Pidato Presiden

Sambutan Hari Pers Nasionanl

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
HARI PERS NASIONAL
GEDUNG MERDEKA-BANDUNG, 9 PEBRUARI 2006



Bismillahirahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Selamat pagi,
Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati, Saudara Ketua Mahkamah Konstitusi,
Dan para Lembaga-Lembaga Negara Republik Indonesia,
Yang saya hormati, Saudara Menteri Komunikasi dan Informatika beserta para Menteri Kabinet Indonesia bersatu,
Yang saya hormati, Saudara Gubernur Jawa Barat beserta segenap pimpinan dan pejabat negara yang bertugas di Jawa Barat baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif, termasuk TNI dan POLRI, para Gubernur yang juga hadir dalam acara yang membahagiakan ini,
Saudara pimpinan PWI yang juga sekaligus Ketua Umum Hari Pers Nasional, Yang saya cintai dan saya muliakan, Bapak Rosihan Anwar dan Ibu Herawati Diah dan para sesepuh serta wartawan senior,
Yang saya muliakan, para Ulama, terutama tokoh masyarakat,

Hadirin sekalian yang berbahagia,
Sebelum saya menyampaikan sambutan saya, pada acara yang sangat kita syukuri dan membahagiakan ini, izinkan saya menyampaikan sedikit pengantar. Tadi saya meninggalkan Jakarta pagi hari, menggunakan kendaraan menuju ke Bandung sini melewati yang disebut Cipularang, Cikampek, Purwakarta, Padalarang atau Purbalenyi, Purwakarta, Bandung Cileunyi. Hampir sepanjang jalan, hujan. Saya mohon kepada Allah SWT agar hujan itu, hujan barokah, hujan dalam skala yang pantas bukan banjir, bukan tsunami, tentu membawa berkah bagi para petani, berkah bagi mereka yang sudah lama menunggu datangnya air hujan daerah-daerah tandus, hujan membersihkan udara yang terkena pencemaran, hujan membersihkan, memperindah daun dan bunga-bungaan. Semoga itu yang menyertai dan semoga kehadiran wartawan Indonesia, mana kala ada hal yang kurang bersih, kurang teduh, kurang indah, semoga juga menjadi hujan penyejuk bagi kehidupan kita.

Yang kedua, saya gunakan untuk melihat dari dekat tempat-tempat kerusakan dari jalan tol yang sesungguhnya belum lama kita resmikan. Saya harus melihat langsung seperti apa, karena itu menyangkut keselamatan saudara-saudara kita, keamanan, kendaraan-kendaraan yang dilewati, tingkat pelayanan yang diharapkan baik kepada saudara-saudara yang menggunakan jalan itu. Ada tujuh titik yang rawan dan dua titik yang mengalami kerusakan, meskipun sudah diperbaiki kembali. Saya meminta saudara Menteri Pekerjaan Umum, Pimpinan Bina Marga dan semua yang harus melakukan perbaikan itu, melaksanakan tugasnya sebaik-baiknya, betul-betul mengutamakan keselamatan dan keamanan serta pelayanan, lakukan pengecetan menyeluruh dari ujung dekat Jakarta sampai dengan ujung yang di Bandung. Dengan demikian, apabila pada saatnya sudah bisa dibuka kembali maka kita jamin keselamatan, keamanan dan kelancaran dari jalan itu.

Sampai di Bandung, hujan mulai reda. Saya melihat rakyat kita yang menyambut kedatangan rombongan saya di tepi jalan, termasuk saya lihat beberapa kelompok melaksanakan unjuk rasa. Itulah indahnya demokrasi. Pengalaman saya berkunjung ke banyak propinsi di Indonesia, sangat sering, hampir sama, disamping penyambutan formalnya sesungguhnya tidak perlu kegiatan protokoler terlalu dilebih-lebihkan cukup sederhana, tapi penyambutan rakyat yang ingin ketemu pemimpinnya, saya bersyukur, saya belum bisa banyak memberikan kesejahteraan pada saudara-saudara kita itu. Oleh karena itu, menegur sapa, senyum barangkali salah satu yang bisa kita berikan kepada mereka. Sekali-kali ada unjuk rasa dan selalu saya tanya apa tema unjuk rasa itu. Hari ini saya mendapat laporan unjuk rasa yang ada dibeberapa tempat menyangkut :
Yang pertama, menyangkut PT. DI, pesangon karyawan. Masalah yang sudah berjalur berjalan sekitar kurang lebih 5 (lima) tahun meskipun tidak mudah tapi saya minta terus dicarikan solusinya yang baik.

Yang kedua adalah ganti rugi SUTET, Saluran Udara Tegangan Extra Tinggi. Itu masalah yang lahir sejak 1997, delapan tahun. Sudah ada, aturan-aturannya tapi seringkali karena masalah sosial, aturan yang sudah pasti itupun juga tidak serta merta bisa dijalankan selama tahun-tahun terakhir ini. Saya minta juga carikan solusinya yang baik, kemudian yang tadi masalah Tarif Dasar Listrik.

Saudara-saudara,
Tarif Dasar Listrik belum naik. Pemerintah dan DPR sedang melakukan kajian secara cermat. Saya inginkan yang ideal, ketika daya beli masyarakat kita belum tinggi karena kenaikan BBM kemarin, tentu sebaiknya kita tidak menaikkan Tarif Dasar Listrik. Kalau dari kajian itu ada kenaikan, tentunya tingkatannya, prosentasinya serendah mungkin dengan demikian tidak menambah apa yang dialami oleh masyarakat kita. Saya harus terbuka seperti ini, tidak boleh Pemimpin memberikan angin surga tapi saya ajak memahami persoalan ekonomi kita, oleh karena itu, kami dengar, kami baca spanduknya, kami dengar teriakannya. Oleh karena itulah, Pemerintah dengan DPR sekarang sedang mengolah secara seksama untuk mencari solusi yang baik.

Hadirin sekalian,
Tempat ini sungguh bersejarah, tahun lalu dengan banyak sekali kehadiran para Pemimpin Negara dari seluruh dunia kita merayakan setengah abad, Konferensi Bandung. 51 Tahun yang lalu Presiden pertama kita, Proklamator kita, ketika mendiang Bung Karno dan Pak Ali Sastro Amijoyo menjadi tuan rumah, suatu peristiwa yang menggemparkan dunia karena menandai kebangkitan bangsa-bangsa Asia Afrika, semangat Bandung, Bandung Spirit. Saya laporkan kepada hadirin sekalian, saya laporkan kepada seluruh rakyat Indonesia, masih relevan. Dan peran Indonesia sekarang ini, pada pentas Asia Afrika, pada pentas Gerakan Non-Blok, pada pentas gerakan negara berkembang dan Perserikatan Bangsa-Bangsa masih sering kali merujuk pada Deklarasi Bandung atau semangat Bandung. Banggalah warga Bandung, banggalah Bangsa Indonesia punya tempat yang sangat bersejarah ini. Saya ingin menyampaikan sambutan, mohon maaf kalau agak panjang sedikit. Saya tidak ingin menggunakan peluang Emas ini untuk sekedar meletakkannya sebagai acara yang bersifat protokoler, saya ingin bicara dari hati-kehati, dengan para wartawan, dengan para senior semua. Ini persoalan kita semua, bukan persoalan wartawan, persoalan pengusaha media massa, persoalan pemerintah, persoalan LSM, persoalan mahasiswa dan lain-lain, ini persoalan kita semua. Oleh karena itulah, mari kita letakkan dalam konteksnya yang benar, kita pahami inti masalahnya. Dan sebagai bangsa kita temukan solusi yang baik bagaimana kehidupan pers mekar dan berkembang sejalan dengan pemekaran dan pengembangan demokrasi kita. Yang akan saya bacakan ini, saya pikirkan dalam-dalam. Pagi subuh, saya lihat kembali saya tambahkan catatan-catatan karena barangkali ini sangat penting untuk menjadi renungan kita bersama pada hari yang bersejarah bagi insan pers hari ini.

Hadirin yang saya muliakan,
Hari ini dengan perasaan syukur dan bahagia, kita berkumpul di Bandung untuk merayakan Hari Pers Nasional yang ke-60, PGI 60 tahun. Peringatan ini, dikaitkan pula dengan peringatan 1 abad pers daerah Jawa Barat sebagaimana kita maklumi, tadi sudah disampaikan juga pada tanggal 1 Januari 1907 untuk pertama kalinya diterbitkan Pers Berskala Nasional dari daerah ini yaitu surat kabar Medan, Priayayi yang dipimpin Raden Mas Tirto Adisuryo salah seorang pejuang nasional bangsa kita. Iziinkanlah saya menggunakan kesempatan yang membahagiakan ini untuk menyampaikan ucapan selamat Hari Pers Nasional kepada insan pers di seluruh tanah air. Saya berdoa kehadirat Allah SWT, semoga ditahun-tahun yang akan datang pers nasional kita terus bergerak maju, serta tumbuh semakin sehat dan kuat. Keberadaan pers yang maju, kuat dan sehat, sangat penting artinya bagi kemajuan suatu bangsa, lebih-lebih jika bangsa itu bercita-cita dan berjuang keras untuk membangun kehidupan yang demokratis. Tidak akan pernah ada demokrasi suatu negara, jika persnya mundur, lemah dan tidak berdaya. Pers yang kuat akan memperkokoh sendi-sendi demokrasi di negara itu. Sejarah perjalan pers di negeri kita telah mengalami masa pasang surut yang panjang, seiring dengan dinamika sejarah perjalanan bangsa kita, ada kalanya pers benar-benar kuat dan bebas, namun ada kalanya pula pers menjadi lemah dan tidak berdaya. Kita sekarang hidup di era reformasi dan demokratisasi, sebab itu pers kita tumbuh makin kuat dan mandiri, negara tidak lagi membelenggu kebebasan pers sesuai dengan peraturan Perundang-Undangan yang berlaku, penerbitan pers kita tidak memerlukan izin. Pemerintah juga tidak dapat dan tidak akan membredel pers sebagaimana pernah terjadi dimasa yang lalu.

Hadirin yang saya hormati.
Kebebasan pers tidaklah berarti setiap insan pers dapat berbuat apa saja, tanpa tanggung jawab. Kebebasan tetap harus ditunjukkan kepada norma-norma dan nilai-nilai yang hidup di dalam masyarakat. Hukum harus pula diletakkan sebagai kerangka dan sekaligus sebagai mekanisme untuk menyelesaikan setiap konflik ditengah-tengah masyarakat, sebab itu sebagaimana halnya pers terjamin kebebasannya setiap individu, badan, organisasi baik pemerintah maupun swasta juga terjamin hak-hak mereka untuk tidak dilanggar, oleh kebebasan pers itu. Jika ada pihak-pihak yang merasa dirugikan oleh pemberitaan, maka hak mereka, menjadi hak mereka untuk melakukan penuntutan secara hukum baik perdata maupun pidana, yang tentunya itu juga harus kita hormati. Pemerintah tentu tidak akan mencampuri persengketaan itu, biarlah segalanya diselesaikan melalui mekanisme hukum dan mekanisme demokrasi yang berlaku. Pemerintah hanya berharap, agar semua pihak menghormati utusan badan peradilan apapun keputusannya, termasuk pemerintah. Insan pers yang sedang berperkara di pengadilan hendaknya mampu menahan diri dalam membuat pemberitaan. Hal ini dimaksudkan, untuk menjaga objektifitas jalannya persidangan serta untuk membangun rasa keadilan. Dengan mempertimbangkan, apa yang baru saja saya kemukakan insan pers tentu akan menyadari betapa pentingnya profesionalisme dan etika dalam menjalankan tugas sebagaimana terpampang dihadapan saudara sekalian. Semakin moderen suatu negara, semakin tinggi pula tuntutan terhadap profesialisme. Jika jajaran birokrasi pemerintah, Tentara, Polisi, Jaksa, Aparat Penegak Hukum dan semua, dituntut harus profesional, maka hal yang sama tentunya juga berlaku bagi insan pers. Tepat sekali apa yang diangkat dalam Seminar dalam rangka Hari Pers Nasional ini. Setiap profesi memerlukan keahlian, spesialisasi, komitmen, kepatuhan kepada kode etik dan ketaatan kepada mekanisme organisasi.

Ketika hukum telah benar-benar menjamin kebebasan, dan ketika pemerintah tidak lagi bersikap otoriter kepada pers, tidak boleh mundur harus terus berjalan, tentulah menjadi harapan kita semua agar insan pers kita juga benar-benar bekerja secara profesional. Hal ini dengan tulus saudara-saudara, perlu menjadi bahan renungan kita bersama ketika kita memperingati Hari Pers Nasional hari ini. Memang sesungguhnya, dengan penuh kecintaan, rakyat kita mendambakan insan pers yang profesional, memahami kode etik dan mematuhi norma-norma hukum yang berlaku. Tuntukan akan profesionalisme seperti itu, kini menjadi tuntutan publik, mengingat pers hadir setiap hari ke tengah-tengah mereka untuk menyajikan informasi, pendidikan, hiburan dan kritik-kritik sosial. Pers perlu memainkan peranan yang penting dalam rangka mencerdaskan bangsa, hanya bangsa yang cerdas, yang mungkin akan bergerak maju menuju masa depan yang jaya. Bangsa yang tidak cerdas dan tidak memiliki daya kritis, sukar untuk berkembang maju menghadapi tantangan zaman.

Salah satu peran pers yang nyata, yang kita rasakan adalah bangun daya kritis itu. Kita juga menyadari bahwa bisnis media masa, tentulah bukan bisnis tanpa idealisme. Sebagaimana layaknya sebuah bisnis, bisnis media massa juga harus tumbuh sehat dan terus berkembang. Negara berterima kasih karena bisnis media massa, kini juga menyumbang kepada ekonomi nasional dan juga menciptakan lapangan kerja. Saya yakin, dengan kepemimpinan dan manajemen yang baik, serta dengan strategi dan taktik bisnis yang ulung, sebuah bisnis media akan dapat survive dan bahkan terus berkembang di tengah persaingan yang amat ketat dewasa ini. Harapan saya, harapan kita semua, keras dan kuatnya persaingan itu, tidak menyurutkan idealisme dan peran konferensi pers yang amat mulia, di negeri ini.

Hadirin yang saya hormati.
Di masa lalu pers kita telah memainkan peranan yang sangat penting, sebagai pers perjuangan. Pers kita telah ikut membangun kesadaran kebangsaan dan menyadarkan bangsa kita bahwa kita waktu itu adalah bangsa terjajah. Karena itu, kita harus bangkit berjuang untuk mencapai kemerdekaan agar bangsa Indonesia menjadi tuan dinegerinya sendiri. Di masa kini saya berharap, pers kita tetap menjadi pers perjuangan dalam ikut serta memajukan kehidupan bangsa dan negara. Berjuang untuk bangsa dan Negara berarti, mendorong bangsa kita bergerak kearah kemajuan. Untuk itu, pers dengan leluasa dapat menyampaikan informasi, edukasi, dan kritik sosial yang konstruktif. Segalanya harus dilakukan secara berimbang, jika ada yang salah, silahkan diberitakan, tetapi jika ada yang benar, jangan disembunyikan kebenaran itu. Baik katakan baik, jelek katakan jelek. Jika ada yang gagal dan tidak berhasil, silahkan diberitakan, tetapi jangan disembunyikan pula jika ada keberhasilan dan prestasi yang telah dicapai oleh siapa saja, termasuk pemerintah daerah, termasuk insan pers sendiri, LSM dan semua pihak yang ingin tentu, bangsa dan negaranya semakin maju diwaktu yang akan datang. Demikian pula sebaliknya, saya ulangi, dengan demikian masyarakat akan menjadi cerdas, kritis dan objektif. Jika pers memberitakan individu, apalagi yang negatif, sebaiknya tidak bersifat sepihak tapi juga memberikan kesempatan kepada yang bersangkutan untuk menyampaikan keterangannya. Jika pers benar-benar berimbang, objektif dan tanpa prasangka maka pers yang kita cintai, benar-benar akan mampu menyumbangkan sesuatu yang sangat berarti bagi kemajuan bangsa dan negara kita.

Hadirin insan pers yang saya cintai,
Suatu hal yang menggembirakan adalah, tadi diangkat oleh saudara Tarman Azam, makin tumbuhnya nilai dan praktek berdemokrasi di negeri kita ini, terutama yang berkaitan denganpemberitaan pers. Jika di waktu yang lalu sering terjadi pemberedelan penerbitan pers, pengrusakan kantor media massa, serta kejahatan dan ancaman fisik terhadap wartawan, pernah ada kasus pembunuhan terhadap wartawan. Dewasa ini, Alhamdulillah, mekanisme dan cara-cara yang sehat dan demokratis makin terwujud, misalnya penggunaan hak jawab, somasi dan langkah-langkah yang sesuai dengan norma-norma demokrasi dan hukum yang berlaku. Dalam kehidupan yang demokratis adalah biasa dan wajar, jika seseorang atau suatu pihak melontarkan kritik, kecaman atau ketidaksetujuan termasuk kepada pemerintah, sebagaimana yang dilakukan beberapa pengunjuk rasa di Bandung hari ini. Hal itu merupakan hak dan kebebasan bagi mereka yang mengkritik dan tidak setuju, misalnya terhadap kebijakan dan langkah pemerintah, ini harus kita hormati. Dalam kerangka hak dan kebebasan pula, pihak yang dikritik atau yang dikecam tentu memiliki ruang untuk menjawab, menjelaskan atau menyampaikan pandangannya. Jawaban atau tanggapan itu, tentu bagian dari komunikasi politik dan sering berguna untuk mendudukkan sebuah isu dalam konteksnya yang benar. Masyarakat juga akan lebih gamblang melihat dan memahami isu yang sedang diwacanakan itu. Oleh karenanya, jawaban dan pandangan balik ini dari siapapun yang mendapatkan kritik dan kecaman, tidak boleh dikatakan sebagai, tidak mau dikritik atau tabu terhadap kritik. Ini semata-mata adalah dinamika dan keniscayaan dalam sebuah demokrasi, komunikasi timbal balik. Jika pers kita meliput secara berimbang wacana seperti itu, maka pers juga ikut menyuburkan kehidupan demokrasi yang sehat.

Hadirin yang saya muliakan,
Dalam kesempatan yang baik ini, saya ingin mengajak seluruh insan pers untuk bersama-sama menjunjung tinggi nilai-nilai luhur kepribadian bangsa. Sebagian masyarakat kita, akhir-akhir ini diresahkan oleh berbagai jurnalisme yang mengarak kepada pornografi. Saya mengajak kepada insan pers untuk tidak menyalahgunakan kebebasan yang dapat merusak nilai-nilai luhur kehidupan bangsa itu. Pornografi jelas-jelas bertentangan dengan ajaran-ajaran agama dan nilai-nilai kesusilaan, yang hidup dan dianut oleh masyarakat kita. Pornografi juga bertentangan dengan kaidah-kaidah hukum yang berlaku di negara kita. Kita harus senantiasa ingat bahwa ada 2 asas yang berkaitan dengan itikad pemberitaan pers yaitu asas manfaat, yang kedua adalah asas kepatutan. Jika sebuah pemberitaan, jauh menyimpang dari kedua asas ini, seperti pornografi tadi, dalam hal tertentu sadisme, bayangan pemberitaan mistik yang berlebih-lebihan, misalnya tentunya akan merusak alam pikiran dan prilaku warga masyarakat kita. Ingat bayangan dan liputan media masa ini, kini semakin menjangkau seluruh penjuru tanah air, siang dan malam, saudara-saudara kita, anak-anak kita, baik di kota, di desa, di pesantren dan di tempat-tempat yang lain, menyaksikan semuanya itu tayangan TV, misalnya yang tentu akan mempengaruhi jiwa, pikiran dan prilaku mereka. Pers juga hendaknya menghormati ajaran-ajaran agama yang hidup dan diyakini oleh masyarakat. Persoalan agama adalah persoalan yang sensitif, karena menyangkut keyakinan dan emosi setiap orang yang meyakininya. Apa yang boleh dan tidak boleh di dalam ajaran agama, yang bersangkutan wajib dihormati, tanpa harus mempersoalkan atau memperdebatkannya. Keyakinan agama kadang-kadang berada di rasionalitas orang lain yang tidak meyakininya, namun apapun juga keyakinannya, keyakinan itu harus kita hormati. Sebab itu, saya dapat memahami reaksi keras umat Islam terhadap karikatur Nabi Muhammad SAW oleh salah satu media yang diterbitkan di Denmark. Pelajaran besar dari kasus penerbitan dari sebuah surat kabar Denmark itu, yang harus kita petik secara bersama adalah :
1. Hak dan kebebasan itu, termasuk hak dan kebebasan pers tidak absolute dan tidak tak terbatas. Dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia tahun 1948 pasal 29 dan juga dalam Undang-Undang Dasar Negara kita sendiri pasal 28J, pembatasan terhadap hak kebebasan itu juga tercantum dengan jelas.
2. Sikap hormat menghormati diperlukan dalam kehidupan bersama, sikap hormat-menghormati ini bukan hanya diperuntukan masyarakat lokal, di dalam kehidupan sebuah bangsa tetapi juga kehidupan antar bangsa.
3. Sedangkan pelajaran ketiga saudara-saudara, budaya leceh-melecehkan, itu merusak dan juga jauh dari nilai manfaat.




Inilah yang harus kita petik dari keadaan yang berkembang saat ini mengait kepada sebuah penerbitan di Denmark. Namun saudara-saudara, terhadap kasus penerbitan di Denmark yang amat sangat kita sesalkan itu, saya mengajak umat Islam di tanah air agar tetap bersikap proporsional dalam menyikapi karikatur itu, dengan tetap menghormati hukum nasional dan hukum Internasional yang berlaku. Saya juga mengajak pers nasional agar dapat mencegah munculnya pemberitaan-pemberitaan yang dapat menyinggung perasaan umat beragama di tanah air kita. Marilah kita saling hormati-hormati satu sama lain dan sama-sama menjaga suasana aman dan tentram di tengah-tengah kehidupan bangsa kita yang majemuk. Suasana yang aman dan tentram itu, akan menaikkan citra bangsa kita ditengah pergaulan internasional. Suasana seperti itu, suasana aman dan tentram menjadi modal dasar bagi bangsa kita dalam mempercepat pembangunan ekonomi yang sangat penting bagi seluruh rakyat, terutama rakyat kecil yang sangat membutuhkan lapangan kerja dan lapangan usaha.

Pemerintah kini sedang bekerja keras untuk membangun ekonomi mengurangi laju inflasi, menstabilkan nilai tukar mata uang kita yang Alhamdulillah sudah cukup baik dan mendorong investasi dalam dan luar negeri. Tanpa investasi mustahil akan terjadi pertumbuhan ekonomi, tanpa pertumbuhan ekonomi, mustahil kita akan dapat menyediakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Sebab itu, saya mengajak seluruh insan pers, marilah kita sama-sama menjaga suasana yang aman, tentram dan damai itu. Mari kita membangun citra kita sebagai bangsa yang merdeka, berdaulat dan beradab. Citra itu penting untuk menjadi ingatan publik, lebih-lebih publik Internasional. Untuk membangun itu semua, peranan insan pers sangatlah mutlak. Kalau kita beramai-ramai secara sadar atau tidak sadar, membangun image atau citra yang buruk tentang diri kita sendiri, maka tanpa sadar kita telah menjerumuskan diri sendiri. Karena itu saya mengajak insan pers, kita semua, seluruh komponen bangsa untuk sama-sama menjaga citra bangsa dan negara kita ditengah pergaulan bangsa-bangsa.



Hadirin yang saya muliakan.
Akhirnya, di hari Pers Nasional yang kita peringati hari ini, saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih kepada insan pers atas segala dukungan, kritik, dan saran yang konstruktif, yang telah diberikan kepada saya, dan pemerintah yang saya pimpin selama hampir satu setengah tahun, dinegeri ini. Saya menyimak dengan sungguh-sungguh, apa yang disajikan oleh pers, baik nasional maupun luar negeri terhadap semua langkah kebijakan yang pemerintah ambil. Semua itu menjadi bahan pertimbangan bagi saya untuk melakukan koreksi, perbaikan, atau meneruskan langkah-langkah yang saya anggap akan membawa manfaat bagi kemajuan bangsa dan negara, termasuk yang disampaikan oleh pimpinan PWI dan Ketua Umum Hari Pers Nasional tadi, semacam apakah masih tepat kita lanjutkan Bantuan Langsung Tunai sebagai konpensasi akibat kenaikan BBM. Pengalaman di banyak negara berbeda-beda, ada negara yang sudah 7 tahun lebih mempertahankan kebijakan Bantuan Langsung Tunai atau cash transfer. Negara lain tidak memilih itu, memilih, menggalakkan program padat karya, memberikan lapangan kerja bagi mereka-mereka sehingga merekapun punya profesi dan dapat imbalan dari profesi itu, atau varian atau sejumlah opsi yang lain. Saya terima pandangan itu, dan kita akan lakukan kajian secara mendalam Pemerintah, DPR, saya mengundang insan pers untuk melakukan semuanya ini menuju satu pilihan terbaik, terbaik bagi bangsa kita, bagi rakyat kita dan bagi keadaan yang kita hadapi dewasa ini. Terimalah salam hormat saya kepada insan pers di seluruh tanah air, semoga pada hari yang bersejarah ini, kita semua dapat terus melanjutkan tugas dan pengadian kita kepada bangsa dan negara.

Sekian,
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.


* * * *


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan