Arsip

« Maret 2006 »
M S S R K J S
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 

Pidato Presiden

Sambutan Pembukaan Pameran Gelar Produk Kerajinan Indonesia Tahun 2006

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PEMBUKAAN PAMERAN GELAR PRODUK
KERAJINAN INDONESIA TAHUN 2006
J C C- JAKARTA, 22 Maret 2006


Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati, Ibu Hj. Mufidah Jusuf Kalla, Ketua Umum Dekranas.
Yang amat berbahagia, Datin Sri Rosmah Mansyur beserta rombongan dari Malaysia, tamu-tamu kita,
Yang saya hormati, pimpinan lembaga negara, Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang Mulia, para Duta Besar Negara-Negara Sahabat,
Yang saya hormati, Ketua Harian, Para Ketua Dekranasda, baik Provinsi, Kabupaten maupun Kota,
Yang saya hormati, para Pengusaha Kerajinan, Para Perajin, Para Sponsor,

Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Marilah sekali lagi, kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT. Hari ini, kita dapat menghadiri Pembukaan Pameran Gelar Produk Kerajinan Indonesia Tahun 2006. Saya ingin menggunakan kesempatan yang membahagiakan ini, untuk menyampaikan ucapan selamat kepada para perajin di seluruh Indonesia. Mudah-mudahan, Pameran Gelar Produk Kerajinan Indonesia tahun 2006 ini, dapat meningkatkan kreativitas dan produksi kerajinan kita di tanah air. Pameran ini juga diselenggarakan dalam rangka Hari Ulang Tahun ke-26 Dewan Kerajinan Nasional. Mudah-mudahan di usianya yang makin dewasa, DEKRANAS semakin bekerja keras untuk meningkatkan kemajuan produk kerajinan di Indonesia.

Hadirin yang saya hormati,
Penyelenggaraan pameran kerajinan kali ini, saya anggap penting dan tepat waktu. Di tengah-tengah upaya pembangunan ekonomi kita, sentra-sentra kerajinan sebagai basis ekonomi kerakyatan, perlu terus-menerus dikembangkan. Semangat berkarya dan berkreasi perlu difasilitasi, diberikan kemudahan dengan memberikan kesempatan kepada para perajin, untuk memamerkan karya-karyanya. Pameran hasil kreativitas para perajin, akan membuat produksi kerajinan kita semakin dikenal, tidak saja di dalam negeri, tetapi juga di luar negeri oleh masyarakat internasional.

Industri kerajinan, sebagai bentuk perpaduan antara keterampilan tangan dengan nilai-nilai seni dan keindahan, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kebudayaan Indonesia. Telah sejak lama, para perajin kita, menggali, mengembangkan, dan melestarikan warisan budaya dalam berbagai corak dan ciri khasnya masing-masing. Keragaman Industri kerajinan di tanah air, sangat potensial untuk ditingkatkan menjadi komoditas perdagangan yang memiliki daya saing yang tinggi. Saya yakin, produksi kerajinan kita sangat unggul, tidak kalah dibandingkan dengan produksi kerajinan negara-negara lain.

Dari jumlah tenaga kerja yang ada, sekitar 2,5 juta orang bekerja di berbagai sentra kerajinan. Bayangkan, kalau masing-masing sentra kerajinan tumbuh, berkembang dan kemudian bisa menampung satu, dua tenaga kerja baru, maka akan bertambah barangkali 3, 4, 5 juta tenaga kerja kita. Ini tulang punggung ekonomi kerakyatan, ini tulang punggung koperasi, usaha kecil dan menengah yang bisa memiliki jaringan kerjasama dengan usaha besar. Mereka menghasilkan beragam seni kerajinan, mulai dari anyaman daun dan bambu, ukiran kayu, kain tenun dan kain ikat tradisional, batik, keramik, hingga kerajinan perak dan emas. Di samping mereka yang benar-benar bekerja sebagai perajin, kegiatan ini dapat pula dilakukan sebagai pekerjaan sambilan untuk menambah penghasilan. Kegiatan yang positif seperti ini harus didukung, dikembangkan dan dilestarikan. Saya memberikan apresiasi, Dekranas di seluruh Indonesia terus mendorong sambil memberikan kemudahan-kemudahan bagi perkembangan kerajinan ini.

Hadirin yang saya muliakan,
Dalam kerangka industri dan perdagangan global, industri kerajinan harus terus didorong agar dapat memenuhi standar kualitas serta tuntutan pasar, baik pasar domestik maupun pasar internasional. Apabila industri kecil dan menengah berjalan sendiri-sendiri, tanpa jaringan yang kuat, saya kira, tidak akan mampu bersaing di pasar global. Seindah apapun, sebaik apapun, sebanyak apapun, kalau tidak bisa kita pasarkan, tidak bisa kita jual, tentu tidak mendatangkan keuntungan bagi perajin, bagi kita semua. Strategi yang perlu dibangun untuk bersaing di pasar global itu, antara lain dilakukan melalui pengembangan design dan produk inovasi terbaru. Dengan design dan produk yang berkualitas, akan terbentuk standarisasi harga yang sesuai dan dapat merebut pasar perdagangan kerajinan di negara lain.

Saya dalam berbagai kunjungan ke negara lain selalu menyempatkan diri untuk melihat kerajinan di negara yang saya kunjungi itu. Souvenir Shops mesti saya datangi, di Kuala Lumpur, di Tokyo, di Kamboja, di New Zealand dimanapun. Saya ingin melihat agar bisa menginspirasi saya, kekuatan seni budaya Indonesia bisa diterjemahkan menjadi kerajinan-kerajinan yang marketable, yang bisa laku pada pasaran, sekali lagi domestik maupun global. Saya menganjurkan, kalau ada kesempatan berkunjung ke daerah-daerah di seluruh Indonesia maupun negara-negara lain, tengoklah, lihatlah, belilah. Kalau perlu kerajinan-kerajinan itu, untuk menambah keragaman dan mutu dari kerajinan yang kita hasilkan.

Di era pasar global sekarang ini, masuknya berbagai produk seni dan kerajinan mancanegara, tidak dapat kita cegah. Kita hidup dalam era globalisasi, jangan gamang, jangan meradang, yang penting Insya Allah kita menang. Begitu sikap kita, tidak pesimis, tidak memusuhi keadaan, tetapi dengan cerdas dan bijak, kita bisa melakukan sesuatu agar kita tampil terhormat dalam era globalisasi ini untuk kepentingan rakyat kita, kepentingan bangsa dan negara kita. Hal itu, menuntut para perajin untuk bekerja lebih keras dan kreatif lagi. Tingkatkan daya saing kita melihat bahwa persaingan makin keras pada tingkat global.

Saya menghimbau para perajin untuk menghasilkan produk kerajinan yang lebih bermutu dengan harga yang lebih terjangkau. Janganlah kita menggunakan aji mumpung, dengan menetapkan harga yang melambung, tetapi hanya untuk waktu-waktu tertentu saja. Kita harus menjaga kelangsungan usaha, agar kegiatan ini berlangsung secara terus-menerus untuk jangka waktu yang lama. Jika ada wisatawan, baik dalam maupun luar negeri yang datang ke sentra-sentra kerajinan, sebaiknya kita menawarkan harga yang wajar, jangan terlalu murah, jangan terlalu mahal. Apabila harga yang ditawarkan terlalu rendah, nilai kreativitas dan karya seni kita tentu kurang mendapatkan penghargaan yang layak. Sebaliknya, apabila kita menawarkan produk yang terlalu tinggi, para pengunjung sudah tidak membeli dan segan untuk kembali. Kita akan merugi. Oleh karena itulah, pas, cocok, dengan demikian akan terus berkembang dan berlanjut dan yang kita sebut sustainable.

Kita perlu secara terus-menerus mencarikan pasar untuk produk-produk Usaha Kecil dan Menengah. Produk-produk unggulan yang memenuhi kualitas standar internasional, perlu terus dipromosikan dari waktu ke waktu. Produk-produk kerajinan yang memenuhi kualitas itu, akan dicari para wisatawan, bukan produk mencari wisatawan, wisatawan mencari produk, begitu Pak Wacik? Produk kerajinan yang memenuhi kualitas itu disamping dicari wisatawan, juga akan bisa dijadikan buah tangan, sebagai tanda persahabatan dan apresiasi, yang dapat mempererat hubungan emosional di antara bangsa-bangsa kita, tentunya dengan bangsa-bangsa lain. Upaya ke arah itu, perlu diupayakan dengan sungguh-sungguh. Upaya-upaya yang dapat dilakukan antara lain, dengan meningkatkan produktivitas dan kualitas hasil kerajinan, memenuhi kecukupan permodalan, dan memanfaatkan teknologi tepat guna. Di samping itu, upaya memasarkan hasil kerajinan dengan memanfaatkan potensi pariwisata di setiap daerah, merupakan faktor penting dalam menyebarluaskan hasil kerajinan-kerajinan itu. Tepatnya para perajin, para pengusaha kerajinan, Dekranas, ingat rumusnya, agar kerajinan kita tumbuh berkembang, laku dijual di pasar, rumusnya adalah SMTP, bukan sekolah menengah tingkat pertama, bukan susu, madu, telur dan peuyeum. S-nya Seni, M-nya Modal, T-nya teknologi, P-nya Pasar, gabungkan itu. Seninya tinggi, modalnya ada, kemudian teknologi dibawa. Seperti yang saya lihat di Busan, Korea paduan seni dan teknologi dan kemudian pasar di cari. Pasar didapat, Insya Allah produk kita laku.

Pameran seperti ini, dapat memberikan ruang dan kesempatan bagi masyarakat perajin dan pengusaha kerajinan, untuk aktif memamerkan, mempromosikan, dan memasarkan karya-karyanya. Saya berharap, agar di setiap daerah, para pimpinan Dekranasda, di sana juga ada tadi, digelar pameran seperti ini sebagai upaya promosi terpadu antara potensi kerajinan dan kepariwisataan. Dengan cara itu, akan diperoleh manfaat praktis dan ekonomis, bagi para perajin dan pengusaha kerajinan, untuk berkiprah bersama-sama dengan dunia pariwisata. Sentra kerajinan dan dunia pariwisata, dapat menumbuhkan wira usaha baru, yang cukup menjanjikan di masa depan.

Hadirin yang saya hormati,
Karya seni kerajinan yang kita miliki, adalah kekayaan hak intelektual kita yang perlu kita hargai. Seni patung, ukiran, batik, anyaman, dan keramik jenis tertentu misalnya, perlu kita lindungi dengan hak kekayaan intelektual. Batik tidak bisa dipatenkan, di Malaysia ada batik, merupakan warisan, merupakan heritage. Oleh karena itu, ada batik Malaysia, ada batik Indonesia, tetapi parang rusak misalnya produksi Yogyakarta, kalau sudah ketemu siapa penggagas segala macam bisa diproses ke situ. Tenun ikat NTT misalnya, Ulos Tapanuli misalnya, yang khas tertentu mungkin bisa kita carikan atau kita mendapatkan hak kekayaan intelektualnya. Tentu harus kita sesuaikan dengan konvensi intenasional dan juga hukum dan Undang-Undang yang berlaku tentang hak, kekayaan intelektual. Hal itu diperlukan, karena kreasi seni yang kita miliki ini merupakan pengetahuan tradisional asli bangsa kita, yang diturunkan secara turun-temurun. Kita tidak menginginkan adanya pemalsuan dan pengakuan seni tradisi budaya kita yang adiluhung, kemudian diakui sebagai karya seni bangsa-bangsa lain di dunia ini.

Di samping pengakuan hak kekayaan intelektual, di masa yang akan datang, industri kerajinan hendaknya mampu mandiri dan memiliki daya saing yang tinggi. Keberadaan usaha kerajinan yang mandiri dan mempunyai daya saing tinggi, tentunya memerlukan perhatian kita semua. Saya minta, Menteri Perindustrian, Menteri Perdagangan dan Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah (UKM), serta Pemerintah Daerah, untuk terus-menerus meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan semangat kewirausahaan para perajin. Ada Pak Gubernur DKI Jakarta, saya kira beliau juga sangat rajin untuk bersama-sama dengan yang lain-lain mempromosikan kerajinan ini.

Berikanlah program-program pelatihan yang dapat meningkatkan hasil kreativitas para perajin, supaya lebih baik lagi. Berikan pula kemudahan-kemudahan dalam pembiayaan kredit bagi pengembangan usaha mereka. Saya katakan di banyak tempat, saya katakan di Ambon kemarin, saya katakan di Wonosobo kemarin, jangan mempersulit urusan, siapa saja, termasuk di perbankan, permudahlah setiap urusan. Dengan demikian, rakyat kita akan senang, pengusaha kecil dan menengah dan koperasi akan senang. Berikan kemudahan, kalau bisa dipermudah janganlah dipersulit.

Kerjasama perlu dilakukan antara para perajin, koperasi, dan pihak perbankan. Sekecil apa pun upaya pengembangan usaha, tentunya memerlukan penambahan modal usaha, ingat SMTP tadi ada modalnya. Kita sama-sama memaklumi, bahwa salah satu kendala dalam pengembangan usaha kerajinan, terbentur pada aspek permodalan. Saya meminta para gubernur, bupati, walikota membantu petani, membantu nelayan, membantu perajin, membantu usaha kecil dan menengah untuk mendapatkan permodalan yang lebih mudah dari perbankan kita.

Kepada Menteri Perdagangan dan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, bantulah para perajin untuk memasarkan hasil karya mereka, baik di dalam maupun di luar negeri. Kembangkanlah sentra-sentra kerajinan di seluruh tanah air, agar menjadi sentra kerajinan yang dapat memberikan tingkat kesejahteraan yang lebih baik kepada para perajin dan pengusahanya. Kita bisa belajar dari Thailand di sana ada OTOP One Tombone One Product, tiap-tiap kecamatan memiliki unggulan yang cantik, yang punya berdaya saing, Meneg BUMN telah meninjau ke sana. Saya kira kita bisa nanti disampaikan kepada Dekranas, kepada para perajin, bagaimana kita meniru. Jangan malu-malu kita meniru keberhasilan bangsa lain, karena bangsa lain banyak meniru banyak hal dari negeri kita. Tetap bangga kita, tetapi kita harus mendapatkan sesuatu untuk kemajuan kita sendiri. Berikanlah ruang dan kesempatan di setiap objek pariwisata, agar para perajin dapat memamerkan hasil karyanya.

Saya datang di Banda Aceh kemarin, lihat kerajinan oleh Ibu-ibu kita setelah tsunami. Saya datang ke Samosir, kerajinan di situ. Kemudian ke Ngarai Sianok itu beberapa bulan yang lalu, ke Bukittinggi. Saya juga pergi ke Borobudur tentunya, lihat kerajinannya, Sulsel, Senggigi di Lombok, Makassar bahkan Jayapura. Ada sebetulnya keunggulan-keunggulan, sayang belum dikelola dengan baik, sayang belum disatukan SMTP tadi, seni, modal, teknologi dan pasar. Optimislah, kerajinan kita dapat berkembang di masa depan dengan mendatangkan manfaat bagi kita semua. Pemasaran yang luas akan memiliki efek ganda, baik terhadap perajin maupun pertumbuhan ekonomi dan pariwisata. Bagi para perajin, pemasaran hasil karyanya yang jelas dan tepat, akan menumbuhkan produktivitas dan meningkatkan taraf ekonominya. Bagi dunia pariwisata, dengan mempromosikan hasil-hasil kerajinan yang bermutu tinggi dan khas di tempat-tempat pariwisata, akan menambah gairah dan daya tarik wisatawan untuk mengunjungi obyek-obyek wisata di seluruh tanah air.

Hadirin yang saya muliakan,
Saya merasa gembira, karena pameran ini selain diikuti oleh perwakilan-perwakilan Dewan Kerajinan Nasional Daerah (DEKRANASDA), juga melibatkan kalangan perajin dan kelompok pengusaha kerajinan Indonesia. Kehadiran Saudara-saudara semua, sangat besar artinya dalam mengembangkan usaha kerajinan di tanah air. Saudara-saudara merupakan salah satu tulang punggung perekonomian kita. Terimalah hormat saya kepada saudara semua, teruslah berbuat, melihatlah ke depan, Insya Allah Indonesia akan tumbuh menjadi bangsa yang besar, ekonomi yang lebih maju, tampil terhormat sebagaimana negara-negara lain yang juga telah maju.

Melalui Pameran Gelar Produk Kerajinan Indonesia tahun ini, marilah kita menggemakan kembali semangat mencintai produk dalam negeri, ”Aku Cinta Indonesia”, mencintai karya seni dan kreativitas bangsa sendiri. Mudah-mudahan, pameran ini dapat mengangkat citra produk kerajinan Indonesia, dan memacu pertumbuhan perekonomian, terutama sub sektor kerajinan.

Sebelum saya akhiri sambutan saya ini, saya ingin menyampaikan satu hal. Masalah bagaimana bangsa kita menyikapi dan merespon globalisasi. Saudara-saudara globalisasi telah datang, suka atau tidak suka telah datang, sebagaimana datangnya musim penghujan dan musim panas di negeri kita. Oleh karena itu, sikap yang paling baik karena globalisasi itu mendatangkan peluang dan juga tantangan, mendatangkan kebaikan dan keburukan, menghadirkan kompetisi dan kooperasi atau kerjasama. Mari dengan cerdas dan bijak, kita berusaha mendapatkan peluang, melakukan kerjasama yang baik, memilih yang baik-baik dari globalisasi itu. Dengan demikian, saya katakan tadi, we’ll be the winner, akan menjadi pemenang and not the loser, yang kalah dalam globalisasi ini. Kita sedang membangun, semuanya untuk rakyat kita.

Kalau rakyat kita makin sejahtera, kita menjadi bangsa yang bermartabat, terhormat, dan itulah rasa cinta yang mendalam pada bangsanya, nasionalisme sekarang ini harus dijawantahkan seperti itu. Mari kita bangun negeri kita, tapi dalam era globalisasi jangan sia-siakan kerjasama yang baik, yang menguntungkan kita. Di dunia ada modal, capital, ada teknologi, ada informasi, yang cerdas mari kita alirkan semua itu untuk pertumbuhan bangsa kita, untuk kemakmuran rakyat kita. Kalau tidak, sumber-sumber kemakmuran itu mengalir ke negara-negara lain yang cerdas. Melihat peluang globalisasi, itu yang harus kita lakukan. Dengan demikian, kita punya sistem nilai, punya jati diri, semuanya punya, punya resources atau sumber daya, punya manusia yang cerdas. Satukan dengan apa yang kita perlukan, modal, teknologi dan informasi dalam kerjasama yang sehat, yang saling menguntungkan dan memberikan manfaat yang sebesar-besarnya kepada kita.

To you Excellency Mr. Ambassadors, I just said that we have to skillfully and wisely, respon to globalization because we know globalization brings many things, good things and bad things, opportunity and threat. And we have to skillfully respon the globalization; we have to take the opportunity for the benefit of our own nation. We need probably capital, technology information. Indonesia has abundance national resources and potential human capital and others, with a good and healthy cooperation. We will be the winner of globalization and not the loser. That’s why we have to see globalization in clear perspective and that our challenge to work together. We know, we compete also in the global area. We have to cooperate, we have to build partnership.

Inilah yang saya sampaikan juga pada para Ambassador bahwa bagaimana kita memandang globalisasi dan bagaimana kita bisa membangun kerjasama yang baik.

Hadirin sekalian yang saya hormati,
Demikianlah yang saya sampaikan dengan memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, seraya mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, Gelar Produk Kerajianan Tahun 2006 ini dengan resmi, saya nyatakan dibuka.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


******



Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan