Ruang Pers
Keterangan Pers Presiden
Tentang Gempa di Sumbar
TRANSKRIPSI
KETERANGAN PERS PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
MENGENAI
GEMPA DI PADANG
BANDARA UDARA NAGOYA, JEPANG
1 OKTOBER 2009
Saudara-saudara,
Sebagaimana yang Saudara ketahui telah terjadi gempa bumi di wilayah Sumatera Barat kemarin sore. Tadi saya telah melakukan komunikasi dengan pejabat-pejabat terkait. Yang belum bisa berkomunikasi saya, pertama dengan Wakil Presiden, tetapi saya mendapatkan informasi Wapres telah mengambil langkah-langkah tindakan yang diperlukan. Yang kedua, saya juga belum bisa berkomunikasi dengan Gubernur Sumatera Barat, karena ada gangguan komunikasi, tetapi saya meyakini Gubernur dengan jajarannya sedang menangani akibat dari gempa bumi itu.
Yang saya dapat lakukan komunikasi tadi adalah dengan Menko Kesra yang secara fungsional memang berkewajiban dan bertanggung jawab untuk mengkoordinasikan kegiatan tanggap darurat bersama-sama Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Menurut Menko Kesra, memang dampak dari gempa bumi ini bisa lebih parah dibandingkan Yogya. Dikatakan bisa, karena memang informasi atau laporan dari lapangan belum seluruhnya diterima. Bukan hanya 7,6 Scala Richter, tapi karena memang apa namanya dilaporkan rumah sakit runtuh, tentu diduga banyak juga bangunan-bangunannya yang rusak. Dan seperti pengalaman di Yogya dulu, berbeda dengan bencana tsunami, biasanya banyak saudara-saudara kita yang mengalami luka-luka atau luka berat yang memerlukan pertolongan segera bagi yang memang masih bisa diselamatkan.
Sistem telah bekerja, kegiatan tanggap darurat sedang dilakukan. Komunikasi saya disamping dengan Menko Kesra tadi, dengan Panglima TNI dan juga dengan Menteri Kesehatan. Mengapa Menteri Kesehatan penting? Dan sekarang sedang menyiapkan semuanya, termasuk laporan untuk mengerahkan dokter, termasuk dokter bedah, baik dari Medan maupun dari Palembang dan tentunya dari Jakarta, yang besok akan dikerahkan dengan 2 Hercules C-130 milik TNI, kemudian pesawat Fokker dan pesawat-pesawat lain yang diperlukan untuk terutama disamping mengangkut tenaga medis, juga obat-obatan yang diperlukan di depan. Kapal laut juga dipersiapkan untuk segera merapat ke depan.
Panglima TNI, saya berikan instruksi untuk mengerahkan kekuatan TNI, pengalaman di Aceh dulu, pengalaman di Yogya. Baik Aceh maupun Yogya dengan kecepatan gerak TNI itu bisa melakukan banyak hal, termasuk menyelamatkan saudara-saudara kita yang bisa diselamatkan. Pada saat ini, itu yang dapat saya jelaskan. Tapi sistem telah bekerja dan semula saya akan langsung menuju ke Padang dari Nagoya ini, tetapi laporan yang saya terima dari Menko Kesra, pemerintah daerah masih berfungsi, tetap menjalankan tugas. Berbeda ketika Aceh mengalami tsunami, lumpuh semuanya, sehingga pemerintah pusat mengambil alih, saya sendiri datang untuk memberikan komando-komando dan instruksi waktu itu.
Karena situasinya seperti ini, yang penting adalah kegiatan tanggap daruratnya, tenaga medisnya, kemungkinan pertolongan pertama, kalau barangkali juga pembedahan-pembedahan dan lain-lain. Itu dulu daripada saya cepat-cepat ke sana, nanti bisa membebani pemerintah daerah. Justru sampai di Halim saya akan melakukan komando dan kendali. Rombongan yang nanti tidak berkaitan dengan tugas bisa meninggalkan tempat, saya akan tinggal dulu di Halim untuk memantau, mengendalikan langkah-langkah tanggap darurat dan apa yang mesti dilakukan, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah.
Korban yang saya terima sementara tadi, dilaporkan 75 orang. Jadi pengalaman kita selama ini, apalagi di tengah kegelapan seperti ini jumlah itu bisa bertambah. Oleh karena itu, yang penting tanggap daruratnya. Dan saya sudah menginstruksikan sumber daya yang ada di daerah dikerahkan semuanya, sumber daya yang ada di pusat diperbantukan dengan kecepatan gerak.
Demikian Saudara-saudara.
Terima kasih.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



