Ruang Pers
Keterangan Pers Presiden
Tentang Hasil Kunjungan ke Malaysia dan Singapura
TRANSKRIPSI
KETERANGAN PERS PRESIDEN INDONESIA
DENGAN MEDIA INDONESIA
YANG MENGIKUTI KUNJUNGAN KERJA KE SINGAPURA
HOTEL MARINA MANDARIN-SINGAPURA
16 NOVEMBER 2009
Bismilllahirrahmanirrahim,
Saudara-saudara,
Dengan didampingi oleh delegasi resmi Indonesia akan menyampaikan penjelasan tentang pelaksanaan tugas kita dalam mengikuti berbagai kegiatan, baik yang bersifal bilateral, regional, multilateral maupun yang berkaitan dengan kegiatan dengan dunia usaha maupun elemen lain selama kunjungan kita ke Malaysia dan Singapura kali ini.
Saya tahu setiap hari Saudara telah mengikuti agenda dan kegiatan yang saya lakukan. Beberapa kali Juru Bicara menyampaikan kepada Saudara hal-hal yang berkaitan itu. Saudara juga mengikuti penjelasan dari host ataupun tuan rumah, terutama yang berkaitan dengan APEC Summit maupun ASEAN-US Summit. Oleh karena itu, saya tidak akan mengulangi atau menjelaskan lagi semua informasi yang telah Saudara dapatkan selama berada di Kuala Lumpur dan Singapura ini.
Yang ingin saya sampaikan justru masalah-masalah penting di luar itu yang sangat berkait kepada kepentingan nasional kita, kepentingan Indonesia, karena hakikatnya politik luar negeri adalah sebetulnya kelanjutan dari politik nasional kita atau bagian dari upaya untuk mencapai kepentingan nasional kita. Oleh karena itu, terhadap hiruk-pikuk foreign policy kita, dinamika regional dan internasional yang sering amat tinggi, jangan kehilangan orientasi, jangan menjadi disoriented apa yang sesungguhnya yang ingin kita capai dalam kunjungan 5 hari ini yang Saudara sendiri tahu hampir tidak ada waktu untuk cukup istirahat. Dan jangan lupa, bahwa apa yang kita dilakukan 5 hari ini jika kita betul-betul menjadikannya sebagai capital, modal dan kemudian kita tindak lanjuti secara cerdas dalam kegiatan atau hubungan atau kerjasama internasional kita, paling tidak 5 tahun mendatang akan mendatangkan manfaat yang tidak kecil bagi pembangunan di tanah air.
Saya hanya ingin mengingatkan kembali, bahwa pembicaran substanstif saya selama 4 atau 5 hari ini, tentu pertama-tama dengan Perdana Menteri Malaysia, yang kedua dengan Perdana Menteri Singapura, karena itu kunjungan kenegaraan dan kunjungan resmi saya di kedua negara ini pada periode kedua saya memimpin Indonesia. Kemudian pembicaraan saya dengan berbagai pemimpin dunia di sela-sela APEC Summit ini, seperti dengan Presiden Tiongkok, Hu Jintao, dengan Presiden Amerika Serikat, Barack obama, dengan Perdana Menteri New Zealand, dengan Perdana Menteri Papua Nugini, dengan Perdana Menteri Australia, dengan Perdana Menteri Thailand, dengan Perdana Menteri Kamboja dan sejumlah pemimpin ekonomi di sela-sela retreat, baik retreat pertama maupun retreat kedua, semua juga berkait dengan kepentingan nasional kita. Tidak ada satu pun kegiatan yang saya lakukan dalam kaitan ini yang tidak punya tujuan, yang tidak punya arah. Oleh karena itu, sekembali ke tanah air nanti, saya akan meneruskan kepada jajaran pemerintah tekait tindak lanjut seperti apa yang harus kita lakukan dengan demikian tidak sia-sia apa yang kita lakukan di kedua negara ini dalam upaya meningkatkan kerjasama dan kemitraan kita dengan negara-negara sahabat.
Dengan pengantar itu, saya ingin menyusun struktur penjelasan saya sebagai berikut: yang menjadi kepentingan atau interests dan yang menjadi misi dari pemerintahan yang saya pimpin untuk 5 tahun mendatang adalah karena ini semua berkait dengan ekonomi, melanjutkan dan meningkatkan pembangunan ekonomi dengan sasaran kita bisa mencapai pertumbuhan 7% atau lebih pada tahun 2014 nanti, yang pertumbuhan itu dengan paradigma pertumbuhan disertai pemerataan, growth with equity, maka dapat kita gunakan untuk mengurangi kemiskinan, untuk menciptakan lapangan pekerjaan dan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh, agar kita bisa mencapai pertumbuhan 7% itu diperlukan potensi, sumber daya atau modal. Tidak mungkin tanpa itu kita bisa mencapai pertumbuhan 7%. Modal itu atau sumber daya itu apa? Yang menonjol adalah diperlukan investasi. Investasi itu darimana? Pertama, sesungguhnya pemerintah bisa mengeluarkan pembiayaan yang disebut dengan government spending. Yang kedua, karena itu belum cukup untuk mencapai 7%, untuk membangun infrastruktur besar-besaran, untuk meningkatkan pertanian, perindustrian dan jasa kita dan lain-lain, maka kita mengundang swasta usaha dalam negeri, dunia usaha dalam negeri di pusat maupun di daerah.
Setelah kita hitung dengan kebutuhan kita itupun belum cukup, karena kita ingin betul memiliki pertumbuhan yang tinggi, tanpa pertumbuhan itu tidak mungkin kita bisa mencapai banyak hal, maka kita mengundang sahabat-sahabat kita, partner kita dari negara lain, yang disebut dengan penanaman modal asing. Harapan kita semua itu menjadi cukup. Cukupnya berapa? Kalau kita ingin memiliki pertumbuhan GDP 7%, GDP kita antara 500 sampai 600 billion US Dollars, maka tiap tahunnya diperlukan rata-rata sekitar 200 miliar dolar Amerika Serikat atau Rp 2.000 triliun, besar, besar sekali. Oleh karena itu, meskipun kita mobilisasi habis-habisan dari APBN dan APBD kita, APBN kita Insya Allah akan terus tumbuh dari Rp 1.000 triliun meskipun ini sudah pertumbuhan yang signifikan akan terus kita tingkatkan. Nah dari situ untuk belanja modal, untuk government expenditure itu paling-paling hanya sekitar 15% saja darinya.
Kemudian kita mobilisasi kemampuan swasta di dalam negeri, kalau kita hitung-hitung jumlahnya hanya sekitar 45-55% saja dari total yang kita perlukan. Berarti sekitar Rp 1.000 triliun rupiah atau 100 miliar Dolar Amerika Serikat itulah yang kita perlukan tiap tahunnya dari kerjasama dengan negara sahabat, agar kita bisa mencapai sasaran-sasaran pembangunan itu. Itulah sesungguhnya mengapa saya sejak 5 tahun yang lalu aktif untuk menggalang kerjasama ini dan 5 tahun ke depan akan lebih aktif. Orang bilang ah pemerintah itu tenang saja, serahkan pada dunia usaha, semuanya akan beres. Saya kurang percaya apalagi setelah krisis kemarin. Setelah krisis kemarin ternyata kalau pemerintah tidak ikut terlibat dan melibatkan diri dunia akan kacau balau, bailout terjadi dimana-mana, di negara-negara maju yang dulu menganjurkan, sudahlah pemerintah enggak usah terlalu berlebihan serahkan pada mekanisme pasar begitu katanya. Ternyata itu tidak jalan, dunia mengoreksi sendiri, ideologi ataupun paradigma tentang perekonomian, baik perekonomian nasional maupun perekonomian global. Oleh karena itu, saya tetap berpendapat bahwa, pemerintah tetap berperan sambil mendorong swasta, dunia usaha untuk lebih aktif lagi, mengembangkan usahanya, menggandeng mitranya dengan kerjasama yang baik, yang menguntungkan negara kita dan berlaku atau berlangsung secara adil.
Saudara tahu akhirnya, bahwa pembicaraan saya dengan misalnya Presiden Hu Jintao, dengan Presiden Obama, dengan Perdana Menteri Najib, dengan Perdana Menteri Lee Hsien Loong dan banyak lagi dalam konteks pembangunan ekonomi di negara kita pastilah mengarah kepada apa kerjasama yang mesti kita lakukan ke depan, utamanya investasi dan perdagangan dan kerjasama perekonomian yang lainnya misalnya ketahanan pangan dan ketahanan energi, kemudian pariwisata dan sejumlah agenda perekonomian yang lain. Jadi kalau dilihat satu demi satu, pertemuan bilateral saya ataupun partisipasi saya dalam pertemuan regional dan multilateral selama berada di Singapura ini, dalam pikiran saya, dalam benak saya apa yang Indonesia dapatkan dari itu semua untuk kepentingan negara kita.
Saudara-saudara,
Hal lain yang penting yang ingin saya adalah, apa yang menjadi hajat utama di Singapura ini sesungguhnya masih kelanjutan dari kesepakatan Pertemuan Puncak G-20 yang ada di Pittsburgh, yang pada saat kita bertemu di Hua Hin beberapa saat yang lalu itu juga kita bahas dan kita tindak lanjuti dan pertemuan di Singapura ini terus terang masih bagian atau kelanjutan dari semuanya itu, yaitu upaya bersama pada tingkat global untuk benar-benar bisa mengakhiri resesi perekonomian sekarang ini untuk pada saatnya nanti setelah resesi berakhir, perekonomian dunia akan tumbuh dan pertumbuhan itu berlangsung secara sustainable atau berkelanjutan, secara balance, berimbang, dan secara inklusif. Semua merasakan pertumbuhan itu.
Itu yang menjadi goals dan di atas segalanya karena dunia harus menyelesaikan banyak hal, mengurangi kemiskininan dunia, menghadapi tantangan perubahan iklim, memerangi penyakit-penyakit menular yang sering mewabah lintas negara dan sebagainya, maka pertumbuhan global itu haruslah kuat. Oleh karena itu, yang menjadi tema besar pada tingkat G-20, pada ASEAN Summit, East Asian Summit dan APEC Summit adalah bagaimana begitu kita bisa mengakhiri resesi ini, maka dunia memiliki paradigma pertumbuhan baru, model pertumbuhan baru yang strong, sustainable, balance and inclusive. Jadi kalau kita ingin punya masa depan yang cerah, Indonesia kita, maka pahamilah dunia menganut paradigma dan menuju kepada kerjasama serta pembangunan global seperti itu. Kalau kita mengerti betul, kita mempersiapkan diri kita, kemudian kita juga secara aktif menjadi bagian dari pertumbuhan dunia itu, kita akan mendapatkan manfaat yang besar, kalau tidak kita tertinggal. Apalagi kalau kita hanya dipenuhi dengan retorika-retorika, tidak fokus, tidak realistik, tidak mengerti betul, itulah yang dilakukan oleh dunia kita, maka jangan menyesal suatu saat kalau kita makin tertinggal dengan negara-negara lain. Saya sebagai orang yang mengemban amanah memiliki tanggung jawab untuk memimpin Indonesia menjadi bagian aktif dan bukan pasif dari pertumbuhan ini, agar kita juga mendapatkan keuntungan dan manfaat yang besar.
Saudara-saudara,
Alhamdulillah, sering kurang diangkat di dalam negeri dan bagi umat yang beragama berarti kita kurang bersyukur, bahwa sesungguhnya dalam krisis global yang dahsyat sekarang ini, Indonesia dinilai cukup kompeten, cukup berhasil, untuk meminimalkan dampak dari krisis perekonomian global ini. Mungkin berita-berita kini juga tidak seksi dalam pemberitaan di berbagai media di tanah air, tapi saya menganggap ini penting, karena setelah ini ada pekerjaan rumah yang harus kita lakukan secara bersama. Saya harus mengulangi lagi sedikit negara G-2O yang memiliki pertumbuhan yang positif dan mengesankan. Kita tumbuh lebih dari 4% dimana yang lainnya pertumbuhannya negatif setelah Tiongkok dan India. Itu fakta. Namun demikian tidak cukup, 5 tahun mendatang kita hanya tumbuh 4-5%, kita harus berlari lebih kencang.
Saudara tahu dalam program 100 hari, kita canangkan dan akan menjadi acuan nanti ke depan yang saya sebut dengan debottlenecking yang selama ini macet-macet di banyak hal, kita bikin tidak macet, kita alirkan, yang selama ini lambat di berbagai sektor, di berbagai daerah, kita percepat, yang selama ini sasarannya hanya segitu-gitu saja, kita tingkatkan. Dengan debottlenecking, dengan acceleration, dengan enhancement, maka kita berharap yang meskipun Alhamdulillah, ekonomi kita masih tumbuh di atas 4% dimana dunia gelap seperti beberapa saat yang lalu. Kita harus meningkatkan betul menjadi pertumbuhan nantinya paling rendah 7%. Konkretnya bagaimana? Konkretnya adalah Saudara-saudara, agar kita memiliki strong growth, high growth itu sebetulnya 5 sampai 6% sudah termasuk high growth sebetulnya begitu norma perekonomian global, sehingga kalau kita bisa mencapai 7% pertumbuhan nantinya betul-betul kita pada posisi high growth. Agar mencapai di situ, maka penjurunya adalah pertama-tama, investasi, investasi dalam negeri maupun investasi mitra-mitra kita dari luar negeri. Itu yang pertama. Tentu dengan harapan daya beli rakyat kita makin meningkat, Alhamdulillah sudah tembus di atas 2.000 dolar, maka konsumsi domestik, pembelanjaan dalam negeri juga makin kuat atau tetap kuat.
Pengeluaran pemerintah saya sampaikan tadi dengan peningkatan APBN juga harus semakin meningkat. Ekspor kita, meskipun saya jelaskan nanti apakah kita ikut-ikutan negara lain menjadi export oriented economy atau tidak, tetapi bagaimana pun, kita juga harus terus meningkatkan ekspor kita. Kalau semua itu kita tingkatkan komponen itu, maka sampai 7%. Kuncinya dalam hubungan internasional, investment, investasi. Jadi habis kemarin pembicaraan saya utamanya bagaimana bisa membangun kerjasama investasi. Paham Saudara mengapa investasi sangat penting?
Orang mau berusaha di negeri kita, apakah perusahaan-perusahaan dalam negeri, perusahaan domestik, apalagi saudara-saudara kita dari luar negeri, manakala tidak rugi, ada untungnya, begitu perhitungan ekonomi. Tidak pernah ada orang mau berusaha di Indonesia kalau hanya untuk merugi dan merugi, harus ada return of investment. Agar ada return, pertama-tama yang diharapkan iklim di dalam negeri kita baik. Kalau politiknya tidak stabil, keamanannya terguncang, kohesi sosialnya robek, siapa yang bisa tumbuh, berusaha dengan baik, siapa yang mau berinvestasi. Kalau hukum tidak tegak, masih ada mafia-mafia di berbagai wilayah penegakkan hukum, jangan harapkan usaha tumbuh, jangan harapkan investor datang. Kalau peraturannya kacau-balau, daerah bikin peraturan sendiri-sendiri, tidak sesuai dengan peraturan pusat, jangan harapkan tumbuh. Kalau berbelit-belit, birokrasinya tidak bagus, main pungli, ijinnya diperlambat, masuk sana, masuk sini, jangan harapkan. Kalau infrastruktrunya juga tidak lengkap, listriknya tidak bisa kita tambah secara cepat 5 tahun mendatang, jalan-jalan kita tidak ditambah, dermaga, pelabuhan ya bagaimana mungkin industri ataupun ekonomi tumbuh dan darimana dan bagaimana kita bisa meyakinkan para penanam modal untuk itu.
Jadi itu mata rantai. Kita ingin tumbuh, kita perlu investasi dalam negeri enggak cukup, kita bekerja sama dengan negara sahabat, perlu kondisi, perlu prekondisi, semuanya itu yang kita lakukan. Jadi saya berharap seluruh rakyat Indonesia, semua komponen bangsa mengerti persoalan ini. Saudara tahu yang sering ke Malaysia, lihat, tumbuh dengan baik. Yang sering ke Tiongkok, lihat, tumbuh dengan baik, Korea, Jepang, Amerika, Eropa, Singapura mengapa negara itu stabil, negara itu inovatif, negara itu memiliki governance yang baik. Oleh karena itu, tidak mengada-ada, kalau saya menyeru dan menyeru, mengajak seluruh rakyat Indonesia, mari kita ciptakan keadaan dalam negeri yang baik, agar semua pembangunan ekonomi tumbuh dengan baik, sebagaimana negara-negara yang telah berhasil. Harus bersatu kita, mengutamakan kepentingan bangsa, bukan kepentingan kelompok, golongan atau perseorangan.
Saudara-saudara,
Itu mata rantai apa yang harus kita lakukkan untuk mencapai pertumbuhan 7% 5 tahun mendatang. Disamping itu komponen pertumbuhan, growth itu juga disumbang oleh sektor riil. Sektor riil itu bermacam-macam, ada sektor riil yang berkaitan dengan pertanian, ada yang berkaitan dengan industri, ada yang berkaitan dengan jasa, semua harus kita dorong. Agar sektor riil tumbuh, syaratnya semua seperti investasi tadi. Inilah yang menjadi core dari apa yang akan kita lakukan 5 tahun mendatang. Paham bahwa kita harus melakukan semuanya itu, akhirnya muaranya untuk kepentingan kita untuk rakyat kita.
Saudara-saudara,
Dalam ASEAN Summit di Hua Hin, dalam APEC Summit di Singapura dan sebelumnya G-20 Summit di Pittsburgh, kita sepakat bahwa pertumbuhan itu haruslah inklusif dan juga harus balance. Semua sadar kalau kita hanya berorientasi ekspor. Selama ini negara seperti Tiongkok dan negara-negara Asia Timur mengekspor barang besar-besaran ke Amerika Serikat, Amerika Serikat ekonominya anjlok, drop, rusak semua. Oleh karena itu, kita sadar, pertumbuhan yang akan datang itu harus bukan dari ekspor semata, tapi dikaitkan dengan kebutuhan dalam negeri, domestic demand. Kemarin menjadi bahasan utama, saya juga berbicara tentang itu. Oleh karena itu, sebagaimana yang sering saya sampaikan, mari betul-betul kita jalankan, kita besarkan pasar dalam negeri kita, kita tingkatkan domestic demand kita, kita tingkatkan pembangunan-pembangunan daerah. Dengan demikian, yang kita produksi itu dikonsumsi oleh dalam negeri kita sendiri, meskipun tetap kita dorong ekspor kita. Kalau arahnya ke situ Saudara-saudara, pas dengan yang dipikirkan oleh dunia. Jangan kita hanya pandai berteori di tingkat global, di APEC, di G-20, tapi negeri kita tidak bergerak ke situ.
Saya akan bertemu dengan para Gubernur pada bulan depan nanti di Palangkaraya dan saya akan terus bertemu dengan semua stakeholders, terutama 100 hari ini untuk menyatukan persepsi kita, pemahaman kita, langkah kita, bahwa semua itu diperlukan secara bersama untuk membesarkan perekonomian dalam negeri. Ini bahasan penting selama APEC. Jadi pertumbuhan yang bersumber dari domestic demand. Saya setuju dan bahkan saya sudah menyampaikan sejak tahun lalu, strategi pembangunan ekonomi kita 5 tahun mendatang.
Disampaikan juga dalam summit ini yang disebut connectivity, harus saling terhubung sesama ASEAN, sesama Asia, sesama Asia-Pasifik begitu bunyinya. Saya mengulangi apa yang saya sampaikan di Hua Hin dulu, connectivity memang perlu antar bangsa, tetangga kita sajalah, kita dengan Malaysia, kita dengan Singapura, kita dengan Filipina, kita dengan Thailand, kita dengan Australia, apakah itu connectivity dalam arti transportasi, transportasi udara, transportasi darat, transportasi laut ataupun IT, ataupun tourism dan segala macamnya. Boleh, tetapi saya ingin benar 5 tahun mendatang nanti dan masih dilanjutkan 10 tahun berikutnya, itu intra state connectivity betul-betul kita bangun. Nanti dalam pertemuan saya dengan gubernur, saya akan bicara di atas peta Indonesia, di atas peta dunia, apa yang harus kita lakukan, jalankan, programkan 5 tahun mendatang untuk membangun connectivity di dalam negeri antar pulau, antar provinsi. Dengan demikian, semua akan tumbuh dan pertumbuhan secara nasional akan tinggi sehingga akan memiliki strong growth yang menjadi tujuan dari perekonomian global sekarang ini. Itu bahasan yang ketiga.
Jadi saya katakan tadi mengakhiri krisis, itu bahasan pertama selama summit ini. Yang kedua, model atau paradigma pertumbuhan yang kuat, yang berkelanjutan, yang berimbang, dan yang inklusif tadi. Itu bahasan berikutnya lagi. Kemudian connectivity juga bahasan berikutnya lagi. Connectivity dikaitkan sekaligus dengan economic integration di APEC, di Asia-Pasifik. Itu menjadi bahasan-bahasan penting.
Saudara-saudara,
Berkait dengan ekonomi dan juga lingkungan, kita juga membahas cukup mendalam tentang Konferensi Perubahan Iklim di Copenhagen beberapa minggu mendatang. Bahkan Saudara tahu, kemarin secara mendadak jam 07.30 kita sudah berkumpul semua pemimpin dari APEC untuk mendengarkan briefing Perdana Menteri Denmark, Rasmussen yang khusus terbang dari Copenhagen untuk memberikan briefing kepada kami semua tentang proses, tentang progress, tentang prospek dari Konferensi Copenhagen. Saudara tentu mengikut, banyak yang pesimis, banyak yang skeptis, banyak yang sudah mulai mengatakan, ah enggak akan berhasil.
Saya dimintai pandangan dan posisi kemarin dalam pertemuan itu, demikian juga dalam pertemuan ASEAN-Amerika Serikat. Saya katakan, apa yang kita alami di Bali dulu, kalau tidak pandai mengelola nanti apa yang terjadi di Copenhagen, itu bisa terulang kembali apa yang kita hadapi pada 9 hari pertama di Denpasar. Saudara tahu hampir gagal, deadlock, putus asa, sebagian delegasi sudah pulang. Nah saat-saat yang critical itulah, saya masih ingat Ban Ki-Moon dan saya melakukan intervensi dan akhirnya bisa kita capai sesuatu yang bersejerah yaitu Bali Roadmap dan Bali action plan.
Saya katakan kemarin, atas dasar pengalaman itulah, maka para pemimpin harus memberikan mandat yang kuat, strong mandate, dan direksi yang jelas, clear direction kepada para negosiator, kalau tidak, hampir pasti deadlock, macet. Oleh karena itulah, mari saya ajak kemarin semua memberikan apa namanya komitmennya, memberikan mandatnya kepada negosiator dan juga direction-nya yang clear.
Saudara-saudara,
Kalau gagal di Copenhagen, kita punya banyak pekerjaan rumah, yang namanya WTO, Doha Development Agenda ini belum rampung-rampung, sudah 8 tahun, macet, padahal hanya beberapa poin saja, masalah agriculture, masalah ekses, masalah flexibility dan sebagainya, tapi macet. Bayangkan kalau ini juga macet. Banyak negara yang sudah mengalami, kalau air laut akan naik terus, berapa ratus, berapa ribu pulau kita yang tenggelam, yang kecil-kecil, belum kemarau panjang, hujan lebat, topan dan lain-lain, luar biasa. Oleh karena itu, kita juga harus pandai-pandai memelihara hutan kita menjadi aksi yang akan kita lakukan dengan sangat serius 5 tahun mendatang, sehingga hutan itu di satu sisi membawa kesejahteraan bagi rakyat kita, kalau kita kelola dengan benar, dan di sisi lain menjaga kelestarian lingkungan dan banyak lagi yang harus kita lakukan.
Tetapi yang menjadi perhatian besar dalam APEC dan pertemuan-pertemuan serupa selama kita berada di Singapura ini adalah kekhawatiran kalau tidak menghasilkan sesuatu. Oleh karena itu, dalam intervensi saya kemarin di pertemuan itu, saya katakan yang harus kita capai paling tidak di Copenhagen adalah the consensus yang legally binding dengan timeline yang jelas, dengan target yang konkret sesuai dengan scientific binding, jadi enggak boleh ngarang-ngarang. Jadi ada product daripada gagal total, gatot, harus ada yang kita hasilkan. Politically binding dijalankan betul nanti, kemudian sekali lagi timeline-nya ada 2020 seperti apa, 2050 seperti apa. Target, berapa emission cut. Indonesia memiliki rencana yang sedang saya matangkan, Insya Allah minggu depan akan lahir posisi Indonesia untuk kita bawa ke Copenhagen, kita berencana mengurangi 26% emisi karbon kita. Tentunya dunia harus nyata betul sesuai dengan scientific binding, tentu saja Indonesia, meskipun kita sangat ingin 5 tahun mendatang dan seterusnya memelihara lingkungan kita, tetapi tentu kita tidak selalu memiliki sumber daya untuk itu, kerjasama internasional diperlukan, asisten dunia diperlukan, financing, transfer of technology, capacity building dan lain-lain. Itu mengemuka sekali dan Indonesia akan sangat aktif.
Saya berencana untuk hadir sendiri, karena sebagai tuan rumah dari COP-13 yang di Bali yang disebut-sebut Bali Roadmap dan Bali action plan, tentu secara moral saya wajib hadir untuk menjadi bagian dari solusi dan bukan dari masalah. Itu masalah climate change yang kemarin dibahas secara mendalam dalam summit ini.
Saudara-saudara
Itulah hal-hal utama melengkapi apa yang sudah Saudara dapatkan selama berada di Singapura, kronologinya, kegiatannya, statement-statement, komunike, tapi ini yang saya sampaikan apa dibalik itu dan apa kandungan dari retreat yang sedang, yang telah kita lakukan secara bersama.
Kesimpulannya sebelum saya berikan kesempatan Saudara untuk mengajukan pertanyaan, kesimpulannya roda perekonomian global terus berputar dengan paradigma baru yang sama-sama dibangun, Indonesia harus menjadi bagian dari pergerakan perekonomian global ini dan secara aktif mencari peluang-peluang, menciptakan peluang-peluang untuk diabdikan sebesar-besar kepentingan rakyat kita. Dan jabarannya banyak, tidak mungkin saya sampaikan satu demi satu apa saja yang ingin kita lakukan untuk pembangunan perekonomian kita dengan mengaitkan diri dengan perekonomian global itu.
Pertemuan APEC berikutnya lagi akan dilaksanakan di Jepang. Dan setelah Jepang, saya kira Amerika Serikat, betul. Setelah Amerika Serikat, Rusia. Setelah Rusia, Indonesia. Saya berharap tahun 2013, bangsa kita menjadi tuan rumah yang baik dan kita bisa mendapatkan peluang besar dalam APEC Summit yang Insya Allah akan dilaksanakan di negeri kita pada tahun 2013.
