Pidato Presiden
Sambutan pada Kunjungan ke PT PINDAD
TRANSKIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
KUNJUNGAN KE PT PINDAD
BANDUNG, 3 JANUARI 2006
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati, para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Saudara Panglima TNI, dan para Kepala Staf Angkatan,
Saudara Gubernur Jawa Barat dan para Pimpinan dan Pejabat yang bertugas di Jawa Barat,
Saudara Direktur Utama PT PINDAD, Komisaris, Calon Komisaris, belum serah terima dari Pak Joko,
Para unsur Managemen dan Karyawan PT PINDAD,
Hadirin sekalian yang saya hormati,
Alhamdulillah hari ini kita dapat mengikuti acara ini dan bagi saya sesuatu yang sudah lama saya rencanakan. Sebenarnya tahun 2005 yang lalu saya ingin berkunjung langsung ke PT PINDAD, tapi karena kepadatan kegiatan saya, baik di dalam maupun di luar negeri, terutama banyak saya gunakan untuk berkunjung ke daerah bencana, tentunya baru sekarang, sekarang inilah saya baru bisa berkunjung ke PT PINDAD ini.
Saya menyimak dengan seksama apa yang dipaparkan oleh Saudara DR. Budi Santoso, tentang apa yang telah, sedang dan akan dilakukan oleh PT PINDAD. Dan sebagaimana kebijakan saya di dalam pengembangan BUMN pada umumnya, dan BUMN industri strategis pada khususnya, kita ingin ada new policy, ada satu new strategy, bagaimana antara negara, dalam hal ini pemerintah, dengan BUMN strategis, dengan the market, baik itu economic market, dalam dan luar negeri, maupun masyarakat luas. Semuanya bisa menjadi bagian dalam rangka pengembangan BUMN kita, dalam hal ini PT PINDAD.
Saya mengenali bahwa persoalan yang dihadapi oleh industri strategis kita adalah, yang pertama, kepastian pasar, kepastian tentang customers kepastian tentang kontrak pada jangka yang lebih panjang, sehingga bisa dihitung semuanya itu, ada business planning dan seterusnya. Tiadanya kepastian, termasuk kepastian dari segi pemerintah, belanja pemerintah untuk mengadakan dari industri kita, saya memahami, bahwa sungguh itu sebuah strategic planning yang dibuat oleh BUMN kita, karena itu merupakan the nature of our problems. Itulah yang akan kita carikan solusinya.
Mata rantai berikutnya, kalau itu sudah ada, menurut saya lebih measurable. Sebab kalau demand-nya kuat, pasarnya pasti, customer-nya ada dan pesanannya dalam madet lingkup yang cukup, apalagi dalam jangka menengah, hampir pasti saudara punya kemampuan untuk research and development, untuk designing, untuk manufacturing, sampai dengan delivery dari produk itu.
Ada di tempat lain seorang human capital, persoalan perusahaan waktu yang lalu, tetapi saya lihat PT PINDAD, sebenarnya inti masalahnya adalah certainly dari demand, dari pasar dan harapannya jangan pesanan tutup tahun, tahun depan bagaimana, sudah invest untuk research and development, tetapi bisa tidak cukup, karena Saudara tentu akan menghitung return on investment, return on capital investment di situ.
Oleh karena itu, sejalan dengan kebijakan yang telah kita tetapkan Saudara-saudara, saya ulangi untuk yang ke sekian kalinya, bahwa mulai sekarang ini ke depan, insya Allah, mudah-mudahan berlanjut, pemerintahan manapun juga nantinya ada di negeri kita ini, agar dalam procurement, pengadaan sistem persenjataan segala perlengkapan-perlengkapan yang dibutuhkan oleh TNI dan Polri, yang bisa diproduksi dalam negeri kita, agar dari dalam negeri, yang tidak bisa baru kita mengadakan dari luar negeri. Itupun dengan scheme, dengan kerangka yang baik, akhirnya akan menjadi alih teknologi pada saat nya nanti, Itu basic policy kita.
Kembali pada Pindad, saya terus terang bangga, disamping tadi dijelaskan oleh Pimpinan Pindad, saya juga mendengar dari Panglima TNI, dari Kasad, bahkan dari penembaknya langsung yang ikut bisam yang tadi saya terangkan, yang produk kita SS-2 sudah menjuarai championship itu. Dan bukan itu, saya dengar negara-negara lain pun sudah menghitung sekarang, bahkan kemarin ketika terjadi championship di Australia, yang harusnya kita unggul, tapi saya dengar anak-anak kita, penembak kita, belum biasa menggunakan SS-2 itu betul ya, terus menggunakan senjata yang lain, itupun masih nomor tiga. Jadi nomor tiga itu, Singapura masuk, satu lagi yang masuk, yang jelas, Inggris. Inggris nomor satu. Nomor dua? Singapura. Nomor tiga kita, padahal Amerika ada, Australia ada.
