Pidato Presiden
Sambutan Peluncuran Buku "Jenderal M. Jusuf Panglima Para Prajurit"
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PELUNCURAN BUKU
“JENDERAL M. JUSUF PANGLIMA PARA PRAJURIT”
PURI AGUNG-SAHID JAYA HOTEL, 10 MARET 2006
Bismillahirahmanirrahim,
Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh,
Selamat malam,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati, Wakil Presiden Republik Indonesia, Pak Yusuf Kalla beserta Ibu,
Yang saya hormati, para lembaga-lembaga negara, para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang saya hormati, para penggagas, penulis dan penerbit buku, Pak Mar’ie Muhammad, Pak AM Fatma, Saudara Atmadji Sumarkidjo, Saudara Gubernur DKI Jakarta,
Yang saya cintai dan saya muliakan, para sesepuh, para senior, para tokoh, keluarga besar Bapak Jenderal M. Jusuf, almarhum,
Hadirin sekalian yang saya hormati,
Pada kesempatan yang baik dan semoga senantiasa penuh berkah ini, marilah sekali lagi kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT karena kita semua masih diberikan semangat, kekuatan dan kesehatan untuk melanjutkan tugas dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara. Kita sangat berterima kasih atas hadirnya buku ini. Dan kita tadi bersama-sama mendengarkan apa yang telah disampaikan oleh sang penulis, Saudara Atmadji Sumarkidjo yang mengenal Jenderal Jusuf dari dekat dan telah mengabadikan dalam buku yang telah disusunnya. Kita telah mendengar apa yang disampaikan sejarahwan kita, Bapak Taufik Abdullah melihat jejak pengabdian Pak M. Jusuf dalam konteks sejarah.
Dan kemudian yang terakhir sekali, Pak Jusuf Kalla yang sungguh luar biasa karena beliau mengungkapkan yang disebut dengan unwriten document dan untold story about Pak Jusuf. Tugas saya menjadi lebih ringan, mudah-mudahan saya bicara seringkas mungkin dan saya harus memilih satu sudut penglihatan tertentu atas sosok Jenderal TNI M. Jusuf. Dan mudah-mudahan, ini menjadi catatan penting dalam kehidupan bangsa dan negara di waktu yang akan datang.
Kita merindukan forum seperti ini, setelah hari-hari kita penuh dengan hingar-bingar, hiruk-pikuk dinamika kehidupan yang syarat dengan dinamika politik. Alangkah leganya malam hari ini, kita bertemu, ber-silaturahim, menyatukan hati dengan hati kita, wajah dengan wajah kita untuk melihat sebuah fragmen, pengabdian anak bangsa, Jenderal TNI M. Jusuf dalam upaya besar kita membangun bangsa dan negara kita. Forum ini adalah forum untuk melakukan refleksi sejarah, forum untuk melakukan pencerahan terhadap agenda besar yang belum rampung, nation building, character building dan bahkan dalam taraf tertentu adalah state building. Malam hari ini, kita bersama-sama ingin meletakkan secara jujur, secara adil dan konstruktif masa lalu, masa kini dan masa depan. Dalam perspektif inilah, saya tentu tidak akan mengulang kembali, apa yang dengan tepat, dengan apik tadi disampaikan oleh pembicara-pembicara sebelum saya.
Hadirin sekalian,
Presiden pertama kita, Bung Karno pernah mengatakan, ”Jangan sampai meninggalkan sejarah, jangan sampai melupakan sejarah”, yang kita kenal dengan Jas Merah. Akan menjadi bangsa yang merugi dan malang kalau kita tidak meletakkan sejarah untuk kepentingan pembelajaran dan kemudian untuk kepentingan membangun hari esok yang lebih baik. Kalau kita tidak menyayangi sejarah, apalagi kita memutarbalikkan sejarah, tidak mencatatnya secara baik, kita tidak mensyukuri apa yang sudah dianugerahi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa. Mempermainkan sejarah, sering saya katakan sama dengan mempermainkan Allah SWT. Oleh karena itu, marilah kita membiasakan diri jujur kita kepada sejarah seobyektif mungkin, bebas dari kepentingan-kepentingan politik sesaat. Dengan demikian, sejarah merupakan warisan abadi bagi generasi manapun.
Kita iri kadang-kadang melihat negara China yang sangat bangga pada masa kejayaannya, The Middle Kingdom sampai sekarang. Kita lihat Jepang, yang sangat bangga ketika Restorasi Meiji berhasil membawa Jepang sebagai bangsa Asia tumbuh menjadi bangsa yang modern pada zamannya. Perancis bangga dengan Revolusi Perancis yang mengumandangkan Liberty, Egality dan Fraternity. Amerika Serikat melakukan perang kemerdekaan dan merdeka, dan merupakan melting port yang luar biasa. Islam mengalami masa kejayaan ketika ottoman in fire memiliki pengaruh yang luas di Eropa.
Indonesia tidak kering dengan gagasan-gagasan besar. Indonesia tidak miskin dalam peristiwa-peristiwa sejarah yang sangat kita banggakan. Bukan hanya lintasan generasi O8, 28, 45 dan seterusnya hingga sekarang ini, tetapi Indonesia sebagai contoh yang paling mutahir dalam bentangan sejarah perjalanan bangsa, sebagaimana yang disampaikan pada sahabat saya, Presiden Vietnam, Tran Duc Luong pada saat saya berkunjung ke Hanoi dan tiga minggu yang lalu ketika Perdana Menteri Vietnam, Phan Van Khai berkunjung ke Jakarta.
Vietnam dan Indonesia adalah sedikit negara yang mendapatkan kemerdekaannya dengan perjuangan yang sangat berat, paduan antara perjuangan politik dengan perjuangan bersenjata. Dan ini adalah heritage, warisan, kebanggaan yang mesti tidak boleh pudar. Kita ingin generasi sekarang, generasi-generasi akan datang selalu memelihara kesinambungan, benang merah kesinambungan sejarah ini, agar nilai, jati diri, konsensus dasar kita terbawa selamanya mengiringi perjalanan bangsa menuju bangsa yang modern, bangsa yang besar tapi tidak tercabut dari sejarah, nilai dan jati dirinya.
Hadirin sekalian,
Dalam persepektif itulah, maka sesungguhnya sosok Jenderal M. Jusuf bagian dalam perjalanan besar bangsa Indonesia dan telah memberikan tauladan dalam berbagai hal yang tentu memperkaya, apa yang kita anut hingga sekarang ini dan, bahkan kita lestarikan di waktu yang akan datang. Pak Jusuf Kalla telah memotret penggalan-penggalan pengabdian beliau yang kalau ditambahkan dengan potret-potret yang lain akan menjadi a complete motion picture, bentangan pengabdian seorang Jenderal M. Jusuf ketika masih muda sampai dengan akhir hayat beliau.
Saya pribadi mengenal beliau tentunya ketika beliau menjadi Panglima ABRI dan kemudian saya bertemu dengan beliau terakhir, kurang lebih satu setengah tahun yang lalu dengan Pak Jusuf Kalla ketika kami sowan kepada beliau di kediamannya, di Makassar. Kalau saya boleh mengatakan legacy, memang kita tidak boleh memkultuskan seseorang, tetapi tidak adil dan tidak jujur kalau ada seseorang yang memiliki kelebihan lantas kita simpan dan tidak kita angkat untuk pembelajaran, untuk kebanggaan dan dicontoh oleh generasi-generasi yang akan datang.
Ada tiga legacy Jenderal Jusuf. Yang pertama, jenderal yang dekat dengan prajurit, jenderal yang sangat memperhatikan kesejahteraan prajurit. Ketika saya berpangkat kapten, memimpin pasukan, melakukan kegiatan fisik yang berat, berlari setiap hari 5 sampai 8 KM, kemudian setelah selesai kegiatan yang berat itu, kita tersenyum karena ada Susu Sinta, ada kacang ijo. Dengan gaji yang kecil, bahkan kadang-kadang ¾ kita minum, ¼ untuk anak kita yang kecil. Karena Jenderal Jusuf ingin mensejahterakan prajuritnya, prajurit dan keluarganya, perlengkapan perorangan, senjata dan lain-lain. Tugas seorang pemimpin, seorang komandan dan Panglima Militer II melaksanakan tugas pokok agar tugas itu berhasil seberat apapun, sebahaya apapun and the mission must be accomplished.
Yang kedua, mensejahterakan prajuritnya. Kesejahteraan tidak harus serba benda, tidak harus uang tapi sentuhan kasih sayang, perhatian, kedekatan, jarak yang dekat dengan anak buahnya. Dan itu semua ditunjukkan oleh Pak Jusuf ketika memimpin ABRI, yang pasti beliau sangat mencintainya. Pelajaran yang kita petik, tentunya dalam ruangan ini ada yang masih dinas aktif, para jenderal, para laksamana, para marsekal, kiranya bisa diteruskan bahwa tugas saudara mengemban tugas negara dan sekaligus meningkatkan kesejahteraan prajurit. Tidak akan pernah berhenti, tidak pernah hilang pengabdian seperti itu.
Yang kedua, yang kita kenang, Jenderal Jusuf sangat mengedepankan kemanunggalan ABRI rakyat, saya kira masih ingat semua kita dulu. Saya pernah mendengarkan kalimat beliau, pendek kalimatnya tapi touching, “Dengan segala kelebihanmu, engkau tetap rakyat”, mengingatkan kepada semua para prajurit bahwa apapun yang dimiliki prajurit karena pendidikan, karena latihan, karena modernitas engkau tetap rakyat. Itulah sebetulnya akar dari hubungan yang sangat dekat antara ABRI dan rakyat waktu itu.
Dunia barat, demokrasi di negara lain melihat hubungan tentara dengan bukan tentara dalam format civil military relations, atas nilai demokrasi sesuai dengan tatanan konstitusi dimana domain militer dan dimana domain politisi yang tidak bertabrakan, tapi menjadi bagian utuh bagaimana sebuah demokrasi diterjemahkan. Tetapi di Indonesia lebih dari itu, semua itu akan tumbuh dengan subur, apabila dibertumbuh pada kedekatan hati yaitu kemanunggalan ABRI rakyat. Dan demikianlah tumbuhnya militer di Indonesia yang boleh jadi sangat berbeda dengan pertumbuhan militer-militer di negara lain. sejak awal kemerdekaan 1945. Saya kira nilai itu masih sangat relevan bahwa antara ABRI, antara TNI dengan rakyat haruslah tetap dekat, memikirkan apa yang diharapkan rakyat.
Legacy ketiga atau yang terakhir, tadi sudah diangkat semua tinggal saya kerangkakan, saya letakkan dalam suatu konteks begitu, Pak Jusuf meninggalkan banyak-banyak pelajaran tentang the true nationalism. Beliau sudah mengatasi ikatan identitas kesukuan, kedaerahan, meskipun beliau sangat cinta, sangat bangga, sangat dekat dengan komunitas asal beliau sebagaimana Pak Jusuf Kalla mengatakan tadi, “Pantang Bugis dikalahkan oleh bukan Bugis”. Tetapi tidak menghalang-halangi pikiran dan jiwa beliau bahwa beliau adalah tokoh nasional yang harus mencintai semuanya. Barangkali ekstrim beliau tanda kutip tidak begitu mengistimewakan menunjukkan, kedekatannya dengan identitas beliau untuk menghilangkan rintangan psikologis bahwa beliau adalah tokoh nasional, yang meski baik dengan semuanya, merangkul dengan semuanya nilai itu masih tetap relevan.
Ketika sistem desentralisasi kita pilih sekarang ini, ketika otonomi daerah kita jalankan sekarang ini, jangan pudar ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia, jangan pudar Bhineka Tunggal Ika, satu untuk semua, semua untuk satu. Inilah kekuatan besar, inilah energi, inilah yang tidak banyak dimiliki bangsa lain. Kita akan lanjutkan Insya Allah dalam upaya kita membangun masa depan Indonesia yang lebih baik.
Beliau seorang negarawan, jelas. Ketika mendapatkan mandat berbuat sebaik-baiknya, apakah sebagai menteri di pemerintahan, sebagai panglima ABRI, sebagai pimpinan lembaga negara BPK setelah tugas itu diselesaikan belum memilih pengabdian yang lain, kegiatan keagamaan, kegiatan sosial dan lain-lain. Karena beliau mempercayakan bahwa apabila cara berpikir, sikap mental seperti itu, setiap tokoh, kita semua selalu bisa melanjutkan pengabdian kita karena pengabdian kepada nusa dan bangsa tidak pernah mengenal batas akhir. Ini pembelajaran yang baik sebagai seorang negarawan.
Banyak sekali yang dapat kita petik sebagaimana banyak sekali yang ditinggalkan para sesepuh, para senior. Di ruangan ini hadir banyak sekali sesepuh dan senior, saya berharap sebagai generasi yang lebih muda, tolong bapak wariskan kepada kami, kepada generasi yang akan datang apa yang telah bapak lakukan untuk bangsa dan negara ini. Kami akan menghormati, akan meneruskan dan menjadikan semangat untuk membangun hari esok yang lebih baik. Dari satu prospek itulah Jenderal Jusuf.
Itulah tantangan dan tugas besar kita sebagai bangsa. Dengan demikian, sama-sama kita menyampaikan rasa hormat kepada Jenderal M. Jusuf dan bersama-sama kita mendoakan semoga beliau diterima di sisi Tuhan Yang Maha Kuasa sesuai dengan amal baktinya dan nilai-nilai yang baik, sekiranya Allah bisa meneruskan kepada generasi-generasi berikutnya untuk melanjutkan cita-cita beliau, membangun masa depan negara kita yang kita cintai bersama menuju masa depan yang baik.
Sekian hadirin sekalian.
Wassalamu’alaikum Warahmatullah Wabarakatuh.
******
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



