Ruang Pers
Keterangan Pers Presiden
Indonesia Kecam Keras Aksi Militer Israel yang Berlebihan di Jalur Gaza
Assalamualaikum'warahmatulahiwabarakatuh
Salam sejahtera untuk kita semua.
Saudara-saudara saya akan menyampaikan penjelasan kepada saudara untuk disampaikan kepada saudara-saudara kita di seluruh wilayah tanah air. Perkembangan situasi di Gaza makin mencemaskan dan belum ada tanda-tanda Israel untuk menghentikan aksi-aksi militernya. Di sisi lain kita menyaksikan dan mendengar melalui berbagai media bahwa serangan yang dilakukan oleh Israel, utamanya serangan-serangan udara, telah menimbulkan korban jiwa dan kerusakan material yang besar, termasuk mereka-mereka yang tidak berdosa, wanita dan anak-anak.
Beberapa jam setelah terjadinya aksi militer itu, pemerintah Indonesia telah mengeluarkan pernyataan yang keras. Saya sampaikan kepada Menteri Luar Negeri kita untuk secepat mungkin mengeluarkan statement itu setelah dikeluarkan. Sementara itu, kita sekali lagi menyaksikan belum ada tanda-tanda bahwa aksi ofensif itu akan segera berakhir. Tadi pagi saya berkomunikasi dengan Duta Besar kita yang ada di PBB, saudara Marty Natalegawa, yang juga perwakilan kita di Dewan Keamanan PBB karena Indonesia masih menjadi anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB.
Dubes kita melaporkan kepada saya langkah-langkah apa saja yang telah diambil oleh DK PBB untuk benar-benar bisa mengakhiri serangan-serangan Israel, memulihkan keadaan dan kemudian proses perundingan bisa dilanjutkan kembali antara Israel dengan Palestina.
Saudara-saudara, pemerintah Indonesia berpendapat bahwa mesti ada kegiatan dan langkah-langkah yang lebih nyata, dalam arti untuk bisa dipatuhi oleh pihak Israel. Mengapa? Sama dengan yang dilakukan Indonesia dulu ketika terjadi perang di Libanon. Serangan Israel dengan skala yang sangat besar waktu itu terjadi beberapa hari dan belum ada tanda-tanda untuk dihentikan. Bahkan terus terang Indonesia melihat waktu itu harusnya DK PBB bisa melakukan langkah-langkah yang lebih cepat. Oleh karena itu kita berkontribusi waktu itu. Saya menulis surat kepada Sekjen PBB dan berkomunikasi dengan Dewan Keamanan. Saya menyarankan untuk ada pertemuan pemimpin-pemimpin OKI yang Alhamdulillah bisa dilaksanakan di Kuala Lumpur dan kemudian Indonesia untuk yang pertama kali mengusulkan ada tambahan peace keeping forces yang bisa digelar dan melaksanakan tugas di Libanon dengan Indonesia bersedia untuk mengirimkan kontingennya dalam jumlah yang cukup sebagai bagian dari pasukan pemelihara perdamaian di sepanjang perbatasan Israel dan Libanon.
Apa yang kita lakukan dulu menjadi bagian dari solusi yang sekarang kita pertahankan kontribusi kita dalam pemeliharaan di Libanon. Apa yang terjadi seperti sekarang ini Indonesia berpendapat bahwa langkah yang serupa harus kita lakukan. Oleh karena itu hari ini saya menandatangani surat untuk saya kirimkan kepada Sekjen PBB, Ban Ki-moon juga Presiden dari DK PBB yang pokok-pokoknya adalah kembali mengecam dengan keras aksi-aksi militer Israel yang kita nilai berlebihan dan tidak proporsional, yang betul-betul mengakibatkan korban jiwa dan harta benda yang besar.
Dalam surat ini saya juga menggarisbawahi bahwa masyarakat dunia, terutama PBB, terutama lagi DK PBB harus segera mengambil langkah-langkah yang cepat dan tepat. Memang saya tahu bahwa PBB telah melakukan pertemuan informal dan telah menghasilkan pernyataan tertulis Presiden DK PBB yang diserukan dihentikannya serangan-serangan Israel itu. Indonesia berpendapat DK PBB segera bersidang secara formal untuk mengeluarkan resolusi, kemudian betul-betul memaksa Israel menghentikan serangan-serangannya dan kemudian keduabelah pihak, Israel dan Palestina bisa kembali masuk kepada peace proses sebagaimana seperti yang kita saksikan terjadi gencatan senjata hampir setengah tahun lamanya dan menciptakan keamanan dan perdamaian yang baik waktu itu.
Indonesia juga melalui surat saya menghimbau agar masyarakat dunia melakukan bantuan kemanusiaan karena tentunya situasi kemanusiaan sangat buruk. Kita saksikan sendiri, yang luka-luka cukup banyak, ratusan. Oleh karena itu bantuan kemanusiaan perlu diberikan. Indonesia juga akan memberikan bantuan tunai, satu juta dollar Amerika Serikat diluar bantuan obat-obatan yang juga dikirim ke wilayah konflik. Dan diatas segalanya kali ini memang PBB, DK PBB, dan masyarakat internasional harus memberikan kepedulian, atensi yang sungguh-sungguh dan berkontribusi secara nyata karena taruhannya sangat besar. Korban jiwa dan harta benda yang berjatuhan dan ironisnya justru hari ini kita memasuki Tahun Baru Islam 1 Muharam. Insya Allah tiga hari lagi kita memasuki tahun baru Masehi, 1 Januari 2009, mestinya kita berdoa dan berharap agar dunia kita makin damai. Tapi kita dirobek oleh peristiwa yang terjadi di Palestina dan di Gaza sekarang ini.
Oleh karena itu sesuai dengan amanah konstitusi kita Indonesia akan melakukan peran yang aktif dalam kaitan ini dan dalam surat saya kepada Sekjen PBB dan Presiden DK PBB, Indonesia siap sedia untuk berkontribusi apapun dalam penyelesaian masalah di Palestina, termasuk dalam upaya menghentikan serangan-serangan Israel demi pulihnya keamanan di wilayah itu.
Saudara-saudara, itu yang saya sampaikan. Tentunya ini harus Indonesia ambil, tidak cukup dengan statement, sebagaimana yang dilakukan negara-negara lain, tapi harus ada aksi nyata pada tingkat DK PBB dan PBB. Indonesia mendesak untuk itu melewati Duta Besar kita yang ada di sana akan menyampaikan sekali lagi pikiran Indonesia sebagaimana kemarin pertemuan informal yang juga diusulkan oleh Libiya dan Indonesia.
Kami akan memantau terus perkembangan di Gaza. Indonesia akan terus melakukan upaya baik secara bilateral, regional maupun multilateral bagi pulihnya kembali situasi keamanan di Gaza.
Terimakasih.
Wa'asalamualaikum'warahmatulahi'wabarakatuh



