Pidato Presiden
Sambutan pada Peresmian Munas II PP Polri
SAMBUTAN
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA
PERESMIAN PEMBUKAAN MUSYAWARAH NASIONAL II
PERSATUAN PURNAWIRAWAN KEPOLISIAN NEGARA RI
(PP POLRI) TAHUN 2006
DI AUDITORIUM PTIK, JAKARTA SELATAN
TANGGAL 23 JANUARI 2006
Bismillaahirrahmaanirrahiim,
Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh,
Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati Saudara Kapolri dan para mantan Kapolri,
Yang saya hormati Ketua Umum PP Polri beserta segenap unsur pimpinan PP Polri,
Yang saya cintai dan saya muliakan Bapak Tri Sutrisno dan para senior dan sesepuh,
Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu dan unsur pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, keluarga besar PP Polri yang saya cintai dan saya banggakan,
Pada kesempatan yang baik dan semoga senantiasa penuh berkah ini, saya mengajak hadirin sekalian untuk sekali lagi memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas perkenan rahmat dan ridha-Nya kita semua masih diberikan kekuatan dan kesehatan lahir dan batin untuk melanjutkan tugas dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara.
Kita juga bersyukur hari ini, kita dapat menghadiri pembukaan Musyawarah Nasional ke-II PP Polri, dengan harapan semoga Musyawarah Nasional ini dapat menghasilkan sejumlah komitmen, pikiran, dan program kerja yang cerdas, yang ikut memecahkan permasalahan yang dihadapi oleh bangsa dan negara kita dewasa ini.
Hadirin sekalian,
Saya mulai sambutan saya ini dengan mengucapkan terima kasih, penghargaan saya kepada keluarga besar Polri yang dari waktu ke waktu telah dapat meningkatkan pengabdian, profesionalitas, dan kinerjanya. Tahun-tahun terakhir ini kita bahkan mencatat berbagai prestasi Polri yang membanggakan, baik dalam rangka penegakan hukum, pemberantasan kejahatan, perlindungan dan pelayanan masyarakat, tugas di dalam dan luar negeri, dan lain-lain. Yang tentunya ini merupakan karya dan kerja keras yang berlanjut. Para sesepuh, para senior tentu merasa bangga dan bahagia bahwa kerja keras para sesepuh dan senior pada masa-masa yang sulit di waktu-waktu yang lalu telah membuahkan hasil yang membanggakan ... (tepuk tangan hadirin). Demikian pula generasi penerus sebagaimana pimpinan-pimpinan kepolisian pada tahun-tahun belakangan ini termasuk Kapolri sekarang ini juga tidak melupakan cita-cita, tujuan, dan amanah para pendiri Republik, amanah para senior dan sesepuh dan insya Allah ini akan menjadi satu energi, semangat, dan dorongan untuk terus mengemban tugas sebaik-baiknya bagi bangsa dan negara.
Banyak prestasi kepolisian di negeri ini yang mendapatkan penghargaan bukan hanya dari rakyat kita sendiri tapi juga dari negara-negara sahabat, karena tidak mudah untuk memberantas kejahatan, tidak mudah untuk menegakkan hukum, tetapi kepolisian kita dengan penuh semangat dan keinginan kuat untuk terus meningkatkan kinerjanya dari waktu ke waktu telah mencatat prestasi-prestasi yang membanggakan, dan kita berharap prestasi terus berlanjut di waktu yang akan datang.
Pada kesempatan yang baik ini izinkanlah saya menyampaikan pesan, harapan, dan ajakan, tiga hal. Yang pertama, tentu kita semua sepakat di ruangan ini, bahwa pengabdian kepada bangsa dan negara tidak mengenal batas akhir. Saya akan kedepankan bagaimana kita semua mewujudkan sasanti atau semangat itu. Yang kedua, saya akan mengedepankan ke hadapan hadirin sekalian di mana posisi bangsa Indonesia saat ini ke depan secara ringkas. Dan yang ketiga atau yang terakhir, adalah harapan saya kepada PP Polri untuk dapat memainkan peran dan tugas yang mulia ke depan nanti.
Saya pahami bahwa meskipun lebih menonjol istilah purnawirawannya tetapi PP Polri sesungguhnya adalah keluarga besar yang terhimpun dalam suatu organisasi yang dinamis, yang penuh dengan persaudaraan dan kebersamaan yang menurut Bapak Sanusi tadi terus ingin berbakti kepada bangsa dan negara, ikut memecahkan masalah-masalah yang dihadapi oleh bangsa kita. Yang saya ketahui dalam PP Polri ini di dalamnya adalah para purnawirawan Polri, istri atau suami purnawirawan Polri, pensiunan PNS Polri, istri atau suami pensiunan PNS Polri, warakawuri, janda atau duda PNS Polri, dan kemudian putra-putri dari Polri. Saya kira betul-betul keluarga besar, big family yang insya Allah dengan program, komitmen, dan tekad tadi dapat mengisi ruang-ruang yang barangkali luput dari perhatian banyak pihak barangkali termasuk pemerintah yang tentunya menuju ke arah kebaikan.
Batas pengabdian tidak mengenal batas akhir, saya yakin ketika keluarga besar PP Polri masih menjalankan dinas aktif dalam jiwa, hati, dan pikirannya adalah nilai dan jati diri kebangsaan yang amat mulia, yang luhur, dan patut kita lestarikan sepanjang masa. Kalau dibelah dada seorang prajurit apakah TNI dan Polri di situ tentu ada nafas dan jiwa Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, bangun negara yang kita sebut negara kesatuan Republik Indonesia, dan yang ke empat adalah bhineka tunggal ika atau kemajemukan. Dan sesuai dengan profesi kepolisian saya kira jiwa dan ruh Tri Brata serta Catur Prasetya ada di dalamnya.
Yang kedua, selama berdinas aktif keluarga besar PP Polri dulu tentu mengemban tugas negara, sebagaimana yang tercantum di dalam Undang-Undang Dasar 1945 bab 12 yaitu pertahanan dan keamanan negara pasal 30 ayat 4 berbunyi saya kutip dari Undang-Undang Dasar 1945 “Kepolisian negara Republik Indonesia adalah alat negara”. Tentu alat di sini adalah perangkat negara yang menjalankan tugas negara, menjalankan tugas konstitusional. Di situ mengemban tiga tugas, menjaga atau memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, law and other. Yang kedua, adalah menegakkan hukum sekaligus tentunya eksplisit, implisit adalah memerangi kejahatan. Dan yang ketiga, adalah melindungi, mengayomi, dan melayani masyarakat.
Bagi yang aktif ada kandungan nilai jati diri ditambah dengan tiga tugas yang diamanahkan oleh konstitusi. Ketika meninggalkan dinas aktif, saya yakin dan saya kira semua kita sepakat bahwa nilai jati diri kita semua yang menjunjung tinggi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, NKRI, Bhineka Tunggal Ika, Tri Brata, dan Catur Prasetya tidak akan pernah hilang. Tentu tiga tugas tadi pemberantasan kejahatan, perlindungan masyarakat, lantas pemeliharaan keamanan kepada masyarakat akan diteruskan oleh mereka-mereka yang berdinas aktif. Maknanya adalah setelah mengakhiri kedinasan secara aktif maka keluarga besar Polri masih mengemban tugas yang mulia, saya katakan tidak pernah berkahir sesuai dengan profesi utama kepolisian, sesuai dengan amanah undang-undang dasar, dan dalam kapasitas keluarga besar PP Polri baik sebagai warga negara maupun sebagai umat beragama. Itulah yang saya katakan pengabdian akan berlanjut dan tidak mengenal batas akhir.
Kita semua berharap bapak, ibu, para sesepuh, hadirin sekalian kiranya keluarga besar PP Polri betul-betul bisa ikut berkontribusi dan berpartisipasi dalam pembangunan bangsa ke depan ini. Itu yang pertama.
Yang kedua, adalah bagaimana kita memaknai keberadaan negeri kita dewasa ini. Masih segar dalam ingatan kita dan kita bersama-sama mengalami dan menjalaninya negara kita mengalami krisis yang dahsyat, yang dalam. Krisis itu terjadi karena terjadinya perubahan politik yang mendasar. Pak Harto lengser dan digantikan oleh pemimpin-pemimpin yang lain, dan kemudian ekonomi nasional kita mengalami krisis yang akhirnya melebar dan meluas menjadi sebuah krisis nasional. Kita ingat bahwa suasana tahun ’98, ’99, 2000, 2001, ekornya masih kita rasakan hingga sekarang ini adalah terjadi disorientasi, kebingungan dalam tanda kutip waktu itu, ada shock, ada ketidak patuhan pada pranata sehingga muncul yang disebut dengan disorder, konflik, ketegangan, ketidak pastian, dan lain-lain. Yang itu tentu memberikan persoalan yang sangat bagi bangsa Indonesia. Di sisi lain harus memulihkan kembali ekonomi kita, mengembalikan lagi pranata tatanan yang tercerai-berai pada saat puncak krisis itu terjadi.
Kita patut bersyukur bahwa akhirnya dengan segala tantangan, penderitaan, cobaan, dengan segala dinamika dan romantika krisis itu kita lewati dan kita berada pada titik sekarang ini meskipun belum sepenuhnya pulih dari krisis itu, tetapi ada tanda-tanda bahwa kita kembali menuju arah yang benar. Kita patut berterima kasih kepada Presiden-Presiden yang mengelola negara dalam keadaan krisis waktu itu, mulai dari Pak Habibie, Gusdur, Ibu Megawati, dan sekarang kita lanjutkan tugas-tugas itu. Tidak mudah untuk menjaga negara kita tidak collebs, tidak mudah untuk membangun kepercayaan diri sendiri, tidak mudah untuk mendapatkan kepercayaan dari dunia, dan tidak mudah untuk kita menyadari bahwa kita perlu melakukan sejumlah perbaikan perubahan atas sistem kehidupan kita, tantangan yang luar biasa.
Dan kini kita sadar bahwa setelah kita mengalami krisis dan masa transisi yang berat seperti itu, ke depan tugas kita dalah satu kita harus menyelamatkan kerangka kehidupan bernegara, kerangka kehidupan negara yang tetap bertumpu pada nilai-nilai jati diri dan konsensus dasar kita yang saya katakan tadi Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 yang tercermin dalam ruh pembukaannya, kemudian NKRI, dan Bhineka Tunggal Ika.
Yang kedua, kita harus mengamankan, mengawal reformasi dan demokratisasi agar lurus pada arah yang benar, tidak keluar dari nilai dan jati diri kita, tetapi bisa merespon perkembangan zaman yang datang sekarang ini.
Dan yang ketiga, agenda utama kita adalah bagaimana Indonesia bisa kita bangun kembali pascakrisis. Satu hal yang sering kita lupakan bahwa reformasi yang sekarang menjadi tema besar negara ini bukanlah revolusi. Penjungkir balikan, Penjebolan, dan lain-lain yang barangkali belum tentu revolusi itu membuahkan hasil yang kita harapkan. Yang ketiga, juga reformasi, yang kedua reformasi adalah proses, banyak negara yang melakukan reformasi. Di Eropa Timur, di negara-negara lain yang berjalan sepuluh, lima belas, dua belas tahun tidak seperti membalik telapak tangan. Kita ingin suatu perubahan, besok perubahan terjadi, long process.
Dan yang ketiga, reformasi itu adalah kesinambungan dan perubahan. Apa yang baik dari mendiang Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur, Ibu Megawati harus kita lanjutkan. Termasuk nilai jati diri yang diwariskan oleh para pendahulu. Yang tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman, yang ternyata harus mengalami perbaikan dan perubahan kita lakukan perbaikan bersama-sama. Itulah makna reformasi yang paling dalam. Membuang, memikirkan, menyingkirkan apa saja yang berlaku di waktu yang lalu, bukalah tindakan yang arif dan cerdas bagi sebuah bangsa. Yang cerdas dan arif adalah melanjutkan apa yang masih baik sesuai dengan benang kesejarahan kita. Kesinambungan dari nilai dan jati diri seraya melakukan perubahan, penyempuranaan, perbaikan sesuai dengan tantangan zaman, semangat zaman, dan bahkan dalam era globalisasi dewasa ini.
Ini tugas besar yang harus kita jalankan lebih dari sekedar perbaikan ekonomi, perbaikan hukum, perbaikan kebijakan keamanan, dan lain-lain, tetapi kerangka kehidupan bernegara yang harus selamat, bergerak, menuju Indonesia yang modern tapi tidak tercabut sekali lagi dari konsensus-konsensus dasarnya, dari nilai-nilainya, dan jati dirinya. Terus terang sekarang ini dalam masa transisi ada semacam benturan ideas, pemikiran, ada benturan persepsi, ada benturan pengelihatan, wajar. Di negara mana pun yang sedang mengalami transisi selalu ada benturan-benturan itu, mari kita kelola dengan baik, dengan penuh kesadaran kita punya kerangka bernegara, kita punya konstitusi, kita punya palsafah dan ideologi negara atas dasar rujukan itulah kita kelola semua permasalahan yang ada itu.
Saya berikan tiga contoh adanya perbedaan pengelihatan dan persepsi tentang nasionalisme dan internasionalisme, tentang pemeriksaan dengan globalisasi. Tidak tepat kalau harus memilih, pilih mana nasionalisme atau internasionalisme, sama dengan ngga perlu kita bicara globalisasi, yang penting diri kita sendiri. Atau pada reextrim yang lain ah kuno itu nasionalisme, kita harus masuk dalam perkampungan global, padahal kalau kita jelih Bung Karno, Presiden pertama kita pernah berpidato yang inti sarinya adalah nasionalisme dan internasionalisme itu bisa hidup bersama-sama secara rukun dan damai, dan kita perlukan. Bukan nasionalisme yang sempit neuro nasionalizm, rasa kebangsaan yang utuh, tapi berada dalam rasa persaudaraan dan kemanusiaan sejagad. Istilah Bung Karno adalah nasionalisme hidup subur dalam taman sarinya internasionalisme. Taman sari tumbuh kembang kalau bunga-bunga mekar dalam rumah nasionalisme. Meskipun dunia seperti sekarang ini saling bergantung, menjadi perkampungan global, nilai-nilai universal, toh kita perlu rumah. Rumah itulah nasionalisme, kebangsaan yang harus kita lestarikan.
Saya tidak setuju dalam era globalisasi, nasionalisme sudah usang tidak perlu kita surrender kita harus menyerah kepada nilai-nilai global, kita menghormati nilai-nilai universal karena memang penting. Kemanusiaan, demokrasi yang sehat, tatanan hukum atau rule of law, pentingnya lingkungan hidup kita kelola, tidak ada yang bertentangan, tetapi bagaimana pun sekali lagi kita perlu punya rumah sebagi bangsa, rumah itulah nasionalisme, kebangsaan kita. Oleh karena itu kalau ada pandangan yang ekstrim di antara kedua-duanya, mari kita kelola dengan baik, dengan rujukan tadi, kita perlu punya rumah, dan kita punya nilai jati diri dan nilai konsensus-konsensus dasar kita.
Yang kedua, yang saya sebut dengan perbedaan persepsi antara sentralisasi dan desentralisasi. Desentralisasi pemerintahan, otonomi daerah, kita lihat dalam perkembangannya lima, enam tahun terakhir ini dalam kunjungan saya ke banyak propinsi, banyak kabupaten, dan kota masih harus kita mantapkan pandangan yang utuh bagaimana desentralisasi, bagaimana otonomi daerah, bagaimana memberikan keseimbangan, pemerataan, dan keadilan untuk daerah-daerah tanpa mengendorkan bingkai negara kesatuan, bingkai sistem negara kesatuan. Tidak perlu kita dikotomikan tapi dua-duanya harus mekar, yang penting semuanya itu harus merujuk kepada sistem nasional yang berlaku yang sangat jelas ditata dalam undang-undang dasar 1945. Contoh yang ketiga atau yang terakhir, masih seputar perbedaan pengelihatan tentang bagaimana kita menghadapi terorisme. Sebagian berpendapat tidak perlu itu mengejar-ngejar teroris, menangkap teroris, mengadili teroris, karena itu adalah bukan sebab mendasarnya. Harus kita temukan akar masalahnya, apa yang menyuburkan terorisme dan lain-lain. Masalah keadilan, masalah kemiskinan, masalah keterbelakangan, dan lain-lain.
Tetapi ada yang mengatakan, oke saya tau itu, tapi yang jelas terorisme itu menghancurkan negara kita, korbannya mereka yang tidak berdosa, dan kemudian mengganggu kepentingan kita secara nasional. Setelah pengeboman di Jimbaran dan di...saya ulangi Legian dan Kuta kemarin ekonomi di Denpasar drop, jatuh luar biasa. Pada rangkaian perayaan natal, tahun baru sangat sepi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, menghantam tentunya wisatawan nasional. Ada, tetap kita harus menghadapi yang riil saja, padahal kita menganut dua-duanya, Indonesia berjuang secara nasional dan dalam forum global.
Di banyak forum di dunia, saya mengatakan dengan lantang bahwa dunia harus bersatu yang utama mencegah terjadinya terorisme. Dengan kita peduli pada akar-akar masalahnya secara global. Kalau kesenjangan the have dengan the have not, negara maju dengan negara berkembang, masalah kesehatan, pendidikan, kemiskinan, dan lain-lain tidak secara cerdas kita carikan solusinya secara global, maka gap itulah, ketegangan itulah, akar itulah yang tentu akan memicu banyak hal. Kita berjuang bersama-sama negara yang lain dengan PBB untuk menyelesaikan masalah itu, tetapi Indonesia yang jadi korban terorisme di samping yang pertama itu kita juga melakukan langkah-langkah sistematis pencegahan, penggagalan jangan sampai terjadi aksi-aksi terorisme itu, yang dilakukan kita, yang dilakukan kepolisian, lembaga-lembaga yang lain TNI, BIN sudah tepat bahwa secara nasional kita menganut dua-duanya.
Jadi kita cegah dari hulunya, tapi kita juga jangan sampai hilir ini menjadi tidak aman, orang ke pasar tidak aman, orang naik pesawat tidak aman, dan lain-lain.
Itulah tiga hal yang saya sampaikan seputar bahwa dalam masa transisi dalam reformasi selalu ada perbedaan-perbedaan persepsi, pengelihatan, tidak usah khawatir, tidak usah kecil hati, mari kita kelola dengan baik. Saya yakin, apa pun persoalan begitu keadaan makin tertata, makin seatle dalam bahasa yang kita kenal, semuanya akan bisa membangun pranata baru, tatanan baru yang disepakati oleh kita semua sesuai dengan di satu sisi nilai-nilai kita sendiri, tapi di sisi lain kita hidup dengan baik dengan negara-negara sahabat untuk menuju ke perdamaian dunia, kesejahteraan dunia, dan juga keadilan dunia.
Yang terakhir, hadirin sekalian, harapan saya kepada PP Polri, sebenarnya apabila keluarga besar Polri memahami bahwa tugas negara atau agenda nasional ke depan sebagaimana saya sebutkan tadi menyelamatkan kerangka kehidupan bernegara, mengamankan kelanjutan reformasi dan demokratisasi, membangun Indonesia pascakrisis, dan keluarga besar Polri juga mengetahui tugas kepolisian sekarang ini adalah menegakkan hukum dan kemudian memelihara keamanan dan ketertiban masyarakat, dan yang ketiga melindungi, mengayomi, melayani masyarakat di dua perangkat, satu agenda nasional, satu agenda kepolisian, maka PP Polri bisa memperkuat, bisa menyukseskan tugas negara, pemerintah, dan kepolisian itu sendiri.
Dengan berbagai bentuk ragam pengabdian di tengah-tengah masyarakat luas, kalau kepolisian sekarang dalam penegakkan hukum sudah berjalan beberapa tahun terakhir ini kita ingin betul untuk memberantas berbagai macam penyelundupan yang merugikan aset negara berbelas-belas trilyun pertahunnya illegal logging, illegal fishing, illegal mining, illegal trading, mari kita sukseskan. Kalau kita ingin memberantas korupsi secara nasional, konsisten mari kita sukseskan. Saya mengatakan berkali-kali bahwa prioritas pemberantasan korupsi ke depan ini, satu, pencegahan, kalau kita menghadirkan sistem, pengawasan, budaya yang orang mulai takut berkorupsi, itu adalah keberhasilan pertama.
Banyak bisa kita selamatkan mark up fiktif, kerugian negara dari pembelanjaan negara, mari kita mencegah supaya tidak terjadi lagi korupsi apalagi skalanya menengah dan besar puluhan triliun, ratusan milyar, dan sebagainya.
Prioritas yang kedua, adalah menindak bagi mereka yang masih berkorupsi sekarang ini yang saya katakan kebangetan. Tenang, tidak punya beban, masih berkorupsi tenang saja mengambil uang negara belasan M dan seterusnya. Dan yang ketiga, membawa kembali mencari mereka-mereka yang telah dinyatakan bersalah oleh pengadilan, kabur atau yang belum selesai masalahnya kabur. Apa yang dicapai kepolisian dengan membawa kembali David Nusa Wijaya, dan saya dapat informasi ada lagi yang ingin menyerahkan diri mudah-mudahan bisa berlanjut, karena memang prioritasnya tiga.
Lantas yang lain adalah pemberantasan terorisme, tolong dilanjutkan kemudian juga kejahatan yang berkaitan dengan narkoba. Selamat kepada kepolisian yang tahun-tahun terakhir ini telah banyak sekali membongkar jaringan kejahatan narkoba itu, dan tentu street crimes yang meresahkan masyarakat jangan dilupakan, karena tugas Polri itu. Saya mohon keluarga besar Polri, PP Polri juga ikut berkontribusi bersama-sama masyarakat luas bagaimana menuju ke situ. ini dari penegakkan hukum dan pemberantasan kejahatan.
Yang kedua, berkaitan dengan pemeliharaan keamanan dan ketertiban, kebebasan adalah ruh dari demokrasi, hak asasi manusia pilar dari demokrasi tetapi tidak pernah ada kebebasan yang absolut, tidak pernah ada asasi manusia yang tanpa batas, mereka dibatasi oleh Undang-Undang Dasar kita. Mari kita pahami pasal-pasal tentang hak asasi manusia 28a sampai 28c. Artinya apa, kita dalam memerankan demokrasi, kita berikan ruang yang pantas untuk kritik masyarakat, partisipasi masyarakat semua yang ingin diekspresikan untuk mengontrol pemerintahnya. Saya mendengar kritik dari banyak pihak termasuk para senior. Meskipun saya tidak langsung menjawab kritik, counter kritik, karena kritik itu sebagian sedang kita perjuangkan, sebagian memang kita melihat dari sisi yang lain, sebagian merupakan masukan yang belum terpikir oleh saya akan saya jalankan. Jadi saya melihat apa pun bahasanya kadang-kadang keras dan ini itu tapi saya pahami substansinya bahwa senior, bahwa sesepuh mencintai negaranya, ingin kita semua selamat menuju ke tujuan yang benar.
Dalam konteks itulah saya dengar dan itu bagian dari demokrasi yang sehat. Yang kita cegah adalah apabila demokrasi itu menjadi kekerasan-kekerasan, gangguan keamanan, mengancam publik, security, pembakaran, pengerusakan, tindakan fisik itu yang kita cegah, karena itu sudah mengganggu keamanan publik atau yang disebut dengan keamanan dan ketertiban masyarakat. Itulah tugas kedua Polri menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat tentu lakukan dengan cara-cara yang tepat, cara-cara yang simpatik, cegah jatuhnya korban, lakukan tindakan persuasif sebanyak mungkin.
Di satu sisi demokrasi mekar, tapi di sisi lain tidak terguncang keamanan dalam negeri kita sehingga tidak menghalangi pembangunan ekonomi, tidak menghalangi kerja sama dengan investor lain, dan lain-lainnya.
Dan yang terakhir masalah perlindungan, pengayoman, dan pelayanan publik. Saya kira seruan saya kepada para Gubernur, Bupati, Walikota, termasuk kepolisian berikan pelayanan terbaik bagi masyarakat kita, negara belum bisa memberikan penghasilan yang tinggi kepada rakyat kita, pas-pasan bahkan masih banyak yang miskin penghasilannya, gajinya, pendapatannya, tetapi dengan pelayanan yang baik, dipermudah pengurusan-pengurusan, dipermudah kemudahan untuk kepentingan publik, bahasa, pendekatan, keramah-tamahan, maka itu bagian penting untuk meningkatkan kesejahteraan dalam arti luas.
Oleh karena itu perlindungan rakyat masyarakat, pelayanan masyarakat saya minta kepolisian terus meningkatkan sehingga rakyat betul-betul mencintai dan menyayangi polisinya sebagaimana polisi menyayangi dan mencintai rakyatnya, itu tugas utama. Oleh karena itu, sekali lagi saya mohon keluarga besar PP Polri menyukseskan institusi kepolisian dalam mengemban tugas-tugas itu, menyukseskan upaya pemerintah dan negara dalam mengemban tugas-tugas yang berskala nasional.
Dan yang tidak kalah pentingnya untuk PP Polri tentu dengan kemampuan yang ada, dengan cara-cara yang halal, yang sah barangkali perlu turut memikirkan buat kesejahteraan keluarga besar PP Polri. Kesejahteraan itu luas tidak hanya material, tapi termasuk material dengan demikian apa pun yang bisa meningkatkan kesejahteraan para pensiun, para warakauri, janda kiranya dapat dilakukan.
Pemerintah sendiri kami masih terus berusaha untuk meningkatkan dari masa ke masa tapi bukan hanya PNS, pensiunan, dan warakauri, tetapi juga rakyat kita sehingga penghasilannya semakin pantas sejalan dengan pertumbuhan ekonomi dan penerimaan negara kita.
Bapak, Ibu, para senior, hadirin sekalian,
Itulah yang dapat saya sampaikan, sekali lagi terima kasih penghargaan saya kepada keluarga besar PP Polri dalam usia lima tahun sudah berkiprah seperti itu, terima kasih kepada institusi Polri dalam pengabdiannya dan prestasi-prestasi yang diraih selama ini termasuk yang akhir-akhir ini muncul dan tampil membanggakan. Dan yang terakhir semoga jalinan silaturrahim, persaudaraan, persahabatan, internal keluarga besar Polri terus dikembangkan dan sesama komponen bangsa juga terus disuburkan.
Demikianlah yang saya sampaikan dan dengan memohon ridha Tuhan Yang Maha Kuasa dengan mengucapkan Bismillahirrahmaanirrahiim Musyawarah Nasional Ke-II PP Polri dengan resmi saya nyatakan dibuka...(tepuk tangan hadirin)
Assalaamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh.
Biro Naskah Dan Penerjemahan
Deputi Bidang Dukungan Kebijakan
Sekretariat Negara



