Pidato Presiden
Sambutan Peresmian Kongres PIB
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERESMIAN KONGRES PARTAI INDONESIA BARU
BIDAKARA, 27 MEI 2006
Bismillahirahmanirrahim
Assalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Selamat Siang,
Salam sejahtera untuk kita semua
Yang saya hormati para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu, saudara Ketua Umum Partai Perhimpunan Indonesia Baru,
Para Pimpinan Partai Politik dan para tokoh nasional hadir bersama kita ibu Rahmawati Soekarnoputri, ada beberapa senior saya Pak Rosihan Anwar, Viki Juki, pak Sabam Siagian,
Saya kira banyak sekali yang ada disini. Para Pimpinan, para Kader Keluarga Besar Perhimpunan Indonesia Baru yang saya cintai,
Marilah pada kesempatan yang baik dan insya Allah bersejarah serta membawa berkah ini, sekali lagi kita panjatkan puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas perkenan rahmat dan ridho-Nya kita dapat menghadiri acara yang penting ini dan semoga kongres ini menghasilkan sesuatu yang bermanfaat dan berguna bagi bangsa dan negara masa kini dan masa depan.
Pertama-tama saya ucapkan selamat berkongres, saya ucapkan selamat datang bagi para kader partai yang datang dari pelosok tanah air. Melihat semangat saudara saya ikut optimis bahwa partai PIB dapat menyumbangkan sesuatu yang besar bagi perjalanan negeri ini kedepan. Partisipasi politik saudara, kontribusi saudara selama ini, atas nama kepala negara saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan.
Partai ini telah memberikan berbagai kontribusinya, pemikiran, karya nyata dan pencerahan dalam upaya kita melanjutkan reformasi, melanjutkan demokratisasi dan melanjutkan upaya membangun kembali negeri ini pasca krisis dan menuju masa depannya yang lebih baik lagi. Dr. Sjahrir pimpinan saudara sering pula memberikan pencerahan, nasihat dan sumbangan pikiran kepada saya, kadang-kadang halus, kadang-kadang keras. Tapi semuanya itu penting. Justru disitulah saya merasa tidak sendiri.
Dengan demikian, insya Allah kalau kita menyatukan pikiran kita dengan niat yang baik untuk negara kita, untuk bangsa kita, Tuhan selalu memberikan jalan ke arah masa depan itu.
Saya senang, tadi mendengar bahwa politik yang dibangun Partai PIB adalah politik akal sehat. Sering dalam hiruk pikuk dan hingar bingar di dunia ini, bahkan sebagian di negeri kita kadang-kadang the common sense, akal sehat itu tidak muncul, terpinggirkan. Jangan sampai kita mengidap penyakit yang berbahaya, yaitu penyakit atau gangguan akal sehat, gangguan hati nurani karena kita akan menjadi bangsa yang kering, bangsa yang tidak mensyukuri apa yang telah diberikan oleh Tuhan kepada kita dan bangsa yang kurang bersatu, melangkah bersama untuk memecahkan masalah-masalah yang kita hadapi.
Saya yakin, saya percaya dan saya sudah melihat bukti bahwa Keluarga Besar Partai Perhimpunan Indonesia Baru bagian dari solusi, bukan bagian dari persoalan dan bagian dari upaya besar kita mengatasi masalah kebangsaan dan melanjutkan tugas-tugas bersama kita. Sering saya katakan pada Bung Sjahrir, kualitas kontribusi partai kepada bangsa dan negara tidak ditentukan oleh kuantitas, oleh besarnya anggota dari partai itu, di luar negeri atau partai-partai kader, ada partai yang tidak terlalu besar dari ukuran masa pendukung, anggota dan konstituennya. Tetapi sumbangsihnya untuk pengelolaan kehidupan bernegara, untuk pengelolaan jalannya pemerintahan sangat nyata dan konkret.
Oleh karena itulah sambil silahkan mempersiapkan diri untuk 2009, tapi saya lebih berharap dari sekarang sampai 2009 partai ini betul-betul berkontribusi untuk rakyatnya, untuk negaranya dan tolong juga bantu pemerintah didalam mengatasi masalah-masalah yang tidak ringan ni.
Saudara-saudara sekalian keluarga besar Partai Perhimpunan Indonesia Baru ada tema besar yang ingin saya angkat pada kesempatan yang baik ini, pertama adalah selamatkan kehidupan bernegara kita. Yang kedua nanti, masih menjadi bagian dan tema besar ini, mari pulihkan dan bangun kembali negeri kita pasca krisis yang kita alami beberapa tahun yang lalu.
Saudara-saudara, kedua agenda ini berjalan bersama-sama, tali temali, kait mengait dalam satu konteks. Tugas besar bangsa Indonesia, kerangka bernegara kita harus selamat. Kehidupan bernegara kita harus dapat kita pertahankan sebagaimana yang dicita-citakan oleh para Pendiri Republik, oleh para founding fathers. Kita telah memiliki sejumlah nilai, jati diri dan consensus-konsensus dasar, fundamental consensus. Apa itu? saya kira di ruang ini akan bersetuju dengan saya bahwa fundamental consensus kita yang telah menjadi dasar negara yang mesti kita pertahankan, kita lestarikan dan aktualisasikan sepanjang masa adalah Pancasila.
Yang kedua, kita telah memiliki fundamental consensus kedua, yang telah menjadi konstitusi negara kita, yang jiwa, semangat dan nafasnya sangat tercermin dalam pembukaannya, yaitu Undang-Undang Dasar 1945. Nilai atau konsensus dasar ketiga, tiada lain bangun republik, bangun negara yang kita miliki, adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Meskipun kita mengembangkan sistem penyelenggaraan pemerintahan yang meninggalkan ciri-ciri dan karakter sentralistik, sentralisme menuju ke sesuatu yang lebih desentralistik. Membangun otonomi daerah agar seluruh wilayah Indonesia, saudara-saudara kita dimana pun berada lebih diberdayakan, lebih mendapatkan keadilan dan pemerataan pembangunan dan itu salah satu bagian dari reformasi. Tetapi ikatan kebersamaan kita, kohesi kita sebagai bangsa tetap dalam bangun Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Sedangkan konsensus dasar yang keempat saya harus mengetengahkan, mengedepankan sekarang ini karena saya cemas kalau-kalau bangsa ini mengalami erosi pada konsensus kita yang keempat ini, yaitu Bhinneka Tunggal Ika. Kebersamaan kita di tengah kemajemukan, ini ikrar kita, pilihan kita, konsensus kita, dalam era globalisasi seperti apapun juga, dalam perkembangan zaman yang bergerak dengan cepat, mari kita pertahankan, kita semikan dan kita suburkan konsensus ini, Bhinneka Tunggal Ika, kemajemukan dan pluralisme.
Apabila empat nilai dan konsensus dasar ini benar-benar mengiringi perjalanan Republik tercinta ini menempuh tantangan zaman yang terus berubah dengan cepat. Saya yakin kita ini akan selamat dan bukan hanya selamat, tetapi akan makin kuat menjadi negara yang dicita-citakan oleh para Pendiri Republik kita, oleh kita semua.
Mari kita perkokoh nasionalisme. Nasionalisme yang oleh Bung Karno dikatakan bukan nasionalisme yang sempit, sofinisme. Nasionalisme yang bergandengan erat dengan internalisionalisme. Begitu pidato 1 Juni 1945, tetapi kita perlu memiliki semangat kebangsaan, wawasan kebangsaan dan rasa kebangsaan yang kuat. Ibarat globalisasi itu sebuah perkampungan besar. Toh, kita memerlukan rumah. Rumah itulah nasionalisme kita, kebangsaan kita sebagai bangsa dan negara Indonesia.
Dalam dunia yang berkembang seperti ini, kita juga perlu memiliki komitmen kemanusiaan, humanisme, kemanusiaan sejagat. Kemanusiaan yang kita letakkan dalam tempatnya yang luhur. Nasionalisme, humanisme, dan sekali lagi saran saya menggarisbawahi pentingnya pluralisme.
Saudara-saudara, kita ingin kehidupan bernegara kita, kerangka bernegara kita, landasan bernegara kita tidak koyak dan tetap bertumpu secara dinamis dari empat hal yang saya sebutkan tadi Pancasila, Undang-Undang dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia dan Bhinneka Tunggal Ika.
Pimpinan Keluarga Besar Partai Perhimpunan Indonesia Baru, itu agenda besar pertama. Tugas besar kita, saya mengajak Keluarga Besar Partai Perhimpunan Indonesia Baru menjadi bagian dalam penyelamatan dan penguatan kerangka bernegara kita ke depan ini.
Yang kedua, negara kita mengalami krisis yang dahsyat 1998, akibat krisis itulah melahirkan ide besar, reformasi, demokratisasi, membangun kembali negara kita termasuk rekonstruksi ekonomi, semuanya itu belum rampung. Kita di samping berada dalam masa transisi, sejarah kita sedang dibangun kembali, tetapi kita semua jangan menyia-nyiakan momentum dan peluang besar membangun kembali negara kita yang koyak. Kemudian bangkit dan kita menuju Indonesia yang lebih baik, dibandingkan Indonesia sebelum krisis atau pada saat Indonesia mengalami krisis.
Itu semua dapat diwujudkan dengan kita menetapkan visi, arah perjalanan negeri ini. Misi besar yang hendak kita emban, agenda dan prioritas. Banyak yang telah kita tetapkan ketika partai Perhimpunan Indonesia Baru mengikuti pemilihan umum dan perkiprah dalam kehidupan bernegara. Juga banyak diangkat apa saja agenda dan prioritas yang ingin dilakukan. Saya telaah semuanya itu kena, tinggal saudara laksanakan dengan sebaik-baiknya, buktikan dalam karya nyata karena itu merupakan sumbangan yang sangat berharga didalam membangun negeri ini pasca krisis.
Membangun negeri akhirnya untuk rakyat kita, untuk kesejahteraan mereka. Itulah tujuan akhir dari pembangunan, tujuan utama. Pembangunan ekonomi bukan tujuan dalam dirinya, adalah sarana, adalah jembatan, yang kita tuju rakyat kita di seluruh tanah air. Apapun identitasnya, etnisnya, sukunya, agamanya, daerahnya, latar belakang keluarganya, semua orang seorang wajib kita tingkatkan harkat dan martabatnya, wajib kita tingkatkan kesejahteraannya yang sejati. Itu tujuan kita.
Mulai dari yang disebut dengan hak dan kebutuhan dasar mereka, pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, rasa aman dan lain-lainnya. Sampai dengan tingkat kesejahteraan yang makin tinggi sejalan dengan modernisasi, sejalan dengan pembangunan di era globalisasi ini. Kepada mereka kita arahkan semua yang kita upayakan sekarang ini.
Untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, kita memerlukan kebangkitan, pertumbuhan dan pengembangan ekonomi nasional yang nyata. Dengan fundamental yang kuat, dengan capaian yang makin nyata yang akhirnya bisa kita alirkan, bisa kita transformasikan untuk meningkatkan kesejahteraan itu.
Ekonomi harus tumbuh, tetapi juga harus dapat didistribusikan sekali lagi untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Tumbuhnya ekonomi tentu memerlukan upaya besar menyatukan resources yang kita miliki, memilih strategi dan kebijakan yang tepat. Menetapkan sasaran-sasaran dan prioritas yang tepat pula dan di atas segalanya di jalankan oleh kita semua di seluruh tanah air, baik itu pemerintah pusat maupun daerah, baik itu pihak eksekutif, legislatif maupun yudikatif dan semua stake holders di negeri ini. Karena pada prinsipnya adalah pembangunan bangsa secara menyeluruh.
Saatnya telah tiba untuk kita benar-benar masuk menjadi bagian dan menjadi pelaku dalam pembangunan ini. Kita harus mengurangi terus menerus kemiskinan, kita harus terus menerus menciptakan lapangan kerja, kita harus terus menerus membangun infrastruktur dasar dan infrastruktur untuk kemajuan ekonomi kita. Kita harus meningkatkan investasi, kita harus meningkatkan ekspor, kita harus meningkatkan pengeluaran pemerintah government spending, kita harus meningkatkan konsumsi yang tepat untuk rakyat kita, untuk pemerintah kita dan sejumlah langkah agenda ekonomi yang sekarang sedang kita perjuangkan siang dan malam untuk itu.
Memang dunia penuh dengan tantangan. Kadang-kadang ketidakadilan dan ketidakseimbangan, imbalances, tapi janganlah kita mengembangkan sikap mental yang serba mengeluh, yang serba menyalahkan, yang serba mencari kambing hitam. Justru bangsa yang cerdas, bangsa yang menggunakan akal sehat, bangsa yang mencintai negaranya, the true nasionalism sekarang ini. Berjuang keras di tengah-tengah tantangan dan peluang globalisasi kita dapat banyak, kita mampu mengalirkan sumber-sumber kemakmuran dari belahan dunia manapun juga untuk sebesar-besar kepentingan rakyat kita.
Kita tidak boleh kalah, tidak boleh merugi, tidak boleh hanya menjadi penonton dalam globalisasi. Disamping menghadirkan ancaman, tantangan, ada juga sejumlah peluang yang dapat kita ambil. Dalam konteks itulah, saya mengajak saudara-saudara semuanya partai yang penuh harapan ini, Bung Sjahrir mengatakan partai masa depan, tapi toh tetap juga berkarya masa kini untuk melakukan sesuatu demi pembangunan ekonomi ini. Mulai dari yang sifatnya makro sampai mikro, sampai dengan nasional dan kedaerahan.
Kalau sekarang akibat krisis minyak di dunia yang berlangsung sejak tahun 2004 yang lalu, banyak ekonomi-ekonomi terpukul di seluruh dunia. Termasuk negeri kita karena harus kita sesuaikan harga BBM, melemahkan daya beli rakyat sekarang masih dalam tahap yang belum pulih betul. PIB lakukan sesuatu, kegiatan sosial, kegiatan ekonomi kerakyatan, entah yang berkaitan dengan lapangan kerja mereka, usaha-usaha kecil dan menengah di kalangan mereka. Apapun yang rakyat bisa melihat bahwa PIB menjadi bagian dalam penggerakkan ekonomi kerakyatan, dalam penggerakkan mereka yang membutuhkan sehari-hari ketika negara kita belum pulih benar.
Indonesia incorporated, berarti Indonesia yang bekerja sama, berjuang, melangkah bersama secara terpadu. Yang dari daerah-daerah saya bermohon, saya menghimbau dan saya mengajak, lakukan karya nyata di daerah-daerah saudara untuk menolong saudara-saudara kita yang menghadapi kesulitan ekonomi dan kesejahteraan sekarang ini. Seraya kita menyatukan upaya yang lebih besar lagi dan pemerintah akan terus bekerja semaksimal mungkin untuk mengatasi keadaan itu.
Yang terakhir, saudara-saudara, ini pesan yang khas kepada PIB dan kepada kita semua sebenarnya. Demokrasi di negeri ini harus terus mekar, harus terus berkembang. Salah satu nafas demokrasi adalah kebebasan, freedom. Saya ingin di satu sisi freedom ini berkembang, digunakan untuk sebesar-besar kepentingan kita semua. Yang freedom ini hidup berdampingan, yang saya sebut dengan aturan hukum rule of law. Yang kemudian bersama lagi dengan toleransi.
Ada segitiga emas, freedom atau kebebasan, rule of law atau aturan hukum dan tolerance atau toleransi. Kalau kehidupan bangsa, di negeri ini, sekarang ini dan ke depan menghormati tiga-tiganya, meletakkan tiga-tiganya sebagai bagian dalam kehidupan bersama kita. kebebasan, aturan hukum dan toleransi saya yakin bahwa akan lebih banyak lagi masalah-masalah yang dapat kita kelola dan dapat kita selesaikan dengan baik. Akan dapat kita cegah konflik yang ada, yang mestinya bisa kita kelola dengan tepat, menjadi benturan-benturan, apalagi benturan fisik yang hanya akan merobek kohesi sosial, akan mengguncangkan derajat keamanan dan politik di negeri ini.
Penting, hukum harus ditegakkan. Tidak ada di negeri ini elemen manapun, komunitas manapun yang boleh memaksakan kehendaknya, yang boleh melakukan apa saja dan menghancurkan kaidah-kaidah hukum. Sudah tiba saatnya, negara, kita semua menjalankan kewajibannya. Ada tatanan, ada aturan, ada cara yang arif, yang tepat, yang teduh, yang tidak menimbulkan masalah-masalah yang sesungguhnya sama-sama tidak kita kehendaki. Gunakan kebebasan, sama-sama dengan toleransi. Ada freedom of speech, tapi gandengkan dengan toleransi, ada freedom of assembly, ada freedom of the press, tapi itupun tidak berarti tidak bersama-sama dengan toleransi.
Di atas segalanya rule of law, kepatuhan pada pranata hukum, pada aturan hukum menjadi penyeimbang dari semuanya, agar disatu sisi demokrasi mekar dengan baik. Tapi negara ini tetap tertib, aman, semua bisa tenang hidup didalam negerinya sendiri, dan tidak perlu dalam kecemasan dan ketakutan karena khawatir kalau mendapatkan ancaman-ancaman yang tidak semestinya.
Kita akan melakukan langkah-langkah yang tepat ke depan ini. Karena bulan-bulan terakhir ini sebagai seorang Presiden saya mendapat sekali, banyak sekali masukan, rekomendasi saran, bahwa demokratisasi tidak berarti negara itu lemah. Negara harus tetap kuat, kuat bukan otoritarian. Kuat bukan mengembangkan tatanan diktator. Kuat bukan berbuat semenanya. Kuat menegakkan konstitusi, kuat menegakkan undang-undang, kuat menegakkan aturan main.
Saya kira itulah yang mari kita selamatkan kohesi sosial, harmoni nasional, kesatuan dan persatuan kita sebagai bangsa yang besar. Andaikata dan menjadi harapan saya sebagai Kepala Negara, kalau tiga sendi kehidupan tadi kebebasan, toleransi dan kepatuhan pada pranata hukum dijalankan dengan baik. Kemajemukan yang menyertai kita ini, akar-akar perbedaan dan konflik apapun, insya Allah akan dapat kita selesaikan dengan baik dan tidak harus perlu menimbulkan kecemasan korban yang sama-sama tidak kita kehendaki.
Saudara-saudara itulah yang dapat saya sampaikan selamat berjuang Partai Perhimpunan Indonesia Baru, Tuhan beserta saudara, abdikan semuanya untuk kepentingan rakyat, bangsa dan negara.
Sekian
Wassalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



