Pidato Presiden
Sambutan Pada Acara Panen Raya Padi
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PANEN RAYA PADI
DI MERAUKE, 5 APRIL 2006
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Selamat pagi, salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati Para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang saya hormati saudara Pejabat Gubernur Papua, Pimpinan Majelis Rakyat Papua, Pimpinan Dewan Perwakilan Rakyat Papua, Saudara Bupati Merauke, dan Para Bupati dan Walikota yang hadir pada acara ini, dan segenap Pimpinan serta Pejabat yang bertugas di Papua, baik dari Lembaga Eksekutif, Legislatif, Yudikatif, maupun TNI /Polri, Saudara Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Para Pimpinan BUMN.
Yang saya muliakan Para Pemuka Agama, Para Pemuka Adat dan tokoh-tokoh masyarakat, Saudara-saudara organisasi dan kontak tani, para petani.
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Sebelum saya menyampaikan sambutan pada acara yang penting ini, perlu saya sampaikan bahwa akhir tahun 2004 yang lalu, satu setengah bulan, setelah saya dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia, saya telah berkunjung ke Papua. Pertama saya berkunjung ke Biak, bermalam di Biak, setelah itu saya mengunjungi saudara-saudara kita yang terkena bencana alam di Nabire, saya bermalam di sana. Saya masih ingat, saya tidur di tenda, karena masih ada gempa-gempa susulan. Dan setelah itu saya pergi ke Jayapura untuk menghadiri perayaan Natal pada tanggal 26 Desember, waktu itu perayaannya tahun 2004 di Jayapura. Dari situ, yang seharusnya saya merayakan Natal di Jakarta atas permintaan panitia waktu itu, dan saya melihat perkembangan situasi yang sangat urgent, saya langsung terbang dari Jayapura ke Aceh, kurang lebih delapan jam perjalanan waktu itu.
Alhamdulillah saya datang kembali ke Papua ini. Sesungguhnya waktu terjadi kasus kelangkaan pangan, ditandai dengan meninggalnya beberapa saudara kita di Yahokimo, bukan semua karena kelangkaan pangan, tapi karena ada penyakit dan sebab-sebab yang lain, saya sedang berkunjung ke daerah lain, untuk juga menengok saudara-saudara kita yang kena bencana alam. Karena tahun lalu dan awal tahun ini masih ada bencana alam di negeri kita, sehingga saya meminta saudara Menko Kesra dengan timnya segera berangkat ke Yahokimo bersama bapak Bupati dan lain-lain menangani masalah itu.
Saya berencana untuk berkunjung ke Yahokimo, mudah-mudahan bisa bermalam, dua-tiga malam di sana nanti, kalau tidak salah dijadwalkan pada bulan Juli, sebelumnya saya dijadwalkan untuk bersama-sama Perdana Menteri Papua Nugini, untuk meresmikan sebuah wilayah untuk pelintasan saudara-saudara kita dari Papua-Indonesia dan dari Papua Nugini. Mudah-mudahan pada kesempatan seperti itu, saya lebih mengetahui permasalahan dan kondisi yang sebenarnya dari daerah-daerah di seluruh Papua, dan dengan demikian saya bersama-sama pejabat, baik Pusat maupun Daerah dapat memecahkan masalah itu, untuk tentunya memenuhi kepentingan rakyat kita, saudara-saudara kita yang ada di Papua ini. Saya akan menyampaikan sambutan pada acara yang penting ini.
Saudara-saudara hadirin yang saya hormati,
Saya sungguh merasa bersyukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, dan merasa berbahagia, karena hari ini, saya dapat berada di tengah saudara-saudara warga Merauke. Kehadiran saya ke Kabupaten ini, tentu bukan sekedar untuk menyaksikan panen raya padi, tetapi lebih daripada itu, saya datang juga untuk bersilahturrahmi dan melihat secara langsung keadaan masyarakat di daerah ini. Saudara-saudara semua adalah bagian dari bangsa Indonesia. Karena itu saya merasa wajib untuk datang, bertatap muka, berbincang-bincang, berdialog dengan saudara-saudara semua.
Kabupaten Merauke mempunyai arti tersendiri bagi masyarakat Indonesia seluruhnya. Semua warga bangsa kita hafal dengan lagu Dari Sabang sampai Merauke. Dari 220 juta rakyat Indonesia yang membentang di gugus kepulauan yang besar ini dari Sabang sampai Merauke, tentu yang sudah dewasa, yang sudah bersekolah, pada umumnya hafal dengan lagu yang indah ini. Yaitu saya katakan tadi, dari Sabang sampai Merauke. Lagu ini menggambarkan keutuhan, kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Saya mengajak, marilah kita semua tetap memegang teguh kedaulatan wilayah negara kita itu. Kita pertahankan dan kita bela mati-matian. Komitmen kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia itu, harus kita hidupkan, kembangkan dan pelihara dalam setiap jiwa warga bangsa kita.
Hadirin yang saya muliakan,
Panen raya padi di Merauke, menunjukkan keberhasilan kita bersama membangun sektor pertanian di seluruh wilayah tanah air. Kita tidak hanya membangun pertanian di pulau Jawa saja, atau pulau-pulau lain di bagian barat di negara kita, tetapi kita juga membangun pertanian di wilayah timur Indonesia. Di Sulawesi, pembangunan pertanian sudah lama mencapai tingkat kemajuan yang berarti. Sulawesi Selatan, telah sejak lama menjadi daerah lumbung padi. Semua provinsi di Sulawesi masing-masing telah memiliki produk pertanian unggulan. Tiga minggu yang lalu, saya berkunjung ke Pulau Buru, yang Insya Allah, juga akan berkembang menjadi daerah lumbung padi.
Hari ini, saya akan berkunjung ke Dompu, Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, juga akan melihat perkembangan peternakan, dan berdialog dengan peternak dan petani di wilayah itu. Hari ini saya datang ke Merauke, yang Insya Allah, juga akan menjadi daerah lumbung padi di kawasan Indonesia Timur, mari mulai hari ini, sambil memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, kita bangun Merauke, benar-benar sebagai lumbung padi bukan hanya di wilayah Timur, tapi bagi Negara Republik Indonesia yang kita cintai. Saya yakin kita bisa, saya yakin Merauke, Papua, akan berubah tahun-tahun mendatang menuju kepada kemajuan yang kita harapkan bersama. Saya mengetahui dengan pasti, bahwa pembangunan pertanian, khususnya padi dan palawija, tidak saja berlangsung di kabupaten Merauke, tetapi juga di kabupaten-kabupaten lain di Papua, tanah di Papua beserta pulau-pulau kecil lainnya di sekitar dua provinsi ini, sesungguhnya sangat potensial untuk dikembangkan menjadi daerah pertanian. Tanah di sini subur, cuacanya baik, dan air pun cukup tersedia untuk membangun pertanian. Saya hanya berpesan, pandai-pandailah memanfaatkan lahan, agar kita mampu mempertahankan kelestarian alam dan lingkungan. Pola berladang, pola bertani berpindah-pindah dengan cara menebang hutan dan membakarnya, sudah saatnya ditinggalkan. Cara seperti itu bukan saja tidak efektif, tetapi juga benar-benar merusak lingkungan. Kita harus mempertahankan kelestarian alam di Papua ini, bukan saja untuk kepentingan generasi kita, tetapi juga untuk generasi-generasi yang akan datang.
Saudara-saudara,
Sejak kemarin saya datang di kota Merauke, dari bandara sampai ke tempat penginapan saya, saya disambut oleh ribuan warga terutama anak-anak sekolah kita, pelajar, siswa. Hari ini juga, ketika saya menyapa mereka, menaburkan senyum kepada mereka, terpikir oleh saya, saya kira juga terpikir oleh bapak-ibu sekalian, terpikir oleh para Bupati/Walikota, bagaimana masa depan mereka, bagaimana pendidikannya, bagaimana lapangan pekerjaannya nanti, bagaimana mendapatkan sumber-sumber alam, sumber daya alam dan lain-lain. Ingat yang kita kelola ini juga milik mereka, milik masa depan tanah Papua, Indonesia yang kita cintai bersama ini.
Perhatian pemerintah kepada masyarakat Papua, sungguh besar. Tidak sedikit uang yang berasal dari APBN, kita salurkan ke Papua dalam kerangka otonomi khusus. Kita kemarin berjumlah dua belas (12) triliun rupiah. Dana yang besar itu akan sangat besar pula artinya bagi pembangunan daerah ini, asalkan kita semua, asalkan Pemerintah Daerah, pandai-pandai mengelolanya untuk kepentingan rakyat. Saya mengajak kepada masyarakat Merauke dan Papua pada umumnya, marilah kita membangun daerah, melihat ke depan dan jangan terlalu banyak menoleh ke belakang. Pemerintah menyadari, bahwa ada kekeliruan kebijakan masa lalu, yang menyebabkan sebagian rakyat di provinsi ini merasa kurang puas dan merasa diperlakukan kurang adil.
Ada sejumlah kebijakan masa lalu, yang dinilai bertendensi melanggar hak-hak asasi rakyat. Kini semua kebijakan itu telah kita ubah, sejak kita memasuki era reformasi. Pemerintahan yang kini saya pimpin, benar-benar memegang teguh komitmen untuk memajukan daerah ini, menegakkan hukum dan menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia. Dalam satu setengah tahun belakangan ini, saya melihat bahwa tidak ada kasus-kasus yang dulu sering terjadi yang dapat digolongkan atau punya niat untuk melakukan pelanggaran hak asasi manusia di Papua. Pemerintah dan seluruh aparatur keamanan berupaya semaksimal mungkin untuk bertindak secara persuasif dan hati-hati dalam menangani setiap masalah. Memang kadang-kadang mereka harus menghadapi resiko, karena situasi keamanan kadang-kadang cukup keras. Tetapi sekali lagi aparat keamanan kita akan lebih mengedepankan cara-cara persuasif dan mencegah terjadinya kekerasan-kekerasan yang tidak perlu. Harapan saya demikian pula bagi semua saudara-saudara kita yang ada di Papua ini, mencegah sejauh mungkin terjadinya kekerasan, karena kekerasan menimbulkan masalah baru, kekerasan bukan solusi yang kita harapkan.
Saudara-saudara warga masyarakat Papua adalah saudara-saudara kami sendiri. Saudara-saudara semua adalah keluaraga besar bangsa Indonesia. Sebagai sesama saudara, tidak mungkin kami bertindak tidak adil. Kalau di sana-sini terdapat kekurangan dalam menerapkan kebijakan, maka kekurangan seperti itu, sesungguhnya juga terjadi di daerah-daerah lain. Kita hanyalah manusia biasa, yang tidak luput dari kekurangan dan kesalahan. Namun, yakinlah, tidak ada niat dan kesengajaan untuk melakukan kesalahan, kepada rakyat di manapun berada di negeri kita ini, rakyat yang sama-sama kita cintai.
Provinsi Papua sangat kaya dengan hasil-hasil alam. Kini dengan otonomi khusus, sebagian besar dari hasil-hasil itu dikembalikan lagi kepada masyarakat di provinsi ini. Pemerintah tidak pernah berpikir dan berniat untuk mengeksploitasi kekayaan provinsi ini untuk kepentingan daerah-daerah lain. Kita menyadari betapa pentingnya kebersamaan. Kita ingin bergerak maju bersama, bagi semua suku, semua kelompok masyarakat dan semua daerah di seluruh tanah air.
Kita semua akan tetap memegang teguh semangat Bhineka Tunggal Ika, kemajemukan yang telah menjadi semboyan bangsa kita sejak berabad-abad yang lalu. Masyarakat Papua dengan keunikan sosial budayanya tetap mendapatkan tempat yang terhormat, baik dalam konstitusi kita, maupun dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Kita telah membentuk Majelis Rakyat Papua sebagai representasi adat, budaya serta agama dan kaum perempuan. Kita pun sama-sama menghormati hak-hak masyarakat berdasarkan hukum adat, sepanjang hal itu masih hidup dalam kenyataan sehari-hari.
Kita juga telah bertekad untuk menyelesaikan semua masalah di Papua secara damai, adil dan bermartabat. Karena itu, saya meminta kepada warga masyarakat Papua, untuk tidak mudah terpengaruh oleh ajakan berbagai pihak, di dalam maupun di luar negeri, untuk menciptakan masalah baru di Papua. Masalah-masalah yang ada di Papua adalah masalah dalam negeri kita sendiri. Kita tidak menginginkan pihak lain dari manapun datangnya, untuk ikut campur urusan dalam negeri kita. Sekali lagi saya katakan, kita ingin menyelesaikan masalah di Papua secara damai, adil dan bermartabat. Saya yakin, penyelesaian seperti itu akan diterima dan akan memuaskan semua pihak.
Hadirin yang saya hormati,
Saya merasa bangga, bahagia dan bersyukur dengan panen raya di Merauke ini. Saya mengajak kepada para petani di daerah ini, baik masyarakat asli maupun pendatang, marilah kita bekerja keras, membangun pertanian di daerah ini. Saya tekankan sekali lagi, hanya dengan bekerja keraslah kita akan berhasil membangun kemakmuran dan kesejahteraan. Kemakmuran dan kesejahteraan tidak akan datang dari langit tanpa usaha. Negara akan maju dan rakyat akan sejahtera kalau rakyatnya bekerja keras dan pemerintahnya –pemerintah pusat dan pemerintah daerah-- memegang amanah. Pemerintah itu berasal dari rakyat, yang oleh sistem pemilihan yang demokratis, diberi amanah untuk memimpin dan untuk membangun bangsa dan negara. Karena itu, antara rakyat dan pemerintah harus ada rasa percaya dan saling mendukung.
Saya berharap, saudara-saudara akan mengerti betapa besarnya beban yang dipikul pemerintah untuk membangun, memajukan dan mensejahterakan seluruh rakyat. Kami bekerja siang dan malam untuk itu dan harus menyelesaikan masalah yang setiap hari datang silih berganti. Pemerintah sekarang tidak ingin terlibat dan berupaya sekuat tenaga untuk mencegah dalam praktik-praktik korupsi yang menyengsarakan rakyat, sebagaimana sering terjadi di waktu yang lau. Setiap rupiah yang dimiliki negara, harus dapat dipergunakan untuk membangun. Untuk hal-hal yang bermanfaat, memenuhi kepentingan rakyat, kepentingan bangsa dan kepentingan negara. Saya mengajak seluruh pemimpin, seluruh jajaran pemerintah, baik di pusat maupun di daerah, di Papua, untuk juga memegang amanah seluruh rakyat, untuk memajukan daerah ini.
Saya juga mohon kepada seluruh rakyat, terutama rakyat di Papua, marilah kita bersikap matang, menahan diri dan mengendalikan diri dalam menghadapi setiap masalah. Jauhkan diri kita masing-masing dari menggunakan kekerasan dalam menyelesaikan masalah. Kekerasan bukanlah cara yang baik untuk menyelesaikan masalah yang kita hadapi. Sebagaimana saya katakan tadi, kekerasan justru dapat berpotensi menimbulkan masalah-masalah baru yang yang mungkin lebih sulit lagi untuk diselesaikan. Sebab itu, sekali lagi saya mengajak, mari kita bangun Papua, kita tingkatkan kesejahteraan rakyatnya, dan kita pegang teguh rasa kesatuan dan persatuan bangsa. Hanya dengan cara itulah, kita akan menyaksikan kemajuan dan kemakmuran di daerah ini.
Sebelum saya mengakhiri sambutan ini, saya akan mengeluarkan instruksi, atau arahan, atau direksi kepada jajaran pemerintah pusat dan jajaran pemerintah daerah di provinsi ini, baik kepada saudara pejabat Gubernur, dan nantinya pada Gubernur terpilih dan juga kepada para Bupati dan Walikota, tentu dengan dukungan pemerintah pusat.
Yang pertama, mari terus bangun dan kembangkan daerah ini secara nyata dan dapat dilihat oleh rakyat, bahwa ada dalam kemajuan dalam kesejahteraan. Tetap memelihara persaudaran dan harmoni, saya ulangi, dengan tetap memelihara persaudaraan dan harmoni antara penduduk asli dan pendatang. Saya meminta, lakukan secara konkrit peningkatan kesejahteraan penduduk asli. Jangan sampai ada jarak, kesenjangan, atau gap yang menganga antara saudara-saudara kita penduduk asli dan penduduk pendatang. Harus ada program khusus, harus ada anggaran khusus yang kita kelola secara bersama, baik pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.
Yang ketiga, khusus untuk menangani penyakit HIV/AIDS yang ternyata menjadi persoalan yang besar di Papua umumnya, Merauke khususnya, saya meminta untuk dilakukan program khusus, penanganan khusus dalam mengatasi penyakit HIV/AIDS ini. Dengan anggaran tertentu dari pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Dan saya meminta pada bulan Mei yang akan datang dilaporkan kepada saya di Jakarta, bagaimana program khusus itu, baik untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk asli, maupun dalam rangka penanggulangan penyakit HIV/AIDS.
Yang terakhir atau yang keempat, saya berharap Merauke, ada pak Bupati di sini, ada pejabat di Merauke, ada saudara semua, mari kita kembangkan, pertanian menjadi lumbung padi, kedua menjadi daerah pengembangan perkebunan barangkali antara lain tebu dan kelapa sawit dan kemudian juga daerah untuk dapat dikembangkan pendidikan secara nyata.
Kalau padi berkembang dengan pesat, kalau tebu dan kepala sawit berkembang dengan baik, kalau pendidikan berkembang dengan baik, maka akan banyak lagi saudara-saudara kita yang dapat bekerja. Artinya kita mengurangi pengangguran, akan banyak lagi pajak yang dapat diterima pemerintah daerah, yang dengan pajak itu digunakan untuk meningkatkan pendidikan dan kesehatan dan mengurangi kemiskinan di daerah ini.
Dengan pendidikan, rakyat kita akan makin terampil bekerja di persawahan, di perkebunan, di perikanan, dan lain-lain. Harapan saya Merauke menjadi sentra pertumbuhan baru, bukan hanya untuk padi, tapi juga untuk sektor-sektor yang saya sebutkan tadi. Kita sama-sama melihat, kita sama-sama membantu, kita sama-sama mendukung pimpinan daerah daerah Merauke ini, untuk betul-betul dapat mewujudkan hal-hal yang kita inginkan tadi. Dan pesan saya, saya ulangi sekali lagi, ketika terjadi pertumbuhan sawah, pertumbuhan tebu, pertumbuhan kelapa sawit, nantinya pendidikan dan lain-lain, tenaga kerja dan lain-lain, tolong sekali lagi perhatikan dan tingkatkan kesejahteraan penduduk asli, sehingga betul-betul terjadi kesetaraan yang baik, dengan demikian dapat meningkatkan persaudaraan dan harmoni diantara semua warga yang ada di daerah ini.
Demikianlah ajakan, himbauan dan harapan saya kepada masyarakat Merauke dan masyarakat Papua seluruhnya. Kepada para petani di Merauke, saya ucapkan selamat atas keberhasilan saudara-saudara membangun pertanian di daerah ini, sehingga hari ini kita sama-sama dapat menyaksikan panen raya. Keberhasilan kita dalam membangun pertanian di daerah ini, akan menghindarkan masyarakat dari ancaman bahaya kelaparan, yang seharusnya tidak perlu terjadi. Kita tidak ingin kasus kelangkaan pangan seperti terjadi di Yahokimo beberapa waktu yang lalu akan terjadi lagi di Papua. Semua itu akan dapat kita atasi, jika kita, sekali lagi, berhasil membangun pertanian kita di seluruh tanah Papua.
Saya ingin mengakhiri sambutan saya ini dengan memohon doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, semoga kita semua senantiasa memperoleh keberkatan dan kasih sayang-Nya, dalam membangun bangsa dan negara. Dan dalam kesempatan ini, juga saya bersyukur karena dapat menandatangani prasasti atas didirikannya Sekolah Tinggi Teknologi Merauke yang mudah-mudahan menjadi bagian dalam pertumbuhan di Merauke di waktu yang akan datang.
Sekian.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
******
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



