tahun balik lagi ke kantong kanan, masuk juga. Ini namanya political economy dan saya telah memutuskan nggak apa-apa jangka pendek berkurang, pajak yang masuk, tetapi tidak mematikan usaha-usaha dan menimbulkan gelombang PHK yang baru. Ya harus begitu, memang ada resiko-resiko keputusan ekonomi yang harus kita ambil.

Pak Pur jelaskan sedikit tadi masalah pergeseran penggunaan sawit dalam komponen BBM kita.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral
Kita pakai di dalam negeri, bahkan kemudian beberapa bulan lalu kita keluarkan mandatory untuk pemakaian kelapa sawit dalam bentuk biodiesel untuk campuran diesel minimal 1%, bahkan hari ini sudah sampai 5%. Hanya memang ke depan pemikirannya seperti tadi Bapak Presiden sampaikan, kalau pada waktu keadaan seperti ini kita serah dalam negeri, mbok ya jangan tolong nanti pada waktu pasar luar negeri bagus dijual ke luar negeri lagi. Jadi pikiran kita sekarang dengan pengusaha itu bagaimana kita menerapkan yang dinamakan domestic market obligation. Jadi jangan kalau susah saja kelapa sawit itu masuk ke dalam negeri, tapi kalau enak di luar negeri begitu, satu itu. Jadi pemikiran ke depan itu, kalau domestic market obligation akan diterapkan itu seberapa besar, pertama. Kedua, harganya berapa. Sekarang tentu kalau dibayar dengan harga di bawah subsidi pun, itu mereka mau. Jadi kalau sekarang solar itukan 5.000, 5.000 rupiah per liter, 5.500 per liter. Jadi kalau itu kita beli di bawah itu, mereka mau karena memang pasarnya lagi menyempit. Jadi itulah policy ke depannya dan kita pikirkan, yang penting bagi pengusaha ini ada kerjasama dengan Pemerintah.

Presiden Republik Indonesia
Saudara-saudara,
Saya tambahkan sedikit, sebelum yang terakhir nanti Saudara Ramadhan Pohan.

Tanggal 6 Oktober kemarin saya keluarkan instruksi, masih ingat 6 Oktober ya? Antara dunia usaha dan Pemerintah itu harus bersama-sama mencari solusi kalau ada masalah untuk rakyat, untuk ekonomi kita yang lebih besar lagi, semangatnya di situ. Persoalan selalu ada, bukan hanya di negeri kita, dimanapun yah. Oleh karena itu, yang disampaikan oleh Menteri Energi itu riil.

Dulu waktu harga CPO di luar negeri tinggi sekali, kita punya persoalan minyak dalam negeri naik sampai di atas 8.500 per kg, naik lagi, naik lagi. Bermalam-malam saya ketemu, punya ikrar serahkan saya, kami sanggup begini, begitu, asalkan begini, kita penuhi, kurang terjadi juga. Saya bilang, “Bagaimana ini?” Akhirnya saya undang di Istana sekali lagi baru berjalan. Masih ada juga yang miss itu.

Sekarang dalam keadaan ini tentu tidak mungkin saya membikin susah pengusaha, gantian sekarang. Karena kalau susah pengusaha, susah rakyat, susah negara. Saya ingin terus jalan begitu, supaya enggak ada PHK, supaya rakyat juga bagus. Dan suasananya sekarang baik sekali, antara dunia usaha dengan Pemerintah, secara umum sama-sama saling ingin mengatasi masalah ini, menahan diri, tidak terpengaruh dengan kebijakan di luar negeri. Kalau tidak nanti panik, tidak ada capital outflow dan lain-lainnya. Saya memberikan apresiasi dan mari jangan kita ganggu kebersamaan yang bagus ini.

Kemudian yang kedua, Pak Ginanjar ada di sini. Ini Indonesia Incorporated harus jalan betul, bukan hanya Pemerintah dan Bank Indonesia dan dunia usaha, tapi juga dengan daerah, para Gubernur, Bupati, Walikota, tidak boleh katakanlah, “Ah ini tidak ada urusan, ini urusan Pemerintah Pusat.” Ekonomi sudah sekarang banyak yang terdesentralisasi ke daerah, fiskal pun sudah kita desentralisasikan dan banyak hal lagi. Oleh karena itu, mari bersama-sama kita kelola masalah ini, cegah PHK di daerahnya masing-masing, jaga sektor riil di daerahnya masing-masing, peluang investasi jangan dipersulit kalau orang mau usaha di situ. Kemudian untuk membangun competitiveness ekspor, bikin ekonomi biaya rendah, supaya kita bisa bersaing dengan negara lain. Itu juga merupakan rangkaian dari kebersamaan kita pada tingkat nasional. Terakhir.

Sdr. Ramadhan Pohan, Jurnal Nasional
Terima kasih Bapak Presiden, Ibu Negara dan Bapak-bapak sekalian. Saya ingin di-brief sedikit Pak tentang pertemuan Pak Presiden dan Ketua Senat Brasil dan Ketua DPR Brasil kemarin itu, isi pembicaraan seperti apa.

Terus yang kedua, di antara sela-sela kesibukan Pak Presiden kemarin, apakah sempat aware bahwa di situ, di Hotel yang sama menginap para bintang sepak bola Kaka, Ronaldinho, dan lain-lain. Dan kita, tadi Pak Presiden mengungkapkan bahwa sudah 5 kali bertemu dengan Presiden Lula, saya kira demi hiburan untuk rakyat Indonesia mungkin sekali waktu Pak Presiden mengungkapkan pada Presiden Lula untuk bisa mendatangkan Kaka misalnya ke Indonesia. Dan kalau untuk pelaksanaannya saya kira ada dua raja meja kita Pak Dahlan Iskan dan Pak Chairul Tanjung bisa membantu. Terima kasih, Pak. Assalamu’alaikum.

Presiden Republik Indonesia
Ini harapan rakyat loh untuk mensponsori bisa datang. Baik, dengan Ketua Senat, Pak Ginanjar sebagai Ketua Senat Indonesia juga bersama-sama saya dengan DPR, Pak Theo Sambuaga, pejabat senior DPR bersama-sama saya. Intinya dengan strategic partnership ingin betul meningkatkan kerjasama parliament to parliament, disamping goverment to government, private to private, people to people.

Yang kedua, kalau dengan senat itu memang ada isu-isu yang diangkat secara spesifik kerjasama pertanian di kedua negara. Konstruktif pikirannya, bagaimana Indonesia mengurangi kemiskinan dan bagaimana kami mengurangi kemiskinan, positif. Bagaimana hubungan Indonesia dengan Timor Leste. Yang bersangkutan sudah berkunjung ketemu Ramos Horta, ketemu Xanana, menurut kesan mereka baik hubungan kita dan ke depan bagaimana mempertahankan ini. Jadi isu-isu yang lebih strategis kalau, apa namanya, dari senat. Kemudian senat yang dari negara bagian amazone mengatakan kami juga take care hutan kami, saya katakan Indonesia juga begitu untuk kepentingan rakyat dan kepentingan lingkungan hidup. Jadi agenda-agenda besar yang diangkat para senator kemarin. Dengan parlemen kurang lebih juga sama, tetapi lebih umum diletakannya bagaimana kita bisa meningkatkan kerjasama dalam rangka strategic partnership.

Di tempat kita bermalam ada pemain sepak bola, saya tahu di atas ada macam-macam gitu. Kebetulan nggak usah dimasukan ke anu ini, anak saya yang nomor dua itu senang sekali sepak bola, dia pemain futsal. Kemudian biasa kalau kita ke luar negeri oleh-olehnya kaos, kaos sepak bola begitu. Kemarin kita carikan kaos Brasil terus ajudan Ibu Negara berinisiatif minta tanda tangan, di tanda tangani oleh Kaka yah, Kaka seperti itu. Jadi menurut saya kecil-kecilan kita memberikan respect pada Brasil.

Ingat yah waktu Brasil final kan banyak sekali sponsor dari kita. Oleh karena itu, pertemuan saya dengan Lula, baik yang one on one maupun bilateral, saya bilang, “Pak Lula, kita inginlah Indonesia nggak usah jauh-jauh kalau Brasil juara dunia Indonesia juara Asia Tenggara.” Saya harapkan bisa kerjasamakan dengan baik, tanggapannya positif. Malah beliau begini, “Presiden SBY, nanti kalau saya sudah tidak jadi Presiden, saya bisa jadi coach sepak bola Indonesia.”

Kemudian satu lagi tadi, yah saya kira bagus sekali. Dulu saya pernah menerima Zidane bagus sekali. Kalau Kaka itukan why not, wong namanya people to people contact. Kita sudah malam kesenian, sudah kemarin samba sunda itu sudah bagus sekali kok, Aceh kemudian Jawa Timur, mengapa tidak Kaka kita hadirkan di sana. Nanti kalau bermain yah saya serahkan wartawanlah mengimbanginya itu untuk bermain dengan sepak bola.

Serba serbi, saya tadi begini, sebelum masuk ruangan ini. Saya dulu waktu di Bosnia saya bertugas 1995–1996 sebagai Chief of Military, saya bintang 1. Saya punya mayor staf pribadi saya Angkatan Udara Brasil namanya Oliviera. Sejak saya datang, itu saya tanyakan dimana beliau, nggak ketemu, hari kedua belum ketemu. Tadi pagi akhirnya ketemu. Jadi ketemu saya seperti kakak dan adik, kan dulu staf pribadi saya dekat gitu. Jadi beliau ketemu saya di sini, dulu airforce setelah itu selesai. Jadi penerbang Brasil-Amerika, internasional airlines, kemudian sekarang retired lagi di situ karena ada gangguan mata sehingga qualified untuk menjadi pilot.

Jadi serba serbi ternyata dunia ini sempit, yang tadinya kawan ketemu lagi. Dia sangat surprise waktu melihat CNN ada berita Presiden Yudhoyono wah di Indonesia banyak sekali yang namanya Yudhoyono. Dia tidak sangka kalau itu mantan bosnya, tidak sangka. Setelah itu dengar lagi loh kok Yudhoyono lagi, ya lama-lama dicek wah ini mantan bos saya. Tadi ketemu sudah tadi.


Terima kasih.
Wassalamu’alaikum.


*****

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan