Pidato Presiden
Transkripsi Pembukaan Pasamuan Agung II WALUBI
TRANSKRIPSI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PEMBUKAAN PASAMUAN AGUNG II
PERWAKILAN UMAT BUDDHA (WALUBI)
PEKAN RAYA JAKARTA, 21 APRIL 2006
Bismillahirrahmannirrahim,
Yang saya hormati Wakil Ketua DPR RI, Bapak Soetarjo Suryoguritno,
Saudara Menteri Agama dan Para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Saudara Kapolri dan Para Pimpinan Lembaga-Lembaga Negara dan Lembaga Pemerintah,
Yang saya hormati Saudara Wakil Gubernur DKI Jakarta,
Saudara atau Saudari Ketua Umum DPP WALUBI, Ibu Siti Hartati Murdaya beserta Bapak,
Yang saya muliakan Para Pemuka Agama, khususnya Pemuka Agama Buddha,
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Marilah sekali lagi, kita memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena hari ini, kita dapat berkumpul untuk menghadiri Pembukaan Pasamuan Agung ke-II, Perwakilan Umat Buddha Indonesia, WALUBI. Saya ingin menggunakan kesempatan yang membahagiakan ini untuk mengucapkan selamat dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada seluruh jajaran Pengurus WALUBI yang telah membimbing dan membina umatnya dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara.
Hadirin sekalian,
Sebagaimana kita ketahui bersama, bangsa Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Bangsa kita terdiri dari berbagai suku, bahasa, adat istiadat, agama dan sejumlah identitas yang berbeda-beda. Sebagian besar rakyat kita memeluk agama Islam, sebagiannya lagi memeluk Agama Kristen, agama Hindu, Agama Buddha dan agama Konghuchu. Keragaman agama yang dipeluk oleh bangsa kita itu, menjadikan toleransi sebagai suatu kebutuhan yang harus diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan negara.
Kita perlu, saya ulangi, kita perlu terus memupuk kerukunan hidup antar umat beragama yang merupakan prasyarat penting bagi pembangunan, persatuan, dan kesatuan bangsa. Bangsa dan negara kita tidak akan tegak berdiri, jika tidak ada toleransi diantara penganut agama yang berbeda. Toleransi menjadi faktor penting dalam membangun kebersamaan diantara perbedaan-perbedaan yang ada itu. Sesuai dengan amanat konstutusi, pemerintah berkewajiban untuk mengayomi, melindungi dan menjamin kemerdekaan seluruh penduduk untuk memeluk agamanya masing–masing dan beribadat menurut agama dan kepercayaanya itu.
Belum lama ini, pemerintah telah mengeluarkan peraturan bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri, Nomor 9 Tahun 2006, Nomor 8 Tahun 2006 tentang pedoman pelaksanaan tugas Kepala Daerah atau Wakil Kepala Daerah dalam pemeliharaan kerukunan umat beragama, pemberdayaan forum, kerukunan umat beragama dan pendirian rumah ibadat. Peraturan bersama itu merupakan penyempurnaan dari keputusan bersama Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri yang dikeluarkan Tahun 1969. Saya berpendapat peraturan bersama kedua Menteri itu, memiliki nilai strategis dalam upaya memelihara kerukunan antarumat beragama serta memelihara persatuan dan kesatuan bangsa.
Kerukunan antar umat beragama adalah bagian intregral dari kerukunan bermasyarakat berbangsa dan bernegara. Kita menyadari bahwa hak untuk memeluk agama adalah hak paling asasi bagi manusia. Setiap orang bebas memilih agama dan beribadat menurut agamanya itu. Seperti saya katakan tadi, pemerintah berkewajiban untuk melindungi masing-masing pemeluk agama untuk melaksanakan ajaran agamanya. Pemerintah juga berkewajiban untuk melindungi ajaran suatu agama, agar tidak dinodai oleh mereka yang tidak bertanggung jawab. Sebaliknya para pemeluk agama pun berkewajiban untuk saling menghormati, saling menghargai satu sama lain sebagai wujud dari toleransi beragama.
Toleransi beragama, sebagaimana yang saya kemukakan tadi, diharapkan akan mampu menciptakan keharmonisan dan keseimbangan dalam kehidupan masyarakat. Keharmonisan dan keseimbangan itu adalah sesungguhnya bagian dari hukum yang berlaku di alam semesta. Melanggar keseimbangan, sama artinya dengan melanggar hukum alam. Setiap orang dengan segala perbedaannya harus dapat hidup saling menghargai perbedaan masing-masing. Satu sama lain, harus saling memberikan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang menuju kekehidupan yang lebih baik. Jangan sampai ada satu kelompok menghambat dinamika kelompok lainnya, justru sebaliknya mereka harus saling membuka ruang untuk kemajuan bersama, bukan kemajuan sendiri-sendiri, kemajuan masing-masing. Prinsip-prinsip seperti itu harus selalu kita pelihara, karena sejalan dengan falsafah kita dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Hadirin yang saya muliakan,
Sebagai organisasi umat Buddha Indonesia, WALUBI telah menunjukkan peran dan fungsinya dalam proses pembangunan mental, spiritual dan toleransi dan diantara umat beragama. Pengurus WALUBI telah bekerja dengan baik, melaksanakan dharma baktinya dalam membina, saya ulangi, dalam membina majelis-majelis umat Buddha, sesuai dengan ajaran Sidharta Gautama.
Sang Buddha telah mengajarkan jalan kehidupan yang baik, budi yang luhur, dan pengabdian yang ikhlas untuk menuntun umatnya dalam mencapai kehidupan di dunia fana. Kesederhanaan, kejujuran, ketaatan dan kedisiplinan telah menjadikan ajaran Sang Buddha menjadi teladan bagi umat manusia. Sejak berabad-abad yang lalu Sang Buddha telah mengajarkan arti, hakekat, makna dan tujuan kehidupan umat manusia. Sang Buddha telah memberikan teladan dalam sejarah kehidupannya. Beliau rela meninggalkan segala hal yang bersifat duniawi demi mencapai tujuan hidup yang lebih hakiki. Beliau rela meninggalkan kemewahan Istana untuk tujuan yang mulia. Dengan berkaca perjalanan sejarah Sidharta Gautama, umat Buddha akan lebih memahami dan memaknai hidup yang sesungguhnya. Hanya umat Buddha yang sungguh-sungguh menjalankan dharma yang akan memperoleh pencerahan batin dalam hidupnya.
Dharma yang diajarkan Sang Buddha di masa silam tetap mengandung nilai-nilai luhur di masa kini dan tentunya di masa depan. Kerelaan berkorban demi kemanusiaan adalah salah satu dharma yang diajarkan Sang Buddha. Ajaran Sang Buddha tentang dharma berisi nilai-nilai falsafah yang mendalam. Bagi umat Buddha ajaran itu tertentu mengandung nilai-nilai filosofis yang sangat penting dalam mengarungi kehidupan di dunia fana ini. Kehidupan di dunia fana yang penuh godaan dan cobaan, mengharuskan setiap umat manusia untuk dapat memilah dan memilih jalan agar selamat mengarungi bahtera kehidupan.
Hadirin yang saya hormati,
Dharma yang diajarkan oleh Sang Buddha itu, mudah-mudahan dapat terus diwujudkan oleh WALUBI dalam membangun kesadaran, solidaritas umat Buddha di seluruh tanah air. Ketika terjadi becana tsunami di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, dan Sumatra Utara tanpa membeda-bedakan suku dan agama, umat Buddha telah mengabdikan darmanya dengan mengadakan bakti sosial kemanusiaan disana, dengan ketulusan batin dan keikhlasan berkorban umat Buddha telah membantu saudara-saudara kita yang berbeda agama. Selain peran tadi, WALUBI diharapkan dapat terus menerus menjalin hubungan yang baik dengan umat beragama yang lain, dan terus-menerus membimbing, membina dan mempersatukan umatnya demi tercapainya kedamaian, ketentraman dan kesejahteraan bersama. Melalui Pasamuan Agung yang kedua ini, tentunya seluruh umat Buddha berharap dapat bersatu padu bahu-membahu dan berjuang bersama-sama meningkatkan kinerja organisasi WALUBI. Sebagai organisasi yang bersifat keagamaan, melaui Pasamuan Agung ini dapat bersama-sama menyusun program organisasi, terutama dapat membina majelis-majelis dan lembaga keagamaan Buddha diseluruh tanah air, pembinaan majelis-majelis dan lembaga keagamaan Buddha itu, saya anggap penting, karena dengan pembinaan yang intensif dan kerjasama yang dibangun dengan baik pemahaman ajaran agama akan semakin dalam. Umat Buddha akan menunjukkan jati dirinya sebagi umat yang baik, taat beribadah dan menjunjung tinggi nilai-nilai moral.
Saat ini, hadirin sekalian yang saya muliakan,
Nilai-nilai moral yang luhur menjadi langka dan mahal dalam kehidupan global yang semakin kompleks. Arus budaya yang deras mendera dari manca negara, tidak dapat kita cegah. Kita harus mau mengakui, masih ada sebagian bangsa kita yang memiliki kelemahan moral, tidak menghormati nilai-nilai etika, dan melanggar kesusilaan, pelanggaran terhadap moral, etika, dan kesusilaan itu, telah menyebabkan timbulnya berbagai bentuk kekerasan, perilaku menyimpang dan tindak kejahatan. Tidak ada satu pun manusia dimuka bumi ini yang menginginkan kekacauan, pada umumnya semua manusia mendambakan kehidupan yang bahagia, aman, damai dan sejahtera. Sebab itu saya mengajak umat Buddha untuk mewujudkan nilai-nilai luhur, moral dan etika yang mulia itu dalam kehidupan sehari-hari.
WALUBI diharapkan dapat membimbing umat dan bangsa kita dalam mengembalikan nilai-nilai moral dan budaya adi luhung yang sesungguhnya telah kita miliki sejak jaman dahulu kala. Berkaitan dengan hal-hal yang saya sebutkan tadi, salah satu tugas para tokoh dan organisasi keagamaan adalah menjaga moral para penganut agamanya. Jika moralitas mereka baik, maka akan baiklah jalannya kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kita. Sebaliknya jika moral runtuh, akan runtuh pula sendi kehidupan bangsa kita, saya yakin dan percaya para tokoh agama Buddha, para Biksu dan WALUBI akan senantiasa akan mengajak umatnya untuk menempuh jalan kebajikan dengan nilai-nilai moral dan etika yang sesuai dengan ajaran Sang Buddha.
Sebelum saya mengakhiri sambutan saya, hadirin yang saya muliakan, saya mengajak dan menyampaikan kepada seluruh komponen bangsa untuk bersama-sama menyelamatkan dan membangun kehidupan kita yang lebih baik dimasa depan. Dewasa ini kita hidup dalam era globalisasi serta era demokratisasi, dan reformasi nasional, salah satu ciri era globalisasi dan era demokratisasi, reformasi di negeri ini adalah makin tumbuh, makin menguat dan makin berkembang yang kita sebut kebebasan atau freedom, termasuk kebebasan perseorangan, individual freedom. Kebebasan memang bukan hanya salah satu hak asasi manusia yang bersifat universal, tetapi juga merupakan ruh dari demokratisasi dan reformasi yang sedang kita jalankan di negeri ini. Ini juga merupakan koreksi dari sempitnya ruang kebebasan yang terjadi di waktu yang lalu. Oleh karena itu wajib bagi kita untuk terus memelihara ruang kebebasan yang pantas, yang baik, bagi kehidupan kita bersama.
Tantangannya adalah, dengan semakin meningkat dan berkembangnya kebebasan itu, kita harus dapat memastikan bahwa kebebasan itu adalah untuk kebaikan bersama, untuk kepentingan bersama, kebebasan tidak boleh mengancam kebebasan pihak lain, sebagaimana yang tertuang dalam Undang-undang Dasar 45, kebebasan harus bergandengan dengan toleransi yang tadi saya sebutkan secara lebih luas, karena tidak ada kebebasan yang mutlak. Toleransi harus hidup bersama dengan kebebasan dan yang tidak kalah pentingnya, kebebasan itu juga harus bergandengan dengan kepatuhan pada pranata sosial dan pranata hukum.
Freedom harus bisa bergandengan dengan rule of law, itu tantangan yang harus dapat kita jawab secara bersama, oleh karena itu melalui forum terhormat ini, dan juga kepada seluruh rakyat Indonesia, semua komponen bangsa dimanapun berada, saya mengajak untuk menjalankan tugas, tugas yang mulia, untuk menjawab tantangan tadi yaitu dengan cara, mari kita bangun dan kita mantapkan tiga pilar kehidupan bangsa, tiga pilar kehidupan demokrasi, satu, kebebasan, dua, toleransi, dan ketiga adalah pranata hukum, atau rule of law, tiga-tiga ini sangat penting, untuk kita wujudkan di negeri kita, di negeri yang majemuk, dinegeri yang terus berkembang dalam era globalisasi yang makin kompleks dewasa ini.
Pendek kata, kita semua, inilah yang dapat saya sampaikan pada acara yang sungguh mulia ini, sekaligus ajakan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk mengimbangkan pilar-pilar kehidupan bersama yang sehat, yang adil, yang damai dan membawa kesejahteraan lahir dan batin.
Hadirin yang saya muliakan,
Demikianlah sambutan saya, mudah-mudahan Pasamuan Agung ke-II, Perwakilan Umat Buddha Indonesia, dapat digunakan sebagai wahana dalam rangka mengevaluasi program kerja yang lalu dan menyusun program yang akan datang. Kepada pengurus Dewan Pimpinan Pusat WALUBI Periode yang akan datang, saya berpesan agar dapat meningkatkan keharmonisan hidup beragama dan membawa umat Buddha khususnya, serta bangsa dan negara kita yang lebih baik. Dengan memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa Pasamuan Agung ke-II Perwakilan Umat Buddha Indonesia dengan resmi saya nyatakan di buka.
Terima kasih.
******
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



