Pidato Presiden

Sambutan Pada Acara Pembukaan Rapat Majelis Pimpinan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia

 

Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu''alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Yang sama-sama kita cintai, Bapak Profesor Dr. Baharuddin Yusuf Habibie, baik selaku ketua Dewan Kehormatan Ikatan Cendekiawan Muslim Se-Indonesia maupun sebagai mantan Presiden Republik Indonesia.
Yang saya hormati Para Pimpinan Lembaga-Lembaga Negara,
Yang mulia Para Duta Besar negara-negara sahabat,
Yang saya hormati Para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu dan para mantan Menteri,
Yang saya hormati Saudara Wakil Gubernur DKI Jakarta,
Yang saya hormati Ketua Dewan dan Anggota Dewan, Penasehat dan Dewan Pakar ICMI,
Yang saya hormati Saudari Ketua Presidium Majelis Pimpinan ICMI bersama Anggota Presidium,
Yang saya muliakan para Ulama, para Cendekiawan dan tokoh-tokoh nasional, keluarga besar ICMI,

Hadirin sekalian yang saya muliakan.
Pada kesempatan yang baik dan insya Allah penuh berkah ini, saya mengajak hadirin sekalian, untuk sekali lagi memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, atas perkenan, rahmat dan ridho-Nya pada kita sekalian masih diberi semangat, kekuatan dan kesehatan, baik lahir maupun batin untuk melanjutkan tugas dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara. Kembali saya mendapat kehormatan untuk dapat hadir dan membuka secara resmi salah satu kegiatan penting ICMI pada malam hari ini, yaitu Rapat Majelis Pimpinan Paripurna Ikatan Cendikiawan Muslim se-Indonesia. Setelah alhamdulilah pada 4 Desember 2005 lalu, saya juga mendapat kehormatan untuk membuka dan menghadiri Muktamar ICMI ke-4 di Makassar.

Sebagaimana yang saya sampaikan dalam sambutan Muktamar ke-4 yang lalu, pada malam hari ini di hadapan forum yang mulia ini termasuk saudara-saudara kita yang datang dari seluruh penjuru tanah air tentu tidak tepat kalau saya menyampaikan sambutan yang bernuansa seremonial. Justru ijinkan saya untuk ikut menyumbangkan pikiran dan gagasan yang boleh jadi, dapat melengkapi pikiran-pikiran yang hendak dibahas dalam rapat majelis pimpinan paripurna kali ini.

Hadirin sekalian,
Pada Muktamar ke-4 yang lalu, dalam pengantar sambutan saya mengatakan bahwa atas nama pribadi dan pemerintah, saya sungguh berharap agar ICMI dapat melakukan pencerahan dan pencerdasan kehidupan bangsa, agar ICMI dapat menyumbangkan pikiran dan gagasannya yang arif, yang fundamental dan menjangkau ke depan serta dapat menawarkan berbagai solusi untuk memecahkan masalah-masalah kebangsaan dan masalah keumatan. Saya sangat berterima kasih dan memberikan apresiasi yang tinggi, ketika kami ber-silaturrahim dengan pimpinan ICMI waktu itu di Istana Negara bahwa delapan titipan saya, pekerjaan rumah yang dulu saya sampaikan di Makassar antara lain pentingnya melanjutkan pembangunan ekonomi, meningkatkan kualitas hidup masyarakat kita, kemudian membangun tata pemerintahan yang baik sekaligus meningkatkan pemberantasan korupsi, menegakkan keamanan nasional dalam arti yang luas, termasuk human security, meningkatkan dan mengembangkan kebijakan energi nasional, meningkatkan penguasaan teknologi, termasuk information technology dan kemudian meningkatkan peran internasional kita dan yang maha penting waktu itu, bagaimana Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia dapat terus menjadi motor penggerak di dalam menyukseskan agenda keumatan. Jadikan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam, menaburkan akhlakulkarimah, memperkuat ukhuwah, menegakan amal ma''ruf nahi munkar dan berpihak kepada kaum dhuafa, kaum fakir miskin di negeri ini. Saya berbangga, dan berbesar hati bahwa hakiki dari delapan pekerjaan rumah itu telah tertuang secara baik di dalam program yang telah ditetapkan oleh pimpinan ICMI.

Hadirin yang saya muliakan,
Tema rapat majelis pimpinan paripurna kali ini saya anggap sangat-sangat tepat. Setelah mendengarkan apa yang disampaikan oleh Saudara Riki Rahmadi dan Ibu Marwah Daud Ibrahim tadi, maka kalimat ini harus kita berikan makna yang sungguh dalam: bersama membangun kemandirian dan kesejahteraan bangsa. Seperti biasanya, saya mohon ijin Pak Habibie, pidato saya ini boleh dikatakan to challenge and to provoke sesuatu kepada ICMI. Mengapa saya berani to provoke and to challenge? Sebab saya yakin dengan ridho Allah SWT, ICMI bisa mengemban tugas yang besar ini. Kalau call saya tidak tinggi, barangkali lusa bisa diselesaikan oleh ICMI. Saya kasih call yang lebih tinggi lagi itupun insya Allah dapat dicapai. Mari kita kupas tema yang relevan, kontekstual dan tepat waktu ini.

Kalau kita bicara kemandirian, harus paham betul bahwa negara kita memiliki fundamental yang kuat, memiliki potensi yang bisa diolah menjadi kekuatan efektif dan kita memiliki tingkat sustainability yang kuat dan menjangkau ke depan. Mandiri berarti kita bebas dari absolut dependency, ketergantungan mutlak kepada pihak manapun juga dalam era globalisasi ini. Lima hari yang lalu dalam Musrenbang nasional, saya berbicara di depan para Menteri, para pimpinan lembaga pemerintahan non Departemen, para Gubernur, Bupati dan Walikota se-Indonesia. Insya Allah dengan kerja keras, Indonesia maju ke depan menjadi bangsa yang maju, bangsa yang kuat, dan bangsa yang sejahtera. Apabila sepuluh tahun belum dapat kita capai kita teruskan, apabila dua puluh tahun itupun belum dapat tercapai kita lanjutkan saatnya akan datang nanti. Tiga puluh tahun barangkali atau berapa lama lagi Indonesia benar-benar menjadi negara yang maju, negara yang kuat dan sejahtera. Di situ kemandirian dalam arti yang luas dapat kita capai. Maju berarti kita menjadi developed country, ekonomi kita menjadi knowledge based economic, masyarakat kita menjadi knowledge based society. Kuat secara politik, kuat secara ekonomi dan kuat secara ketahanan, kemudian sejahtera. Singkatnya, jumlah saudara-saudara kita yang miskin akan sangat kecil, makin kecil sehingga kekuatan kesejahteraan ekonomi kita makin tumbuh berkembang dan makin besar di negeri kita ini. Itulah karakteristik bangsa yang maju, bangsa yang kuat, dan bangsa yang sejahtera. Tentu kita ingin menuju ke situ.

Ada satu kajian di Eropa untuk mengukur keberhasilan negara-negara di abad duapuluh satu ini, sama saja sesungguhnya. Negara dianggap berhasil, akan maju apabila, pertama memiliki sustainability, yang kedua apabila ada individual freedom and fairness, searah dengan demokratisasi kita. Yang ketiga ada harmoni, cantik, kerukunan keberhasilan kita. Dan yang keempat adalah readiness for the future, siap kita menghadapi masa depan. Di sini penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi sangat -sangat penting. Bicara mandiri, itulah yang kita tuju. Bicara kemandirian, agenda-agenda itulah yang harus kita bangun masa kini dan masa depan.

Hasil kontemplasi saya, hadirin sekalian dibandingkan satu negara dengan negara yang lain, belajar dari negara-negara yang telah maju, terutama negara-negara berkembang yang sekarang sudah menjadi negara maju katakanlah seperti itu, maka ada tiga hal utama kehidupan sebuah bangsa, menuju bangsa maju. Yang pertama, ada kompetensi negara (competent state). Bukan hanya pemerintah semata, tetapi semua lembaga-lembaga negara kompeten, memiliki kemampuan eksekutif, legislatif, yudikatif, lembaga audit dan lembaga-lembaga negara yang lain.

Yang kedua, disamping competent state harus punya contributy society, seperti ICMI sekarang ini social society, society yang partisipatif, kontributif dan tidak pernah berhenti untuk memikirkan kemajuan masyarakatnya. Dan yang ketiga, committed leadership, leadership at all levels, Presiden, Menteri, Gubernur, Bupati dan Walikota termasuk pemimpin-pemimpin non pemerintahan, we are all leaders. Kalau kita bertanggung jawab, we are all committed, insya Allah bersama-sama dengan negara yang kompeten bersama-sama dengan masyarakat yang kontributif dan ikut serta dalam menuju kemandirian bangsa tadi, jalan menuju kesejahteraan bangsa akan dapat kita lalui dengan lebih cepat dan berhasil lagi.

Hadirin sekalian,
Membangun kemandirian dan kesejahteraan hakekatnya adalah membangun bangsa, pembangunan, development itulah yang kita lakukan berdasawarsa-dasawarsa hingga hari ini. Ada satu keperluan, untuk melakukan satu telaah itu atau review, saya titip sekaligus kepada ICMI untuk melakukan telaah dan review ini, tentang apakah pembangunan yang berjalan di negeri ini sudah benar, tepat, mengarah kepada tujuan yang kita hendaki bersama. Melakukan kajian, telaah, dan review tidak ditabukan. Pembangunan sesuatu yang dinamis dari masa ke masa tantangannya berubah permasalahnnya berkembang. Oleh karena itu, menjadi bagian tidak terpisahkan dalam pembangunan itu sebuah telaah kritis, review maupun kajian-kajian yang diperlukan, unfinished review. Kita lihat apakah sistem model yang kita anut sudah tepat untuk bangsa kita, bukan untuk bangsa lain. Apakah strategi dan kebijakan sudah tepat, apa perlu kita kemas ginikan atau kita update lantas juga apakah konsep-konsepnya yang kita terapkan sekarang ini sudah tepat adanya atau kita lakukan perbaikan-perbaikan dan penyempurnaan-penyempurnaan di sana-sini.

Sekarang ini, dalam era globalisasi, dalam gelombang reformasi dan demokratisasi di kita ini, muncul berbagai wacana dan debat, dan tidak usah kita menganggap sesuatu yang tidak wajar, itu biasa dalam iklim demokratisasi dalam iklim reformasi. Ada semacam clash of ideology, kapitalisme lawan sosialisme, nasionalisme lawan globalisme, pasar lawan negara, di negara manapun ini unfinished debate. Yang penting, mari kita pahami masalah-masalah fundamental yang kita hadapi, kita pilih, kita adopsi, kita kembangkan system, model kebijakan strategi dan konsep-konsep yang tepat untuk negeri kita, untuk bangsa kita. Kita harus bisa keluar dari benturan stigma, dari clash of ideology yang kaku karena bukan itu yang kita perlukan. Yang kita perlukan adalah telaah dan kemudian kajian atas apa yang kita lakukan bersama dalam membangun bangsa dan negara kita di waktu yang akan datang.

Pada kesempatan yang baik ini, mohon, agar kita kembali ke basic, back to basic ada kesalahan paradigma apabila yang hendak kita tuju adalah hanya economic growth yang itupun didefinisikan secara sempit narrow economic goal, income perkapita itu salah satu indikator penting kalau kita mengukur pertumbuhan ekonomi. Tetapi mari kita dari economic growth menjadi economic development. Apa itu disamping baiknya dan berkembangnya makro ekonomi kita, kita harus langsung menjemput pada muaranya, pada ultimate objective, apa itu dignity, quality dari bangsa kita, dari rakyat kita the quality of life of the people. Bukan sekedar income perkapita bukan sekedar pendapatan sehari-hari saja, meskipun itu penting tetapi menyangkut standard of living, pendidikan, kesehatan, rasa aman, pangan dan sebagainya, yang kita sebut dengan basic human need. Kalau itu yang kita kejar, maka yang disampaikan tadi oleh Ketua Presidium ICMI, oleh ketua panitia dan saya tahu dalam pembahasan-pembahasan di lingkungan ICMI menjadi sangat relevan, karena kita berubah dari statistik ekonomi menjadi statistik kesejahteraan rakyat. MDGs, Millenium development goals yang diharapkan 2015 pada capaian-capaian yang signifikan juga bagian penting dari semuanya itu. Mari kita lakukan perubahan paradigma. Keberhasilan ekonomi itu adalah sebagai immediate of objective untuk menuju ke peningkatan kesejahteraan rakyat, living standard, human development index dan quality of life of the people. Itulah yang hendak kita tuju dan tentunya semua itu harus kita kaitkan dengan tema besar pada malam hari ini.

Hadirin Sekalian,
Kalau kita sejenak melihat perkembangan Asia Pasifik, perkembangan Asia, perkembangan Asia Tenggara, kita juga perlu belajar success soul dari negara-negara itu. Satu kesimpulan akbar, bahwa negara-negara di Asia setelah berjuang selama empat dasawarsa ini tumbuh, sebagian menjadi negara yang maju, tentu setelah Jepang ada empat macan Asia, Taiwan, Korea Selatan, Hongkong dan Singapura. Ada dua negara besar yang sedang tumbuh China dan India, konon katanya ada macan-macan kecil sebelum krisis Indonesia disebut-sebut seperti Malaysia, Thailand, Indonesia dan Philipina dan lain-lain. Yang dapat kita simpulkan, ternyata kemajuan keempat negara-negara itu karena industrialisasi karena kekuatan ekspornya dan karena investasi atau in flow of the current capital. Kalau ditinjau dari situ Indonesia sesungguhnya tidak terlalu buruk ada kemajuan, tetapi bila dilihat kembali dari 220 juta penduduk kita, berapa yang bisa kita ukur memiliki quality of life yang baik di situ bangsa kita, kita semua ICMI harus berpikir keras dan bekerja keras untuk langsung sampai tujuan-tujuan itu.

Ternyata saudara-saudara, kalau kita melihat negara-negara di Asia, ukuran penduduk itu menjadi faktor yang penting the size of the population matters. Bandingkan China, Indonesia dengan India dan negara-negara lain karena besarnya pendududuk. Ternyata ukuran negara itu juga merupakan faktor penting dalam arti seperti India, China dan Indonesia disamping yang maju ada kantong-kantong keterbelakangan, belum infrastuktur, itu juga harus kita lihat secara baik. Level of education dan teknologi membedakan perkembangan bangsa-bangsa di Asia ini dan kemudian yang sangat-sangat penting karena ini adalah sumber daya manusia, human capital, apakah bangsa Indonesia memiliki save yang tinggi, disiplin yang tinggi, semangat kerja yang keras dan memiliki kohesi sosial. Dua terakhir pendidikan dan teknologi ditambah dengan karakteristik bangsa yang satu itu yang bersemangat, yang berdisiplin, yang mau bekerja keras dan rukun satu sama lain, ternyata menjadikan faktor utama dalam daya saing sebuah bangsa, produktifitas sebuah bangsa, ekonomi dan masyarakat yang efisien. Kalau kita kaitkan dengan empat faktor tadi, maka Indonesia sebelum krisis kita maju ke depan, krisis terhenti. Setelah krisis pelan-pelan kita maju kembali. Kalau kita lihat lagi pertumbuhan sekarang ini sudah mendekati sebelum krisis. Kemudian industrialisasi bergerak meskipun sektor riil masih ada hambatan, lantas ekspor pelan-pelan kita naikkan kembali, kalau kita lihat statistik itu, kita bisa mengatakan we are about ok, tetapi sekali lagi kalau kita langsung melihat kesejahteraan rakyat tadi, kualitas hidup rakyat tadi, kehidupanya maka masih panjang yang harus kita tempuh dan lalui.

Akhirnya, dari apa yang saya sampaikan tadi mengait pada tema besar, bersama membangun kemandirian dan kesejahteraan bangsa ini, memperhatikan program kebijakan strategi yang disusun ICMI, saya menyampaikan pikiran semoga bisa menjadi bahan telaahan disamping dari Bapak Habibie, disamping dari pimpinan dan pejabat yang lain, agar dalam mewujudkan tema besar ini, mari kita perkuat fundamental kita. Apa yang sudah kita dapat hasilkan dari pembangunan sejak 1945 ini, mari kita pertahankan menjadi engine of development, jangan disia-siakan, jangan ditelantarkan apalagi jangan dirusak. Itu adalah satu capaian yang dengan susah payah telah dilakukan sejak pemerintahan mendiang Bung Karno, Pak Harto, Pak Habibie, Gus Dur , Ibu Mega yang menjadi emitas capital, mari kita daya gunakan apa yang sudah ada itu. Yang kedua, menelaah kemajuan negara-negara lain, menelaah keadaan dalam negeri kita sendiri maka sudah sampai sudah tiba saatnya bahwa dalam rangka pembangunan ini kita harus mengajak, memperdayakan, melibatkan kaum marjinal dalam proses pembangunan. Apa yang dilakukan ICMI di seluruh Indonesia, di kabupaten di kota, energi, pertanian, jasa, usaha kecil yang disebutkan tadi oleh Ibu Marwah Daud Ibrahim, saya kira satu contoh nyata bahwa kita mengajak, melibatkan, membawa serta masyarakat dalam pertumbuhan.

Dalam kunjungan saya ke berbagai daerah dan pelosok Indonesia selama ini, saya mengambil kesimpulan bahwa kemajuan memang belum merata, kesenjangan masiih menganga. Oleh karena itu, jemput, ajak jangan hanya menggantungkan teori triger down effect kalau ekonominya tumbuh otomatis yang lainya ikut sejahtera itu betul mari kita jemput, mari kita lakukan program-program khusus, mari kita libatkan mereka dalam proses pertumbuhan ini. Kalau itu dapat dilakukan Insya Allah dengan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa kemajuan pembangunan bersama-sama dengan kemajuan orang seorang bersama-sama dengan kemajuan kelompok-kelompok marjinal, ekonomi lemah dan saudara-saudara kita yang masih terbelakang.

Dan terakhir, kebersamaan dan keterpaduan sangat kita harapkan, Pemerintah dan lembaga-lembaga negara yang lain, Akademisi, Universitas, mari kita bersama-sama. Dunia usaha mari bersama-sama. Civil society bersama-sama kalau lihat elemen-elemen ini saya kira, ICMI bisa masuk dimana-mana, civil society bisa masuk, perguruan tinggi bisa masuk. Barangkali para pengusaha yang ada beberapa pengusaha ICMI juga banyak dan jangan lupa kita memiliki International Partner. Dalam era globalisasi, kerjasama dan kemitraan tidak ditabukan. Yang penting kerjasama dan kemitraan itu menguntungkan negeri kita, membawa manfaat bagi bangsa kita, fair, adil dan kita bisa mengalirkan sumber-sumber kemakmuran teknologi, informasi, investasi dan lain-lain, disamping kita sendiri meningkatkan potensi yang kita miliki.

Itulah saudara-saudara sekalian yang saya titipkan, yang saya sumbangkan dan dengan demikian saya menunggu kiprah dari keluarga besar ICMI. Selamat datang, selamat bersama-sama mengemban tugas negara dan bangsa ini. Dan tentunya sebagaimana tekad yang disampaikan oleh Ketua presidium, tentu kemitraan secara kritis dan konstruktif itulah yang menjadi kerangka kerjasama terbaik antara ICMI, civil society dengan pemerintah yang sedang mengemban tugas negara dewasa ini. Demikian hadirin sekalian dan dengan memohon Ridho Allah SWT seraya mengucapakan Bismilahirahmanirrahim, Rapat Majelis Pimpinan Paripurna Ikatan Cendikiawan Muslim Se-Indonesia dengan resmi saya nyatakan dibuka.

Wassalamu''alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

******
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan