Pidato Presiden
Pengarahan di Atas Pesawat Riyadh-Jeddah
PENGARAHAN
PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
DI DALAM PESAWAT DARI RIYADH MENUJU JEDDAH
KAMIS, 27 APRIL 2006
Assalamu alaikum Wr. Wb.
Selamat pagi, salam sejahtera,
Saudara-saudara, ada sekitar 20 menit sebelum kita descend untuk menuju ke Jeddah. Saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk mengajak kita semua membangun satu kesadaran dan sekaligus memikirkan secara bersama, segala sesuatu yang sangat fundamental, menyangkut kehidupan kita, masa kini, masa depan, yaitu persoalan energi.
Minggu-minggu yang lalu, harga minyak mentah dunia kembali meroket, pada tingkat 73-74 dollar per barel. Belum ada tanda-tanda untuk segera kembali menurun, meskipun sebagian perkiraan mengatakan tidak akan lebih dari itu. Mungkin akan bisa segera menurun kembali, apalagi setelah Presiden Bush kemarin, tadi malam saya dengar speech-nya itu, melakukan langkah-langkah di Amerika sendiri. Tapi perlu diingat bahwa. kalau harga minyak seperti ini, semua ekonomi akan mengalami kesulitan. Seluruh dunia, seluruh negara, apalagi negara-negara yang memiliki kebijakan dalam negerinya, seperti subsidi yang sangat tinggi, ataupun negara-negara yang sama sekali tidak memproduksi minyak. Tapi yang jelas, semua ekonomi akan menghadapi masalah. Bisa jadi ada global economic recession, kalau ini berkelanjutan.
Saudara ketahui bahwa OPEC itu hanya memproduksi 40% dari total produksi global. Paling atas adalah Saudi Arabia, itu saya kira hampir 10 juta barel per hari, bawahnya Iran, kemudian ada Venezuela dan lain-lain, ya. Indonesia nomor 11 dari 13 anggota OPEC, termasuk kecil. Sedangkan non OPEC itu memproduksi 60% dari total produksi dunia. Meningkatnya harga minyak mentah, itu bisa dilihat dari dua perspektif. Perspektif pertama adalah faktor ekonomi, supply dengan demand. Seperti biasanya, kalau kebutuhan naik, penawaran tetap, atau demand naik, supply tetap, maka harga cenderung naik, demikian juga sebaliknya. Kecuali kalau demand-nya naik, supply juga dinaikkan. Konon, kebutuhan minyak atau negara yang haus minyak sekarang ini, di samping Amerika sendiri, adalah China dan India. Jadi faktor demand ini terjadi peningkatan dramatis, di samping Amerika, China dan India, juga negara-negara lain, ternyata mengkonsumsi minyak semakin besar, termasuk negara kita. Dengan demikian dari faktor ekonomi, juga ada persoalan menyangkut ekuilibrium baru dalam tingkat pasar global, karena perubahan supply dan demand tadi.
Dari non ekonomi, nampaknya juga ada persoalan psikologis. Permasalahan politik ataupun satu asumsi, apabila persoalan ini berlarut-larut, akan mengubah kembali global supply dari minyak kita. Sebagai contoh, ketegangan Amerika Serikat dengan Iran, ini juga memunculkan kecemasan baru. Iran adalah pemasok minyak nomor dua di dunia. Dengan demikian, kalau minyak digunakan sebagai senjata politik, meskipun pagi ini di CNN kita baca, Iran tidak akan menggunakan minyak sebagai senjata politik, tetapi spekulasi itu berjalan. Ini juga mempengaruhi tingkat harga.
Kemudian gangguan keamanan di Nigeria, itu mengakibatkan sepertiga domestic production itu juga terganggu. Ini juga faktor yang bisa menimbulkan
uncertainty pada waktu-waktu dekat mendatang ini. Lantas tanggal 9 Mei, itu di Dewan Keamanan PBB akan dibicarakan masalah Iran kaitannya dengan program nuklir yang ada di Iran. Ini tentu menimbulkan spekulasi maupun eskalasi yang menyangkut dengan situasi harga minyak di tingkat dunia.
Faktor-faktor itu ternyata terjadi sekarang ini. Dan meskipun kita berharap, harganya sudah mencapai puncak sekarang ini dan kembali menurun, kembali ke 60-an, syukur-syukur 50-an. Ingat asumsi APBN kita harga minyak per barel ditentukan 57 dollar Amerika Serikat. Kita belum bicara dampak terhadap APBN kita. Dari itu semua, maka pantas kalau pemimpin semua negara, masyarakat internasional, mulai berpikir sangat serius, bagaimana kita mengembangkan kebijakan energi yang tepat. Tentunya tepat secara global dan tepat secara nasional.
Tadi malam saya mendengarkan ulasan di banyak negara, di Iran sendiri, di Eropa, di Timur Tengah, dan kemudian di Amerika. Bagaimana energy solutions atau energy policy itu dikembangkan. Ada paper yang saya dapatkan, diakses dari internet tadi, sebagai contoh, ini Presiden Bush Amerika Serikat mengeluarkan empat jurus, yang disebut energy policy, tetapi lebih berkaitan dengan short term solutions. Kalau saudara baca, ternyata kebijakan energi kita yang saya sampaikan pada bulan Agustus tahun lalu, yang disebut dengan ‘Jagus’, Kebijakan Agustus, lima poin, empat poin diantaranya sama dengan empat poin kebijakan energi yang dilakukan oleh Amerika Serikat.
Pertama adalah perlunya konservasi, penghematan, efisiensi. Sama dengan yang kita lakukan, dulu kita dikritik, wah ini pemerintah kehilangan akal, diminta menghemat, diminta efisien, negara-negara lain juga menyerukan dan melakukan hal yang sama. Efisiensi ini, mulai efisiensi dari tingkat konsumen kita, yang mengkonsumsi bahan bakar, mobil, motor. Efisiensi dalam tingkat, BBM digunakan untuk apa saja. Listrik terlalu banyak menggunakan BBM, sebagai sumber, Insya allah akan kita geser nanti ke sumber yang lain, misalnya batubara, gas, yang lebih menghemat bahan bakar minyak. Kemudian juga kebijakan transportasi, sedemikian rupa, sehingga yang memiliki mobil lebih dari satu, dua, tiga, empat, lima, itu akan lebih hemat lagi mengkonsumsi BBM. Pendek kata, efisiensi nasional itu, kita lakukan ternyata sama dengan yang dilakukan oleh negara lain, khususnya Amerika Serikat yang saya baca.
Yang kedua, Amerika juga ingin meningkatkan domestic production dari crude, dan juga gasoline-nya. Tetapi ternyata mereka juga punya hambatan, refinery atau kilangnya, itu kalau harus mengikuti dengan demand, tidak mungkin. Kita juga punya persoalan yang sama, meskipun Insya Allah kalau Cepu dan sumur-sumur yang lain sudah mulai kita kembangkan dalam waktu dua setengah tahun memproduksi tambahan antara 150 sampai 200 ribu barel per hari, maka secara nasional kita bisa mencapai 1,3 juta barel perhari. Akan menolong sekali terhadap devisa kita, produksi kita, baik untuk ekspor maupun untuk kepentingan dalam negeri. Refinery kita, kilang kita tidak cukup. Oleh karena itulah, kita dengan Saudi Arabia, dengan negara lain, ingin bekerja sama untuk menambah kilang di Indonesia, menggunakan crude dari Timur Tengah, diolah, menjadi produk yang bisa dipasarkan di dalam negeri Indonesia maupun di Asia Timur. Ini salah satu upaya domestik kita, baik nasional betul ataupun kerja sama dengan negara lain, agar ada tambahan produksi, baik itu BBMnya maupun crude-nya. Ternyata sama dengan yang dirancang oleh negara lain.
Kemudian kebijakan yang ketiga, dikatakan mulai kita masuk kepada energi alternatif, bukan hanya non-renewable energy sources, tetapi juga bio energy. Amerika ethanol, negara lain ethanol, Brazilia, China, Jepang. Saya kira kita sudah menyampaikan tahun lalu, bulan Agustus, agar kita benar-benar menuju kesitu. Ada BPPT kita, ada Ristek kita, ada universitas kita, ada semua, yang bisa bersatu padu untuk mengembangkan energi dari sumber pertanian. Sama dengan negara lain, kalau bio energy kita kembangkan di Indonesia, maka akan membuka lapangan kerja, menghidupkan pertanian, meningkatkan ekonomi lokal, meningkatkan pajak-pajak lokal. Sedangkan kita tahu kelapa sawit kita banyak, tebu kita bisa tumbuhkan, dan sejumlah tanam-tanaman yang bisa ditanam di Kalimantan, di Papua, atau di tempat-tempat lain. In the long run, in the medium term, kita perlu segera untuk menuju ke energi alternatif ini. Rumusan ketiga mereka sama dengan rumusan yang keempat, rumusan kita juga yang ketiga.
Yang keempat dikatakan, harus ada investigasi mengapa tiba-tiba harga minyak seperti ini. Apakah ada manipulasi, apakah ada company perminyakan cari untung yang berlebih-lebihan dan lain-lain. Ini masalah justice, masalah kepantasan, jangan konsumen membeli terlalu tinggi. Mereka melaksanakan investigasi. Kebijakan kita bulan Agustus yang lalu adalah law enforcement, sedikit berbeda, tapi tujuannya sama. Karena adanya penyelundupan waktu itu, ada penimbunan, ada pengoplosan. Oleh karena itulah kita juga sama sebetulnya yang keempat, law enforcement, kalau mereka investigasi.
Nah, satu hal yang berbeda, karena negara lain hampir tidak mengenal subsidi, kecuali negara-negara tertentu, maka tidak ada persoalan dengan harga. Betul-betul berpulang pada market, nilai keekonomiaannya dan pada situasi pasar. Kita tentu tidak menganut sistem seperti itu, karena social justice, neraca sosial harus tetap kita perhatikan, ketika kita mengembangkan kebijakan ekonomi. Oleh karena itulah, dulu, pilar yang kelima dari kebijakan kita adalah melihat kemampuan subsidi. Inilah yang kita bicarakan dengan DPR RI, subsidinya berapa, tentu harus ada price adjustment. Ini adalah konteks policy, negara-negara lain, Amerika Serikat contohnya dan kita sendiri.
Tapi yang ingin saya sampaikan bukan itu saudara-saudara. Marilah kita sadar. 220 juta penduduk Indonesia, and it growth, keeps growing, akan naik tahun demi tahun, meskipun kita harus mulai ketat lagi dengan BKKBN, dengan Keluarga Berencana. Kalau tidak, sebesar apapun ekonomi kita tumbuh, sulit untuk menciptakan kesejahteraan yang layak. Oleh karena itulah, kita akan tata kembali. Tapi yang jelas kebutuhan energi akan terus naik, naik dan naik. Oleh karena itulah, kebijakan kita yang lima harus kita jalankan, harus kita sukseskan.
Kemudian, dengan itu semua, memang sebagaimana yang saya sampaikan kemarin, kita perlu kampanye tentang hidup hemat. Hari Bumi Sedunia, Hari Air Internasional. Saya katakan ada empat kampanye hemat di negeri kita. Yang pertama, hemat air. Air ini sudah mulai jadi persoalan global. Saudara-saudara, di Kepulauan Seribu, yang di kiri kanannya air, sulit mendapatkan air. Jangankan untuk mandi, cuci pakaian, untuk makan minum pun sulit. Di Gunung Kidul, di Wonogiri, di Trenggalek, di Pacitan, di Lombok Tengah, di Nusa Tenggara Timur, dan banyak tempat lagi sulit air. Sedangkan kita melihat, kita masih boros air. Air ledeng mengalir, kantor-kantor, instansi, termasuk kantor pemerintah, careless, begitu saja air mengalir, satu hari berapa yang kita buang? Seribu instansi, satu tahun, berapa ratus miliar yang terbuang karena pemborosan air?
Penghematan yang kedua adalah penghematan listrik, sama. Listrik kita ini juga mahal. Oleh karena itulah, kita ingin ada new policy tentang listrik, sehingga harga jualnya mudah-mudahan bisa kita pertahakan tidak naik, ya ini masih kita upayakan dengan sangat serius. Dengan demikian, kalau harga listriknya stable, tidak mahal, maka downstream products-nya, jasa dan barang yang dihasilkan oleh industri yang menggunakan listrik, tentunya tidak mahal. Kalau tidak mahal, kompetitif untuk luar negeri dan dijangkau oleh rakyat kita. Tapi poin saya, justru kita masih terus meningkatkan kemampuan listrik kita. Pemborosan listrik terjadi, banyak kantor-kantor, utamanya, termasuk kantor pemerintah. Siang hari harusnya hanya dinyalakan beberapa, masih banyak yang nyala. Malam hari di luar jam kantor yang mestinya hanya berapa, juga masih banyak yang nyala. Satu hari, dua hari, sebulan, setahun, seribu instansi, tiga ribu instansi berapa pemborosan kita listrik. Berapa ratus M setahunnya.
Kemudian, telepon. Telepon juga demikian. Ada pegawai pemerintah telepon setengah jam, untuk apa? Tiga menit selesai. Kalau lebih dari itu, ketemu saja langsung ngobrol di situ apa pelaksanaannya. Telepon apalagi yang bayar pemerintah, juga boros.
Dan yang keempat baru BBM. BBM ini mestinya, ya, yang hanya keliling-keliling kesana kemari, hidup yang boros, mesti dihentikan, termasuk di sisi yang lain.
Ini adalah empat kampanye nasional yang harus kita lakukan, menuju ke sebuah bangsa yang hemat, menyadari bahwa sumber-sumber daya alam makin habis. Kalau tidak ada penemuan baru, minyak kita itu tinggal 18 sampai 20 tahun. Bayangkan, kalau tidak kita hemat, gas kita tinggal 60 tahun. Bayangkan anak cucu kita, kalau kita tidak pandai-pandai menggunakannya dengan baik. Itu kalau tidak ada penemuan baru. Jadi minyak juga kalau tdak ada penemuan baru. Sedangkan batubara kita, 150 tahun lagi, kalau tidak ada penemuan baru. Tapi toh suatu saat habis, sedangkan kehidupan Insya Allah jalan terus. Oleh karena itulah, memang dari segala segi, kita memerlukan suatu cara hidup baru dari bangsa kita. New style of our life. Kemudian memerlukan kebijakan dan strategi baru, bagaimana kita menggunakan sumber daya energi itu.
Kemudian yang ketiga, saya mengundang semua, di sini banyak para pengusaha-pengusaha, banyak intelektual, teman-teman parlemen, para Menteri sebagai policy maker, mari kita kembangkan ideas kita, inovasi kita dan lain-lain, agar technology can solve these fundamental problems. Hanya dengan teknologi, kita bisa menyelamatkan banyak hal, di samping sikap hidup, cara hidup yang hemat sebagaimana yang saya katakan tadi.
Itulah yang ingin saya sampaikan, sudah hampir turun. Tetapi yang jelas, saya hanya mengajak berbagi komitmen, berbagi kesadaran, berbagi apa yang dapat kita lakukan bersama. Ingat, we are talking about Indonesia incorporated. Mari semua, termasuk rekan-rekan wartawan, mari kita lakukan sesuatu untuk mengatasi persoalan mendasar negeri ini, dan kita bangun ide-ide baru, komitmen baru, persamaan baru, terobosan baru, untuk tentunya membangun keadaan yang lebih baik.
Kita akan berada di Timur Tengah Insya Allah masih dua hari lagi di Saudi Arabia, setelah itu ke Kuwait, setelah itu ke Qatar, setelah itu ke United Arab Emirates, setelah itu ke Jordania. Meskipun Jordan tidak begitu banyak minyaknya, gunakan untuk mengetahui banyak hal, baca koran-koran lokal, berdiskusi, membahas, lihat dinamika minyak sekarang di CNN, BBC dan lain-lain. Mudah-mudahan menginspirasi kita semua, bahwa we have to think ahead, mari kita berikir menjemput, jemput agar generasi yang akan datang mendapatkan sesuatu yang baik dan tidak mereka mengalami kesulitan karena kesalahan generasi sekarang ini.
Itulah saya kira yang ingin saya sampaikan. Dan terima kasih. Di Jeddah saya kira ada berapa jam kita, Insya Allah nanti malam kita bersama-sama melaksanakan ibadah umrah, di Mekkah, dan saya kira bermalam semalam. Dan kemudian Insya Allah besok kita ke Madinah. Nanti Menteri Agama, Pak Maftuh Basyuni yang akan menuntun kita semua, dan mudah-mudahan ibadah kita diterima oleh Alllah SWT. Saya minta berdoa untuk rakyat kita, untuk bangsa kita, untuk masa depan kita, bahkan untuk energi yang menjadi persoalan kita.
Terima kasih.
Wassalamu alaikum Wr. Wb.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



