Ruang Pers

Keterangan Pers Presiden

Tentang Hasil-hasil KTT ke-14 ASEAN Hua Hin

 

TRANSKRIPSI
KETERANGAN PERS PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
MENGENAI
KUNJUNGAN KERJA PADA KTT ASEAN KE-14 DI HUA HIN, THAILAND
25 OKTOBER 2009



Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabakaratuh,

Salam sejahtera untuk kita semua,

Para Wartawan yang saya cintai,
Malam ini dengan didampingi oleh delegasi Indonesia, saya akan memberikan penjelasan kepada Saudara tentang hal-hal mengemuka dalam pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi ASEAN dengan rangkaiannya yang telah berlangsung beberapa hari terakhir ini. Berbeda dengan kegiatan yang saya ikuti selama 5 tahun yang lalu seperti ASEAN Summit dan summit-summit lainnya, saya bisa hadir penuh dan bahkan sejak dari tanah air saya selalu mengajak anggota delegasi untuk memahami isu yang berkembang, kepentingan kita, posisi Indonesia dan apa yang akan kita lakukan dalam kegiatan summit itu dan kemudian tiap hari juga saya akan adakan review sampai terakhir.

Kali ini tidak memungkinkan, karena kegiatan dan dinamika yang ada di tanah air. Saudara sendiri tahu tanggal 23, ketika Summit Ini dibuka, atau dimulai saya masih memimpin Sidang Paripurna Kabinet Indonesia Bersatu II, tentu yang sangat penting setelah satu hari sebelumnya saya lantik dan sejumlah kegiatan lain, hingga saya dan rombongan dan sebagian besar Saudara datang pada tanggal 24 yang itu sesungguhnya sudah lebih dari separuh kegiatan yang dilakukan dalam rangkaian pertemuan tingkat tinggi ASEAN ini. Namun demikian sejak awal Indonesia tentu terlibat dan menjadi bagian dari Summit ini sehingga manakala saya belum bisa hadir dan Menteri pun juga belum bisa hadir, maka Sekjen Deplu Saudara Imran Kotan yang mewakili Pemerintah Indonesia. Dan kemudian pada tanggal 23 malam hari untuk pertama kali, working dinner para leaders, saya diwakili oleh Menteri Luar Negeri, Saudara Marti Natalegawa dan kemudian saya hadir pada tanggal 24 sore sudah pada ASEAN +3 Summit kemudian terus sampai pada penutupan acara tadi.

Sebagaimana yang sering berlaku disamping kegiatan bilateral, ulangi disamping kegiatan multilateral, saya juga melaksanakan pertemuan bilateral yang formal dengan Perdana Menteri Hato Yama dan yang kedua dengan Perdana Menteri India. Namun disela-sela pertemuan puncak itu, tentu saya gunakan untuk berbincang-bincang dengan para pemimpin lainnya, baik pemimpin ASEAN maupun +3, maupun para pemimpin East Asian Community.

Saudara-saudara,
Dengan penjelasan itu, maka nanti kalau ada pertanyaan spesifik yang lebih tepat dijawab oleh pejabat yang hadir waktu itu atau oleh Menteri, saya persilakan dan tentunya kalau yang sifatnya umum dan merupakan posisi dasar Indonesia tentu kewajiban saya untuk meresponnya. Dalam rangkaian pertemuan puncak ini, sebagaimana dulu di Hua Hin juga ada tiga kegiatan penting sebenarnya, yaitu informal meeting antara head of government and head of state of ASEAN dengan yang disebut ASEAN Inter-Parlianmentary Assembly (AIPA). Kemudian representative from youth dan representative for civil society, ini menunjukkan bahwa dengan piagam baru ASEAN, The New ASEAN Charter, maka kita ingin membentuk community, kerjasama ASEAN tidak boleh hanya dimaknai oleh kerjasama antar pemerintahan, inter-governmental cooperation atau association, tetapi betul-betul commnity, ASEAN community. Saya ingatkan kembali konsep kita adalah political and security community, economic community, and socio-cultural community dan apa yang saya sampaikan tadi contoh informal meetting dengan tiga pihak itu juga bagian bahwa, kerjasama ASEAN, kebersamaan dalam ASEAN ke depan harus betul-betul kebersamaan antar bangsa-bangsa, negara-negara anggota ASEAN.

Disamping itu sebagaimana Saudara ketahui di Hua Hin ini juga telah diadopsi yang disebut dengan ASEAN Inter-governmental Commission on Human Right dan juga tentu ada pertemuan dengan ABAC ya, ASEAN Business Advisory Council, ini kegiatan yang rutin dilakukan. Setelah itu ada beberapa pertemuan puncak, tentunya retreat ASEAN itu sendiri, ASEAN dengan +1, ASEAN maksud saya ASEAN +1 dengan China, dengan Jepang dan dengan Republik of Korea, lantas ASEAN +3.

Dari rangkaian itu yang penting saya sampaikan adalah Saudara-saudara, ada sejumlah isu yang penting yang menurut saya perlu Saudara ketahui. Pertama tentang implementasi piagam ASEAN dan roadmap of the ASEAN community. Saudara-saudara, membentuk ASEAN community itu sebuah proses sebagaimana transformasi ataupun reformasi. Kita ingin 2015 sebenarnya, ASEAN community itu sudah terwujud. Oleh karena itu, kita review setiap saat, kita pastikan roadmap-nya benar, progress-nya benar, tahapannya pun benar.

Yang kedua, sentralitas ASEAN mengemuka teman-teman saya, leaders dari ASEAN juga selalu mengingatkan pentingnya menjaga sentralitas ASEAN. Saudara tahu bahwa berkembang kerjasama di kawasan ini mulai dari ASEAN +1 terus +3 sampai dengan East Asia Community, bahkan tentu banyak lagi kerjasama yang ada di kawasan yang melibatkan ASEAN. ASEAN berkehendak, bahwa dalam East Asia Community ini, peran ASEAN tetaplah sentral, ini yang dikehendaki. Dengan demikian, tidak dimarginalkan, kemudian kita berada di pinggir dan tidak ikut mendesain kerjasama seperti apa yang mesti kita kembangkan di masa depan.

Kita juga membicarakan ASEAN Connectivity. Connectivity sekarang ini lebih dimaknai connectivity dari segi transportation, baik darat, laut, maupun udara. Tadi misalnya kita melaksanakan pertemuan puncak BIMP-EAGA yang dihadiri oleh Sultan Brunai Darussalam, Presiden Filipina, Perdana Menteri Malaysia sebagai chairman dan saya sendiri dan termasuk Presiden Asian Development Bank dan Sekretaris Jenderal ASEAN. Itu juga membahas bagaimana progress kita di dalam membangun connectivity di wilayah Timur ASEAN, yaitu Brunai, Indonesia, Malaysia, atau the Phillipines East ASEAN Growth Area, menekankan pula bagaimana kita bangun connectivity, baik menyangkut transportasi, darat, laut, maupun udara. Kita juga memaknai connectivity dari segi information and communication technology, yang sama-sama ingin kita kembangkan.

Kita juga membahas dan merumuskan cukup mendalam tentang kerjasama menghadapi disaster yang kita sebut dengan disaster management. Saya kira ini sangat relevan bagi Asia Tenggara yang kerap diguncang oleh bencana. Di Indonesia yang lebih sering adalah gempa bumi, tsunami dan letusan gunung berapi, kemudian di negara lain, typhoon, taufan dan berbagai bencana yang lain. Di sni dikehendaki sebuah gugus tugas yang bisa dikerahkan dengan cepat untuk membantu tanggap darurat, emergency relief operations, ini dirumuskan dan akan dikukuhkan nanti agar lebih cepat lagi ASEAN utamanya di dalam membantu anggotanya manakala menghadapi bencana.

Kita juga masih membahas global financial crisis dan hampir semua merujuk pada G-20 Summit di Pittsburgh maupun summit-summit sebelumnya, yaitu di London dan di Washington DC, karena bagaimanapun sekarang ini G-20 dimaknai atau dinilai sebagai forum yang paling representatif untuk mewakili masyarakat dunia di dalam mengatasi krisis global sekarang ini, ataupun untuk mengembangkan kelak kerjasama ekonomi yang lebih utuh, karena melibatkan, baik negara maju, maupun negara berkembang, Barat Timur dan berbagai civilizations ada di situ. Semua pembahasan merujuk kepada G-20 Summit di Pittsburgh dan semua sepakat, meskipun sudah ada tanda-tanda untuk recovery dari global recession, ini tetapi belum boleh dikatakan semuanya sudah aman dan lantas kita hentikan counter cyclical economy, lantas kita tidak melakukan langkah-langkah ekstra untuk memulihkan keadaan dari krisis global ini. Semua sepakat untuk terus menuntaskan, seraya menjaga jangan sampai terjadi krisis kembali, memperkuat fundamental masing-masing, meningkatkan koordinasi pertumbuhan global, dan yang lebih penting lagi kita bersepakat untuk membangun new economic order dalam arti global economic architecture, termasuk global financial architecture.

Yang berikutnya lagi climate change. Saudara-saudara, saya kira tidak aneh karena 2 bulan lagi akan ada Kopenhagen Conference. Ingat tahun 2007 bulan Desember, kita menjadi tuan rumah dari Cop-13 yang berhasil, dan menghasilkan Bali Roadmap, Bali Action Plan. Dan banyak yang khawatir apabila apa yang dengan susah payah hampir deadlock dulu di Denpasar tidak berlanjut di Kopenhagen ini, karena Kopenhagen adalah harapan kita untuk tercapainya konsensus, deal di antara kita untuk menggantikan Kyoto Protocol yang akan habis masa berlakunya pada tahun 2012 mendatang. Pembahasan cukup hangat di sini, karena ada juga pelaku-pelaku utama dalam membangun new consensus dalam climate change ini, contohnya Cina, India, kemudian ada Indonesia sendiri, ada Australia sehingga forum ini juga forum yang bagus, agar betul-betul ke depan dunia bisa bersepakatlah untuk menyelamatkan buminya dengan cara kita bisa mencapai konsensus di Kopenhagen nanti.

Memang banyak yang skeptis, banyak yang pesimis bahwa kita bisa mencapai sesuatu sesuatu di Kopenhagen, tapi Indonesia akan berbuat semaksimal mungkin, mengingat kita pernah berhasil menjadi tuan rumah. Dan dalam statement saya di Pittsburgh, di beberapa saat yang lalu, saya mengatakan jangan sampai di Kopenhagen tidak dihasilkan apa-apa, has to produce something kalau tidak everything, something, jangan sampai produce nothing yang tentu akan menjadi titik hitam dalam sejarah kita, untuk menyelamatkan bumi kita, untuk generasi mendatang.

Isu lainnya adalah food and energy security dan pada tingkat ASEAN +3, kita telah menyepakati dibangunnya semacam rice reserved pada kawasan ini, cadangan beras dan tentu mekanisme dan pelaksanaannya akan dimantapkan lagi ke depan ini. Tapi kalau kita semua sepakat mengingat pengalaman tahun lalu, ada food crisis, ada energy crisis, mesti ada langkah-langkah atau tindakan yang konkret untuk itu pada tingkat kawasan. Dan khusus beras itu menjadi agenda penting, karena hampir semua negara-negara di kawasan ini mengkomsumsi beras dalam jumlah yang banyak.

Isu yang lainnya adalah berkaitan dengan gagasan new architecture of regional cooperation, yang disebut dengan Asia-Pasific community, juga ada yang disebut dengan East Asia Community. Intinya sebagaimana yang dibahas ketika kita ingin membangun komunitas Asia Timur nantinya yang lebih inklusif, yang memberikan manfaat bagi semua, yang connect atau cocok dengan tantangan dan perkembangan jaman, maka hampir semua sependapat, kembali lagi jangan sampai meninggalkan sentralitas ASEAN, jangan sampai dipaksakan, harus gradual, itu transformasi dan konsensus. Dengan demikian, apapun yang akan kita bangun nanti, model seperti apa, apa seperti Uni Eropa, atau model yang lain, tentulah yang membawa manfaat bagi semuanya, tanpa sekali lagi meninggalkan sentralitas ASEAN.

Itu adalah isu-isu penting yang dibahas dalam rangkaian KTT ini. Sedangkan pertemuan bilateral saya dengan Perdana Menteri Jepang Hato Yama, intinya kita berdua sepakat untuk terus melanjutkan kerjasama di masa depan di berbagai bidang, bukan hanya perdagangan dan investasi, tapi juga bidang yang lain, seperti energi, perubahan iklim, teknologi, budaya, tenaga kerja dan sebagainya. Dan secara spesifik, Perdana Menteri Jepang menyampaikan Prakarsa Hato Yama, atau Hato Yama’s Initiative yang ingin secara konkret berkontribusi pada pengurangan karbondioksida, deep cut 25% Jepang, sambil juga ingin bekerja sama dengan negara-negara lain untuk menghadapi climate change ini. Dibalik itu sebagai contoh Indonesia, saya katakan kalau segi emisi, karena pabrik, karena alat transportasi, tidak seperti negara-negara industri. Tapi Indonesia punya kepentingan untuk memelihara hutannya, untuk menhutankan kembali, mencegah kerusakan hutan, termasuk kebakaran-kebakaran hutan, karena kalau itu bisa kita lakukan dengan baik, maka menjadi penyumbang terhadap carbon absorption, carbon sink. Dan saya katakan kepada beliau, 5 tahun terakhir ini kita menjalankan tugas dengan sungguh-sungguh, memerangi illegal logging, kita terus melakukan reforestation, mengatasi kebakaran hutan, terutama yang menonjol dua tahun terakhir ini dan progress-nya bagus, tapi tidak cukup. Oleh karena itulah, kerjasama yang berkaitan dengan itu tetap diperlukan.

Itu apa yang kami bicarakan dengan Perdana Menteri Hato Yama dan beliau justru menggarisbawahi pentingnya Bali Democracy Forum yang kita prakarsai. Dan saya berharap juga meskipun Perdana Menteri Jepang belum tentu bisa hadir dalam kegiatan parlemen di Jepang, tapi saya berharap ada utusan khusus yang ikut menyemarakan Bali Democracy Forum, itu sebuah forum untuk kita saling berintraksi tentang sistem politik, perkembangan politik, demokrasi, human rights dan sebagainya. Dengan demikian, terjadi proses yang baik, tanpa harus dipaksa-paksa, didikte-dikte, tapi manakala semua sudah saling mengenal, saya pikir negara-negara yang ikut dalam Bali Democracy Forum itu akan mendapatkan pelajaran untuk pengembangan di negaranya masing-masing.

Saudara-saudara,
Dengan Perdana Menteri India, intinya kita ingin melanjutkan kerjasama yang berjalan baik selama ini, termasuk kerjasama di bidang energi, climate change dan penanggulangan terorisme. Kita juga memahami bahwa China dan India, dua negara yang ekonominya tumbuh positif secara signifikan di era krisis ini. Oleh karena itu, patut kalau kita pun juga mengalami pertumbuhan positif yang tadi diangkat oleh Presiden Asian Development Bank, pertumbuhan yang bisa mengangkat pilar perekonomian di Asia ini, secara signifikan, sekali lagi China, India dan Indonesia tentunya ini opportunity yang baik untuk kita jadikan ajang kerjasama di antara India dan Indonesia.

Yang terakhir, masalah BIMP-EAGA. Kebetulan tiga Gubernur hadir di sini, karena sejak tiga tahun yang lalu, thesis saya adalah kerjasama sub kawasan, apakah di wilayah Barat Indonesia IMT-GT, Indonesia, Malaysia, Thailand Growth Triangle maupun BIMP-EAGA, Brunai, Indonesia, Malaysia atau Phillipines East Asian Growth Area, itu harus lebih mengedepankan private sectors dan kemudian para Gubernur, tentu para Bupati dan Walikotanya. Tentu Pemerintah Pusat dengan Pemerintah pusat negara-negara lain mengembangkan master plan, mengembangkan road map, mengembangkan policy, tapi selebihnya pada tingkat implementasi, pada tingkat menemukan opportunity, saya lebih mendorong para Gubernur dan private sectors untuk aktif menggunakan wadah kerjasama sub kawasan ini. Di situ kita mendengarkan laporan dari Malaysia tentang progress, baik kerjasama BIMP-EAGA kemudian juga agenda-agenda dan prioritas penting yang akan kita jalankan ke depan tahun-tahun mendatang.

Saudara-saudara,
Itulah hal-hal penting yang perlu saya sampaikan berkaitan dengan rangkaian pertemuan puncak dari ASEAN, ASEAN +3 maupun East Asia Summit yang dilaksanakan di Cham Am, Hua Hin, Thailand beberapa hari terakhir ini. Saya persilakan bagi Saudara yang ingin mengajukan pertanyaan.

Sdr. Johan Sarjono, Radio Elshinta
Terima kasih Bapak Presiden. Nama saya Johan Sarjono dari Radio Elshinta. Saya ingin menanyakan posisi Indonesia berkaitan di ASEAN dan di G-20. Ada kekhawatiran setelah Indonesia posisinya semakin bagus di G-20, kesan ASEAN ini akan lebih dikurangi. Bagaimana menjaga keseimbangan bisa menyuarakan negara-negara ASEAN di G-20 juga? Terima kasih Bapak Presiden.

Presiden Republik Indonesia
Ya, ya itu pertanyaan yang menarik. Saya juga mendengar kekhawatiran kalau-kalau Indonesia karena sudah punya klub baru, sudah punya rumah baru, yaitu G-20, lantas tidak lagi menjadikan ASEAN sebagai rumah utamanya. Saya perjelas, Indonesia akan tetap berperan aktif dan menjadi bagian penting dalam ASEAN. Indonesia adalah salah satu founding fathers dari ASEAN. Kita punya kepentingan untuk terbangunnya kerjasama sub kawasan, ulangi kerjasama kawasan Asia Tenggara menuju ke ASEAN Community yang saya sampaikan tadi. Oleh karena itu, tidak benar kalau Indonesia masuk G-20 lantas ASEAN dianggap tidak penting lagi. ASEAN sangat penting.

Namun demikian, pada forum yang lebih luas Indonesia menyadari bahwa dalam G-20, perkara-perkara global bisa kita bahas dengan lebih konklusif lagi karena memang G-20 merepresentasikan kepentingan-kepentingan utama. Sebutlah negara maju, emerging economies, negara berkembang, barat, timur, utara, selatan, bahkan yang unik, ada civilization yang diwakilinya. Itu tentu satu opportunity yang baik karena menurut saya G-20 tidak boleh hanya dirancang untuk menangani persoalan-persoalan ekonomi global, harus lebih dari itu. Suatu saat kita berbicara tentang climate change, tentang harmony among civilization, tentang bagaimana lebih meningkatkan international peace and security. Jadi masalah-masalah itu harus bisa kita bahas dengan semua yang lebih representatif.

Dewan Keamanan PBB, tentu tidak bisa mewakili kepentingan dunia pada abad 21, barangkali desain pasca perang dunia ke-2 untuk mewarnai pembentukan Dewan Keamanan PPB. G-8, G-7, saya kira juga mohon maaf sekarang tentu tidak sepenting dulu, ketika semuanya bisa didikte oleh negara-negara ekonomi maju. Ingat saja, sekarang yang menjadi pilar penyelamat justru ASEAN yang lebih cepat recovery-nya, Asia maksud saya bukan ASEAN, Asia, ada Tiongkok, ada India, ada Indonesia, ada yang lain-lain. Menurut saya sudah saatnya negara-negara berkembang, emerging economies juga diberikan peran yang lebih dalam G-20.

Dan yang terakhir, dalam pernyataan saya di Pittsburgh, saya menginginkan setiap summit dari G-20, chairman dari ASEAN itu diundang. Jadi Indonesia tentu tidak hanya membawakan kepentingannya sendiri, kami sadar kepentingan negara-negara berkembang harus kami suarakan juga di forum G-20 dan secara spesifik pula, kalau setiap summit G-20 itu Indonesia sebagai permanent member dari G-20 hadir di situ, kemudian chairman dari ASEAN, tentu berganti-ganti juga hadir, maka akan lebih terwakili kepentingan ASEAN dalam forum G-20 itu.

Sdri. Diah, LKBN Antara
Selamat Malam Pak. Saya Diah dari Antara. Saya ingin bertanya tentang komitmen pemerintah pada komisi HAM atas pemerintahan ASEAN baru dibentuk, mengingat sejak awal posisi Indonesia ingin penguatan dari komisi ini. Dan kemudian isunya adalah isu yang sensitif di kawasan dan masih ada juga tidak kepuasan dari dalam negeri tentang masalah perlindungan HAM ini. Terima kasih.

Presiden Republik Indonesia
Ya, begini Saudara-saudara. Kita harus membedakan agenda dalam negeri, agenda nasional, agenda domestik, dengan agenda ASEAN, agenda regional. Di dalam negeri sepenuhnya faktor itu ada pada kita, Presiden punya peran penting, disamping itu tentu pihak-pihak lain di dalam negeri kita bisa berembuk, bisa berkonsensus, bahkan bisa menghasilkan Undang-Undang, bahkan bisa dituangkan dalam Undang-Undang Dasar sebagaimana Undang-Undang Dasar kita sekarang ini ada 10 pasal tentang human right. Kita punya komnas HAM, kita punya monitoring system, kita punya protection system, sehingga harapan kita makin ke depan perlindungan dan kemajuan hak-hak Manusia makin baik.

Alhamdulillah, lima tahun terakhir ini, misalnya there is no gross violence of human right. Ini langkah maju, tetapi belum cukup, mari terus kita bukan hanya antara state dengan the people, tapi di antara unsur-unsur masyarakat, mari sama-sama kita lebih mempromosikan hak asasi manusia, lebih memproteksi hak asasi manusia. Itu domestik konteks. Kita sangat serius. Kita ingin betul-betul hak-hak asasi manusia dilindungi, dimajukan, itu merupakan hak politik, hak dasar rakyat.

Ketika kita pindahkan ke wilayah regional, mari kita melihatnya begini, dari yang tidak ada menjadi ada. ASEAN sendiri terdiri dari 10 negara yang berbeda-beda sistem politiknya, sejarahnya, perkembangan demokrasi, dan hak asasi manusia. Dan ingat ini proses, sebagaimana transformasi. Saya tetap optimis suatu saat yang namanya Human Right Commission di ASEAN ini akan lebih efektif. Saya juga yakin pada saatnya nanti, semua negara di ASEAN ini akan sungguh mempromosikan dan melindungi hak asasi warga negaranya, karena sudah menjadi charter dari ASEAN. Kalau kita maknai seperti itu maka kita lebih rileks sedikit. Indonesia akan terus berjuang di tingkat ASEAN untuk memastikan bahwa human right commission ini betul-betul bukan hanya promoting, tapi juga protecting, monitoring. Dan ini pendapat Indonesia untuk lima tahun mendatang dari ada review, agar sekali lagi not only yang disebut dengan the promotion of human right, tetapi juga sekali lagi the protection and the monitoring of the implementation of human right practices.

Itu semua menjadi tekad kita. Poin saya adalah Indonesia tetap percaya bahwa ini akan berkembang ke depan. Pengalaman Indonesia akan terus disumbangkan ke lembaga yang baru ini. Dengan demikian, di dalam negeri kita perkuat, kita punya promotion and protection of human right pada tingkat kawasan kita sumbangkan, tentu saja mesti ada konsensus kita menyerasikan dengan langkah semua, tanpa kehilangan semangat dan energi kita untuk ikut juga memastikan human right commission berfungsi lebih efektif lagi di tahun-tahun mendatang. Dan yang lebih penting the promotion of human right pada atingkat kawasan sesuai dengan charter yang baru itu betul-betul meningkat.

Sdr. Wahyu, Majalah Tempo
Selamat malam Bapak Presiden. Saya Wahyu dari majalah Tempo, Pak. Sedikit soal ekonomi, Pak, tadi di penutupan KTT, Perdana Menteri Thailand mengatakan, bahwa salah satu isu yang dibahas adalah bagaimana ASEAN, ASEAN +3 bisa menciptakan sebuah model baru untuk kawasan yang tidak bergantung pada demand dari barat, apa posisi kita dalam isu itu dan apa kontribusi kita dalam diskusi dalam forum tadi, Pak. Terima kasih.

Presiden Republik Indonesia
Baik. Sebenarnya sejak tahun lalu dalam berbagai forum, termasuk forum ASEAN juga di forum APEC, juga di G-20, saya sampaikan bahwa yang harus kita perbaiki adalah yang disebut global imbalances. Ekonomi dunia runtuh sekarang ini antara lain, karena adanya global imbalances. Asia, China misalnya dan negara-negara yang mengekspor barangnya yang besar-besaran, jadi kita menjalankan fungsi supply dan itu produksi barang dan jasa itu dikonsumsi oleh negara seperti Amerika Serikat yang memiliki demand yang sangat tinggi. Ini betul-betul imbalance dan ketika terjadi shock, crisis di Amerika Serikat maka runtuhlah bangunan itu, pasarnya menciut sekali, sehingga terjadi kemandekan dalam ekspor.

Bangun atau struktur perekonomian global seperti itu tentu tidak aman, rentan terhadap krisis dan oleh karena itu kita perbaiki. Jadi sebenarnya apa yang disuarakan oleh Perdana Menteri Abhisit tadi, sesungguhnya juga pikiran Indonesia juga yang kerap kali saya sampaikan. Saudara masih ingat, ketika saya memberikan pidato ilmiah di Institut Pertanian Bogor, waktu itu saya sampaikan, saya kira para Menteri juga masih ingat. Indonesia harus secara cerdas mengambil pelajaran dari krisis global ini. Kita lebih selamat karena ketergantungan kita pada ekspor tidak setinggi negara-negara ASEAN yang lainnya, selamat. Dan sekaligus meniscayakan kita ke depan ini 5, 10, 15 tahun mendatang untuk terus memperkuat ekonomi domestik, pasar domestik, domestic demand, termasuk pengembangan ekonomi di daerah.

Ini para Gubernur bersama kita, kalau semua Provinsi tumbuh memiliki demand, maka secara nasional demand kita tinggi, dan kita memproduksi barang dan jasa untuk memenuhi pasar domestik, untuk dikonsumsi oleh demand yang makin meningkat itu. Kalau itu terjadi, meskipun ekspor tidak boleh kita abaikan, kita perlu devisa, tentu semua terlibat dalam ekspor dan impor, international trade dan juga investment nantinya, tapi kita memastikan bahwa kita memiliki keseimbangan baru yang apabila terjadi krisis global seperti sekarang ini kita akan lebih aman.

Dan bukan hanya saya sependapat dengan Abhisit, karena itu juga sudah kita suarakan, tetapi untuk dalam negeri untuk Indonesia sendiri sangat memungkinkan. Oleh karena itu, dalam waktu dekat nanti dalam National Summit, Insya Allah pada tanggal 29,saya akan sampaikan kepada rakyat Indonesia tentang bangun perekonomian kita ke depan 5, 10 tahun mendatang, agar ekonomi kita lebih resilient, lebih berketahanan terhadap krisis global. Tapi poinnya adalah perlunya new global balance, regional balance. Bahkan Indonesia, ini wilayah yang luas kalau kita bicara connectivity, kita bicara disitu, kita bicara balance, intra-state trade itu juga di situ. Saya optimis pada saatnya Indonesia akan tumbuh lebih pesat lagi, manakala konsep dan strategi kita benar dalam membangun perekonomian ke depan.

Sdr. Suhartono, Harian Kompas
Selamat malam Bapak Presiden. Suhartono dari Harian Kompas. Bapak yang menarik dari KTT kali ini adalah kehadiran sejumlah gubernur, sehingga bisa memberi warna bagi khususnya forum BIMP-EAGA. Kira-kira sejauh mana makna penting mereka hadir dari dalam forum itu, Pak dan sumbangannya bagi pertumbuhan ekonomi kawasan itu sampai seberapa besar?

Ini terkait juga mungkin dalam negeri, mungkin pertanyaan kita setelah para Menteri diumumkan mungkin Wakil Menteri juga diperhitungkan Pak, sehingga mungkin boleh sedikit di-share ke kita, sehingga ada informasi buat masyarakat di Indonesia. Terima kasih, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Terima kasih. Sambil menyelam minum air ini. Baik, ini yang pertama sebagai pengantar menuju pertanyaan kedua supaya appetizer ini, ini yang maincourse yang kedua ini. Baik, saya akan jawab yang pertama dulu. Sangat penting, beliau-beliaulah, ini ada Pak Kornelis Kalimantan Barat, ada Pak Awang Faruk Kalimantan Timur, ada Bapak Syahrul Sulawesi Selatan. Dengan memahami konsep master plan dan peluang kerjasama sub kawasan ini, maka akan bisa menemukan peluang yang bisa diambil oleh Provinsi masing-masing. Bicara connectivity, menghubungkan wilayah-wilayah itu dengan empat negara di bidang transportasi udara, di bidang transportasi laut, di bidang transportasi darat, nyata sekali eco-tourism, atau tourism sendiri, bisa saling dikaitkan.

Kemudian infrastruktur apa yang perlu dibangun untuk menggerakan perekonomian lokal di situ. Lantas para gubernur, beliau-beliau akan bisa memikirkan kalau begitu jenis usaha apa, investor mana dari daerah itu yang bisa dimajukan, manakala cukup daerah-daerah itu yang di depan, manakala tidak cukup, bicara dengan KADIN. Saya ingin kalau bicara di depan yang depanlah yang paling depan. Kalau ndak cukup, bisa sendiri baru dibantu, menggandeng yang lain jangan dibalik. Dengan demikian, maka otonomi daerah akan lebih bermakna dan kemudian peluang bisa diambil oleh para gubernur. Dengan demikian, lebih hidup lagi, lebih konkret lagi kerjasama antar kawasan.

Banyak yang bisa dikerjasamakan, agro industri sekali lagi, jasa transportasi, kemudian apa namanya infrastruktur, tourism dan lain-lain. Jadi penting. Dan saya ingin dalam pertemuan BIMP-EAGA, IMT-GT, apakah yang saya hadiri atau yang para Menteri ikuti, jangan lupa untuk melibatkan mengajak serta para gubernur, dengan demikian biar langsung ikut merumuskan seperti apa kerjasama yang bisa dilakukan di masa depan.

Kemudian masalah Wakil Menteri, sudah saya katakan waktu itu bahwa lima tahun ini ada sejumlah prioritas dan agenda penting dari departemen, kementrian tertentu, karena ada yang saya tugasi untuk melaksanakan revitalisasi. Sebagai contoh revitalisasi pertanian gelombang kedua untuk memastikan, bahwa komoditas-komoditas strategis itu harus bisa kita capai swasembadanya. Departemen Industri juga demikian akan saya tugasi untuk revitalisasi perindustrian gelombang pertama. Ingat pabrik pupuk, kemudian pabrik gula, pabrik tekstil, manufaktur yang lain kemungkinan relokasi, tenaga kerja berkaitan dengan industri, semua harus direvitalisasikan.

Demikian juga dua sektor utama pendidikan dan kesehatan sangat-sangat penting. Kesehatan akan saya tugasi untuk melaksanakan reformasi kesehatan yang lebih mengait kepada kesehatan masyarakat, public health. Oleh karena itu, mesti ada cetak biru, ada visi, ada strategi, ada program-program konkret di situ dan akan bekerja penuh selama lima tahun untuk betul-betul, kalau di Amerika ada health care reform, kita pun punya kepentingan yang sama. Departemen seperti ini juga akan memiliki load yang tinggi karena PR-nya akan sangat banyak.

Departemen Luar Negeri, Departemen Keuangan waktunya banyak tersita untuk tugas di luar negeri Deplu misalnya. Departemen Keuangan akan banyak sekali bersama-sama dengan DPR RI, padahal yang lain juga harus jalan. Dengan demikian, saya tengah memikirkan, tengah menggodok departemen atau kementrian apa yang load-nya tinggi dan disitu perlu di-back up oleh wakil yang betul-betul mesin itu bergerak penuh, tidak ada yang macet, enggak ada yang macet. Dan akan saya utamakan antara profesional yang berasal dari non partai politik, saya utamakan di situ karena mereka sesungguhnya bagian dari mesin yang harus bekerja penuh tanpa harus memikirkan sana sini, dia utuh bekerja untu departemen dan kementriannya. Saya utamakan begitu, meskipun barangkali satu dua tetap kita ambil, mungkin dari parpol, tetapi bukan politisi murni, dia tetap seorang profesional, sekarang sedang saya matangkan tunggu tanggal mainnya.

Sdr. Wimpy Tangkilisan, Pemimpin Redaksi Suara Pembaruan
Terima kasih yang lainnya sudah. Jadi saya santai aja, Pak. Pertanyaan saya, Pak apakah ada perasaan yang berbeda ikut ke summit yang sebelumnya dengan sekarang, mengingat bahwa bapak sudah membawa negara Indonesia begitu maju, mewakili mereka juga di G-20 begitu luar biasa semangat sekali dan mereka juga pasti merasakan. Bagaimana cara mereka treat Bapak, apakah shakehand-nya lebih kuat, smile yang lebih besar? Bagaimana perasaan Bapak juga terhadap mengikuti kali ini, perubahan ini dengan perasaan Bapak sebelumnya Pak? Apakah ada perbedaan. Terima kasih, Pak.

Presiden Republik Indonesia
Ya, Pak Wim saya pikir atmosfirnya tetap khas ASEAN. ASEAN ini memang silih asah, silih asih, silih asuh, di antara kami dikembangkan budaya hormat-menghormati, ada yang baru menjabat mungkin kurang dari setahun, ada yang lebih dari lima tahun seperti Perdana Menteri Lee Hsien Loong, Presiden Arroyo dan saya sendiri. Kemudian ASEAN +3 pun juga ada yang lama Brener, Wen Jiabao, tetapi Perdana Menteri Hato Yama itu baru, Pak Manmohan Singh juga lama, Presiden Ling Kiat baru, kemudian Selandia Baru dan Australia baru. Sesama ASEAN ataupun kawasan timur kita saling hormat-menghormati. Tapi yang jelas bagi saya ini sudah keenam kali saya hadir, ya tentu lebih mengenal isu-isu utama yang dihadapi oleh ASEAN maupun oleh kawasan Asia Timur. Dan yang saya sampaikan disitu tentu lebih kenal lagi, mengingat Indonesia juga terus berjuang, kita talah mencapai sejumlah hal, tapi belum mencapai sejumlah yang lain. Oleh karena itu, kita pun punya kepentingan untuk terus mengembangkan diri kita sendiri, sambil berkontribusi atas pengalaman yang kita miliki.
Suasananya tetap baik, dan saya akan tetap mendudukan diri salah satu dari mereka, karena itu yang paling bijak bahwa kalau negara kita makin baik-makin baik, Alhamdulillah dan tentunya penting untuk saling memberikan penghormatan di antara kami semua sesama pemimpin ASEAN maupun pemimpin di kawasan ini.

Terima kasih Saudara-saudara atas perhatiannya.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabaraktuh.



*****


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan