Pidato Presiden
Sambutan Kunjungan Kerja Ke Satkorlak Merapi
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
KUNJUNGAN KERJA KE SATKORLAK PAKEM
DALAM RANGKA
MENINJAU KESIAPAN MENGHADAPI LETUSAN GUNUNG MERAPI
PAKEM-DIY, 16 MEI 2006
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat siang,
Salam sejahtera,
Para Menteri yang saya hormati,
Saudara Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta,
Saudara Wakil Gubernur Jawa Tengah,
Saudara Bupati Sleman,
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Marilah senantiasa kita memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, untuk keselamatan bangsa kita, untuk kebaikan dan masa depan negara kita, termasuk agar apa yang terjadi di Gunung Merapi ini tidak menimbulkan bencana yang mengakibatkan korban yang sama-sama tidak kita kehendaki. Teknologi telah menjawab banyak hal, telah mengatasi banyak hal, tetapi sebagaimana yang disampaikan oleh geologist kita tadi, ada rahasia alam semesta yang mengetahui hanya Allah SWT, yang tidak bisa kita duga dan kita prediksi. Dalam konteks itulah kita melakukan semua langkah pencegahan, dengan harapan menghadapi ketidakpastian kita sudah melakukan pencegahan yang tepat. Dengan demikian sekali lagi keselamatan saudara-saudara kita, satu orang pun harus kita selamatkan, dan juga keamanan dari harta benda yang dapat kita amankan, dapat dilaksanakan dengan baik.
Sebagaimana yang saya sampaikan dalam Musrenbang bulan lalu, saya mengucapkan terima kasih kepada Saudara Gubernur, baik DIY maupun Jawa Tengah, para Bupati yang langsung menangani masalah ini, Sleman, Magelang, Boyolali, dan Klaten, atas kerja kerasnya sehingga, karena setiap hari saya memantau para menteri, termasuk Wapres juga melaporkan kepada saya, perkembangan penanganan hingga saat ini, saya katakan Saudara telah menjalankan tugas dengan baik, dalam arti melakukan pencegahan, melakukan semua langkah yang dilakukan, sekali lagi untuk menyelematkan saudara-saudara kita. Saya ucapkan terima kasih dan penghargaan, dan teruslah dikerjakan semua itu, agar apapun yang terjadi kita sudah siap dan sudah melakukan langkah-langkah yang semestinya.
Saudara-saudara,
Kita harus banyak belajar dari pengalaman menangani bencana alam. Secara pribadi, sebagian tadi Saudara juga saya lihat banyak belajar dari bagaimana kita menangani tsunami dulu. Saya berkesimpulan, apabila kita melakukan antisipasi dengan baik, melakukan langkah-langkah pencegahan dengan baik dan ketika bencana datang, tanggap darurat kita lakukan dengan baik, dan setelah itu kita lakukan rekonstruksi dan rehabilitasi dengan baik pula, maka banyak yang kita selamatkan, jiwa, harta dan sistem yang ada di daerah ini.
Pengalaman berikutnya lagi, di Nias, di Gunung Solok, saya juga datang, seperti ini, meskipun skalanya lebih kecil. Alhamdulillah tidak ada satupun korban. Saya juga terkesan kemarin waktu berkunjung ke Pulau Buru, ada tsunami kecil, lima meter begitu di Kecamatan Patagaol Desa Pela, itu juga selamat. Hanya satu meninggal karena sudah di tengah laut ketika tsunami datang. Dan early warning system berjalan dengan baik. Lari ke gunung, selamat. Saya yakin, apa yang dilakukan di tempat ini, dengan skala yang begini besar, jauh lebih besar dibandingkan bencana-bencana seperti yang saya lihat sebelumnya, kecuali tsunami, itu pun jenis bahaya yang berbeda, satu tsunami, ini adalah letusan gunung api. Saya yakin bahwa, insya Allah, kita bisa menyelamatkan banyak hal yang dapat kita selamatkan.
Ada tiga pilar penting, saya minta dipahami oleh semua dalam mengelola pemasalahan ini. Pilar pertama adalah yang disebut pemberitahuan cepat dan komunikasi yang efektif, early warning and communication system. Di sinilah tugas para pakar, para geologist, para ahli vulkanologi, saya kira beliau sudah ada di sini, 24 hours, harus memantau terus dengan gejala-gejala yang ada, tanda-tanda yang ada, dianalisis dengan tepat, diberitakan dengan tepat, dengan sistem komunikasi yang efektif. Jangan kendor, bekerjalah 24 jam. Saudara adalah pahlawan, pahlawan awal, pahlawan dini yang bisa menyelamatkan banyak hal. Jadi saya minta, early warning system, communication system, jalankan dengan sebaik-baiknya. Ini pertama.
Pilar yang kedua, langkah pemerintah. Apa yang dilaksanakan oleh pemerintah. Saya katakan ujung tombaknya adalah pemerintah kabupaten. Jadi kalau kita berperang, tentunya yang membawa pasukan itu adalah para bupati, sehingga Pak Bupati Sleman sudah benar menyampaikan itu semua. Lini kedua adalah para gubernur, banyak membantu, memperlancar. Lini ketiga adalah pemerintah pusat, meskipun tidak harus menunggu. Sekarang pun tidak menunggu. Pak Gubernur juga sudah turun, saya, Wapres, para menteri juga sudah turun, totalitas, keterpaduan. Tapi memang yang paling depan adalah Pak Bupati.
Yang saya maksudkan dengan langkah-langkah pemerintah seperti tadi itu, menetapkan daerah bahaya, mana ring satu, mana ring dua daerah yang tidak bahaya, the most danger area, the second most danger area kemudian yang ketiga adalah save area. Yang kedua, menentukan rute-rute evakuasi. Sudah benar, ditanam alat transportasinya, menentukan rute-rute evakuasi. Rutenya dan fasilitasnya sampai dengan rumah sakit rujukan, Rumah Sakit Dr. Sardjito, misalnya. Kemudian tempat-tempat untuk memberi bantuan makanan, obat-obatan, resupply pembekalan logistik sudah betul, dari belakang mengalir ke depan.
Lantas tentunya hal-hal yang berkaitan dengan itu semua. Oleh karena itu, yang sudah ada, jalankan, kontrol, yakinkan semua bergerak. Jangan karena, ah, durasi satu hari, dua hari aman, seminggu, dua minggu aman, belum dinyatakan totally save lantas kendor semangatnya kembali. Pada saat kejadian, meski insya Allah, mudah-mudahan tidak terjadi, nanti tidak cekatan. Jadi pastikan bahwa semuanya bekerja dengan penuh, dengan persiapan yang baik, dengan perencanaan yang baik, dengan deployment yang baik, semua itu dijalankan dengan benar, kita semua yakin akan mengatasi banyak hal.
Dan yang terakhir adalah ,I>leadership, kepemimpinan Pak Bupati, kepemimpinan Pak Camat, kepemimpinan Kepala Desa, kepemimpinan unsur-unsur teknis di area ini, terutama di daerah empat kabupaten tadi, tiga akhirnya: Sleman, Klaten dan Magelang, karena Boyolali relatif aman. Kepemimpinan, sekali lagi. Nah, rasanya kalau early warning system, communication system sudah oke, yang dilaksanakan pemerintah sudah oke, satu pilar lagi tidak kalah pentingnya adalah peran dan kesadaran masyarakat. Jadi sudah betul konsepnya tadi, ada community emergency support, community roles, ada semua, berikan penjelasan, berikan sosialisasi. Saya mengerti negara kita ini, di Jawa Tengah ini masih ada kepercayaan masyakarat. Masih ingat barangkali, dulu begini, sekarang mesti begini. Tanda-tandanya begini, biasanya begini.
Tapi di atas segalanya negara bertanggung jawab. Kita semua bertanggung jawab. Kita hormati kepercayaan itu, silahkan. Tetapi after all, ketika kita harus menyelamatkan jiwa mereka, tugas itu kita laksanakan dengan baik. Oleh karena itu, saya pantau setiap hari, termasuk pada CNN atau BBC, saya lihat tayangannya setiap hari bahwa diberitakan banyak penduduk kita yang tidak bersedia mengungsi, karena percaya bahwa tidak terjadi apa-apa, dalam perkembangannya positif sepertinya, makin sadar, dengan penjelasan yang baik tentunya. Hari ini kalau tidak salah 16 ribu jumlah saudara-saudara kita yang ada di pengungsian. Trennya baik, berubah dengan persuasif, dengan tanpa menyerah, berupaya terus menyelamatkan mereka semua. Apabila, keadaan betul-betul bahaya, dengan pengertian, dengan penjelasan dan lain-lain. Nah, di sini bantuan kepolisian untuk betul-betul menertibkan keadaan itu sangat diperlukan.
Tiga pilar itulah yang mari kita jalankan bersama. Sistem pemberitahuan cepat sistem pemberitaan cepat dan komunikasi yang efektif, langkah-langkah terpadu yang dilaksanakan oleh pemerintah, dan kemudian peran serta, kesadaraan yang dapat dilakukan oleh masyarakat luas. Kalau itu dilakukan, insya Allah, banyak hal yang sekali lagi dapat kita selamatkan.
Itulah yang dapat saya sampaikan. Dan saya akan memantau terus. Malam ini mungkin saya akan berada di Magelang, naik ke Kecamatan Dukun. Itulah Saudara-saudara, dan saya limpahkan penuh kepada para pejabat yang di depan. Kira-kira, ndak pa pa kurang tidur satu, dua, tiga minggu ini, pahalanya tinggi, karena untuk rakyat kita. Kita semua juga memantau untuk siap memberikan bantuan apa pun yang diperlukan.
Selamat berjuang, selamat bekerja, selamat bertugas,
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
* * * * *
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



