Ruang Pers
Keterangan Pers Presiden
Hasil Kunjungan ke Korea Selatan
TRANSKRIPSI
KONFERENSI PERS PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DI HOTEL SHILLA, JEJU ISLAND, KOREA SELATAN
2 JUNI 2009
Bismillahirrahminirrahim,
Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Saudara-saudara,
Para wartawan yang saya cintai,
Saya akan memberikan penjelasan kepada Saudara, tentunya untuk disampaikan kepada seluruh rakyat Indonesia tentang pelaksanaan tugas kita, tugas negara untuk menghadiri pertemuan puncak ASEAN-Korea Selatan sebagai peringatan 20 tahun hubungan ASEAN-Korea Selatan yang dilanjutkan dengan pertemuan yang substantif. Semua menyadari bahwa pertemuan puncak ini sekali lagi bukan hanya sebuah ceremony, tapi pertemuan dari sebelas Kepala Negara, Kepala Pemerintahan yang sangat penting, untuk pertama mengevaluasi apa yang telah dilakukan oleh ASEAN dan Korea Selatan. Lantas yang kedua, bagaimana kita melihat masa depan hubungan ini, apa saja yang harus kita perbaiki dan kembangkan. Dan yang ketiga, kita mesti melakukan sinergi secara regional dan global untuk mengatasi krisis perekonomian global yang masih kita rasakan dewasa ini.
Sebagian dari Saudara sempat bertanya beberapa saat yang lalu, apakah saya bisa menghadiri pertemuan puncak ini karena lazimnya kalau di dalam negeri ada pemilihan umum, maka bisa saja tidak hadir, dan itu dimaklumi oleh teman-teman para pemimpin dunia pada saat kita harus bertemu, misalnya. Tetapi saya memandang perlu untuk hadir. Saudara tahu hari ini sudah mulai kampanye pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, jadi saya perlu hadir dengan alasan utama, pertama pertemuan regional ini sekali lagi penting. Saudara tahu, kalau kita berbuat baik dalam mengatasi krisis perekonomian global saja, maka volume perdagangan ASEAN dan Korea Selatan itu mencapai 90 lebih milyar dolar Amerika Serikat, jumlah yang besar, lantas investasinya itu lebih dari 6,8 betul ya? Milyar dolar Amerika Serikat. Dan jangan lupa jumlah GDP, total GDP 11 negara ini mencapai 2,3 triliun dolar Amerika Serikat. Jadi kalau kita melakukan langkah-langkah yang tepat dan efektif dari segi perekonomian saja, maka dampaknya akan baik, baik sebagai bagian dari penyelesaian krisis global maupun manfaat yang dirasakan oleh 11 negara ini.
Yang kedua, mengapa saya perlu hadir sendiri, hubungan kita Indonesia-Korea Selatan itu mencapai tahap yang sangat baik setelah kita bersama-sama menandatangani strategic partnership. Saya dengan almarhum Presiden Roh Moo-hyun dulu bersepakat untuk meningkatkan kerja sama bilateral dalam format kemitraan strategis, dan kemudian dilanjutkan. Bahkan, Saudara tahu, dalam waktu tiga-empat bulan ini, Presiden Lee Myung-Bak berkunjung ke Indonesia, dan saya berkunjung ke sini. Dan bukan hanya itu memang kita punya hubungan kerja sama bilateral pada tingkat yang baik dan menjanjikan atau promising.
Alasan tambahan tentunya, Presiden Lee Myung-Bak sangat ingin saya hadir karena tentu rasanya kurang kalau ada 10 pemimpin ASEAN semuanya hadir, lantas Indonesia yang dianggap negara terbesar di ASEAN tidak hadir. Oleh karena itu, tentu tujuan saya hadir dalam pertemuan puncak ini berkaitan langsung dengan kepentingan nasional kita, kepentingan Indonesia.
Saudara-saudara,
Yang ingin saya sampaikan, yang pertama adalah apa yang kami bicarakan dalam pertemuan puncak ini, meskipun hari ini masih akan berlanjut sebagai elaborasi dari inti-inti yang kita bahas kemarin. Kita sepakat bahwa kerja sama Korea Selatan dan ASEAN mesti dimantapkan, diperluas, dan diperdalam, itu. Bukan hanya kerja sama di bidang perekonomian, kepariwisataan, budaya, teknologi, pendidikan, energi, perubahan iklim tetapi lebih luas lagi harus masuk ke dalam ranah people-to-people contact karena itulah fondasi, landasan dari keberlanjutan sebuah kerja sama dan hubungan dalam arti relations. Jabarannya banyak sekali di situ tapi semua ingin karena merasakan manfaatnya, hubungan strategis perlu dikokohkan dan bahkan dikembangkan di waktu yang akan datang.
Mengenai masalah bilateral atau hubungan bilateral, kemarin saya sempat bertemu dengan Presiden Lee Myung-Bak, satu pertemuan yang penting dan bahkan setelah pertemuan itu, saya juga bertemu kembali secara lebih informal meskipun pertemuannya informal tidak berarti masalah-masalah yang kita bahas tidak penting, sama pentingnya bahkan seringkali dalam diplomasi itu, pertemuan yang tidak formal itulah yang menghasilkan sesuatu yang tidak bisa disampaikan secara formal.
Saudara-saudara,
Kami berdua kemarin senang, bersyukur, dan ingin terus meningkatkan kemitraan strategis (strategic partnership) di antara Indonesia dan Korea. Hubungan perdagangan juga menggembirakan, sekarang sudah mencapai 19,3 miliar dolar ini cukup besar dan kami sepakat kemarin manakala krisis global ini bisa segera kita lampaui, kita ingin meningkatkannya lagi, senang kalau misalkan dalam waktu yang tidak terlalu lama Indonesia dan Korea bisa meningkatkan lebih dari 20, 25 dan seterusnya. Investasi juga bisa berkembang dengan baik, dan saya boleh mengatakan sesungguhnya sekarang ini dari segi pengembangan atau progress, kerja sama perekonomian utamanya perdagangan dan investasi dengan Korea Selatan ini, salah satu contoh success story (kisah yang sukses), investasi kumulatif berjumlah 13 miliar dolar Amerika Serikat, dan Saudara tahu banyak sekali perusahaan Korea yang ada di Indonesia, yang juga memberikan lapangan pekerjaan kepada saudara-saudara kita. Dan ingat mereka setia, ketika ada gonjang-ganjing di negeri kita, banyak atau sebagian dari investasi negara sahabat meninggalkan Indonesia, tetapi Korea tetap tinggal. Ini menunjukkan persahabatan dan kerja sama yang baik.
Saya mengajak untuk meningkatkan lagi kerja sama ini di bidang manufaktur, di bidang energi termasuk pengembangan energi terbarukan, termasuk biofuel, kemudian pembangunan infrastruktur dan ICT. Lantas yang saya harus menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan saya, janji Presiden Lee atas permintaan saya, pada saat beliau berkunjung dua tiga bulan yang lalu ke Indonesia, ada 37 ribu lebih pekerja Indonesia yang ada di Korea Selatan ini meskipun negeri ini juga mengalami persoalan akibat krisis global, mereka tidak serta merta dipulangkan dan bahkan saya dukung policy pemerintah Korea Selatan untuk memberikan training atau peluang biar bisa mendapatkan lapangan pekerjaan baru.
Apa yang dijanjikan, apa yang kami bicarakan secara serius di Jakarta kemarin menjadi kenyataan. Hampir tidak ada atau sedikit sekali yang kembali ke Indonesia. Menurut Saudara Duta Besar, yang kembali ke Indonesia memang memilih ke sana bukan berarti tidak punya peluang untuk dia bisa mendapatkan pekerjaan baru. Ini penting Saudara-saudara sebab kalau 37 ribu pekerja kita beramai-ramai kembali tentu memberikan tantangan bagi kita untuk bekerja di dalam negeri.
Yang lain adalah saya sampaikan kerja sama di bidang kehutanan, sebetulnya sudah agak lama kita bersepakat untuk bekerja sama di bidang kehutanan dengan format Clean Development Mechanism (CDM) dalam rangka mengelola hutan kita menghadapi perubahan iklim dan pemanasan global. Ini salah satu kerja sama yang konkret dan Menteri Kehutanan sendiri telah mengelolanya dengan seksama.
Di bidang kepariwisataan, ini juga saya tonjolkan kemarin dalam pertemuan bilateral, terus terang makin banyak wisatawan Korea yang berkunjung ke Indonesia dan kita ingin ini terus dikembangkan lagi karena income per kapita yang tinggi dari bangsa Korea ini tentu masa depan pariwisata, maksud saya kedatangan mereka akan menjadi lebih banyak, dan sekarang kita menjemput bola, apa yang mesti kita lakukan dalam dunia pariwisata ini.
Saudara tahu, dua minggu yang lalu saya mengeluarkan statement bahwa masa depan perekonomian Indonesia tidak boleh hanya bersandar pada pertanian, industri, dan jasa-jasa yang konvensional tetapi ada dua yang saya ingin kita kembangkan bersama ke depan adalah pertama pariwisataan dan yang kedua ekonomi kreatif termasuk ekonomi yang berbasiskan budaya dan warisan. Kenyataannya tahun demi tahun, Menteri Perdagangan tekun mengasuh ekonomi kreatif, kontribusinya makin nyata, oleh karena itu kita ingin kedua sektor ini bisa kita kembangkan.
Yang ketujuh di bidang pendidikan, kita ingin agar kerja sama ini membawa manfaat yang nyata. Presiden Korea mengatakan welcome untuk para pelajar dan mahasiswa dari ASEAN dan terutama kalau dilihat dari rasio yang akan paling banyak nanti dari Indonesia. Kami berdua sepakat kalau ada nanti mahasiswa Indonesia yang belajar di negeri ini, lebih banyak yang mendalami teknologi termasuk information and communication technology. Jadi yang berkaitan dengan itu karena keunggulan bangsa Korea antara lain di bidang itu.
Kita ingin sekali lagi, kesempatan yang baik untuk menjelaskan kepada Saudara, policy pemerintah, strategi pemerintah di bidang pendidikan memberikan kesempatan bagi semua untuk mengenyam pendidikan. Oleh karena itu yang miskin kita gratiskan. Kalau dia nggak mengenyam pendidikan, bagaimana bisa hidup layak, wajib. Tetapi juga jangan lupa, sebuah bangsa bisa bangkit terbang tinggi kalau ada critical mass, ada sekelompok anak bangsa yang memang memiliki penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi yang tinggi, yang bisa melakukan inovasi, yang berpikir kreatif dan kemudian memberikan nilai tambah atau added value pada perekonomian kita. Itu harus kita jalankan secara bersama. Dan satu lagi salah satu kebijakan dasar kita, yang kita tuju bukan hanya knowledge atau pengetahuan, tidak harus semua memasuki perguruan tinggi tapi kita juga mengedepankan skill (keterampilan) karena di situlah akar produktivitas dari berbagai kegiatan perekonomian kita, industri, dan sebagainya. Dalam kaitan itu sesuai dengan kebijakan dan strategi kita sendiri di bidang pendidikan, maka kerja sama dengan negara sahabat yang bisa memperkuat semuanya itu menjadi penting.
Saudara-saudara,
Saya juga membicarakan dengan Presiden Lee Myung-Bak kerja sama di bidang, sebenarnya bantuan Korea Selatan terhadap Indonesia terhadap ASEAN yang disebut Official Development Assistant. Saya mengajukan kemarin agar ODA ini kepada Indonesia bisa diwujudkan dalam bentuk research and development (R&D), dan lebih-lebih kalau bisa dikaitkan dengan apa yang sekarang menjadi agenda besar yaitu climate change, energy security, and food security. Oleh karena itu, kemarin ketika Presiden Lee mengajak saya sendiri untuk meninjau pameran green growth technology, saya sungguh tertarik dan saya sudah meminta Pak Nuh, Menteri Komunikasi dan Informatika, untuk mendalami lagi karena apa yang dipamerkan kemarin klop betul dengan yang diinginkan oleh kita di Indonesia berkaitan dengan energi yang ramah lingkungan, yang efisien, kemudian juga tata ruang pengelolaan daerah aliran sungai, pengelolaan sampah, mobil yang efisien jauh dari polusi dan sebagainya. Saya ingin ini juga bisa dikerjasamakan dalam format Official Development Assistant, dan dalam format research and development sebagai bentuk kerja sama bilateral kita.
Saudara-saudara,
Kemudian tentu baik teman-teman saya para pemimpin ASEAN maupun saya sendiri, menyatakan keprihatinan saya terhadap situasi keamanan di Semenanjung ini, dan berharap semuanya bisa diselesaikan secara damai, agar stabilitas dan perdamaian kawasan tetap dapat dipelihara. Dan kami sungguh ingin six-party talks itu bisa diwujudkan kembali sehingga tidak terjadi katakanlah ancaman bagi perdamaian dan keamanan wilayah Asia Timur ini. Saudara-saudara itu yang sangat penting hubungan kita dengan Korea Selatan, dan saya sudah menyampaikan kepada para Duta Besar tadi pagi untuk menindaklanjuti, diikuti semua yang telah saya bicarakan dengan Presiden Lee Myung-Bak.
Saudara-saudara,
Yang terakhir sebelum saya memberikan kesempatan kepada Saudara untuk bertanya, kemarin juga Perdana Menteri Vietnam bertemu dengan saya, di samping ingin meningkatkan kerja sama bilateral Vietnam-Indonesia, beliau juga ingin masalah-masalah yang berkaitan dengan nelayan Vietnam, yang ini menjadi bagian dari kerja sama kelautan dan perikanan bisa dikelola dengan baik. Sama dengan masalah yang dihadapi Indonesia, misalnya ada sejumlah nelayan kita dengan tidak sengaja memasuki wilayah Australia tentu saja meskipun Australia harus menegakkan sistem hukumnya, kita punya kepentingan agar mereka diberlakukan baik-baik, yang disebut dengan fair treatment, hak-haknya dilindungi dan kemudian ada kerja sama bilateral untuk menegakkan mekanisme, prosedur dan bagaimana cara-cara penyelesaian dengan baik.
Hal yang sama nampaknya diangkat oleh Vietnam, mengingat hubungan kita begitu baik, kita pun sudah bisa menyelesaikan batas landas kontinen, Vietnam dan Indonesia sekarang sedang merundingkan tentang Zona Ekonomi Eksklusif, satu langkah maju, tidak banyak negara seperti Vietnam yang sangat serius untuk menyelesaikan batasnya. Mereka punya persoalan dengan beberapa nelayan yang masuk perairan kita, kemudian tentu ditangkap, diadili, dan sebagainya. Vietnam ingin agar ini bisa dilakukan dengan mekanisme dan proses yang baik dan mereka sangat khawatir terhadap nelayan-nelayan tradisional mereka, yang dikatakan sebagai orang-orang yang miskin. Saya menjawab kemarin bahwa kita ini memiliki hubungan baik, Vietnam-Indonesia, tentu saja semua masalah yang muncul mesti dapat kita selesaikan dengan baik.
Saya menawarkan kemarin pada tingkat menteri dan tingkat pejabat utama, bisa segera bertemu untuk merundingkan sebaik-baiknya. Kemudian Vietnam juga mengajukan semacam joint patrol tapi kalau saya lebih tepat coordinated patrol, patroli laut bersama-sama, untuk mengawasi wilayah perbatasan Vietnam dengan Indonesia, sehingga tidak terjadi yang disebut dengan pelanggaran-pelanggaran wilayah yang sesungguhnya unintentional (tidak direncanakan). Saya sambut karena kita juga melakukan hal yang sama dengan Malaysia dan Singapura untuk mengamankan Selat Malaka yang kita sebut dengan coordinated patrol yang dilaksanakan oleh Angkatan Laut di antara kedua negara, Angkatan Udara dalam porsi tertentu juga bisa kita berikan untuk misi ini.
Saya sudah menginstruksikan kepada jajaran kita agar segera bisa dilaksanakan pertemuan, bisa begini saja melihatnya kalau itu memang traditional fishing, dari segi kurang kapalnya, siapa yang ada di situ. Kita tahu bahwa itu traditional fishing, maka perlakuannya tentu harus bijak karena mereka terus terang seperti saudara-saudara kita, nelayan-nelayan kecil yang ingin mencari sesuap nasi, jiwa dan raganya dipertaruhkan mengarungi samudera seperti itu. Ini juga ada aspek kemanusiaan, ada aspek humanity, tetapi kalau kapal-kapal besar, ya besarlah itu, tentu tidak bisa begitu saja masuk ke wilayah kita karena di samping mengganggu kedaulatan, juga tentu untuk ekonomi kita tidak baik. Kita akan jernih melihat seperti itu nanti sehingga ada format kerja sama yang tepat dan bijak.
Itulah Saudara-saudara yang saya sampaikan, saya beri kesempatan yang ingin mengajukan pertanyaan.
Rizky Andriati, Jurnal Nasional
Selamat Pagi, Pak Presiden, saya Rizky dari wartawan koran harian Jurnal Nasional. Pak, saya mau bertanya mengenai konflik Korea Utara dan Selatan khususnya mengenai uji coba nuklir Korea Utara awal pekan kemarin. Pemerintah Jepang dan juga pemerintah Korea Selatan mengusulkan agar DK PBB mengeluarkan sanksi baru yang dirumuskan dalam resolusi. Sebagai Kepala Negara, apakah resolusi itu dipandang perlu Pak, resolusi Badan Korea Utara itu?
Yang kedua, adakah hasil lain menawarkan mekanisme untuk menyelesaikan konflik ini Pak, konflik Korea Utara dan Korea Selatan ini, secara khusus karena selama ini resolusi PBB tidak pernah dipatuhi dan juga substansi resolusi selalu mandek Pak? Terima kasih
Presiden Republik Indonesia
Baik, benar Dewan Keamanan tengah memikirkan untuk sebuah resolusi baru. Saya mempercayakan kepada Dewan Keamanan untuk mengambil langkah-langkah yang tepat kalau itu dipandang perlu resolusi baru dan itu membawa kebaikan, tujuan akhirnya kan agar keamanan dan stabilitas Asia Timur, Semenanjung Korea itu bisa dicapai. Saya kira ada baiknya kalau resolusi tidak dikeluarkan, tetapi mesti ada langkah-langkah yang workable, yang enforcible, yang betul-betul kuat bisa mempengaruhi keadaan itu juga dimungkinkan. Saya pandang, memang Dewan Keamanan perlu melakukan sesuatu pada saat sekarang ini.
Dan seperti apa resolusinya, ya tentu Dewan Keamanan yang lebih tahu karena bisa saja satu resolusi dikeluarkan belum dipatuhi atau dipatuhi sebagian, kemudian muncul resolusi yang baru agar sekali lagi bisa mengikat. Yang penting bagi saya, karena Dewan Keamanan itu juga ada China, Rusia, Prancis, Inggris dan Amerika sebagai anggota tetap dan ada sepuluh lagi anggota tidak tetap, maka diharapkan saya semua sungguh serius untuk melihat masalah ini. Jangan lupa Cina atau Republik Rakyat Tiongkok itu juga anggota Six-Party Talks yang mestinya semua tahu sangat bisa China berkomunikasi lebih baik dengan Korea Utara, dengan demikian kecemasan masyarakat global bisa disampaikan dengan lebih baik lagi kepada pihak Korea Utara. Itu yang pertama, saya pandang perlu memang Dewan Keamanan melakukan sesuatu dan sesuatu itu kalau itu sebuah resolusi dan itu resolusi itu menjadi solusi diharapkan untuk keamanan dan stabilitas kawasan, saya kira ada baiknya.
Yang kedua, ASEAN sebenarnya tidak menawarkan format baru karena formatnya sudah ada, Six-Party Talks. Merekalah yang lebih relevan, merekalah yang lebih memiliki otoritas, merekalah yang sebetulnya lebih efektif sebagai forum untuk—apa namanya—menyelesaikan masalah ini meskipun ASEAN baik sebagai organisasi maupun anggota-anggotanya, individual member of ASEAN, itu juga selalu sedia termasuk Indonesia untuk ikut berkontribusi dalam penyelesaian masalah di Semenanjung Korea ini, demikian.
Suhartono, Kompas
Pagi, Pak Presiden. Suhartono, Kompas, Pak. Dua hal Pak, yang pertama pidato Bapak kemarin saya kira cukup menarik karena Bapak mengajak ASEAN dan Korea Selatan membuka babak baru hubungan yang jauh ke depan. Di situ Bapak mengajak tidak sekedar hubungan pemerintah, bangsa, tetapi juga dari sisi kemanusiaan, masyarakat dengan masyarakat, sesuatu hal yang sangat baru dan sangat dalam. Saya kira itu perlu tantangan karena selama ini meskipun sudah ada komunikasi dan realisasinya masih belum optimal. Kira-kira sebetulnya apa perlu ada satu teroboson baru Pak untuk lebih meningkatkan sinergi people-to-people itu sendiri. Mungkin Bapak punya jalan, mungkin bisa dielaborasi lagi untuk lebih memperkuat dialog masyarakat.
Yang kedua Pak, masih memperdalam pertanyaan dari rekan saya. Tadi saya baca di Korea Times tadi pagi, Pak Dubes dalam wawancaranya itu mempertimbangkan kepentingan Indonesia agar memberikan utusan khusus Pak dalam penyelesaian di Semenanjung Korea. Menurut Pak Dubes, Indonesia mungkin bisa saja mengirim. Apakah pemerintah kita akan merealisasikan? Tentu ini hal yang baik sekali. Terima kasih
Presiden Republik Indonesia
Baik, yang pertama, begini cara melihat kerja sama strategis, apalagi ASEAN dengan Korea Selatan, tidak serta merta satu goal itu bisa diwujudkan hari ini atau tahun depan atau tahun depannya lagi. Itu sebuah proses. Jadi, kalau ada komitmen negara-negara ASEAN, sepuluh negara ASEAN dengan Korea Selatan, untuk saling meningkatkan people-to-people contact dengan secara bilateral seperti ini, itu pun sebuah proses. Saya tetap optimis dan sebetulnya kalau dari segi itu antara Indonesia dan Korea jauh lebih maju dibandingkan Indonesia dengan negara lain, karena komitmen yang telah disepakati itu akan terwujud over time begitu, dengan sekali lagi proses yang sama-sama kita perlukan.
Yang saya optimis—mengapa saya menawarkan seperti itu—Presiden Korea kemarin menawarkan misalnya setiap tahun—saya lupa angkanya—7000 mahasiswa dari negara ASEAN untuk bisa belajar di Korea. Tentu, saya yakin pihak Korea juga akan mengirimkan sejumlah mahasiswanya untuk studi di negara-negara ASEAN. Ini konkrit, ini nyata, ini human capital, dan itu nanti menjadi agent untuk mengokohkan kerja sama strategis di waktu yang akan datang.
Indonesia akan mengambil peluang sebaik-sebaiknya. Dengan demikian, kita juga mendalami teknologi, juga bisa mengenal budaya Korea yang terkenal dengan semangat, tekad, dan kerja kerasnya. Dengan demikian, saling belajarlah antara civilization Indonesia dengan Korea, juga masalah-masalah yang lain.
Tentu juga pada tingkat hubungan antar parlemen, hubungan antara NGO, hubungan dengan media massa, saya akan dorong bagian-bagian dari komitmen pertemuan puncak ini yang kita ingin masuk lebih dalam lagi dari people-to-people contact. Tapi, segalanya pendidikan. Dari bisnis juga demikian. Ini terus terang ya, saya itu nyaman betul hubungan dengan Korea Selatan dari segi perdagangan dan investasi dan hubungan bisnis lainnya dan sekali lagi opportunity. Saya kerap bertemu dengan businessmen dari Korea Selatan yang ke Indonesia ingin melakukan kerja sama, saya juga mendorong businessmen kita untuk melakukan hal yang sama di tempat ini.
Yang kedua, apakah Indonesia bisa mengirimkan utusan khusus? Saya katakan tadi Indonesia itu selalu ingin, kita juga sering pro aktif, kita juga bisa melakukan inisiatif, banyak sekali yang kita lakukan ketika ada kebuntuan di Libanon beberapa saat yang lalu, Indonesia berinisiatif untuk menggelar pertemuan puncak OAC di Kuala Lumpur. Kami juga berinisiatif mengirimkan kontingen Indonesia di Libanon dan banyak hal. Khusus dengan Korea Utara ini, kita punya utusan khusus atau special envoy, Bapak Nana Sutrisna, dan selama ini saya tugasi untuk terus memantau perkembangan dan setiap saat mencari peluang apa yang bisa dilakukan. Beliau juga pernah pernah saya utus untuk ke Korea Selatan beberapa tahun yang lalu untuk memelihara komunikasi dan apa pun yang bisa dipertahankan.
Kita akan melihat perkembangan, kita harus realistis, terus terang kalau urusan Korea Utara mungkin yang paling didengar itu China dibandingkan dengan negara-negara lain. Tidak berarti negara seperti Indonesia tidak punya peluang untuk itu. Saya tidak ingin—apa namanya—mendahului dan keluar dari realitas, kita lihat seperti apa mekanisme di Dewan Keamanan PBB? Seperti apa perkembangan ke depan? Kemudian, kalau ada peluang juga, peluang seperti apa bagi Indonesia? Tapi satu hal yang perlu saya sampaikan, Indonesia akan terus memainkan peran yang aktif pada hubungan internasional.
Mohamad Isnen Suhanda, RRI
Selamat pagi, Pak, assalamualaikum. Saya Mohamad Isnen Suhanda dari RRI Pak. Saya ingin bertanya pada kepada Bapak sehubungan dengan lawatan Bapak ke Korea Selatan. Kan kita tahu semua negara dampak krisis global itu masih terus menjerat negara-negara ASEAN termasuk Korea Selatan Pak. Adakah asistensi atau bantuan yang ditawarkan Korea Selatan kepada negara-negara ASEAN untuk, katakanlah, mengatasi dampak resesi ekonomi global ini? Dan apakah nanti ini akan dibawa ke dalam KTT ASEAN yang akan dilaksanakan di Thailand, dari pembicaraan antara kepala negara ASEAN dengan Korea Selatan?
Yang kedua Pak, saya ingin tanyakan walaupun tidak ada hubungannya dengan kunjungan Bapak ke Korea Selatan, ini mengenai demokrasi, proses demokrasi di Myanmar, Pak. Baru-baru ini kan tokoh demokrasi Suu Kyi diadili tanpa secara terbuka dan apakah ini menjadi concern dari negara-negara ASEAN mengingat kawasan negara ASEAN yang begitu mantap dengan demokrasinya dan stabilitas keamanannya? Terima kasih
Presiden Republik Indonesia
Baik, yang pertama, sebagaimana yang disampaikan Presiden Korea Selatan kemarin, seperti keinginan untuk menjaga hubungan trade and investment (perdagangan dan investasi) itu kan juga dalam kerangka menyelamatkan perekonomian kawasan, dalam rangka meminimalkan dampak krisis global ini terhadap negara-negara ASEAN. Bayangkan kalau volume perdagangan 10-90 billion—itu setaraf dengan Rp 900 triliun—itu terganggu. Misalkan pihak Korea Selatan begitu saja tidak melanjutkan, meskipun di sini juga ada kesulitan ekonomi, akan mengganggu kita punya pertumbuhan dari masing-masing negara ASEAN.
Yang kedua juga development assistance yang saya katakan tadi, kepada negara-negara ASEAN untuk research and development ataupun kegiatan yang lain. Itu juga sebetulnya kontribusi dari Korea Selatan untuk negara-negara ASEAN.
Jadi untuk diketahui, dalam konteks resesi perekonomian global, ini yang bisa bikin jatuh kan kemandekan dari ekspor ataupun karena pasar di luar negeri menciut atau sangat menciut atau mengalami konstraksi yang luar biasa. Dengan kesediaan untuk tidak masuk pada proteksionisme, itu satu solusi sebetulnya bagi banyak negara. Apalagi Saudara tahu bahwa banyak negara ASEAN yang berorientasi pada ekspor, Indonesia alhamdulillah tidak terlalu tinggi dibandingkan negara-negara lain sehingga yang lain pertumbuhannya minus ASEAN ini kecuali Vietnam barangkali sedikit-sedikit, kita dianggap positif, lumayan apalagi kalau bisa menggapai 4,5% karena komposisi perekonomian kita antara yang ekspor dengan yang bersifat pasar domestik. Itu masalah yang riil yang berkaitan dengan kerja sama perekonomian mengatasi resesi global ini.
Kemudian, yang kedua masalah Myanmar. Sudah ada statement dari ASEAN tentang Myanmar untuk betul-betul menjalankan proses demokrasi sebagaimana yang Myanmar janjikan sendiri kepada kami semua ASEAN, bahkan kepada dunia. Kemudian meskipun katakanlah persoalan dalam negeri tapi urusan hak asasi manusia, urusan nilai-nilai demokrasi yang menjadi bagian dari Piagam Baru ASEAN (New ASEAN Charter), hubungan di antara kita semua dalam konteks mayarakat, politik, dan keamanan, tentu piagam ASEAN Political and Security Community tidak bisa lepas-lepas begitu.
Oleh karena itu, saya mendukung sikap ASEAN yang secara firm meminta kepada Myanmar untuk betul-betul menjalankan apa yang ada dalam piagam ASEAN sebagai satu piagam keluarga besar ASEAN, yang juga sesuai dengan komitmen Myanmar sendiri. Indonesia memiliki hubungan khusus, sesungguhnya saya memiliki komunikasi tersendiri dengan Jenderal Tan Shwe di samping ASEAN dengan Myanmar, dan tidak kurang-kurang saya juga terus berkomunikasi untuk memastikan mereka, persatuan atau kesatuan nasional Myanmar, terguncang karena proses politik yang tidak stabil. Kita dukung dua-duanya seraya mempertahankan keutuhan dan stabilitas nasional mereka, tapi demokratisasi harus berjalan karena itu komitmen Myanmar sendiri dan ada dalam charter ASEAN.
Tomy Cahyo Gutomo, Jawa Pos
Saya Tomy dari Jawa Pos, kemarin Bapak Presiden bertemu dengan para Pemimpin ASEAN dan Presiden Korea Selatan. Tentunya parlemen ASEAN tahu bahwa Indonesia sedang memiliki hajatan demokrasi, kemarin pemilu legislatif dan ke depan pemilu presiden. Saya ingin, bisa cerita bagaimana komentar mereka, mereka tentu tahu bahwa Presiden akan menjadi salah satu kandidat di Pilpres nanti? Mungkin ada komentar dari Lee Myung Bak atau Pemimpin ASEAN yang lain tentang Pilpres yang diadakan di Indonesia.
Yang kedua soal, tadi dibicarakan tentang hubungan perbatasan dengan Vietnam, sepertinya ketika masalah perbatasan dengan Vietnam lebih mudah dikomunikasikan ketimbang dengan Malaysia. Kita tahu beberapa hari yang lalu, mungkin sekarang sedang terjadi kapal Malaysia masuk di Kawasan Ambalat dan apakah mungkin kemarin ketika bertemu dengan Perdana Menteri Malaysia tidak sempat itu disinggung seperti itu? Terima kasih
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono
Kalau yang pertama, teman-teman saya normatif biasanya, selalu mendoakan tahu Indonesia sedang ada election. Mereka memantau dan senang, perkembangannya baik, demokratis dan normatif. Ini tata krama, mendoakan misalkan saya bisa menjalankan proses demokrasi ini dengan baik, apa namanya berhasil dalam pemilu. Tidak ada sesuatu yang luar biasa karena itu sebagai bagian dari etiketlah, kita untuk saling mendoakan yang baik gitu. Tapi tentu tidak masuk dalam politik praktis karena kami bisa menjaga jarak dengan baik satu sama lain.
Yang kedua Ambalat, ini kadang-kadang antara realitas dengan apa yang bergulir juga berbeda. Saudara-saudara, menangani persengketaan batas wilayah antara Indonesia dengan negara sahabat termasuk Indonesia dengan Malaysia itu harus betul-betul tepat, menggunakan sistem dengan diplomasi yang gigih dan menurut cara-cara yang tepat pula untuk menterjemahkan kata-kata civilized. Sejak dulu saya katakan bahwa apa yang diklaim oleh Malaysia itu tidak bisa kita terima, karena Indonesia yakin itu wilayah Indonesia. Saudara tahu saya pernah naik kapal perang sampai di ujung perbatasan itu, hanya satu meter itu sudah Malaysia. Saya katakan waktu itu, sejengkal tanah pun kalau itu sejengkal wilayah laut pun, kalau itu wilayah Indonesia harus kita pertahankan, tidak ada kompromi, tidak ada toleransi dan itu harga mati. Tapi cara menyelesaikannya kan tidak harus mengobarkan peperangan, kita sama-sama negara ASEAN, ada Piagam ASEAN, ada diplomasi, ada penyelesaian secara damai.
Jadi jangan beretorika, hanya karena Anda pemimpin yang berani, yang gagah, terus mengobarkan perang di mana-mana. Ingat perang itu jalan terakhir, kalau boleh cara lain, kita sudah menggunakan cara-cara yang lain, yang lebih bermartabat dan mendatangkan masalah bagi sebuah bangsa yang sedang membangun, yang anggaran APBN-nya lebih banyak diarahkan untuk kesejahteraan rakyat dan bukan untuk urusan perang, katakanlah seperti itu.
Posisi itu sangat jelas. Oleh karena itu, saya sejak bertemu dengan pemimpin Malaysia selalu mendorong segera dilanjutkan, segera secara intensif dilakukan perundingan batas wilayah itu terutama yang berkaitan dengan wilayah di sekitar Ambalat. Ini saya tegaskan sekali lagi kepada seluruh rakyat Indonesia, posisi kita jelas: yang diklaim itu wilayah Indonesia dan kita tidak bisa terima, dan boleh karena itu, kita jaga dan kita lanjutkan negosiasi untuk itu.
Yang kedua, ini bukan insiden hari Sabtu saja semacam pelanggaran wilayah dari kapal Malaysia. Saudara tahu sejak kejadian dua tahun yang lalu sudah saya instruksikan TNI melakukan operasi pengamanan wilayah, pengawasan wilayah. Jadi, ada atau tidak ada pelanggaran, ada di situ. Sekarang ini terdengar enam kapal perang dengan tiga pesawat udara punya Angkatan Laut. Barangkali pihak Malaysia mengklaim tempat itu bisa saja dia patroli, tetapi ketika masuk wilayah kita, jelas kita halau dan itu yang kita lakukan kemarin. Saya sudah bicara langsung dengan KASAU, saya bicara langsung dengan Panglima TNI dan mereka tetap menjalankan tugas sebagaimana yang saya instruksikan beberapa tahun yang lalu: mengawasi, mengamankan wilayah itu. Karena ini saya pandang masih pada tingkat Menteri, Menlu kita juga sudah bicara dengan Menlu Malaysia kemarin, agar dijadikan atensi janganlah mengganggu proses perundingan yang sedang kita lakukan.
Yang jelas, saya katakan kalau sudah urusan kedaulatan, tidak ada kompromi. Kita dengan Malaysia saudara dekat, tetangga dekat, selalu ingin menyelesaikan masalah sebaik-baiknya. Misalnya ada masalah silang pendapat tentang lagu, ini lagu asli Malaysia atau lagu asli Indonesia, batik, reog, apa lagi? Manohara, itu masalah pribadi. Maksud saya itu bisa kita selesaikan dengan pendekatan yang tepat, tapi kalau kedaulatan bagi saya harga mati, nggak bisa, nggak bisa karena tetangga baik, karena saudara dekat, kedaulatan, kedaulatan karena itu eksistensi negara, kita bedakan.
Jadi, saya memilih cara-cara yang lebih familiar penyelesaian antar family, bangsa serumpun yang tadi-tadi itu, tapi kalau kedaulatan ini urusan state, urusan negara yang harus diselesaikan dengan tegas dan sesuai dengan kepentingan kita. Demikian dan jangan ditambah lagi, sekarang pun masalah demikian, tidak ada. Hari Sabtu sudah kita halau, sudah kembali, jangan ditambah-tambah lagi oleh Saudara, “Sekarang pun masih berkeliaran.” Dari mana? Kecuali kalau saya cek lagi ke KASAL. Sekarang ada yang berkeliaran, saya kira sudah dihalau. Kita tegas untuk itu, cukup?
Ini soal Manohara karena sudah muncul, saya ini hati-hati untuk mencampuri urusan rumah tangga, urusan keluarga. Saudara melakukan perkawinan, ada masalah, masa Presiden intervensi tiba-tiba, kebebasan bagaimana, demokrasi bagaimana, human right bagaimana, tetapi karena sudah menjadi isu publik jangan dikira saya tidak peduli. Awal bulan lalu saya sudah menyampaikan kepada Duta Besar kita yang ada di Malaysia, waktu saya membuka ASEAN Development Bank Annual Meeting. Saya minta penjelasan waktu itu karena saya tidak bisa bicara langsung dan saya masuk acara melalui ADC saya, dijawab oleh Duta Besar kita, Pak Da’i Bachtiar, bahwa itu terus dilakukan proses itu. Beliau sudah menulis surat kepada Menteri Luar Negeri Malaysia tentang masalah ini, semacam keberatan dan concern begitu, sudah meminta waktu kepada Sultan Kelantan tapi belum disediakan waktunya. Ada aksi dari Duta Besar kita, dan beberapa saat disampaikan bahwa Manohara dalam keadaan baik-baik saja, kegiatan sosial dan ini dan itu. Jadi ada aksi dari Duta Besar kita meskipun itu urusan rumah tangga katakanlah.
Kemudian, saya pesan memang kepada Menlu, kepada Duta Besar, kelola dengan baik, tahu batasnya mana itu yang urusan rumah tangga betul, suami istri, keluarga, mana kalau itu sudah katakanlah menyangkut isu hak asasi manusia. Kita punya ruang untuk ikut masuk di wilayah itu. Kemarin saya dilapori memang ada kejadian, jadi bicara Manohara sekarang ini. Enggak apa-apa, karena warga negara kita bagaimanapun. Warga negara Indonesia masih.
Saya sebagai Kepala Negara tentu mempunyai kepentingan, meninggalkan Singapura kembali ke Indonesia, dan Duta Besar kita juga membantu. Jadi, sebetulnya pada tingkat negara, pada tingkat pemerintah kewajiban kita pada porsi-porsi tertentu yang tepat kita lakukan. Tentu kita harus tahu dengan jelas apa yang sesungguhnya terjadi urusan rumah tangga itu, suami-istri dan keluarga besarnya, supaya kita mendapatkan jawaban yang utuh mana itu yang wilayah keluarga, rumah tangga, mana yang domain negara, untuk kita memberikan proteksi, perlindungan dan bantuan.
Saya tidak ingin gegabah mengatakan yang benar A, yang benar B, tapi saya sudah meminta melalui Menlu kemarin agar Duta Besar Malaysia melakukan aksi-aksi lanjutan dan melaporkan nanti kepada Menlu sajalah nggak usah sampai saya tentang duduk persoalan yang sesungguhnya dan langkah-langkah apa yang bisa dilakukan ke depan.
Kemudian kepada Manohara kalau memang ada sesuatu yang ingin disampaikan secara formal, sampaikan secara formal. Kalau itu sudah pantas pemerintah, negara, ikut menyelesaikan untuk membantu. Lebih bagus disampaikan, boleh menyampaikan pada pers, karena itu menjadi menarik tapi saya minta juga disampaikan baik-baik. Dalam hal ini, barangkali Menteri Luar Negeri yang lebih tepat karena beliau berdomisili di Malaysia, tujuan kita membantu, tujuan kita melindungi warga negara kita manakala mendapatkan perlakuan yang tidak baik dan kemudian setelah selebihnya itu urusan pribadi, domain, rumah tangga, domain keluarga, mari kita jernih melihat ini, jangan dilihat dari segi entertainment karena sudah antar negara tapi letakkan dalam letak yang jernih dan tepat.
Gunanto, Koran Tempo
Makasih Pak atas kesempatannya, mohon maaf ni Pak kalau pertanyaannya agak serius lagi topiknya Pak tadi. Korea menawarkan sebuah konsep baru dalam perubahan ekonomi yaitu green growth economic dan ini juga ditawarkan kepada negara-negara ASEAN untuk bersama-sama menjalankan konsep ini Pak. Apakah Indonesia juga tertarik Pak mengaplikasikan konsep ini agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya sekedar mensejahterakan rakyat tapi juga terhadap ramah lingkungan?
Yang kedua Pak, dalam pertemuan kemarin Presiden Lee Myung Bak juga menawarkan pinjaman baru Pak untuk negara-negara ASEAN, untuk hal ini apakah Indonesia berminat untuk menggunakan fasilitas tersebut? Terima kasih.
Presiden Republik Indonesia
Yang pertama, kalau ditanya tertarik atau tidak tertarik dengan green growth concept, green growth technology, yang dikembangkan di Korea Selatan, saya sangat tertarik. Itulah sebabnya setelah saya melihat kemarin display, ekshibisi dari green growth technology itu. Pak Nuh, Pak Menteri saya tugaskan untuk mendalami lagi karena konsep-konsepnya relevan dan bisa kita kembangkan. Memang memerlukan biaya yang tidak sedikit, Saudara. Bedanya negara maju dengan negara yang kemajuannya belum seperti Korea, GDP kita meskipun alhamdulillah dibandingkan sebelum krisis apalagi masa krisis sudah jauh meningkat, 2000 lebih sekarang ini. Dibandingkan dengan income per kapita maksud saya, income per kapita Indonesia dibandingkan dengan income per kapita Korea kan jauh sekali sehingga mereka mempunyai kemampuan secara finansial untuk mengembangkan green growth technology. Tapi konsepnya, idenya itu bagus, bisa kita kembangkan dan saya katakan tadi khusus kerja sama di developmet assistance, kita kerja sama dengan Korea Selatan, kita arahkan pada research and development yang arahnya pada green growth technology, mudah-mudahan bisa kita kembangkan.
Saudara juga tahu mengapa dalam mengukur pertumbuhan jangan setinggi-tingginya, kalau hanya growth yang dicari, belum tentu pada grass root pada rakyat mendapatkan tetesan pada teori trickle down effect. Itulah sejak awal harus inklusif, termasuk bagaimana spending kita untuk memelihara lingkungan, ini akan ditata semuanya sehingga growth itu sustainable, adil bagi semua. Kesimpulannya Indonesia tertarik, saya tertarik dan kita akan bekerja sama untuk itu.
Kemudian yang kedua begini, kalau soal pinjam meminjam itu tergantung negara-negara tertentu, negara-negara ASEAN yang lain. Orang meminjam itu kalau perlu, kalau tidak meminjam ekonominya collapse meskipun meminjamnya diukur apakah dalam kemampuan GDP untuk mengembalikannya. Jadi kalau kita punya hutang sejak mendiang Bung Karno terus, dari Presiden ke Presiden, sampai sekarang. Saya tidak menyalahkan beliau-beliau itu. Memang pemerintahan waktu itu hutang itu solusi, hutang itu menyelamatkan perekonomian, hutang itu dan sebagainya dan sebagainya. Ketika ada krisis itu yang tidak sehat karena perbandingan utang dengan GDP menjadi jomplang, pendapatan kita untuk bayar utang nggak cukup, itu puncak 1998-1999, tahun 2000. Waktu saya memimpin masih 53,4%, separuh lebih dari GDP kita untuk bayar hutang.
Itulah yang kita perbaiki terus menerus. Sekarang pada tingkat 32% yang jauh-jauh lebih rendah dibandingkan negara lain termasuk negara ASEAN. Meskipun rendah, Indonesia tidak selalu tergoda dengan berhutang baru manakala tidak diperlukan. Sudah ada namanya Chiang Mai Initiative, Multilateralism yang Korea juga berkontribusi, itu untuk kalau terus swap arrangement. Manakala kita menghadapi gejolak pasar, ketidakpercayaan pasar terhadap perekonomian kita, dan ada swap untuk itu kita gunakan.
Tetapi yang jelas, yang kita miliki sekarang cukup second line of defense kita. Pertahanan kedua di bidang kredibilitas keuangan cukup. Saya memandang perlu belum perlu melakukan pinjaman meskipun ditawarkan oleh Korea Selatan. Saudara-saudara politik anggaran, berapa besarnya hutang untuk stimulasi pertumbuhan, untuk menutup defisit kita, itu semuanya dihitung secara matang, karena sekali lagi jangka pendek solusi, tapi jangka panjang jangan sampai menjadi beban. Kita lihat utuh, mengelola negara enggak boleh hanya untuk jangka pendek, kepentingan sesaat tapi juga untuk long term business. Demikian Saudara. Terima kasih.
Wassalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