Ini penting, juga ini, cerita ini penting, sebab terus terang, Panglima TNI, saya dan teman-teman yang dulu ikut bertugas ke Timor Timur tahun 75-76, mungkin nggak ada yang lebih besar, tiga kali, yang lain beberapa kali. Terus terang dulu, kami bertugas bersama satuan Kostrad. Kostrad itu 74 sudah menggunakan M-16 A1, kalau yang lain-lain masih menggunakan SP-40, kalau tidak salah. Dan menjadi biasa, ejek-ejekan antara batalion ini, batalion M-16-A1 dengan batalion SP, SP PINDAD ya, nggak apa-apa inikan sejarah. M-16 lebih ringan, lebih kecil, justru tembakannya lebih baik waktu itu, maka tidak heran kalau Panglima TNI mintanya ke Pindad, yang ringan, yang kecil, yang masuk lumpur masih bisa ditembakkan, nembak sambil jungkirpun kena, mestinya harganya kan mahal, begitu murah, kuatnya digini-digitu luar biasa, teknologinya tinggi, ya mintanya yang murah. Tapi alhamdulillah yang dulu berbangga dengan M-16-A1, sekarang harus berbangga dengan SS-2 karena SS-2 sudah bisa mengalahkan M-16-A2. Ini ada instruksi terkandung, Saudara Menteri Pertahanan, Panglima TNI, mari kita gunakan produk Pindad.
Hanya sistem senjata yang sangat khusus yang diperlukan oleh special forces atau bertugas-tugas khusus, barangkali yang belum bisa diproduksi di Pindad, silahkan gunakan. Tapi untuk standar kita, mari kita gunakan buatan Pindad. Bukan hanya SS-2 nya tapi yang lain-lain, agar apa Pak Budi, kalau sudah ada policy dari saya, tingkat politik, saya tidak berani mencampuri TNI, Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, yang lebih tahu beliau-beliau. Salah kalau Presiden, Wakil Presiden, menteri menetapkan harus senjata ini, harus kendaraan ini, harus pesawat ini, salah. Yang lebih tahu pengguna, user. Saya sebagai pemimpin politik hanya melihat finance, mampu tidak, kerjasama kita dengan pihak lain, dengan perkembangan kedepan dan lain-lain. Tetapi spesifikasi, itu harus kembali kepada user. User saya minta betul-betul mencintai produksi dalam negeri, karena sudah bagus, kenapa harus kita belanja ke tempat-tempat lain yang bisa kita beli di sini. Kalau dulu ada budaya tiada keuntungan, keuntungan tertentu, mari kita tinggalkan, karena justru yang begitu-begitu tidak mendorong tumbuh dan berkembangnya industri dalam negeri.
Dan saya sudah memberikan direction kepada Meneg BUMN tadi, Saudara Menteri Pertahanan, Saudara Menteri Perindustrian, Menristek, dan saya juga sudah sampaikan Panglima TNI, KAS Angkatan, untuk kepentingan 2006 ke depan, yang betul-betul sudah bisa kita produksi, kita adakan di dalam negeri. Dan dari government spending, bisa kita lihat nanti, yang credit export itu berapa, yang sudah committed, karena juga ada yang belum committed, kemudian berapa yang menggunakan rupiah murni, karena insya Allah, kalau ekonomi terus tumbuh begini, dan revenue kita naik, ingat tahun ini APBN kita sudah mencapai 650 trilyun, sekitar itu. Tahun lalu masih 500 sekian trilyun. It means, potong inflasi, tetap ada growth. Nah, growth itu kalau menyangkut government spending, pembelanjaan untuk sistem persenjataan, peralatan dan perlengkapan, saya sudah memutuskan kita adakan didalam negeri.
Bikin detil rencananya, kita teken kontrak, jangan tahunan, kalau bisa medium term. Saya tidak, ya paling bisa untuk masa kepemimpinan saya sampai 2009. Nanti presiden berikutnya lagi mudah-mudahan bisa kontrak untuk lima tahunan, supaya bisa dihitung valuenya. Dengan catatan quality, dengan catatan after sale service, dengan catatan delivery-nya juga pas, jangan sampai delivery time-nya lepas, just in time, jangan sampai sudah kita hitung meleset, ada kewajiban dari corporate untuk bisa memenuhi semuanya itu. Dan saya yakin, dengan good cooperate government, tolong ini era kita, era untuk lebih bagus. Sudah banyak pelajaran yang bisa dipetik, dari dulu kita ingin membangun good governance, tapi halangannya banyak sekali.
Oleh karena itu, ketika iklim sudah berubah pada tingkat dunia sekarang ini, kitapun harus berubah. Momentum yang bagus, mari kita bangun good governance untuk pemerintah, dan good cooperate governance untuk untuk Saudara-saudara. Clean, efisien, jangan boros, kita akan bisa bersaing dengan jualan dari atau produk dari negara lain dari kampung yang lain, kemudian produktif, ya yang akuntabel, kaidah-kaidah sebuah perusahan yang baik.
Mudah-mudahan tadi performance dari kegiatan segi ekonomi bisa lebih bagus, saya sudah senang, up, up, kalau pajaknya makin banyak, laba bersih yang disetor kepada negara makin banyak, saya harap, its in this term, kita bisa alokasikan government spending untuk pertahanan dan keamanan yang lebih baik lagi. Logikanya begitu. Saya tidak ingin terus mencari credit export untuk hutangan-hutangan baru, kalau bisa kita putar dari dinamika dan pergerakan ekonomi nasional lebih baik, tidak membebani kepada anak cucu kita.
Ini kesempatan yang baik, jangan kita pesimis, tiap tahun, alhamdulillah baik, 2000, 2001, 2002, 2003, 2004, insya Allah akan kita teruskan upaya seperti ini. 2005 memang berat sekali, tidak mudah, semacam bencana, seperti itu, tsunami, krisis harga minyak sedunia, penyakit menular, banyak hal. Akhirnya, harus ada penyelamatan ekonomi, mendatangkan kebaikan di satu sisi, growth semuanya baik. Investment naik, ekspor naik, tapi inflasi, besar lantas inpointment, harapan kita bisa berkurang lebih banyak. Belum bisa tercapai target itu, itulah yang harus kita terima dan kita akui. Ada yang kita capai, ada yang tidak kita capai.
Jadi memasuki 2006, alhamdulillah, signal-nya baik, indeks harga saham gabungan luar biasa, menjadi 1173, the hightest, dan prestasi bursa efek kita, the best. Sebetulnya nomor berapa? Setelah Cosby? Pertama mana? Cosby? Ta terus Korea, bagus. Kemudian, tadi pagi, sambil jalan saya ke Bandung, saya telepon Menteri Keuangan, berapa inflasi Desember. Minus 0,04, deflasi namanya. Jadi mudah-mudahan signal yang baik. Kalau hitungan BI kemarin, harapannya, kuartal ketiga atau keempat itu sudah menjadi one in the digit, inflasi kita, bisa lebih cepat asalkan pandai-pandai kita mengelolan bulan Januari hati-hati TTL dipikirkan yang bagus dari itu best take itu. Kalau bisa kita atur jangan turun, naik dulu.
Lantas, beras itu mungkin sudah saya putuskan kemarin, ternyata akhir stock di bulog ada, akhir stock di daerah-daerah ada. Sekarang, Pak Gubernur lapor saya tadi, ada sekitar 400 ribu ton, alhamdulillah, itupun sekarang sedang bekerja siang dan malam kita untuk membeli yang dari rakyat. Tanggal 5, it means dua hari dari sekarang itu akan kita hitung, berapa stok nasional, akhir stock, berapa tambahan dari petani. Jumlah itulah yang kita cocokan dengan kebutuhan riil bulan Januari. Makin banyak yang kita tumpuk, makin sedikit kita membeli untuk menambah stok. Karena Februari, harapannya better, Maret perkiraannya aman. Jadi critical March itu, Januari, Februari. Mengapa ini penting, karena inilah yang kita kelola, bukan perkara Adhoock , tapi itu mata rantai dari perbaikan ekonomi 2006 dan pertumbuhan lebih baik lagi.
Nah ini saya sampaikan supaya ada optimisme di antara Saudara. Dan mudah-mudahan, kalau semuanya on track, ini kita bisa mengembangkan industri pindad ini. Dan sebagai mantan prajurit saya meminta betul, memohonlah kepada panglima TNI, KSAD, KSAL, KSAU, mari kita adakan persenjataan kita dengan menggunakan produk dalam negeri, kalau senjata, amunisi, kendaraan ringan dan lain-lain, saya kira bisa disediakan oleh Pindad.
Bagus, itu Pak Budi bisa, kira-kira tahun-tahun berikutnya bisa lagi, naik lagi. Insya Allah Ya. Hanya ini, karena saya lihat tidak terlalu banyak masalah yang dihadapi oleh PT PINDAD, masalahnya hanya kurang biaya, biaya karena pesanan ini. Katanya uang itu tidak penting, tapi mutlak.
Baiklah, terima kasih Saudara-saudara.
Wassalamua’laikum warahmatullahi wabarakatuh.
* * * * *
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



