Pidato Presiden
Pengarahan Presiden di Dalam Pesawat dari Jakarta Menuju Riyadh
PENGARAHAN
PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
DI DALAM PESAWAT DARI JAKARTA MENUJU RIYADH
SELASA, 25 APRIL 2006
Assalamu alaikum Wr. Wb.
Selamat sore, salam sejahtera,
Alhamdulillah, kita sudah melampaui setengah perjalanan. Insya Allah empat setengah jam lagi kita akan sampai di tempat tujuan, di kota Riyadh, ibukota Kerajaan Saudi Arabia. Bagi yang pertama kali bergabung dengan saya dalam kunjungan kenegaraan ini, saya ucapkan selamat bergabung, bergabung untuk mengemban tugas bersama, bukan tugas saya pribadi sebagai Kepala Negara, bukan tugas pemerintah, tapi tugas kita semua, Indonesia incorporated.
Oleh karena itu, meskipun nanti ada pertemuan G to G, dan akan diatur, ada yang saudara bersama-sama, ada yang dalam jumlah terbatas, tetapi marilah kita gunakan peluang emas ini untuk melakukan apa saja yang dapat kita lakukan, karena persahabatan dan kerja sama antar bangsa itu tidak hanya G to G, tapi juga parliament to parliament, business to business, people to people, media to media, dan semua, stakeholders dari sebuah negara. Dan saya tradisikan bagi yang sering bersama-sama saya, selama kita berada di negara sahabat, mari kita lakukan sesuatu yang terbaik untuk bangsa dan negara kita. Di samping menjadi duta bangsa, mencerminkan sikap, perilaku dan tutur kata yang baik, karena bahasa menunjukkan bangsa, mari kita juga menjadi tamu yang baik. Tentunya, kunjungan kita kali ini ke lima negara, Saudi Arabia, Kuwait, Qatar, United Arab Emirates dan Yordania, memiliki arti yang penting, yang strategis dan menjangkau ke depan.
Saya lihat rombongan kali ini cukup lengkap, di samping dari jajaran Kabinet dan staf, pimpinan Perguruan Tinggi, paling tidak dari UI dan dari UIN Bandung, kemudian ada Pimpinan Kadin, ada Special Envoy saya untuk Timur Tengah, Pak Alwi Shihab, kemudian Pimpinan DPD RI, lantas pimpinan media, Ibu Marwah Daud Ibrahim, Pimpinan ICMI, lantas dari KNPI juga ada. Siapa lagi yang belum saya sebut? Dari Persis, Bapak Shiddiq Aminullah, kemudian dari Jam’iyatul Wasliyah Bapak Mohammad Aziz Ritonga. Saya kira, cukup kuat delegasi kita ini.
Mudah-mudahan, kita bisa melakukan misi negara terbaik dan kembali ke tanah air, ada yang dapat kita berikan untuk rakyat kita, sebuah kerja sama yang konkret ke depan, antara Indonesia dengan lima negara yang akan kita kunjungi, khususnya, ataupun dalam komunitas yang lebih besar, dalam komunitas OKI misalnya, maupun komunitas global yang sama-sama kita berkepentingan untuk membangunnya.
Dalam kunjungan ini, kita melihat dalam tiga konteks. Satu, konteks bilateral, apa yang dapat kita lakukan untuk meningkatkan persahabatan, meningkatkan kerja sama dan meningkatkan kemitraan, dari berbagai bidang. Yang kedua adalah konteks regional atau konteks organisasi multilateral, Indonesia dengan Timur Tengah, Indonesia dengan negara-negara teluk. Dan konteks yang ketiga adalah konteks global, apa yang dapat dilakukan antara Indonesia dengan OIC, dengan negara teluk, dengan teman-teman, sahabat-sahabat kita di Timur Tengah, untuk melakukan sesuatu yang baik pada tingkat global, misalnya peran serta kontribusi apa yang dapat dilakukan Indonesia untuk sebuah perdamaian, penyelesaian yang bijak di Timur Tengah, dan juga masalah-masalah global lainnya.
Kunjungan kita pertama adalah ke Saudi Arabia, dan saya kira jadwal sudah kita miliki. Di samping kita akan melaksanakan pertemuan dengan King Abdullah Bin Abdul Aziz Al Saud, Raja Saudi Arabia yang keenam, kita juga akan mengikuti kegiatan pertemuan dengan Kadin. Saya akan memberikan ceramah atau pidato saya di Universitas Imam Muhammad Ibn Saud. Kemudian, alhamdulillah, insya Allah kita bisa melaksanakan ibadah umrah. Kita akan berada di tanah suci, Mekkah, dan kemudian kita bisa ziarah ke makam Rasul di Madinah. Kita akan transit di Kota Jeddah, saya akan bertemu dengan Pimpinan Islamic Development Bank dan juga Sekretaris Jenderal dari OIC, tentu juga bertemu dengan beberapa pengusaha yang insya Allah akan melaksanakan kegiatan bisnisnya di Indonesia.
Demikian juga nanti agenda di Kuwait, di Qatar, di Arab Emirat, di Jordania, mudah-mudahan bisa, ada yang bisa kita capai. Sebab, meningkatkan persahabatan penting, tetapi sekali kita keluar, meninggalkan tanah air sembilan hari, sangat bermakna bagi saya, karena tentu tugas di dalam negeri juga tidak ada habis-habisnya. Oleh karena itu, away saya dari Indonesia selama sembilan hari, harus ada yang dapat kita peroleh untuk kepentingan bangsa dan negara kita.
Saudara-saudara yang saya hormati,
Dengan Saudi Arabia tentunya kita, pertama-tama saya akan sekali lagi mengucapkan belasungkawa, terhadap wafatnya Raja Fahd Bin Abdul Aziz, meskipun kami sudah mengirim dulu delegasi tingkat tinggi pimpinan Wapres,
pada bulan Agustus tahun 2005, tapi kita kehilangan beliau sebagai pemimpin besar yang patut kita hormati. Saya juga akan mengucapkan selamat pada King Abdullan Bin Abdul Aziz yang telah dinobatkan menjadi Raja Kerajaan Saudi Arab yang keenam. Kemudian saya akan mengucapkan terima kasih atas bantuan yang besar kepada saudara-saudara kita di Aceh dan di Nias, setelah tsunami. Saudara masih ingat, saya juga berkunjung ke stand Saudi Arabia yang antara lain mengeluarkan buku dan kaset-kaset untuk belajar Al Quran bagi anak-anak kita. Saya kira kita juga waktu itu beribadah di Masjid Baiturrahman, dan kita menandatangani renovasi untuk Masjid Agung di Banda Aceh dan sejumlah kontribusi yang telah dilakukan oleh pemerintah dan rakyat Saudi Arabia terhadap kita setelah tsunami.
Bidang-bidang yang akan saya bicarakan, Insya Allah dengan Raja nanti, bidang investasi. Investasi Saudi Arabia tahun 2004 itu mencapai hampir 30%, US$ 3 billion lebih, 2005 susut sedikit, tapi masih tinggi, sekitar US$ 2 billion. Saya ingin mempertahankan dan meningkatkan ini, dan saya akan undang investasi di sisi lain energy, infrastructure, agrobisnis dan lain-lain. Trade kita mengalami peningkatan 40%, tahun 2004 itu baru sekitar 2,3%, tahun 2005, 3,3 billion, dari 2,3 menjadi 3,3 billion, naik 40%. Insya Allah ini bisa kita apa namanya, bisa kita tingkatkan, meskipun surplusnya ada pada Saudi Arabia, karena kita mengimpor minyak, Aramco, dalam jumlah yang tidak kecil. Saya akan dorong supaya Saudi Arabia lebih membuka pasarnya untuk ekspor kita, peluangnya besar, negara itu penduduk 26 juta tapi GDPnya hampir US$ 280 billion, dengan income perkapita 11 ribu dollar. Saya kira kalau kita bisa memelihara continuity dari komoditas kita, plywood, tekstil, kertas, makanan dan lain-lain, mudah-mudahan merupakan pasar yang menjanjikan. Meskipun ada rezim-rezim perdagangan yang perlu kita kelola dengan baik dan saudara tahu, Saudi Arabia sejak 11 Desember 2005 telah menjadi bagian dari WTO, di dalam Hongkong Round. Dan tentunya, jangan dikira Saudi Arabia juga melaksanakan reformasi di bidang ekonomi ada Undang-Undang Investment, Undang-Undang Capital Market, Undang-Undang HAKI dan lain-lain. Open to the world, oleh karena itu, sudah menjadi bagian dari WTO. Mudah-mudahan kita bisa memanfaatkan dengan iklim baru dari dunia usaha di Saudi Arabia tersebut.
Di bidang energi tentunya kita akan melanjutkan, mudah-mudahan ada perlunakan dari rezim pembayaran kita, mudah-mudahan lebih longgar lagi. Sebab kalau kita impor 120 ribu barel per hari kemudian bayarnya bulan depan, tentu akan sangat mengikat. Syukur-syukur ada kelonggaran nanti di dalam rezim pembayarannya. Mudah-mudahan dengan melalui IDB, Islamic Development Bank, ada satu format yang lebih baik lagi untuk pembayaran kita.
Kita juga akan mengundang untuk sebuah, pembangunan sebuah refinery, di Indonesia. Kalau bisa dibangun, saya kira capital-nya ada, Saudi Arabia itu punya uang di luar jumlahnya itu unbelievable, US$ ratusan billion, yang itu sebetulnya, bisa saja pergi ke negara-negara tertentu kalau kita pandai-pandai membangun kerja sama. Kalau ada capital, datang di Indonesia, membangun refinery, minyaknya dari sana, kita olah, untuk dijual, apakah di domestic consumption, ataupun di Timur, apa namanya Asia Timur, saya kira sebuah kerja sama yang baik. Kita akan bicara masalah energi.
Kemudian masalah tenaga kerja, kita berterima kasih, 370 ribu tenaga kerja kita ada di Saudi Arabia, dua pertiga wanita, sepertiga pria. Kita berterima kasih atas lapangan kerja yang diciptakan, meskipun kita harus merumuskan bagaimana perlindungan tenaga kerja yang baik, ada asuransi, kalau ada yang ditahan ada satu komunikasi, kita bisa ikut melakukan langkah-langkah untuk perlindungan saudara-saudara kita. Pendek kata, kita ingin meningkatkan kerja sama lebih bagus lagi di bidang tenaga kerja ini.
Kemudian di bidang lain adalah bidang pendidikan. Ada 159 mahasiswa kita yang ada di sana. Kita ingin terus dilakukan kerja sama yang baik, dan Saudi Arabia telah melaksanakan reformasi pendidikan, meninjau kurikulumnya, kemudian bahan-bahan ajarannya, membangun, memberi, mengajarkan Islam yang benar, mempertahankan garis moderat dan lain-lain. Saya kira kita perlu bekerja sama dengan pendidikan di Saudi Arabia, dalam konteks itu.
Kemudian saya ingin menawarkan nanti kerja sama yang baik, antar ulama, antar cendekiawan Islam, supaya sama-sama kita, bagaimana mengajarkan di Saudi Arabia, di Indonesia, untuk sebuah pencerahan, enlightment dari Islamic teaching, sebagaimana yang kita dambakan bersama. Saya berbicara dengan Presiden Musharraf, dengan Perdana Menteri Erdogan dari Turki, dengan Pak Lah dari Malaysia, dengan King Abdullah Jordania, bagaimana enlightment moderation itu bisa kita lakukan. Saya kira ini peluang kerja sama yang baik.
Kemudian yang kita bicarakan lagi, tentunya, kerjasama di bidang combating trans-national crimes dan terrorism. Saudi Arabia seperti Indonesia, korban dari terorisme. Kedua negara berusaha untuk mencegah seperti itu. Melawan di permukaan, mengatasi akar-akar persoalan yang mendasar, mengapa terorisme terjadi. Dalam hal itulah kita bisa bekerja sama. Ada tahun lalu, September 2005, Konferensi di Riyadh, ya, yang menghasilkan Deklarasi Riyadh. Terorisme tidak boleh dikaitkan dengan agama, dengan suku, dengan apapun. Terrorism is terrorism. Dalam semangat itulah kita akan menjalin kerja sama sebaik-baiknya. King Abdullah sendiri memberikan perhatian yang tinggi, menghadapi kejahatan trans-national dan terorisme.
Yang akan kita bicarakan adalah tentang ibadah haji. Saya kira makin baik, makin baik. 200 ribu kita punya jamaah tiap tahun. Kita akan menyarankan tambahan gate untuk apa namanya, untuk jamaah kita, sehingga lebih lancar lagi nanti pengaturannya.
Kita juga akan bicara, apa tadi, investasi sudah, perdagangan sudah, energi sudah, pendidikan sudah, tenaga kerja sudah, ibadah haji sudah. Apalagi yang belum? Iya? Perbankan, finance. Kita juga membicarakan hal itu. Oleh karena itulah saya akan bertemu dengan Pimpinan IDB dan juga komunitas perbankan di Saudi Arabia. Insya Allah besok ada sesi saya dengan Kadin, kita akan bicarakan hal-hal yang berkaitan dengan itu.
Dan tentunya, saya akan, mudah-mudahan waktunya ada, akan membicarakan bagaimana kita mendukung penyelesaian Palestina yang adil, Palestina menjadi negara merdeka, sesuai dengan perjuangan, sesuai dengan dukungan rakyat dan pemerintah Indonesia. Kita tahu ada pemerintahan baru di Palestina dan di Israel, kita berharap ada solusi yang bagus sesuai degan Konvensi PBB, sesuai dengan roadmap yang telah ditentukan. Dan saya sudah bicara kemarin dengan DR. Nabil Saad, mantan Wakil Perdana Menteri Palestina di Jakarta, mudah-mudahan kita juga bisa ikut serta. Saya menawarkan diri, Indonesia menjadi bagian dari forum, di luar kwartet. Kwartet itu adalah PBB, Uni Eropa, Amerika dan Rusia. Kita ingin ada negara-negara lain, Saudi Arabia, Turki, Insya Allah Indonesia menjadi bagian di situ sehingga kita bisa ikut berkontribusi. Indonesia tidak setuju kalau bantuan terhadap Palestina dihentikan, harus terus diberikan supaya bisa melanjutkan tugas-tugasnya. Mari kita berikan kesempatan pada Hamas dan Presiden Mahmoud Abbas sendiri, untuk melanjutkan misinya. Dengan harapan Israel juga memiliki niat yang baik untuk menyelesaikan permasalahan Palestina sebaik-baiknya. Kita juga harus menggalang dukungan, bagaimana sekali lagi Palestina bisa diselesaikan secara adil, dan kita berharap jangan ada kekerasan-kekerasan di Palestina.
Kita juga akan membahas bagaimana OIC, the Organization of Islamic Countries. Itu juga disamping meningkatkan solidaritas, can do more. Banyak negara-negara Islam yang mengalami persoalan, di Sudan, di beberapa negara di Afrika. Alangkah bagusnya kalau ada resources dari OIC, yang bisa kita gunakan untuk membantu negara-negara Islam yang memerlukan bantuan itu. Ini merupakan solidaritas yang harus kita bangun juga, dan tentunya lain-lain, restructuring OIC dan hal-hal yang berkaitan dengan, agar organisasi ini makin efektif, makin berperan, dan memang menjadi bagian dari solusi, bukan hanya untuk dunia Islam, Islamic world, tapi juga untuk dunia secara keseluruhan.
Tentu banyak lagi yang bisa kita bicarakan, mudah-mudahan waktunya ada. Dan tentunya saya berharap nanti, ketika kita bersama-sama melaksanakan ibadah umrah, mari kita laksanakan dengan sebaik-baiknya. Saya titip doakan rakyat kita, doakan bangsa kita, doakan negara kita. Berat perjuangan, berat tantangan dan permasalahan yang kita hadapi, tapi kalau kita khusyu’ nanti, Insya Allah, Allah akan memberikan jalan bagi bangsa kita mengatasi masalah-masalah itu. Di samping doa untuk keluarga, untuk pribadi saudara-saudara masing-masing.
Dan saya pesan pada teman-teman media, saya terkesan waktu kemarin Perdana Menteri Inggris berkunjung ke Indonesia. Wartawan Inggris yang konon sangat maju, liberal, gitu ya, itu mau nanya saya pun, diberi tahu, Pak Presiden, pertanyaan dari BBC, dari wartawan kami, kira-kira ini topiknya. Itu juga sering saya dapatkan dari negara lain, padahal negara yang sangat demokratis. Barangkali tidak ingin mempermalukan tuan rumah dengan pertanyaan yang mengganggu. Ingat, kultur politik di Timur Tengah berbeda dengan kultur politik di Barat. Bukan berarti Timur Tengah tidak demokrasi, mereka juga telah berkembang, sistemnya beda, kulturnya beda, tapi pandai-pandailah menjadi tamu. Meskipun freedom of the press itu universal, tapi bagus kalau pertanyaan itu tepat, ya. Saya tidak akan menanya apapun, silakan, tapi silakan dipantas-pantaskan. Dengan demikian menjadi enak tuan rumah, dalam menjawab pertanyaan saudara, kalau ada press conference. Kalau tidak ada, saya akan berikan press conference setiap negara yang kita kunjungi nanti.
Saya kira itu dulu yang perlu saya sampaikan. Dan jangan lupa, meskipun waktunya sempit kadang-kadang, beli souvenir, oleh-oleh keluarga, ya, di Madinah banyak, di Mekkah banyak itu, di Jeddah apalagi, di tempat-tempat lain juga tidak kurang. Silakan. Ada pertanyaan? Bukan pertanyaan pers ini, bukan ini, ini untuk. Apa itu? Baiklah kalau tidak ada yang ingin menyampaikan sesuatu karena cukup jelas, nanti malam itu. Iya Pak. Silakan Pak.
Ada yang sudah dipersiapkan, Pak Didik Rachbini, tinggal nanti bagaimana, biasanya head to head. Mudah-mudahan apa yang sudah disiapkan, terwujud dan nanti bisa kita tindaklanjuti. Karena, saya senang sekali dengan pertanyaan itu, karena menunjukkan Indonesia incorporated. Jadi kalau ada sesuatu yang kita sepakati, diperlancar, nanti tidak keburu masuk angin. Banyak kunjungan, hasilnya bagus, begitu kembali ke tanah air, macet atau tidak lancar, entah dimana, entah di daerah, entah di kami, di pemerintah, atau hubungan di parlemen dan lain-lain. Saya kira begitu nanti, ada yang kita dapatkan, kita tindaklanjuti, Insya Allah. Yang jelas mungkin di dunia perbankan, mudah-mudahan di pembangunan infrastruktur, kemudian kerja sama energi sendiri, kita lihat sama-sama nanti.
Ada permintaan perawat yang belum bisa dipenuhi, Bapak. Ada 1000 kita hanya mampu 200 sekian. Jadi jangan disia-siakan seperti ini, kalah kita dengan negara-negara lain. Padahal mereka welcome dengan bangsa Indonesia. Bangsa kita dianggap memiliki perilaku yang baik, ya, menjadi pekerja yang baik, jangan kita sia-siakan.
Saya kira itu dulu. Dan kemudian nanti beberapa Menteri saya minta ke dalam, untuk merumuskan beberapa hal, sebelum kita datang. Karena acaranya marathon, begitu kita mendarat, ada Upacara Kenegaraan, jeda sebentar, langsung Jamuan Makan, langsung pertemuan bilateral, langsung Penganugerahan Bintang, timbal balik, kemudian apa lagi? Selesai ya? Jadi acara selesai, bilateral itu jam 10 malam. Sama dengan jam 4 shubuh waktu kita jam 2 shubuh, itu. 11 malam sama dengan jam 4 kan? 12,1, 2, 3, jam 3, ya. Pandai-pandai menyesuaikan perubahan waktu.
Terima kasih.
Wassalamu alaikum Wr. Wb.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



