Arsip

« Maret 2006 »
M S S R K J S
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 

Pidato Presiden

Sambutan Pertemuan dengan Masyarakat Indonesia di Myanmar

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERTEMUAN DENGAN MASYARAKAT INDONESIA
DI MYANMAR
WISMA DUTA, 2 MARET 2006


Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Para Anggota Dewan Perwakilan Rakyat dan Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia, segenap Anggota Delegasi Indonesia dalam kunjungan kenegaraan ke Myanmar,

Yang saya hormati Saudara Duta Besar Republik Indonesia untuk Myanmar dan Nepal beserta Ibu, Saudara-saudara masyarakat Indonesia yang bertugas di Myanmar, baik selaku atau sebagai Diplomat, Anggota Lembaga-lembaga Perserikatan Bangsa-bangsa, pengusaha, mengikuti pendidikan dan cabang-cabang profesi yang lain,

Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Pada kesempatan yang baik dan semoga senantiasa penuh berkah ini, marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT atas perkenan rahmat dan ridhonya kita dapat bertatap muka di Wisma ini dan insya Allah kita semua senantiasa berada dalam keadaan sehat walafiat. Kita juga bersyukur, kita semua masih diberikan semangat, kekuatan dan kesehatan baik lahir maupun bathin untuk terus melanjutkan tugas dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara, baik pengabdian di tanah air maupun di luar tanah air.

Sebagaimana yang disampaikan oleh bapak Duta Besar tadi, ini adalah kunjungan resmi saya kunjungan kenegaraan pertama, sejak saya mengemban amanah sebagai Presiden ke Myanmar, sebenarnya ada 3 (tiga) negara yang saya kunjungi, pertama adalah Brunei Darussalam, saya berkunjung satu hari, kemudian saya lanjutkan berkunjung ke Kamboja juga satu hari dan sekarang ke Myanmar satu hari dan hari ini insya Allah kami kembali ke tanah air.

Tradisinya, biasanya seorang Presiden Indonesia begitu dilantik itu lantas melakukan kunjungan kehormatan atau kunjungan kenegaraan ke semua negara ASEAN, sekarang ASEAN 10 negara, tetapi saudara tahu 2(bulan) bulan setelah saya mengemban tugas sebagai Presiden ada musibah yang luar biasa besarnya yaitu tsunami di Aceh dan di Nias dan kemudian juga ada masalah-masalah lain juga ada gempa bumi, ada krisis harga minyak sedunia dan lain-lain oleh karena itu saya dan segenap jajaran Kabinet lebih memusatkan perhatian untuk mengelola permasalahan dalam negeri sehingga sudah setahun lebih baru saya tuntaskan kunjungan kenegaraan di negara-negara ASEAN.

Kunjungan ini tentu bertujuan untuk meningkatkan persahabatan, hubungan baik dan kerjasama antara Indonesia dan Myanmar, karena kita memiliki hubungan dan kerjasama baik secara bilateral maupun secara regional dan multilateral. Kerjasama regional yang menjadi pilar Indonesia dan Myanmar adalah ASEAN, oleh karena itulah setiap acara kunjungan kenegaraan di negara-negara ASEAN di samping masalah-masalah bilateral juga kita singgung, kita bicarakan masalah-masalah regional dan masalah internasional.

Kita sepakat untuk meningkatkan kerjasama kita. Pada pertemuan baik formal maupun ketika saya berbicara one on one dalam acara jamuan santap malam tadi malam, saya dengan pemimpin Myanmar Senior General Than Shwe bersepakat untuk meningkatkan kerjasama ini d berbagai bidang dan kita menyebut secara eksplisit kerjasama di bidang investasi, di bidang perdagangan, di bidang energi dan juga di bidang pariwisata.

Kami baru berkunjung ke Pagoda melihat betapa megahnya dan indahnya Pagoda yang dibangun 600 tahun sebelum masehi tentu pikiran-pikiran begini baik kalau kita bisa mengintegrasikan kegiatan pariwisata di ASEAN. Masing-masing negara punya keunggulan, Indonesia sangat kaya dengan objek-objek pariwisata itu, demikian juga negara yang lain, kalau kita memiliki satu paket wisata di kawasan ini dipadukan, dikelola dengan baik, disinkronisasikan dengan baik, tentu lebih mendatangkan manfaat bagi negara-negara yang bersangkutan. Kerjasama seperti ini, terus kita jajaki dan kita kembangkan apa yang dapat kita lakukan secara bersama nantinya di lingkungan ASEAN.

Kemudian energi kita ketahui bahwa Myanmar kaya akan energi, minyak, dan gas dan tambang, kerjasama Myanmar dengan negara-negara sahabat juga makin berkembang dengan Cina, dengan India, dengan Korea Selatan dan lain-lain, tentunya Indonesia yang punya wilayah yang relatif berbatasan lepas pantai utara Sumatra dan lepas pantai selatan Myanmar tentu sangat memungkinkan secara geo ekonomi untuk kita juga melakukan kerjasama yang baik, kerjasama yang nyata.

Demikian juga sektor riil, saya dengar ada kegiatan yang nyata disini, saya berharap bisa ditingkatkan kembali, dan saya mendengar ada masalah-masalah yang perlu dibicarakan karena bagaimana pun permasalahan hukum, permasalahan regulasi, iklim, perlakuan terhadap pengusaha dimanapun baik di Indonesia, di Myanmar, di negara-negara yang lain harus sedemikian rupa sehingga memungkinkan kegiatan investasi, kegiatan kerjasama ekonomi itu berjalan dan berkembang dengan baik.

Kita telah menandatangani kemarin, saudara Menlu kita dengan Menlu Myanmar yang saya saksikan dan juga disaksikan oleh Jendral Than Shwe. Kita telah membentuk komisi bersama Joint Comission dan insya Allah tahun ini kita bisa melaksanakannya. Kami mengundang bisa dilaksanakan di Indonesia terlebih dahulu. Dengan Joint Comission ini, banyak kita dapat kita bicarakan banyak hal, kerjasama ekonomi, misalnya investasi, para investor Indonesia yang ada di Myanmar, kalau ada masalah-masalah bisa diangkat disitu untuk dicarikan solusinya. Demikian juga barangkali ada masalah-masalah di Indonesia yang oleh pihak Myanmar ingin mendapatkan klarifikasi juga bisa kita bahas secara baik.

Tujuannya adalah kita mengurangi hambatan-hambatan apapun dengan demikian manfaat maksimal bisa dicapai dalam kerjasama ini, baik pihak Myanmar maupun pihak Indonesia. Oleh karena itu kemarin yang ingin menyampaikan kepada saya, kita akan wadahi semua nanti hal-hal itu dalam pertemuan komisi bersama atau joint comission yang insya Allah akan dilaksanakan pada tahun ini.

Saudara-saudara sebelum saya melanjutkan sedikit tentang, secara singkat perkembangan di tanah air kita, saya akan memperkenalkan delegasi Indonesia yang menyertai kunjungan saya, tak kenal maka tak sayang, begitu ya, datang tampak muka pergi tampak punggung. Pertama adalah Menteri koordinator Bidang Perekonomian, Bapak Boediono, yang kedua Menteri Sekretaris Negara, Bapak Yusril Izha Mahendra, Menteri Luar Negeri, Bapak Hassan Wirajuda, Ibu Hassan Wirajuda, Bapak Soetadji Anggota DPR RI, Ibu Antarini Malik Anggota DPR RI, Bapak Anthony Charles Anggota DPD RI, di Indonesia sekarang disamping ada Dewan Perwakilan Rakyat ada Dewan Perwakilan Daerah. DPR RI oleh Undang-undang ditetapkan jumlahnya 550, betul ya, kemudian kalau DPD tiap propinsi itu punya 4, tinggal dikalikan, 4 sekarang propinsi kita sekarang 33 karena ada yang ingin nambah-nambah propinsi begitu, kalau pemekaran atau penambahan propinsi bikin baik, pembangunan makin maju, pemerintahan makin efektif, rakyat makin meningkat kesejahteraannya memang kita perlukan. Tetapi kalau pemekaran tidak mengarah ke situ, malah membikin biaya yang lebih tinggi, kemudian ada konflik lagi dan lain-lain, tentu kita harus sangat berhati-hati untuk memekarkan, atau mengembangkan, atau menambah jumlah daerah, baik kabupaten, kota maupun propinsi.

Kemudian dari kiri, ini senior kita, saya kira kenal semua, Bapak Ali Alatas mantan Menteri Luar, Mantan Menteri Dalam Negeri Bapak Hari Sabarno, Kedua beliau itu mengemban tugas yang saya limpahkan untuk meningkatklan hubungan Indonesia dan Myanmar, Kepala Rumah Tangga Kepresidenan, Bapak Rusdi, Sekretaris mIliter Mayjend. TNI Bambang Sutedjo, Kepala Protokol Negara Bapak Handriyo Kusumo Priyo, kemudian Ketua KNPI Pusat Saudara Hasanudin, Kemudian juru Bicara Kepresidenan Hubungan Wartawan, Saudara Andi Malarangeng, ada saudara Dino Patti Djalal, merangkap wartawan disitu juga Juru Bicara Kepresidenan, kemudian saya juga membawa para redaktur wartawan senior, saya kira melebur dengan saudara-saudara sekalian dan teman-teman wartawan dari tanah air, pendamping setia saya Ibu Negara, Ibu Hj. Ani Bambang Yudhoyono, paling tidak kalau saya telat makan diingatkan, jangan telat makan.

Keadaan di tanah air kita baik,terus berkembang maju, meskipun permasalahan dan tantangan masih kita hadapi, tetapi tentu sebagai bangsa yang besar, kita harus mampu mengatasi tantangan-tangangan itu, mengatasi masalah-masalah itu membangun masa depan indonesia yang lebih baik. Masih ingat kita semua 1998 negeri kita mengalami krisis yang luar biasa, segala sendi kehidupan bangsa katakan lah mengalami kemerosotan, kemandekan dan bahkan kemunduran.

7-8 tahun segera setelah itu bangsa kita bergulat dengan daya tahan, dengan keuletan untuk mengatasi persoalan yang sangat berat, termasuk persoalan ekonomi. Ditengah-tengah permasalahan atau gangguan sosial, keamanan ,politik dan lain-lain, Alhamdullilah dengan gigih keadaan makin dapat dipulihkan. Meskipun sekarang masih kita rasakan ekor dari krisis, tetapi situasi yang betul-betul buruk, setengah gelap waktu itu, pelan-pelan dapat kita pulihkan.

Pemerintahan yang terbentuk setelah pak Harto lengser, mulai Pak Habibie, Gus Dur, Ibu Mega dan sekarang tentunya saya, terus, yang dulu telah berbuat yang terbaik untuk mengatasi keadaan itu, dan tugas saya untuk meneruskan langkah-langkah itu, untuk betul-betul bukan hanya mengembalikan lagi kondisi Indonesia seperti sebelum krisis, tetapi lebih baik lagi. Karena krisis juga membawa hikmah, ada berkah dari musibah itu. Artinya sadar kita sebagai bangsa kita harus melakukan banyak hal, pembaharuan, perbaikan, perubahan ke arah yang lebih baik , memperbaiki kekeliruan dan kekurangan di waktu yang lalu dan itulah yang kita sebut dengan reformasi.

Dulu kita sadari sistem politik kita, pemerintahan kita, kehidupan kita, dikatakan kurang demokratis, kita melakukan transformasi sekarang ini menuju ke kehidupan yang lebih demokratis. Kehidupan yang demokratis oleh karena itu pasangannya kita melakukan reformasi dan melakukan demokratisasi. Satu cabang kehidupan yang penting adalah ekonomi. Kalau ekonomi tidak tumbuh maka kesejahteraan rakyat tidak bisa ditingkatkan. Kesejahteraan rakyat itu apa, ya hak mereka, kebutuhan dasar mereka, pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan, rasa aman, lingkungan hidup yang baik.
Untuk meningkatkan itu, kita perlu resources , perlu sumber daya, termasuk sumber daya finansial, itu bisa dicapai kalau ekonomi kita tumbuh. Ekonomi tumbuh apabila betul-betul makro ekonominya baik, growth atau pertumbuhan terjadi, dan didistribusikan secara adil sehingga penggangguran makin berkurang, kemiskinan berkurang, daya beli mulai naik, modal ekonomi kita capital kita seluruh tanah air, infrastruktur dan lain-lain juga makin berkembang.

Oleh karena itu reformasi, demokratisasi dan pembangunan kembali ekonomi pasca krisis, itulah 3 agenda besar ke depan. Nah ketika kita sepakat berjuang menjalankan 3 agenda besar itu, ternyata kehendak Tuhan Yang Maha kuasa, tahun 2004 akhir, 2005 tahun yang tidak mudah, tahun yang berat, kita menghadapi sejumlah masalah, seperti tsunami tadi, beberapa bencana alam, krisis harga minyak di dunia, yang memukul ekonomi Indonesia dan ekonomi negara lain sebenarnya. Krisis nilai tukar meskipun segera bisa kita atasi, juga masalah-masalah global, flu burung, pendek kata kita menjalankan takdir reformasi, demokratisasi dan pembangunan ekonomi kembali pasca krisis, kita juga harus mengatasi semua itu.

Oleh karena itu, kita berupaya dengan gigih mengatur keseimbangan, tetap dengan agenda dan prioritas, tetapi semua tujuan-tujuan itu dapat kita laksanakan secara bertahap. 2005 setahun lebih ini tentu banyak hal yang belum dapat kita capai, banyak hal yang saya katakan meleset karena faktor-faktor eksternal tadi yang sepenuhnya belum bisa kita lihat pada tahun 2004 yang lalu tapi terjadi. Tetapi kalau kita jujur, ada sejumlah capaian atas kerja keras kita, bagi pemerintah sangat jelas, yang sudah berhasil dicapai akan kita teruskan kita kembangkan lagi, yang belum kita capai akan kita perjuangkan dengan gigih.

Untuk mencapai tujuan besar itu, tentu pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Harus ada kebersamaan, kekompakan, kerja keras kita semua. Eksekutif, legislatif, yudikatif, lembaga audit, semua harus bekerjasama. Sesuai dengan konstitusi, sesuai dengan agenda besar kita, karena itu misi bangsa. Yang kedua Civil Society, semua juga bekerja melaksanakan kontrol kepada pemerintahnya, mengembangkan daya kritisnya, tapi setelah itu kemudian menjadi bagian dari kita semua mengatasi masalah membangun Indonesia yang lebih baik.

Bukan hanya Jakarta saja yang siang malam bekerja, tetapi daerah, propinsi, kabupaten, kota, Gubernur, Bupati, Walikota, pendek kata semua pemimpin di negeri ini, di Indonesia harus lebih banyak berkorban, menyatukan kekuatan dan energinya untuk mengatasi masalah, turun dan dekat dengan rakyat. Dengan demikian, kita berharap Indonesia sebagai sebuah mesin raksasa, bekerja, berfungsi dan bergerak dengan penuh, sehingga hasilnya Insya Allah akan lebih baik, itu yang kita lakukan.

Dari gambar besar itu, dari satu strategi dan kebijakan besar itu, tentu banyak hal yang kita lakukan, bidang politik, hukum, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan, hubungan internasional dan lain-lain. Dan satu hal yang memang sedang kita lakukan dengan gigih sekarang ini adalah meningkatkan kesejahteraan rakyat utamanya pendidikan dan kesehatan. Sebab kalau pendidikan dan kesehatan rakyat, terutama golongan ekonomi lemah tidak naik, tidak makin baik, terjadi gap. Gap itu bisa economic gap, bisa intelectual gap, sebuah bangsa yang memiliki gap intelectual, yang cerdas dengan yang belum cerdas, yang masih katakanlah mengenyam pendidikan yang sangat rendah, yang kaya sekali dan yang miskin, tentu akan menimbulkan yang disebut dengan ketegangan tension, kemudian perasaan tertinggal deprivastion, kemudian frustasi, kemudian bisa disorder dan lain-lain.

Oleh karena itulah, kita mengalokasikan lebih anggaran untuk pendidikan dan kesehatan, karena itu juga mencerminkan kualitas hidup, itu mencerminkan human development index, kalau dikaitkan dengan norma dari Perserikatan Bangsa-bangsa, ditambah dengan income perkapita, pendidikan, kesehatan dan pendapatan mereka. Yang kedua kita sadar, negara sebesar Indonesia dengan sumber daya yang luar biasa, penduduk 220 juta, peluang yang juga besar, tidak akan maju dengan baik kalau kepemerintahannya governers- nya tidak baik, kalau lamban, kalau korup, kalau tidak efisien, kalau tidak responsif, kalau tidak bertanggungjawab, kalau tidak terampil dan lain-lain.

Oleh karena itu agenda yang kita bangun, membangun tata pemerintahan yang baik. Bukan hanya eksekutif saja, harapan kita good governance itu juga dilakukan oleh semua lembaga-lembaga kenegaraan termasuk civil society, termasuk LSM dan lain-lain. Kalau kita melakukan pembangunan, tata pemerintahan yang baik, setahun, dua tahun, tiga tahun, empat tahun, lima tahun, sepuluh tahun, dua puluh tahun negara kita akan berubah, kita akan menjadi sebuah negara yang sistemnya bersih, sistemnya efisien, sistemnya, sistemnya produktif, sistemya kompetitif.

Salah satu bagian dari membangun pemerintahan yang baik adalah pemberantasan korupsi. Negara manapun, melalui riwayat masa pasang surut dalam pemberantasan korupsi, saya banyak belajar dari negara-negara lain, dari Hongkong misalnya, dari Singapura, dari negara-negara di Eropa Timur, bagaimana sekali lagi pasang surut, tantangan, permasalahan dalam pemberantasan korupsi, tetapi satu hal, pemberantasan korupsi harus berjalan terus, dikelola dengan baik, dengan tujuan yang baik, dengan fairness yang tinggi, cegah terjadinya penyimpangan atau distorsi tetapi harus menjadi arus utama dalam sebuah pemerintahan. Inilah yang sedang kita lakukan dan tidak bisa seperti membalik telapak tangan, negara lain juga begitu, tetapi jangan kendor, jangan kita tiba-tiba kita kehilangan semangat, kemudian mundur kembali, harus terus berlanjut. Ada kekurangan, ada kesalahan dalam pemberantasan korupsi kita perbaiki kita evaluasi tapi semangatnya tidak boleh terhenti dan mudah-mudahan makin efektif kita, makin tepat kita, makin tajam kita dalam melakukan upaya pemberantasan korupsi itu.

Tentunya masih ada hal-hal lain lain, hal-hal lain yang dilakukan dalam upaya besar kita membangun masa depan yang lebih baik. Dan kepada saudara-saudara yang bertugas di Myanmar dengan segala profesi saya sebutkan tadi jadi lah duta bangsa yang baik, baik saudara disini baik nama Indonesia, buruk saudara disini, berperilaku yang tidak tepat, nama bangsa kita ikut tercemar. Jadilah duta bangsa yang baik pada cabang profesi apapun. Yang kedua tunjukan semangat, kegigihan dalam menjalankan profesi itu. Bidang usaha pun kalau usahanya gigih, bersemangat tapi dengan itikad bisnis yang baik saudara tentu akan mendapatkan tempat dimanapun bisnis itu dilakukan. Yang ada di PBB, saudara juga bawa nama baik Indonesia, PBB harus tahu bahwa banyak putra-putri terbaik Indonesia yang selama ini bertugas di dunia, di Perserikatan Bangsa Bangsa dan yang juga siap sebetulnya mengemban tugas apapun pada Lembaga Perserikatan Bangsa Bangsa.

Bangsa kita hampir ikut semua kegiatan Peace Keeping Mission di seluruh dunia, karena begitu amanah konstitusi kita, Pembukaan Undang Undang Dasar 1945. Oleh karena itu jaga diri baik-baik, junjung tinggi citra bangsa kita, patuhi hukum, ikuti adat istiadat dan berkomunikasilah dengan baik dengan warga negara Myanmar dimana saudara tinggal sekarang ini.

Itulah yang saya sampaikan, dan saya persilahkan nanti kalau ada satu, dua, tiga pertanyaan yang ditujukan kepada saya.

Terimakasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


*****




Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan