Pidato Presiden

Sambutan Pembukaan Kongres XV Persatuan GMNI

 

SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PERESMIAN PEMBUKAAN KONGRES PERSATUAN XV
GERAKAN MAHASISWA REPUBLIK INDONESIA (GMNI)
HOTEL TANJUNG PESONA-SUNGAI LIAT
27 JUNI 2006



Assalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh,
Selamat malam,
Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati Saudara Menteri Pemuda dan Olah Raga dan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Yang saya hormati Saudara Ketua Komisi I DPR RI, Saudara Ketua Presidium Alumni GMNI,
Yang saya hormati Saudara Gubernur Bangka-Belitung dan para Pimpinan Lembaga Negara di daerah, baik unsur dari Eksekutif, Legislatif, Yudikatif maupun TNI dan Polri,
Yang saya hormati Saudari Ketua Presidium GMNI dan para unsur pimpinan GMNI yang hadir pada malam hari ini,

Hadirin sekalian yang saya muliakan,
Pada kesempatan yang baik, pada malam hari ini, marilah sekali lagi kita panjatkan puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa atas perkenan rahmat dan ridho-Nya, kita dapat hadir dalam Pembukaan Kongres GMNI Tahun 2006 ini. Kita juga bersyukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena kepada kita masih diberikan kesempatan, kekuatan dan kesehatan untuk melanjutkan tugas dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara.

Saudara-saudara yang saya cintai,
Ketika Pimpinan Presidium dan Panitia Kongres GMNI pada malam hari ini, datang kepada saya di Kantor Kepresidenan untuk menyampaikan hajatnya dan mengundang saya untuk membuka kongres pada malam hari ini, saya memberikan dukungan yang penuh karena justru kita ingin generasi muda, generasi penerus perjuangan bangsa tampil lebih luas lagi dalam ikut menyumbangkan darma baktinya kepada negara menghadapi permasalahan nasional yang tidak ringan dewasa ini.

Saya ingin semua organisasi kepemudaan terus melakukan partisipasi dan kontribusinya untuk pembangunan bangsa, terus menjadikan organisasi dimana mereka berada termasuk kader-kader GMNI pada malam hari ini, melakukan satu proses pengkaderan kepemimpinan untuk menerima tugas dan peran pada saatnya nanti. Untuk juga menjadikan proses pengembangan demokrasi di kalangan organisasi, untuk memekarkan dan mematangkan pengalaman di dalam mengelola sumber daya dengan kaidah-kaidah manajemen yang benar. Dan tentunya, sebagaimana disampaikan Saudari Presidium tadi, juga ikut berada di tengah-tengah masyarakat, ikut memecahkan persoalan mereka yang dihadapi kemudian menawarkan solusi dan kemudian membantu mereaka mengatasi persoalan-persoalan itu.

Kalau itu dilakukan, saya yakin keberadaan GMNI yang telah memiliki peran sejarah yang sangat nyata dalam pasang surut perjuangan bangsa ini akan dapat terus dipertahankan dan dikembangkan. Sehingga GMNI bukan hanya menjadi kebanggaan GMNI itu sendiri, tetapi GMNI menjadi kebanggaan kita semua, kebanggaan bangsa Indonesia. Oleh Karena itu, tantangan ada pada saudara-saudara, calon-calon pemimpin bangsa, kader-kader GMNI untuk terus menjadikan organisasi ini, organisasi yang profesional, yang dedikatif, kemudian melakukan peran nyata dan kontribusinya kepada kehidupan bangsa dan negara.

Saudara-saudara sekalian,
Saya senang dengan tema dari kongres kali ini, “Bersatu Memperkuat NKRI”. Pada tanggal 1 Juni yang lalu, saya menyampaikan pidato, banyak saya angkat gagasan-gagasan cemerlang dari Bung Karno yang patut kita ketahui karena banyak hal dari pikiran-pikiran beliau yang tetap relevan dan menjadi sumber pemecahan masalah masa kini dan masa depan. Saya katakan waktu itu bahwa Pancasila sebagai dasar negara tidak perlu diperdebatkan lagi karena sudah ada ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat yang menetapkan Pancasila sebagai dasar negara. Demikian juga konsensus-konsensus dasar kita, Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 yang nyata dalam pembukaannya, NKRI dan juga Bhineka Tunggal Ika, itu merupakan sesuatu yang final menjadi bagian dari gerak dan jiwa kehidupan kita.

Oleh karena itu, tidak perlu diperdebatkan kesana, kemari, yang penting adalah generasi sekarang, generasi penerus yang akan datang, mampu mengaktualiasikan semua nilai, jati diri dan konsensus-konsensus dasar itu secara tepat, merespon tantangan jaman, merespon perkembangan negeri ini, termasuk perkembangan dunia dalam era globalisasi ini. Di situ kecerdasan kita sebagai bangsa memaknai konsensus-konsensus dasar itu, memaknai patriotisme dan nasionalisme. Dengan demikian, apa yang telah dilahirkan oleh para pendiri Republik, termasuk Bung Karno, itu betul-betul dapat diterapkan sekarang ini sesuai dengan tantangannya, sesuai dengan semangat jamannya dan sesuai dengan apa yang diinginkan oleh rakyat kita, meningkatkan kesejahteraannya, memajukan kehidupannya, menuju masa depan yang lebih baik.

Saudara-saudara,
Bersatu adalah kata kunci. Tidakkah ketika para pendiri republik memproklamasikan Kemerdekaan Republik Indonesia, menetapkan Undang-Undang Dasar 1945, ada kata-kata yang sangat penting untuk kita pahami, yang merupakan cita-cita nasional kita, yaitu merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur. Bersatu inilah menjadi kata kunci. Waktu itu ada debat pada Bulan Juni 1945, sebelum Indonesia merdeka oleh para Pendiri Republik, yang mengatakan apa yang dinamakan bangsa, apa yang dinamakan negara kebangsaan, negara nasional. Sepakat waktu itu bahwa intinya adanya kehendak untuk bersatu, lagi-lagi bersatu.

Indonesia memiliki kemajemukan yang luar biasa, kemajemukan dari segi agama, dari segi etnis, dari segi ras, dari segi daerah dan lain-lain. Tetapi semangat 1908, semangat 1928 dan mestinya semangat kita sekarang mempertahankan berbeda tetapi satu, Bhineka Tunggal Ika. Itu yang harus kita dikembangkan. Kita harus bisa hidup rukun, damai, penuh toleransi dalam kemajemukan, dalam keberbedaan, kekuatan kita di situ. Karena memang kita dilahirkan menjadi bangsa yang beragam. Dalam perkembangan sejarah, banyak keragaman-keragaman yang muncul setelah itu, tetapi sekali lagi kuncinya satu, we have to be more united, kita harus lebih bersatu sebagaimana menjadi tema dalam kongres kali ini, memperkuat NKRI.

NKRI, Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang namanya NKRI kuat bukan hanya NKRI itu utuh secara teritorial seluruh Indonesia, dari Sabang sampai ke Merauke, bukan hanya itu, bukan hanya utuh, tidak ada kekuatan manapun di dalam negeri yang ingin memisahkan diri atau melakukan gerakan separatisme, bukan hanya negara ini siap dan tidak boleh dijajah, diinvasi, mendapatkan agresi dari lawan-lawan kita, bukan hanya itu. Tetapi NKRI kuat, kalau memang ke depan ini dalam era globalisasi ini seluruh rakyat Indonesia itu betul-betul memang menjadi bangsa yang lebih maju, lebih kuat, kemudian lebih sejahtera. Itu makna kecintaan kita pada NKRI.

Patriotisme, cinta kepada tanah air. Nasionalisme memiliki paham dan rasa kebangsaan yang tinggi, mesti tidak ingin di tingkat dunia bangsa kita dianggap bangsa yang gagal, dianggap bangsa yang tidak berhasil, bangsa yang seolah-olah kemiskinan tidak bisa kita atasi, pengangguran tidak bisa kita atasi, human development index juga jelek, bukan itu tentunya. Kita ingin martabat kita, harga diri kita, nama baik kita pada pentas internasional makin terangkat dan makin terhormat. Cinta tanah air, cinta bangsa di samping mempertahankan yang sudah kita miliki pasca kemeredekaan, tetapi juga mengisinya.

Bung Karno mengatakan di seberang jembatan emas itulah kita sempurnakan kita punya kemerdekaan. Apakah setelah 1945, sekarang ini kita bisa mengisinya dari pemerintahan ke pemerintahan, dari pemimpin ke pemimpin. Yang saya tahu sejak Bung Karno berturut-turut sampai dengan saya mengemban amanat dan nanti pemimpin setelah itu tentu memiliki komitmen, memiliki tugas dan tanggung jawab untuk mengisi kemerdekaan ini, membikin bangsa Indonesia terhormat dalam era perubahan besar di dunia ini sehingga kita bangga menjadi bangsa Indonesia, bangga sebagai Warga Negara Indonesia.

Mari kita gunakan standar. Kalau dunia melihat human development index, pendidikan, kesehatan, pendapatan orang-seorang, mari ke depan ini bersama-sama di pusat, provinsi, kabupaten, kota, semua kita bikin lebih maju lagi, kita bikin lebih baik lagi: pendidikan, kesehatan dan pendapatan orang-seorang dengan cara menciptakan lapangan kerja yang sekarang sedang kita lakukan dengan gigih, meskipun tidak mudah karena krisis, pengangguran kita besar.

Kita juga ingin menggunakan kriteria dunia. Bangsa yang maju, konon adalah bangsa yang mampu mempertahankan keberlanjutannya, sustainaibility-nya. Mari tidak mudah runtuh, tidak mudah jatuh bangsa kita. Juga bangsa yang memiliki fairness dan individual freedom yang kita bebas menyuarakan apapun dalam kerangka demokrasi, dalam kerangka konstitusi, juga bangsa yang harmonis, rukun, tidak pecah karena faktor-faktor identitas, rukun dan juga bangsa yang siap menyongsong masa depannya, ilmu pengetahuan, teknologi yang tentunya sangat perlu dimiliki oleh sebuah bangsa kalau dia ingin terus maju dan maju. Itu ukuran global. Kita mampu menuju ke situ.

Kemudian saudara-saudara, saya ingin pada suasana yang baik ini, pada malam yang penuh semangat ini, mengingat kembali kebangsaan kita, nasionalisme kita, menggelorakan kembali patriotisme kita, cinta tanah air kita dan sejumlah hal yang perlu kita lakukan ke depan. Marilah kita perkuat kebanggaan kita sebagai bangsa.

Alangkah bangganya bangsa Indonesia kalau Indonesia Raya berkumandang di luar negeri karena kita mendapatkan medali emas seperti badminton kita, bangga kita. Alangkah bangganya tadi pagi saya menerima berita, seorang remaja SMAN dari Papua yang bernama Surya Bonai, mendapatkan Nobel Price 1st Step pada bidang Kimia, bangga karena ada seperti itu. Alangkah bangganya waktu saya berkunjung ke Brunei, saya mendapat penjelasan dari Sultan, Warga Negara Indonesia yang bekerja di sini baik-baik, taat pada ketentuan negara, kesejahteraannya baik dan ketika saya cek benar, seperti itu. Alangkah bangganya saya waktu kemarin ke Timur Tengah melihat saudara-saudara kita di perminyakan punya posisi yang bagus. Alangkah bangganya saya ketika ke Amerika melihat itu, apa namanya, anak-anak muda Indonesia yang bekerja di sebuah perusahaan yang tidak kalah kualitasnya dengan tempat yang lain. Banyak yang perlu, yang harus kita banggakan di negeri ini, apakah olah raga, apakah kesenian.

Saya bangga produk-produk Indonesia. Waktu pameran di Beijing, pameran di Tokyo, di Nagoya juga memiliki nilai yang sangat tinggi dan dikagumi oleh mereka semua. Banyak cara yang bisa kita lakukan membikin bangsa kita bangga, bangsa kita terhormat. Saudaralah kader-kader bangsa, calon-calon pemimpin, Keluarga Besar GMNI untuk memilihnya, untuk terus melakukan peran yang tidak pernah henti ini demi masa depan bangsa kita, demi masa depan saudara-saudara sendiri dan tentunya demi kebanggaan, harapan dari para founding fathers yang telah meletakkan semua landasan bagi kehidupan negara kita ini.

Ini yang perlu kita renungi pada malam yang penting ini, bersatu kita memperkuat NKRI dalam segala dimensinya yang utuh, bukan hanya dimensi keamanan, tapi juga dimensi politik, dimensi ekonomi, dimensi sosial, dimensi hubungan internasional. Saya titip semuanya itu. Dan tadi saya mendengar apa yang disampaikan oleh Saudari Ketua Presidium, bahwa memang kita harus menetapkan arah perjalanan bangsa ini.

Pidato saya 1 Juni kemarin seperti koreksi kerangka bernegara harus kita tegakkan kembali, jangan menyimpang kesana, kemari, tetapi ingat kita di dalam mengambil keputusan besar di negeri ini, mesti melihat konstitusi, melihat sistem yang berlaku, melihat proses demokrasi yang benar. Dengan demikian, keputusan seseorang tidak boleh hanya untuk mencari popularitas, keputusan seseorang hanya untuk memuaskan satu, dua golongan, tapi untuk kepentingan kita semua.

Percayalah akhirnya bangsa ini dengan segala perjuangannya, dengan segala pasang surutnya akan makin dewasa dan kita akan mampu menentukan pilihan-pilihan kita sendiri. Tidak ada bangsa manapun yang sungguh-sungguh ingin memajukan bangsa kita tanpa kepentingan apapun. Kita sendirilah yang memajukan, mulai sekarang. Tidak ringan, tetapi saya yakin saudara-saudara, kader-kader GMNI dimana pun saudara berkarya, dimana pun afilasi politik saudara, saudara adalah kebanggaan kita semua, bagian dari Bangsa Indonesia yang saya selaku Kepala Negara saat ini, saya yakin Kepala Negara manapun nanti tentu mengharapkan kader-kader mudanya tampil menjemput tantangan tugasnya sehingga Indonesia, sehingga NKRI betul-betul makin kuat, makin kokoh dan makin maju.

Demikianlah saudara-saudara, selamat berkongres, laksanakan kongres se-demokratis mungkin, dengan penuh tanggung jawab, menghasilkan keputusan-keputusan yang baik, yang menjangkau, baik untuk rakyat, kita baik untuk bangsa kita dan baik untuk negara kita.

Dengan menyampaikan pesan dan harapan seperti itu, dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, Kongres Persatuan Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia dengan resmi saya nyatakan dibuka.

Sekian.
Wassalamu’alaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh.


*****


Biro Pres dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan