Pidato Presiden

Sambutan Atas Paparan Peserta Kursus Singkat Angkatan XIV Lemhannas

 

SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
ATAS PAPARAN YANG DISAMPAIKAN OLEH
PESERTA KURSUS SINGKAT ANGKATAN XIV
LEMBAGA KETAHANAN NASIONAL TAHUN 2006
ISTANA NEGARA, 6 JULI 2006




Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Selamat pagi,
Salam sejahtera untuk kita semua,

Yang saya hormati, Saudara Menko Perekonomian,
Para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu,
Saudara Gubernur Lemhanas,
Para Pejabat Senior Lemhanas,
Para Peserta Kursus Singkat Lemhanas yang saya cintai,

Marilah sekali lagi pada kesempatan yang baik ini kita memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, atas rahmat dan ridho-Nya, kita semua masih diberi semangat, diberi kekuatan dan kesehatan untuk melanjutkan tugas dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara. Tantangan, permasalahan dan ujian yang dihadapi oleh bangsa kita tidak ringan, tapi yakinlah, dengan ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, kalau kita benar-benar bersatu, melangkah pun bersama dan bekerja sekeras-kerasnya, semua itu akan dapat kita atasi, dan insya Allah negara kita akan tampil menjadi negara yang maju, yang aman, adil dan sejahtera.

Saya berterima kasih kepada Saudara Gubernur Lemhanas yang telah memimpin pendidikan kursus singkat ini yang dalam waktu dekat akan diakhiri, sekaligus ucapan terima kasih saya terhadap apa yang dilakukan oleh Lemhanas untuk melakukan reformasi Lemhanas sebagai lembaga pendidikan dan lembaga kajian, sehingga memiliki kualitas, kinerja dan profesionalitas yang lebih baik. Awal Profesor Doktor Muladi memangku jabatan sebagai Gubernur Lemhanas, saya pesankan kepada beliau, lakukan reformasi kebijakan Lemhanas, sebagaimana bangsa ini juga melakukan reformasi di segala bidang, sebagaimana lembaga-lembaga kenegaraan yang lain juga melakukan reformasi, saya minta Lemhanas pun melakukan hal yang sama.

Sering saya mengunjungi lembaga-lembaga seperti Lemhanas di banyak negara, bahkan saya juga ikut berdiskusi, baik dengan pimpinan, pejabat, maupun peserta dari lembaga-lembaga pendidikan itu, yang menurut saya world class. Mau bicara ekonomi, bicara politik, pertahanan, diplomasi internasional, teknologi dan segala macam, mereka menguasai. Saya ingin di negeri ini lembaga yang kita cintai dan prestigious ini juga terus meningkatkan dirinya, kapasitasnya, agar benar-benar output-nya, sebagaimana yang saya lihat di banyak negara itu adalah mereka-mereka yang siap untuk mengemban tugas yang lebih berat untuk bangsa dan negaranya. Apa yang saya pantau dan saya amati reformasi ini berjalan terus, tuntaskan. Mudah-mudahan 2007 akhir itu sudah ada set up baru. Dengan demikian, apa yang kita cita-citakan bersama dapat terwujud.

Kemudian tadi saya mendengar presentasi dari dua orang peserta tentang pokok-pokok hasil seminar yang menurut saya pilihan topiknya baik, Saudara berbicara tentang kemajemukan, berbicara tentang harmoni, dalam kerangka pembangunan nasional yang dilakukan melalui jalur pembangunan sosial budaya. Saya kira masalah itu relevan dengan tantangan dan permasalahan yang kita hadapi dewasa ini.

Saudara-saudara,
Saya sangat berharap banyak kepada Saudara para peserta, karena setelah Saudara menyelesaikan pendidikan di Lemhanas ini, Saudara terus bisa memerankan diri sebagai senior level leaders dan senior level managers. Management dan leadership saya harapkan dapat dimantapkan dalam mengikuti pendidikan di Lemhanas ini. Saya juga ingin segera masuk ke inner circle dalam policy making di negeri ini, yang insya Allah saya mendoakan kepada Saudara tumbuh nanti menjadi policy makers pada tingkat nasional. Kalau saya bicara tingkat nasional itu, Saudara memiliki wawasan dan pengetahuan lokal, provinsi, nasional dan bahkan global. Berpikir strategis, mesti berpikir kontekstual. Kalau kita berbicara konteks dalam dunia kontemporer sekarang ini, pertautan antara lokal, nasional, global ini menjadi sangat dekat.

Saudara sebagian adalah politician, saya berharap tumbuhlah menjadi politisi yang mulai memiliki karakter negarawan. Diantara Saudara, saya tidak tahu ada atau tidak di sini, lazimnya ada, business leaders, ada nggak dari Kadin sekarang ini? Ya, baik. Saya kenal beliau. Kemudian ada scholars, ada cendekiawan, dari perguruan tinggi, dan saya kira the professionals, kaum profesional.

Ada yang mengatakan Lemhanas itu nggak gunanya. Saya katakan, banyak gunanya. Ah, Lemhanas itu nggak perlu, saya katakan, sangat perlu. Saya tidak Lemhanas, tetapi saya punya pendirian, punya pendapat Lemhanas itu perlu, Lemhanas itu penting. Ada yang mengatakan, Lemhanas nggak ada apa-apanya, sombong, seperti itu. Ada yang mengatakan, ah, nggak Lemhanas pun jadi menteri saya, jadi jenderal saya. Yang bersangkutan kalau ikut Lemhanas lebih bagus lagi jadi jenderalnya, lebih bagus lagi jadi menterinya. Ini sekaligus challenge bagi Saudara Gubernur, karena banyak yang berharap, lembaga pendidikan itu menghasilkan putra-putri terbaik bangsa. Tentunya, mari kita kelola sebaik-baiknya, kita lakukan updating, pemutakhiran, reformasi, terus-menerus.

Saudara mengatakan tadi penggal sejarah sebagai pengantar masa kepemimpinan Presiden pertama, Bung Karno, kepemimpinan Presiden kedua, Pak Harto, yang kira-kira dalam kurun waktu yang sama, kemudian Presiden-presiden, Presiden ketiga, keempat, kelima, keenam, ini pada masa transisi. Jadi kalau Saudara menganalisis masa Presiden Soekarno, Presiden Soeharto dan empat presiden yang memimpin negara dalam masa transisi ini, tolong menggunakan ukuran, menggunakan konteks yang tepat, supaya tidak a-historis. Menyalahkan masa lalu. Wah, salah Orde Lama, salah Orde Baru, harusnya begini sekarang ini. Belum tentu tepat, karena konteksnya berbeda waktu Bung Karno dan Pak Harto memimpin.

Demikian juga, waktu jaman Pak Harto begini, kenapa sekarang nggak berani presidennya? Juga belum tentu tepat. Situasinya berbeda. Tingkat demokrasi pun berbeda, dan lain-lain. Oleh karena itu, ketika Saudara menganalisis, membedah kajian sejarah, jangan keliru meletakkan ukuran, kredit kriteria, parameter dan konteks pada masing-masing periode sejarah. Dengan demikian menjadi tepat.

Saudara-saudara,
Ketika saya berhadapan dengan para peserta ini, dengan harapan yang saya sebutkan tadi, saya tidak pernah melihat Saudara dari sisi identitas yang tujuannya membedakan agama, suku, daerah, etnis, kalau ada yang ikut partai politik, partai politik, apapun, tidak. Melihat yang serba begitu sering tidak sehat. Tidak boleh kita berjarak, ketika kita bersama-sama mengemban tugas untuk rakyat kita, untuk bangsa kita dan negara kita, identitas perbedaan itu letakkan dalam konteks yang positif, dengan tujuan yang baik, tetapi tidak seharusnya, unity kita, kebersamaan kita, harmoni kita retak,karena kita terlalu melihat identitas. Agama saudara apa? Sukunya apa? Daerahnya di mana? Ikut partai politik nggak?


Saudara,
Saya mantan prajurit, kalau kita sedang bertempur di medan pertempuran, merebut suatu bukit, teman kita ada yang gugur. Setelah tiga hari kita rebut, kita naikkan Sang Merah Putih, menangis kita, bersyukur kita. Yang ada adalah seorang putra bangsa Indonesia gugur, seorang putra bangsa Indonesia berhasil. Tidak ada kita melihat agamanya apa, sukunya apa, saudaranya ikut partai politik mana, tidak ada. Kalau Saudara hadir di luar negeri, pemain badminton kita merebut piala emas, medali emas, Indonesia Raya dinyanyikan, sikap sempurna kita, menetes airmata kita, nggak ada kita bertanya, yang menang itu dari suku apa, dari etnis apa, Indonesia, Merah Putih. Itu yang terjadi.

Kita datang ke daerah misalnya, bencana, ke Nias, ke Aceh, ke Yogya, Klaten, Alor, Nabire, Jember, Sulawesi Selatan, menolong orang, nggak ada, ini yang saya tolong agamanya apa ini. Allah tidak memberikan jalan kalau menolong orang lihat-lihat identitasnya. Mari kita belajar, ini akar dari unity, persatuan, ini akar dari harmoni, ini akar dari kerukunan, ini akar dari segalanya. Ini adalah nation building, ini adalah character building, ini adalah value speeding, ini akarnya, hati kita, pikiran kita.

Saudara calon pemimpin, pada tingkat yang lebih tinggi nantinya, sekarang sudah memimpin. Mari, back to basic, kembali kepada hakiki. Kita bicara kemajemukan, program ini nanti dalam satu, dua, tiga, empat, bagus, tapi di atas segalanya mari kita kembali, apa sebenarnya yang ada dalam our heart and our mind, itu sebetulnya. Saya ceritakan nanti, dengan sederhana bagaimana konsep kita agar kita ini mempunyai hati dan pikiran seperti itu.

Saudara-saudara,
Yang saya sampaikan tadi, saya senang, KSA XIV ini memilih topik ”Pembangunan Sosial Budaya dalam Kemajemukan guna Harmonisasi Kehidupan Bangsa dalam rangka Pembangunan Nasional”. Saya ingin langsung saja mendialogkan pikiran-pikiran saya, tanggapan saya dengan tema yang diangkat ini, yang dipaparkan oleh kedua peserta tadi. Bagi saya, topik yang bagus ini. Saudara sudah seminarkan dengan baik, mudah-mudahan makin konklusif dan menjadi satu tema besar untuk kita jalankan bersama ke depan ini.

Saudara-saudara,
Kalau apa yang dinamakan budaya, apa yang dinamakan sosial, apa yang dinamakan kemajemukan atau harmoni, saya kira kita sudah memahami semua. Budaya itu cakupan luas, budaya jangan direduksi menjadi seni saja, tarian, lukisan. Budaya itu awful things sebetulnya, alam pikiran, the loves be, pendidikan, kemudian seni itu sendiri, pandangan sebuah bangsa, believes system segala macam. Itulah budaya. Jadi kalau kita bicara sosial budaya luas sekali, memang betul, akhirnya identik dengan pembangunan itself, dengan develop itself. Saya tidak ingin masuk ke situ. Asumsi saya Saudara pahamlah pengertian dasar, pengertian hakiki dari kemajemukan, dari sosial budaya, dari harmoni.

Saya kebetulan punya catatan-catatan kecil yang saya abadikan. Klop sekali dengan tema ini. Dan ternyata setelah saya review tadi pagi, masih relevan. Pertama pada tahun 2000, saya menulis buku ini pergantian milenium. Jadi saya tulis akhir 1999 menuju 2000, persis pergantian milenium, saya beri judul “Menuju Indonesia Baru” waktu itu. Ada catatan, mengapa harmoni itu penting. Ada sebuah kajian di Eropa, bahwa bangsa yang maju, yang berhasil dalam abad 21 yang kita arungi sekarang ini, adalah bangsa yang memiliki empat kriteria. Ya kita ingin masuk dalam kelompok bangsa yang dianggap berhasil itu.

Kriteria yang pertama yang disebut dengan sustainability, keberlanjutan. Kalau ekonominya tumbuh, kesehatan masyarakatnya baik, environment-nya, lingkungannya bagus, ini terus berlanjut. Kemajua, progres dan pembangunan dari bangsa itu sustainability. Kalau fundamentalnya kropos, tidak akan sustainable, akan runtuh, akan krisis. Yang kedua adalah yang disebut dengan keadilan dan kebebasan individu, fairness and individual freedom, ya mereka punya pekerjaan, yang miskin tidak boleh miskin terus, kemudian harapan hidupnya oke dan lain-lain. Dengan demikian di sini ada fairness, ada justice. Yang ketiga harmoni, nah ini penting sekali. Dan yang keempat readiness for the future. Pengusasaan teknologi, penguasaan knowledge, segala macam, sehingga bangsa ini maju terus, sesuai dengan karakter dunia yang ditandai dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Khusus harmoni, saya akan bacakan satu alinea yang saya tulis waktu itu. Harmoni masyarakat perlu dinilai karena menjadi masyarakat yang tentram, rukun dan tertib adalah menjadi dambaan setiap umat manusia. Saya mengevaluasi, menilai bagaimana sosok manusia Indonesia, masyarakat kita tahun ini, 1999, kalau Saudara masih ingat itu puncak krisis. Masyarakat seperti ini memiliki kemampuan untuk mengatasi pertentangan atau contency solution secara baik yang harmonis. Masyarakat demikian juga jauh dari kerusuhan, kejahatan dan apalagi tindakan yang anarkis. Bayangkan kalau kita punya masyarakat seperti itu.

Menyadari kondisi masyarakat Indonesia yang amat majemuk dan sekaligus sarat dengan sumber konflik, serta melihat pengalaman kita selama ini, terlebih dua tahun terakhir ini, berarti 1998, 1999, pengelolaan konflik ini harus berhasil kita lembagakan di masa depan. Bukan dengan menggunakan model dan pendekatan yang represif dan bersifat top down, tetapi sebuah mekanisme yang melembaga, institusinya, dimana masyarakat sendiri memiliki kesadaran dan pranata untuk mengatasi permasalahan kemasyarakatannya. Tentu upaya besar ini disertai dan bersama dengan makin membuinya budaya dan penegakkan hukum. Penegakkan hukum yang adil, konsisten dan sungguh-sungguh akan dapat mencegah terjadinya ketidaktertiban masyarakat yang kronis, yang saya sebut dengan social disorder.

Saya menyoroti harmoni dalam konteks yang luas. Saya kira, sekarang pun bayang-bayang itu, sisa-sisa keadaan itu masih kita rasakan. Di bagian lain, saya mengatakan di sini bahwa tantangan ini tadi diangkat oleh Saudara juga, bangsa kita belum dapat dikatakan telah amat bersatu, mengambil tanggung jawab dan melangkah bersama. Sekarang pun, justru disana-sini muncul gejala disintegrasi dan ketidakkompakkan, ini kondisi waktu itu, sekarang, alhamdulillah sudah makin baik, tetapi belum sepenuhnya aman. Padahal persatuan dan integrasi nasional amat kita perlukan pada saat ini, agar apapun persoalan dan tantangan yang kita hadapi dapat kita pecahkan bersama, bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh, incrusial thing unity. Jadi kalau keadaan genting bukan malah berpisah, bermusuhan, berhadapan, justru lebih bersatu. Negara-negara lain itu negaranya krisis, bersatu, bukan salah-menyalahkan, bukan jegal-menjegal, dan seterusnya.

Para pemimpin diharapkan dapat menunjukkan arah, sama dengan kesimpulan anda tadi, mempersatukan rakyat serta memotivasi dan menyemangati masyarakatnya untuk bersama-sama mengemban tugas memajukan bangsa secara keseluruhan. Leaders at all levels, mulai dari saya, menteri, gubernur, bupati-walikota, para pimpinan militer, pimpinan kepolisian, pimpinan bisnis, semua, saya kira hakekat kepemimpinan sama.

Jika dalam kurun waktu lima tahun ke depan ini tugas nasional dapat dirumuskan menjadi, jika kita rumuskan, satu, melanjutkan upaya-upaya mengatasi krisis; dua, menyelamatkan dan melaksanakan reformasi; tiga, mempertahankan integrasi nasional; dan empat, melanjutkan kembali pembangunan nasional, national development itu never ending goals. Harmoni pun sebetulnya never ending goals, unfinished agenda, mesti terus kita jalankan. Ndak ada sekali jadi, taken for granted, tidak, mesti kita usahakan. Maka sekali lagi, para pemimpin dan elit, harus dapat mengkomunikasikan misi ini kepada masyarakat luas, agar semua dapat menjadi bagian dari embanan tugas ini. Sangat penting peran kepemimpinan.

Penutup dari buku saya yang saya tulis tahun 2000 itu saya katakan, akhirnya membangun dan menuju Indonesia baru abad ke-21 yang kita cita-citakan bersama, kita perlu terus melakukan langkah-langkah berkesinambungan dalam state building, nations building, character building, system building dan institution building. Semua itu belum nampak di negeri ini. Amerika, Eropa, Jepang, mapan, karena sudah merdeka ratusan tahun. Kita, belum 100 tahun. Jadi masih in the making. Apalagi baru saja kita reformasi, kita reform, dengan demikian ini pekerjaan-pekerjaan yang harus kita lakukan, oleh siapapun.

Saudara-saudara,
Pada tahun 2004 di Lemhanas juga, saya memberikan ceramah waktu itu, yang berjudul “Menuju Negara Kebangsaan Modern: Wawasan Kebangsaan dan Indonesia masa Depan”. Saya menyampaikan ceramah dalam kapasitas saya sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, dulu, saya kira masih ada bukunya di Lemhanas. Tetapi dalam penutup saya, saya katakan waktu itu, mari kita suburkan Indonesia sebagai ladang pertemuan dari banyak perbedaan. Dalam kehidupan yang besar, yang penuh harmoni dan keseimbangan.

Saudara-saudara,
Negara kita ini memang benar-benar majemuk. Orang tidak bisa membayangkan, pulaunya begini banyak, sukunya begini banyak, bahasa termasuk bahasa lokal, dialek, apalagi? Dari kemajemukan bawaan juga banyak. Belum kemajemukan karena benturan, the clash of mind, the clash of ideology, the clash of civilization, banyak sekali. Kemajemukan bawaan ada, kemajemukan yang muncul ketika kita hidup bernegara, berbangsa juga ada. Ada the have and the have not, yang berhasil, yang belum berhasil, ada clash ada jarak.

Diversity, kemajemukan seperti ini, disamping rahmat, disamping kebesaran, disamping kebanggaan, we are big nations, kita kaya, beragam, majemuk, tapi harus jujur kita akui tersimpan akar-akar konflik, yang setiap saat bisa berbenturan satu sama lain. Oleh karena itu, memimpin bangsa yang heterogen jauh lebih sulit sebetulnya dibandingkan memimpin bangsa yang homogen karena keberbedaan tadi itu. Oleh karena itu, kita harus kembali sedini mungkin pada lingkaran paling dalam untuk sejak awal kita menyadari kita ini hidup berbeda dalam perbedaan, tapi mesti biasa berkompromi, biasa membangun konsensus, biasa hidup dalam perbedaan tanpa ada satu elemen yang memaksakan kehendaknya kepada elemen yang lain.

Ini adalah roh sebetulnya dari kehidupan bangsa kita, roh dari Bhinneka Tunggal Ika, roh dari harmoni dalam kemajemukan. Jadi tidak perlu kita menutup-nutupi, ah, tidak ada apa-apa kok, biasa-biasa, oh tidak. Justru bukan taken for granted, kita harus melakukan semua upaya, mulai konstitusi, Undang-Undang, sistem, manajemen, kepemimpinan, semua harus berangkat we are the diverse nations, kita bangsa yang majemuk. Oleh karena itu perlu kita kelola kemajemukkan itu untuk hidup dalam harmoni, hidup dalam kerukunan, hidup dalam kebersatuan dan kebersamaan.

Saudara-saudara,
Satu Juni yang lalu, saya kira, Saudara Gubernur dan para peserta juga mengetahui saya menyampaikan pidato politik, bertepatan dengan lahirnya Pancasila, saya mengingatkan kembali kerangka kehidupan bernegara yang benar harus kita jalankan di negeri ini. Indonesia itu bukan rimba raya, bukan pasar tanpa aturan, tapi sebuah negara yang memiliki konstitusi, sebuah negara yang memiliki nilai, jati diri dan konsensus-konsensus dasar yang diletakkan oleh para pendiri republik. Indonesia yang maju perlu kita, di tengah-tengah tantangan global, di tengah-tengah perubahan dalam negeri sendiri, dan lain-lain.

Saya ingatkan kembali bahwa yang namanya Pancasila, NKRI, Undang-Undang Dasar 1945 yang ruhnya itu ada dalam pembukaannya, dan Bhinneka Tunggal Ika, itu sesuatu yang menyertai Negara Republik Indonesia yang kita cintai bersama ini. Kita harus selalu mengaktualisasikan prinsip-prinsip, nilai-nilai dan semangat dari konsensus-konsensus dasar itu.

Dalam pidato 1 Juni Saudara-saudara, saya juga mengingatkan kembali pentingnya mempertahankan rasa semangat dan wawasaan kebangsaan, mempertahankan kemajemukan, mempertahankan harmoni, dan lain-lain. Saya katakan dalam sebuah alinea, meskipun saya sampaikan lisan kemarin, baru ditranskripkan setelah saya selesai bicara, Pancasila, kaitannya dengan yang dinamakan sub-nasionalisme, etno ideology, kedaerahan, kesukuan dan lain-lain, tepat tayangan gambar tadi, karena ditayangkan gambar Garuda Pancasila waktu itu, Bhinneka Tunggal Ika, kemajemukan, marilah Indonesia kita jadikan ladang yang teduh bagi bertemunya anak bangsa yang penuh dengan perbedaan, untuk kita bangun konsensus melangkah bersama dalam kehidupan yang harmonis dan penuh toleransi, itulah yang harus kita lakukan ke depan ini.

Dan dalam transisi ini, kita merasakan ada yang disebut gaya sentrifugal. Sentrifugal, dari pusat memencar keluar. Ingat, 1998, 1999, 2000, itu terjadi gaya sentrifugal. Yang tadinya konsentrik menjadi dekonsentrik. Yang tadinya sentralistik menjadi desentralistik. Kekuatan pusat tadinya kuat, kekuatan pusat melemah, dan seterusnya. Ini proses yang berjalan, sejak awal reformasi. Hiruk-pikuk, hingar-bingar reformasi 1998, 1999 dan 2000 itu seperti itu. Barangkali tidak sadar gerakan sentrifugal itu begitu kencang. Mungkin ada yang berlebihan dan eksesif, Saudara bisa merasakan toh? Ada yang berlebihan dan eksesif. Meskipun ada yang pas dan kita perlukan. Tidak bisa Indonesia yang begini luas, yang mejemuk, semuanya sangat sentralistik. Mari kita kelola dengan baik, dengan jernih, dengan terbuka dan dengan obyektif.

Sekali lagi, desentralisasi dan otonomi daerah sangat-sangat penting, tapi jangan mengancam NKRI. Nasionalisme dan ekuilibrium dalam kehidupan kita. Jadi desentralisasi, otonomi daerah tidak boleh mengancam NKRI, nasionalisme dan ekuilibrium dalam kehidupan rakyat kita, harmoni di antara kita semua.

Saya tutup waktu itu bahwa proses besar reformasi, demokratisasi dan rekonstruksi ekonomi tetap harus berjalan secara damai, tanpa kekerasan, secara tertib dan stabil. Sekali kita masuk dalam alam demokrasi, marilah semua yang di negeri ini berpikir demokratis. Sekali kita tuju bahwa negara ini kita kelola dengan sistem, dengan konstitusi dan undang-undang yang berlaku. Marilah semua yang dilakoni oleh pemimpin di negeri ini tetaplah berada pada konstitusi, pada undang-undang, tatanan yang berlaku, menjadi tentram. Tidak boleh mengelola negara tanpa itu semua. Karena ini negara, salah arah, salah kerangkanya, akan berbahaya.

Hanya dengan demikianlah kita akan mampu menata kembali kerangka kehidupan bernegara kita yang kita cita-citakan bersama. Sebagai contoh di masyarakat luas, di kalangan-kalangan tertentu, ada yang mengatakan, kita sebaiknya kembali ke Undang-Undang Dasar 1945. Ada yang mengatakan Presiden harus berani mengeluarkan dekrit untuk kembali ke Undang-Undang Dasar 1945.

Saudara-saudara,
Ini bukan persoalan berani atau tidak berani. Mari kita berpikir konstitusional, mari kita berpikir sistemik, mari kita berpikir secara logis. Undang-Undang Dasar yang berlaku saat ini sangat gamblang, bahwa Pasal 3 mengatakan “Majelis Permusyawaratan Rakyat yang berwenang menetapkan dan mengubah Undang-Undang Dasar”, bukan Presiden. Itu konstitusi mengatakan seperti itu.

Kemudian, Presiden ada 13 pasal, kekuasaan pengelolaan negara, karena saya ini suka lupa, saya bawa buku saku. Jaman kita masih Letnan, Kapten, buku sakunya taktik kompi berlatih, melatih, segala macam, penting supaya kita tidak keliru. Sebagai Presiden, para menteri juga mesti pegang, saya bawa buku saku, Undang-Undang Dasar 1945. Ketika harus mengambil keputusan dengan cepat, ketika harus merespon perkembangan global, perkembangan nasional, kita harus tahu Undang-Undang Dasar kita, mana yang boleh, mana yang tidak boleh. Mana yang merupakan wewenang Presiden, mana yang bukan. Mengerahkan kekuatan militer ada aturannya, memberikan grasi ada aturannya, menyatakan perang ada aturannya, dan lain-lain. Saya ingin menjadi seorang konstitusionalis yang mengerti betul ketentuan undang-undang.

Ada 13 pasal yang mengait kepada Presiden, kekuasaan pemerintahan negara. Tidak ada satu pasalpun yang mengatur atau mengatakan Presiden bisa atau Presiden mengeluarkan dekrit untuk perubahan sebuah Undang-Undang Dasar. Ini fundamental. Tapi kita mendengar, ada apa dengan Undang-Undang Dasar 1945? Dua tahun yang lalu, tahun 2004 saya ditanya, apa yang Saudara pikirkan tentang Undang-Undang Dasar 1945? Maksudnya apa? Apakah begini ini, ada amandemen-amandemen? Berubah sana, berubah sini?

Pendapat saya waktu itu, sebaiknya memang kita melakukan moratorium, jangan dulu sering melakukan perubahan-perubahan Undang-Undang Dasar. Bayangkan kalau Undang-Undang Dasar ini tiap tahun kita ubah, tiap tahun amandemen, belum tentu bangunan kita, rumah kita ini tetap sebagaimana yang kita cita-citakan bersama ketika negara ini berdiri.

Benar bahwa Undang-Undang Dasar itu bukan kitab suci agama, bisa berubah sesuai dengan perkembangan jaman, benar. Tetapi perkembangan itu, perubahan itu harus menjadi kehendak kita semua, rakyat yang bersangkutan, bangsa yang bersangkutan. Dengan demikian, kalau ada amandemen, pas, karena merespon tantangan jaman waktu itu, dengan mekanisme yang benar.

Pendapat saya, lebih bagus kita lakukan moratorium. Dengan jernih kita bisa melihat kembali Undang-Undang Dasar kita seperti apa. Di suatu saat, kalau misalkan ada yang perlu dilihat kembali, bisa dilaksanakan tetapi melalui proses yang benar-benar tepat, benar dan mendengar suara rakyat Indonesia. Tidak harus setiap tahun amandemen-amandemen. Undang-Undang Dasar kita sudah diamandemen empat kali. Pertama, Oktober 1999. Kedua, tahun 2000. Ketiga, tahun 2001, Keempat tahun 2002.

Saya masih ingat, saya kira itu masa kepemimpinan Presiden Habibie, Presiden Gus Dur dan Presiden Megawati. Ketua MPR-nya Pak Amien Rais. Tapi kalau kita bertanya pada sejarah, mesti ada alasan mengapa dilaksanakan amandemen waktu itu, masa-masa itu, mesti ada alasannya. Nah, kalau sekarang muncul pikiran baru, harus kembali ke Undang-Undang Dasar 1945, solusinya bukan dengan Dekrit Presiden. Bertanyalah kepada seluruh rakyat Indonesia, bagaimana MPR. Begitu cara bernegara yang benar, begitu kita memahami konstitusi kita. Pikiran-pikiran itu tidak boleh tidak kita hormati, wong pikiran kok. Saya pengin kembali ke Undang-Undang Dasar 1945, sama dengan yang punya pikiran, oh, tidak, apa artinya reformasi, wong kita mengoreksi masa lalu, terus kita perbaiki dengan amandemen itu, kita hormati juga. Jangan dimatikan pikiran-pikiran itu. Itulah ladang Indonesia, penuh dengan perbedaan, penuh dengan kemajemukan, tapi akhirnya kita bisa membangun konsensus, kita bisa bersatu, mana yang menjadi pilihan kita, pilihan yang baik bagi rakyat, bagi bangsa dan negara, pilihan untuk masa kini dan baik untuk masa depan. Itu sebetulnya.

Jadi, saya mengajak seluruh rakyat Indonesia, terhadap isu ini, marilah kita pikir secara jernih, melihat Undang-Undang Dasar kita, melihat atau pahami sistem yang berlaku dan bagaimana kita merespon seperti itu. Dengan demikian, dialog ini sehat dan tidak perlu harus ada paksaan-paksaan agar seseorang harus mengambil langkah seperti ini. Ini saya kaitkan sekaligus Saudara-saudara, karena saya bicara tadi bagaimana kita melaksanakan kehidupan di negeri ini, kehidupan bernegara dengan kerangka bernegara yang benar.

Ada rangkuman eksekutif yang tadi disampaikan. Ada saya catat beberapa hal di sini. Pembangunan sosial budaya memerlukan kepemimpinan di berbagai tataran, termasuk Saudara. Jadi ini represent to sender, kembali ke Saudara. Jadi kalau pembangunan sosial budaya memerlukan kepemimpinan, 61 peserta termasuk, mereka, saya juga masuk, beliau masuk, Pak Muladi masuk, di berbagai tataran yang memiliki kapasitas sebagai pemersatu. Jangan bahagia kalau bisa memecah belah. Ayo, jadi pemersatu.

Memberikan keteladanan. Teladan sangat penting teladan. Say what you do, do what you say, penting. Sejarah itu mencatat pernyataan kita dari tahun ke tahun, yang dilakukan kita dari tahun ke tahun. Ayo kita belajar untuk say what you do, do what you say. Mampu mengkalkulasi sasaran dan berbagai kemungkinan yang timbul atas kepemimpinannya serta memiliki pandangan atas negara sebagai suatu sistem.

Oleh karena itu saya senang Lemhanas, karena diajarkan sistem. Bayangkan seorang pengambil keputusan, seorang pemimpin, seorang manajer, tidak mengerti sistem, kayak apa amburadulnya nanti? Sebuah tentara nggak ada sistemnya, atau acak-acakan, ya amburadul. Demikian juga organisasi yang lain. Organisasi bisnis, organisasi swasta, kalau nggak ada sistem, nggak ada aturan main, rule of the game, kayak apa? Kalau hanya maunya menyandang pemimpin, maunya menyandang komandan, kan kacau nanti. Ayo kita kembali kepada kita punya sistem, punya aturan main, punya etika, mari kita jalankan semua.

Saudara juga mengatakan, langkah-langkah itu, tadi, restorasi ini, itu, melalui penguatan pemimpin visioner, kenegarawan di setiap strata, mari kita jalankan. Yang memiliki jati diri, identity, kita orang Indonesia, kita bangsa Indonesia, bukan bangsa kawasan-kawasan yang lain, berpikir dengan menggunakan paradigma nasional, jangan sempit, jangan primordial, jangan kesukuan, jangan keagamaan, jangan begini, begitu. Meskipun ikatan yang baik itu juga melekat pada kita. Jadi betul-betul menggunakan paradigma nasional. Bersikap inward and outward looking.

Ini maknanya saya pikir, ini kan maksudnya mawas ke dalam, mawas ke luar ya, kita hidup dalam perkampungan global, jadi yang saya sebut berpikir kontekstual itu, otomatis inward looking, outward looking dan tidak bisa dipisahkan. Ah ini golongan inward looking, golongan outward looking. Tidak mungkin. Jadi satu kesatuan konteks, kait-mengait satu sama lain.

Yang Saudara rumuskan nilainya 100. Tinggal bagaimana kita mewujudkan semuanya itu di negeri tercinta ini. Saudara akan kembali nanti ke profesi masing-masing, sebar luaskan dengan contoh, dengan komitmen, dengan kerja keras. Ndak pa-pa negara masih membangun, masih reformasi, kita kurang tidur, hari-hari libur kita, kita gunakan untuk bekerja, ndak apa-apa, itu pahalanya tinggi itu. Karena semua itu mesti untuk kepentingan yang benar, rakyat kita, negara kita, bangsa kita.

Saudara-saudara,
Yang terakhir, kadang-kadang kita berpikir terlalu ilmiah, too scientific. Dengan kalimat-kalimat yang, seperti bahasa GBHN jaman dulu itu. Kadang-kadang kita harus kembali ke yang sederhana, yang basic. Pak Muladi mesti setuju dengan saya. Sebetulnya kalau kita bicara harmoni, bicara kemajemukan, mengapa tidak bicara kita hubungan suami-istri, hubungan orangtua sama anak. Saya punya istri satu, punya anak dua, empat. Ini adalah laboratorium sebetulnya. Ini adalah lembaga terkecil, kalau kita bicara community, yang boleh jadi mimpi besar kita untuk membangun kemajemukan, harmoni di negeri ini tercapai, kuncinya ada tiga, menurut saya.

Satu, love, kasih sayang. Yang kedua, caring, saling peduli, memperhatikan care-lah. Sharing, kita berbagi rasa. Dia sedang sedih, kita tertawa di sini keras-keras begitu. Coba kalau love, caring and sharing dimulai dari keluarga kita, menuju ke lingkungan yang lebih luas, bangsa dan negara, alangkah indahnya. Ada seorang penulis dari Turki, namanya Harun Yahya, beliau mengatakan, only love can defeat terrorism.

Terorisme pun bisa dikalahkan dengan kasih sayang, dalam arti yang luas. Tidak ada yang bisa ditaklukan oleh kasih sayang, tidak ada yang tidak, menurut mereka yang meyakini. Saya juga meyakini. Negeri ini haus kasih sayang di antara kita. Negeri ini haus caring, sharing diantara kita. Mulailah dari rumah tangga. Mulailah dengan komunitas terkecil Saudara. Profesi di mana lingkungannya. Mari kita perluas, perlebar, menjadi berlaku di negeri kita, kasih sayang, love, caring and sharing.

Dan yang kedua, terakhir adalah, harmoni, toleransi, hidup dalam kemajemukan, rasa persaudaraan, itu kan akhirnya state of mind, alam pikiran, yang itu mengalir dari hati nurani kita, heart, mulai ada heart and mind. Bagaimana kita membikin seseorang memiliki heart and mind, memiliki state of mind yang cinta pada kasih sayang, kerukunan, toleransi, kemajemukkan dan lain-lain. Ada yang bisa digunakan dengan baik, yaitu melalui jalur pendidikan, jalur kehidupan rumah tangga, jalur pendidikan dan bimbingan keagamaan dan spriritual.

Oleh karena itu, pendidikan dalam arti luas yang saya maksudkan ini, membangun nilai seseorang, membangun perilaku seseorang, nilai dan perilaku, values and behavior, yang senang dengan kasih sayang tadi, yang caring, yang sharing, yang tolerance, yang segala macam itu, harus dimulai sedini mungkin, kalau perlu dalam kandungan. Mungkin anak-anak setahun, dua tahun, tiga tahun, TK, SD, SMP, jadi border opportunities for this motive itu 10 sampai 15 tahun. Sepuluh sampai 15 tahun, benar kita membangun nilai anak itu, orang-seorang itu. Nilainya, sikapnya, perilakunya, ke depan akan lebih kokoh. Ini sering saya katakan di banyak tempat, ketika berkunjung ke sekolah-sekolah. Educator, guru, pendidik, itu bukan hanya memindahkan pengetahuan. Guru sejati, the true educators itu membangun nilai, membangun watak, membangun perilaku.

Ini saya ulangi untuk sekian kalinya. Bagaimana mendidik budaya bersih seseorang, kalau TK, SD, SMP, sekolahnya itu ada tong sampah, tidak pernah ada kertas, entah apapun yang dibuang di arena sekolah, tetapi di tong sampah. Kalau dia ke kamar kecil, buang air kecil airnya mengalir, bersih, tidak bau WC-nya, TK, SD, SMP, 10 tahun dia akan ada budaya bersih tidak mungkin nanti kalau makin dewasa buang sampah sembarangan, kencing sembarangan. Punya kamar mandi, tempat buang air kecil juga bau, jorok dan sebagainya, itu hanya budaya bersih.

Budaya antri, disiplin waktu, itu bisa dibangun ketika sekolah seperti itu, keluarga juga seperti itu. Ditambah lagi menghadapi kenakalan anak, narkotika, segala macam, pergaulan bebas, itu berguna. Ditambahlah dengan jalur spiritual, jalur keagamaan.

Akhirnya, kesimpulan, agar negeri kita ke depan menjadi negeri yang penuh dengan harmoni, ketentraman, kedamaian, persatuan, maka marilah kita giatkan pendidikan secara menyeluruh, memberikan peran yang lebih kepada para pendidik, para ulama, pemimpin agama, pemimpin spiritual dan juga para orangtua yang tidak boleh lepas dari tanggung jawab yang mulia ini. Saya akhiri dengan back to basic seperti itu, karena berangkat dari situ akan dapat kita lakukan bagaimana program-program nyata, kebijakan yang betul, strategi yang betul, action plan yang betul, pengawasan yang betul, kepemimpinan yang betul, dan lain-lain.

Saudara-saudara sekalian,
Itulah yang dapat saya respon dari tema besar ”Pembangunan Sosial Budaya dalam Kemajemukkan guna Harmonisasi Kehidupan Bangsa dalam rangka Pembangunan Nasional”. Saya berharap, semuanya lulus dengan baik, kapan penutupnya Bapak? Tanggal 13 Juli. Yang lebih penting saya tunggu Saudara-saudara di medan penugasan, jalan kita harus kencang, tidak boleh berlambat-lambat. Masalah kita besar, mengurangi pengangguran, mengurangi kemiskinan, bangun ekonomi, meningkatkan pendapatan rakyat seluruh Indonesia, bikin damai, bikin aman, Aceh selesai, Papua selesai, semua selesai, ekonomi tumbuh kembali, korupsi kita berantas, good governance kita bangun, banyak saya memerlukan putra-putri terbaik bangsa yang siap bekerja siang dan malam untuk melaksanakan itu. Yang di luar pemerintah, swasta, sama-sama kita bangun kembali negara kita.

Selamat melanjutkan tugas. Hasil saya tunggu di medan penugasan.

Sekian,
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

* * * * *



Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan