Ruang Pers

Keterangan Pers Presiden

Hasil KTT G-20 Pittsburgh

 

TRANSKRIPSI
KETERANGAN PERS PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
KEPADA
PERS INDONESIA YANG MENGIKUTI KUNJUNGAN
KERJA PRESIDEN RI KE KTT G-20 PITTSBURGH
HOTEL WESTIN, PITTSBURGH
24 SEPTEMBER 2009



Bismillahirrahmanirahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Salam sejahtera untuk kita semua,

Para Wartawan yang saya cintai,
Alhamdulillah, kita dapat mengemban tugas negara di Pittsburgh, Amerika Serikat ini dalam rangkaian menghadiri Pertemuan Puncak G-20 yang ketiga kalinya sejak dunia dilanda oleh krisis perekonomian.

Saya ingin memberikan beberapa penjelasan dengan catatan, apa yang sudah Saudara ketahui, agenda dari G-20 Summit ini, kegiatan resmi saya yang lain, maupun apa yang telah diketahui dari para Menteri terkait tidak perlu saya sampaikan kembali. Demikian juga Departemen Keuangan kita telah mempersiapkan satu press release, yang juga nanti bisa diakses. Saya yakin bahwa panitia dari G-20 Summit di Pittsburgh ini juga sudah memberikan beberapa informasi, termasuk konferensi pers Presiden Obama sore tadi dan saya yakin itupun juga sudah diakses oleh Saudara-saudara. Oleh karena itu, yang ingin saya sampaikan adalah hal-hal khusus, termasuk konteks krisis global ini dan dimana Indonesia berada, serta apa peran yang kita lakukan dalam kaitan G-20 ini, serta manfaat apa yang kita peroleh dari kebersamaan kita dalam forum global, khususnya G-20 sekarang ini.

Saudara-saudara,
Setahun sudah dunia dilanda krisis perekonomian yang menurut perbandingan dengan krisis-krisis sebelumnya, resesi global kali ini memang sungguh dalam. Mengapa saya katakan 1 tahun? Saya ingin mengajak Saudara kembali untuk melakukan kilas balik, flashback. Kita ini mudah lupa, jangankan 10 tahun yang lalu, 5 tahun yang lalu, setahun yang lalu pun kadang-kadang kita lupa konteks, kondisi dan situasi yang terjadi pada waktu itu.

Pertemuan Puncak G-20 pertama kali dilaksanakan di Washington DC pada bulan November 2008. Tapi ingat, bahwa sejak bulan September dan puncaknya Oktober, kita sendiri di Indonesia telah melakukan berbagai langkah-langkah sinergi, sinkronisasi, koordinasi yang saya pimpin langsung. Di situ, satu, kita antara pemerintah, pemerintah daerah, dunia usaha yang dalam hal ini dimotori oleh KADIN, para ekonom dan pihak-pihak lain telah bersatu padu untuk menyelamatkan negeri kita waktu itu dari dampak krisis perekonomian global untuk tidak terjadi seperti yang terjadi 10 tahun yang lalu waktu itu.

Alhamdulillah, dengan ridho Allah SWT dan dengan langkah cepat dan tepat, kita waktu itu, sejarah dunia mencatat, Indonesia sebagai salah satu dari sedikit negara yang bisa meminimalkan dampak krisis global ini. Mengapa saya katakan demikian? Karena ketika Indonesia menjadi bagian dari G-20 Summit dan pertama kali, saya mewakili rakyat Indonesia hadir di Washington DC, situasinya waktu itu penuh dengan kepanikan, sangat tidak menentu di Amerika, di Eropa, sebagian di Asia dan di tempat-tempat lain. Saya bertemu dan semua kepala negara, kepala pemerintahan menyampaikan assessment-nya masing-masing, prediksinya masing-masing, penilaiannya masing-masing dan banyak sekali yang kita bicarakan disertai kegamangan, kecemasan dan kepanikan kalau resesi ini menggulung semua keadaan pada tingkat dunia dan runtuh bersama-sama.

Dan waktu itu posisi kita sangat jelas. Mengapa? Karena sebelum berangkat ke Washington, saya mengajak semua untuk bersatu bersama-sama merumuskan posisi Indonesia, proposal Indonesia yang kemudian kita bawa pada pertemuan puncak pertama G-20.

Dalam pertemuan pertama dulu, sebagaimana juga posisi Indonesia kita sepakat yang namanya first thing first. Jangan bicara yang jauh-jauh dulu, pertama-tama kita harus stop the bleeding, ibarat orang mengalami sakit berat, pendarahan, kita hentikan pendarahan itu dulu. Kita sepakat yang penting kita pulihkan kepercayaan global, kemudian sejauh mungkin kita stabilkan keuangan dunia, termasuk pasar modal. Meskipun dibicarakan perlunya reformasi lembaga keuangan dunia seperti IMF, World Bank, bicara regulation, bicara governance, bicara reform, bicara new global financial architecture, new economic order. Tetapi kita sepakat yang penting langkah-langkah tanggap darurat, itulah yang disepakati oleh dunia pada pertemuan puncak G-20 yang pertama.

Bagi Indonesia, kita tidak terlalu surprise dalam arti kaget dan negatif karena kita juga sudah melangkah seperti itu. Saudara masih ingat, 7 prioritas yang saya tetapkan mengatasi krisis, sekaligus 10 directives saya yang saya keluarkan sebelum kita menghadiri pertemuan puncak di Washington dulu.

Setelah itu, semua negara bekerja pada tingkat global, tingkat regional, dalam hal ini ASEAN, ASEAN+ dan tingkat nasional kita. Kita bertemu kembali di London pada bulan Maret, ulangi bulan April 2009. Waktu itu masih juga belum ada tanda-tanda kapan resesi perekonomian global itu berakhir. Banyak yang sudah dilakukan oleh masing-masing negara waktu itu, termasuk groupings dari perekonomian global, Uni Eropa, ASEAN, Amerika Utara dan sebagainya. Berbagai kebijakan, berbagai action dilaksanakan oleh masing-masing negara, tapi waktu itu kita belum bisa melakukan assessment sejauh mana langkah-langkah counter cyclical economy, stimulus yang kita berikan itu menghasilkan sesuatu yang meaningful, waktu itu belum. Bahkan Saudara masih ingat, ada 2 pendapat, 2 kubu yang tadinya keras, tapi akhirnya bisa mencapai titik temu, yaitu yang berpendapat dalam keadaan seperti ini, maksud saya konteks waktu itu yang harus kita lakukan adalah memulihkan kembali dengan menjalankan kebijakan stimulus pertumbuhan, supaya demand bergerak kembali. Kemudian investasi dan perdagangan bisa kita angkat kembali, keuangan kita stabilkan dulu, capital flow terjadi, likuiditas mengalir, dan sebagainya.

Jadi yang diutamakan dulu memang langkah-langkah counter cyclical economy, utamanya program stimulus, tapi di sisi yang lain oh itu tidak ada artinya manakala tidak dilakukan reformasi secara mendasar, secara fundamental pada global governance, pada lembaga-lembaga keuangan dunia, seperti World Bank, IMF, termasuk WTO yang sudah hampir 8 tahun tidak rampung-rampung menyepakai putaran DOHA. Itu situasi di London. Tapi akhirnya kita bersepakat, dua-duanya kita perlukan.

Intervensi yang saya lakukan atas nama Indonesia waktu itu juga menyerukan kenapa kita harus berselesih tentang dua-duanya. Dua-duanya needed, mana yang lebih dahulu, tentunya langkah-langkah untuk memulihkan dulu perekonomian jangka sangat pendek dan kemudian jangka menengah, jangka panjang agar ekonomi ke depan menjadi lebih aman dan lebih sustainable, maka reformasi lembaga keuangan global, termasuk rules and global governance itu menjadi sangat-sangat penting. Dan kita sepakat di London, kita jalankan terus apa yang sudah kita lakukan.

Ketika kita bertemu di Pittsburgh, pada pertemuan puncak yang ketiga ini, situasinya jauh berbeda dalam proses, interaksi sejak tadi malam dan hari ini, para pemimpin, world leaders, termasuk pimpinan lembaga-lembaga internasional, termasuk Sekjen PBB di situ. Semua memiliki optimisme tersendiri dan kita jujur, meskipun kita menyadari banyak kekurangan, kita juga menyadari belum rampung langkah-langkah yang kita lakukan, tapi sudah ada tanda-tanda, bahwa resesi yang begini dalam, akhirnya akan bisa kita hentikan. Dan kemudian sebagai konsekuensinya, kita memikirkan apa yang perlu kita lakukan after shocks ke depan.

Dalam kaitan ini, Saudara-saudara, Indonesia memiliki posisi dan dalam plenary session tadi saya sampaikan pandangan Indonesia. Pertama, saya ingatkan kembali misi besar kita ini 2, satu, ya mengakhiri resesi dan memulihkan perekonomian, yang sedang kita lakukan sekarang ini. Sedangkan misi besar yang kedua adalah memastikan bahwa perekonomian dunia ke depan tidak mudah kena krisis lagi atau dalam arti lebih tahan terhadap goncangan dan lebih sustainable.

Khusus yang pertama, meskipun tanda-tanda sudah nampak, tapi toh kita juga masih berbeda pendapat, apakah resesi berakhir 2010 akhir atau 2011 akhir. Oleh karena itu, saya mengatakan jangan menghabiskan waktu itu untuk dalam forum seperti ini memastikan kapan berakhir, yang jelas tanda-tandanya sudah ada. Dan oleh karena itu, karena semuanya sedang berjalan, kebijakan, stimulasi pertumbuhan biarkan teruskan saja, karena ada juga yang, karena time lacks lalu apa yang kita lakukan hasilnya baru kita rasakan tahun depan, bahkan barangkali tahun depannya lagi. Oleh karena itu, biarkan untuk menstabilkan keuangan, untuk mengatasi pengangguran baru, terutama negara-negara lain. Alhamdulillah, negara kita pengangguran tidak sangat menganggu meskipun angka kita juga masih relatif tinggi, tapi bukan karena krisis, karena memang carry over dari persoalan sejak krisis tahun 1998 yang lalu. Demikian juga pemulihan perdagangan, investasi dan sebagainya.

Baru saya menyarankan untuk G-20 Summit yang akan datang, yang menurut rencana akan dilaksanakan di Kanada dan kemudian di Seoul, Korea Selatan, saya menyarankan agar agenda utamanya melakukan evaluasi menyeluruh, evaluasi komprehensif, apakah meskipun tanda-tandanya baik, apa yang kita lakukan pada tingkat global ini betul-betul telah mengakhiri resesi. Nah di situ harus kita lihat indikator satu demi satu, misalnya, apakah betul-betul sudah pulih kepercayaan global, apakah benar-benar sudah stabil keuangan kita, termasuk capital flow tadi, apakah pedagangan dan investasi juga sudah bergerak kembali, apakah sektor riil juga sudah bangkit, apakah ketahanan pangan dan ketahanan energi tetap menjadi mainstream dan prioritas dari pembangunan ekonomi pada tingkat global ini dan hal-hal fundamental lainnya. Manakala semua indikasi itu menunjukkan angka yang positif, kita boleh mengatakan Alhamdulillah, resesi akhirnya sudah pada tahap akhir dan kita segera memikirkan exit strategy.

Kalau kita rumuskan sekarang, itu menimbulkan confusion, ini sedang berjalan kok tiba-tiba temanya menjadi exit, lebih bagus jalan dulu, exit memang diperlukan, sebab Saudara-saudara banyak negara-negara yang defisitnya itu luar biasa tingginya di atas 5%, 8%, 12%. Bayangkan satu APBN, national budget dengan defisit seperti itu --itu in the long run tentu tidak bagus, kalau terus seperti itu. Oleh karena itu, tentu harus ada exit, menghentikan cara-cara the counter cyclical economy ini. Seolah-oleh negara kita, defisitnya termasuk yang paling kecil, tapi ingat kalau yang defisitnya itu misalkan Amerika Serikat, maka kalau itu terus terjadi, itu menjadi sumber imbalances pada tingkat global.

Dan ingat Saudara-saudara mengapa dunia mengalami krisis seperti ini, pertama, karena ada global imbalances, kepincangan, karena ada bubble economy, karena lembaga-lembaga keuangan, seperti IMF, World Bank, WTO dianggap tidak berfungsi dengan baik, efektif benar, lantas karena barangkali juga careless, kecerobohan dari kebijakan dan langkah-langkah yang dilakukan oleh negara-negara tertentu atau juga karena behaviour, perilaku dari perbankan di banyak negara yang beresiko sangat tinggi, akhirnya collapse. Collapse-nya perbankan membikin efek domino, akhirnya menggulung perekonomian sebuah bangsa, karena ada interconnectedness globalisasi, semua kena.

Ingat kalau kita paham betul, fundamental problem yang betul-betul bisa membikin krisis tahun ini, maka ke depan setelah selesai kita akan hilangkan semua itu dan tadi mendiskusikan lantas the concept of the new global growth itu seperti apa. Pandangan Indonesia dan sebenarnya kita juga mirip-mirip saja di antara leaders. Kalau semua fundamental problems itu bisa kita hilangkan, kemudian ke depan semuanya serba berimbang, supply-demand, production-consumption antar negara, lantas juga teknologi itu betul-betul kita hadirkan, termasuk green technology, human capital, governance yang makin baik, maka pertumbuhan kita akan menjadi balance dan disamping itu sustainable.

Global growth yang balance dan sustainable itu menjadi ruang, menjadi opportunity bagi negara-negara lain untuk juga melakukan stimulasi pertumbuhannya. Kita bicara mendalam tentang the challenge of recovery seperti itu, terutama pembahasan kita pada pagi hari tadi.

Saudara-saudara,
Topik lain yang kita bahas juga masalah climate change. Kita tidak hadir, tapi hampir yang tadi ikut dalam G-20 Summit ini hadir di New York untuk memberikan pidato, statement di depan Majelis Umum PBB tentang bagaimana kita bisa membikin konferensi di Kopenhagen pada bulan Desember tahun ini sukses, tapi ini isu yang sangat fundamental. Saudara mengikuti di dalam dan di luar negeri, bagaimana masyarakat global melihat climate change ini sebagian ragu-ragu, apa iya nanti di Kopenhagen semua bisa bersepakat melihat tidak samanya sikap negara Eropa misalkan Amerika, terutama sebelum Presiden Obama, kemudian negara-negara yang disebut emerging economies -- Brasil, China, India dan lain-lain-- dan juga negara-negara berkembang.

Ada juga justru yang don’t believe, “Ah enggak mungkin, pasti gagal.” Ada juga yang optimis, kecil. Ada juga yang ngapain kita bicara climate change, yang penting pulihkan dulu ekonomi ini, inikan masih jauh ini yang di depan mata kita aja jangan sampai pengangguran terus membengkak kemudian sulit hidup kita. Bayang-bayang itulah yang akhirnya menimbulkan keraguan, ketidakyakinan bahwa Kopenhagen itu akan berhasil. Kita bicara tadi pada sesi siang hari tentang climate change ini dikaitkan dengan energi. Saya menyampaikan pandangan berdasarkan pengalaman kita dulu menjadi tuan rumah bersama Sekjen PBB Ban Ki-moon di Denpasar, Bali, situasinya relatif sama, orang mengatakan Bali Meeting pasti gagal. Dan memang sampai mendekati jam-jam terakhir, kita deadlock, kita tambah sekitar hampir 12 jam perpanjangan, waktu itu juga belum ada tanda-tanda apakah bisa keluar dari deadlock itu. Tapi karena semangat dari para negotiators dan Sekjen Ban Ki-moon, saya sendiri melakukan intervensi pada saat yang tepat, very timely, akhirnya tidak gagal Bali, menghasilkan Bali Road Map, menghasilkan Bali Action Plan.

Pengalaman itu, saya sampaikan tadi kepada forum agar para leaders juga mengatakan jangan belum-belum mengatakan Kopenhagen akan atau pasti gagal dan tidak menghasilkan apa-apa, karena kita masih punya opportunity, punya capital, punya resources untuk membikin Kopenhagen itu berhasil. Tentu kita rumuskan, we have to define apa yang dimaksudkan dengan di Kopenhagen menghasilkan something, sesuatu, kita boleh bicara.

Dalam kaitan itulah, posisi Indonesia dalam menghadapi pertemuan Kopenhagen sangat jelas. Pertama, ya leaders harus memberikan mandat yang kuat kepada negotiators, harus memberikan directions yang jelas, agar itu tidak gagal. Yang kedua, menurut pendapat Indonesia masing-masing negara harus punya yang namanya action plan, punya goals, punya objectives, punya targets, punya timeline dan juga punya berapa emission cut yang dijanjikan sesuai dengan kondisi masing-masing negara. Saya aktif mengikuti setiap pertemuan para pemimpin dunia sejak 2007 di New York, kemudian APEC di Sydney kemudian Bali Conference sendiri, pertemuan Asia-Eropa Leaders di Beijing, pertemuan G-8 Outreach di Hokkaido, kemudian di G-20 sendiri. Saya melihat adanya pergeseran yang tadinya keras-kerasan, mulai ada titik temu, meskipun jaraknya masih cukup menganga. Menurut saya ini juga opportunity.

Kalau masing-masing negara punya action plans-nya ini sebagai starting point. Dengan starting point inilah bisa jadi akan ada new consensus di Kopenhagen. Tidak mungkin kita membangun konsensus kalau masing-masing tidak punya seperti apa akan dijalankan untuk mengurangi emisi karbon itu. Sehingga posisi Indonesia berharap semua negara punya action plan itu dibawa bersama-sama, nanti akan ditemukan what kind of consensus or agreement, a new protocol to be made di Kopenhagen nanti.

Indonesia dalam urusan climate change juga berpendapat bahwa prinsip common but differentiate responsibilities and respective capabilities itu berlaku. Negara maju jelas harus take lead, dia punya kemampuan untuk itu, tapi negara berkembang juga harus menjalankan tugasnya, kewajibannya. Dan semua harus doing more, tidak boleh business as usual. Kalau tidak, maka tidak akan terjadi apa-apa 2020, juga tidak akan terjadi apa-apa 2050, padahal itulah timeline yang diharapkan oleh dunia, ada significant cut dari emisi karbon.

Di situ sangat diperlukan partnership, Indonesia berpendapat negara berkembangkan punya kehormatan, kita punya kehormatan, kita punya harga diri, andaikata kita punya resources yang cukup, tentu kita akan mengeluarkan lebih banyak lagi untuk mengatasi climate change. Tapi ingat Saudara-saudara, anggaran kita, APBN kita harus kita utamakan, misalkan untuk kepentingan pembangunan, pengurangan kemiskinan, pendidikan, kesehatan dan lain-lain, tapi juga kita alokasikan untuk menghadapi atau menanggulangi climate change.

Poin saya adalah, agar sukses pada tingkat global, posisi Indonesia, maka kerjasama dalam bentuk financing, technology, capacity building dan partnership itu perlu dikembangkan antara negara maju dan negara berkembang. Saya merasakan, bahwa negara-negara maju now more willing to assist developing nations. Ini harus kita jaga as far as tentunya developing nations, sebagaimana yang Indonesia contohkan kita juga serius, kita memiliki komitmen yang tinggi, punya action plan dan patuh pada action itu untuk kita jalankan ke depan.

Saudara-saudara,
Dan masih seputar climate change, Indonesia telah melakukan banyak hal. Tidak perlu saya ulangi satu demi satu, tapi kita bukan hanya bicara, tapi ketika kita mau juga mewakili negara berkembang, kita bicara, kita menyerukan negara maju, jangan hanya memikirkan dirinya sendiri, bantu negara berkembang, tapi kita pun telah melakukan sejauh apa yang bisa kita lakukan sesuai dengan kemampuan kita sendiri.

Topik yang terakhir yang dibahas tadi dalam plenary session sebetulnya berkaitan dengan reform of the international instituion termasuk regulation dan hal-hal yang berkaitan dengan itu, IMF, World Bank, WTO dan sebagainya. Nah yang menarik adalah ini mengemuka, terutama dari Eropa agar kita bisa melihat kembali kultur dari perbankan kita, bankir kita yang konon sering berlebihan dalam hal bonus, kompensasi dan sebagainya. Jadi ada semacam bonus culture yang tidak sehat, yang excessive. Ini secara kumulatif akan berbahaya karena kalau itu yang terjadi, maka ada suatu kreasi dalam dunia perbankan itu, demikian paling tidak yang dikhawatirkan teman-teman pada tingkat leaders kalau carelessness itu, mismanagement, kreasi yang keliru itu bikin jatuh sebuah bank apalagi skalanya besar, maka akan terjadi efek domino beruntun dan yang terjadi adalah malapetaka yang ditanggung oleh semua. Oleh karena itu, regulasi supervisi harus menyangkut itu.

Saya kira kita patut juga memikirkan di negeri kita. Sudah lama saya mengingatkan agar ada kepantasan dalam remunerasi, ada kepantasan dalam bonus, ada kepantasan dalam insentif. Saya punya seloroh, gaji Presiden, gaji Menteri sejak tahun 2004 belum naik sampai sekarang, karena yang kami utama gaji golongan yang paling rendah dan di atasnya. Tetapi kita harus memastikan bahwa Badan-badan Usaha Milik Negara, bahwa swasta-swasta itu juga kalau dibedah, di-disclose, maka sistem remunerasi, sistem bonus segala macam itu harus masuk akal. Kalau tidak itu juga menjadi sumber. Kasus Bank Century misalnya saya ingin dibedah, apa ada mismanagement, apa ada perilaku, behaviour, bonus, ini, itu yang tidak baik, yang akhirnya merepotkan semua. Kita harus dengan bahasa terang mulai melihat diri kita sendiri karena lain juga sudah melihat dirinya masing-masing jangan sampai kita lalai, terlena dan kita merugi karena perilaku atau behaviour yang disebut dengan sesuatu yang excessive, yang berlebihan. Apalagi kalau Badan Usaha Milik Negara, milik negara itu, jadi tidak boleh dianggap sebagai urusan mereka sendiri, harus akuntabel pada negara, harus memiliki kepatutan di dalam urusan semacam bonus, remunerasi dan sebagainya.

Saudara-saudara,
Itu juga menjadi perhatian dunia dan dalam communique nanti akan dibagikan, semuanya gamblang di situ. Dan kalau ada pertanyaan tentang komunike silakan bertanya pada Menteri Keuangan, Menteir Perdagangan, dan Menteri-menteri terkait. Pada tingkat leaders, kami hanya ingin memberikan directions, strategic directions, kemudian visi ke depan, komitmen, lantas apa saja yang memerlukan political decision pada tingkat leaders. Tapi semuanya, architecture, arragement, communique itu dibangun secara bersama-sama oleh Menteri-menteri terkait, dalam hal ini penjurunya adalah para Menteri Keuangan.

Dan yang terakhir, masih berkaitan dengan kesepakatan dalam G-20 Summit ini, summit berikutnya lagi akan dilaksanakan di Kanada pada bulan Juni tahun depan dan kemudian di Korea Selatan pada bulan November tahun depan. Dan Alhamdulillah, sesuai dengan harapan Indonesia, G-20 ini akan menjadi lembaga yang permanen, ya tentu bagus, sebab kalau hanya G-7, G-8 itu hanya betul-betul mewakili negara maju, kebanyakan negara Eropa, hanya satu yang di Asia yaitu Jepang. Tapi kalau G-20, ini betul-betul merepresentasikan negara-negara di dunia, bukan hanya dari segi developed nations, emerging countries, developing nations, tapi dari segi katakanlah civilization juga lebih lengkap, apakah barat, timur maupun Islam. Dengan demikian, forum ini menurut saya tidak hanya memikirkan kelak urusan perekonomian global, tapi boleh jadi menjadi forum untuk memikirkan agar dunia makin aman, konflik makin susut, kekerasan bisa kita eleminasi, sekaligus menjadi forum untuk memikirkan yang saya sebut dengan kerukunan di antara peradaban, harmony among civilization and not less of civilization, sebagaimana yang ditesiskan oleh Huntington atau mendiang Huntington beberapa saat yang lalu.

Itulah yang ingin saya sampaikan Saudara-saudara. Dan saya berikan kesempatan yang ingin bertanya pada tingkat saya, kalau detailnya nanti akan diberikan. Silakan.

Sdri. Uni Lubis, Wakil Pemimpin Redaksi ANTV
Selamat malam Bapak Presiden,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
It’s a long day ya Pak, ya buat semuanya dan juga buat Bapak. Akhirnya, sebetulnya kalau kita lihat di pemberitaan di media massa, termasuk media elektronik semuanya optimis dan semuanya mengatakan bahwa pertemuan yang ketiga ini ada langkah yang konkret, yang signifikan dibandingkan dengan pertemuan sebelumnya, karena sudah ada implementasi yang konkret.

Tadi Bapak menyinggung soal challenge of recovery, tantangan dari pemulihan. Saya ingin tahu apa tantangannya, Pak? Apa yang bisa membuat proses pemulihan, baik yang dilakukan bersama-sama dalam forum G-20 yang melibatkan semua negara anggota maupun ke dalam kita sendiri itu bisa gagal. Barangkali terutama apa yang bisa membuat kia gagal, meskipun sejauh ini kita bisa dikatakan termasuk yang berhasil bersama-sama dengan India dan China? Tapi apa yang bisa membuat kita yang sudah berhasil, itu gagal, apakah faktornya ada di dalam kita atau juga faktornya bisa ada dari ketidak apa namanya, tidak komitmennya negara-negara G-20 untuk memenuhi communique yang dihasilkan hari ini?

Yang kedua, soal Bank Century, karena tadi disinggung oleh Bapak Presiden, bahwa kita secara internasional melalui forum ini menyatakan memang sepakat untuk melakukan pengetatan regulasi di bidang keuangan. Dan kita kebetulan dalam waktu bersamaan memiliki contoh kasus, tapi kemudian kita melakukan upaya-upaya untuk meminimalkan risiko bagi perekonomian. Pada saat itu konteksnya barangkali keputusan itu benar, tapi bahwa semuanya juga mempertanyakan kenapa jauh sebelum itu tidak dilakukan, padahal bank ini dalam keadaan yang buruk. Apa pelajaran yang bisa kita ambil untuk meningkatkan supervisi dan pengawasan, apakah faktornya hanya ada di Bank Sentral, tentu Bank Sentral kita independen, pemerintah tidak bisa serta-merta untuk mengintervensi, tetapi bahwa ini bisa mempengaruhi proses pemulihan ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah, tentu pemerintah boleh untuk melakukan upaya-upaya perbaikan? Mungkin itu Pak. Terima kasih.

Presiden Republik Indonesia
Baik ada 2 hal yang disampaikan oleh Ibu Uni tadi. Apa yang bikin proses recovery, baik pada tingkat global atau nasional kita itu tidak berhasil atau boleh dikatakan bagaimana supaya berhasil? Yang kedua, kasus semacam Bank Century yang juga banyak dihadapi kasus-kasus serupa oleh negara lain.

Yang pertama, kalau semua yang telah kita rancang dan jalankan, seperti program stimulus itu berjalan dengan pengawasan, dengan implementasi yang baik sampai tuntas begitu dan sejumlah policy yang kita jalankan dalam katakanlah counter cyclical economy itu, juga sampai tuntas. Saya yakin bahwa recovery akan berhasil.

Indonesia termasuk negara yang pertumbuhannya tetap positif setelah Cina, India. Semula diramalkan 2,5% naik 3,5%, kenyataan sekitar 4,5%, cukup tinggi. Namun demikian, jangan kita terlena bahwa recovery kita pasti berhasil, mari kita pastikan apa 7 langkah yang telah saya sampaikan selama ini. Saya ulangi lagi, supaya ingat. Satu, cegah pengangguran baru. Kedua, sektor riil harus tetap bergerak. Yang ketiga, kita perhatikan daya beli. Yang keempat, kita lindungi yang vulnerable, yang miskin. Kemudian masalah ketahanan pangan dan energi harus berjalan. Lantas inflasi kita kelola, dan kemudian pertumbuhan bagaimana pun kita jaga. Alhamdulillah, negara kita memiliki positive growth.

Kalau itu kita jalankan semua, termasuk kebijakan stimulus, termasuk langkah-langkah lain dan bukan hanya di pusat, di daerah, maka insya Allah kita akan berhasil. Sebaliknya kalau ada gangguan itu mengurangi keberhasilan kita. Pada tingkat dunia, saya kira masalahnya sama. Yang penting dijaga jangan sampai ada kasus baru seperti Lehman Brothers pada tahun 2008 atau kasus-kasus yang menggemparkan dunia yang karena interconnectedness perekonomian global dalam era globalisasi ini bisa menganggu satu sama yang lain. Oleh karena itu, kalau saya ambil contoh Indonesia sendiri, kita sudah punya 7 prioritas, kita punya kebijakan counter cyclical, kita punya kebijakan stimulus, pusat-daerah kita jalankan. Maka pada tingkat global apa yang kita sepakati, baik di Washington, di London dan di Pittsburgh ini, kita jalankan semua dengan asumsi tidak ada lagi krisis-krisis baru, maka recovery itu akan mencapai sasaran yang kita kehendaki.

Yang kedua, menyangkut Bank Century. Saya sudah memberikan statement beberapa saat yang lalu. Mengukur apakah langkah yang pemerintah lakukan awal, ulangi akhir tahun lalu tepat adalah, alhamdulillah, kita tidak kembali seperti 1998. Alhamdulillah, karena kecepatan dan ketepatan kita, termasuk Peraturan Pemerintah yang saya keluarkan, 10 direktif yang saya keluarkan, kita bisa meminimalkan dampak, jelas.

Bank Century sendiri adalah bank bermasalah. Kita ambil pelajarannya, tidak bisa bank seperti itu terus dibiarkan saja, ada persoalan supervisi, persoalan banyak hal yang menjadi pelajaran kita untuk tidak terjadi di waktu yang akan datang. Saya tidak ingin masuk terlalu dalam, khusus yang teknis-teknis karena itu masih ada proses investigasi, biarkan. Tapi ingat, bahwa langkah cepat dan tepat itu kita perlukan untuk kepentingan besar, bigger interest, penyelamatan perekonomian. Bahwa ada masalah khusus di Bank Century, termasuk governance-nya, termasuk akuntabilitasnya, termasuk leadership-nya, selesaikan. Hukum harus ditegakkan. Tidak bisa kita menderita semuanya oleh satu, dua kasus karena carelessness dari para pengelola company ini. Demikian.

Sdr. Toriq Hadad, Pemimpin Redaksi Majalah Tempo
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Saya Toriq Hadad, Pak dari Majalah Tempo. Ya saya yang pertama, saya ucapkan terima kasih atas segala hal yang menarik di dalam KTT yang memungkinkan kita semua untuk di dalam rombongan Bapak.
Kalau kita perhatikan, Pak, saya ingin melihat KTT ini sebagai satu kesempatan bagi para pemimpin dunia untuk bersama-sama melihat dunia yang berubah. Tadi Bapak menyebutkan ada 2 hal, yaitu ada tuntutan reformasi dari institusi keuangan global dan yang kedua, climate change yang tidak kalah pentingnya untuk dibicarakan karena menyangkut nasib kita sebagai manusia.

Dan saya kira memang sudah diatur, bahwa Bapak akan bertemu dengan Michael Porter yang terkenal dengan teori Five Forces-nya ini, Pak. Jadi kalau saya coba untuk gabungkan, ini akan jadi sangat menarik, Pak, bagaimana nanti dalam diskusi itu mungkin Bapak bisa melihat teori 5 kekuatan ini yang diterapkan di dunia yang berubah. Pertanyaan saya Pak, kebetulan Bapak berada di penghujung masa pemerintahan yang kedua, tentunya. Akhir pertama, awal kedua. Jadi saya kira sebagai satu katakan CEO dari sebuah PT Republik Indonesia ini, Bapak berkesempatan melakukan satu perubahan-perubahan di dalam tim Bapak untuk menghadapi dunia yang berubah. Kira-kira Pak kalau boleh kami tahu, kira-kira apa saja Pak yang akan Bapak siapkan untuk mengantisipasi perubahan yang akan terjadi? Terima kasih, Pak. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Presiden Republik Indonesia
Walaikumussalam,
Saya ingin berpikir dan bertindak secara rasional selalu. Oleh karena itu, saya sudah dengan tim melakukan satu assessment, pembuatan perkiraan keadaan strategis 5 tahun ke depan negeri kita dalam lingkungan dunia seperti apa. Nah di situ tentu ada new objectives, new targets, new goals yang harus kami capai pada 2014 mendatang. Kami juga melakukan evaluasi dimana macet-macetnya, yang kurang-kurang, yang bikin menghambat jalannya pemerintahan, jalannya pembangunan 5 tahun terakhir ini yang hampir rampung, insya Allah pada tanggal 20 Oktober nanti.

Dengan paduan semuanya itu, tentu action plans, sasaran yang harus dicapai oleh jajaran pemerintah pusat dan daerah, termasuk kabinet, termasuk menteri-menteri akan menjadi lebih spesifik. Saya sudah mengatakan, bahwa nanti calon-calon anggota kabinet harus menandatangani kontrak kinerja dengan saya. Menteri X harapan saya, inilah sasarannya 5 tahun mendatang, A, B, C, D. Berat, tapi possible, apakah Saudara bersedia. Bisa bersedia, bisa tidak. Ini contoh ini. Pakta integritas juga begitu. Ingat, ini kita harus bekerja all out, ibaratnya 24 jam dengan segala macam yang harus kita jaga, oke atau tidak oke seperti itu.

Dan kemudian, supaya kita berbagi responsibilities, kalau pada tingkat puncak tentunya Presiden, tapi masing-masing juga tentunya harus punya tanggung jawab mencapai sasaran pada bidangnya, pada sektornya. Dalam kaitan itu semualah nantinya akan kita pastikan, bahwa secara keseluruhan pemerintahan baru itu tentunya harapan saya lebih efektif, lebih fokus pada tugasnya, tidak boleh terlalu banyak berpolitik, tapi harus bekerja. Kalau berpolitik lebih bagus tidak di dalam kabinet, dengan demikian, harapan rakyat itu tidak kita sia-siakan.

Saya punya optimisme bahwa 5 tahun lebih baik dibandingkan sekarang ini. Memang beredar di luar, ini SMS baru masuk tadi malam, yang protes pada saya tapi lewat istri. ”Ibu, tolong kasih tahu Pak SBY, ini kenapa yang jadi Menteri itu si itu, apalagi dirjennya saya denger si ini, si ini.” Dijawab oleh istri, ”Ibu, itu baca darimana, bukan hanya, barangkali pribadi media atau rumor.” “Bu, kalau 2 dirjen itu bukan rumor, kalau menteri ini sudah pasti dia, Bu. Pasti, masak Ibu, pasti dia gitu.” Dijawab istri dengan sabar, “Ibu, Pak SBY ini belum menyusun kabinet, karena nanti setelah 1 Oktober baru menyusun.”

Poin saya adalah memang banyak, saya ambil positifnya saja, rakyat ingin pemerintahan yang akan datang itu lebih efektif begitu, rakyat juga ingin yang menjadi anggota kabinet diyakini akan bekerja sepenuh-penuhnya untuk mereka semua dan itu bagi saya bagus. Dengan harapan, karena keterbatasan tempat nanti, tentu saya minta pengertian kalau dari sekian ratus yang ingin mengabdi di pemerintahan, di kabinet, tidak semua bisa bersama-sama. Dengan segala respect saya, tentu harus saya sampaikan seperti itu.

Jadi itulah kira-kira struktur kabinet yang akan datang, siapa-siapa di situ, berorientasi pada output, berorientasi pada apa yang akan kami capai. Dan dalam kontrak kinerja juga bukan cek kosong, karena akan ada evaluasi tahun pertama, evaluasi midterm, 2,5 tahun kemudian apakah perlu penyesuaian pemindahan.

Tadi disebut di Boston akan ada diskusi dengan Michael Porter dan teman-teman beliau supaya kita saling menimba pelajaran, pengetahuan. Dengan tujuan, saya ingin Indonesia lebih kompetitif, peringkat kita makin baik, makin baik, makin baik, tapi kita belum puas, harus lebih baik lagi. Kita akan berdiskusi lagi misalkan dengan ahli pembangunan di negara berkembang, saya ingin melihat membandingkan negara Amerika Latin, Asia, Indonesia seperti ini, menurut anda apa yang perlu menjadi perhatian kita. Lantas kita juga akan mendengarkan presentasi renewable energy industry, sehingga kita jangan hanya menggantungkan minyak dan gas, tapi betul-betul ada program 5 tahun yang nyata untuk mengubah energy mix ini sesuai dengan planing kita 2020 dan 2050. Jadi harus dijadikan satu kegiatan kita mulai besok di Boston, termasuk bisnis forum dengan KTT G-20 ini dengan kepentingan kita 5 tahun mendatang.

Sdr. Moch. Achir, Juru Kamera SCTV
Assalamu’alaikum,
Selamat malam,
Saya Mochammad Achir dari SCTV, Pak. Pertanyaan pertama soal optimisme yang dihasilkan di KTT Pittsburgh ini menggerakkan untuk semua, tapi kalau kita lihat dari visual pertemuan di awal, bagaimana kemudian sampai Obama harus berjalan mendekati beberapa pimpinan negara pasti ada dinamika di dalam untuk mencapai optimisme seperti yang diungkapkan saat ini. Seperti apakah sebetulnya dinamika di dalamnya, karena sebagian menganalisis bahwa pertarungan utama terjadi antara Amerika Serikat dan Cina dimana Amerika sedang jatuh, ingin bangun, maka dia membuat formulasi baru dengan pendekatan green brosnan sementara Cina yang sedang di atas, kemudian bisa dikatakan sedikit ngeyel. Apakah benar demikian, seperti apa dinamikanya sebetulnya di dalam?

Kemudian pertanyaan yang kedua adalah berkaitan dengan sebuah kebanggaan ketika Bapak diminta untuk menjadi pembicara utama berkaitan dengan climate change. Motivasi dari Obama sendiri sebenernya seperti apa Pak, apakah kembali ini adalah sebuah bentuk pendekatan kepada Cina agar sebuah pendekatan baru yang juga bisa mendukung pendekatan domestik Amerika Serikat sendiri? Terima kasih.

Presiden Republik Indonesia
Banyak teori di luar, banyak spekuasi yang beredar, banyak analisis dari para pakar, pengamat tentang what’s going on Amerika Serikat, Cina, emerging economies, Eropa, Brazil dan sebagainya. Yang jelas begini, kita sadar bahwa tidak boleh perekonomian global ini tidak balance, tidak boleh asimetris, tidak boleh ada satu negara menjadi negara yang sangat konsumtif dengan defisit yang tinggi, tidak boleh ada negara yang menggantungkan segalanya pada ekspor ke negara yang lain. Belum kepincangan antara apa yang bisa diproduksi oleh sebuah bangsa dengan yang dia konsumsi lebih atau pas, mismatch atau tidak, demikian juga supply dan demand, minyak misalnya, pangan misalnya. Ini adalah perkara yang paling fundamental yang disebut dengan imbalances.

Kita sepakat pasca krisis ini tidak boleh begitu lagi. Oleh karena itu, bukan berarti dari Amerika geser ke Cina, nanti sekian puluh tahun lagi geser ke negera lain bukan begitu. Ada yang punya defisit sangat besar. Dunia berharap jangan dipertahankan keadaan seperti itu, bisa mengganggu kalau perekonomian yang bersangkutan jatuh misalnya Amerika Serikat. Tapi juga jangan ada negara yang menyimpan surplus reserve yang sangat besar dan tidak didistribusikan untuk satu perkembangan secara global pula. Jadi intinya adalah menuju ekonomi yang lebih balance, ekonomi yang lebih terbagi. Dengan demikian, akan ada banyak center of economic, power of economic development. Dengan demikian, memastikan mekanismenya menjadi bagus, trade and investment menjadi bagus, win-win. Negara-negara yang bersangkutan tumbuh, sekitarnya tumbuh karena geo-ekonomi, tapi secara global tidak terjadi lagi satu kutub yang menyedot barang-barang yang diekspor oleh negara-negara, banyak negara dan ketika yang negara itu jatuh, jatuh semua sebagaimana yang terjadi sekarang ini.

Message-nya adalah tentu bukan hanya tentunya paling tidak cara pandang saya, 25 tahun ke depan, ekonomi dunia akan dimotori oleh Amerika Serikat dan Cina, tapi kita juga berharap Eropa tetap berperan, ASEAN makin berperan, kawasan yang lain pun juga demikian, sehingga akhirnya ketahanan perekonomian global akan terjadi, tidak pincang, tidak timpang, dan akhirnya mudah runtuh. Itu yang terjadi.

Soal kalau dilihat ada lobi sana, bisik-bisik di sana, memang kultur dari G-20 ini ya begini, kita lebih direct, tidak banyak basa-basi, langsung to the point, saya kira bagus begitu. Ada juga summit yang protokolnya lebih kuat, bicaranya diatur, semua dengan teks, satu demi satu dengan waktu yang diatur, tapi ini lebih cair, lebih fleksibel, tapi yang penting tujuannya bisa kita capai. Inilah yang menjadi kultur dari summit dari G-20 ini.

Kemudian yang kedua, ya Indonesia memang oleh banyak pihak dianggap sebagai contoh negara berkembang yang peduli dan bekerja sungguh-sungguh untuk menyelamatkan lingkungan, baik negaranya maupun pada tingkat global. Meskipun mereka juga tahu, kita juga masih menghadapi banyak persoalan pembangunan, mengurangi kemiskinan, mengurangi pengangguran, pendidikan, kesehatan, tapi mereka melihat we are serious.

Demikian juga menyelenggarakan Bali Conference, yang saya sampaikan tadi. Demikian juga kontribusi kita di tempat-tempat yang lain. Oleh karena itu, dia ingin mendapatkan contoh negara berkembang yang juga bisa dengan kemampuan yang ada melakukan tentu lebih bagus kalau ada bantuan technology, financing, capacity dari negara-negara lain.

Dan Presiden Obama secara khusus forum dalam tadi juga mengatakan ada contoh yang baik dari Indonesia. Saya diminta untuk berbagi pengalaman ini dengan para pemimpin yang lain, bahwa pengurangan subsidi BBM yang itu memang tidak bisa dielakkan dan mereka juga memberikan apresiasi keberanian kita untuk menyelamatkan makro ekonomi tapi menurut mereka juga mencegah sebuah bangsa itu boros terhadap BBM, sehingga climate change terganggu, memperburuk iklim dunia. Tetapi yang ingin mereka dengar dan itu dianggap bagus, realokasi dari yang tadinya subsidi pada komoditas, itu justru untuk cash transfer, untuk BLT, untuk membantu pendidikan, kesehatan, to protect the poor, to protect the most vulnerable. Ini yang menurut mereka menarik, sehingga OECD mengatakan liat Indonesia itu win-win. Oleh karena itu, dunia pun menganggap konsep yang kita jalankan, our policy is correct, karena sebetulnya menjadi tidak adil kalau ratusan trilyun katakanlah untuk mensubsidi bahan bakar yang menggunakan lebih banyak menengah ke atas lebih bagus disesuaikan lantas apa namanya dana penyesuaian itulah untuk subsidi yang langsung. Bagi kalangan dunia itu menarik.

Ternyata BLT yang kita jalankan sejak tahun 2005, banyak sekali sekarang dilakukan oleh negara-negara lain, cash transfer. Saya dengar Amerika sendiri, Iran, kemudian Jepang segala macam, Australia. Jadi jangan dianggap wah ini BLT ini kampungan. Bukan kampungan, ini membantu mereka yang mengalami shock, mengalami goncangan. Kan bukan hanya BLT, banyak lagi program-program prorakyat. Dan saya yakin, 5 tahun mendatang nanti saya akan tetap memegang policy growth with equity, disamping pertumbuhan harus makin tinggi insya Allah bisa mencapai 7% lebih nantinya 2014, tetapi tetap perlindungan bagi yang miskin, pemberdayaan mereka tidak boleh kita abaikan, dengan tentu alokasi anggaran yang memadai. Kira-kira itu mengapa Indonesia sering dilibatkan dan tadi Presiden Obama meminta kepada saya untuk menjelaskan pengalaman kita dalam policy development menyangkut fuel yang berkaitan dengan protection to the poor dan berkaitan dengan climate change.

Sdr. Ikhwanul Kiram, Pemimpin Redaksi Republika
Terima kasih Bapak Presiden. Tadi sudah dijelaskan oleh Bapak Presiden tentang penyebab dari terjadinya resesi yang berakibat pada terganggunya perekonomian karena itu tentu mengganggu perekonomian rakyat. Ada hal yang menurut saya juga penting Pak yang itu juga menganggu perekonomian, yaitu tentang ketidakstabilan dunia. Misalnya sekarang kita masih melihat tentang di Irak, di Afganistan, di Palestin dan kemudian juga isu-isu nuklir dan juga tidak kalah pentingnya adalan terrorism, Pak. Terrorism tentu sangat mengganggu ekonomi satu negara dan Alhamdulillah, kita Indonesia sudah berhasil. Apakah dalam forum G-20 itu juga dibahas masalah-masalah ini karena ini terus terang juga mengganggu kestabilan dunia?

Presiden Republik Indonesia
Terima kasih, Pak Kiram. Dalam forum G-20 Summit di Pittsburgh ini memang tidak secara khusus kita bahas tentang international peace and security, termasuk situasi di Middle East dan threat of terrorism, meskipun dalam forum-forum yang lain sebentar lagi ada APEC, tentu kita akan bahas dan juga forum-forum yang lain. Justru nanti pada ceramah ataupun pidato saya di Harvard, saya akan angkat masalah-masalah itu.

Pandangan saya adalah, kalau dunia makin aman, konflik bisa kita kurangi secara signifikan, rantai kekerasan bisa kita putus, maka sumber daya energi dalam arti yang luas, itu lebih bisa diarahkan untuk kesejahteraan dunia, untuk perekonomian dunia. Itu sangat nyata. Oleh karena itu, saya orang yang berpendapat, mari kita duduk bersama, membangun new consensus how to eliminate conflict, clash, ataupun kekerasan yang sedang terjadi. Mata rantai kekerasan harus kita putus. Contoh, terorisme dari segi manapun juga, tentu harus kita tanggulangi, kita terus cegah dan kurangi dan suatu saat kita hentikan. Tetapi tindakan-tindakan militer, yang tujuannya sesungguhnya untuk menghantan terorisme itu dengan perang-perang yang akhirnya meluas, membawa masalah yang lebih rumit lagi, itu juga bisa kita cegah, kita hentikan. Dengan demikan, mata rantai kekerasan bisa kita putus. Nah di situ memang memerlukan konsensus baru, tidak cukup hanya di Dewan Keamanan PBB. Tapi saya berharap suatu saat seperti G-20 ini bisa membahas seperti itu, dengan demikian, mari kita cari cara-cara yang lebih civilized, yang jauh dari kekerasan, termasuk untuk menanggulangi terorisme ataupun untuk mencegah terjadinya perang-perang terbuka, serangan-serangan terhadap negara lain.

Saya juga berpendapat pada saatnya nanti, tentu harus dihentikan peperangan di Irak dan di Afganistan, harus selesai masalah Palestina, harus tidak boleh dibiarkan terorisme. Dengan demikian, maka sekali lagi, mata rantai itu bisa kita putus. Ini memerlukan satu ketangguhan, kreativitas, komitmen, kita semua, dan Indonesia akan tetap menjadi pelopor ataupun ingin berperan aktif untuk memutus rantai kekerasan. Karena banyak hal yang tidak terjadi di negeri kita yang mengalami kesulitan kita, ada apa saja di Timur Tengah, pasti resonansinya, gelombangnya kita rasakan di Indonesia, tentu kita menjadi korban. Oleh karena itulah, menjadi kepentingan kita, our own interest juga untuk berkontribusi, supaya ada solusi yang bagus di Timur Tengah, ada solusi yang bagus menghentikan terorisme, ada solusi yang bagus untuk sekali lagi, memutus rantai kekerasan. Itu pandangan saya dan itu yang Indonesia lakukan dan mudah-mudahan pada saatnya mendapatkan tempat dan konsensus bersama.

Sdr. Budiono Darsono, Pemimpin Redaksi Detik.com
Terima kasih Bapak Presiden. Ada 3 pertanyaan yang ingin saya ajukan. Oh satu. Kalau satu, saya pilih yang paling ringan saja, Pak. Jadi kapan kira-kira gaji para menteri dinaikkan, Bapak? Karena saya tadi mendengar sudah sejak 2004 belum dinaikkan. Saya merasa kasihan Bu Ani. Jadi kalau Bu Ani ini gajinya minimal sama dengan Dirut Garuda, saya yakin pertumbuhan ekonomi kita akan jauh lebih baik, Pak. Itu saja Pak, pertanyaan saya. Terima kasih.

Presiden Republik Indonesia
Terima kasih, Bapak. Ya ini, begini dulu, saya ini kalau terlalu sering bicara gaji kadang-kadang tidak enak sama rakyat, karena ini kok yang diomongin gaji terus. Tapi rakyat tidak boleh kecil hati, karena 5 tahun ini, kami memikirkan betul, seperti program prorakyat, seperti BLT, jamkesmas, raskin, BOS, ini untuk rakyat semua, gaji PNS, pegawai negeri kita, polisi, tentara juga kita pikirkan. Jadi rakyat jangan khawatir, kami 5 tahun memikirkan mereka semua dan kalau saya mengatakan gaji Menteri misalnya, tidak mengada-ada.

Konsep saya begini. Saya sudah memberikan penugasan kepada Menteri Keuangan dan menteri terkait, tolong dibikin satu konsep remunerasi yang tepat, yang adil, yang pas. Menurut aturan, gaji paling tinggi itu Presiden, tapi dalam praktik, gaji Presiden sekarang pada strata yang ke sekian. Solusinya tidak bisa, "Ya udah kalau gitu naikkan gaji saya.” Tidak begitu. Lihat semua, pimpinan lembaga-lembaga negara, pemerintah, BUMN, gubernur, semua dicek, pantas tidak pantasnya, supaya adil. Nah dengan demikian, kalau itu sudah adil menjadi policy, maka semua akan bisa menerima. Tidak boleh masing-masing membikin rencananya sendiri, berjuang sendiri-sendiri, publikasi sendiri-sendiri, akhirnya bukan perlombaan persenjataan, perlombaan pergajian begitu dan saya prihatin. Oleh karena itu, tidak apa-apa, 5 tahun ini belum naik, tetapi insya Allah tahun mendatang tentu harus ada remunerasi baru yang tata remunerasi baru yang adil. Tapi kalau adil itu ya, semua senang, adil dari segi tanggung jawab, adil dari segi posisi, adil dari segi jenjang penugasan, pengalaman, kalau bagi birokrasi misalkan. Dengan demikan, mudah-mudahan nanti pada kabinet baru sudah ada remunerasi yang lebih adil dan menyangkut semua lembaga negara, lembaga pemerintahan, termasuk birokrasi dan pejabat-pejabat daerah. Saya kira begitu dan ya saya minta maaf kepada yang tidak naik gajinya selama 5 tahun ini. Rapelnya ya sudah bersyukur, bahwa kita bisa melakukan banyak hal meskipun PR kita masih banyak.

Terima kasih yang terakhir itu. Terima kasih kawan-kawan. Kita masih bertemu lagi nanti.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


*****

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan