Ruang Pers

Keterangan Pers Presiden

Keterangan Pers Sebelum Kunjungan Kerja ke Kanada, Turki dan Ibadah Umroh

 

TRANSKRIPSI
KETERANGAN PERS PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
SEBELUM
KUNJUNGAN KERJA KE TORONTO, KANADA DAN KUNJUNGAN KENEGARAAN KE TURKI, SERTA IBADAH UMROH
BANDARA HALIM PERDANAKUSUMA, 24 JUNI 2010



Bismillahirahmanirrahim,

Saudara-saudara,
Saya bersama delegasi Indonesia akan bertugas ke luar negeri, yaitu ke Kanada, Turki, dan Saudi Arabia. Ke Kanada dalam rangka menghadiri pertemuan puncak G-20, kemudian ke Turki dalam kunjungan kenegaraan saya yang pertama, dan ke Saudi Arabia menjalankan ibadah umroh. Waktu efektif yang akan kami gunakan 2,5 hari di Kanada, 2,5 hari di Turki, 2 hari di Saudi Arabia, dan 3 hari kurang-lebih untuk perjalanan, sehingga kunjungan kami ke luar negeri berlangsung selama 10 hari.

Saya ingin menyampaikan secara singkat, satu demi satu, utamanya kunjungan ke Kanada dan Turki. Sebagaimana saudara ketahui, pertemuan puncak di Toronto, Kanada adalah pertemuan puncak ke-4 G-20. Pertama di Washington DC, kedua di London, ketiga di Pittsburgh, dan keempat insya Allah di Toronto, Kanada, kelima di Korea Selatan.

Forum G-20 penting bagi dunia dan bagi indonesia. Mengapa? Pertama, global economy recovery pasca krisis yang terjadi tahun 2008-2009 belum tuntas benar. Yang kedua, ketika dunia sedang melaksanakan pemulihan kembali ekonominya, beberapa negara di Eropa menghadapi permasalahan ekonomi dan keuangan baru. Ini memerlukan koordinasi yang termasuk policy coordination di antara negara-negara G-20, seraya mengantisipasi, mengambil langkah-langkah seperlunya agar tidak ada dampak baru akibat persoalan yang dihadapi oleh satu, dua negara terhadap perekonomian dunia.

Suadara mengetahui bahwa, dari G-20 sendiri itu 85%, GNP global berasal, 80% perdagangan dunia, 2/3 penduduk bumi yang berjumlah 6,8 milyar, 2/3-nya berasal dari negara-negara G-20. Oleh karena itulah, apa yang dilakukan oleh G-20 dalam rangka langkah bersama untuk menjaga stabilitas perekonomian global dan meningkatkan pertumbuhan perekonomian dunia yang baru, pertumbuhan yang kuat, pertumbuhan yang inklusif, pertumbuhan yang balance, dan pertumbuhan yang sustainable. Semuanya diperlukan.

Beberapa saat yang lalu, Perdana Menteri Kanada, tuan rumah, Perdana Menteri Harper menelepon saya, dalam rangka konsultasi dengan para pemimpin dunia yang akan hadir dalam G-20 Summit di Toronto beberapa hari mendatang, untuk mengetahui apa yang menjadi kepedulian Indonesia dan apa yang ingin disampaikan Indonesia.

Saya sampaikan waktu itu, pertama-tama Indonesia ingin agar semua kesepakatan, all agreements, yang telah disepakati dalam 3 pertemuan puncak sebelumnya benar-benar dilaksanakan oleh negara anggota G-20. Indonesia juga ingin berkaitan dengan krisis yang terjadi di sejumlah negara Eropa sekarang ini, juga bisa diantisipasi dan diambil langkah-langkah bersama, sekali lagi, agar tidak berdampak pada pemulihan perekonomian global. Indonesia juga berharap agar perdagangan dan investasi global tetap terbuka, sehingga tidak memukul negara-negara yang memerlukan keberadaan itu. Termasuk putaran Doha, itu kita harap bisa konklusif, karena kalau tidak, sejumlah negara, termasuk negara berkembang, termasuk Indonesia akan mengalami kesulitan dalam perdagangan dunia yang adil, fair and just international trade.

Di samping itu, nanti di Toronto, Indonesia juga akan menyampaikan pandangan dan usulan yang berkaitan dengan perlunya dunia memiliki semacam safety net, yang kita sebut dengan global financial safety net. Dengan demikian, kalau ada apa-apa, ada sabuk pengamannya.

Dulu pada G-20 Summit yang pertama di Washington DC, saya mengusulkan agar dapat diwujudkan yang namanya global expenditure support fund, dan waktu itu diterima. Tentu situasinya berubah dan bergeser. Oleh karena itu, Indonesia berpendapat agar global financial safety net itu bisa dihidupkan dan dijadikan instrumen yang efektif untuk melindungi negara-negara, manakala terjadi krisis yang baru.

Indonesia juga akan mengusulkan agar persoalan climate change itu tetap menjadi atensi, meski saya tahu tidak semua anggota G-20 merasa nyaman kita membahas climate change, tapi climate finance itu perlu. Dan andaikata tidak dibahas dalam forum G-20, kita harus memastikan bahwa pada forum yang lain, pada tingkat dunia, juga perlu dijaga kewajiban negara-negara maju dan tentu kontribusi negara berkembang untuk bersama-sama menghadapi atau mencegah terjadinya pemanasan global, sebagaimana yang telah kita sepakati. Itulah topik-topik utama yang akan kami kedepankan nanti pada pertemuan puncak G-20 di Toronto.

Indonesia tentu memiliki kepentingan. Mengapa? Setelah krisis tahun 2008-2009, Indonesia patuh dan menjalankan apa yang kita sepakati, baik di Washington DC, di London, maupun di Pittsburgh. Apa yang kita lakukan, kita melaksanakan stabilisasi keuangan. Kita menempuh kebijakan stimulus untuk mendongkrak kembali pertumbuhan kita. Kita juga memelihara makro ekonomi kita dengan baik. Kita juga mencegah jangan sampai terjadi pengangguran-pengangguran baru, kita juga memastikan tidak ada proteksionisme yang kita lakukan, sehingga mengganggu international trade yang memang menjadi kepedulian kita semua. Dengan kepatuhan Indonesia, atas kesepakatan G-20 tanpa mengorbankan kepentingan nasional, Alhamdulillah Indonesia dinilai sebagai negara yang kompeten untuk meminimalkan dampak krisis perekonomian global itu.

Sekarang pertumbuhan kita telah kembali meningkat, insya Allah tahun ini pertumbuhan kita bisa mendekati 6% kembali. Inflasi bisa kita jaga atau kita kelola. Kemudian pengangguran baru bisa kita cegah. Lantas cadangan devisa kita sudah sekitar 74 milyar dollar Amerika Serikat, suatu angka yang cukup baik. Nilai tukar rupiah terjaga, kuat, stabil, dan sejumlah indikator. Tentu ada masalah-masalah di satu, dua sektor riil kita yang perlu mendapatkan perhatian untuk kita tingkatkan, barangkali juga menyangkut ekspor dan impor dalam jangka pendek, barangkali ada masalah karena kita ternyata melakukan pembelanjaan modal barang impor yang tinggi.

Ada masalah jangka pendek, meskipun jangka panjang itu juga menjadi benefit. Semua itu harus kita kelola. Dan ketika ekonomi kita seperti itu, kita tidak ingin, Indonesia tidak ingin, ada masalah baru pada tingkat dunia. Dalam kaitan itulah, kita berjuang, agar dalam G-20 Summit, kita semua bisa terus menjaga global economy recovery and growth dan kemudian kita bisa mencegah new crisis yang bisa terjadi.

Di samping pertemuan G-20, saya dijadwalkan melaksanakan pertemuan bilateral, pertama dengan Presiden Obama. Dengan penundaan kunjungan Presiden Obama ke Indonesia, kami akan membicarakan sejumlah agenda bilateral yang penting, yang menjadi payung nantinya dalam comprehensive partnership kita dengan Amerika Serikat. Saya juga akan bertemu kembali dengan Presiden Hu Jintao dari Republik Rakyat Tiongkok, dengan tujuan meningkatkan kerja sama Indonesia-Tiongkok. Kemudian dengan Presiden Vietnam dan sejumlah kepala negara atau kepala pemerintahan yang tentu akan kita gunakan kesempatan untuk bertemu dengan beliau-beliau, untuk meningkatkan kerja sama dan kemitraan kita.

Saudara-saudara,
Setelah menghadiri G-20 Summit di Toronto, saya dan delegasi akan melanjutkan kunjungan ke Turki. Menurut catatan, setelah 25 tahun Presiden Indonesia tidak berkunjung ke Turki, atas undangan Presiden Turki, kami bisa berkunjung, insya Allah. Dan untuk diketahui, Perdana Menteri Turki Erdogan sudah 2 kali berkunjung ke Indonesia. Oleh karena itu, untuk meningkatkan kerjasama di bidang politik, ekonomi, budaya, dan pariwisata, kami berkunjung kali ini ke sana. Di samping pertemuan bilateral, termasuk penandatanganan sejumlah memorandum of understanding. Kami juga akan bertemu dengan kalangan bisnis di Istanbul dalam jumlah yang besar, semata-mata untuk membangun new opportunities, kerja sama di bidang usaha antara Turki dan Indonesia. Setelah itu 2 hari, insya Allah, kami akan berada di tanah suci, 1 hari di Mekkah,1 hari di Madinah, dan kembali ke Tanah Air.

Itulah saudara-saudara, ringkasan dari perjalan kami, termasuk tugas yang kami emban mewakili bangsa Indonesia, baik di Kanada maupun di Turki.

Terima kasih atas perhatian saudara.

*****

Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan