Pidato Presiden
Sambutan Dalam Pertemuan dengan Masyarakat Indonesia di Qatar
SAMBUTAN
PRESIDEN SUSILO BAMBANG YUDHOYONO
DALAM PERTEMUAN DENGAN MASYARAKAT INDONESIA
WISMA DUTA, DOHA
MINGGU, 30 APRIL 2006
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu alaikum Wr. Wb.
Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Para pimpinan dan anggota Dewan Perwakilan Daerah dan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, yang juga menyertai kunjungan saya,
Anggota delegasi dari tanah air,
Yang saya hormati, Saudara Duta Besar Republik Indonesia untuk Qatar, beserta Ibu, beserta para Diplomat, Staf dan keluarga besar KBRI Qatar,
Yang saya hormati saudara-saudara yang bekerja, yang mengemban tugas di berbagai profesi di Qatar ini,
Hadirin sekalian yang saya cintai dan saya muliakan,
Pada kesempatan yang baik dan semoga senantiasa penuh berkah ini, saya mengajak sekali lagi untuk bersama-sama memanjatkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, atas berkenan rahmat dan ridhonya kita semua dapat bersilahturahim dan berdialog pada malam hari ini, dan Insya Allah kita semua berada dalam keadaan sehat wal afiat.
Tujuan kunjungan saya dan delegasi ke Timur Tengah kali ini adalah untuk tentunya mempererat dan meningkatkan persahabatan, hubungan dan kerjasama Indonesia dengan negara-negara di Timur Tengah. Saya berkunjung pertama-tama ke Saudi Arabia dan Kuwait, alhamdulillah hari ini ke Qatar, Insya Allah besok ke Arab Emirat dan Jordania, dan kemudian kembali ke tanah air.
Di samping mempererat dan meningkatkan hubungan dan kerjasama Indonesia dengan negara-negara sahabat itu, kita juga ingin membuka lembaran baru. Hubungan yang lebih luas lagi dengan negara-negara sahabat, baik hubungan antar pemerintah, antar parlemen, antar dunia usaha, maupun antar rakyat, people to people contact.
Dalam kunjungan pertama, baik ke Saudi Arabia dan ke Kuwait, dan hari ini ke Qatar, alhamdulillah kita telah membahas banyak hal yang arahnya adalah upaya peningkatan kerjasama yang lebih baik lagi di masa depan. Harapan kita, keseluruhan kunjungan kami di Timur Tengah ini benar-benar menghasilkan sesuatu yang konkret. Baik itu kerjasama di bidang ekonomi, kerjasama di bidang ketenagakerjaan, kerjasama di bidang pendidikan sosial budaya, kerjasama di bidang pariwisata, termasuk tentunya kedekatan antar bangsa Indonesia dengan saudara-saudara kita di Timur Tengah ini sesungguhnya mayoritas beragama Islam.
Dalam kesempatan kunjungan ini, alhamdulillah kami semua juga bisa menjalankan ibadah umrah di Makkah Al Mukaromah pada tanggal 27, dan kemudian kita juga ke Madinah pada tanggal 28. Alhamdulillah karena kebesaran Allah SWT, rombongan saya, kita semua, mendapat anugerah untuk bisa beribadah shalat di dalam Ka’bah di Makkah dan alhamdulillah pula kami bisa ziarah langsung ke makam Rasul di dalam. Ini semua karena izin Allah SWT dan disitulah kami semua berdoa dengan khusuk semua, semua anggota delegasi mendoakan keselamatan bangsa kita, persatuan bangsa kita, dan kemajuan bangsa kita. Itu termasuk saudara-saudara untuk menuju masa depan yang lebih baik.
Khusus kunjungan ke Qatar ini, tadi kami sudah melaksanakan pembicaraan dengan pemimpin Qatar dan para Menteri. Dan juga masih ada kegiatan besok, utamanya adalah untuk meningkatkan kerjasama, pertama-tama di bidang ekonomi, investasi, perdagangan dan energi.
Saudara ketahui bahwa Qatar ini adalah produsen gas, skala besar pada tingkat dunia. Kalau kemarin kerjasama yang kita galakkan dengan Saudi Arabia, di bidang energi adalah menyangkut kerjasama minyak mentah. Kita mengimpor minyak mentah atau crude oil dari Saudi Arabia dan hal-hal yang berkaitan dengan itu dalam bentuk investasi dan perdagangan. Kemudian dengan Kuwait kerjasama di bidang energi difokuskan pada kerjasama tetap, impor growth dan juga mengimpor bahan bakar minyak.
Kuwait adalah produsen BBM yang tinggi dan kita ingin kerjasama kita lebih baik lagi di bidang itu, kita sudah membangun sejumlah kesepakatan, antara lain, baik dengan Saudi Arabia dan Kuwait untuk pembangunan kilang minyak di Indonesia, menggunakan crude baik dari Kuwait ataupun dari Saudi Arabia, diolah di dalam negeri, kemudian tentunya menampung tenaga kerja kita, menghidupkan ekonomi lokal dan ekonomi Indonesia. Karena diproduksi, diolah di dalam negeri, maka harga jual BBM diharapkan lebih murah, dibandingkan kalau kita mengimpor BBM langsung dari luar negeri. Itu salah satu bentuk kerjasama yang ingin kita bangun ke depan dengan Saudi Arabia dan Kuwait.
Dengan Qatar ini tentu kerjasama kita harus kita arahkan, kerjasama di bidang gas, di bidang LNG. Sebagaimana saudara ketahui bahwa meskipun kita memproduksi minyak mentah, meskipun kita memproduksi gas dan memproduksi batubara, tetapi dikaitkan dengan kebutuhan yang sangat tinggi di negeri kita, seperti ini kebutuhannya, selalu terdapat selisih antara penawaran dan permintaan, antara supply dan demand. Meskipun sudah kita mobilisasi potensi yang kita miliki, tetap saja kurang.
Apalagi kita tidak boleh menguras habis sumber energi kita, harus kita pelihara keberlanjutannya, konservasinya, karena kita juga berpikir untuk generasi mendatang. Tentu salah dan tidak baik, kalau generasi sekarang menghabiskan apa yang ada di negeri kita ini. Dan kemudian tidak berpikir untuk masa depan negerinya, untuk masa depan generasi yang lebih muda.
Dalam konteks itulah, maka kebijakan yang kita tempuh, kita memproduksi sesuatu di dalam negeri tapi kita juga mendatangkan dari luar negeri dengan kerangka kerjasama yang baik. Dengan Qatar ini utamanya yang berkaitan dengan gas, berkaitan dengan pupuk, berkaitan dengan perdagangan LNG itu sendiri. Ini yang kita bicarakan dan alhamdulillah, pada tingkat ini, pada tingkat pimpinan, kita sepakat untuk menindaklanjuti pembahasan ini, sampai tercapai kesepakatan yang definitif yang konkret untuk bersama-sama kita laksanakan.
Kemudian saudara ketahui bahwa Qatar ini termasuk negara yang sangat berhasil dalam pembangunan ekonominya. Begitu maju, income perkapitanya juga tinggi karena memang penduduknya juga sedikit, produksi gasnya besar. Dengan demikian, pendapatan orang per orang atau pendapatan perkapita juga tinggi. Apalagi dengan harga minyak, harga gas dunia seperti ini, tentu banyak memiliki surplus, disitulah ada potensi Qatar untuk melakukan investasi di Indonesia.
Sebagaimana saudara ketahui, negara kita mengalami krisis 1998. Tujuh tahun kita berjuang, bergulat, siang dan malam untuk bisa keluar dari krisis itu. Berat yang kita lewati, tetapi alhamdulillah berkat kegigihan kita, keuletan kita, ikhtiar kita, kebersamaan kita, secara bertahap negeri kita telah keluar dari suasana krisis yang begitu dahsyat dan sekarang sedang membangun kembali menapaki perjalanan menuju masa depan yang baik.
Dalam konteks itu semua, kita ingin meningkatkan pembangunan infrastruktur. Karena krisis kita kurang bisa merawat, dananya memang tidak ada. Ternyata setelah dihitung seluruh Indonesia empat, lima tahun ke depan biayanya tidak sedikit. Kita perlu membangun jaring-jaring jalan, pelabuhan, bandara, telekomunikasi, listrik, air bersih dan banyak lagi. Satu untuk menumbuhkan ekonomi nasional, yang kedua untuk mendatangkan keadilan bagi rakyat kita, agar mereka juga mengenyam infrastruktur dasar yang mereka perlukan. Setelah dihitung-hitung, meskipun kita sudah mobilisasi kemampuan yang ada, tidak cukup. Nah tidak cukup inilah kita mengundang swasta dalam dan luar negeri, untuk bersama-sama dengan Pemerintah membangun infrastruktur ini.
Qatar ternyata memiliki potensi. Alhamdulilah tadi kita juga sudah membahas untuk membangun yang disebut investment fund, dana gabungan dari Qatar dan Indonesia, tentunya lebih banyak di Qatar, yang dana ini diarahkan untuk investasi di Indonesia, untuk pembangunan infrastruktur di negeri kita. Mudah-mudahan inipun juga bisa terwujud pada saatnya, dengan kerangka kerjasama kerja yang baik. Ini sudah kita bahas tadi dalam pertemuan bilateral. Dan salah satu agenda kita juga, sebagaimana yang saya bicarakan di Saudi Arabia, di Kuwait, di Qatar ini dan barangkali juga nanti di Arab Emirat yaitu kerjasama yang menyangkut ketenagakerjaan.
Saya sependapat dengan Pak Dubes tadi, bahwa citra warga negara Indonesia yang bekerja di Qatar ini baik. Saya membaca, saya mengikuti laporan bahwa meskipun ada masalah-masalah, meskipun ada kasus-kasus khusus, tetapi pada prinsipnya saudara, terlebih yang bekerja di sektor formal, skilled labour yang lebih tertata sistemnya, aturan mainnya, itu hampir tidak ada masalah yang sangat mengganggu. Dan justru kinerja saudara, penampilan saudara, prestasi saudara, baik dan membanggakan.
Untuk itu saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya. Pertahankan itu semua, bahasa menunjukkan bangsa. Saudara semua adalah duta bangsa, dimanapun bekerja, apapun profesinya, dengan mempertahankan sikap, perilaku, tutur kata dengan mematuhi hukum dan aturan yang berlaku, dengan menjalin persahabatan yang baik dengan rakyat di Qatar ini, saudara-saudara kita, maka sekali lagi nama bangsa kita akan menjadi besar. Dan dengan demikian saudara sesungguhnya adalah pahlawan, karena mempertahankan dan meningkatkan citra, kehormatan dan harga diri bangsa Indonesia.
Kita membahas tadi, saya sampaikan kepada Emir bahwa mengingat ada potensi yang masih terbuka disini, maka kita ingin juga sesuai dengan permintaan, sesuai dengan kebutuhan, untuk bisa mengirimkan lagi saudara-saudara kita, putera-puteri bangsa Indonesia dengan persiapan yang lebih baik untuk bisa bekerja di Qatar ini.
Terhadap permasalahan yang menyangkut tenaga kerja kita, setelah kita pelajari, setelah saya analisis, setelah saya lakukan dialog dengan para tenaga kerja baik di Timur Tengah ini, di Malaysia, di Korea Selatan, di Thailand dan di tempat-tempat yang lain. Sebagian persoalan itu, karena memang kita sendiri, di Indonesia sendiri, langkah-langkah yang kita lakukan ada yang belum baik, yang harus kita perbaiki. Demikian juga pada saat bekerja disini, barangkali karena kontraknya, perjanjiannya, kesepakatannya tidak benar-benar dimengerti oleh kedua belah pihak atau paling tidak oleh tenaga kerja kita, ada masalah-masalah yang dihadapi disini.
Solusinya adalah, saya sudah mengambil keputusan dan para Menteri sudah membahasnya, bahwa kita akan melakukan pembenahan secara total. Restrukturisasi, reformasi, tentang kebijakan dan pelaksanaan pengiriman tenaga kerja ke luar negeri. Mulai dari Depnakernya, PJTKI-nya, termasuk kita meminta pelibatan peran dari para pejabat di daerah: Gubernur, Bupati dan Walikota. Dengan demikian, kalau semua bertanggung jawab, semua menjalankan tugasnya dengan benar, semua tidak mempersulit proses itu, tidak ada yang main pungli, tidak ada yang ingin mencari keuntungan dalam proses ini, saya yakin makin ke depan makin baik.
Sebagaimana saudara ketahui, kita lakukan pembenahan secara total di jajaran imigrasi. Karena ternyata, banyak sekali penyimpangan korupsi, pungli yang terjadi di jajaran imigrasi kita, baik di tanah air, di bandara-bandara maupun di luar negeri. Memalukan. Oleh karena itulah, kita telah lakukan berbagai penataan, yang bersalah kita proses secara hukum, kemudian yang tidak cakap kita ganti dan mudah-mudahan imigrasi kita makin baik. Demikian juga dalam pengelolaan tenaga kerja ini.
Pendek kata, di negeri kita, karena kita ingin maju ekonomi kita, ingin meningkat kesejahteraan kita, jangan sampai ada lembaga, ada simpul yang lalai melaksanakan tugasnya. Lembaga apapun, departemen apapun, kita bersama-sama melaksanakan reformasi dan bersama-sama membikin semuanya itu menjadi lebih efisien, lebih produktif, lebih mudah dan lebih bisa membantu saudara-saudara kita yang memerlukan. Terhadap permasalahan tenaga kerja yang masih ada, kita akan carikan solusinya kalau berkaitan dengan tuan rumah, ya kita lakukan kerjasama yang baik, tetapi mari kita tata dulu proses di negeri kita. Dengan demikian, akan lebih mudah kita memperjuangkan sesuatu karena tenaga kerja kita sudah mengerti betul kewajibannya, haknya, kontraknya dan lain-lain.
Demikian juga kalau kita persiapkan dengan baik, maka negara tuan rumah akan merasa bahwa yang datang ini benar-benar menguasai bidang pekerjaannya, mengetahui persyaratannya dan Insya Allah bisa bekerja dengan baik.
Di samping itu, tadi saya dengan Emir juga membahas kerjasama turisme. Beliau mengatakan, sayang sekali kalau Indonesia tidak berkembang dunia pariwisatanya, karena banyak sekali tempat-tempat yang menjanjikan. Beliau mengatakan, Qatar ini banyak sekali yang pergi ke Malaysia, ke Singapura dan di tempat-tempat lain, tapi tidak begitu banyak yang datang ke Indonesia. Kalau itu benar, berarti kita tidak usah mencari-cari kesalahan orang lain, mari kita mawas diri, kita koreksi di dalam negeri kita. Tentunya turisme akan datang ke negeri kita, wisatawan asing, kalau negeri kita aman.
Bagaimana mungkin datang? Bagaimana mereka mau datang kalau negeri kita banyak kerusuhan, banyak huru-hara, ada bom dan lain-lain. Tentu pilih tempat yang aman, pilih ke Malaysia, pilih ke Singapura, pilih ke China, pilih ke tempat-tempat yang lain. Oleh karena itu kewajiban kita semua membikin tanah air kita aman, tenteram, damai. Yang kedua mereka akan datang ke tanah air kita kalau pelayanannya baik, tempatnya bersih, ada kemudahan, ramah tamah, saudara kita yang di daerah wisata itu, dengan demikian mereka tertarik.
Mereka juga akan datang kalau pelayanan penerbangannya baik, sampai di bandara cepat pemeriksaan custom-nya, tidak dipersulit, tidak diminta sesuatu yang tidak-tidak begitu. Kala semuanya itu kita benahi, Insya Allah akan banyak sekali yang datang dan kalau datang itu sumber pendapatan nasional, pendapatan ekonomi yang luar biasa. Karena saya berbicara dengan Emir tadi seperti itu, Insya Allah akan kita lebih tingkatkan lagi keadaan tanah air kita.
Dengan demikian kalau kita ingin mendapatkan keuntungan dari kerjasama kita dengan negara-negara sahabat, mari kita persiapkan iklim yang baik di negeri kita sendiri agar kerjasama itu bisa berlangsung dengan baik. Tentu ada masalah-masalah lain, pendidikan, kerjasama di forum regional, kerjasama di dunia Islam dan lain-lain yang kami bicarakan tadi dengan pimpinan Qatar ini.
Itulah saudara-saudara yang menjadi agenda kunjungan kami di Qatar ini. Sedangkan satu hal yang ingin saya sampaikan sebelum saya berikan kesempatan nanti kalau ada satu, dua, tiga orang yang menyampaikan kepada saya. Kondisi nasional kita, pada prinsipnya dalam keadaan baik, ekonomi kita pelan-pelan bangkit dan tumbuh kembali. Situasi keamanan di seluruh tanah air, situasi sosial, situasi keamanan, juga makin baik. Aceh, alhamdulillah setelah kita mendapatkan musibah tsunami, ada berkah Allah SWT, sekarang kita bisa merajut perdamaian di Aceh, bersatu kembali diantara kita semuanya, membangun Aceh menuju masa depannya yang lebih baik.
Di Papua memang masih ada masalah-masalah intern Papua. Sebagian dari saudara kita di Papua yang ingin memaksakan kehendaknya, berpisah dari keluarga besar bangsa Indonesia, itupun akan kita kelola dengan baik. Dengan landasan diberlakukannya otonomi khusus sebagai solusi politik, kemudian kita terus lanjutkan pembangunan di Papua, agar kesejahteraan di Papua, pendidikannya, kesehatannya, pendapatan sehari-harinya, layak untuk hidup sebagai warga negara Indonesia. Semua itu kita lakukan dengan harapan ada solusi yang adil, solusi yang bijak dan untuk kepentingan rakyat, kepentingan saudara-saudara kita yang ada di Papua.
Penegakkan hukum jalan terus, Pemerintahan yang lebih bersih terus kita bangun dan wujudkan, korupsi terus kita perangi dengan harapan agar aset negara ini tidak hilang dicuri oleh mereka-mereka yang tidak bertanggung jawab. Nah kalau ekonomi kita tumbuh, pendapatan negara makin meningkat, tidak ada yang bocor, tidak ada yang dikorupsi, maka subsidi itu bisa kita lakukan untuk meningkatkan pendidikan, meningkatkan kesehatan, meningkatkan daya beli, mengurangi kemiskinan, membangun infrastruktur dasar, air bersih dan lain-lain.
Alhamdulillah, meskipun ekonomi kita juga masih belum pulih benar, belum pada tingkatan yang tinggi, tetapi kita telah membantu saudara-saudara kita kelompok miskin berobat secara gratis di Puskesmas, berobat secara gratis di Rumah Sakit kelas tiga, bebas dalam pembayaran uang di SD dan SMP, dengan bantuan yang kita berikan. Insya Allah semakin ke depan, ketika ekonomi kita makin pulih, maka kita akan ciptakan pendidikan dan pelayanan kesehatan yang murah dan berkualitas. Itu semua memerlukan kerja keras kita semua, seluruh bangsa, seluruh pemimpin, dengan harapan sekali lagi ekonomi tumbuh dan pertumbuhan itu distribusikan secara adil, tidak dikorupsi, tidak disimpangkan, tidak dipergunakan oleh hal-hal yang berlawanan dengan ketentuan.
Tetapi saudara-saudara, membangun bangsa, menuju masa depannya yang lebih baik tidak seperti membalik telapak tangan. Selalu ada permasalahan, selalu ada rintangan, selalu ada tantangan, mari kita jawab dan kita atasi bersama. Seberat apapun persoalan yang kita hadapi, kalau kita semua sadar, bersama-sama mengatasi, menyelesaikan masalah bukan menimbulkan masalah, maka satu demi satu masalah itu akan dapat kita atasi.
Tadi, Pak Dubes mengatakan, wah ini kalau, lihat putera-puteri Indonesia di Qatar ini, tidak perlulah kita pesimis, katanya. Memang bangsa Indonesia tidak perlu dan tidak boleh pesimis. Orang yang pesimis melihat sesuatu yang dilihat masalahnya, wah, ini bermasalah, itu ada masalah, wah, ini susah, susah terus, bermasalah terus. Tapi orang yang optimis, meskipun ada masalah disini, masalah disana, selalu ada jalan keluarnya, selalu ada solusinya. Mari kita menjadi orang yang optimis, karena Allah akan memberikan jalan untuk mencapai semuanya itu. Ingat juga bahwa Tuhan tidak akan merubah nasib sebuah kaum, kecuali kaum itu, kecuali bangsa itu, kecuali bangsa Indonesia bersama-sama merubah nasib dan masa depan kita.
Saya kira momentumnya sudah mulai kelihatan, jangan lewatkan, jangan sia-siakan kebangkitan kita ini, tetap berdiri, tetap optimis, tetap bersatu, jangan menyerah, ulet, marilah kita lakukan segalanya untuk masa depan kita. Saya yang sedang mengemban amanah, tentu minta doa restu saudara-saudara. Saya manusia biasa, yang saya miliki adalah tekad, upaya dan kerja keras. Saya dengan para pimpinan jajaran Pemerintahan untuk mengatasi semua persoalan ini. Dan kebersamaan sangat penting. Oleh karena itulah mari kita jalankan tugas dan amanah kita semua ini dengan sebaik-baiknya.
Itulah yang dapat saya sampaikan saudara-saudara. Dan tentunya saya berharap, pertahankanlah apa yang sudah sangat membanggakan di Qatar ini. Kemudian kalau ada masalah-masalah tolong disampaikan kepada Pak Duta Besar, sekali-kali tidak perlu kuliah menerima permasalahan dari warganya. Kemudian kalau harus ke Jakarta Pak Dubes, silakan disampaikan ke Menteri-Menteri terkait, kalau harus sampai ke saya, tolong sampaikan ke saya. Karena kita semua bekerja untuk rakyat. Kita bekerja untuk saudara semua.
Itulah yang saya sampaikan, dan setelah ini saya beri kesempatan. Pak Dubes, silakan diatur siapa yang ingin menyampaikan sesuatu kepada saya. Saya persilakan.
Pertanyaan:
Assalamu alaikum Wr. Wb.
Terima kasih, atas kesempatan yang diberikan. Nama saya telah diperkenalkan, Mahdi Musa. Kami berada di sini selama 20 tahun, kemudian berada di Qatar selama 8 tahun. Kampung berasal sama dengan abang kita Pimpinan Metro TV, Pak Surya Paloh. Terima kasih, Pak, atas kesempatan yang diberikan. Kami tertarik sekali dengan uraian bapak, kemudian juga sehati dengan apa yang kami rasakan sebagai pelaksana di lapangan.
Bahwa, bapak sampaikan tadi menyangkut masalah tenaga kerja, kami sampaikan bahwa sebagai berikut. Kalau masalah teknis, kami di lapangan tidak ada kesulitan terutama yang tenaga semi skilled, skilled dan profesional. Di lapangan secara teknis kami tidak mempunyai kesulitan. Dari pengalaman yang kami miliki, kami tidak punya kesulitan. Nah, kami sampaikan bahwa, kemampuan kami sekarang ini, tidak terjadi begitu saja, tentu dari pendidikan, background yang kami laksanakan di tanah air sebelumnya. Oleh karena itu nanti barangkali rentetannya untuk mempersiapkan tenaga kerja kemudian hari juga, proses ini harus kita ikuti.
Yang kami temukan kesulitan adalah, bukan di Qatar, tapi di tanah air. Sewaktu kami kembali ke tanah air, sepertinya kami bukan dianggap sebagai warga negara Republik Indonesia sebagai pahlawan devisa negara. Kami dipersulit, dipermasalahkan bermacam-macam sehingga kami kesulitan untuk kembali bekerja kembali di sini.
Biang keladinya adalah, adanya surat keharusan, rekom Depnaker, yang dikeluarkan oleh Dirjen Depnaker. Yang ini kami bisa katakan adalah biang keladi dari permasalahan TKI ke Timur Tengah. Yang tercium dan kami rasakan adalah ini sarat dengan korupsi, pemerasan TKI, sepertinya ada konspirasi Depnaker, Imigrasi, Kepolisian dan Petugas Bandara. Kami sudah teriak kemana-mana, Pak, baik ke media massa, pada Pak Menteri yang hadir dan ini belum terwujud keinginan kami. Maka ini kami pesankan kepada Pimpinan Tertinggi Negara agar ini, tadi sejalan dengan keinginan Bapak.
Kemudian menyangkut tenaga kerja, ada satu masalah. Keharusan pemusatan pengeluaran paspor di Tangerang untuk tenaga kerja ke Timur Tengah ini tidak berjalan dan menyimpang dari azas pemerataan. Dan kami setuju sekali, ini supaya dibenahi Pak. Kebutuhan paspor TKI ke Timur Tengah tidak hanya dipusatkan di Tangerang tapi dipusatkan di daerah-daerah. Ini juga sepertinya praktek monopoli. Dan ini kami harapkan kepada Bapak Presiden segera dihapuskan.
Kemudian, Pak, mengenai peningkatan kualitas TKI, yang kami rasakan adalah masalah bahasa. Ini hampir semua, kalau yang profesional saya lihat, bahkan mereka lebih baik bahasa Inggrisnya dari orang Inggris sendiri. Tapi bagi mereka yang semi skilled ini kesulitan besar. Oleh karena itu, kami pesan kepada Bapak untuk diarahkan kepada lembaga terkait, agar disiapkan TKI itu adalah penguasaan bahasa terutama. Termasuk skill-skill yang sesuai dengan profesinya.
Kemudian, agar ini juga diikuti Pak, di-follow up secara teknis ke bawah. Dan menyangkut dengan masalah apa namanya, Pak, tadi itu masalah ketenagakerjaan saya kira sudah selesai.
Kemudian adalah masalah perdagangan. Perdagangan ada yang kami lihat dan kami harap saudara Pemerintah, saya kira ini Bapak lebih tahu daripada kami, yang kami rasakan itu akan lebih berhasil kiprahnya dan hasil implementasinya adalah kebijakan G to G. Dan kemudian akan di-support atau di-follow up secara teknis oleh lembaga terkait dan rasanya perlu ada semacam apa namanya, konsorsium yang integrated, Pak. Jadi semua masalah satu pintu, harus bisa menangani hampir seluruh masalah. Jadi menyangkut peningkatan masalah perdagangan.
Kemudian masalah investasi. Yang kami rasakan, yang kami dengar-dengar dari sekeliling kami, ini ada keengganan dari pihak debitor. Itu karena adanya biaya tinggi, karena birokrasi pemerintah, jadi mereka keengganan. Kemudian ada semacam, terasa bahwa, tidak konsistensi Pemerintah, jaminan pada investor, untuk berinvestasi di negara kita. Sepertinya ganti Pemerintah, ganti kebijakan.
Jadi mohon ini juga, ini sebagai input dari kami, Pak. Terima kasih. Inilah bahasa kami lapangan, Pak.
Pertanyaan:
Terima kasih, Pak Dubes,
Bimillahirrahmanirrahim,
Assalamu alaikum Wr. Wb.
Bapak Presiden bersama Ibu Ani Susilo Bambang Yudhoyono yang kami hormati, nama saya Usman Setiawan dari Permiqa, Pak, yang membawahi beberapa tenaga kerja dari sekian perusahaan di Qatar ini. Kalau tadi pendahulu kami nampaknya agak pesimis dengan apa yang disampaikan, saya mungkin agak sedikit optimis, Pak.
Bahwa saat ini terdapat 21.000 tenaga kerja Indonesia di Qatar ini, yang mereka terbagi dari khususnya bekerja di bidang minyak dan gas. Tersebar dari up stream ke down stream, Pak. Di up stream sekarang kurang lebih ada 1.000 tenaga kerja Indonesia yang bekerja di eksploitasi dan eksplorasi minyak. Kemudian sekitar 17.000 di down stream, pemasaran dan pengolahan minyak, termasuk sterilizer dan chemical industri baja dan sebagainya. Sekitar 3.000 orang di bidang jasa, penerangan dan perhotelan, dan juga kesehatan.
Hal-hal ini tentu saja sangat menggembirakan bagi kami, Pak. Khususnya saya sebagai ketua Permiqa, bahwa semakin hari semakin banyak orang-orang kita yang datang kesini. Mungkin sedikit masukan untuk Bapak bahwa saat ini begitu banyak kesempatan yang terbuka di Qatar ini, Pak. Dengan adanya harga minyak yang semakin melambung, memberi kesempatan kepada tenaga kerja Indonesia untuk lebih banyak lagi berkiprah di Qatar ini.
Dalam waktu dua tahun kedepan diperlukan sekitar 75.000 tenaga kerja untuk bidang konstruksi, Pak. Sementara saat ini saja di perusahaan saya, kebetulan saya bekerja di Qatar Petroleum, ada 1.700 posisi yang kosong, Pak. Dimana setiap tiga bulan sekali saya terpaksa harus men-delete 300 posisi karena tidak terisi orangnya.
Nah, ini kesempatan yang sangat terbuka, tetapi mungkin kurang sosialisasi di tanah air sehingga kesempatan ini jarang bisa diraih oleh bangsa kita, Pak, oleh tenaga kerja kita. Adapun betul, bahwa kata Pak Mahdi tadi, salah satu hal yang mengganjal eksistensi tenaga kerja kita di luar negeri dan khususnya di Qatar adalah, ada dua sebenarnya Pak, yang pertama adalah masalah rekom Depnaker, yang pada bulan Januari lalu saya sempat ke Jakarta di utus oleh teman-teman bertemu dengan Pak Menteri untuk membicarakan masalah rekom ini. Dan disepakati, dipahamkan saya ketika itu bahwa akan ada perubahan, bahwa rekom itu hanya berlaku bagi tenaga kerja formal saja. Alhamdulillah, maksud saya informal, Pak. Alhamdulillah ada hasilnya, Pak. Hasilnya adalah tiga hari yang lalu kami menerima surat edaran dari Direktur Promosi dan Penempatan Tenaga Kerja yang isinya justru lebih terang daripada rekom, Pak.
Salah satunya adalah, tenaga kerja yang hendak berangkat ke luar negeri ketika hendak meminta bebas fiskal harus mendapatkan rekomendasi dari Depnaker. Ini lebih mengerikan daripada yang sudah-sudah.
Jadi mohon kepada Bapak Presiden, bahwa kesempatan demikian terbuka di sini. Kita bekerjasama memanfaatkan kesempatan yang ada. Saya berharap bahwa di bawah arahan Bapak Presiden, akan terjadi suatu industrialisasi di bidang tenaga kerja. Kita paham bahwa ada sekitar 40 juta orang yang saat ini kurang beruntung nasibnya. Dan kalau ini dikelola dengan baik, lintas departemen, di bawah arahan Bapak Presiden, kemudian diekspor, dididik mereka, kemudian ekspor ke seluruh dunia, dia akan lebih hebat, lebih bisa daripada hanya sekedar minyak, Pak. Saya yakin itu.
Kami berharap, Pak. Mudah-mudahan bagi kami, apa yang Bapak katakan tadi mengenai reformasi, mengenai good governnance, itu bagi kami artinya hanya satu, Pak, mohon rekom dan rekom lainnya dihapuskan. Itu saja, Pak. Terima kasih. Wassalamu alaikum Wr. Wb.
Pertanyaan:
Assalamu alaikum Wr. Wb.
Yang terhormat Bapak Presiden dan Ibu,
Bapak-Bapak Menteri sekalian,
Ijinkanlah, nama saya Sahrian Tampus, sekarang ini bekerja di Qatar Gas, LNG di bagian komersil MCP. Kami, Pak, yang bekerja di Qatar ini, sudah bekerja berkisar selama sekitar lima sampai sepuluh tahun rata-rata. Dan alhamdulillah, posisi-posisi yang telah ditempati oleh tenaga-tenaga Indonesia di bidang oil dan gas ini, mencakupi mulai dari high skilled operator, supervisor, superintendent, sampai ke section head dan manager. Dan ini sangat menggembirakan. Dan ini membuktikan juga bahwa kita mampu bersaing dengan tenaga asing disini, Pak.
Dan lebih menggembirakan lagi, perusahaan-perusahaan yang dimana kami bekerja tersebut, terus meminta kebutuhan tenaga kerja kedepan untuk proyek-proyek yang akan datang. Sebagai contoh, proyeknya yaitu kilang LNG yang akan dibangun nanti, akan ditambah 7 kilang LNG, satu kilang refinery dan tiga GTL. Oleh karena itu, kami disini menanyakan kepada Bapak, sampai sejauh mana Pemerintah Indonesia mengantisipasi tantangan kebutuhan tenaga kerja di Qatar ini, yang begitu besar, mulai dari saat sekarang sampai tahun 2012 mungkin.
Dan sehubungan dengan itu kami ingin mengusulkan, kita, sebagaimana kita ketahui kita memiliki tenaga atau pusat diklat Aka migas yang terkenal telah memproduksi tenaga terampil dan berkualitas. Usulan kami, Aka migas tersebut diperbesar kapasitasnya, kemudian dibuka untuk umum, kemudian diberi kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat dan diberi kemudahan-kemudahan, sehingga nanti dapat diproduksi tenaga yang lebih banyak dan berkualitas dikirim ke Qatar ini.
Kemudian, khusus untuk tenaga LNG, kami yang bekerja di Qatar Gas dan Proses? ini, marasakan sekali kekurangan tenaga LNG yang sangat mendesak saat ini, karena begitu agresifnya pembangunan kilang LNG saat ini. Sedangkan kebutuhan, ketersediaan tenaga kerja LNG dari Indonesia, itu sangat terbatas. Oleh karena itu, kami mengusulkan sebaiknya kilang LNG Arun dan Bontang itu dijadikan pusat premi untuk memproduksi tenaga–tenaga yang lebih ke depan nanti.
Kemudian harapan kami, semoga kesempatan dan momentum yang bagus ini dimanfaatkan oleh Pemerintah Indonesia secepat mungkin dari saat sekarang sampai tahun 2012. Hanya itu pertanyaan dan usulan kami. Terima kasih. Wassalamu alaikum Wr. Wb.
Petanyaan:
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu alaikum Wr, Wb,
Yang terhormat Bapak Susilo Bambang Yudhoyono beserta Ibu,
Bapak-bapak Menteri yang menyertai kunjungan beliau ke Timur Tengah ini,
Dan para hadirin yang saya hormati,
Kalau beberapa pembicara yang sebelum ini kelihatan begitu ganas, saya mencoba seperti arahan Bapak Presiden, untuk bisa sedikit optimis dengan sedikit mendongeng akan keberhasilan negara Qatar ini. Jadi saya bukan bercerita tentang keberhasilan tenaga kerja kita tapi keberhasilan negara Qatar, dimana notabene Qatar ini adalah maju karena industri migas yang ditata dengan baik. Jadi saya kira ini juga pesan untuk Pak Purnomo yang bergerak di bidang energi.
Maaf, Pak, sebelumnya nama saya Budi Wicaksono. Saya bekerja di bagian Pemasaran di Qatar Petrolium jadi Pertamina-nya Qatar ini.
Saya melihat bahwa begitu Qatar ini menstrukturisasi peraturan-peraturan Pemerintahnya, mereka maju. Dan untuk itu, saat ini Qatar sedang booming energi. Karena memang saat ini banyak sektor-sektor yang berkaitan dengan energi yang dikembangkan. Dan saya melihat disini bahwa Qatar ini lain dengan, kalau kita bandingkan dengan kedudukan negara-negara teluk lainnya yang juga menghasilkan minyak dan gas. Qatar ini sedang booming sementara dia stuck, Pak. Maksud saya disini adalah disitu akan terdapat banyak sekali opportunity yang bisa diraih atau dimanfaatkan, diambil oleh para businessman kita yang bergerak di bidang energi maupun infrastruktur pendukungnya untuk bisa masuk ke Qatar ini.
Dan itu juga merupakan suatu kebanggaan bagi kami-kami semua disini. Seandainya Bapak itu bukan hanya secara kebetulan datang seperti yang Pak Abdul Wahid tadi katakan, kebetulan datang ke Qatar alhamdulillah, tapi kita juga ingin itu di semacam ditindak lanjuti, entah itu dalam taraf Menteri atau langsung G to G, Emir dengan Presiden. Karena memang kami melihat kesempatan disini sangat banyak untuk para businessman di Indonesia, untuk segala macam industri infrastruktur yang berkaitan dengan energi.
Yang kedua, saya juga melihat bahwa Indonesia ini juga dulu pernah mengalami booming industri migas di era tahun 70-an. Berarti saya juga melihat bahwa era keterkaitan negara ini, itu sama seperti Indonesia dulu. Berarti disitu juga Qatar sebetulnya itu sangat mengharapkan, ini apa yang saya rasakan di daerah kerja kami bahwa tolong ditularkan pengalaman itu. jadi seolah-olah Indonesia ini mempunyai comparative advantage bila dibandingkan negara-negara Asia, yang saat ini mendominasi tenaga kerja di Qatar ini. Jadi sudah saatnya, Bapak selaku Pemimpin nomor satu di Indonesia, untuk merangsang perkembangan bisnis ini di Indonesia untuk masuk ke Qatar ini, Pak.
Dan yang kedua sebagai kunci sukses daripada, yang ketiga maksud saya, kunci sukses untuk melaksanakan hal ini, saya kira Bapak telah mengambil langkah dengan menunjuk Pak Alwi Shihab selaku special envoy dan itu sangat-sangat membantu urusan dengan para pemuka negeri ini, karena memang disini sistem atau culture-nya memang harus top-down. Jadi kalau di atas ok, di bawah juga diharapkan akan ok juga, gitu.
Dan key sukses faktor kedua, dan ini saya akan ketengahkan juga adalah kita disini sudah sepantasnya turut bangga bila ada pengusaha Indonesia masuk kesini. Dan kita siap juga seperti Bapak Wahid tadi juga katakan, kita ini bekerja tapi juga sebagai duta dan kita siap beberapa rekan-rekan memberikan informasi atau sebagai duta informasi berkaitan dengan kira-kira apa yang sebetulnya kita bisa kembangkan di Qatar ini.
Itu saja, Pak. Dan yang terakhir adalah, ya sudah tentu kita mohon supaya kita juga bisa awet disini, artinya kalau kita balik ke Indonesia itu jangan di susah-susahin gitu, Pak. Terima kasih. Itu sekedar dari saya.
Wassalamu alaikum Wr. Wb.
Pertanyaan:
Assalamu alaikum Wr. Wb.
Nama saya Muhammad Jamal, bekerja di Qatar Petroleum, Bagian Inspeksi. Saya tidak akan bertanya seperti kawan-kawan yang lain, jadi sekedar himbauan saja, ada dua himbauan yang ingin saya sampaikan.
Yang pertama, saya ingin diaminkan, yang kedua tidak usah.Yang pertama adalah himbauan saya kepada Bapak Presiden, apabila tidak ada tugas-tugas yang lebih penting dan lebih besar pengabdiannya, saya mohon Pak Wahid jangan dipanggil pulang ke Jakarta, begitu. Saya bukan dipesankan oleh Pak Wahid nih, Pak Hasan. Baik.
Bapak Presiden sebenarnya ini, apa yang saya sampaikan sekedar menguatkan kalbu saja, kadang-kadang kalau kita ikrarkan bersama, kita sering terenyuh lagi, walaupun saya yakin, haqul yaqin dan ainul yaqin, Bapak Presiden dan seluruh Menteri-Menteri dan stafnya, telah menjalankan apa yang ingin saya sampaikan ini. Ini sekedar renungan yang sering saya pikirkan, tatkala sering berdialog dengan rakyat kecil.
Dan disini kami sering berdialog dengan para TKW, yang merupakan rakyat kebanyakan, rakyat kecil daripada bangsa kita. Untuk mereka saya ingin menyampaikan sesuatu. Mereka rakyat kecil atau rakyat kebanyakan, warga mayoritas bangsa kita, bangsa Indonesia. Di jaman penjajah, merekalah yang paling ditindas, di saat merdeka sekarang ini, per kepala merekalah yang paling kecil dan sedikit mengkonsumsi kekayaan negara. Listriknya kecil, BBMnya irit, tanahnya kecil, lauk-pauknya sederhana, sandangnya sederhana dan lain-lain.
Tatkala negeri ini sedang susah, merekalah yang paling prihatin dan paling mudah dan paling ridho diajak berkorban untuk negara, kendati ada kalanya mereka berprotes. Itu dikarenakan himpitan hidup yang sudah di luar kesanggupan mereka. Sedikit saja berbuat baik kepada mereka, maka sesungguhnya telah berbuat baik kepada mayoritas bangsa Indonesia. Sedikit saja mengambil hak mereka, maka sesungguhnya telah mengambil hak mayoritas bangsa Indonesia. Berpihak kepada mereka, berarti telah menyelamatkan perjalanan bangsa, karena tidak ada satupun perjalanan bangsa di muka bumi ini yang selamat tanpa berpihak kepada rakyat kebanyakan. Menyia-nyiakan dan tidak mengutamakan mereka, berarti telah menyia-nyiakan sebagian besar amanat bangsa Indonesia.
Para hadirin,
Tahukah kezaliman yang paling besar, yang tidak ada yang lebih buruk setelah itu, yaitu kezaliman yang ditujukan kepada orang yang lemah, kezaliman yang ditujukan kepada rakyat banyak, rakyat kecil daripada bangsa Indonesia. Maka apabila terjadi penzaliman lahir maupun batin terhadap rakyat kecil yang namanya worker, TKW, kuli, supir dan lain-lain semuanya, di saat-saat seperti ini, memerasnya, merampas haknya, mengurangi haknya, mengurangi jatah berasnya, obatnya, uang sekolah anak-anaknya dan lain-lain, maka itulah kezaliman yang paling azhim di permukaan bumi ini. Oleh karena itu, izinkanlah saya berwasiat untuk diri saya, keluarga saya, pemimpin-pemimpin saya dan para hadirin sekalian, peliharalah sebaik-baiknya hak rakyat kecil bangsa Indonesia. Jangan biarkan ada satupun diantara kita menzalimi mereka, karena pertolongan Allah SWT, datang bersama mereka. Harapan bangsa bergantung dengan berapa jauh hak-hak mereka terpelihara.
Para hadirin, hadirat, rohim makummullah,
Marilah kita memohan secara tulus ikhlas, semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan kekuatan, kesehatan dan bimbingan kepada Bapak Presiden kita, Bapak SBY dan keluarganya. Semoga Allah SWT memanjangkan umurnya dalam ketaatan dan amanat pengabdian kepada bangsa Indonesia, hingga dapat membawa seluruh bangsa ini ke dalam kehidupan yang mereka dambakan, kehidupan dalam negara yang balbatun toyibatun, warrobbun goffur. Ammin ya rabbal alamin.
Wassalamu alaikum Wr.Wb.
Presiden RI:
Terima kasih. Kita semua sudah menyimak apa yang disampaikan oleh saudara-saudara kita tadi. Ada lima pembicara dan terakhir tadi Bapak Muhammad Jamal telah melakukan pencerahan sebetulnya, saya mengucapkan terima kasih atas semuanya itu. Saya kira, pesan-pesan moralnya dan pesan-pesan spiritualnya, patut bukan hanya kita renungkan tapi kita jalankan bersama. Saya akan merespon secara singkat tanpa mengurangi kejelasan dari apa yang ingin saya sampaikan.
Tadi Pak Mahdi Musa masalah rekom Depnaker. Tiga hari yang lalu saya meminta penjelasan dari Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, waktu kami berada di Riyadh. Apa yang melatarbelakangi keluarnya rekomendasi Depnaker itu? Dijelaskan oleh beliau, ada situasi khusus waktu itu, yang rekomendasi itu perlu dikeluarkan. Dan beliau juga mengetahui terjadi banyak ekses, banyak penyimpangan yang akhirnya menghambat proses datang dan kembalinya tenaga kerja kita.
Oleh karena itu, waktu itu para Menteri juga ada disitu, kita mintakan untuk kebijakan seperti itu, peraturan seperti itu segera dicabut, karena manfaatnya jauh lebih kecil dibandingkan mudharat-nya. Perlu dicarikan cara lain untuk justru membantu, memperlancar tenaga-tenaga kerja kita dalam menjalankan tugasnya. Oleh karena itu, Menaker sudah kembali ke tanah air. Saya kira dalam waktu dekat akan ada keputusan Menaker untuk menghentikan kebijakan seperti rekom ini, yang nyata-nyata membawa dampak yang tidak kita kehendaki.
Dan nanti sebagaimana saya sampaikan, Insya Allah satu bulan dari sekarang akan ada pertemuan khusus, untuk mengevaluasi dan memperbaiki kebijakan ketenagakerjaan, termasuk tenaga kerja kita yang bekerja di luar negeri. Disitu akan kita hadirkan para Menteri terkait, para Gubernur, para pengusaha tenaga kerja, para Duta Besar akan kita undang, yang negaranya, negara dimana bertugas banyak sekali tenaga kerja kita berada atau bekerja. Untuk satu, yang menata sebuah kebijakan dan peraturan yang pro-tenaga kerja, membikin mudah, membikin sederhana dan tidak menghambat.
Yang kedua, akan kita tata bagaimana penyiapan tenaga kerja di tanah air, semacam balai latihan kerja, semacam pre-mission planning, berbeda-beda tentunya bekerja di Korea Selatan, bekerja di Malaysia, bekerja di Singapura, bekerja di Qatar, bekerja di Saudi Arabia. Jadi para Dubes nanti akan melaporkan keadaan khas negara masing-masing, pasarnya yang terbuka apa, skill atau keterampilan yang diperlukan seperti apa, Undang-Undang peraturan yang berlaku seperti apa, adat istiadatnya seperti apa. Dengan demikian, ketika kita menawarkan, kita mempersiapkan, persiapan kita pas, tepat. Dengan demikian begitu datang ke negara yang bersangkutan, mereka akan bisa bekerja dengan baik.
Kita juga akan bahas permasalahan apa saja yang muncul. Sejak di tanah air, di perjalanan, di negara tujuan, perlakuan pemerintah ataupun masyarakat di negara tujuan itu, dengan demikian kita bisa lakukan pencegahan dan kemudian kalau ada masalah bisa kita carikan solusinya.
Pendek kata akan kita lakukan restrukturisasi secara sungguh-sungguh. Dengan demikian, harapan kita apa yang saudara keluhkan tadi dan saya kira terwakili pengalaman atau perlakuan tenaga kerja kita akan dapat kita hilangkan dan kita punya lembaran baru, sejarah baru, era baru, dimana ketenagakerjaan akan kita berikan tempat dan penghargaan yang tinggi, karena mereka sekali lagi penghasil devisa, tapi rela berpisah dengan sanak keluarganya, mengembara ke negara lain dan untuk bekerja. Dan sebetulnya untuk kepentingan bangsa dan negaranya ketika pemerintahnya, negaranya belum bisa memberikan lapangan kerja yang cukup di tanah air. Itulah yang akan kita lakukan nanti.
Pembuatan paspor, akan kita tinjau kembali. Memang ada penipuan, pemalsuan paspor, ada persoalan penyalahgunaan visa dan lain-lain. Tetapi akan kita tata nanti, yang penting tidak mempersulit atau membebani kepada tenaga kerja, tapi kita carikan sistem. Di satu sisi memperlancar pelaksanaan pembuatan paspor, di sisi lain kita cegah pemalsuan dan penyalahgunaan paspor atau visa ini.
Kualitas TKI, saya katakan tadi, tidak boleh kita generalisasi. Mengirimkan tenaga kerja ke Malaysia, ke Korea, ke Saudi Arabia, tentu berbeda-beda. Oleh karena itulah, Bapak mengatakan bahasanya, adat istiadatnya, peraturannya, skill-nya harus kita beda-bedakan. Ini mesti bisa kita lakukan, karena informasinya ada. Dengan demikian, kita mempersiapkan benar-benar sesuai dengan permintaan negara yang kita tuju.
Kemudian perdagangan, Bapak memang, justru kunjungan kami, saya dengan Menteri, dengan Pimpinan dan Anggota DPD, DPR, para Pengusaha, Tokoh Masyarakat, Rektor, mewakili Organisasi Islam, banyak sekali rombongan kami ini. Menyatukan semuanya. Sekarang tidak boleh hanya government to government, juga ada parliament to parliament, private to private. Dengan demikian, selalu kita bangun kemitraan, pemerintah dengan dunia usaha, ketika kita masuk dalam perdagangan dan investasi.
Benar, bahwa umbrella harus dari Pemerintah. Harus ada kebijakan yang memayungi. Nah, setelah itu kita persilakan dunia swasta, Pimpinan Kadin juga bersama saya. Silakan swasta Indonesia, swasta Qatar, katakanlah menjalin kerjasama mana yang memerlukan payung Pemerintah, akan kita payungi. Mana yang harus berangkat dari kebijakan bersama, kita bikin kebijakan itu. Selebihnya, laksanakan usaha yang sebaik-baiknya.
Investasi Bapak; memang bukan hanya biaya tinggi, bukan hanya karena birokrasi yang masih menghambat sebagian, bukan hanya karena hal ini hal itu, tapi ada 16 item yang menghambat investasi di Indonesia. Banyak sekali. 16, 16-nya inilah yang sekarang satu per satu telah kita tangani. Sebagian sudah berubah-ubah, sebagian sedang dalam perubahan, sebagian lagi harus kita perjuangkan karena merubah kultur, merubah kebiasaan, merubah jalan pikiran.
Sebagai contoh: dulu 151 hari untuk memulai bisnis di Indonesia. Negara lain, hanya 60 hari, negara lain ada yang 30 hari, negara lain 2 minggu. Ya itu tadi, di negara kita ini sering mempersulit sesuatu yang padahal bisa dipermudah. Dari satu meja ke meja yang lain, dari satu kantor ke kantor yang lain. Alhamdulillah, sekarang sudah mulai bisa kita pangkas, kurang lebih tinggal separuhnya. Kemudian beberapa Gubernur, beberapa Bupati, malah nantang, Pak, kami bisa 1 bulan. Bagus, itu salah satu contoh. Bayangkan kalau 6 bulan mengurus bisnis, ketemu banyak orang, belum kalau dimintai sana, dimintai sini. Boros. Belum tentu bisa bekerja sesuai dengan yang dia inginkan.
Banyak sekali Bapak yang kita perbaiki: kepastian hukum, stabilitas politik, keamanan, kebijakan tidak bertabrakan Pemerintah Pusat dengan Pemerintah Daerah, pajaknya, bea dan cukainya, sistem pengadilannya, dan lain-lain.
Itu kita benahi semua. Kita sudah punya namanya roadmap, kita sudah punya timetable, revisi Undang-Undang kita lakukan, investasi, perpajakan, bea dan cukai, dan lain-lain. Tujuannya adalah agar iklim ini menjadi bagus.
Sebenarnya, kalau dianggap tidak konsisten satu Pemerintah dengan Pemerintahan yang lain, Pemerintahan ganti, ganti kebijaksanaan, itu tidak seperti itu. Karena seperti saya menjadi Presiden sekarang ini, Pemimpin Pemerintahan, Undang-Undang yang lahir zaman Pak Habibie misalnya, zaman Ibu Megawati misalnya, zaman Gus Dur misalnya, yang belum dicabut tetap berlaku. Jadi tidak ada sesuatu yang berubah sepanjang Undang-Undang itu masih berlaku, sepanjang Peraturan Pemerintah, Instruksi Presiden, itu masih berlaku. Nah, kalau memang menghambat, tidak cocok dengan keadaan, baru kita lakukan penyempurnaan, perbaikan.
Jadi sebetulnya bukan tidak konsistennya antara Pemerintah, tapi masih ada oknum-oknum yang menghambat, yang sengaja mencari celah-celah dari peraturan itu, untuk kepentingannya sendiri. Itu yang bikin repot sekarang ini.
Dan kita ingin sistemnya bekerja, tapi Insya Allah jangan pesimis, karena saya sudah melihat arah yang makin benar. Saya sudah melihat banyak sekali perubahan di pusat dan di daerah, tapi ini belum cukup. Harus terus kita tingkatkan sehingga terjadi perubahan mendasar di negeri kita. Dan ini semua kita lakukan, sambil kita menciptakan ekonomi yang lebih stable. Dengan demikian, ada daya saing kita untuk investor, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, yang akan berusaha di negeri kita.
Kemudian Saudara Usaman setiawan tadi, terima kasih informasinya, ini yang saya perlukan sebetulnya. Jadi nanti Pak Boediono, Pak Purnomo dan Ibu Mari Pangestu, para Menteri ini, para Dubes, Pak Hassan, Menlu, itu harus punya profile dari negara dimana mereka bertugas. Seperti ini kan cantik sekali, kita masih memiliki kurang lebih 10 juta yang masih menganggur, mencari kerja. Meskipun tiap tahun kita buka lapangan kerja, selalu ada yang menganggur. Alangkah cantiknya kalau mereka-mereka itu, apalagi yang juga punya keterampilan yang tinggi, bisa bekerja di tempat yang lain.
Dengan persiapan yang baik, dengan informasi yang baik seperti ini, Insya Allah kita akan satukan semua potensi kita, akademi kita, departemen-departemen kita, jasa tenaga kerja kita, kebijakan Pemerintah yang terkait, agar betul-betul makin banyak putera puteri Indonesia yang bekerja di luar negeri.
Saya bangga ketika berkunjung ke tempatnya Bill Gates, Microsoft, pusatnya di Amerika Serikat, saya ketemu dengan 40 orang putera puteri Indonesia, masih muda, yang tidak kalah kualitasnya dengan mereka-mereka yang bekerja di Mirosoft sana.
Demikian juga di negara lain, saya bertemu dengan mereka. Saya kira bangsa kita ini bangsa yang besar, banyak sekali putera puteri yang cerdas, yang mendapatkan pengakuan di luar negeri. Jangan kita sia-siakan kesempatan ini. Dengan catatan kita tahu informasinya, kita mempersiapkan dengan baik dan kita aktif, kita proaktif, untuk bisa menugaskan, mengirimkan putera puteri terbaik kita bekerja di tempat yang terhormat.
Kemudian juga dibicarakan dengan Menteri terkait. Memang ada peluang, ada opportunity untuk pekerjaan di bidang jasa, baik di Qatar, di Kuwait maupun di Saudi Arabia. Insya Allah akan kita penuhi ini dengan persiapan yang baik, di negeri kita sendiri.
Kemudian Saudara Sahrian Tampus, betul. Mana beliau tadi? Bahwa kita tidak kalah dan justru inilah yang akan kita tingkatkan. Pengetahuan dan informasi tentang peluang yang ada di luar negeri. Kita persiapkan dengan baik skill-nya, pengetahuannya, kalau perlu ya adat istiadatnya yang harus diketahui. Dengan demikian begitu tugas, dia siap.
Saya pernah berkunjung ke AKA Migas. Pak Purnomo, saya kira itu sangat bagus. Saya kira, kita bisa bekerja dengan Perguruan Tinggi yang lain, ITB, ITS. Disini ada Pak Rektor UI juga. Saya kira mari kita siapkan segalanya, Indonesia incorporated, ya Pemerintahnya, ya DPR-nya, ya DPD-nya, ya Perguruan Tingginya, ya LSM-nya, semua. Bersatu padu, untuk meningkatkan, menumbuhkan bangsa kita, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.
Kemudian ini ide yang bagus, tolong Pak Purnomo, tolong dikembangkan nanti. Memang untuk Arun ini saya kira banyak saudara-saudara kita yang berasal dari Aceh, ini memang ada permasalahan karena susut produksi gas kita. Oleh karena itu, kita tentukan sebuah kebijakan baru. Agar PIM itu masih bisa beroperasi, kita pindahkan gas yang dari Kalimantan Timur. Dengan demikian, masih bisa berlanjut, sambil menunggu nanti pembukaan Blok-A, yang di Aceh. Kalau itu bisa digalakkan kembali, maka masih akan berlanjut produksi PIM I dan PIM II yang ada di Aceh.
Di sini Meneg BUMN, Menteri Energi juga bekerja keras untuk menata itu. Dan ingat, bahwa kita punya Bontang, punya Arun yag akan segera kita tata kembali, Insya Allah nanti kita punya tangguh di Irian Jaya barat, di Papua. Dengan demikian, kalau itu bisa digunakan sekaligus untuk pre-mission training, untuk on the job training, saya kira bagus sekali. Dengan demikian, lebih terampil lagi, lebih siap pakai lagi, apa namanya tenaga kerja kita, tolong nanti dipikirkan policy-nya seperti apa, tentunya bisa ini, karena sangat besar manfaatnya.
Mereka bersaing untuk datang ke negeri seperti Qatar ini, padahal saudara-saudara jadi pujian disini. Tentu kalau ada tambahan lagi dari Indonesia dengan skill yang sama, dengan disiplin yang sama, dengan kinerja yang sama, tentu akan terbuka lebar peluang yang ada di negara-negara sahabat kita.
Kemudian saudara Budi Wicaksono, tadi ya memang Qatar ini penduduknya kurang dari satu juta, GDP-nya kalau tidak salah 32 billion, berarti 300 triliun rupiah. Jadi kalau tidak salah, income per kapita itu 45 ribu. Indonesia, alhamdulillah sekarang kita sudah naik kembali, lebih tinggi dibandingkan sebelum krisis. Sekarang income per kapita bangsa kita 1300, ya mengapa 1300 karena jumlahnya penduduknya 220 juta, kalau GDP-nya Indonesia sekarang ini, US$320 miliar. Jadi sekitar 3100 triliun, sepuluh kali dibanding Qatar. Jadi ekonomi kita sepuluh kali lebih tinggi, tetapi karena 220 juta, kalau dirata-rata, ya ketemunya 1300. kita syukuri dulu, kita bangun lagi, kita tingkatkan, tingkatkan, tingkatkan.
Ingat ya, begitu dapat krisis, yang tadinya zaman Pak Harto tumbuh 6-7%. Begitu krisis kita langsung minus, 13-14 % di bawah. Setelah itulah Pak Habibie, Gus Dur, Ibu Mega saya, ingin berjuang keras untuk memulihkan kembali. Alhamdullilah sudah mulai menanjak. Tahun 2004 ketika saya disumpah sebagai Presiden, ekonomi kita tumbuh 5.1 %, tahun 2005, tahun lalu tumbuh 5.6 %, mudah-mudahan tahun 2006 ini, kalau bisa, kalau bisa tumbuh 6%. Dengan demikian, ya kita maju, nilai tukar kita yang kemarin sempat 11.000 sekarang kembali ke 8.000. Kenapa, kenapa? Ya memang. Kalau memang ya gajinya dollar susah, yang apa namanya, eksportir susah karena kurang bisa bersaing, tapi importir senang, negara juga bisa senang karena bisa membayar utang lebih murah lagi.
Tetapi tentunya, mudah-mudahan, tetap dalam keadaan yang baik sehingga saudara tetap memiliki keuntungan yang lebih. Indeks, indeks harga saham gabungan itu tertinggi dalam sejarah kita. Inflasi, Insya Allah kembali ke satu angka tahun 2006 ini. Investasi, ekspor, mudah-mudahan bisa kita tingkatkan. Artinya apa? Ekonomi sudah menggeliat kembali, tumbuh kembali. Tinggal pertumbuhan ekonomi itu harus kita alirkan meningkatkan kesejahteraan rakyat, pendidikan, kesehatan dan lain-lain tadi, yang tadi oleh Bapak dianggap mayoritas rakyat kita. Jadi sebetulnya trend-nya bagus. Oleh karena itulah, kita ingin teruskan pembangunan ini.
Nah, tentunya kalau kita bandingkan dengan Qatar, Kuwait, yang lebih kecil penduduknya, GDP-nya tinggi, dengan demikian banyak surplus dari anggarannya. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Ya meskipun kita tidak seperti mereka-mereka, tapi percayalah dengan kerja keras kita, kita akan tingkatkan dari waktu ke waktu.
Pengalaman di negeri kita memang ada yang bisa kita sumbangkan ke Qatar, tapi kita juga harus menimba. Saling belajar. Kita menimba dari China, menimba dari Jepang, menimba dari Malaysia, menimba dari Qatar dan lain-lain. Saling timba menimba pengalaman, ya.
Kemudian, yang terakhir tadi, Bapak Muhammad Jamal. Betul, Bapak. Sekali lagi terima kasih, Bapak. Justru apa yang kita lakukan sekarang ini, mengapa, kalau Bapak ikuti kegiatan kami di tanah air, hampir tiap minggu pergi ke daerah, bertemu rakyat di pelosok tanah air: petani, nelayan, guru, buruh, Pegawai Negeri Sipil golongan I dan II.
Kemarin kami ke Buru, Maluku, kemudian Dompu, Bima, NTT, ke Merauke, ke Pacitan, ke Wonosobo. Ke tempat-tempat itu justru ingin ketemu langsung dengan mereka. Dan benar, rakyat kita pada umumnya adalah rakyat yang berhati baik, tidak terlalu banyak yang dituntut, yang mengerti persoalan yang dihadapi bangsanya. Dan mereka hanya ingin, dari hari ke hari mereka mendapatkan perhatian, dari hari ke hari mendapatkan pelayanan yang lebih baik, dari hari ke hari ada masa depan yang lebih pasti.
Itulah yang kita lakukan sekarang ini, meningkatkan pendidikan, kesehatan, taraf hidup, lingkungan dan lain-lain, agar mereka, golongan ekonomi lemah itu memiliki masa depan, dan dari tahun kesejahteraannya juga makin meningkat. Itu yang pertama.
Yang kedua, melawan kezaliman, Bapak. Tiada lain adalah melawan, menindak, memerangi, mereka-mereka yang menguras uang rakyat, uang negara. Dalam berbagai bentuknya. Oleh karena itu, kalau kita berjuang keras melawan korupsi, ya sekali lagi memberantas kezaliman.
Juga demikian keberpihakan kita kepada rakyat kecil, karena negara belum bisa memberikan kesejahteraan yang besar kepada mereka, pelayanan kepada mereka. Harus baik. Siapa yang melayani? Ya mulai Presiden, Menteri, Gubernur, Bupati, Walikota, Camat dan Kepala Desa. Kepala Desa wajib hukumnya yang tinggal bersama-sama rakyat, melayani, membimbing, melihat, membantu rakyatnya agar pelayanan pun menjadi bagus.
Pendek kata, pembangunan Pemerintahan yang baik, pemberantasan korupsi, meningkatkan kesejahteraan rakyat, meningkatkan pelayanan, sama dengan yang Bapak sampaikan tadi, kita berpihak kepada mereka, kita membantu mereka, tidak zalim kepada mereka dan mudah-mudahan kalau ini dapat kita lakukan di seluruh tanah air, termasuk kewajiban saya, berlaku bagi diri saya, saya percaya bahwa makin ke depan, Insya Allah, berjalan, bangsa kita akan makin baik.
Saya mohon doa restu dari semuanya, agar semua itu bisa terwujud dengan baik.
Sebenarnya ingin sampai pagi saya di sini, tetapi masih banyak agenda yang harus saya lakukan.
Terakhir Pak Dubes, terimalah ucapan terima kasih dari saya dan semua yang ada di tanah air. Mereka kirim salam semuanya, salam sayang dan saya ikut mendoakan kehadirat Allah SWT, Saudara mendapat lindungan Allah di sini, bekerja dengan baik, selamat dan memiliki masa depan yang lebih baik pula.
Terima kasih.
Wassalamu alaikum Wr. Wb.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



