Pidato Presiden
Sambutan Peresmian Pembangunan Infrastruktur Nasional
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERESMIAN PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR NASIONAL
PACITAN-JAWA TIMUR, 12 APRIL 2006
Assalammu’ alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Selamat siang,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati Saudara Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dan Para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang saya hormati Saudara-saudara Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, Saudara Gubernur Jawa Timur, Gubernur Jawa Tengah dan Wakil Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta,
Para Pimpinan dan Pejabat Negara yang bertugas, khususnya di Jawa Timur, baik dari unsur Eksekutif, Legislatif, Eksekutif, Yudikatif maupun TNI dan Polri,
Para Pimpinan Lembaga-Lembaga Pemerintah Non Departemen dan Pimpinan Badan Usaha Milik Negara,
Para Pimpinan Organisasi Internasional, Saudara Bupati, Kepala Daerah Kabupaten Pacitan dan segenap unsur pimpinan di Kabupaten Pacitan,
Yang saya cintai dan saya muliakan sesepuh Pacitan yang hadir pada acara ini, Bapak Haryono Suyono dan Ibu Sulasikin Murpratomo,
Yang saya hormati Para ulama, Para tokoh masyarakat,
Hadirin sekalian yang berbahagia,
Marilah kita kembali memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan karunia-Nya pada hari ini, kita dapat menghadiri Peresmian Pembangunan Infrastruktur Nasional yang dipusatkan di Pacitan. Kunjungan saya ke Pacitan hari ini adalah kunjungan pertama saya ke Kabupaten Pacitan, yang tentu memiliki kenangan tersendiri bagi saya. Ada istilah Pawon Sari, Pacitan, Wonogiri dan Wonosari atau Gunung Kidul. Konon ketiga daerah ini memiliki karakteristik daerah yang serupa, sulit air, sebagian wilayahnya tandus, ada infrastruktur yang belum dimiliki dan lain-lain.
Oleh karena itulah, sejalan dengan agenda dan kebijakan pemerintah yang terus-menerus melakukan pembangunan di daerah-daerah tertinggal, termasuk pembangunan infrastruktur dan pembangunan masyarakat. Maka tahun 2004 yang lalu, saya sudah berkunjung ke Wonosari atau Gunung Kidul dengan kegiatan yang kurang-lebih sama. 2005 yang lalu, saya sudah berkunjung ke Wonogiri, juga menggalakkan infrastruktur dan pedesaan. Pak Bupatinya ada nggak di sini? Ada Bupati Wonogiri, Pak Teguh. Kemudian, alhamdulilah hari ini saya berkunjung ke Pacitan. Lengkaplah sudah kunjungan saya di Pawon Sari. Mudah-mudahan Allah memberikan berkah ketiga kabupaten yang relatif tertinggal ini, bisa segera mengejar ketertinggalannya dengan saudara-saudaranya di daerah yang lain.
Peresmian Infrastruktur Nasional hari ini, juga dilaksanakan bertepatan dengan peringatan Hari Air se Dunia. Peringatan ke-14 tahun 2006 yang sesungguhnya kita peringati setiap tahun, sebagaimana tadi disampaikan oleh Menteri Pekerjaan Umum.
Saudara-saudara sekalian,
Pembangunan infrastruktur itu penting, mengingat dalam kehidupan keseharian masyarakat, kita tidak dapat terlepas dari kebutuhan tersedianya infrastruktur yang memadai. Dengan peresmian berbagai infrastruktur ini, diharapkan pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan kesejahteraan rakyat, makin hari makin meningkat. Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwa infrastruktur sesungguhnya berkaitan erat dengan kebutuhan hajat hidup orang banyak. Pemerintah dituntut bekerja lebih keras untuk dapat memenuhi keperluan itu sebagai bentuk pelayanan kita kepada masyarakat.
Keberhasilan pembangunan seringkali diukur dengan beberapa banyak ketersediaan infrastruktur yang benar-benar bermanfaat bagi kepentingan rakyat. Rakyat memerlukan jalan yang mulus, bukan jalan yang penuh lubang. Jembatan yang kokoh, bukan jembatan yang sudah miring. Irigasi yang dapat mengatur penyaluran air, bendungan yang memadai serta berbagai infrastruktur lainnya, baik di perkotaan maupun di perdesaan.
Dengan luas wilayah yang terbentang dari Sabang sampai Merauke, tentunya pemerintah tidak dapat memenuhi semua tuntutan masyarakat itu dalam sekejap. Skala prioritas pembangunan atau skala prioritas pembangunan infrastruktur, perlu diarahkan pada wilayah-wilayah yang memang sangat memerlukan. Saya menyadari, bahwa akhir-akhir ini terjadi banyak kerusakan infrastruktur jalan raya, misalnya di jalur lintas Sumatera dan jalur Pantai Utara Pulau Jawa atau Pantura. Dan saya mendapat laporan, saya sudah berkunjung ke beberapa daerah, memang karena krisis yang luar biasa dulu, karena kesulitan ekonomi kita tahun- tahun yang lalu, maka kita terus terang tidak terlalu banyak mengalokasikan dana untuk perawatan dan pembangunan infrastruktur itu.
Saatnya telah tiba, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang insya Allah makin baik ke depan ini, kita harus mengalokasikan anggaran yang cukup agar itu semua dapat kita perbaiki. Kita ingin secepatnya jalur-jalur itu pulih kembali, sehingga lalu lintas barang dan jasa tidak terhambat. Saya pernah jalan, misalkan dari Jambi ke Palembang, ke Lampung, yang menyeberang langsung ke Banten dan seterusnya, masuk ke wilayah Jawa. Jalan-jalan itu, memang karena muatannya yang luar biasa, frekuensi angkutan juga tinggi, kiranya perlu mendapatkan perawatan yang semestinya. Saudara Menteri PU sudah meninjau, melihat ke sana, mudah-mudahan tahun-tahun mendatang paduan program pusat dan daerah, secara bertahap itu dapat kita perbaiki.
Demikian pula, infrastruktur di wilayah Indonesia bagian Timur, memerlukan perhatian yang lebih seksama dan sungguh-sungguh. Ketimpangan infrastruktur antara Pulau Jawa dan luar Jawa, perlu secepatnya dihilangkan. Kita ingin adanya pemerataan dan kesejajaran pembangunan di seluruh wilayah Indonesia. Itulah yang saya maksudkan sebagai skala prioritas. Beberapa waktu yang lalu, saya telah meresmikan berbagai proyek infrastruktur seperti jalan, jembatan, sarana pendidikan dan sarana pemerintahan di Provinsi Maluku yang rusak akibat konflik.
Minggu lalu, saya berkunjung ke Kabupaten Dompu. Disamping berdialog dengan para peternak dan para petani, kita juga membahas tentang perlunya pembangunan infrastruktur perdesaan, terutama air bersih. Sebelumnya, saya meninjau Kabupaten Bima, ada sebuah bendungan yang kita bangun, yang insya Allah bisa digunakan untuk keperluan yang banyak. Satu hari sebelumnya, saya berkunjung ke Merauke. Demikian juga, kita menggalakkan pengembangan lumbung padi di Merauke, panen raya bersama petani di sana. Kita juga membahas kemungkinan pembangunan infrastruktur, agar Merauke sebagai salah satu sentra pertumbuhan di Papua dapat juga kita andalkan untuk menggerakkan, menghidupkan kegiatan ekonomi di Indonesia Bagian Timur. Sebelumnya, saya meninjau dan meresmikan beberapa infrastruktur di Lombok. Ternyata setelah 60 tahun lebih kita merdeka, ada saudara-saudara kita di Nusa Tenggara Barat, di Lombok Tengah yang sulit mendapatkan air bersih, bukan untuk mandi, untuk minum pun ternyata sulit, sama dengan kesulitan yang di hadapi saudara-saudara kita di Punung, di Pringgugu dan di tempat-tempat lain di kabupaten Pacitan ini.
Oleh karena itulah, kita harus melakukan upaya yang sungguh-sungguh, kebutuhan yang sangat dasar, bukan yang muluk-muluk, bukan yang modern-modern, tetapi untuk makan, untuk minum, untuk hidup sehari-hari secara layak di banyak tempat, di negeri kita ini, terutama di daerah-daerah tertinggal. Menteri Pembangunan Daerah Tertinggal juga hadir bersama saya. Supaya ingat seringlah datang ke pelosok-pelosok untuk membangun, mengingatkan Pak Gubernur, mengingatkan Pak Bupati. Kalau pak Gubernur, Pak Bupatinya jarang turun ke bawah, ingatkan harus sering turun, harus dekat dengan rakyat.
Hadirin yang saya muliakan,
Seperti saya katakan tadi, dengan telah selesainya pembangunan infrastruktur di Provinsi Jawa Tengah, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Timur, kita berharap, kita dapat lebih lagi meningkatkan kehidupan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat setempat. Di ketiga provinsi itu, sebagaimana disampaikan oleh Menteri Pekerjaan Umum tadi, telah dibangun bendungan, embung dan jaringan irigasi, prasarana air baku, sistem penyediaan air minum, jalan dan jembatan. Untuk infrastruktur perdesaan telah dibangun saluran irigasi perdesaan, jalan-jalan desa, dan prasarana air minum. Manfaatkanlah berbagai infrastruktur itu dengan sebaik-baiknya. Ingat membangun infrastruktur itu memerlukan biaya atau menelan biaya yang cukup besar. Di tengah-tengah keterbatasan kita dalam menggunakan anggaran negara yang kita miliki. Peliharalah infrastruktur itu dengan baik, agar dapat dimanfaatkan untuk jangka waktu yang cukup lama.
Pada kesempatan ini, saya sampaikan pada saudara sekalian kebijakan dasar. Konsep kita membangun infrastruktur adalah sebagai berikut. Karena infrakstruktur itu memiliki kepentingan untuk pembangunan ekonomi, pembangunan kesejahteraan rakyat, tapi juga keadilan, maka diperlukan kebijakan terpadu untuk membangunnya secara tepat. Infrastruktur yang bisa mendatangkan manfaat ekonomi, segi komersial, segi usaha, maka pemerintah mengajak para penanam modal, para investor agar mereka juga ikut menanggung pembiayaan itu, yang nantinya mendapatkan keuntungan dari pembangunan itu.
Sementara itu, infrastruktur di pedesaan yang tidak punya nilai komersial, tetapi diperlukan rakyat, diperlukan untuk sebuah keadilan dan pemerataan pembangunan, tentu pemerintah dengan kemampuan yang dimiliki secara bertahap akan melakukan pembangunannya. Ini perlu kita ketahui, agar antara pimpinan daerah di seluruh Indonesia melalui forum ini pandai-pandailah menggunakan anggaran negara dan pandai-pandailah mengajak mitra swasta untuk mengembangkan infrastruktur di daerahnya masing-masing.
Hadirin yang saya muliakan,
Seperti saya katakan tadi, Peresmian Pembangunan Proyek Infrastruktur Nasional pada hari ini, bertepatan dengan Peringatan Hari Air Sedunia. Tema Peringatan Hari Air kali ini adalah Water and Culture, air dan budaya. Tema air dan budaya itu mengingatkan kita semua, bahwa untuk mengelola sumber daya air secara efektif, kita harus memahami dengan baik, hubungan antara air, budaya dan perilaku manusia. Hubungan itu dapat berupa hubungan emosional, intelektual, moral, spiritual dan kaitannya dengan aspek ruang dan waktu. Setiap makhluk hidup di muka bumi ini tidak lepas dari kebutuhan akan air. Kehidupan keseharian kita sangat tergantung pada air. Tubuh kita memerlukan air untuk minum, untuk bersuci dan mandi dan kegiatan-kegiatan rutin lainnya.
Demikian pula lingkungan di sekitar kita, tanah, tumbuh-tumbuhan, hewan, semuanya memerlukan air. Tetapi kita harus tetap waspada, karena air yang sangat kita perlukan itu, jumlahnya, sesungguhnya sangat terbatas. Dibandingkan dengan kepentingan masyarakat sedunia yang jumlahnya sekarang 6 milyar lebih, bahkan bisa mendekati 7 milyar jiwa manusia. Apalagi ketersediaan dan pemanfaatannya tidak terkelola dengan baik. Suatu ketika nanti tentu kita akan mendapatkan kesulitan untuk mendapatkannya.
Saudara-saudara,
Untuk diketahui, dunia ini seolah-olah kaya raya, air melimpah dimana-mana, sesungguhnya tidak. Sama dengan orang bilang, minyak, gas, batu bara itu ada di Timur Tengah, ada di Indonesia, seolah-olah tidak pernah habis. Salah, suatu saat akan habis. Inilah persoalan dunia. Satu contoh, masih ada kemiskinan, bukan hanya di negeri kita, di dunia. Ada 3 milyar manusia atau separuh penduduk dunia yang penghasilannya itu dianggap tidak memadai. Memang ukurannya dalam bentuk dollar, yaitu kurang dari 2 dollar Amerika Serikat per hari. Ada 800 juta manusia. Itu hampir, 3,7 kali lipat penduduk Indonesia yang sesungguhnya mengalami kekurangan gizi dan lapar. Ada 600 juta saudara-saudara kita di seluruh Indonesia, di seluruh dunia, termasuk barangkali di Pacitan, di Gunung Kidul, di Wonogiri, di Lombok, di Kupang dan di tempat-tempat lainnya yang ternyata mengalami kekurangan air bersih. Kemudian untuk mendapatkan gambaran sosial 115 juta penduduk dunia itu tidak bisa melanjutkan sekolahnya.
Itulah sebagian besar bagi masyarakat dunia. Itulah mengapa Perserikatan Bangsa-Bangsa menetapkan Milenium Development Goals, meningkatkan kesehatan, pendidikan dan lain-lain. Mari kita mulai dari negeri kita, mulai dari provinsi-provinsi kita, mulai dari kabupaten kita. Kalau semua pemimpin bertanggungjawab, kalau di Indonesia mulai saya, menteri, gubernur, bupati, walikota, camat, kepala desa bertanggung jawab, maka ke depan tentu kita akan bisa meningkatkan semuanya itu. Itulah yang diharapkan dalam pembangunan kita, kesejahteraan rakyat.
Hadirin sekalian,
Terbatasnya ketersediaan air haruslah kita sadari sejak dini. Upaya untuk menyelamatkan air harus kita lakukan bersama-sama. Kita harus melakukan konservasi sumber daya air, melakukan pelestarian air dan memanfaatkan air secara hemat dan efisien. Setiap tahun cadangan air kita menurun dengan kecepatan yang mencemaskan. Ketersediaan air akan mencapai tingkat yang kritis di tahun-tahun yang akan datang, jika kita tidak mengelolanya dengan benar. Di saat kita mengalami musim kemarau, air sangat sulit diperoleh. Sebaliknya di saat musim hujan, air justru menjadi bencana banjir yang merugikan kita semua. Mengapa? Kesalahan dari kita, karena terjadi penggundulan hutan yang tidak terkendali selama ini, termasuk pencemaran-pencemaran air, yang akhirnya mengakibatkan menipisnya cadangan air, di beberapa cekungan sumber air kita.
Di kota-kota tertentu sumber air bersih kian langka. Kalaupun ada, air yang tersedia sudah tercemar dan kotor. Air bersih menjadi komoditas yang diperjualbelikan dengan harga yang cukup mahal. Berapa harganya Pak Joko, di sekitar Wonosari, Wonogiri, Gunung Kidul itu? Iya, kalau satu kubik lebih dari berapa, Pak? Sepuluh ribu? Jakarta dua ribu. Kadang-kadang, rakyat yang penghasilannya pas-pasan, yang relatif masih miskin harus membeli air dengan harga yang mahal. Di sebuah masyarakat di bagian yang lain, penghasilannya lebih tinggi membeli air dengan harga yang lebih murah. Oleh karena itulah, mari kita tata semuanya agar air ini betul-betul berguna untuk seluruh rakyat kita, untuk seluruh rakyat Indonesia.
Kadang-kadang tidak di sadari pabrik-pabrik, warga masyarakat juga mengotori sumber air. Di kota-kota besar, kita menemukan warga yang membuang sampah ke sungai secara sembarangan. Sungai-sungai yang mengalir tidak lagi jernih, berwarna pekat kehitam-hitaman. Dan tumpukan sampah-sampah yang dibuang sembarangan biota yang hidup di sana telah berkurang drastis. Sungai-sungai seperti itu, tidak dapat dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air bersih. Air tanah dipermukaan juga telah sulit diperoleh, untuk mendapatkannya harus digali hingga kedalaman puluhan meter. Mari kita cegah hal-hal seperti ini. Kalau kita sayang pada negeri ini, kalau kita sayang pada anak cucu kita, kalau kita sayang pada masa depan Indonesia.
Hadirin yang saya hormati,
Untuk mengatasi masalah pengelolaan dan ketersediaan air, pemerintah terus berupaya melakukan langkah strategis, terencana dan berkesinambungan. Tadi dikatakan oleh Menteri PU, bahwa saya sudah mencanangkan satu gerakan nasional tahun lalu tentang masalah ini. Kemudian tim koordinasi pengelolaan sumber daya air juga telah dibentuk, Instruksi Presiden juga telah dikeluarkan, peraturan-peraturan sudah ada, Perda-perda sudah ada, lengkap sudah. Yang penting sekarang, bagaimana mengimplementasikannya, bagaimana mewujudkannya. Oleh karena itu, saya mengajak seluruh pimpinan di negeri ini, utamanya para gubernur, bupati dan walikota, mari kita lebih peduli, mari kita lakukan semua hal untuk menyelamatkan air di negeri ini, penyelamatan dalam arti yang luas.
Dan berkaitan dengan ini, juga saya ingin menyampaikan, mengajak saudara-saudara sekalian untuk bersama-sama kita mendayagunakan air ini dengan sebaik-baiknya dan menyelamatkannya, sekali lagi untuk kepentingan masa depan. Dalam keyakinan kita, sesungguhnya Tuhan Yang Maha Kuasa telah memberikan begitu banyak berkah dan anugerah kepada umat manusia, tinggal apakah kita semua mampu menggunakannya dengan baik, dengan penuh tanggung jawab, dengan penuh kasih sayang kepada sesama, termasuk dengan penuh kesadaran untuk memelihara kelestarian lingkungan hidup. Kita semua mengetahui air adalah anugerah Allah SWT yang tidak ternilai. Oleh karena itu, sebagai manifestasi dari rasa syukur kita. Marilah kita pelihara dengan sebaik-baiknya.
Pada kesempatan yang baik ini, sebelum saya mengakhiri sambutan saya. Saya menyeru kepada seluruh rakyat Indonesia dimanapun berada, untuk kita menjadi bangsa yang hemat, bukan menjadi bangsa yang boros. Marilah kita bangun budaya hemat, bukan budaya yang boros. Marilah kita bangun perilaku hidup yang hemat dan bukan perilaku hidup yang boros. Saya masih melihat diantara kita belum menghemat dalam penggunaan air. Di kota-kota besar, di instansi-instansi pemerintah kadang-kadang air mengalir itu terus mengalir dan krannya tidak dimatikan. Sepertinya sepele, kantor ini, kantor itu, tapi berapa ribu kantor, berapa banyak di seluruh Indonesia ini. Kalau air terbuang percuma, tidak ditutup krannya, padahal di tempat lain orang haus untuk minum, orang sulit mendapatkan air untuk mandi dan mengairi sawah dan tempat pertaniannya, sementara terjadi pemborosan air. Mari kita lakukan gerakan penghematan air.
Saya minta pimpinan instansi, pimpinan semua untuk mengawasi, memeriksa dan memastikan bahwa penghematan air terjadi. Demikian juga, penghematan listrik. Saya sering melihat siang hari, yang mestinya tidak harus semuanya nyala, masih nyala. Malam hari, yang mestinya nyala hanya untuk yang bekerja, untuk pabrik-pabrik yang bekerja 24 jam, tapi masih nyala. Terbuang. Padahal negeri ini memerlukan listrik yang besar di seluruh Indonesia. Membangun pembangkit listrik tidak mudah, Dirut PLN ada di sini, memerlukan waktu, memerlukan uang, memerlukan sumber daya. Kadang-kadang listrik kita buang begitu saja. Hematlah, terutama jajaran pemerintah. Kalau listrik itu untuk kegiatan produktif tidak apa-apa, untuk pabrik, untuk jasa, untuk orang bekerja lembur memikirkan rakyatnya, tidak apa-apa, karena itu bukan pemborosan, itu produktif. Tetapi kalau tidak ada gunanya, lakukan penghematan yang serius. BBM, Minyak tanah, solar, bensin, premium dan lain-lain. Saya masih melihat budaya pemborosan. Di satu sisi rakyat kita sulit karena ekonominya, untuk mendapatkan minyak tanah misalnya dan lain-lain. Tapi ada komunitas-komunitas masyarakat yang menurut saya masih berlebihan dalam mengkonsumsi BBM. Marilah mulai sekarang hemat BBM, bukan boros BBM.
Negara kita suatu saat akan tidak memiliki lagi sumber minyak, sumber gas dan batu bara. Minyak kita kalau tidak ada penemuan baru, 20 tahun lagi habis. Gas kita, kalau tidak ada penemuan baru, 60 tahun lagi habis. Batubara kita di seluruh Indonesia ini, kalau tidak ada penemuan baru 150 tahun lagi habis. Jangan ketawa, karena sekarang, kita berpikir sekarang anak cucu kita, anak kita, cicit kita nanti seperti apa, maka mari kita lakukan penghematan bahan bakar minyak, satu. Yang kedua, kalau kita memproduksi minyak, gas dan batu bara, kita gunakan sebaik-baiknya, setepat-tepatnya untuk ekonomi dan kesejahteraan rakyat, dua. Yang ketiga, mari mulai kita kembangkan sumber energi yang terbarukan, dapat diperbaharui lagi, air, surya, apalagi angin, apa panas bumi dan lain-lain. banyak, kaya negara kita. Mari kita menuju ke situ dengan teknologi, kita kembangkan.
Tadi saya terbang dengan helikopter dari Madiun di atas wilayah Slaung balong, kemudian Tegal lombok, Arjosari. Saya melihat bukit-bukit, saya melihat air yang mengalir banyak sekali, dengan volume yang lumayan, cukup deras. Pak Gubernur, sambil terbang bicara dengan saya, saya bicara dengan Menteri PU, alangkah bagus kalau itu juga suatu saat dibikin bendungan. Dengan demikian, bisa diselamatkan, bisa dialirkan, musim kemarau kan susah air, betul? Nah, oleh karena itu, pada saat musim air ada, musim penghujan, bikin bendungan, tadah itu semuanya, sehingga bisa digunakan dengan baik. Siapa tahu di Pacitan dan tempat-tempat lain, di Jawa Timur dan Jawa Tengah dan di seluruh Indonesia bisa sumber-sumber untuk pembangkit listrik tenaga air. Ini juga menyelamatkan masa depan kita.
Budaya hemat yang keempat, telepon. Telepon itu, kalau diperlukan. Ada satu orang disini, satu orang jaraknya 30 meter telepon-teleponan seperempat jam, untuk apa? Nah, kalau itu komersial bayar sendiri ndak apa-apa, tapi kalau yang bayar negara telepon itu, saya minta saudara-saudara berhemat. Telepon seperempat jam, setengah jam, saya telpon tidak lebih dari tiga menit, selesai. Kalau mau panjang, ketemu. Ini saya masih lihat di kantor-kantor instansi di seluruh Indonesia, telpon seenaknya. Seolah-olah tidak bayar, yang bayar barangkali pacarnya. Tolong, tolong sekali lagi, hemat. Saya menyeru, mari Pak Gubernur, Pak Bupati, bersama-sama kita lakukan budaya hemat ini, hemat air, hemat listrik, hemat BBM dan hemat telpon. Sepertinya, ah, hanya itu-itu saja, tetapi secara nasional, karena tiap jam kita lakukan penghematan, tiap hari kita lakukan penghematan, kita akan menjadi bangsa yang hemat, sehingga sumber daya alam yang kita miliki, anugerah Allah SWT dengan teknologi kita, dengan manajemen kita, dengan kesadaran kita, dengan budaya kita dapat kita gunakan dengan lebih baik lagi. Itulah yang dapat kita sampaikan.
Kelima, putaran kelima, saya dicegat oleh anak-anak kecil, yang mengantar Ibu Sulasikin Murpratomo. Ada gambar pemandangan, ada anak-anak sedang bermain, ada sawah, ada air. Kemudian satu persatu anak-anak kita menjelaskan kepada saya artinya apa, barangkali Kelas 1, Kelas 2, Kelas 3 SD. Saya tersentuh karena, “Pak Presiden inilah tanah air kita, ada gunung, ada ini, ada ini, semuanya alangkah indah. Ini anak-anak kita sedang bermain-main, ini agamanya beda, ada yang Islam, ada yang Kristen, ada yang lain-lain, identitasnya beda-bedanya, tapi mereka rukun dengan baik. Pak Presiden, ini ada gambar pelangi, mudah-mudahan bangsa kita bersatu seperti pelangi dan lain-lain”.
Saya tersentuh, itulah yang kita rindukan di negeri ini. Mengapa? Justru perbedaan ini, tidak menjadi kekayaan kita, kita syukuri. Janganlah perbedaan ini, agama, suku, etnis, daerah dan lain-lain, termasuk barangkali partai-partai politik, organisasi-organisasi politik, jangan menjadi alat perpecahan bangsa kita. Kita semua akan menangis, kita semua akan merugi dan kita kehilangan energi. Apapun perbedaannya, kita bangsa Indonesia yang harus memiliki persaudaraan, persahabatan, kasih sayang dan toleransi yang setinggi-tingginya. Insya Allah, seberat apapun tantangan yang kita hadapi, kalau kita bersatu padu, berat sama dipikul, ringan sama dijinjing, kita akan menuju masa depan yang lebih baik. Anak kecil mengingatkan orang tua. Saya kira yang mengingatkan adalah Allah SWT melalui anak-anak kita. Mari kita jalankan dengan baik.
Dan PIN tadi penting. Kesehatan masyarakat, mari kita utamakan, disamping pendidikan, kesehatan sangat penting. Ibu Menteri Kesehatan, Menteri Pendidikan kemana-mana juga menggalakkan pentingnya pendidikan dan kesehatan. Mari kita lakukan semuanya itu. Yang terlaksana di waktu yang lalu, yang dilaksanakan di waktu yang lalu oleh pemerintah-pemerintah sebelumnya yang baik-baik, mari kita teruskan. Reformasi itu tidak membuang semua hal, yang dilaksanakan di waktu yang lalu, yang baik-baik kita teruskan. Keluarga Berencana, kita teruskan. Posyandu, kita teruskan. PIN, kita teruskan. Puskesmas, kita lanjutkan. PKK, kita teruskan. Yang baik-baik dari pemimpin yang dulu sejak mendiang Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur, Ibu Mega, semua kita lanjutkan. Mari, yang tidak sesuai dengan perkembangan jaman, kita lakukan perubahan secara baik. Itulah kecintaan kita kepada negara, kepada bangsa dan kepada pemimpin-pemimpin terdahulu. Mari kita lanjutkan semuanya itu, teruslah kita lakukan untuk kecintaan kepada masyarakat kita. Ini sekaligus saya sampaikan, karena tadi ada Pekan Imunisasi Nasional, yang mari kita bikin rakyat kita sehat, cerdas, kuat, rukun, baik akhlaknya, punya daya saing, Insya Allah menjadi bangsa yang maju.
Demikian.
******
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



