Arsip

« Maret 2006 »
M S S R K J S
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 

Pidato Presiden

Sambutan Pembukaan Kongres Persatuan dan Kesatuan Alumni GMNI

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERESMIAN PEMBUKAAN
KONGRES PERSATUAN DAN KESATUAN ALUMNI GERAKAN
MAHASISWA REPUBLIK INDONESIA (GMNI)
SAHID HOTEL, 24 MARET 2006


Merdeka!
Terima kasih
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Selamat sore,
Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati, Menteri Pemuda dan Olah Raga, para pimpinan dan anggota DPR RI,
Saudara, sahabat kita Duta Besar Palestina untuk Indonesia,
Saudara Gubernur DKI Jakarta,
Yang saya cintai, Bang Taufiq Kiemas, Para sesepuh dan senior, baik kita kenal dulu dari GMI, dari GMNI, dari GSNI, Bung Firman Tambun beserta para pimpinan FKNA, GMNI,

Hadirin sekalian yang saya banggakan,
Saya mengajak sekali lagi, pada kesempatan yang baik ini, untuk memanjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena kita masih diberikan semangat, kekuatan dan kesehatan untuk melanjutkan tugas dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara. Setelah kita mendengar sambutan Bung Firman Tambun, Bung Siswono, yang saya katakan excellent, membangkitkan semangat kita untuk menghidupkan nasionalisme dan Pancasila.

Saya akan mengubah forum dari pembicaraan saya, menjawab dan sekaligus bagaimana kita mengimplementasikan dalam kehidupan bernegara dewasa ini, sebagaimana amanat Bung Karno, yang tadi disampaikan oleh Bung Siswono Yudhohusodo. Oleh karena itu, setelah pengantar saya ini, nanti, saya hanya ingin menyampaikan tiga hal. Sekaligus dalam tataran policy, dalam tataran implementasi, apa yang mesti kita lakukan berkaitan dengan revitalisasi Pancasila, membangkitkan kembali nasionalisme dan bagaimana kita merespon dunia, merespon kehidupan bangsa, dengan mengingat kembali pesan Bung Karno yang tertuang dalam Tri Sakti.

Kalau ada yang lupa terhadap Tri Sakti, berdaulat dan bebas dalam berpolitik, berdikari, begitu bunyi aslinya meskipun sekarang lebih kita maknai mandiri, dalam ekonomi dan berkepribadian dalam kebudayaan. Namun, saya akan memberikan ucapan terima kasih dan penghargaan dulu kepada keluarga besar alumni GMNI, atas semangat, kepedulian dan kontribusinya untuk memecahkan masalah-masalah kebangsaan dan masalah kenegaraan yang kita hadapi dewasa ini. Sungguh kontribusi yang mulia karena ada kecenderungan kita seperti tidak perduli, tidak sadar bahwa nasionalisme, implementasi Pancasila menghadapi tantangan yang kuat. Saya juga memberikan apresiasi kepada Bung Siswono yang telah menyampaikan orasi ilmiah, dengan judul Revitalisasi Pancasila dan Kemandirian Bangsa. Dan di atas segalanya, forum ini adalah forum yang sangat terhormat, karena sekali lagi, kita berbicara tentang bagaimana mengukuhkan semangat, rasa dan wawasan kebangsaan, yang saya anggap masih relevan menghadapi dunia yang telah dan terus berubah.

Saudara-saudara sekalian,
Sejak muda, sejak saya mengikuti pendidiikan SMP, saya telah memiliki keyakinan yang sangat kuat tentang Pancasila. Saya juga memiliki keyakinan yang kuat, hanya dengan rasa kebangsaan, nasionalisme, nasionalisme yang berke-Tuhanan, nasionalisme yang pancasilais, yang bisa memecahkan kehidupan bangsa. Oleh karena itulah, saya memasuki GSNI waktu itu. Saya bukan alumni GMNI, sekali lagi, saya bukan alumni GMNI, karena saya sekolah tentara, tetapi Pancasila, nasionalisme saya tidak akan pernah luntur, sampai sekarang ini.

Sebagaimana yang saya sampaikan tadi, tiga hal yang ingin saya kedepankan adalah tentang Pancasila, bagaimana kita merevitalisasi dan mengaktualisasikannya untuk masa kini dan masa depan. Yang kedua adalah nasionalisme atau kebangsaan, bagaimana kita merespon dinamika kehidupan bangsa, nasional sifatnya, dan dinamika internasional utamanya globalisasi, atas cara pandang nasionalisme. Dan tentunya saya ingin menyampaikan pikiran saya sebuah telaah Tri Sakti, untuk sebuah reaktualisasi dan implementasi dalam kehidupan bernegara kita.

Hadirin yang saya muliakan, para sesepuh dan senior yang saya cintai,

Lima tahun yang lalu, Juni tahun 2001, Presidennya masih Gus Dur, Wakil Presidennya Ibu Megawati, dalam peringatan Satu Abad Bung Karno, saya dimintai oleh panitia untuk memberikan pidato kunci atau keynote speech. Saya masih ingat, saya menghadap dan konsultasi kepada Ibu Megawati, saya diminta ibu, untuk memberikan pidato kunci, Satu Abad Bung Karno, tentu saya akan mengangkat pikiran-pikiran besar Bung Karno yang harus kita implementasikan dalam menjawab berbagai tangtangan bangsa. Ibu Megawati mengatakan silakan, “lebih baik situ yang ngomong, kalau saya kan nanti dikira subyektif karena saya putrinya Bung Karno”. Itulah dulu saya tiga kali memberikan keynote speech, dua kali di Jakarta, satu kali di Solo dan kemudian ada resepsi Satu Abad Bung Karno di Istana Bogor, yang saya juga menghadiri, mewakili Presiden dan Wakil Presiden waktu itu.

Tentu sebagian yang saya sampaikan dalam Satu Abad Bung Karno, 5 tahun yang lalu itu muncul kembali dalam penyampaian pikiran saya sebagaimana tadi, Bung Siswono juga mengangkat banyak sekali. Dan kemudian bagi saudara-saudara yang pernah menyimak statement saya, pernyataan saya di berbagai forum, sejak tahun 2001 sampai sekarang, saya mengingatkan kepada bangsa Indonesia, ada 4 konsensus dasar, ada fundamental consensus, yang tidak boleh tercabut dalam perjalanan bangsa ini. Dalam keadaan apapun yang pertama adalah Pancasila. Yang kedua adalah Undang-Undang Dasar 1945. Yang ketiga adalah bangun negara, sistem yang kita anut, NKRI. Dan yang keempat adalah Bhineka Tunggal Ika. Kemajemukan, pluralisme Indonesia akan rontok kalau 4 konsensus dasar ini tercabut.

Saya kira kaum nasionalis, saudara-saudara kita semua, tidak boleh dan tidak akan membiarkan negaranya rontok, karena 4 konsensus dasar itu harus kita cabut, kita harus bertahan, karena itu amanah para founding fathers. Itulah hasil dari debat berkepanjangan pada bulan Juni 1945, akhir Mei, Juni dan Juli, baca kembali debat para senior kita dulu, Bung Karno, Bung Hatta, Yamin, Sudomo, Radjiman, semua dan lain-lain, pahami dan baca, dan baca berkali-kali. Saya membaca pidato 1 Juni sudah lebih dari sembilan kali, sampai kalimat-kalimatnya pun sebagian hafal. Itulah ketika Bung Siswono datang ke kantor saya, “Dulu Bung Karno kan mengatakan nasionalisme dengan internasionalisme itu”. Saya langsung angkat kalimat yang tadi itu, karena itu fundamental, orang bingung dulu. Tahun 45, kita ini bagaimana meletakkan nasionalisme dan internasionalisme, jawabannya sangat gamblang, baca ada 5 halaman yang mengait kepada masalah ini, dengan segala konteksnya, yang dipidatokan oleh Bung Karno pada 1 Juni 1945 yang lalu.

Oleh karena itu, kalau ada pikiran dalam reformasi ini, bagaimana kalau kita menuju negara federal, no. Ada yang berpikir referendum di Aceh dulu, kemudian ada juga bagaimana, ulangi pelurusan sejarah di Papua yang mengutik-ngutik NKRI, no. Kita harus sangat yakin, NKRI adalah pilihan dan bangun negara yang paling tepat untuk Indonesia yang majemuk. Kemudian dalam berbagai kesempatan di luar negeri, saya selalu menyampaikan pandangan Indonesia dalam era globalisasi ini. Saudara-saudara barangkali bisa membaca pidato saya di dewan, di depan Perserikatan Bangsa-Bangsa, di UN Summit, September tahun yang lalu. Ketika banyak pemimpin dunia hanya mengatakan demokrasi, Hak Asasi Manusia, dan kemudian reformasi PBB, saya mengingatkan bagi negara berkembang, sejak semangat Bandung 1955 ada yang lebih fundamental, yaitu kebebasan dan keadilan, termasuk kesejahteraan rakyatnya, yaitu bebasnya dari kemiskinan, kesejahteraan yang makin baik, dan pembangunan yang dapat dinikmati oleh negara-negara di Asia Afrika, yang memang belum memiliki tingkat yang memungkinkan. Kita angkat semangat Bandung kembali. Oleh karena itu, di Bandung, di Jakarta bulan April yang lalu kita selenggarakan Konferensi Asia Afrika yang ke-2. Baca kembali produk Konferensi Asia Afrika pertama di Bandung, Dasasila. Saya kira Bung Karno, Pak Ali Sostroamijoyo, Pak Roeslan Abdulgani yang baru wafat beberapa hari yang lalu, beberapa saat yang lalu, adalah pelaku-pelaku dari Bandung Conference of 1955, baca dan baca. Akan ketemu semua, the fundamental of other nations of our state. Kemudian tentunya menjadi kewajiban saya juga, ketika memberikan statement di banyak negara di Tokyo, Singapura, Washington dan di tempat-tempat lain, bagaimana Indonesia memandang globalisasi secara adil, dan bagaimana kita harus berperan dengan sebaik-baiknya.

Itulah yang saya sampaikan, sebagai, sebelum saya memasuki tiga hal secara ringkas nanti, saya persilakan kader-kader, atau alumni GMNI untuk untuk mendalami semuanya itu. Karena itu warisan dari para pendahulu kita, pemikirannya sangat cerdas, sayang kalau terjadi diskontinuitas dalam pemikiran ini. Jangan putus, dari situ benang merah pemikiran kebangsaan, kita bangun dan kita kembangkan ke arah masa depan.

Hadirin sekalian,
Pancasila, Pancasila sekali lagi, itu adalah konsep dasar. Pancasila adalah dasar negara, ideologi nasional, pandangan hidup dan juga falsafah yang mesti kita anut. Dalam sejarah-sejarah Pancasila menghadapi ancaman, tantangan, berbagai ragam. Ingat perjalanan sejarah kita, tahun 40-an, 50-an, 60-an, 70-an, Alhamdulillah, Pancasila tetap tegak berdiri membuktikan bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa meridhoi Pancasila sebagai dasar negara kita.

Sekarang era globalisasi, apakah Pancasila masih relavan? Jangan-jangan sudah ketinggalan, jangan-jangan tidak nyambung dengan apa yang berkembang di dunia ini, apanya yang tidak nyambung? Yang pertama ke-Tuhanan dunia khawatir kalau meninggalkan nilai-nilai religi, Pancasila menjawab semuanya. Dengan pancasila kita membangun masyarakat Indonesia yang religius, di situ konstitusi kita menjabarkan bagaimana negara yang religius. Yang kedua, Kemanusiaan, orang sedang secara hingar-bingar membicarakan Hak Asasi Manusia, kemanusiaan internasionalisme, Pancasila juga meletakkan sebagai salah satu pilarnya. Persatuan Indonesia, nasionalisme, kebangsaan, ada di situ. Orang bicara demokrasi, demokratisasi in the 21st century, kita sudah punya rumusan demokrasi dalam kerakyatan itu. And less but not least, ketika orang berdebat, paham ekonomi kita ini apa? Kapitalis atau komunis, begitu. Kita sudah memiliki pilihan bahwa keadilan sosial, menjadi dasar kita, meskipun dunia menganut ekonomi terbuka, open economy, tetapi wajah keadilan sosial, sentuhan keadilan sosial tetap menjadi pijakan kita karena itu salah satu pilar dalam Pancasila.

Saya pergi Beijing tahun lalu saya bertanya? Di China sekarang apa yang diterapkan, ekonomi komunis, crime economy, ekonomi sosialis, what? Kami sekarang menganut ekonomi pasar sosial, pasar sosial. Ok, katakanlah itu pendiriannya sama, tapi China menemukan baru tahun-tahun belakangan ini, sedangkan kita sudah menemukan 1945.

Jangan gamang dengan globalisasi, jangan cemas dengan liberalisasi, karena kita punya kebijakan, karena kita punya landasan, kita punya falsafah, kita punya ideology. Dengan itu semua, kita kelola kehidupan bernegara kita di tengah-tengah era globalisasi yang sangat berat dalam persaingan dewasa ini. Itulah Pancasila, singkat tapi yakinlahlah bahwa Pancasila, abadi untuk Negara Republik Indonesia.

Yang kedua, tentang nasionalisme. Ada yang mengatakan nasionalisme sudah usang, nasionalisme sudah tidak cocok, it’s obsolete harus dibuang jauh-jauh. Karena katanya sekarang menjadi the … world, pandangan pakar internasional. Negara barat utamanya mengatakan, sekarang ini nasionalis sudah disubordinasikan dengan internasionalisme. Kemudian there is no absolute fraternity, tidak ada alasan yang mutlak, begitu katanya. Tapi saya punya pendirian, mudah-mudahan saudara semua sama dengan saya, nasionalisme masih tetap kita perlukan dan relevan untuk pembangunan kita. Tentu bukan … nasionalism, lagi-lagi baca pidato 1 Juni. Bung Karno mengatakan, “Ada bahayanya nasionalisme, jika menjadi satu nisme”. Kata Bung Karno pula, “Jangan menganggap nasionalisme kita hidup menyendiri”. Kata-kata menyendiri ada itu, kita harus hidup bersama-sama dalam dunia ini yang dikatakan oleh beliau, Pancasila atau nasionalisme menuju ke persatuan dunia, persaudaraan dunia dan keluarga besar dunia.

Itulah yang mendasari kalimat berikutnya lagi yang tadi diangkat oleh Pak Siswono Yudhohusodo, internasionalisme tidak akan hidup subur, jika tidak berakar dalam dunia nasionalisme. Nasionalisme tidak akan hidup subur, jika tidak bersemi dalam taman sarinya internasionalisme. It was in 1945, dulu kala nah sekarang hiruk-pikuk terjadi, jangan gamang karena kita sudah punya pijakan yang jelas. Gandhi mengatakan, my nationalism is humanity, Ok. Tetapi itu juga sama sebetulnya Bung Karno, nasionalisme, internasionalisme. Internasionalisme identik dengan perikemanusiaan, meskipun Bung Karno menolak kosmopolitarisme karena kalau cosmopolitan itu berarti meremehkan, tidak mengakui eksistensi sebuah bangsa, in nation state, negara nasional.

Oleh karena itu, jangan kemana-mana, sudah ada jawaban yang sahih tentang kebangsaan kita, tentang nasionalisme kita. Masa kini, bagaimana aktualisasinya? Seorang nasionalis sejati, saudara-saudara tentu ingin mencintai dan membanggakan bangsanya, bukan mencintai dan membanggakan bangsa lain, memiliki tanggung jawab dan ketegasan dan siap bekerja keras agar, harkat dan martabat rakyat kita naik. Betapa sedihnya Indonesia dianggap negara yang miskin, negara yang korup, negara yang banyak kekerasan, ada terorisme dan lain-lain. Seorang nasionalis sejati melakukan untuk tidak punya keadaan seperti itu, itulah yang kita lakukan bersama. Oleh karena itu, yang kita lakukan aktualisasi, implementasi, karena dari nilai intrinsik dalam Pancasila dalam nasionalisme, how to implement in today’s world, itu yang harus kita lakukan.

Sekarang nasionalisme dan globalisasi, ini sangat menarik, silakan nanti dalam kongres ini dibahas, ada pidato Pak Siswono tadi, ada tambahan dari saya, silakan diletakkan dengan baik. Nelson Mandela, saya kira saudara tahu, itu mengatakan, “Globalisasi itu seperti musim, akan datang”, kata si Mandela, di Indonesia ada musim penghujan, ada musim kamarau. Di Eropa ada musim panas, musim gugur, musim dingin, musim semi, akan datang. Lebih baik kita bersiap-siap dalam globalisasi daripada away dari globalisasi, supaya kita menang, supaya kita dapat, supaya kita berhasil. Oleh karena itu, saya senang sekali dengan policy. Dunia ini penuh dengan siasat-menyiasati, karena apapun untuk kepentingan nasionalnya, national interest is above all, negara manapun juga termasuk Indonesia. Karena siasat-menyiasati itulah globalisasi sudah datang, kita hidup dalam globalisasi, bagaimana kita dapat, bukan hilang, kita beruntung, bukan merugi, kita menang bukan kalah, let’s be the winner of globalization and not the loser. Itu yang harus kita laksanakan. Kita tahu globalisasi membawa kebaikan dan keburukan, ancaman dan keperluan, ada yang kalah, ada yang menang dan seterusnya. Yang harus kita lakukan, pikirkan bersama-sama, sarankan kepada saya nanti, bagaimana kita menang dalam globalisasi.

Ini senior kita, Bung Eros Djarot ikut mantuk-mantuk berarti siap memberikan rekomendasi kepada negaranya, bukan hanya ke saya, negaranya bagaimana kita menang dalam globalisasi. Jangan yang menang orang lain, yang menang China, India, Vietnam and we get nothing, tidak cerdas nasionalisme kita, mari kita dapat dalam globalisasi ini.

Yang terakhir, Tri Sakti, saudara-saudara sudah saya katakan tadi, apa rumusan Tri Sakti, yang saya sampaikan bagaimana kita mengimplementasikan Tri Sakti, laporan saya sebagai pengemban amanah rakyat sekarang ini kepada saudara semuanya, terutama kaum nasionalis. Pertama, bebas dan berdaulat dalam politik. Kita tetap bebas dan aktif, tidak ada negara manapun yang mendikte politik kita. Tunjukkan kepada saya buktinya apa bahwa kita didikte, contohnya, kita boleh memilih forum, orang mengatakan buat apa Asia Afrika, kita tetap menjadi penjuru, bersama-sama Afrika Selatan sekarang ini, dalam gerakan Asia Afrika. Konferensi pertama di Bandung, konferensi kedua di Jakarta, Insya Allah konferensi ketiga di Afrika Selatan. Kita tetap masuk GNB Gerakan Non Blok, ah apa gunanya itu, sudah enggak ada blok Barat, blok Timur, kita … ke relevan, karena itu solidaritas negara-negara berkembang yang akan datang, akan melaksanakan konferensi di Kuba. Kemudian kita masuk OKI, kita masuk ASEAN, kita masuk APEC, apapun yang kita pandang penting untuk kepentingan negara kita, kita masuk. Nggak ada yang boleh merintangi, jangan masuk ini, hanya masuk itu saja.

Kemudian penentuan posisi politik, ini yang sekarang, ada jangan dikira waktu saya berkunjung ke Myanmar, semua negara senang, banyak yang tidak suka, “I’m anti demokrasi kok dikunjungi”. Saya mengatakan ada tujuannya berkunjung ke Myanmar sebagai sahabat dan bagaimana Indonesia bisa share untuk membantu Myanmar. Kemudian Korea, Ibu Megawati juga memelopori dulu bagaimana menengahi Korea, saya lanjutkan tugas itu, bagaimana, meskipun orang mengatakan nggak usah ke Korea Utara itu kan begini begitu, saya diundang Kim Jong-il untuk datang ke sana. Tentunya hak kita untuk datang ke Korea Selatan dan Korea Utara, karena tujuan kita, selesainya konflik di semenanjung Korea dengan baik, dengan adil dan damai. Posisi kita tentang Iran, berbeda dengan negara-negara lain, negara Barat utamanya, tapi itu pilihan kita. Bahwa dulu kami berpendapat Indonesia jangan terlalu cepat membawa Iran bulan Pebruari ke Dewan Keamanan PBB, berikan satu bulan untuk bisa berunding dengan Rusia, untuk bisa berunding dengan internasional, atau energy agency, tapi dipaksakan dan Indonesia memilih abstain tidak mendukung upaya itu. Ini politik kita, posisi kita. Palestina, Timor Leste, Timor Leste, PBB dan negara-negara lain supaya membentuk CoE, Commission of Expert, kalau itu yang dijalankan akan ada pengadilan internasional. Kalau itu yang dijalankan mengadili ulang, saya berpendapat no, bukan itu pilihan Indonesia. Kami dengan Timor Leste mengatakan mari kita bentuk dengan cara kita sendiri, itulah commission of truth and friendship yang sekarang sedang berjalan, bukan soal pengadilan, bukan justice, tapi truth and friendship and it is working now. Ini contoh adalah kita juga memiliki posisi sendiri.

Hubungan diplomatik, biasanya orang hanya hubungan dengan satu negara kalau sedang konflik, kita punya hubungan dengan negara even dalam konflik, misalkan Korea Utara, Korea Selatan, dulu Vietnam, Vietnam Selatan, Vietnam Utara, kita juga punya komunikasi. Pilihan kita yang harus kita jalankan. Kita menolak pakta pertahanan, apapun ceritanya, perang dingin segala macam, no, tidak ada pakta pertahanan, kerjasama bilateral ya. Kerjasama barangkali ASEAN ya, tapi bukan pakta pertahanan. Ini membuktikan bahwa sampai saat ini kita ingin tetap bebas dan berdaulat dalam politik. Kadang-kadang mahal harganya, tetapi penting karena ini, sekali lagi untuk kehormatan dan kepentingan bangsa dan negara kita.

Berdikari dalam ekonomi, buktinya sekarang mandiri, memang begini, orang yang tahu globalisasi, sekarang itu abad interconnectedness, interdependence, tidak ada yang mengisolasi even Myanmar, even Korea Utara segala macam itu. Suatu saat akan jadi bagian dari kerjasama global. Yang penting bagi kita sesuai pesan Bung Karno, jangan kita tergantung secara mutlak, kalau tanpa itu kita collaps, kita cegah.

Yang kedua, jusru mari tahun-tahun ke depan, lima tahun lagi, sepuluh tahun lagi, saudara-saudara menjadi menteri, menjadi presiden nanti kita memperkuat basis kita, basis industri kita, basis ekonomi kita, fundamental ekonomi kita, agar tidak tergantung secara mutlak, nol absolute dependency. Kemudian ya kita harus tahan, 97 kena krisis, ambruk, jangan sampai ada krisis lagi kita ambruk lagi, harus tahan sekarang ini. Reformasi akan diukur nanti apakah kalau ada external shots, ada goncangan kita tahan atau tidak? Kalau kita kembali krisis berarti reformasi tidak menghasilkan apa-apa yang kita kehendaki.

Contoh kemandirian kita yang kita bangun, saya senang sekali dengan orasi ilmiah tadi. Pangan, ada lima komoditas, beras atau padi, jagung, tebu, kedele dan daging sapi. Dengan usaha keras, mari bersama-sama, harapan kita 2010, empat komoditas itu bisa dicapai, tinggal kedelai. Kedelai itu memang konsumsi tempe dan tahu luar biasa, sehingga kita mengimpor, tapi mudah-mudahan 2015, sama-sama kita songsong kesitu, mudah-mudahan kita sudah bisa mandiri dalam pengadaan kedelai.

Industri pertahanan, sejak tahun lalu, 2005 kita keluarkan kebijakan, peralatan, perlengkapan, persenjataan, pertahanan, darat, laut, udara, dan kepolisian, yang bisa kita hasilkan dalam negeri, industri nasional kita harus kita adakan dari dalam negeri. Yang belum bisa seperti Sukhoi, F-16, Hawk dan lain-lain, kapal selam, baru kita adakan. Itupun dengan kerjasama yang baik, alih teknologi, kemudinya dengan sense of foundation yang menguntungkan kita, bukan sekedar beli. Basis industri, harus kita perkuat sekarang mengalir relokasi dari negara lain ke negara kita, sehingga apakah itu sepatu, apakah itu motor, apakah itu kelapa sawit, yang penting ada basis-basis ini dalam negeri, untuk tenaga kerja kita, untuk pajak dalam negeri dan untuk ekspor untuk negara-negara lain.

Kemudian tadi disebutkan oleh Pak Siswono, masalah Cepu. Cepu ini memang sesuatu yang harus kita lihat secara kontekstual, yang penting bagi kita lebih cepat bertambahnya produksi makin baik. Produksi minyak kita sekarang 1,1 juta. Indonesia menjadi net importer menangis, ketika harga minyak tinggi, APBN terpukul nah dengan tambahan Cepu, Insya Allah akan tambah 170 ribu barel perhari, berarti 1,3 kita akan jadi net exporter. Yang penting alih teknologi berjalan, yang penting dengan Joint Operation? Pertamina, Exxon Pertamina makin canggih, yang penting Bojonegara, Blora, Jawa Tengah, Jawa Timur tambah lapangan kerja, tambah … tambah segala macamnya sehingga meningkatkan itu. Tolong dikawal, berikan masukan kepada saya kalau macet komunitas development, kalau tenaga kerja tersendat-sendat karena yang kita utamakan mengalir untuk kepentingan kita.

Gas, saya sudah ambil keputusan, bahwa setelah kontraknya habis 2009-2010 yang sekarang banyak kita jual ke luar negeri, ke Korea ke Taiwan, ke Jepang, ke negara-negara lain, akan banyak kita pakai dalam negeri. Kalau gas kita pakai dalam negeri maka harga listrik akan turun, harga pupuk akan turun, karena BBM mahal, ini tentu negara lain tidak suka, kenapa kok tiba-tiba diubah, tetapi untuk kepentingan kita, untuk kemandirian ekonomi, ini kita perlukan a breakthrough policy seperti itu.

Kemudian pengelolaan hutang, hutang. Saudara-saudara hutang kita besar, dan menurut saya inilah yang nasionalisme kita menjadi orang hebat. Kita sudah memulai untuk mengelola hutang ini agar jumlahnya terus turun, terhadap GDP, back to GDP review, tahun 1998 - 1999 diatas 100%. Kemudian tahun 2000 menjadi 80%, tahun 2001 menjadi 75%, tahun 2002 menjadi 65%, tahun 2003 menjadi 60%, tahun 2004 itu 56%, tahun 2005 47%. Back to GDP nah sekarang strateginya bagaimana berikan dukungan saudara-saudara rumuskan berikan saran kepada pemerintah. Yang akan kita lakukan adalah, yang paling baik ekonomi kita tumbuhkan, penerimaan negara kita perkuat, defisit anggaran kita turunkan. Dengan demikian, lebih banyak lagi kita membayar yearly sehingga GDP resume menjadi baik. Memang ada, pak kan bisa kita minta keringanan, debt restructuring, kita berusaha juga, tapi ingat saya bicara di New York, satu cara di Tokyo tentang back to entity swap, back to environment swap tidak serta-merta mereka menanggapi dengan baik. Yang sudah dihapus katakanlah adalah highly in debt world, yang sangat-sangat miskin dihapus. Tapi kita berusaha juga bagaimana debt restructuring secara adil, karena hutang kita banyak antara lain salah resep IMF jaman dulu. Oleh karena itulah, bagaimana kita secara adil untuk mengurangi ini. Yang penting kita punya strategi, mari kita selesaikan bersama-sama.

Terakhir dari yang terakhir kepribadian dalam kebudayaan. Ya dunia seperti ini, seperti ini CNN, BBC, ABC, televisi kita, koran-koran itulah dunia yang menglobal, dunia yang menggila dalam tanda kutip, yang kalau kita lupa, bahwa kita punya kepribadian dalam kebudayaan akan sangat mengganggu kehidupan kita. Yang penting, tidak usah kita terus berantem mengatakan begini, begitu mari kita gali, kita lestarikan dan kita kembangkan budaya bangsa. Tarian, kalau ada acara kenegaraan Pak Taufiq Kiemas akan ingat, bahwa setiap ada Tamu Negara ini tampil tarian dari semua daerah, dari Papua, dari Aceh, dari Nusa Tenggara, dari Kalimantan segala macam, ini akan terus kita lestarikan dan kita kembangkan. Kemudian ada … mengatakan megalatikum kwantum, masih ingat dulu, kemudian festival-festival, kemudian ada tampilan budaya daerah. Cerita rakyat itu manggung di New York, manggung di Jerman, di Eropa sukses kali, cerita rakyat, folk dari Sumatera Selatan, saya kira banyak sekali, entah dari Bali, entah dari Jawa Timur, dari mana-mana untuk kita sambungkan itu.

Handy craft, silakan datang sekarang ke Convention Center, ada pameran handy craft yang bagus. Malaysia datang borong kemarin karena tidak kalah dengan handy craft negara manapun, cantik sekali. Mari kita kembangkan itu, kita pernah pamerkan di Tokyo laris, di Kemayoran laris, di tempat lain laris. Misalnya Indonesia batik, tenun ikat, saya kira jangan pakai jas terus kecuali orasi ilmiah bapak tadi. Saya sekali-kali pakai jas terus terang, kalau tamu negara agak formal, sekali-kali pakai batik sosial, sekali-kali pakai lengan pendek supaya tidak menghabis-habiskan AC karena listriknya mahal. Jadi kontekstual tidak harus batik terus, jas terus ataupun baju lengan pendek terus.

Kemudian gaya hidup, saya ini agak kurang suka mungkin salah lihat apa namanya tuh, pusar, terganggu saja itu. Pernah ada acara di Istana penyanyinya tak usir pulang, pulang akhirnya tidak sempat nyanyi.

Ya begini, yang penting pornografi, pornoaksi itu yang penting kita kan tahu ah ini porno, ah ini nggak. Yang penting itu, di sini ada hak, ini kan hak, ini kan freedom, ini kan right, kok kenapa dibatas-batasi, yang di sini harus semua, busananya penuh seperti ini. Ya kita harus cari yang logis, yang pantas apa sebenarnya itu. Kita tahu kok mana yang disebut porno, mana yang tidak. Mari kita rumuskan ini bangsa kita sendiri, negara sendiri, masyarakat sendiri, rumuskan jangan perang tanding hanya karena interpretasi, jernig, logis.

Dan yang terakhir ya sekali lagi sambil meningkatkan budaya kita janganlah cepat-cepat mengimpor, jangan cepat-cepat kesenangan budaya negara lain, budaya Eropa, budaya Amerika, budaya Timur Tengah dan lain-lain. Saya kira budaya Indonesia ini sudah sangat luar biasa, … budaya sendiri di Palestina, kita punya budaya juga, kita saling berkomunikasi meningkatkan kekayaan budaya di dunia ini.

Hadirin sekalian,
Hanya itu yang dapat saya sampaikan dan hari ini kita membangun tonggak sejarah baru, kaum nasionalis sudah mulai tampil kembali Alhammdulillah. Untuk menyelamatkan bangsa kita, dengan Pancasila dan rasa kebangsaan yang tinggi, kita bangun negara kita menuju masa depan yang baik.




Terima kasih, selamat berjuang.
Merdeka!
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.


******

Biro Pres dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan