Ruang Pers

Keterangan Pers Presiden

Doorstop tentang Kemungkinan Sikap Politik Golkar

 

TRANSKRIPSI
DOORSTOP PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
DR. H. SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
MENGENAI
KEMUNGKINAN SIKAP OPOSISI GOLKAR
PADA PEMERINTAHAN MENDATANG
DI HALAMAN KANTOR PRESIDEN, 6 OKTOBER 2009



Saya juga menyimak statement Wakil Presiden Jusuf Kalla di Pekanbaru, meskipun saya tahu beliau menyampaikan pernyataan itu dalam kapasitasnya sebagai Ketua Umum Partai Golkar. Dan sebenarnya, saya juga tidak ingin berkomentar terlalu banyak tentang apa yang ada dalam dinamika Partai Golkar sekarang ini, ataupun partai-partai politik yang lain. Tapi karena Pak Jusuf Kalla menyebut-nyebut pemerintahan lima tahun mendatang, dan saya insya Allah akan memimpin pemerintahan lima tahun mendatang itu; disebut-sebut juga, agar Golkar singkatnya beroposisi terhadap pemerintahan lima tahun mendatang itu. Tidak keliru kalau saya menjawab pertanyaan Saudara, pikiran dan pandangan saya tentang itu semua.

Begini, Saudara-saudara,
Pertama, saya menghormati apapun nanti pilihan politik Partai Golkar: apakah mau beroposisi dengan pemerintahan lima tahun mendatang, atau ingin bersama-sama pemerintahan lima tahun mendatang. Dua-duanya saya hormati. Dan kalau namanya beroposisi kepada pemerintahan, pemerintahan itu ada pemerintahan pusat, ada pemerintahan daerah; koreksi terhadap pemerintah tidak harus dalam posisi oposisi pun bisa dilakukan, seperti dari masyarakat luas, dari NGO, dari manapun; mengoreksi pemerintah kalau ada yang tidak benar, ada yang tidak tepat, meskipun kalau pemerintahnya benar, semua pihak juga diharapkan bisa memberikan dukungan. Semuanya adalah untuk rakyat. Jadi, kalau Partai Golkar nanti memilih beroposisi, saya hormati betul pilihan itu; dan memberikan koreksi, kontrol, oposisi, ya semua sebetulnya harus berani, Golkar juga memberikan kontrol, oposisi kepada para gubernur, para bupati, para wali kota yang juga saya kira sebagian dari mereka dari Partai Golkar. Jadi, tidak pilih-pilih; semuanya untuk kepentingan rakyat.

Oleh karena itu, apabila pilihannya seperti itu, saya memberikan penghormatan yang tinggi. Saudara tahu sampai sekarang saya tetap menghormati Golkar, menghormati saudara-saudara kita yang ada di Partai Golkar. Adalah menjadi pilihan Golkar mendatang, setelah 20 Oktober apakah beroposisi ataupun berada di pemerintahan, sekali lagi saya hormati.

Kalau sampai dengan 20 Oktober, mestinya Golkar tidak beroposisi. Nanti menjadi ganjil. Wapres misalkan kalau sampai dengan 20 Oktober bersikap beroposisi kepada presiden, itu bertentangan dengan Undang-Undang Dasar. Pasal 4 sangat jelas, Ayat 1 dalam Undang-Undang Dasar kita: Presiden memegang kekuasaan pemerintahan menurut Undang-Undang Dasar. Sedangkan Ayat 2: Dalam melakukan kewajibannya, presiden dibantu oleh satu orang wakil presiden.

Saya kira Pak Jusuf Kalla paham sekali, sebab kemarin saya baik-baik saja berdua di Cilangkap; saya berbicara tentang banyak hal. Saya yakin Pak Jusuf Kalla akan menghormati semuanya itu, dan memahami Undang-Undang Dasar, dan menjaga kebersamaan sampai dengan 20 Oktober mendatang.

Setelah itu set up baru. Set up baru berpulang kepada bagaimana kita semua 20 Oktober ke depan, ketika insya Allah saya memimpin kembali; bagaimana hubungan antara pemerintah dengan DPR, mana yang akan menjadi ruling party, mana yang akan menjadi opposition party; maksud saya partai-partai politik yang mendukung dan bersama pemerintah, dan partai-partai politik mana yang memilih beroposisi dengan pemerintah. Itu nanti akan kelihatan seperti apa set up, tatanan, games baru nanti setelah 20 Oktober.

Itu menjadi sangat penting, dan saya juga menyimak, mendengarkan, saya rasa tidak perlu Golkar meminta-minta, atau bahasa sehari-harinya, mengemis-ngemis kepada pemerintah. Saya kira tidak perlu di antara kita berpendapat saling mengemis, saling meminta-minta. Kalau apa yang kita lakukan untuk kebaikan negara, untuk rakyat, tidak perlu harus saling mengatakan: saling meminta, saling mengemis. Apapun pilihannya itu mulia, oposisi mulia, bersama-sama dengan pemerintahan mulia.

Saya harus mengatakan seperti itu. Saya mendoakan Munas Golkar berlangsung dengan baik, dengan tertib, demokratis karena rakyat juga melihat semuanya. Ingat, Partai Golkar adalah partai yang sudah lama berkiprah di dalam kehidupan di negeri ini; tentunya doa saya sebagai seorang kepala negara, mendoakan yang baik-baik untuk Partai Golkar karena kalau Golkar bisa berperan baik ke depan ini, apapun perannya, tentu sangat berguna bagi rakyat, bangsa, dan negara.

Terima kasih.

*****

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan RI