Ruang Pers
Keterangan Pers Presiden
Tentang Bali Democracy Forum
TRANSKRIPSI
KETERANGAN PERS PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DALAM RANGKA
BALI DEMOCRACY FORUM
BALI, 10 DESEMBER 2008
Bismillahirrahmanirrahiim,
Saudara-saudara,
Saya akan menyampaikan penjelasan tentang kegiatan di Denpasar, Bali, hari ini. Saudara telah mengikuti rangkaian acara, mulai dari pembukaan sampai dengan general debate, dan tentunya masih akan berlanjut lagi pada sesi sore hari ini.
Yang ingin saya sampaikan adalah di luar apa yang telah disampaikan, baik dimulai dari Menteri Luar Negeri kita, Pak Hassan Wirajuda, kemudian yang saya sampaikan sebagai opening remarks, dan juga apa yang disampaikan oleh para leader, dalam hal ini Perdana Menteri Australia, Sultan Brunei Darussalam, dan juga Perdana Menteri Timor Leste, dan sejumlah Menteri dari negara-negara sahabat.
Yang jelas ada dua kegiatan penting hari ini. Katakanlah, hari yang bersejarah, pertama sebagaimana Saudara ikuti diselengarakannya untuk pertama kali Bali Democracy Forum. Insya Allah, Forum ini akan terus kita lanjutkan dan kita kembangkan di masa depan. Kita berharap tiap tahun dapat kita selenggarakan.
Yang kedua, sore hari ini juga saya akan meresmikan berdirinya Institute for Peace and Democracy yang akan berada di wilayah kampus Universitas Udayana, Denpasar, yang nanti akan menjadi center, menjadi implementing agency dari Bali Democracy Forum dan kegiatan-kegiatan akademik lainnya yang tentu sangat berguna bagi proses dialog lanjutan tentang demokrasi yang dihadiri oleh pemerintahan negara-negara di Asia.
Saudara-saudara,
Bali Democracy Forum, saya jelaskan, ini adalah forum dialog dimana kita bisa saling berbagi pandangan, berbagi pengalaman, termasuk best practices yang berlangsung atau terjadi di negara-negara Asia. Forum ini, forum yang equal. Semua peserta memiliki posisi yang sama. Dan sebagaimana saya sampaikan dalam sambutan saya tadi, tidak ada satu pihak pun yang mendiktekan model demokrasinya atau sistem politiknya atau kegiatan pemerintahannya kepada bangsa atau negara lain.
Tema dan subtema yang kita pilih, yang kita pilih saya kira tepat dengan forum ini, “Building and Consolidating Democracy, A Strategic Agenda for Asia”, untuk Asia. Dan yang kedua, subtemanya adalah “Strengthening Regional Dialogue and Cooperation in Democracy”.
Saudara-saudara,
Sementara di Institute for Peace and Democracy yang akan kita resmikan sore hari ini, kita akan bangun infrastruktur kemudian sehingga layak untuk institute menjadi center dari a peace and democracy. Tentu akan ada satu Direktur Eksekutif yang menangani kegiatan harian dari institut ini. Demikian juga akan ada perangkat, leadership dan management, tentunya dengan dukungan yang kami harapkan dari Universitas Udayana dan dari Pemerintah Provinsi Bali pada khususnya.
Saudara-saudara,
Saya ingin menyampaikan, mengapa Asia? Mengapa kita berbicara forum demokrasi ini pada lingkup Asia? Saudara-saudara mengikuti bahwa diam-diam 15 tahun terakhir ini ada semacam changing global landscape, a shifting the center of power pada tingkat dunia. Diam-diam yang tadinya termonopoli, terdominasi di Amerika Serikat dan di Eropa, maka terjadi pergeseran world power ke arah Asia, disebut-sebut Asia Timur. Tentu kawasan ini akan menjadi sangat dinamis lima, sepuluh, lima belas tahun ke depan. Berkaitan dengan changing, global landscape dan di bidang politik, ekonomi, dan juga barangkali bagi budaya dan teknologi.
Dan kita ketahui bahwa Asia sendiri adalah tempat bertemunya berbagai civilization, peradaban. Termasuk tentu tidak bisa dihindari ada transformasi dalam sistem politik atau demokrasi. Dalam kaitan ini semualah, maka menjadi relevan kalau kita berinisiatif untuk membangun satu wahana dialog yang kita sebut Bali Democracy Forum itu sebagai partisipasi Indonesia, kontribusi Indonesia untuk menjemput dan memasuki era baru Asia yang sangat dinamis, dan banyak sekali nanti akan terjadi transformasi dan sesuatu yang in the making sifatnya. Oleh karena itu, sebagaimana yang disampaikan oleh para pembicara tadi, inisiatif kita ini not only relevant, tetapi juga mendapatkan support dan tekad dari negara-negara sahabat.
Saudara-saudara,
Mengapa Indonesia pula? Saya kira tidak berlebihan kalau Indonesia menawarkan diri dan berinisiatif mengambil prakarsa untuk menjadi host yang permanen dari Bali Democracy Forum, sekaligus meresmikan berdirinya The Institute for Peace and Democracy. Dalam sambutan saya, saya sampaikan tadi, pasang surut perjalanan panjang, the making of democracy in Indonesia. Sejak era Presiden Soekarno yang pertama-tama diwarnai dengan demokrasi yang liberal, yang ternyata berakhir dengan berbagai permasalahan. Lantas berubah menjadi Demokrasi Terpimpin juga masih pada era Presiden Soekarno. Berubah lagi Demokrasi Pancasila pada era Pak Harto dan sejumlah tatanan yang menurut saya lebih otoritarian dibandingkan demokratisnya, dibandingkan cerminan dari nilai-nilai dan praktek demokrasi. Tanpa mengatakan masa lalu kita salah, tapi terjadi perubahan lagi sepuluh tahun yang lalu sehingga mewarnai demokrasi atau karakter demokrasi kita yang berkembang dewasa ini.
Dari pengalaman panjang, up and down, pasang surut seperti itu, dan alhamdulillah, kita telah memasuki era baru transformasi, demokratisasi, penghormatan pada hak asasi manusia, kebebasan pers, pemilihan umum yang lebih direct dan lain-lain, maka tepat kalau Indonesia berinisiatif untuk membangun forum ini. Dan tentunya kita bisa berbagi pengalaman sekali lagi, termasuk Indonesia membagi pengalamannya, sambil Indonesia juga belajar dari cerminan atau praktik dari negara-negara sahabat dalam mengembangkan demokrasinya.
Saudara-saudara,
Dan kita harus memahami betul seluk-beluk demokrasi. Demokrasi adalah proses yang terus bergerak. Satu agenda yang akan terus mencari bentuknya, berubah dari masa ke masa, meskipun ada universal values. Tapi nilai-nilai sejarah, nilai-nilai lokal, karakter atau perilaku dari peradaban tertentu, tentu juga mewarnai sosok dari demokrasi yang diadopsi oleh negara-negara tertentu.
Dan bagi Indonesia yang penting kita betul-betul harus mencari satu keseimbangan, a balance, harmony, keselarasan, karena tentu banyak sekali diskursus ataupun debat atau wacana tentang individual freedom dengan social obligation misalnya. Tentang freedom dan security, mana yang dipentingkan? Democracy and harmony, freedom atau democracy vs development ataupun prosperity. Saya kira semua itu tentu memerlukan dialog terus-menerus, memerlukan kegiatan saling berbagi, sharing di antara pelaku-pelaku demokrasi di Asia dan juga apa yang kita lakukan di dalam negeri sendiri.
Itulah yang saya sampaikan dibalik dari semuanya ini, mengapa kita berinisiatif untuk menyelenggarakan Bali Democracy Forum ini. Kemudian posisi dan pandangan Indonesia, menyadari Indonesia sendiri juga berada dalam proses transformasi untuk membangun tatanan yang lebih demokratis tentunya yang sekaligus menghadirkan rule of law dan juga membangun kerukunan atau harmoni dari kemajemukan yang ada di negeri kita.
Inilah penjelasan yang saya sampaikan. Saya memberikan kesempatan sekarang kepada Saudara-saudara untuk mengajukan pertanyaan seputar barangkali apa dan mengapa dari diselenggarakannya Bali Democracy Forum ini. Saya persilakan.
Sdri. Andi Sarina, RRI
Terima kasih, Pak. Nama saya Andi Sarina dari RRI. Terkait dengan Pemilu yang akan datang, Pak, Bali Democracy Forum, tadi sepintas kami melihat begitu besarnya apresiasi dari negara-negara sahabat. Mungkin ini juga, Pak, bekal untuk pendewasaan untuk seluruh partai dalam Pemilu 2009. Mohon Pak, tanggapan Bapak sendiri sebagai Kepala Negara seperti apa, Pak, dari Bali Democracy Forum ini agar Indonesia terlihat lebih dewasa dalam Pemilu 2009 yang akan datang?
Presiden Republik Indonesia
Cara-cara berdemokrasi kita, cara-cara berpolitik kita, termasuk cara-cara kita menyelenggarakan dan melakukan kegiatan pemilihan umum, menurut penilaian saya pribadi terus berkembang ke arah yang lebih baik. Ini memerlukan kesadaran bersama, memerlukan tanggung jawab bersama juga dari para elit, agar proses yang dari tahun ke tahun itu berjalan pada arah yang benar dan makin memunculkan kehidupan dan wajah demokrasi yang bukan hanya pada tingkat pusat, tapi juga merambah ke seluruh wilayah Indonesia dapat benar-benar kita kelola dengan baik, kita tingkatkan kualitasnya. Dengan demikian, kita berharap demokrasi kita makin matang.
Satu hal apapun ceritanya dalam Pemilihan Umum misalnya, dalam praktek-praktek kehidupan demokrasi yang lain, dua unsur yang tidak boleh diabaikan adalah pertama, must be peaceful. Tidak ada artinya negara, bangsa yang dianggap sangat demokratis, tetapi jauh dari kedamaian. Mudah sekali terlibat dalam kekerasan-kekerasan atau gangguan-gangguan yang membikin tidak stabilnya kehidupan politik, kehidupan bangsa dan negara itu. Saya menggarisbawahi, mari bukan hanya menghadapi Pemilu tahun depan, tapi dalam mengelola kehidupan berbangsa dan bernegara, kita yakini bahwa apapun yang kita lakukan must be peaceful. Harus berjalan secara damai. Ada perselisihan, ada perbedaan pendapat, ada katakanlah ada akar-akar konflik, kita carikan solusinya secara damai.
Yang kedua, sifat demokrasi dari Pemilu adalah fairness. Harus fair, harus betul-betul demokratis, harus jujur. Mari kita menuju ke situ. Dengan demikian, dengan tanggung jawab bersama, kesadaran bersama, perilaku politik yang baik, maka harapan kita, Pemilu 2009, kita semua betul-betul bisa mempertahankan dua karakter utama demokrasi, yaitu peace dan kemudian fairness. Saya yakin kita bisa untuk menuju ke era seperti itu dan apa namanya wujud kompetisi Pemilihan Umum dan demokrasi sebagaimana yang kita harapkan bersama seperti itu.
Sdr. Tri, Bisnis Indonesia
Terima kasih, Pak. Tri, Bisnis Indonesia. Terkait dengan forum hari ini. Di luar sana ada ancaman PHK massal yang sangat besar, baik secara global maupun nasional. Ancaman PHK, ledakan pengangguran yang sangat besar, karena krisis di tingkat internasional maupun di dalam negeri, bidang sektor dan juga sektor-sektor yang lain. Kalau boleh dielaborasi jauh sedikit seberapa jauh relevansi pertemuan ini dengan masalah riil masyarakat seperti itu karena saya kira demokrasi hanya suatu proses, pada akhirnya demokrasi harus bisa menyelesaikan masalah konkret, baik kemiskinan, pengangguran, dan kelaparan. Terima kasih
Presiden Republik Indonesia
Yang Saudara sampaikan mengelola krisis keuangan global, menghadapi ancaman resesi ekonomi dunia, meminimalkan dampak keuangan global terhadap perekonomian Indonesia, terhadap sektor riil kita, terhadap kemungkinan gelombang pengangguran, terus kita kelola siang dan malam. Sejak sekian minggu yang lalu kita cukup pro aktif dengan langkah-langkah cepat dan tepat. Tidak ada yang diabaikan, dan itu betul-betul menghadapi riil isu permasalahan utama.
Yang Saudara katakan bagaimana kemiskinan dan pengangguran, tidak pernah berhenti kita mengelola permasalahan itu, pendidikan, kesehatan, usaha mikro kecil dan menengah, kemudian pengangguran, pemberantasan korupsi, pengurangan kemiskinan, pembangunan masyarakat pedesaan, pangan, energi tidak pernah berhenti. Tidak berarti hari ini dan besok kita menyelenggarakan democracy forum yang sudah kita rancang jauh sebelumnya yang menjadi bagian dari kehidupan bernegara di Indonesia dan menjadi bagian interaksi kita dengan masyarakat Asia dan masyarakat global. Lantas kita dianggap tidak melaksanakan masalah-masalah yang Saudara sampaikan tadi.
Jawaban saya semua yang dilakukan oleh Pemerintah Indonesia, oleh kita ada manfaatnya, ada tujuan yang jelas, ada arah yang benar karena kita juga tahu prioritas, kita juga tahu agenda apa yang kita lakukan sekarang ini.
Masalah kemungkinan pengangguran, kita tahu ramalan dari Bank Dunia konon bisa ada 23 juta pengangguran yang baru di seluruh dunia. Amerika Serikat setengah juta bulan November. Saya mendengar laporan dengan segala upaya meskipun ada kolaborasi antara Pemerintah, Bank Indonesia, dan dunia usaha untuk mencegah sejauh mungkin tidak ada pengangguran. Saya mendapat laporan ada sekitar 15 ribu yang barangkali tidak bisa dielakkan bakal menganggur.
Itulah sebabnya kita melakukan pembangunan infrastruktur dalam skala yang luas untuk mengabsorbsi tenaga kerja itu. Itulah sebabnya kita menggalakan usaha mikro, kecil, dan menengah dengan aliran kredit usaha rakyat dengan jumlah triliunan rupiah yang akan kita alirkan agar mereka juga mengadopsi kemungkinan gelombang PHK. Dan sejumlah aksi dengan kebijakan insentif dengan memberikan kemudahan pada sektor riil perusahaan-perusahaan agar mereka lebih bernafas dan kemudian harus buru-buru atau mem-PHK-kan.
Bahkan ada satu komitmen bersama antara dunia usaha dengan Pemerintah, jika ada tanda-tanda akan ada PHK, maka dibuka kran komunikasi. Apa yang bisa kita lakukan, apa yang bisa Pemerintah bantukan kepada mereka, agar mereka juga tidak terlalu tertekan. Ini adalah realitas global yang berdampak pada regional, yang berdampak pada nasional, dan kita tidak pernah berhenti untuk mengelolanya.
Sdr. Marbun, LKBN ANTARA
Terima kasih, Pak. Saya Marbun dari Kantor berita ANTARA. Dari Bali Democracy Forum ini kita berbagi pengalaman kepada negara-negara sahabat yang hadir. Bagi Indonesia, pengalaman dalam aspek apa saja terkait dengan kehidupan berdemokrasi dalam kehidupan negara dan bangsa ini dipetik dari negara sahabat itu? Terima kasih.
Presiden Republik Indonesia
Dalam proses interaksinya dan ini pembukaan hari ini atau general debate itu bukan satu-satunya forum. Ada forum sebelumnya, ada working group, meeting, ada proses lanjutan. Nanti kalau Institut kita dirikan juga akan bekerja.
Sebetulnya, semua itu proses timbal balik, sharing experiences, sharing ideas, sharing bagaimana kita melihat masa depan. Yang jelas sebagaimana saya sampaikan tadi, pengalaman Indonesia dalam berdemokrasi dari satu periode ke periode yang lain, zaman Bung Karno, zaman Pak Harto, zaman era reformasi ini. Tidak ada sosok demokrasi, pilihan sistem politik yang tidak mengandungi plus dan minusnya, sisi-sisi positif dan negatifnya. Bahkan orang mengatakan setiap pilihan model demokrasi itu problematik. Saya kira bagus untuk menyadari bahwa tidak ada satu pun yang perfect, tidak ada satu pun negara yang boleh mendiktekan this is the best model in democracy. Pasti ada plus dan minusnya. Itu juga perlu disampaikan.
Kita punya pengalaman yang dramatis sepuluh tahun yang lalu. Perubahan besar, apakah transformasi, demokratisasi, perubahan-perubahan yang tepat itu dilakukan dengan skala yang besar, dengan kecepatan yang tinggi atau model China yang lebih gradual, lebih steady, lebih balance, dengan segala plus dan minusnya. Ada yang mengatakan kalau reformasi gradual, kapan sampainya. Begitu, yang tidak setuju. Yang cepat, yang besar-besaran seketika. Tapi kritiknya yang besar-besaran dan cepat seketika ada disorder, ada instabilitas, ada sesuatu yang off balance, sesuatu yang bisa mengganggu keberlanjutan dari reformasi dan transformasi itu.
Sebaliknya mengatakan kalau yang gradual itu semua diajak, inklusif. Ada masalah bisa diperbaiki Tentu, tidak bisa kita mengatakan yang paling baik itu yang cepat seketika, skala besar, atau yang bertahap. Kemudian tapi berlanjut terus dengan cara-cara yang lebih balance. Itu juga bisa kita bagi dengan negara-negara sahabat, karena kita punya pengalaman yang luar biasa sepuluh tahun terakhir ini seperti laboratorium reformasi politik, ekonomi, sosial, keamanan, hukum dan lain-lainnya. Jadi banyak yang bisa kita bagikan dalam arti sharing dengan negara-negara sahabat, dengan participants yang ada di forum ini.
Sdr. Rofiqi, Koran Tempo
Terima kasih, Pak Presiden. Nama saya Rofiqi dari Koran Tempo. Yang ingin saya tanyakan apakah forum ini juga merupakan respon Bapak atas kecenderungan menguatnya penilaian, menguatnya fundamentalisme Islam di Indonesia yang dianggap bisa merusak citra bangsa kita? Terima kasih.
Presiden Republik Indonesia
Kita punya a policy, punya arah yang bersifat strategis bagaimana mempertahankan garis yang tidak ekstrim, yang tidak radikal di negeri tercinta ini. Jadi radikalitas, ekstrimitas darimana pun datangnya tidak selalu dikaitkan dengan agama tertentu, darimana pun, karena fundamentalisme, ekstrimisme itu bisa datang dari agama manapun, dari bangsa manapun, dari suku bangsa juga manapun. Tentu tidak berkaitan langsung dengan Bali Democracy Forum. Tapi Saudara benar bahwa kita ingin mengelola kehidupan berbangsa dan bernegara ini dengan mempertahankan kemajemukan, Bhinneka Tunggal Ika dalam satu kehidupan yang penuh toleransi, harmoni. Dan saya katakan tadi, kalau ada masalah-masalah kita pecahkan secara damai. Itu semangat kita. Itu sebagai yang sedang mengemban amanah, itu garis saya bahwa negara ini harus dikelola. Kehidupan ini harus betul-betul mencegah berbagai ekstrimitas dan radikalitas yang hanya menimbulkan masalah-masalah yang tidak perlu. Kita harus saling menghormati. Kita harus membangun toleransi. Kita harus membikin dialog ataupun jembatan di antara kita semua, antar komunitas, antar civilization, antar agama, antar suku, antar daerah karena sekali itu terobek, mahal sekali.
Oleh karena itulah, meskipun tidak berkaitan langsung dengan acara dua hari ini, tapi itu menjadi garis yang harus kita tempuh agar negara kita selamat. Harus semakin dinamis, harus semakin maju, tapi dibangun atas dasar kehidupan yang lebih damai, yang lebih rukun satu sama lain sehingga kehidupan akan tetap tenteram meskipun kita melakukan modernisasi, reformasi, dan demokratisasi.
Terima kasih.
****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