Demikianlah yang saya sampaikan. Saya berikan kesempatan bagi Saudara yang ingin bertanya.
Sdri. Rini Padmirehatta, TVRI
Assalamu’laikum warahmatullahi wabarakatuh,
Pak Presiden, nama saya Rini dari TVRI. Saya ingin menanyakan, mengingat semakin harmonisnya hubungan antara Singpura dan Indonesia, saya ingin menanyakan bagaimana kelanjutan dari masalah ekstradisi, Pak. Terima kasih.
Presiden Republik Indonesia
Yah, 6 bulan mendatang, kami akan bertemu kembali. Pembicaraan saya dengan Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong kemarin adalah dari sekarang sampai 6 bulan mendatang, kita akan me-review semua kerjasama kita di bidang perekonomian dan di bidang-bidang lain, mana yang berjalan atau mengalir dengan baik, mana yang tidak untuk mencari solusi. Oleh karena itu, dua kerjasama yang belum terlaksana dengan baik, yaitu implementasi atau peresmian dari Extradition Treaty dan Defence Cooperation Agreement, itu yang sering ditandemkan akan kita lihat nanti seperti apa.
Yang penting Saudara-saudara, apapun yang akan kita jalankan dalam kerjasama bilateral ini yang membawa manfaat dan keuntungan bagi bangsa kita. Pedomannnya di situ. Oleh karena itu, kita tidak membahas satu demi satu, semua agenda kerjasama bilateral kita, nanti 6 bulan mendatang, semuanya akan kita review secara komprehensif, termasuk kerjasama di Batam, Bintan dan Karimun.
Sdri. Gusti Nur Cahyani, LKBN Antara
Terima kasih. Selamat pagi, Bapak Presiden. Saya Yeni dari Antara. Pertanyaan saya ada dua. Pertama tentang, kemarin Bapak Presiden melakukan pertemuan dengan Perdana Menteri Abhisit dan Perdana Menteri Hun Sen dari Kamboja dan Thailand. Saya ingin bertanya tentang isi agenda itu, apakah Indonesia menawarkan diri untuk menjadi negosiator dalam konflik kedua negara dan apakah apabila iya proses itu berada di dalam ASEAN dengan pihak ketiga seperti yang ditawarkan Sekjen ASEAN beberapa waktu yang lalu atau Indonesia membentuk satu forum trilateral?
Kemudian yang kedua, tentang deklarasi APEC. Sebelumnya sempat beredar bahwa dalam deklarasi itu para negara, 21 negara APEC akan menyepakati suatu angka penurunan emisi yang jelas tercantum dalam deklarasi, tapi ternyata hingga 50% pada 2050 kalau tidak salah. Tapi kemarin pernyataannya ketika deklarasi itu disepakati, angka tersebut tidak ada, hanya ada komitmen politik dalam deklarasi itu. Apakah itu cerminan bahwa nanti di Copenhagen juga akan seperti itu, hanya akan ada satu komitmen politik dan kemudian akan berlanjut dengan satu pertemuan yang lain yang baru akan menyepakati suatu angka yang jelas? Dan sebagai salah satu negara yang mendorong untuk terwujudnya Copenhagen dengan waktu, timeline seperti Bapak bilang tadi timeline dan target yang jelas, apakah hasil seperti itu tidak mengecewakan untuk Indonesia. Terima kasih.
Presiden Republik Indonesia
Baik, pertama tentang pertemuan saya dengan Perdana Menteri Thailand, Abhisit dan Perdana Menteri Kamboja, Hun Sen. Ini pertemuan yang lazim yang kami lakukan. Kita juga membicarakan masalah-masalah bilateral kita. Memang saya berprakarsa, sekaligus diminta untuk berbicara dengan kedua pemimpin ASEAN itu yang berkaitan dengan ketegangan yang terjadi antara Thailand dan Kamboja, tentu ini berawal dari niat baik sesama keluarga ASEAN, tidak untuk mengintervensi urusan dalam negeri, tetapi baik kalau seperti ini dengan semangat kekeluargaan kita jalin.
Dulu pada saat terjadi clash di perbatasan Thailand dan Kamboja, Saudara masih ingat saya juga memohon dan bertemu dengan kedua pemimpin. Dan Alhamdulillah waktu itu dengan semangat kekeluargaan yang kuat, semua ingin menyelesaikan dengan baik. Demikian juga ketika terjadi lagi di antara kedua negara ini, saya juga bertemu dari hati ke hati, saya bicara sebagai seorang brothers ASEAN dengan harapan bisa dicapai, ditemukan solusi yang tepat. Pertemuan itu berlangsung dengan baik, dalam arti kedua pemimpin saya dengar ingin juga menyelesaikan dengan baik permasalahan bilateralnya. Saya dorong dengan penuh, saya sampaikan lebih bagus, selesai secara bilateral, tanpa harus dibawa ke forum ASEAN, apalagi diinternasionalisasikan, itu tidak baik bagi keluarga besar ASEAN.
Saya belum ingin melangkah terlalu jauh, karena saya bertemu dengan suasana yang baik ketika saya bertemu Perdana Menteri Abhisit dan Perdana Menteri Hun Sen. Kemudian kepada Sekjen ASEAN, Saudara Surin, saya juga mengatakan saya kira masih ada peluang, masih ada jalan untuk secara bilateral itu bisa menyelesaikan masalahnya dengan baik. Dan Menteri Luar Negeri kita akan memelihara komunikasi dengan Menteri Luar Negeri Thailand, Menteri Luar Negeri Kamboja yang berkaitan dengan ini semua.
Jadi dalam konteks ini, kita lihat dulu seperti apa dengan harapan ditemukan jalan yang baik dan manakala eskalatif dan dalam pembicaraan nanti ada langkah-langkah yang mesti kita lakukan, langkah-langkah yang tepat tentunya, langkah-langkah yang tepat tentunya, langkah-langkah yang baik, Indonesia tentu siap untuk mengemban tugas itu.
Yang kedua, berkaitan dengan climate change. Sebenarnya tidak ada rencana dari leaders, dari economic leaders, karena ingat APEC ini ada RRT, ada Chinese Taipei, ada Hong Kong-China begitu apa namanya sebutannya itu, sehingga dikatakan leaders, economic leaders. Saya tidak mendengar ada rencana bahwa dalam komunike atau statement ada angka yang dipasang. Ingat, waktu G-20 pun kita juga tidak memiliki kesepakatan untuk mencantumkan angka, kita tidak juga di ASEAN, tidak pada East Asian Summit dan tidak pada APEC. Karena yang namanya angka itu forumnya UNFCCC, yang itu di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa, semua sepakat termasuk Tiongkok. Semua kalau sudah di UNFCCC yang akan dilaksanakan di Copenhagen mesti bicara angka, meski bicara timeline. Forum ini bukan forum negosiasi, tolong bedakan, meskipun kita bicara climate change, baik di G-20, di East Asian Summit, ASEAN Summit, APEC, tapi ini bukan forum negosiasi dan bukan forum yang mengeluarkan komunike atau statement, dengan target, dengan timeline, dengan berapa banyak emission cut, atau deep emission cut itu.
Oleh karena itu, tidak boleh dikatakan gagal di bidang climate change, meskipun di running text saya baca tadi malam, APEC Summit fails to set the target for Copenhagen. Judulnya kurang lebih itu. Sekali lagi, ini bukan forum negosiasi. Nah seperti apa nanti Copenhagen, saya tidak tahu, apakah hanya seperti ini mestinya tidak, karena Indonesia berharap ya betul-betul konklusif, betul-betul ada reach the concensus, paling tidak saya katakan tadi, saya ulangi lagi politically binding, clear timeline, clear target dan berdasarkan scientific binding. Tetapi ya kalau bisa why not kalau memang harus legally binding not only politically binding.
Sdri. Nur Hidayati, Kompas
Terima kasih, Pak. Saya Yayah dari Kompas. Pertanyaan saya terkait dengan kemitraan strategis, kemitraan komprehensif yang saat ini sedang disusun Indonesia dengan Amerika Serikat. Sebelumnya kita membuat persetujuan perdagangan bebas dengan Cina, dengan New Zealand, dengan Australia dan tiga yang terakhir ini sampai saat ini masih mengundang kekhawatiran pelaku industri di dalam negeri, karena struktur industri kita masih dirasa lemah gitu, Pak. Pertanyaannya adalah bagaimana memastikan FT-FTA termasuk juga nanti kemitraan komprehensif yang di dalamnya ada kerjasama ekonomi itu, pembukaan pasar domestiknya akan sejalan tepat waktu dengan penguatan industri di dalam negeri. Itu, Pak. Terima kasih.
Presiden Republik Indonesia
Baik. Posisi Indonesia jelas sekali sebenarnya. Kalau kita disuruh memilih ya, maka pilihan kita, mari kita rampungkan Doha Development Agenda, mari kita konklusifkan WTO Round selesai. Itulah ketika macet tahun lalu, saya sendiri telpon Perdana Menteri Manmohan Singh, Presiden Lula Brazil, Presiden Bush waktu itu, kenapa macet, karena Indonesia punya kepentingan, terutama untuk produk-produk agriculture untuk bisa punya akses ke pasar dunia. Ternyata macet betul dan semua bersepakat, ya mudah-mudahan tidak hanya retorik, tahun depan ini betul-betul selesai. Pilihan kita WTO, sebab kalau kita bernegosiasi dengan Free Trade Area, apakah bilateral atau trilateral ataupun regional, itu belum tentu posisi tawar kita lebih baik dibandingkan yang lain. Tetapi kenyataannya Saudara-saudara hampir semua sudah punya Free Trade Area. Jadi kalau ASEAN punya Free Trade Area dan Indonesia tidak masuk, ya bagaimana, Indonesia keluar dari ASEAN, APEC ada misalkan kerjasama yang seperti itu, kita tidak masuk ya kita excluded dari APEC. Oleh karena itu, Bogor Goals itu sendiri 1994 menuju ke liberalisasi perdagangan dan investasi, itu. Jadi kita lihat ke belakang, apa sejak 1994 sudah ada Bogor Goals, intinya adalah openess, keterbukaan, economic integration di APEC perdagangan dan investasi, termasuk dalam perkembangannya lantas menjadi Free Trade Area.
Saya sangat hati-hati sebenarnya, seperti sekarang ada trans the Pacific partnership, beberapa negara di Amerika, Amerika Latin dengan beberapa negara di Asia terjadi ya semacam partnership yang intinya juga Free Trade Area. Saya sangat hati-hati dan Indonesia belum masuk, karena akan kita pastikan dulu bahwa kita punya level playing field, kita punya kesiapan yang setara dengan yang lain. Manakala kita bisa memilih ya, apakah kita join dengan entah trilateral dari Free Trade Area itu, dan kita rasa belum saatnya masuk, tidak masuk kita. Tapi kalau semua blanket itu masuk semua di situ, ya tidak mungkin kita tidak masuk, tetapi dengan catatan kita dalam negosiasinya juga keras untuk mengatakan itu.
Begini tidak boleh kita ini yang lain mendapatkan opportunity habis-habisan, karena kita kurang cepat dalam berbenah diri, karena ada yang begitu-begitu saja, ada yang kurang produktif di negeri kita, ada yang kurang efisien di negeri kita, lantas kita tidak kemana-mana, ya kita merugi. Yang harus kita lakukan memastikan di dalam negeri ini makin baik, makin produktif, makin efisien, makanya habis-habisan 5 tahun mendatang agar kita selalu siap. Saya sudah mengatakan connectivity, saya tidak serta-merta, lah bagaimana kalau kita sendiri antara Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Nusa Tenggara, Maluku, Papua belum well connected, terus kita sudah masuk connectivity besar-besaran dengan Sabah, dengan Sarawak, dengan Brunai, dengan Filipina, dengan Thailand dan segala macam. Kan menjadi makin besar gap di dalam negeri kita, sehingga strategi yang kita pilih adalah mempercepat proses pembangunan di dalam negeri, semuanya, tidak boleh berlindung di balik, ”Wah kita inikan kepentingan nasional, Pak.” Oh saya setuju 200%, tapi selebihnya mari kita bangun habis-habisan supaya enggak tertinggal terus kita, begitu. Saya yakin kita akan sampai dan ketika kita sampai begitu connectivity itu efektif, dan kemudian economic integration terjadi kita bukan pada pihak loser, tapi pihak yang win atau menjadi winners.
Saya pengin dengan pengalaman tahun lalu, dunia usaha, pemerintah, para ekonom bersatu dan Alhamdulillah, kita bisa berhasil meminimalkan dampak krisis. Dan terhadap inipun juga dilebarkan kita bicara, kita bicara, tidak mungkin kita menunggu satu, dua orang, satu, dua company yang belum siap, kemudian kehilangan opportunity yang lebih besar lagi.
Contoh lagi satu, supaya Saudara mengerti. Empat, tiga tahun yang lalu saya di-approach untuk sebuah kerjasama air services dengan open sky, dengan banyak sekali. Waktu itu Garuda kita masih bleeding, Merpati kita masih bleeding, bagaimana mungkin kita langsung iya begitu dengan kondisi seperti itu. Oleh karena itu, berbenah Garuda mulai positif, Merpati masih berat tapi mudah-mudahan ke depan makin bagus. Pada saatnya ya kita merugi kalau tidak menjalin kerjasama itu padahal tourism itu jutaan. Kalau itu bagus interconnection kita, maka tentu akan dapat kita dari tourism, dari segi yang lain-lain itu. Itu contoh bahwa kita ingin melindungi dulu, kita ingin membesarkan dulu, bukan proteksionism, tapi supaya kita, vitamin kita cukup dan kuat, akhirnya kita siap bersaing dengan negara-negara sahabat. Itu contoh.
Pesan saya adalah enggak bisa kita terus-menerus begini karena enggak sehat-sehat. Jadi kalau ada BUMN yang enggak sehat terus, ya mau ada terus atau tidak, apakah pemimpinnya harus itu terus atau tidak. Banyak BUMN kita gajinya besar, 10 kali di atas gaji Presiden ada, kalau begitu saja apa yang didapatkan untuk rakyat kita, untuk negara kita. Saya tidak ingin berlindung di bawah nasionalisme yang sempit, saya ingin bangkit semua, lebih produktif, lebih kompetitif, lebih efisien dan kita bisa bersaing dengan yang lain dan kita menang, itu.
Dan menutup penjelasan saya kepada Saudara, semua faktor kita hitung. Saya lebih suka WTO, kemudian Free Trade Area hati-hati, kita harus menyatukan pendapat kita, dunia usaha, pemerintah, dan ekonom, tapi tidak boleh ada yang berlindung terus di bawah nasionalisme dan kita enggak dapat apa-apa. Sudah. Silakan terakhir ya.
Sdr. Luhur Hertanto, Detik.com
Saya Luhur, Pak dari Detik.com. Mohon maaf ini mungkin pertanyaan agak menyimpang, Pak. Saya yakin Bapak Presiden mengikuti perkembangan di dalam negeri, apa yang menjadi perhatian terkait dengan.
Presiden Republik Indonesia
Nanti siang, saya sudah di dalam negeri, nanti siang. Jadi kalau mau tanya saya sampai di tanah air. Saya, begini ya, saya itu tidak ingin di luar negeri terus apa ada tembakan-tembakan ke dalam negeri, terus. Sebentar lagi saya sampai di sana. Kalau sudah kembali ke tanah air, silakan nanti bertanya apa saja, supaya jelas. Tapi tolong ya ini hal-hal penting seperti ini kalau Saudara tidak sampaikan ke rakyat, sayang ya kalau hanya ditutup dengan berita-berita, meskipun berita itu penting. Saya juga setuju. Nanti pembangunan menyeluruh untuk rakyat kita itu tidak sampai. Saudara-saudara ingat, mari berpikir utuh segalanya dan meskipun berita yang sedang in, saya setuju itu penting dan saya akan bisa menjelaskan gamblang nanti, banyak rumor yang aneh-aneh, yang jahat, nanti akan saya jelaskan semua. Tunggu tanggal mainnya.
Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



