Arsip

« Maret 2006 »
M S S R K J S
   1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031 

Pidato Presiden

Sambutan Pertemuan dengan Para Pelaku Usaha Persepatuan Internasional di Indonesia

 

TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERTEMUAN DENGAN PARA PELAKU USAHA PERSEPATUAN INTERNASIONAL DI INDONESIA
PT PANARUB INDUSTRY- BANTEN, 27 MARET 2006



Bismillahirahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Selamat Siang,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati, Saudari Menteri Perdagangan beserta Bapak,
Para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,

Hari ini, saya mengajak Saudara Menteri Perindustrian, Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Sekretaris Kabinet dan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal.
Yang saya hormati, Pimpinan dan Anggota Komisi VI Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Prof. DR. Didi Rahbini, juga sahabat saya.
Yang saya hormati, Ibu Gubernur Banten beserta Bapak.

Hari ini women’s day, tuan rumahnya Ibu Marie Pangestu, tuan rumah sektor, tuan rumah daerah Ibu Ratu Atut Chosiyah,
Saya berkunjung ke Panarub yang karyawannya 12 ribu, 80% perempuan. Beserta Pimpinan DPRD, pimpinan baik eksekutif, legislatif, yudikatif, TNI dan Polri, baik Banten maupun Tangerang,
Yang saya hormati, Pimpinan APRISINDO, Asosiasi Persepatuan Indonesia, Saudara Haryanto,
Yang saya hormati, Pimpinan Panarub Industry, Saudara Hendrik Sasmito,
Para pengusaha,

Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Saya mengajak sekali lagi, pada kesempatan yang baik dan Insya Allah penuh berkah ini untuk memanjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT atas perkenan rahmat dan ridho-Nya kita dapat bertemu di tempat ini, berdialog untuk sama-sama melakukan yang terbaik bagi rakyat, bangsa dan negara kita.

Semua yang ada di ruangan ini, apakah saya, para menteri, para pimpinan dan anggota dewan, Pak Gubernur, Bupati, Walikota, Pengusaha tentu ingin bersama-sama membangun masa depan Indonesia yang lebih baik. Masa depan seperti itu, adalah masa depan yang rakyatnya makin sejahtera. Rakyat makin sejahtera sebagaimana sering saya sampaikan di banyak forum apabila kebutuhan dasarnya, hak-hak dasarnya dapat kita makin penuhi dan tingkatkan. Apa itu? Pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, lingkungan yang baik dan rasa aman.

Untuk meningkatkan kesejahteraan itu, ada jembatan yang kita bangun dan kita perlukan yaitu ekonomi yang makin baik, ekonomi nasional yang makin baik. Ekonomi yang baik ditengarai oleh pertumbuhannya, kemudian ketahanannya atau sustainabilty-nya, distribusi atau distribusinya. Dengan demikian, harapan kita pengangguran makin terpecahkan, kemiskinan makin kita kurangi, daya beli rakyat dapat kita tingkatkan dan lain-lain. Agar ekonomi kita makin baik ada pra kondisi, ada kondisi yang diperlukan antaranya politik yang relatif stabil, tetap demokratis, tetap membuka ruang untuk kebebasan, tetapi tidak anarkis supaya roda pemerintahan berjalan dengan baik diperlukan keamanan yang memadai di seluruh tanah air, hukum yang tegak, birokrasi yang efisien, pemerintahan yang bersih, hubungan pusat dan daerah yang baik, suasana ketenagakerjaan yang baik, dan lain-lain. Itulah pekerjaan besar kita, itulah agenda-agenda besar kita yang bersama-sama kita bangun tahun-tahun mendatang.

Dalam kaitan itu, maka dapat saya katakan bahwa pertumbuhan dunia usaha sangat diperlukan. Kalau dunia usaha tumbuh, sektor real tumbuh, maka lebih banyak tenaga kerja yang dapat diciptakan, pajak yang disetor kepada negara makin banyak. Dengan pajak yang makin banyak, penerimaan negara yang makin banyak, maka kita punya anggaran yang lebih banyak untuk digunakan meningkatkan pendidikan, kesehatan, mengurangi kemiskinan dan lain-lain, jatuhnya juga untuk rakyat kita. Mari kita pahami konteks, paradigma dan, ya semacam cetak biru pembangunan ekonomi kita seperti itu.

Kita hidup dalam sebuah era, baik nasional maupun internasional yang persaingan dan kerjasama itu diniscayakan. Dalam banyak kesempatan, sering saya sampaikan jangan gamang, jangan meradang, jangan cemas dengan globalisasi karena globalisasi telah datang dan kita menjadi bagian dari globalisasi. Yang penting karena globalisasi itu menciptakan peluang dan juga tantangan ataupun ancaman, threat and opportunity. Globalisasi juga bikin kebaikan atau membawa kebaikan, sekaligus membawa keburukan karena globalisasi akan menyaring negara-negara di dunia ini, ada yang menjadi the winner, pemenang, ada yang menjadi the loser.

Bagaimana bangsa ini merespon globalisasi ini dengan cerdas dan tepat, akhirnya kita menjadi the winner, kita banyak mendapatkan apportunity dan kita dapat mengambil baik-baiknya, yang baik-baik dari globalisasi itu. Itu yang harus kita lakukan dalam kebijakan, dalam strategi, dalam pembuatan Undang-Undang, pemerintah bersama DPR dan lain-lain.

Nah, setelah itu kita lakukan maka mengalir keseluruh daerah. Ibu Gubernur bekerja keras, Pak Bupati, Walikota bekerja keras. Secara tanah air kita mendapatkan peluang dan ruang agar dalam dunia yang makin mengglobal ini kita tampil terhormat, kita menang dan kita mendapatkan keuntungan dan tidak merugi. Itulah paradigma yang harus kita bangun sekarang ini. Kita tahu bahwa setiap negara selalu ada up and down dari perjalanan ekonominya, ada business cycle, konon begitu menurut teori ekonomi. Kita pernah mengalami masa-masa yang relatif jaya begitu, kita terjatuh dalam krisis yang dahsyat kemarin dan Alhamdulillah sekarang kita bergerak, tumbuh kembali mendekati keadaan sebelum krisis. Dan Insya Allah, kalau reformasi yang kita jalankan mulai membawakan hasil, kalau kita sungguh ingin menata negara ini belajar dari kesalahan masa lalu, kita akan mencapai kondisi yang lebih baik dari kondisi kita sebelum krisis dulu. Ini adalah tantangan, ini adalah tugas dan ini harus kita lakukan.

Nah, dalam dunia yang kompetitif itu, maka industri termasuk industri persepatuan tentu harus bisa berkompetisi, you have to be more competitive. Yang kedua agar bisa berkompetisi, you have to be more efficient, you have to be more productive. Nah, kalau sebagai industry, sebagai produksi bisa mencapai suatu kondisi yang sering saya katakan you produce goods, industri yang lain services, a better, cheaper, faster, saya yakin saudara bisa berkompetisi dengan negara manapun juga.

Kita punya luxury, di samping kita harus mencari global market, we have our own domestic market. 215 juta rakyat Indonesia, Insya Allah makin meningkat pendapatannya. Nah, kalau makin meningkat pendapatannya itu our market mesti lebih besar lagi. Sejalan dengan kenaikan daya beli, maka konsumen dalam negeri akan meningkat. Tapi itu semua itu tidak berarti apa-apa kalau produksi sepatu kita tidak better, tidak cheaper, tidak faster, tidak efficient, tidak productive. Kita punya hukum internasional, kita akan bisa bersaing dengan China, Vietnam, India dan lain-lain, if di samping kualitasnya kita pelihara, delivery system-nya kita pelihara, kontrak kita penuhi, tapi didukung oleh efisiensi, manajemen yang bagus, produktifitas maka saya terus terang tidak gamang untuk bersaing dengan negara-negara lain.

Oleh karena itu, marilah semua pihak, kami sebagai policy maker, kami sebagai yang menetapkan Undang-Undang bersama Dewan Perwakilan Rakyat, kami yang mengeluarkan regulasi, kemudian bersama-sama dengan asosiasi, organisasi, pimpinan dunia usaha termasuk APRISINDO tadi dan kemudian we could talk to the workers, tenaga kerja maka kalau itu terjadi sinergi yang baik, maka sekali lagi competitiveness kita akan meningkat. Kalau kompetitif, peluang akan lebih besar, tapi diperlukan marketing strategy yang bagus, promotion art yang bagus, tapi bagaimanapun kita punya not only comparative advantage, tapi kita juga punya competitive advantage, kita bangun dua-duanya.

Nah, dalam konteks itu, harapan saya memang bagaimana manajemen dikelola dengan baik dan akhirnya menjadi lebih efisien, lebih produktif, lebih berdaya saing. Komunikasi dengan pembeli, terutama global market sedemikian rupa sehingga mereka trust us. Terus terang dengan kebangkitan ekonomi China, mungkin dunia juga khawatir kalau China itu tumbuh menjadi the only super economic power, misalkan begitu. Saya tahu bahwa iklimnya ingin memberikan peluang negara-negara asia yang lain to grow India, Indonesia, Vietnam dan lain-lain. Oleh karena itu, there is an opportunity jangan dilewatkan, persiapkan dengan baik dan Insya Allah kita bisa tumbuh.

Saudara-saudara,
Saya tahu ada permasalahan di bidang business climate, ada permasalahan yang saudara hadapi agar pemerintah bagini a, b, c, d, f, we are listening, tetapi tentu semua itu harus kita lakukan dalam konteks keserasian secara nasional, tidak boleh satu policy menguntungkan ini, merugikan yang lain. Tapi harapan kita satu policy bisa mendatangkan kebaikan, keuntungan bagi all business sectors, all profit sectors, seperti itu contohnya. Ini kita lakukan terus. Sebagai contoh, tadi ada 2 kelompok unjuk rasa sebelum saya datang ke sini. Kalau kita melihat secara positif begini, lihat, baca spanduknya itu apa, dengarkan apa teriakannya, saya baca tadi kan menolak revisi Undang-Undang Nomor 13 Tenaga Kerja. Jadi waktu Pak Haryanto tolong pemerintah bisa mengeluarkan Undang-Undang yang lebih fleksibel begini, begitu, DPR juga begitu, tapi in reality ada pihak lain yang tidak mau Undang-Undang itu direvisi. Ini ada wartawan di sini.

Mindset saya, kebijakan saya, cara pandang saya terhadap permasalahan ketenagakerjaan dan itu menjadi mindset pemerintah yang saya pimpin sangat jelas. Kita jelas pro tenaga kerja. Mereka harus mendapatkan hak-haknya secara adil, mereka harus mendapatkan penghasilan yang layak. Saya kira kita ke situ, saya lihat tayangan televisi tadi, bahwa Panarub misalkan, Panarub betul ya, dan saya yakin banyak juga company yang sudah menuju ke situ, di samping haknya, kesejahteraannya, tunjangannya, environment-nya, dan lain, bagus. Teruslah meningkatkan seperti itu. Karena we have to protect them, dengan harapan dan catatan tenaga kerja itu harus disiplin, harus produktif, bersama-sama melakukan sesuatu untuk pertumbuhan perusahaannya. Jadi jangan disanksikan pemerintah tidak memperhatikan mereka, that’s number one.

Yang kedua kita semua, bukan hanya pemerintah ingin dunia usaha tumbuh, perusahaan-perusahaan tumbuh. Kalau manajemennya bagus, tenaga kerjanya bagus, maka tumbuhlah perusahaan itu. Kalau perusahaan tumbuh secara kumulatif, secara agregat, secara nasional usaha atau real sector juga tumbuh tercipta lapangan kerja baru, menolong saudara-saudara kita yang belasan juta masih menganggur, tetap buruhnya diperhatikan tapi kita harus menolong yang lain, itu nomor 2.

Dengan dunia usaha yang tumbuh secara nasional, maka penerimaan negara mesti naik, revenue. Kalau penerimaan negara naik maka ada anggaran untuk yang lain pendidikan, kesehatan, pembangunan pedesaan, daerah tertinggal dan sebagainya. Jadi semua akan wins. Oleh karena itu, saya minta Saudara Menteri Tenaga Kerja dan Industri, Pak Fahmi Idris, Menteri Perindustrian, Ibu Gubernur, Pak Bupati, Walikota ajaklah berdialog, ajaklah berdiskusi, sering setengah paham masalah itu, sering terlalu banyak diprovokasi dan lain-lain. Tapi kalau diajak bicara dengan gamblang, ini yang kita kehendaki. Ini baru saya bicara dalam konteks nasional.

Dalam konteks internasional, ketika di luar negeri saya sebagai sales person terutama di negeri kita, di Eropa, di Amerika, di Asia. Saya bicara di China, di Tokyo, kemudian saya terima tamu dari luar negeri datang, ”Mr. President tolong berbagi dengan bisnis Anda, kalau tidak kami harus invest di Vietnam, invest di India, invest di Cina, and other countries, and not Indonesia”. Frank mereka, terus terang jujur, saya katakan, “Yes, we’ll do our best in improving the business climate and of course I have to take care of my people, they’re welfare”.

Oleh karena itu, policy yang kita kembangkan, Insya Allah bisa membangun kerjasama yang baik, iklim bisnis yang baik tanpa mengabaikan kesejahteraan dan tingkat keadilan bagi rakyat kami. Clear-kan, tidak ada seolah-olah ini pemerintah pro pengusaha atau pro tenaga kerja? Pertanyaan tidak relevan, karena kita ingin membantu melindungi tenaga kerja dengan sejumlah measures, policy, kebijakan. Kita juga ingin pengusaha, usaha perusahaan juga tumbuh bagitu. Jadi kalau semua tumbuh dengan baik, kita menjadi the winner, semuanya itu. Inilah yang mesti dikomunikasikan, didialogkan.

Dalam negara demokrasi unjuk rasa itu bagian dari penyampaian protes dan lain-lain. Tetapi saya berharap, ada kejujuran bahwa ada masalah ini kita carikan solusinya, kita dialog, kita bertemu, ketemu jalan keluar yang baik. Kalau ketemu jalan keluar yang baik, semua ingin berhasilnya pemerintahan, berhasilnya kita semua, tujuannya baik, rakyat yang diuntungkan. Tapi kalau tujuannya yang penting kacau saja, yang penting pemerintah tidak bekerja saya saja, yang penting DPR dengan eksekutif tidak bisa membuat Undang-Undang yang baik. Saya mempertanyakan untuk siapa sebetulnya? Untuk rakyat, untuk tenaga kerja yang sebenar-benarnya atau untuk kelompok interest itu.

Mari kita bicara baik-baik, terus terang, terbuka, jujur dan semuanya untuk rakyat. Ini negara kita sendiri, bangsa kita sendiri, demokrasi, demokrasi kita sendiri. Jadi itulah yang perlu kita lakukan dengan baik. Dengan demikian, harapan kita kalau ada aspirasi dengarkan, pelajari, jangan buru-buru ditolak, jangan buru-buru, ”ah itu tidak benar”. Dengar saja, sampai ketemu betul. Rakyat kita ini cerdas kok, jangan dikira dia tidak punya hati, tidak punya nurani, tidak menggunakan pikirannya.

Saya keliling provinsi, kabupaten, kota selama ini, mereka bahkan tajam, ”Pak Presiden kan begini”. ”Pak Presiden mengapa tidak begini”. Tajam. Saya dialog kemarin di Buru, di Ambon, di Wonosobo sebelumnya dan di tempat-tempat lain, cerdas rakyat kita, jangan melakukan penyiasatan yang akhirnya tidak ada hubungannya dengan untuk membantu rakyat kita. Kita perlu menempuh usaha-usaha itu.

Dan yang terakhir, semoga cita-cita Pak Hendrik, cita-cita Pak Haryanto, cita-cita semua bisa terwujud. Pemerintah, saya kira dewan juga sepakat akan memberikan bantuan, menciptakan iklim, menciptakan policy, regulasi sebaik-baiknya. Sekarang momentum ada pada semuanya, yang gigih, yang ulet jangan cengeng, dikelola dengan baik, lebih produktif, lebih efisien, pandai-pandai mencari pasar. Setelah pasar didapat, pandai-pandai memelihara dan kalau perlu mengembangkan pasar itu. There is momentum, there is an opportunity before us. Dengan perubahan global economy, dengan pergeseran geo economy dan politik ekonomi internasional menyadari ada negara yang tumbuh dengan cepat dikhawatirkan akan mengganggu equilibirum baru pada tingkat internasional.

Itulah yang dapat saya sampaikan saudara-saudara dan saya menyambut baik, Ibu Gubernur teruslah dikembangkan apa saja opportunity untuk Banten dilakukan. Tenaga kerja sangat penting, pengurangan kemiskinan sangat penting, meningkatkan pendidikan sangat penting, meningkatkan kesehatan sangat penting, membangun infrastruktur pedesaan sangat penting, lakukan itu semua. Dan memang saya manggagas tidak mungkin kita mengembangkan Indonesia sekaligus. Saya belajar dari Provinsi Guangdong, dari Shenzen, dari Banglore di India, ternyata economic zone, cluster-cluster industry itu bisa lebih efektif dan efisien.

Nah, dari simpul-simpul itulah bisa berkembang. Saya mengharapkan nanti ada kawasan pertumbuhan di Sumatera Utara, di Riau, di Batam, di Jawa Barat, di Banten. di Jawa Barat, saya kira Kerawang dan sekitarnya, Jawa Tengah, Jawa Timur, Makassar, Balikpapan. Itu dulu nanti yang ingin kita gagas menjadi new economic zone, kita konsentrasikan. Dari situ karena tersebar tidak menutup api di Batam saja, saya baru tinjau Batam beberapa saat yang lalu sehingga ada opportunities. Kita gunakan globalisasi dengan cerdas, kita alirkan sumber-sumber kemakmuran, capital, tecnology, information and markets. Itulah yang kita harapkan, tolong berjuanglah teman-teman semuanya siang dan malam untuk rakyat kita.

Sekian.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.




* * * * *


Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan