Ruang Pers

Keterangan Pers Presiden

Tentang Isu Aktual

 

TRANSKRIPSI
KETERANGAN PERS PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
MENGENAI
ISU AKTUAL SAAT INI
KANTOR PRESIDEN, 4 AGUSTUS 2009



Presiden Republik Indonesia
Apa isunya hari ini? Apa?

Wartawan
Mbah Surip, Pak. (serentak)

Presiden Republik Indonesia
Untuk Mbah Surip dulu ya. Ya saya mendengar laporan, bahwa Mbah Surip meninggal dunia hari ini. Saya ikut berbelasungkawa dan mendoakan, semoga beliau di terima di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa dengan tenang, sesuai dengan amal baktinya selama hidup di dunia.

Kita mengenal beliau seorang seniman, sosok yang sederhana, yang mencurahkanlah hidupnya untuk mengembangkan seni dengan cara-cara yang beliau pilih. Saya berharap paguyuban musik ataupun barangkali pemerintah daerah ikut membantu pemakaman beliau, memberikan bantuan yang diperlukan. Dan yang penting terhadap sosok seperti ini, siapa pun, saya selalu mendapatkan pelajaran yang berharga, semangat dari orang-seorang, siapa pun yang patut kita teladanilah pada bidang apapun. Kebetulah Mbah Surip kita kenal di bidang seni musik ataupun berkaitan dengan bidang seni. Baik, itu masalah Mbah Surip.

Sdr. Kamal, Koran Jakarta
Kamal dari Koran Jakarta, Pak. Ingin tanya, bagaimana perkembangan dengan penyusunan kabinet mungkin ada yang baru, Pak dan bagaimana koalisi, Pak?

Presiden Republik Indonesia
Kabinet. Ya kalau kabinet, memang tahapannya belum ya. Saya mengikuti pemberitaan di media massa selama ini, sudah agak lama saya kira, sudah mungkin seminggu, dua minggu ini yang mulai membicarakan perihal kabinet pada pemerintahan yang akan datang. Saya juga mendengarkan banyak sekali pandangan dari saudara-saudara kita, dari publik, dari pengamat, dari rakyat yang kira-kira. Kalau saya pahami ya kabinet mendatang betul-betul kabinet kerja, kabinet yang profesional, kabinet yang bisa menjalankan tugas dengan baik. Saya kira cocok dengan apa yang saya pikirkan juga dan meskipun saya juga mendengar, jangan sampai menjadi semacam dagang sapi. Jangan sampai Presiden terpilih itu didikte oleh partai-partai politik untuk mewadahilah jago-jagonya.

Saya mendengar semuanya dan percayalah, pada saatnya nanti, sekarang belum, Saudara-saudara. Inikan tahapannya sekarang kita masih mengikuti persidangan di Mahkamah Konstitusi ya. Jika insya Allah Mahkamah Konstitusi mengukuhkan, katakanlah apa yang disampaikan oleh KPU hasil pemilihan Presiden dan Wakil Presiden tahun ini, dan jika Insya Allah saya terpilih kembali, yang ada dari sekarang ini sampai dengan 20 Oktober adalah satu, masa transisi. Transisi ini juga terjadi di parlemen, bahkan saya kira lebih cepat lagi, di pemerintahan juga. Jadi tentu tugas Presiden dan Wakil Presiden terpilih pada masa transisi ini mengutamakan terlebih dahulu seperti apa agenda dan prioritas pemerintah 5 tahun mendatang.

Kalau bicara kabinet, membayangkan struktur barangkali, meskipun ada undang-undang yang harus kita pedomani untuk menyusun kabinet. Tetapi barangkali kita mengambil pelajaran dari 5 tahun ini, mana yang harus kita tajamkan fungsi dari masing-masing departemen, kementerian kita bikin tajam, dan banyak hal agar pemerintahan mendatang lebih efektif.

Kita juga mengetahui Saudara-saudara, dan ini banyak sekali disuarakan dimana-mana. Ingat sistem yang kita anut adalah sistem kabinet presidensil, bukan kabinet parlementer. Meskipun saya pernah mengatakan demokrasi yang kita anut ini demokrasi multipartai. Sebenarnya tidak klop benar antara kabinet presidensil dengan demokrasi multipartai. Oleh karena itu, jalan tengahnya, solusinya, tetap kabinet presidensil. Tetapi agar terjadi stabilitas politik yang baik, dan pemerintah bisa bekerja dengan baik pula, maka sebagaimana yang terjadi pada periode ini maupun periode sebelumnya di jajaran eksekutif, utamanya kabinet, kita juga mewadahi unsur atau representasi dari partai-partai politik tertentu. Demikian juga di tingkat Dewan Perwakilan Rakyat atau parlemen juga ada semacam koalisi itu, meskipun tidak tajam benar, sebagaimana sistem kabinet parlementer, ada the ruling party, ada the oposition party, tapi hakikatnya semacam itu.

Kalau kita bicara tadi disampaikan juga koalisi, saya pernah menyampaikan rasanya, bahwa koalisi yang sudah terbangun pada pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang lalu, itu menjadi format utama sebenarnya, menyangkut kebersamaan nanti, baik di kabinet maupun di DPR RI. Namun demikian, selalu ada ruang ya untuk kebersamaan yang lebih luas lagi ke depan. Dengan catatan, semuanya harus dijamin keadilannya. Keadilannya itu, ya dalam perjuangan kemarin misalnya, saya berjuang bersama-sama partai-partai tertentu yang berkoalisi, yaitu tentu menjadi pertimbangan utama. Dan andaikata ke depan ada kebersamaan yang lebih luas, tentu ditata. Sekali lagi, kuncinya betul-betul adil. Dan ini sedang bergerak, sedang mengalir. Saya selalu terbuka terhadap pemikiran-pemikiran yang dapat mendatangkan kebaikan, baik bagi pemerintah, baik bagi rakyat, baik bagi negara. Prinsip saya begitu.

Dan menurut saya, terlalu dini untuk kita membicarakan seperti apa struktur kabinet yang bakal kita tetapkan pada periode mendatang, apalagi menyangkut siapa-siapa yang akan ada di dalam kabinet. Apalagi kalau tiba-tiba bicara jatah-jatahan. Malu kepada rakyat, tidak baik ya. Tentu saya jika insya Allah memimpin kembali, memiliki pertimbangan, yang tentu ya baiklah begitu untuk menjamin keadilan, menjamin tercapainya tujuan yang baik dari susunan pemerintahan yang akan datang.

Saya kira itu yang perlu saya sampaikan pada tahap sekarang ini. Dan masih mengalir ya politik ini, yang penting mari kita pertahankan situasi yang begini baik ya. Saya sungguh bersyukur semuanya berjalan secara demokratis, secara damai. Gugatan kepada Mahkamah Konstitusi itu dibenarkan dalam sistem dan undang-undang yang kita anut. Dan agar semuanya mencapai hasil yang baik, mari tetap kita jaga suasana yang kondusif bagi berlangsungnya demokrasi yang baik pula.

Saya kira sementara itu, Saudara-saudara.
Terima kasih.


*****


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan