Arsip

« Maret 2006 »
M S S R K J S
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 

Pidato Presiden

Sambutan Pertemuan dengan Masyarakat Indonesia di Kamboja

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERTEMUAN DENGAN MASYARAKAT INDONESIA DI KAMBOJA
HOTEL INTERCONTINENTAL, 1 MARET 2006


Bismilahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semua.

Yang saya hormati,
Para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, para anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia dan delegasi dari Jakarta.

Yang saya hormati,
Saudara Duta Besar Republik Indonesia untuk Kamboja beserta ibu, keluarga besar kedutaan besar Indonesia untuk Kamboja. Saudara-saudara yang tinggal dan bekerja di Kamboja, baik dalam bidang swasta, dalam mengemban tugas pemerintah, maupun tugas-tugas yang lain.

Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Marilah kita awali pertemuan silaturahim dan tatap muka ini dengan tidak lupa untuk senantiasa memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT Tuhan yang Maha Kuasa atas perkenan rahmat dan ridhonya, kita terus dapat melanjutkan tugas dan pengabdian kita kepada bangsa dan Negara. Kita juga bersyukur hari ini kita berada dalam keadaan sehat walafiat, Insya Allah untuk sekali lagi bersama-sama membangun masa depan negara yang kita cintai, masa depan yang lebih baik dari sekarang ini.

Yang ingin saya sampaikan ada dua hal, secara ringkas apa yang sedang kita lakukan di tanah air. Saya yakin saudara-saudara tentu, memantau, mengikuti dan terus berkomunikasi dengan yang ada di Tanah air. Dan yang kedua tujuan serta agenda kunjungan kenegaraan saya bersama delegasi ke Kamboja sejak kemarin dan hari ini.

Namun sebelumnya karena seperti yang disampaikan pak Duta Besar tadi, ini kesempatan yang langka, saya akan memperkenalkan beliau-beliau yang menyertai kunjungan saya ke Kamboja ini. Depan kiri adalah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Bapak Boediono, sebelah kanannya Menteri Sekretaris Negara Bapak Yusril Ihza Mahendra, Bapak Hassan Wirajuda Menteri Luar Negeri, Ibu Hassan Wirajuda, kemudian Bapak Soetadji dari DPR RI, Ibu Antarini Malik dari DPR RI, Bapak Anthony Charles dari DPD RI, kemudian sap dua Pak Rusdi, Kepala Rumah Tangga Kepresidenan, saudara Andi Malarangeng Juru Bicara Kepresidenan, Saudara Hasanudin Ketua KNPI Pusat, saudara Mayjend. TNI Bambang Sutedjo Sekretaris Militer, saudara Handriyo Kusumo Priyo Kepala Protokol Negara, saudara Mayjend. Marinir Agung Widjayadi, Komandan Pasukan Pengamanan Presiden, yang Insya Allah beliau akan bertugas di tempat yang lain, kemudian yang belakang adalah Dan Grup A Paspampres Kol. Agus Sutomo, saudara Andi Malarangeng oh Saudara, Dino Patti Djalal, Juru Bicara Presiden hubungan luar negeri, kemudian ini nanti penggantinya pak Agung Widjayadi Mayjend. TNI Soeroyo Gino sebagai Komandan Pasukan Pengaman Presiden, yang sebelah sana dokter dan ajudan Ibu Negara, dr. Robert, Letnan Satu Mia dan Letnan Satu Astra. Astra itu bukan yang Yamaha, Honda bukan, nama beliau Astra Letnan Satu.

Baiklah, negeri kita terus membangun, negeri kita terus memulihkan keadaan dari krisis, mengatasi masalah-masalah yang tentu selalu ada di negara manapun dan tentu meningkatkan semua sendi kehidupan bangsa. Kita mengalami krisis masih ingat semua, krisis itu luar biasa dampak negatifnya, ada kemandekan ada kemunduran, tetapi selama 7 tahun kita bergulat, kita tidak menyerah, dari pemerintah ke pemerintah Alhamdullilah keadaannya semakin membaik, meskipun belum betul-betul pulih, sebagaimana kita sebelum krisis.

Ketika kita sedang melakukan pemulihan keadaan, yang disebut dengan rekonstruksi pasca-pasca krisis, kita sekaligus melakukan reformasi dan demokratisasi, permasalahan-permasalahan baru muncul, misalnya tingginya harga minyak dunia yang memukul ekonomi Indonesia, juga memukul negara-negara lain sebetulnya, tetapi karena kebijakan subsidi di waktu yang lalu begitu tingginya, akhirnya tingginya harga minyak itu sangat memukul APBN kita dan secara langsung maupun tidak langsung memukul keseluruhan sendi-sendi ekonomi nasional. Kemudian ada persoalan dengan pergerakan nilai tukar rupiah sempat melemah, nilai tukar kita karena juga masalah yang berkembang di dunia. Lantas ada penyakit-penyakit yang juga berkembang di negara lain seperti flu burung, belum lagi kita mendapatkan musibah meskipun bukan saja negara kita tsunami, gempa bumi, banjir ada kasus-kasus di daerah-daerah yang berkaitan dengan kesehatan dan lain-lain.

Jadi kita terus melakukan reformasi dengan segala permasalahannya dan tantangannya, kita memulihkan keadaan dari krisis, tetapi sekaligus kita mengatasi masalah-masalah yang muncul pada tahun 2004 akhir, 2005 yang saya katakan tahun yang tidak mudah, tahun yang penuh tantangan. Tetapi kita tidak boleh menyerah, apapun persoalan yang kita hadapi, seberat apapun Insya Allah kalau kita gigih, punya arah dan punya policy, punya strategi dilakukan secara bersama di pusat sama daerah para memimpin bertanggungjawab, semua turun ke lapangan tidak hanya memimpin dari di balik meja, maka satu demi satu masalah itu Insya Allah dapat kita atasi dan tentu Indonesia ke depan akan semakin baik.

Momentum itu ada, peluang itu ada, bahkan dunia terus terang memberikan harapan yang tinggi, telah memberikan satu kepercayaan atau trust, bahwa Indonesia akan pulih dan bangkit lagi, tinggal kita sendiri apakah kita tidak menyia-nyiakan peluang, kesempatan dan momentum ini atau kita bekerja asal saja tanpa kegigihan, tanpa kerja keras, berpulang berpulang bagi kita, seluruh rakyat Indonesia baik yang di dalam negeri maupun di luar negeri. Mari kita benar-benar melakukan satu upaya yang maksimal, bekerja sekeras mungkin, sekompak mungkin, meletakan kepentingan negara di atas kepentingan yang lain. Dan kalau itu dapat dilakukan akan sampai kepada tujuan kita. Yang kita tuju tiada lain adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat di seluruh tanah air. Rakyat disebut sejahtera apabila kebutuhan dasarnya, hak-hak dasarnya dapat kita penuhi dan kita tingkatkan. Apa itu, ya kebutuhan pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, jaminan rasa rasa aman, lingkungan hidup yang baik dan lain-lain, kita bekerja untuk itu.

Fokus prioritas yang kami letakan sekarang ini adalah meningkatkan kualitas pendidikan, kualitas kesehatan terutama bagi komunitas yang termasuk golongan ekonomi lemah yang memiliki keterbatasan untuk memelihara kesehatannya dan mengikuti pendidikan bagi putra-putrinya.
Program dan kebijakan kita lebih arahkan untuk itu, tentu saja pada saatnya, kita ingin sistem nasional kita di bidang pendidikan dan kesehatan makin berkualitas, kemudian makin murah dan makin terjangkau. Tentu yang lain-lain juga kita lakukan.

Untuk kita bisa meningkatkan kesejahteraan itu, ekonomi harus tumbuh, harus tumbuh, tidak ada negara satupun di dunia ini yang tanpa pertumbuhan ekonomi bisa meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Saya datang di Phnom Penh, di Siem Riph, di beberapa tempat tahun 1992, 14 tahun yang lalu ketika saya terbang kemarin akan mendarat saya begitu terkesan, saya sampaikan tadi malam kepada Raja Norodhom Sihamoni, kepada Perdana Menteri Hun Sen, kepada Pangeran Norodhom Ranaridh dan lain-lain. Betapa Kamboja tumbuh dengan pesat seperti sekarang dan tetap tumbuh, tentu karena keuletan bangsa ini, kekompakan bangsa ini, kegigihan, melihat dengan jelas dan kerjasama internasional yang baik.

Kembali kepada negara kita tadi, maka ekonomi tumbuh dan kita distribusikan secara adil dengan sistem yang makin baik, desentralisasi otonomi daerah dan perhatian menyeluruh pada sektor-sektor kehidupan. Kalau ekonomi tumbuh maka kemiskinan bisa kita kurangi, lapangan kerja bisa kita ciptakan lebih banyak, daya beli masyarakat lebih kita tingkatkan. Itu, agar tumbuh kita dorong investasi, kita dorong eksport, kemudian kita gerakkan sektor riil, dunia usaha, kemudian jangan lupa orang miskin 70% berada di perdesaan dan di pertanian kita revitalisasikan pembangunan pertanian perdesaan, termasuk perikanan dan kehutanan.

Itu adalah cetak biru, itu adalah strategi, membangun ekonomi ke depan, tetapi ekonomi bisa tumbuh seperti itu, investasi bisa datang ke negara kita dan tidak banyak ke Kamboja, ke Vietnam, ke India, ke Thailand jika iklim di negara kita baik. Iklim untuk investasi dan kerjasama ekonomi baik. Dikatakan baik, pertama harus aman, bagaimana mungkin mereka datang ke Indonesia kalau banyak kerusuhan, banyak gangguan keamanan, masih ada teror di seluruh Indonesia. Mereka tidak akan datang, saya ulangi lagi mereka mau memilih negera-negara yang aman.

Yang kedua, hukum, tegak hukum pasti, bagaimana mungkin, bagaimana dia mau beruntung bisa untung investasinya usaha di dalam negeri, kalau saya bicara investasi bukan hanya investor luar negeri saja tetapi juga investor dalam negeri. Kalau hukum tidak pasti. Hukum harus pasti tidak boleh semrawut, tidak boleh maunya sendiri bagi oleh si penegak hukum. Yang kedua kebijakan ekonomi harus tepat, jangan aneh-aneh sendiri Indonesia, negara lain baik kok kita pajaknya mahal sekali, investasinya aneh-aneh undang-undangnya, masalah tenaga kerja kita semrawut, dikit-dikit ngambek, dikit-dikit mogok meskipun harus kita lindungi tenaga kerja, harus kita berikan hak-haknya, harus kita berikan jaminan yang layak bagi kemanusian, kita tingkatkan tetapi kita tidak boleh semua industri itu tidak bisa bekerja karena permasalahan tenaga kerja yang tidak kondusif untuk itu.

Kemudian desentralisasi ada propinsi, ada kabupaten, ada kota tidak boleh bertabrakan satu sama lain seolah-olah mereka menjadi raja-raja sendiri. Bagaimana mungkin mereka datang, ijin aja susahnya bukan main, dan tentunya birokrasi harus bersih, korupsi harus terus kita perangi sampai serendah mungkin. Tidak mudah memerangi korupsi tapi wajib hukumnya, jangan ditunda-tunda lagi.....tapi saya yakin sampai saatnya kita negara kita makin bersih, makin efisien, makin jauh dari korupsi.

Kondisi-kondisi itulah yang kita bangun agar ekonomi tumbuh dan ekonomi tumbuh bisa didistribusikan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Kalau itu paham semua, maka semua upaya yang kita lakukan untuk itu, upaya dalam negeri untuk itu, kerjasama dengan negara lain untuk itu, saya datang ke Kamboja akhirnya untuk kepentingan rakyat kita, kesejahteraan mereka dan bukan untuk lain-lain. Tentu banyak sekali agenda yang sedang berjalan, kadang-kadang suasananya tidak semudah yang kita bayangkan, 24 jam saya mengelola masalah-masalah itu rasanya kurang waktu itu. Banyak yang masih harus kita lakukan, tetapi semangat kita upaya kita harus tetap tinggi dan mudah-mudahan sekali lagi dengan doa kita semua, dengan kerjasama kita semua, di tanah air terutama yang sedang mengemban tugas ditambah dengan duta-duta bangsa saudara-saudara, semua, semua itu dapat kita laksanakan dengan baik.

Kita tidak boleh melihat ke belakang, melihat ke belakang mengambil pelajaran. Tapi selebihnya kita melihat ke depan, berangkat dari kondisi masa kini. Hanya bangsa yang memiliki jiwa besar kearifan dan determinasi yang tinggi untuk membangun masa depan yang lebih baik, seperti itu bangsa yang akan berhasil. Sebaliknya kalau kita tidak fokus, tidak bersatu untuk melangkah bersama dan terlalu banyak berhadapan satu sama lain, oleh sebab-sebab yang sesungguhnya bukan kepentingan negara tetapi lebih banyak kepentingan pribadi, kelompok, golongan, kita akan menjadi bangsa yang merugi. Kesempatan hilang kita menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh Allah SWT. Itu tanah air, kalau dengar, kalau baca berita , kalau lihat tv, ada masalah sana sini, ya memang itu yang kita tangani, kita kelola tapi banyak yang sudah kita capai, pada pemerintahan ini dan juga pemerintahan-pemerintahan sebelumnya.

Saudara-saudara duta bangsa yang saya cintai dan saya banggakan,

Yang kedua, tujuan kunjungan saya kesini memang kunjungan kenegaran yang pertama setelah saya menjadi Presiden. Biasanya setelah menjadi Presiden, langsung keliling ASEAN berkunjung itu semacam tradisi, tapi hal itu tidak bisa saya lakukan, karena baru 2 bulan saya jadi Presiden ada tsunami, banyak sekali masalah-masalah di dalam negeri yang saya harus memprioritaskan kegiatan di dalam negeri. Jadi hutang saya masih tiga Brunei Alhamdullilah telah saya kunjungi kemarin, Kamboja dan setelah ini saya menuju Myanmar, juga kunjungan kenegaraan jadi sudah lunas untuk ASEAN sudah saya kunjungi semua.

Hubungan kita dengan kamboja baik, sejak abad ke-9 lihat Candi Borobudur, lihat Candi Angkor Wat, Wat itu artinya apa, wat itu bukan temple ya, tempat sembahyang ya. Kemudian laut jaman perang kemerdekaan, kita dukung mendukung. Kemudian hubungan yang mesra antara Raja Norodhom Sihanouk dengan Presiden Soekarno. Kemudian ada pasang surut hubungan kita, kemudian kita terlibat banyak dalam rekonsiliasi nasional dan penyelesaian masalah Kamboja. Masih ingat Jakarta Informal Meeting, kemudian Paris Agreement, kemudian Peace Keeping Mission kita kirimkan 4 batallion, sekian banyak kepolisian, sekian banyak pengamat militer, bahkan kepala stafnya juga dari Indonesia. Saya juga berkunjung untuk melihat dari dekat prajurit-prajurit kita yang bertugas waktu itu. Kita terlibat banyak, dan sekarang kita kukuhkan dalam rangka ASEAN dan kerjasama yang lebih luas lagi.

Setiap saya berkunjung ke sebuah negara, biasanya saya fokus pada dua, tiga agenda saja. Karena sudah sangat sering saya bertemu dengan Perdana Menteri Hun Sen, sudah banyak yang kita bahas oleh karena itu kemarin saya fokus berapa hal yang penting ada implementasinya, ada tindak lanjutnya. Yang kita kerjasamakan antara lain di bidang pariwisata dan perhubungan, transportasi. Kalau nanti ada paket pariwisata, Angkor Wat – Borobudur yang cantik, dikoneksikan dengan airline yang bagus, mudah-mudahan ini peluang baru untuk kerjasama. Kemudian investasi, saya tahu, sudah banyak investor Indonesia investasi disini, harus kita tingkatkan dan ingat harus membawa keuntungan sebesar-besarnya bagi negara dan bangsa kita. Berkontribusi pada ekonomi Kamboja, tetapi juga memberikan kontribusi kepada ekonomi kita.

Perdagangan, Perdana Menteri Hun Sen mengatakan masih jomplang, tahu jomplang ya, jomplang itu tidak seimbang, imbalance antara Kamboja dan Indonesia. Pak Hun Sen minta tolong Indonesia menerima produk-produk Kamboja. Saya kira tinggal dibuka informasinya, kerjasama antar private sectors, Kadin Indonesia dengan Kadin Kamboja, buka semuanya, saya kira tidak akan pernah kering peluang untuk dunia usaha.

Pendek kata, akan ada Joint Comission Metting pertemuan komisi bersama bulan Juli di Kamboja, dan kita inginkan dibahas secara rinci peluang kerjasama apa saja. Saya minta dukungan saudara semua, agar hubungan kedua bangsa negara makin baik, jadilah duta-duta bangsa yang baik, ikuti hukum, ikuti adat istiadat, dan bersahabatlah, timba pengalaman yang baik dari negeri ini. Kita kadang-kadang merasa kecil melihat negara-negara yang maju, jangan. Kita punya punya kebesaran, kebesaran sejarah, kebesaran nilai, keuletan, ketangguhan tidak banyak bangsa di dunia yang merdeka yang merebut kemerdekaannya, Indonesia salah satu bangsa yang bisa melakukan itu.

Jadi jangan pesimis, jangan menjelek-jelekan bangsa sendiri, jangan merasa ini kita merasa serba salah, tidak, tetapi kita juga harus mau belajar ambil saja dari negara manapun, yang baik, yang cocok untuk negara kita, Kamboja mesti ada dong kekuatan-kekuatan, keunggulan dari Kamboja ini. Sebagaimana saya menimba dari Vietnam, sebagaimana saya menimba dari Brunei, dari semua negara untuk kepentingan kita. Tetapi kekuatan kita, kebesaran kita jangan malah berkurang, malah susut, malah hilang, kita perkuat, kita perbesar dengan demikian ke depan kita akan makin beruntung dan tidak merugi sebagai bangsa.

Itulah yang dapat saya sampaikan dan kalau masih ada kesempatan saya berikan kesempatan, satu,dua dari saudara untuk menyampaikan sesuatu, sebelum saya melakukan perjalanan ke Myanmar. Tentu Insya Allah ini bukan merupakan kunjungan saya yang terakhir, masih banyak event, event di tingkat ASEAN, dan kita akan bertemu lagi di waktu yang akan datang. Saya akan kembali ke meja

Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


* * * * *




Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan