Pidato Presiden
Sambutan Pembukaan Kongres XIII Parfi
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERESMIAN PEMBUKAAN
KONGRES PERSATUAN ARTIS FILM INDONESIA (PARFI) XIII
TAHUN 2006
HOTEL MANHATTAN-JAKARTA, 18 MEI 2006
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarrakatuh,
Selamat malam,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati, Saudara Menteri Pemuda dan Olahraga beserta Ibu,
Yang saya hormati, Saudara Gubernur DKI Jakarta beserta Ibu,
Yang saya hormati, Pimpinan dan Pengurus Parfi,
Ketua Panitia Penyelenggara,
Yang saya cintai, para Maestro, para Bintang dan para Artis,
Hadirin sekalian yang berbahagia,
Tiga hari yang lalu, ketika saya sedang berkunjung ke daerah-daerah pengungsian di sekitar Gunung Merapi, saya diberitahu oleh sekretaris pribadi saya, bahwa hari ini ada konflik acara, bukan konflik komunal, konflik acara, konflik jadwal, pada jam yang sama, jam 10 saya harus membuka dan memberikan sambutan pada Konferensi Internasional tentang Food and Agriculture yang diselenggarakan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa yang dihadiri oleh negara-negara Asia dan Pasifik, tentang makanan, tentang pertanian, tentang pengurangan kemiskinan.
Yang kedua, jam yang sama, saya diberitahu akan ada Kongres ke-13 Parfi, ini juga tidak kalah pentingnya. Oleh karena itu, saya berpesan kepada sekretaris, “Coba dilakukan koordinasi kepada Mbak Yenny Rachman, bisa tidak waktunya, jamnya, digeser?” Mengapa? Bagi saya dua-duanya penting.
Dalam banyak kesempatan sering saya katakan, hidup yang hendak kita bangun, baik kehidupan manusia sejagat, maupun kehidupan di negeri ini, adalah kehidupan yang seimbang, kehidupan yang harmonis, dan kehidupan yang penuh dengan kedamaian, tetapi juga kemajuan.
Kalau hidup ini hanya dilihat dari segi logika, benar atau salah, atau dari segi etika saja, baik atau buruk, kemudian tidak pernah melihat kehidupan kita dari segi estetika, indah atau tidak indah, rasanya belum lengkap, belum harmonis. Sama halnya kalau kehidupan di negeri ini hanya diwarnai oleh hingar bingar politik, usaha, kegiatan yang kita lihat sehari-hari di seluruh tanah air ini, kemudian kering akan sentuhan seni dan budaya, sekali lagi, rasanya belum lengkap, bagaikan malam tak berbintang. Kita merindukan, kita mendambakan kehidupan yang teduh, yang penuh dengan keseimbangan, hadir keindahan, seni dan budaya. Dengan demikian, menghadapi permasalahan apapun dengan jernih, dengan teduh, kita bisa mencarikan jalan keluarnya, mencarikan solusinya. Pendek kata, dibalik cerita saya, saya ingin hadir dalam Kongres ke-13 Parfi ini, dan saya ingin semoga Allah SWT mendengar ucapan saya, saya ingin menjadi bagian dari kebangkitan perfilman nasional ke depan.
Oleh karena itu, pertama, saya akan sampaikan sambutan yang sudah saya persiapkan, yang kedua saya ingin bicara heart to heart, dari hati ke hati, nanti bagian kedua, bagaimana bersama-sama kita menuju ke kebangkitan perfilman nasional di negeri kita. Saya minta kesabaran, untuk setelah sambutan singkat ini, saya sampaikan harapan dan ajakan bagaimana kita mendorong kebangkitan kembali perfilman kita, termasuk tugas dan kewajiban saya sebagai Kepala Negara.
Hadirin yang saya muliakan,
Malam ini kita bersyukur ke hadirat Allah SWT, kita dapat menghadiri Pembukaan Kongres ke-13 Persatuan Artis Film Indonesia, Parfi. Saya ingin menyampaikan ucapan Selamat Hari Ulang Tahun Parfi yang ke-50. Semoga Parfi dapat menjaga keutuhan organisasi, dan menumbuhkan semangat bangkitnya kembali perfilman di tanah air. Penyelenggaraan Kongres Parfi kali ini saya anggap penting dan memiliki momentum yang tepat. Kongres ini diselenggarakan pada saat kita sedang berupaya membangun citra seni budaya dan pariwisata dan sekaligus membangkitkan kembali perfilman nasional.
Sebagai salah satu wadah organisasi para artis film Indonesia, selama 50 tahun Parfi telah menunjukkan kiprahnya yang besar dalam membangun pertumbuhan dan perkembangan film Indonesia. Parfi bukan saja merupakan saksi jatuh bangunnya dunia perfilman nasional, tetapi juga merupakan wadah kreativitas berkarya bagi para insan film di tanah air.
Para insan film, sejak masa Usmar Ismail, Soekarno M. Noor, Slamet Rahardjo dan banyak lagi, barangkali sebagian juga hadir di tempat ini, hingga para sineas muda, yang berkarya pada saat ini, telah memberikan sumbangan yang cukup berarti dalam sejarah dunia film Indonesia. Dalam upaya memperkuat karakter budaya bangsa, tahun 2006, telah saya canangkan sebagai tahun kebudayaan. Salah satu bagian dari kebudayaan itu adalah film Indonesia. Film Indonesia dapat menjadi media untuk mempertinggi derajat dan martabat seni dan budaya bangsa kita. Film Indonesia sesungguhnya dapat menjadi bagian dari pilar kebudayaan, menumbuhkan ruang dialog yang kreatif dan memelihara kemajemukan budaya bangsa. Film, jangan hanya dijadikan tontonan penghibur saja, tetapi jadikanlah film sebagai sebuah karya cipta seni budaya yang dapat menampilkan kehidupan sosial, karakter budaya, dari komunitas masyarakat kita.
Di tengah derasnya film impor, baik yang ditayangkan di bioskop maupun televisi, insan film nasional hendaknya dapat menampilkan karya-karya terbaiknya. Hal ini sangat penting agar film nasional dapat bersaing dengan film-film impor. Saya yakin, penonton kita akan lebih tertarik dengan film nasional, termasuk saya, apabila dapat menyajikan film yang bermutu, banyak yang bermutu, jangan kecil hati.
Munculnya sineas muda di era film digital sekarang ini, memungkinkan melahirkan karya-karya sinema yang berkualitas. Saya mengajak kepada seluruh pecinta film nasional, untuk mendorong setiap upaya produksi film yang dapat memperkuat nilai-nilai dan jati diri budaya bangsa kita. Karena itulah kita perlu dengan sungguh-sungguh berupaya meningkatkan kuantitas dan kualitas film nasional.
Dalam upaya meningkatkan kuantitas dan kualitas film nasional itu, keberadaan Parfi masih tetap diperlukan sebagai wadah untuk membangun profesionalisme dan mengayomi para insan film. Profesionalisme perlu dimiliki oleh para artis dalam menjalankan profesinya. Dengan profesionalisme yang dimiliki, para artis dalam memainkan seni peran yang bermartabat. Saya tidak ingin para artis film hanya mengandalkan permainan dengan menampilkan keindahan ragawi semata, tetapi hendaknya bermain dengan kekuatan karakter dan acting yang berkualitas.
Penilaian penonton film saat ini sangat selektif dan kritis. Kualitas cerita, acting yang baik, kekuatan karakter dan teknologi pendukung sinema menjadi ukuran baik buruknya sebuah film di mata penonton. Saya mengajak para insan film untuk lebih banyak menampilkan karya-karya sinema yang mengangkat etika, harkat dan martabat serta budaya bangsa kita. Kurangilah pembuatan film-film yang menampilkan kekerasan, kriminalitas dan pornografi, apalagi film-film yang dapat merusak akhlak dan moral bangsa kita.
Saya mengamati saudara-saudara, bahwa akhir-akhir ini telah muncul para sineas muda berbakat. Mereka muncul di tengah-tengah maraknya budaya global yang terus mendera. Saya berharap, para sineas muda memiliki komitmen yang kuat untuk mengedepankan nilai-nilai budaya kita dalam karya-karyanya. Karya-karya para sineas muda berbakat itu perlu diapresiasi dengan baik dan didorong untuk menghasilkan karya bermutu. Insan film senior dapat memberikan bimbingan, arahan dan kritiknya kepada para sineas muda kita.
Saya yakin dan percaya, dengan bimbingan dan arahan para seniornya, akan muncul para artis sekelas Christine Hakim, Yenny Rachman, Lenny Marlina, dan banyak lagi, saya kira di sini juga ada, atau sutradara sekelas Teguh Karya dan lain-lain. Dengan demikian, lambat laun perfilman nasional dapat bangkit kembali dengan kualitas yang dapat dibanggakan. Saya mengajak seluruh insan film untuk menjadikan film Indonesia tidak hanya menjadi tuan rumah di negeri sendiri, saya akan ceritakan bagaimana kita nanti menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tetapi juga dapat bersaing dengan film-film dari negara lain, insya Allah bisa.
Kongres Parfi hendaknya dapat menjadi momentum dalam memaknai kembali nilai-nilai bangsa kita itu. Marilah kita jadikan film nasional sebagai media yang dapat menyampaikan pesan-pesan moral dan mempromosikan keanekaragaman serta kekayaan budaya yang kita miliki. Kepada para Peserta Kongres, saya ucapkan selamat berkongres, semoga kongres ini dapat berjalan dengan lancar dan demokratis serta dapat mengambil keputusan-keputusan penting yang bermanfaat bagi organisasi insan perfilman dan masyarakat luas.
Hadirin sekalian yang saya cintai,
Bagian terakhir dari sambutan saya, saya sudah sampaikan tadi, bagaimana kita bersama-sama membangkitkan kembali dunia perfilman kita. Akhir tahun 2004 yang lalu, saya berbicara dengan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, Saudara Jero Wacik, sekarang ada di Perancis, ikut memsponsori Festival Film di Perancis, yang berjudul “Serambi”, dan film itu ketika ditayangkan saya ikut menonton waktu itu. Saya katakan pada Menteri Kebudayaan dan Pariwisata, “Coba cari jalan, lakukan upaya, bersama-sama industri perfilman, bersama para artis, agar tahun demi tahun ke depan ini terjadi kebangkitan kembali perfilman kita. Kalau perlu Pak Wacik datanglah ke negara-negara yang industri perfilmannya masih sustainable, dan bahkan tumbuh berkembang. Kalau perlu datang ke Hollywood, datang ke Bollywood, dan tempat-tempat yang lain.
Saudara-saudara,
Di Denpasar, Bali, saya berdialog dengan beberapa seniman dan budayawan, antara lain bagaimana perfilman kita dapat kita bangkitkan. Saya iri melihat negara-negara lain, kalau kita lihat peringkatnya sekarang ini, ada Hollywood, ada Bollywood, ada Hong Kong, ada Perancis, ada Jepang dan masih lagi sederetan yang industri filmnya berkembang dalam era globalisasi ini.
Satu hal, saya belum cerita, bahkan ketika saya berkunjung ke India, tahun lalu, saya bertemu dengan Perdana Menteri Manmohan Singh, dan Presiden Abdul Kalam dari India, saya membicarakan bagaimana ktia bekerja sama supaya perfilman nasional di Indonesia tumbuh dan berkembang. Banyak yang kita diskusikan dan kita bicarakan. Tetapi akhirnya saudara-saudara, ada empat, lima factor, yang mari kita dengan terbuka tetapi dengan upaya kita lakukan langkah-langkah yang tepat ke depan ini. Industri perfilman akan tumbuh dan berkembang, apabila ada pasar, market.
Mengapa Bollywood tumbuh? Karena pasar di India 1,3 milyar jiwa. Belum diaspora India di tempat-tempat yang lain. Mengapa produksi Hollywood juga tumbuh? Pasarnya ada di mana-mana. Jangan kecil hati. Pasar atau … market sebetulnya di negeri kita cukup kuat, apalagi kalau insya Allah daya beli masyarakat kita, sejalan dengan upaya kita, makin ke depan makin tinggi. Dengan demikian, pasar di negeri sendiri, mudah-mudahan menjadi pasar tetap atau … market.
Film nasional yang rata-rata menggunakan Bahasa Indonesia, tanpa translation, itu bisa diterima di Malaysia, di Brunei Darussalam. Saya berbicara dengan para pimpinan di negara itu, saudara-saudara kita di sana, lagu-lagu Indonesia, film-film Indonesia, sinetron Indonesia, ternyata juga ditonton di negeri itu. Paling tidak, disamping Indonesia, ada juga Malaysia, ada Brunei Darussalam, belum kalau dilakukan translation atau terjemahan. Artinya apa? Ada pasar yang tersedia. Faktor pertama yang menyemangati bahwa kita bisa membangkitkan kembali industri perfilman kita, ada market.
Nah yang kedua, yang kita tawarkan jasa, tontonan, sinema, movie. Yang kedua bagaimana sih pasar itu membeli services yang kita jual. Kalau ada buku yang dijual di seluruh dunia di negeri kita, dan buku itu menarik, orang mengatakan a must read book, buku yang patut dibaca, buku yang enak dibaca. Maka, terhadap pasar yang sudah ada tadi, bagaimana film kita ini menjadi a must seen movie. Artinya, pasar itu senang, cocok, tertarik dengan film, movie yang kita sajikan. Di sini yang menjadi tantangan kita. Bisa juga judulnya baik. Bisa juga skenarionya baik. Bisa juga kekuatan dari artis-artisnya, bisa juga dengan bahasanya yang pas dengan market itu, dan lain-lain.
Saya tidak harus mengaitkan film yang bermutu, mutu itu seperti apa sebetulnya. Yang berkualitas, what is quality anyway, tetapi kalau film ini cocok untuk pasar, tanpa meninggalkan idealisme, tanpa meninggalkan nilai dan moralitas, maka pasarnya ada, movie yang kita bikin dibeli oleh pasar itu. Mari ke depan ini, kita konsentrasi apa yang diinginkan pasar. Kita lakukan penelitian, di Indonesia, di Malaysia, di Brunei dan lain-lain, model film seperti apa, movie seperti apa yang hampir pasti ditonton, bahkan ditonton dua kali, tiga kali, empat kali. Mari kita mengadakan penelitian pasar, market research, dengan demikian tidak sia-sia kalau kita memproduksi film dengan investasi yang lumayan, dengan biaya yang tidak sedikit, tetapi hampir pasti laku di pasaran. Yang kedua.
Yang ketiga sekarang adalah bagaimana dunia industri film itu bisa tumbuh di negeri ini. Perlu modal, perlu pengusaha perfilman, perlu mereka yang juga kreatif, inovatif. Perlu perangkat sutradara dan lain-lain. Mari kita introspeksi, mari kita bangkitkan kembali, adakah cukup tersedia, adakah cukup hadir, industri dan produksi ini. Ini yang ketiga.
Industri mengeluh, “Pak, bagaimana, kok pajaknya tinggi sekali.” Kita bicara pajak nanti. “Pak, ini bagaimana, kok kita kalah dengan impor?” Mengapa impor kompetitif? Kita bicara. Yang penting industri itu survive, kemudian bisa melakukan sesuatu tanpa kepejuangan, tanpa kegigihan, tanpa semangat dari industri itu sendiri, meskipun artisnya ada, ceritanya ada, skenarionya bagus, pasarnya ada, bagaimana itu bisa hidup? Tidak mungkin.
Nah, yang keempat, kita bicara pada pemerintah, saya kepala pemerintahan, pajak bahan baku film sudah kita bebaskan. Pajak tontonannya berapa? Ada yang bilang pajak tontonannya terlalu tinggi, 10 sampai 20%, kita bicara nanti, kita lihat seperti apa, mekanismenya seperti apa. Kemudian apa lagi? “Pak, bisa nggak, kalau investor film diberikan insentif tertentu.” Kita lihat, coba sama seperti apa. Pendek kata, kebijakan pemerintah seperti apa yang klop dan mendorong tumbuhnya dunia perfilman itu. Saya tidak bisa mengatakan sekarang, pajak A, B, C, D, E, F yang bisa kita berikan. Insentif 1, 2, 3, yang bisa kita lakukan, tapi bisa kita pikirkan secara bersama.
Dan yang kelima, setelah government policy, setelah kebijakan pemerintah kita klopkan, adalah pembeli. Saudara-saudara, tadi saya diskusi dengan Mbak Yenny Rachman dengan teman-teman yang lain di ruang tunggu, “Pak, bisa nggak di daerah-daerah dibangun kembali gedung-gedung bioskop kelas 2, sehingga golongan menengah ke bawah itu juga bisa menonton film?” Sekarang ini memang kompetisinya kuat. Ada televisi, ada sinetron, belum ada film yang diimpor dan lain-lain. Untuk menuju ke situ bukan bisa dan tidak bisa. Tetapi bagaimana daya beli masyarakat kita di daerah-daerah, di provinsi, kabupaten, kota, di seluruh Indonesia terus kita tingkatkan. Itulah saudara-saudara, kami bekerja siang dan malam, membangun ekonomi, pertumbuhannya, investasinya tenaga kerjanya, agar daya beli orang-seorang, agar income per kapita orang-seorang itu naik dan ada yang bisa digunakan untuk menonton film, menonton hiburan yang diberikan.
Untuk itu saya perlu dukungan masyarakat luas. Mari kita bikin negara kita lebih stabil. Jangan terlalu banyak huru-hara dan kerusuhan. Ada apa-apa kita carikan solusinya secara damai, jangan merusak sana, merusak sini. Sekarang saatnya membangun, bukan saatnya merusak. Sekarang saatnya menanam pohon-pohonan, bukan saatnya menebang pohon-pohonan, jadi banjir. Sekarang saatnya bersatu, bukan bermusuhan.
Nah, kalau kondisi tanah air seperti itu, pembangunan ekonomi yang kita jalankan terus, alhamdulillah sudah ada tanda-tanda, dukungan internasional juga sudah bagus. Begitu kebangkitan ekonomi terjadi, tahun demi tahun, daya beli rakyat kita meningkat. Kalau pasarnya ada, filmnya enak ditonton, industrinya bekerja, kebijakan pemerintah klop, pembelinya ada, hidup gedung-gedung bioskop kita, bukan hanya kelas 1 tapi juga kelas 2.
Lima hal inilah yang saya minta, mari kita jalankan secara bersama. Saya ingin Parfi dalam kongresnya bicarakan itu. Rumuskan itu. Sampaikan kepada saya, kepada Menteri-Menteri terkait, kepada Pak Gubernur, kita semua. Saya rindu kehidupan yang harmonis. Jangan manusia itu pincang karena hanya mikir politik, hanya mikir usaha, yang penting siang malam menambah harta sebanyak-banyaknya. Kita butuh ketenangan batin, kita butuh suatu romantisme, kita butuh suatu perdamaian dengan menikmati seni budaya. Itu yang kita butuh.
Berat? Iya. Tapi bisa kita lakukan upaya untuk mengatasinya. Tantangannya besar, iya. Tapi kita tidak akan takut menghadapi tantangan. Jangan pesimis. Orang yang pesimis melihat sesuatu, yang terlihat masalahnya. Optimis. Orang yang optimis, masalah apapun, pasti ada solusinya. Mari, mari kita bangkit kembali. Saya bersama saudara, Pemerintah akan membantu, mari kita tingkatkan komunikasi diantara kita. Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan jalan, memberikan bimbingan bagi kebangkitan perfilman nasional kita.
Hadirin sekalian,
Itulah yang saya sampaikan. Dan dengan memohon ridho Allah SWT, seraya mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, Kongres ke-13 Parfi dengan resmi saya nyatakan dibuka.
Terima kasih,
Wassalamu’alaikum warrahmatullahi wabarrakatuh.
* * * * *
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



