Pidato Presiden
Sambutan Peresmian Masjid Pondok Tremas dan Peresmian Beroperasinya Telekomunikasi di Pedesaan
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERESMIAN MASJID PERGURUAN ISLAM PONDOK TREMAS
DAN PERESMIAN BEROPERASINYA TELEKOMUNIKASI DI PEDESAAN
PACITAN, 12 APRIL 2006
Bismilahirahmanirrahim,
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Alhamdulillahirabilalamin,
Wasalatuwasalamu ala ashrafil ambiyatu walmursalin sayyidina wamaulana muhammadin waala alihi washohbihi azmain, amma’badu,
Yang saya hormati Para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, saya urut dari sebelah kanan Gus Fuad, Menteri Agama Republik Indonesia mohon berdiri Bapak Maftuh Basyuni, beliau dari Rembang,
Sebelah kanan beliau adalah yang baru saja membantu untuk modernisasi Pondok Tremas ini, Menteri Komunikasi dan Informatika, Bapak Sofyan Djalil, Kemudian Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Bapak Aburizal Bakrie. Mudah-mudahan Pak Menteri ini giat turun ke daerah-daerah termasuk ke pesantren-pesantren untuk meningkatkan pendidikan dan kesehatan kita, beserta Ibu.
Menteri Kesehatan Republik Indonesia, Ibu Fadillah Soepari,
Menteri Pendidikan Nasional, Bapak Bambang Soedibyo,
Menteri Negara Pembangunan Daerah Tertinggal, Bapak Syaifullah Yusuf.
Ingat, Pacitan masih banyak yang tertinggal, ada Donorojo, Pringgugu, Gunung, Nawangan, Bandar, Tegar Lombok, Tulakan, Ngadirojo, Sudimoro, termasuk Argosari, Kebon Agung dan Pacitan.
Menteri Negara Koperasi dan Usaha Kecil dan Menengah, Bapak Suryadarma Ali.
Ini penting, kita memerlukan tumbuhnya dunia usaha. Yang maju bukannya usaha yang besar-besar, ya memang usaha besar juga menyediakan tenaga kerja, penting untuk ekonomi kita, tapi jangan lupakan usaha kecil, usaha menengah dan Koperasi, ini Pak Menterinya di sini.
Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Bapak Jero Wacik. Pacitan, kabupaten yang indah, pantainya indah, goa-goanya banyak, tempatnya bersejarah. Panglima Soedirman dulu juga memimpin perang gerilya dari Nawangan. Banyak sekali tempat-tempat yang baik, tolong dibangkitkan dunia pariwisata Pacitan.
Kemudian yang paling ujung adalah Sekretaris Kabinet, Bapak H. Sudi Silalahi.
Yang saya hormati Para Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia,
Yang saya hormati Pak Gubernur, Bapak H. Imam Utomo beserta Ibu dan Para Pimpinan di daerah Jawa Timur dan Pacitan, baik dari unsur Eksekutif, Legislatif, Yudikatif, maupun TNI dan Polri,
Yang saya hormati Para Pimpinan Lembaga Pemerintah Non Departemen, BUMN yang turut hadir pada acara ini,
Sesepuh Pacitan tadi hadir, Ibu Sulasikin Mur Pratomo, Bapak Haryono Suyono yang juga terus berfikir dan berbuat untuk Pacitan tercinta,
Yang paling kita hormati Pimpinan Perguruan Islam Pondok Tremas, KH. Fuad Habib Dimyati. Kalau almarhum Habib Dimyati adalah sahabat ayah saya, almarhum H. Imam Adrowi tadi dikatakan, beliau adalah sahabat saya, alhamdulillah.
Yang saya cintai dan saya muliakan para Kyai, para Ulama, para alumni, yang alhamdulillah sekarang ini akan melaksanakan musyawarah besar, beberapa orang saya kenal dan ikut menumbuhkan kehidupan bangsa di negara ini.
Para santri banyak sekali tadi saya lihat sepanjang jalan ini,
Keluarga besar Perguruan Pondok Islam Tremas Pacitan, kaum muslimin dan muslimat,
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Saya perlu menyebut, ada tamu istimewa kita, Duta Besar Republik Rakyat Cina untuk Indonesia. Mengapa beliau hadir? Ada sejumlah bantuan yang diberikan kepada Indonesia, antara lain kepada Pondok Pesantren Tremas ini. Oleh karena itu, izinkan atas nama pemerintah, saya mengucapkan terima kasih kepada Duta Besar Republik Rakyat Cina untuk disampaikan Pimpinan Hua Hwe yang ada di Shenzen, terima kasih saya. Kemudian pimpinan Microsoft untuk Indonesia, saudara Tony Chen ada di sini. Kemudian pimpinan Telekomunikasi Sampoerna, beliau juga ada di sini. Kemudian dua lagi dari Walcom dan Indonet, saya kira ada di sini semuanya. Terima kasih.
Mr. Ambassador, I have you to be thankfull for you present here and for you assistant to us. And I remember when we visited Shenzen, Hua Hwe, Shenzen I think last year. And on behalf of all Kyais, all ulamas, all santris are really appreciate for your assistant. And also to the Microsoft and another companies that assist Pondok Pesantren Tremas.
Tadi Gus Fuad mengatakan, bahwa ini kampung halaman saya, tempat saya dilahirkan, tepatnya dari sini kurang lebih 100 meter, itu ada rumah kecil di pinggir sungai, ada jembatan kecil, di situlah saya dilahirkan. I was born there, pada tanggal 9 bulan 9 tahun 1949. Alhamdulillah, rumah kecil itu sudah kami wakafkan dan sekarang menjadi musholla yang mungil, yang cantik dan mudah-mudahan bisa dijadikan untuk ibadah, siapa saja yang bisa beribadah di situ.
Masa kecil saya tentu di sini, meskipun saya bersekolah di sekolah umum, tetapi kehidupan pondok, mileau atau komunitas yang Islami adalah tentu menjadi dari kehidupan saya dulu, karena orang tua saya asli dari sini. Kakek saya juga dari sini dan ayah saya memang pernah di sini dan saya juga pernah berguru di Gontor. Demikian juga, pendiri-pendiri Gontor juga garis dari leluhur saya dari pihak ayah. Sedangkan pihak ibu dari pondok pesantren Tremas ini. Alhamdulillah kita menjadi keluarga besar.
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Saya ingin mengajak sekali lagi, hadirin-hadirot untuk kembali memanjatkan rasa syukur ke hadirat Allah SWT atas rahmat dan ridho-Nya, kita dapat ber-silaturrahim dengan para Kyai, para Ulama, para Santri dan keluarga besar Pondok Pesantren Tremas. Ucapan selamat saya sampaikan kepada seluruh panitia yang telah berhasil menyelesaikan pemugaran masjid yang megah dan luas ini, rumah Allah yang insya Allah penuh berkah untuk kita semua.
Pada kesempatan ini juga, tadi telah diresmikan Pengoperasian Telekomunikasi Perdesaan yang mencakup 8 Kabupaten di Jawa Timur dan Jawa Tengah serta satu Kabupaten di Lampung. Kepada saudara-saudara saya rakyat Indonesia yang berada di tempat-tempat tersebut, yang ikut mendengarkan sambutan saya ini, saya ucapkan Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Dan semoga saudara bisa menyimak apa yang akan saya sampaikan pada kesempatan yang baik ini.
Saya sangat bersyukur dan tentu turut berbangga hati dengan perkembangan dan kemajuan Perguruan Islam Pondok Tremas Pacitan. Sejak didirikan pada tahun 1830, Gus Fuad mengatakan setelah selesai Perang Diponegoro. Perang Diponegoro berlangsung dari tahun 1825 sampai 1830. Pangeran Diponegoro seorang ulama besar, seorang pejuang, seorang pemimpin telah mengisi lembaran sejarah perjuangan bangsa.
Kepada para santri, saya mau tanya: Pangeran Diponegoro itu dimakamkan dimana? Di Makasar. Kebetulan Pangdam Brawijaya, beliau juga dari Makasar, di jalan apa dimakamkannya itu? Kalau tidak salah di Jalan Diponegoro, betul? Salah satu panglima perangnya Kyai Sentot Ali Basyah, itu dimakamkan di Bengkulu. Saya pernah ziarah ke makam beliau di Bengkulu.
Jadi, kita harus ingat leluhur-leluhur kita, para pemimpin, para syuhada, para pahlawan supaya kita menjadi bangsa yang besar, bangsa yang arif karena menghormati pendahulu-pendahulu kita, menghormati pemimpin-pemimpin kita yang telah berjuang keras memajukan kehidupan bangsa dan negara kita.
Sejak didirikan pada tahun 1830 itu, perguruan ini telah melahirkan ribuan alumni yang tersebar di seluruh tanah air. KH. Mukti Ali, mantan Menteri Agama Republik Indonesia, beliau juga salah satu alumnus dari Pondok Pesantren Tremas ini. Para alumni yang sebagian berkumpul bersama-sama kita pada hari ini, adalah aset bangsa dan aset umat yang sangat berharga. Para santri dan alumni pesantren ini merupakan insan-insan muslim yang memahami ajaran agama Islam.
Prinsip-prinsip keikhlasan, kesederhanaan, kebebasan, ukhuwah islamiah, dan ukhuwah wathoniah merupakan pilar penting dalam mempertahankan dan mengembangkan perguruan ini. Prinsip-prinsip itu akan senantiasa seiring dan sejalan dengan kemajuan zaman. Dalam segala aspek kehidupan, kita perlu menjaga keikhlasan dalam beramal saleh, sederhana dalam penampilan, namun tetap cerdas dalam berfikir dan berakhlak mulia. Di tengah-tengah arus global yang tidak dapat kita cegah, hubungan ukhuwah Islamiah harus tetap dijaga. Demikian pula semangat kebangsaan harus kita pertahankan dengan semangat ukhuwah wathoniah. Mari kita satukan, kita patrikan dalam jiwa kita, persaudaraan, persahabatan, persatuan. Ukhuwah insaniah sesama umat manusia. Ukhuwah Islamiah sesama umat Islam dan ukhuwah wathoniah sesama bangsa dan tanah air.
Sebagai umat Islam kita berkewajiban untuk mendirikan, memelihara dan memakmurkan masjid serta musholla sebagai bentuk ketakwaan kita kepada Allah SWT. Allah SWT berfirman, “Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah, ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian serta menunaikan sholat dan zakat, merekalah orang-orang yang mendapat petunjuk” (Al Quran: surat At Taubah ayat 18). Saya mengajak saudara-saudara untuk memakmurkan masjid atas dasar iman yang teguh, akhlak yang mulia dan ibadah yang ikhlas. Semua itu ditujukan semata-mata untuk mendapatkan ridho Allah SWT.
Ini bulan yang baik. Tiga hari yang lalu saya bersama-sama dengan para pimpinan lembaga negara, para ulama dan saudara-saudara memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di Istana Negara, Jakarta. Marilah kita sebagai hamba Allah, sebagai kaum muslimin dan muslimat di Indonesia, pandai-pandai dan secara sadar mencontoh apa yang dilakukan Rasulullah. Akhlaknya yang mulia, kecerdasannya, perilakunya yang luhur, tutur katanya yang lembut kepada semua orang, tapi juga kepemimpinannya yang tegas terutama dalam menegakkan hukum dan keadilan. Itulah pemimpin sejati, bukan hanya pemimpin Islam, tapi juga pemimpin umat dan salah satu pemimpin besar di dunia.
Mari, kita teladani semuanya itu. Insya Allah, kalau pemimpin-pemimpin Islam, terutama di negeri tercinta ini meneladani, menerapkan akhlak, sifat, perilaku dan apa yang dilaksanakan Rasulullah. Islam di negeri kita ini betul-betul menjadi rahmat bagi semesta alam, rahmatan lil alamin. Teduh meneduhi jiwa kita, meneduhi hati kita, meneduhi pikiran kita, meneduhi kehidupan bangsa Indonesia. Rindu kita pada kehidupan Islami yang seperti itu. Kehidupan Islami yang penuh kedamaian, ukhuwah, amar ma’ruf nahi munkar, kepedulian pada kaum dhuafa, kaum fakir, kaum miskin, memperjuangkan agenda keumatan. Umat Islam yang lebih sejahtera, lebih terhormat, lebih maju di negeri kita ini, sejalan dengan agenda kebangsaan, maju, sejahtera dan makin terhormatnya bangsa Idonesia, itulah misi besar pemimpin-pemimpin Islam, pemimpin-pemimpin Indonesia.
Akan ada musyawarah besar alumni, bangkitkan tekad dan semangat itu, tampilah sebagai pemimpin-pemimpin Islam sejati, pemimpin-pemimpin di negeri ini, bahkan pemimpin dunia. Membangun dunia yang damai, yang adil, yang demokratis dan yang sejahtera. Insya Allah kalau kita benar-benar dengan ikhlas menjalankan semua itu, bagian dari ibadah kita, bagian dari perjuangan kita seraya memohon ridho Allah SWT, terbuka jalan di depan kita. Allah akan menunjukkan jalan yang lurus menuju semuanya itu ihdinasiratol mustaqiim, Insya Allah.
Hadirin sekalian yang saya hormati,
Partisipasi masyarakat terhadap pentingnya pendidikan dan keagamaan saya akui demikian besar. Pondok Tremas yang dibangun dengan swadaya murni, masyarakat Pacitan dan sekitarnya telah tumbuh menjadi pondok pesantren yang dapat dibanggakan. Hari ini, kita menyaksikan peresmian rehabilitasi masjid yang dapat menampung 4.000 jamaah. Masjid yang berdiri megah ini merupakan wujud nyata dari partisipasi swadaya masyarakat. Partisipasi itu sesuai Nabi Muhammad SAW yang menyatakan, “Barang siapa yang mendirikan masjid karena Allah meski hanya memberikan benda sebesar burung merpati, maka bagi-Nya Allah akan mendirikan rumah di surga.” Alangkah indahnya. Saya berharap masjid yang megah ini akan diisi dengan berbagai kegiatan dalam upaya menyemarakkan syiar Islam.
Kita harus memiliki komitmen yang kuat untuk memberdayakan masjid. Masjid tidak terbatas pada kegiatan sholat berjamaah saja, tetapi lebih luas dikembangkan menjadi pusat dakwah Islam. Masjid adalah pusat ibadah umat Islam, mulai dari ibadah mahda yang bersifat ritual ,hingga ibadah muamalah yang bersifat sosial. Masjid memiliki peranan yang sangat vital dalam dakwah dan pembinaan umat Islam. Di dalam sejarah, Rasulullah SAW, telah menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan umat terutama sebagai pusat tarbiyah, pembinaan dan pendidikan bagi para sahabat dan pembentukan karakter para sahabat sehingga memiliki keimanan serta ketakwaan yang kokoh. Selain masjid, pondok-pondok pesantren, dan lembaga-lembaga pendidikan Islam memiliki peran strategis untuk menanamkan dan mengokohkan akidah akhlak dan nilai-nilai Islam.
Saya ingin lembaga-lembaga pendidikan Islam dapat meningkatkan kualitas lulusannya. Tantangan besar bagi Gus Fuad dan para Kyai di lembaga yang kita cintai ini. Kita berharap para lulusan itu dapat bersaing dengan lulusan dari lembaga pendidikan lainnya. Saya meminta, di sini ada Bapak Menteri Agama, ada Bapak Menteri Pendidikan Nasional untuk terus melakukan program peningkatan kualitas pendidikan kita. Untuk Pak Menteri Agama terutama kualitas lulusan madrasah dan pesantren kita. Bukan hanya memperbaiki kondisi fisiknya, bangunan sekolahnya, masjidnya, tetapi juga memperbaiki sistem pembelajaran yang baik.
Kita tidak menginginkan adanya kesenjangan yang terlalu jauh, gap, antara lembaga pendidikan yang dikelola oleh pemerintah dengan lembaga pendidikan swasta. Lembaga pendidikan pemerintah memang memperoleh fasilitas yang cukup, meskipun masih terus-menerus kita kembangkan. Saya menyadari lembaga pendidikan yang dikelola masyarakat seperti pesantren dan madrasah swasta sebagaian belum memiliki fasilitas yang memadai. Oleh karena itulah, kita ingin terus mengembangkan dengan kerjasama kita, upaya pemerintah dan dukungan dari masyarakat luas, serta swadaya dari masyarakat di sekitarnya. Memang ada yang tumbuh dan berkembang dengan pesat, namun sebagian masih jalan di tempat. Karena itu kesenjangan antara lembaga pendidikan pemerintah dengan lembaga pendidikan swasta harus segera kita hilangkan. Sekarang ini, sebagian pondok-pondok pesantren, termasuk pondok Tremas ini, Alhamdulillah telah berkembang dengan baik.
Kualifikasi para guru dan ustad dengan tingkat pendidikan yang memadai dan kualifikasi akademik yang layak dapat meningkatkan kualitas lulusan yang lebih baik. Demikian pula, fasilitas yang dimiliki tidak kalah dengan lembaga pendidikan yang lainnya, perpustakaan, laboratorium bahasa, saya melihat tadi di atas situ, pusat latihan komputer hingga warung internet. Dengan fasilitas seperti itu, para santri dapat belajar lebih baik lagi. Harus makin cerdas, berbagai informasi dapat dengan mudah diperoleh. Saya yakin lulusan pondok pesantren ini memiliki ilmu agama yang cukup dan ketrampilan yang memadai.
Untuk para santri, kita semua ingin membangun bangsa yang maju dan berdaya saing, bangsa Indonesia secara keseluruhan. Bangsa yang maju, manusia yang maju, bukan hanya manusia yang pintar secara ilmu, cerdas di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi, meskipun itu penting untuk daya saing kita dan kita menuju ke situ. Tapi jangan lupakan bangsa yang maju, manusia yang maju adalah mereka yang memiliki akhlak yang baik, moral yang baik, kepribadian yang baik, ulet, pantang menyerah, tidak mudah menyalahkan orang lain, tapi semangatnya memperbaiki secara bersama dan sehat jasmani serta rohaninya dan rukun satu sama lain.
Kita ingin masa depan para santri nanti betul-betul bagian dari masa depan Indonesia yang lebih maju. Allah SWT menganugerahkan begitu besar kepada bangsa ini. Sumber daya alam yang melimpah, daratan 2.000.000 km2, lautan 6.000.000 km2 yang lain hanya punya minyak di atas permukaan, misalnya kelapa sawit atau kelapa. Negara yang lain punya minyak di bawah permukaan. Negara Timur Tengah biasanya ada tabung gas minyak. Indonesia punya di atas, punya di bawah. Kita punya gas, punya minyak, punya batu bara, diatas punya kelapa sawit, punya kelapa, alhamdulillah. Tetapi semuanya itu tidak ada artinya kalau bangsa kita tidak mengelolanya dengan baik. Tuhan tidak akan merubah nasib sebuah kaum, Tuhan tidak merubah nasib bangsa Indonesia, Tuhan tidak merubah nasib Pacitan kalau kita sendiri, orang Pacitan sendiri, bangsa Indonesia sendiri tidak merubah. Berjuang sekeras tenaga, mohon ridho Allah SWT untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Itulah yang ingin saya titipkan. Dan kepada para alumni, selamat bermusyawarah besar, cerahkan kehidupan Islam, cerahkan kehidupan komunitas Islam, cerahkan kehidupan bangsa, cerahkan kehidupan negara. Kita harus memiliki rasa percaya diri yang tinggi, kita bukan bangsa kecil, sejarah kita besar, negara kita besar, penduduk kita banyak. Insya Allah, dengan kerja keras semua kita ini, tahun-tahun mendatang melangkah bersama, kita akan dapat tampil sejajar secara terhormat dengan bangsa-bangsa lain yang telah lebih maju dibandingkan kita.
Saatnya akan tiba dan kita sedang menuju ke masa depan itu membangun Indonesia yang lebih baik. Jangan menonton, jangan di luar barisan, jangan hanya pandai mengecam dan menyalahkan, ikut di dalamnya. Mari kita bikin baik bangsa dan negara kita menjadi masa depan yang baik. Demikianlah yang dapat saya sampaikan, Gus Fuad, para Kyai, saudara-saudaraku semuanya yang hadir di Pondok Pesantren Tremas ini. Dan dengan mengucapkan Bismilahirahmanirrahim, saya resmikan pemugaran masjid yang indah, rumah Allah yang indah ini, dan kemudian saya nyatakan dimulainya Musyawarah Besar Alumni Perguruan Islam Pondok Tremas, Pacitan. Semoga Allah SWT memberikan bimbingan, petunjuk dan lindungannya kepada kita sekalian.
Sekian.
Wasalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
******
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



