Pidato Presiden
Sambutan Peresmian Pembukaan Kongres XVI ISEI
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERESMIAN PEMBUKAAN
KONGRES KE-16 IKATAN SARJANA EKONOMI INDONESIA
MANADO, 18 JUNI 2006
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakatuh,
Selamat malam,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati, Saudara Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang saya hormati, Saudara Ketua Umum Pengurus Pusat ISEI, Saudara Burhanuddin Abdullah, yang juga Gubernur Bank Indonesia,
Yang saya hormati, Saudara Gubernur Sulawesi Utara dan para Pejabat serta Pimpinan di daerah, baik yang dari unsur Eksekutif, Legislatif, Yudikatif maupun TNI dan Polri,
Yang saya muliakan para Ekonom Senior,
Para Unsur Pimpinan ISEI, baik pusat maupun daerah,
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Pada kesempatan yang baik dan semoga senantiasa penuh berkah ini, saya mengajak Hadirin sekalian untuk sekali lagi memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, karena kita semua masih diberikan semangat, diberikan kesempatan, diberikan kekuatan dan kesehatan untuk melanjutkan tugas dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara.
Sebelum saya menyampaikan sambutan saya pada acara yang sangat penting ini, saya ingin pula, sebagaimana yang disampaikan oleh Ketua Umum Pengurus Pusat ISEI, mengucapkan terima kasih kepada Saudara Gubernur Sulawesi Utara yang telah menjadi tuan rumah yang baik dari Kongres ke-16 ISEI ini, dan yang tadi sore, ketika saya baru mendarat di Bandar Udara Sam Ratulangi, setelah terbang dari Denpasar, Bali, untuk membuka Pekan Kesenian Bali dan melaksanakan pertemuan bilateral dengan Presiden Timor Leste, beliau memberikan sambutan selamat datang yang sangat berkesan bagi saya. Sambutan selamat datang itu berupa 15 menit presentasi tentang Sulawesi Utara, tentang peta Sulawesi Utara dari aspek angka kemiskinan, angka pengangguran, kualitas pendidikan, kualitas kesehatan, keadaan infrastruktur dasar, masalah governance, pemberantasan korupsi dan juga masalah pelayanan publik.
Saya senang, karena ucapan selamat datang seperti itulah yang saya tunggu. Dengan demikian, saya yakin para pemimpin daerah, Gubernur, Bupati, Walikota, mengerti masalah yang dihadapi oleh rakyatnya, oleh daerahnya, dan mengerti bagaimana meningkatkan ketujuh unsur tadi, memenuhi ke tingkat yang lebih baik lagi. Harapan saya, tahun depan insya Allah saya berkunjung lagi ke Menado ini, saya akan mendapatkan laporan yang sama dengan kondisi yang lebih baik. Ada progres, ada capaian, ada kemajuan, dan saya minta hal-hal seperti itu, buka, agar rakyat bisa mengikuti, agar publik bisa mengikuti, dengan demikian rakyat akan bangga melihat pemimpin-pemimpinnya yang bekerja keras siang dan malam, yang ingin berbuat yang terbaik untuk rakyat dan daerahnya. Itu harapan kita semua. Semoga Saudara-saudara yang berasal dari seluruh tanah air, dari provinsi, kabupaten dan kota manapun, tolong dihidupkan satu kebersamaan, untuk meningkatkan tingkat kesejahteraan rakyat yang saya kira juga menjadi tema sentral dari ISEI dalam membangun ekonomi ke depan nantinya.
Hadirin sekalian yang saya hormati,
Saya memilih untuk menyampaikan pidato yang tidak normatif, sebagaimana layaknya sambutan sebuah upacara pembukaan kongres. Teramat sayang bagi saya, jauh-jauh datang ke Menado dan teramat sayang bagi Saudara-saudara yang juga datang dari seluruh penjuru tanah air, bahkan ada yang dari luar negeri, kalau hanya mendengarkan presidennya pidato dari teks yang sudah disiapkan dan barangkali masalah itu sudah sama-sama kita ketahui. Saya ingin menyampaikan pikiran, gagasan dan pandangan sederhana saya. Mudah-mudahan menjadi bagian dari pembahasan ISEI mulai hari ini, besok dan lusa, agar bukan hanya bisa memberikan satu sumbangan pikiran kepada negara, bukan hanya pemerintah, tapi bagi negara, bagaimana arah, bangun dan kebijakan strategis menyangkut pembangunan ekonomi di negeri kita ini.
Saya ingin pula, meskipun sudah banyak agenda yang dibahas, ikut menambahkan pekerjaan rumah bagi ISEI. Mudah-mudahan pekerjaan rumah yang saya kedepankan nanti bisa dibahas, bisa dikritisi, bisa dikonstruksikan, bagaimana kira-kira menjadi bagian integral dari keseluruhan upaya nasional untuk membangun ekonomi yang lebih tepat ke depan ini, sebagaimana disampaikan oleh Saudara Burhanuddin Abdullah, yang kontekstual, menjawab persoalan jaman, antara lain, dalam lingkungan dunia yang berubah karena globalisasi, karena perdagangan bebas dan pasar terbuka, termasuk proses di dalam negeri yang menuju dan menghadirkan wajah dekonsentrasi, desentralisasi dan otonomi daerah.
Pertautan dari keduanya memberikan kompleksitas tersendiri tapi juga menghadirkan opportunity, menghadirkan sesuatu yang apabila kita ambil dengan baik, pasti memberikan manfaat yang tinggi kepada rakyat kita di seluruh tanah air.
Hadirin sekalian,
Saya ingin menyampaikan tiga hal, ingin saya kedepankan secara ringkas. Yang pertama, tentu wajib bagi saya untuk memberikan apresisasi kepada ISEI, untuk menyampaikan harapan dan ajakan saya dan sekaligus nanti saya titip sebuah pekerjaan rumah. Saya selalu men-challenge putra-putri terbaik bangsa, termasuk Saudara-saudara yang di ruangan ini, untuk juga memberikan sesuatu yang bermanfaat bagi rakyat, bangsa dan negaranya.
Yang kedua saya mengajak Hadirin sekalian untuk sedikit melakukan sebuah refleksi dan orientasi tentang gerak pembangunan ekonomi di negeri ini pasca krisis. Mengapa? Karena penggal sejarah pasca krisis ini bukan hanya banyak memberikan pelajaran, tapi juga menjanjikan banyak harapan dan peluang. Jika kita sebagai bangsa tidak menyia-nyiakan, insya Allah ada satu momentum yang baik, satu peluang yang baik yang dapat kita ambil bersama-sama.
Kemudian bagian ketiga dari apa yang ingin saya sampaikan adalah satu pemikiran yang tolong nanti dibahas, dikritisi, diuji, sebagai salah satu bagian, sebagaimana saya katakan tadi, dari upaya besar kita membangun ekonomi di negeri ini, menuju ke peningkatan kesejahteraan rakyat yang hakiki.
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Terus terang saya memang berharap banyak dari ISEI. Pertama-tama, yang ada di ruangan ini dan juga yang tidak hadir di ruangan ini, saya kenal sebagian dari Saudara-saudara, adalah bukan hanya thinkers, tapi sebagian juga philosopher di bidang ekonomi. Ada business leaders, ada policy makers. Banyak sekali yang saya kira kalau disatukan, sebagaimana Pak Burhanuddin Abdullah tadi, suatu mozaik yang bagus, bahkan tidak mustahil bisa membangun satu zone of possible agreement, bagaimana kita mengkonstruksikan ekonomi ke depan menuju masa depan yang kita cita-citakan bersama.
Saya yakin bahwa ISEI bukan hanya dalam rangkaian kongres ini, tapi ke depan nanti juga bisa memberikan sesuatu yang benar-benar menjadi resep, menjadi solusi dari permasalahan ekonomi yang kompleks yang kita hadapi sekarang ini. Saya yakin akan lahir dari ISEI, dan mudah-mudahan tidak terlalu lama, pikiran cerdas dari ISEI bisa kita adopsi sebagai bagian dari kebijakan pemerintah maupun kebijakan lain-lain yang berkaitan dengan pembangunan ekonomi kita.
ISEI selama ini telah terus-menerus memberikan partisipasi dan kontribusinya dalam mengembangkan kebijakan strategi ekonomi di negeri ini. Pada masa krisis yang lalu, puncaknya saya kira kita kenali 1998, 1999, 2000 maupun ekornya masih kita rasakan hingga saat ini, telah banyak yang telah ditawarkan oleh ISEI, berupa opsi, berupa solusi, yang sebagian saya kira sudah diadopsi dalam pengembangan kebijakan yang berkaitan dengan pembangunan ekonomi kita, termasuk pembangunan kembali ekonomi kita pasca krisis.
Saya juga berterima kasih kepada ISEI, baik orang-seorang maupun organisasi yang terus mengkritisi kebijakan pemerintah dan seringkali dalam kritik itu terkandung solusi atau jalan keluar, meskipun tidak selalu klop dengan apa yang kita hadapi sekarang ini, paling tidak ada pencerahan, ada enlightenment, ada kritik yang sekaligus diimbangi dengan bagaimana jalan keluar yang dapat dipilih.
Saudara-saudara sekalian,
PR yang saya maksudkan adalah, dalam kongres ini dan setelah kongres ini, bantu saya, bantu pemerintah yang saya pimpin sekarang ini untuk merumuskan kembali dan memantapkan arah, bangun serta kebijakan strategis pembangunan ekonomi kita, baik yang berjangka pendek, rekonstrukstruksi ekonomi pasca krisis maupun yang bersifat jangka menengah, jangka panjang, untuk membikin ekonomi kita, ekonomi Indonesia makin kokoh, makin kuat, makin sustainable, terus tumbuh dan makin tahan.
Ada orang mengatakan bahwa ukuran keberhasilan reformasi bidang ekonomi yang kita lakukan sekarang ini adalah apabila suatu saat, meskipun kita tidak berharap, ada external shock yang begitu kuat menguncang sendi-sendi ekonomi kita, ekonomi kita tahan, fundamental kita tidak goyah, dan kita survive dan terus melanjutkan arah pembangunan ekonomi kita, konon ukurannya seperti itu. Oleh karena itulah mari kita lakukan sesuatu untuk betul-betul mengokohkan dan menguatkan fundamental ekonomi kita.
Hadirin sekalian,
Itulah bagian pertama, bagian yang paling penting, yaitu apresiasi saya kepada ISEI, harapan saya kepada ISEI, sekaligus ajakan, bagaimana kita bersama-sama menata kembali, membangun kembali dasar-dasar serta kebijakan dan strategi ekonomi kita.
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Bagian kedua dari yang ingin saya sampaikan adalah refleksi dan orientasi yang berkaitan dengan kebijakan dan pengelolaan ekonomi nasional kita pasca krisis. Saya memiliki asumsi dan keyakinan Saudara semua di sini tentu memiliki language, bahasa dan penglihatan yang sama terhadap masalah-masalah yang secara ringkas hendak saya sampaikan ke hadapan Saudara sekalian, dalam arti tentu wawasan para ekonom, pengetahuan para ekonom dan bahkan pengalaman para ekonom dalam arti luas bagi saya cukup untuk sama-sama memahami hakekat masalah yang kita hadapi sejak Indonesia dilanda krisis beberapa tahun yang lalu.
Saya juga yakin kalau kita bicara krisis yang mengubah banyak hal di negeri kita ini, Saudara semua tentu tahu the what, the why and the how krisis waktu itu dicoba untuk dicarikan solusinya dan dicarikan jalan keluarnya. Yang jelas, meskipun puncak krisis sudah beberapa tahun kita lewati, ekornya, dampaknya, implikasinya, masih kita rasakan hingga sekarang ini. Akan saya sampaikan secara singkat nanti, apa yang saya maksudkan dengan masih ada dampak atau ekor dari krisis yang menimpa negeri kita beberapa tahun yang lalu.
Refleksi yang saya maksudkan adalah, saya ingin menyampaikan dalam urutan yang mudah-mudahan mudah dipahami. Pertama, kita semua mengerti dan dapat mengidentifikasi persoalan dan tantangan ekonomi kita dewasa ini. Kita tahu semua. Barangkali masalah macro economic stability, masalah growth, masalah inflation, masalah job creation, masalah poverty reduction, masalah pentingnya infrastructure, masalah harmoni pusat daerah, dan lain-lain. Tentu saya tidak perlu menguraikan hal-hal seperti itu.
Yang kedua, negara kita, pemerintah kita, dengan sistem yang berlaku, telah menetapkan sebenarnya, tujuan dan sasaran atau end dalam pembangunan ekonomi, paling tidak lima tahun ke depan 2004-2009, dengan cara, means yang juga kita rumuskan, strategi, kebijakan, program, dan juga resources yang kita gunakan, APBN kita, resources yang lain, yang itu merupakan mean dalam sebuah grand strategy pembangunan ekonomi kita.
Kita kenal RPJM, Rencana Pembangunan Jangka Menengah. Kita kenal RKP, Rencana Kerja Pemerintah. Kita kenal APBN dengan derivasi-derivasinya, yang itu menggambarkan bahwa we have had sebetulnya, sesuatu yang kita tetapkan sebagai end, sebagai mean dan sebagai wish. Tidak benar kalau negeri kita ini, kalau pemerintah ini, kalau kita semua tidak punya visi, tidak punya desain, tidak punya rencana untuk membangun ekonomi ke depan ini.
Yang ketiga, kita tahu, bahwa rencana dan program itu telah, sedang dan akan terus kita lakukan untuk mencapai sasaran-sasaran itu. Ketiga semua program itu kita laksanakan, sebagian sudah, sebagian sedang, lingkungan strategis kita, baik nasional maupun global, tidak statis. Tidak kaku, tetapi bergerak, bahkan senantiasa memunculkan persoalan dan tantangan-tantangan yang baru. Kita melihat sesuatu harus secara kontekstual. Terkadang pula yang datang shock atau discontinuity. Harga minyak mentah 70 dolar, apalagi lebih. Itu tentu beyond asumsi kita, estimasi kita, bahkan juga knowledge kita, kalau 70 barangkali. Tapi kalau misalkan 100, saya kira belum ada asumsi dalam APBN kita 2005, 2006, 2007 sampai 100 dolar, meskipun long term prediction could happen harga minyak seperti itu. Maksud saya, selalu ada yang sifatnya keluar dari asumsi dan perkiraan.
Dua tahun terakhir ini, kita menghadapi dan mengalami sejumlah persoalan yang menurut saya tidak ringan. Tsunami Aceh dan Nias. Krisis minyak mentah dunia. Pelemahan rupiah akibat faktor eksternal. Flu burung. Kemudian terakhir misalnya, bencana di Yogya dan di Jawa Tengah dan sejumlah masalah-masalah yang langsung atau tidak langsung berpengaruh dalam pelaksanaan pembangunan ekonomi kita. Dalam keadaan seperti itu, dalam lingkungan yang berubah dan berkembang seperti itu, yang telah dan sedang kita lakukan pada hakekatnya dua.
Pertama, kita memastikan bahwa rencana pembangunan jangka menengah 2004-2009 dengan segala instrumen turunannya terus kita jalankan untuk mencapai tujuan. Tetapi, karena persoalan aktual datang, masalah-masalah yang kompleks harus kita jawab dan atasi, kita melakukan semuanya itu seraya dan harus pula mengatasi masalah-masalah yang terjadi. Sekarang, kalau kita jujur, kalau kita petakan, paling tidak secara kualitatif, maka perjalanan bersama 1,5 tahun lebih, sekarang ini, ada sasaran-sasaran yang dapat kita capai. Ada hasil dan capaian itu bisa kita lihat secara kuantitatif dan kualitatif. Ada sasaran yang belum atau tidak bisa kita capai, berikut dengan mengapanya. Yang jelas pula, ada sejumlah tantangan yang kritis, yang fundamental, yang mesti kita jawab kalau perjalanan ekonomi kita, perjalanan pembangunan kita ke depan selamat dan berhasil. Itulah yang harus kita jawab.
Dengan urutan berpikir itu, saya nanti tentu akan masuk pada bagian ketiga, salah satu sisi, meskipun saya berharap banyak dari tema besar ini, meletakkan kembali, menata kembali dasar-dasar pembangunan ekonomi yang kokoh. Tantangan tadi, persoalan tadi, kompleksitas persoalan yang kita hadapi tadi, mesti kita jawab. Forum ini saya pikir, salah satu forum untuk merumuskan jawaban. Dan, Pak Burhanuddin mengatakan akan dikomunikasikan ke saya, karena waktu berjalan dengan cepat, rakyat kita tidak boleh terus-menerus menunggu tanpa action, kalau bisa, saya senang, bulan Juli, bulan depan sudah bisa berkomunikasi, untuk saya bisa mendengar pikiran-pikiran dari ISEI, bagaimana semua itu dapat dijadikan bagian dalam kebijakan strategi, program pembangunan ekonomi yang dilaksanakan oleh pemerintah.
Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Bagian terakhir dari yang ingin saya sampaikan adalah, sesuatu yang paling tidak merupakan proposal yang saya ajukan untuk ditanggapi, dibahas dan dikritisi selama Kongres ISEI ini berlangsung. Tetapi, saya sudah membaca rangkuman atau benang merah atau highlight dari pikiran-pikiran teman-teman di ISEI yang dirangkum, meskipun belum merupakan dokumen resmi, yang menurut saya banyak yang sejalan dengan pikiran saya dan saya makin nyaman kalau itu menjadi bagian salah satu landasan dalam perumusan tema besar ini, mudah-mudahan output-nya, hasilnya, tentu akan sangat dekat nanti dengan apa yang juga digagas oleh pemerintah.
Tadi diingatkan globalisasi, desenteralisasi. Diingatkan akhirnya yang kita tuju adalah kesejahteraan rakyat. Ekonomi tentu bukan tujuan dalam dirinya, bukan tujuan akhir. Paling tidak tujuan akhirnya adalah people welfare, pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan, rasa aman, dan lain-lain. Kemudian, disebut-sebut, kalau bicara kesejahteraan rakyat, ada dimensi kolektif, ada dimensi individual. Barangkali ini yang baik untuk kita tidak perang dalam stigma, untuk kita tidak perang dalam mazhab apakah itu sosialisme apakah itu kapiltalisme, dengan satu redefinisi yang cantik tadi, ada hak tapi ada juga kewajiban, ada dimensi, baik itu individual maupun kolektif yang harus hidup bersama-sama.
Kemudian disebut dalam rangkuman diskusi teman-teman di ISEI, pentingnya lapangan kerja, employment, employment creation, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Saya juga mencatat banyak hal agar iklim investasi dibangun benar-benar, diperbaiki benar-benar dengan sejumlah rekomendasi. Masalah BUMN diangkat, masalah UMKM diangkat. Dari pikiran-pikiran dasar yang disampaikan oleh ISEI itu Saudara-saudara, mendorong saya untuk pada forum yang mulia ini, pada malam yang baik ini, saya akan menyampaikan satu hal yang barangkali patut kita pikirkan bersama.
Latar belakang dari pemikiran dan proposal saya ini adalah, setelah satu setengah tahun saya mengemban amanah memimpin pemerintahan, dan setelah saya dibantu oleh Wakil Presiden, dibantu oleh para Menteri, kadang-kadang bersama, atau sering bersama Gubernur, Bupati, Walikota, mengelola persoalan-persoalan ekonomi, mengambil keputusan, menetapkan pilihan, mengembangkan kebijakan, dan setelah pula saya berkunjung ke banyak daerah, berdialog dengan masyarakat kita, petani, nelayan, buruh, peternak dan lain-lain, sampailah pada satu kesimpulan bahwa akibat krisis ekonomi yang dulu luar biasa dalam dan luasnya, pengangguran di negeri kita masih relatif tinggi. Sembilan sampai 10%, just to high.
Yang kedua, akibatnya, karena tidak ada pekerjaan, dapur tidak berasap, maka pendapatan, terutama personal income, juga pada kelompok marginal, kelompok lemah, tidak tinggi. Akibatnya, benar 40 juta saudara-saudara kita, pada prinsipnya masih miskin, 20 juta saudara-saudara kita pada prinsipnya setengah miskin, poor and near poor. Sementara, bukan hanya karena krisis, tapi karena juga proses sebelumnya, kualitas pendidikan dan kualitas kesehatan rakyat kita, the quality of live of our people dalam indeks itu juga belum tinggi.
Oleh karena itu, menurut pendapat saya, melihat kondisi objektif itu, melihat apa yang kita rasakan itu, disamping semua langkah, upaya, untuk membangun ekonomi atas dasar program yang telah kita tetapkan, nampaknya, kita perlu satu upaya jangka pendek dan jangka menengah, dengan fokus, dengan sasaran yang lebih terfokus adalah, penciptaan lapangan kerja, pengurangan kemiskinan, peningkatan pendapatan perseorangan, peningkatan pendidikan dasar dan peningkatan kesehatan dasar, basic education termasuk basic health, in return, itu bisa mempengaruhi bagaimana sebuah job diciptakan, bagaimana pendapatan dinaikkan, karena saling kait-mengait kapasitas dan kualitas orang-seorang, terutama kelompok golongan lemah, dari sisi pendidikan dan kesehatan yang dimiliki. Oleh karena itu meletakkan lima-limanya dalam satu paket, the qualiy of life, termasuk bagaimana kita, semacam dalam bahasa saya, to rescue the people who are suffering from the crisis, ini menjadi tujuan, paling tidak jangka pendek, jangka menengah.
Dengan penjelasan itu, Saudara masih ingat, akhir 2004 tahun yang lalu, saya mengenalkan satu istilah, triple track strategy. Bagi yang masih ingat, sesungguhnya, triple track itu adalah pro-growth, pro-job dan pro-poor. Mengapa? Track pertama adalah kita harus meningkatkan pertumbuhan dengan mengutamakan ekspor dan investasi. Yang kedua, track yang kedua adalah menggerakkan sektor riil untuk menciptakan lapangan kerja. Dan yang ketiga, merevitalisasi pertanian, kehutanan, kelautan dan ekonomi perdesaan untuk mengurangi kemiskinan. Enampuluh delapan persen orang miskin ada di sektor pertanian dan di perdesaan. Sehingga kalau tiga-tiganya bisa kita angkat ke depan ini, benar-benar bahwa growth itu mendatangkan kebaikan, karena sekaligus bisa menciptakan lapangan kerja, dan mengurangi kemiskinan.
Yang penting adalah, bukan berarti kita mengganti existing program yang ada, tapi kita menambah. Saya berpikir tidak cukup negara berkembang, negara semacam Indonesia, Indonesia pasca krisis kalau hanya menggantungkan standard macro economic policy. Kalau hanya menggantungkan growth tanpa equity yang sejak awal berjalan bersama. Tidak bisa hanya menggantungkan habis-habisan kepada mekanisme pasar, harus ditambah, diimbangi plus dan tidak diganti. Saya berpikir harus ada semacam targeted poverty reduction policy, targeted employment create on policy, targeted education and health improvement quality, yang tadi dijelaskan oleh Saudara Gubernur kepada saya, yang dijelaskan beberapa Bupati kepada saya, semacam program terarah.
Kita tahu, bahwa secara teori, kalau ekonomi tumbuh dengan trickle down effect itu tercipta lapangan kerja yang lebih banyak. Akan banyak masalah-masalah yang diatasi. Pengalaman di banyak negara berkembang, tidak selalu itu mengalir sebagaimana yang diteorikan dari teori-teori yang kita pelajari. Oleh karena itu menurut saya, disamping yang conventional, mesti ada yang non-conventional.
Saudara-saudara,
Program khusus ini, katakanlah new deal, prosperative new deal, mestilah lebih bersifat jangka pendek, tentu merupakan targeted action plan, adil mereka yang di perdesaan, yang di perkotaan, kelompok lemah, petani, nelayan, dan kelompok marginal seperti itu, konstruksi tidak mungkin menabrak sendi-sendi makro ekonomi yang sehat dan tidak mungkin mengobrak-abrik keberlanjutan fiskal, sesuatu yang harus kita jaga dengan baik.
Dan mengapa new deal ini harus kita pikirkan Saudara-saudara? Kalau kita mendengar suara rakyat kita sebagian, pada kelompok-kelompok menengah yang sekian lama harus menanggung beban akibat krisis, maka kita boleh mengatakan the hungry can not wait. Pernah kita berdebat, pembangunan untuk rakyat atau rakyat untuk pembangunan. Mestinya dua-duanya harus ada. Pembangunan untuk rakyat, rakyat menjadi bagian dari pembangunan, bukan rakyat dikorbankan dalam tanda kutip untuk pembangunan.
Sementara itu kalau kita hanya menggantungkan reformasi ekonomi, perbaikan iklim investasi, langkah-langkah yang konvensional itu perlu waktu Saudara-saudara. Kita ingin mempercepat. Ada paket investment. Sudah saya keluarkan instruksi tahun 2006. Ada kebijakan moneter, ada kebijakan fiskal yang lain, banyak sekali yang kita lakukan. One thing, reformasi, rekonstruksi tidak seperti membalik telapak tangan. Tetap perlu waktu. Ada kevakuman, ada ruang yang mestinya tidak boleh kita hanya menunggu datangnya kebaikan dari sebuah program reformasi yang berskala besar yang kita lakukan. Kita juga harus ingat bahwa sebenarnya fokus membantu rakyat kita dalam keadaan seperti itu menurut saya juga merupakan persoalan moral, moral obligation, juga persoalan keadilan.
Bentuk program yang saya maksudkan tadi, saya menunggu pikiran-pikiran dari ISEI, saya lebih fokus pada dua hal. Satu adalah employment creation, penciptaan lapangan kerja. Menurut saya itu dasar, menurut saya itu basic, menurut saya pintu masuk, menurut saya jembatan. Contoh, sekarang sedang dimatangkan oleh teman-teman, bagaimana kita membangun bio-energi di Indonesia, sebuah wilayah yang punya lahan, punya tradisi bertani, ada pasar yang tersedia, ada teknologi yang sudah dimiliki dan lain-lain, jangan dilupakan peningkatan tenaga kerja di luar negeri. ISEI juga sudah memikirkan itu. Insya Allah bulan Juli akan ada satu rakernas tenaga kerja. Setelah saya keliling Timur Tengah, datang ke Korea, ke Malaysia, ke Singapura, ke Jepang, nampaknya kita belum menggunakan peluang yang ada di luar negeri. Ada sebuah labor market yang menganga di luar negeri, tapi kita tidak menjemput dan kita belum menggunakan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya. Belum kalau kita bicara job opportunity yang di dalam negeri sendiri.
UKM. Kita punya keunggulan di bidang handycraft. Handycraft yang kita bikin, yang kita pamerkan di Indonesia berapa kali, di Nagoya, di Osaka, di Timur Tengah, di Doha, di Kuwait City, ternyata peminatnya banyak. Mengapa tidak ada satu langkah yang intensif untuk mengembangkan UKM dari sebuah contoh handycraft. Belum nanti infrastructure building.
Saudara-saudara,
Sekarang karena keadaan memang cash transfer. Ada yang berpikir, itu tidak mendidik, kurang produktif, harusnya diganti cash for work. Ada, suatu saat tinggalkan cash for work, betul-betul work, betul-betul employment creation. Silahkan dibahas. Pahami kondisinya sekarang, bagaimana lompatan-lompatan itu. Tapi yang penting bagi kita, job creation, employment creation menurut saya merupakan prioritas pertama dalam ekonomi kita, baik jangka pendek maupun jangka menengah. Itu yang kita harapkan paduan dari public private partnership.
Yang kedua adalah yang saya maksudkan dengan new deal, bagaimanapun harus ada satu program yang sangat terarah, saya kira fiscal driven di sini untuk meningkatkan pendidikan dan kesehatan. Melihat pertumbuhan anggara dalam APBN kita, dalam APBD kita untuk kesehatan dan pendidikan, saya punya keyakinan bahwa tiga tahun lagi, empat tahun lagi, lima tahun lagi, state of pendidikan dan kesehatan kita, insya Allah akan meningkat, bersama-sama harapan kita makin banyak lapangan kerja yang kita kerjakan.
Saudara-saudara,
Itu adalah apa yang saya ajukan ke hadapan Saudara yang mulia. Semacam proposal. Saya juga sedang melengkapi, dan saya serahkan nanti pada saatnya kepada ISEI, aspek lain dari proposal sederhana itu, misalnya, bagaimana landasan teoritikalnya. Tentu sebuah proposal tidak mungkin tanpa kerangka teoritikal yang kita bangun. Ada preseden sejarah sebelumnya, negara-negara yang mengalami depresi ekonomi juga datang dengan new deal yang akhirnya sasarannya employment.
Ada kebijakan yang sekarang sedang berlangsung di negara-negara lain. Kemudian Saudara-saudara, ada keterbatasan, bisa dibaca ketidakbisaan dari globalisasi, dari perdagangan bebas, dari pasar terbuka, untuk menghadirkan equality, untuk memperkecil gap, untuk menimbulkan tenaga kerja di negara-negara berkembang, negara belum maju, untuk meningkatkan pendidikan, kesehatan dan lain-lain, dalam arti quality of life. Oleh karena itu menggantungkan semata-mata pada keniscayaan global sekarang ini, tanpa kita melakukan sesuatu yang baik, the positive and constructive intervention, saya kira tidak lengkap apa yang kita lakukan. Apalagi kalau saya katakan tadi, apa yang kita lihat bersama-sama pada tingkat grass root di seluruh tanah air dewasa ini.
Saudara-saudara,
Itulah yang dapat saya sampaikan, yang penting menyangkut new deal, yang coba saya angkat dalam forum ini, untuk tidak dianggap sesuatu yang keluar dari pakem, sesuatu yang bertentangan dengan conventional economic wisdom, saya mengatakan demikian karena ada preseden di banyak negara, ketika negara yang bersangkutan juga mengalami hal yang sama. Makro ekonomi penting. Tanpa makro ekonomi yang baik, tidak bisa dihitung apapun kegiatan ekonomi dan bisnis. Stabilitas menjadi penting. Tapi stabilitas sendiri tidak cukup. Kita ingin stabilitas plus. Growth, plus lapangan kerja. Plus quality of life. Mudah-mudahan Saudara-saudara, ISEI, bisa melengkapi lagi, bisa mengkritisi dan bisa mendiskusikan pikiran-pikiran ini sebagai bagian dari keseluruhan upaya besar kita meletakkan kembali dasar-dasar pembangunan ekonomi yang kokoh dan bukan hanya meletakkan landasannya, tetapi menggiatkan, mengelolanya, mengimplementasikannya, menuju sasaran-sasaran yang kita kehendaki bersama.
Demikianlah Saudara-saudara yang saya hormati,
Dan akhirnya dengan terlebih dahulu memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, saya mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, Kongres Ke-16 Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia, dengan resmi saya nyatakan dibuka.
Terima kasih,
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
* * * * *
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



