Pidato Presiden

Sambutan Peresmian Pembukaan Pesta Kesenian Bali ke-28

 

SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERESMIAN PEMBUKAAN PESTA KESENIAN BALI KE-28
BALI, 17 JUNI 2006



Bismillahirrahmanirrahim,
Om Swastiastu.
Assalamualaikum warrahmatullahi wabarakatuh,
Salam sejahtera bagi kita semua,

Yang saya hormati, Saudara Menteri Kebudayaan dan Pariwisata dan
Para Menteri Indonesia Bersatu,
Yang Mulia para Duta Besar dan Tamu-tamu Undangan dari manca negara, Yang saya hormati Saudara Gubernur Bali dan para Pejabat Pemerintahan Negara,

Hadirin sekalian yang saya hormati,
Marilah kita bersama-sama memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena berkah, rahmat dan karunian-Nya kita dapat berkumpul bersama pada Pembukaan Pesta Kesenian Bali ke-28, tahun 2006. Saya ingin menggunakan kesempatan yang membahagiakan ini untuk menyampaikan ucapan selamat kepada pemerintah daerah Provinsi Bali yang secara berkesinambungan menyelenggarakan Pesta Kesenian Bali setiap tahun.

Hadirin sekalian,
Pesta Kesenian Bali tahun ini yang mengangkat tema Suabawaninsidep, pancaran keluhuran budi mengandung makna yang sangat dalam. Kita berupaya untuk mengusung kebudayaan sebagai pancaran keluhuran budaya adi luhung. Keluhuran budaya adi luhung itu diharapkan mampu memberi inspirasi penggarapan, pemahaman dan penghayatan seni dan budaya bagi masyarakat, dalam upaya mewujudkan nilai-nilai kehidupan yang bermartabat. Kebudayaan sebagaimana kita pahami merupakan bagian mendasar dari kehidupan setiap orang dan setiap kelompok masyarakat. Deklarasi UNESCO tentang keragaman budaya, cultural diversity memberi rumusan bahwa hak kebudayaan merupakan bagian integral dari hak asasi manusia. Karena itu pembangunan yang diharapkan untuk pertumbuhan dan pemulihan martabat manusia haruslah memiliki dimensi kebudayaan. Kebudayaan hanya mungkin tumbuh jika kita bersama-sama memberikan ruang dan fasilitas untuk menumbuhkembangkan kebudayaan itu.

Kita perlu menciptakan suasana kondusif untuk memperteguh kearifan budaya lokal dan memberi ruang untuk bekreasi pada para seniman. Kebudayaan memberikan ruang bagi kreaktifitas yang tidak selalu sama pada setiap tempat. Kebudayaan akan tumbuh sehat jika ia sejalan dengan karakter masyarakatnya yang khas, yang tidak seragam di setiap kelompok. Dengan karakter lingkungan alam dan kebudayaan yang khas dari masing-masing kelompok masyarakat akan melahirkan keragaman kebudayaan yang berbeda, unik dan menarik.

Kita menyadari bahwa manifestasi kebudayaan tidaklah semata-mata merupakan ekspresi seni, tetapi juga merupakan keseluruhan warisan material dan immaterial. Warisan itu merekflesikan sistem nilai cara pandang dan tradisi yang hidup sebagai identitas masyarakat pendukungnya. Karena itu kita tidak boleh menjadikan kebudayaan sebagai sarana komersialisasi yang tidak terarah, yang akan menghilangkan norma-norma dan sendi-sendi arti luhung dari kebudayaan itu.

Hadirin yang saya muliakan,
Siapapun yang menyebut Bali tentu yang terbayang adalah objek wisata yang mempesona, keragaman budaya yang unik dan ketaatan ibadah warganya dalam beribadat menjalankan ajaran agamanya. Anggapan itu benar adanya, saya ulangi, anggapan itu benar adanya, karena pesona Pulau Dewata ini sudah dikenal sejak lama hingga ke ujung dunia. Bali telah menjadi sentra budaya tradisional yang dapat dinikmati dan diapresiasi di era global. Bali telah menjadi ikon pariwisata Indonesia yang menjadi salah satu tujuan utama wisatawan mancanegara. Apa yang ada di Bali mari kita pelihara terus, kita kembangkan.

Masyarakat Bali yang saya ketahui, dalam kehidupan sehari-hari tidak pernah berhenti melakukan persembahan mulia, baik dalam ketaatan terhadap ajaran agama maupun persembahan hasil karya cipta. Hal inilah yang mendorong kreativitas berkesenian masyarakat Bali. Salah satu upaya unjuk kreasi masyarakat Bali adalah pesta kesenian Bali.

Sejak diselenggarakan pertama kali pada tahun 1978, di masa kepemimpinan Gubernur Ida Bagus Mantra, Pesta Kesenian Bali telah secara rutin digelar setiap tahun. Ide Pak Bagus Mantra ini telah membuat kesenian tradisional yang semula dipentaskan di masing-masing wilayah dengan komunitas terbatas, dapat dipertemukan dalam satu tempat, dinikmati bersama-sama oleh pencinta kesenian dari berbagai negara.

Pesta kesenian Bali sungguh menawarkan pesta yang kaya akan warna. Sebagaimana disampaikan oleh Saudara Gubernur tadi, pawai kesenian, pagelaran seni, pameran, sarasehan budaya, serta berbagai perlombaan kreativitas menarik untuk kita apresiasi. Keberlanjutan penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali ini adalan contoh ketegaran Bali sebagai bumi seni budaya. Saya menyambut baik dan mendukung penyelenggaraan pesta ini karena pesta ini, dapat memberikan kesempatan dalam menampung aspirasi masyarakat sebagai upaya pembinaan, penggalian dan pelestarian seni dan budaya Bali.


Hadirin sekalian,
Saya bersyukur bahwa dalam Pesta Kesenian Bali kali ini, panitia akan menggelar berbagai pertunjukan, baik pagelaran kesenian tradisional, maupun kesenian modern dan kontemporer. Pesta ini tidak hanya melibatkan kelompok-kelompok kesenian dari kabupaten, kota di Bali, tetapi juga dimeriahkan oleh pementasan partisipan dari luar Bali, bahkan dari manca negara. Atas nama kepala negara. Atas nama Kepala Pemerintahan, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan kepada siapa saja dari luar Bali maupun luar Indonesia yang ikut serta dalam Pesta Kesenian Bali kali ini.

Jadikanlah Pesta Kesenian Bali sebagai pesta rakyat. Pesta ini jangan hanya sekedar pesta seni semata, tetapi harus menjadi ajang promosi pariwisata Bali secara keseluruhan, juga menjadi ajang pengenalan budaya Indonesia ke dunia internasional. Dengan cara ini, Pesta Kesenian Bali selain dapat melestarikan seni dan budaya di tanah air juga dapat meningkatkan dan mengembangkan aspek ekonomi di dalamnya. Melalui Pesta Kesenian Bali diharapkan dapat membangkitkan kembali pariwisata Bali yang pernah terganggu akibat peledakan bom tahun 2002 dan 2005 yang lalu. Hasil karya para seniman itu kita tampilkan, kita pertunjukkan dan kita sebar luaskan untuk menarik wisatawan domestik dan wisatawan mancanegara, menikmati keragaman budaya yang saya sebutkan tadi.

Hadirin yang saya muliakan,
mengakhiri sambutan ini, saya ingin mengingatkan kembali bahwa kita masih perlu melakukan upaya revitalisasi seni dan budaya. Citra luhur seni dan budaya bangsa memerlukan etos kebangsaan, semangat kebersamaan dan kultur keunggulan sebagai bentuk investasi kultural di masa depan. Investasi budaya adalah investasi jangka panjang namun tetap efektif dan prospektif karena yang disegarkan, yang dimekarkan, yang digetarkan adalah totalitas dari pondasi kemanusiaan yang mencakup pikiran kreativitas kebanggaan dan martabat bangsa yang kita persembahkan bagi kesejahteraan dan perdamaian dunia.
Saya mengajak para wisatawan domestik dan mancanegara untuk mengunjungi Pesta Kesenian Bali ini. Jadikanlah libur panjang Saudara-saudara untuk mengunjungi, mengapresiasi dan menikmati karya seni dan budaya Bali khususnya, dan kekayaan budaya bangsa Indonesia pada umumnya.

Akhirnya dengan memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, Pesta Kesenian Bali ke-28 tahun 2006, dengan ini saya nyatakan dibuka.

Terima kasih.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Om Santi Santi Santi Om.

* * * * *



Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan