Pidato Presiden
Sambutan Pembekalan Wawasan Kebangsaan Kepada Peserta Pelayaran VI/2006
SAMBUTAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
PADA ACARA
PEMBEKALAN WAWASAN KEBANGSAAN KEPADA PARA PESERTA PELAYARAN VI / 2006
ISTANA NEGARA, 11 JULI 2006
Bismillahirrahmanirrahim,
Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh,
Selamat sore,
Salam sejahtera untuk kita semua,
Yang saya hormati Saudara Menteri Pendidikan Nasional, Saudara Sekretaris Kabinet, para Pimpinan Perguruan Tinggi dan pejabat senior, Para Pimpinan TNI Polri, para mahasiswa, para Taruna,
Peserta Pelayaran Kebangsaan Ke-6 Tahun 2006 yang saya cintai dan saya banggakan,
Marilah, pada kesempatan yang baik dan semoga senantiasa penuh berkah ini, bersama-sama kita panjatkan kembali puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa, Allah SWT atas perkenan rahmat dan ridho-Nya kita dapat bertemu di Istana Negara ini untuk melanjutkan tugas dan pengabdian kita kepada bangsa dan negara tercinta.
Bagi yang pertama kali masuk ke lingkungan Istana Negara, untuk diketahui ini adalah Istana Negara. Di sebelah depan, depan saudara adalah Istana Merdeka. Dan kemudian diantara kedua Istana ada kantor, sebelah kiri saudara adalah Kantor Presiden dimana saya bekerja. Tempat ini bersejarah, disini dilantik para Duta Besar, dilantik para Menteri, dilantik para pejabat negara oleh saya sebagai Kepala Negara dan kadang-kadang Kepala Pemerintahan yang mengambil sumpahnya untuk mereka bisa melaksanakan tugas dan kewajibannya dengan baik.
Saya berharap sebanyak-banyaknya diantara para mahasiswa dan taruna kelak bisa dilantik di tempat ini. Kalau saudara, ini tidak ada hanya para mahasiswa dan taruna juga para senior disini, melihat ada 6 lukisan, lihat sebelah kanan, mulai dari Presiden Sukarno, Presiden Suharto, Presiden Habibie, Presiden Abdulrahman Wahid, Presiden Megawati dan saya, masih banyak tempat-tempat yang kosong. Kalau foto saudara, lukisan saudara dipasang disini, Alhamdulillah karena makin lengkap Istana Negara yang sama-sama kita cintai. Ada yang berdoa kepada Allah untuk lukisannya dipasang disini? Ada, amin semoga Allah mendengar niat dan cita-cita yang baik dari kita semua.
Pelayaran Kebangsaan yang akan para mahasiswa dan taruna ikuti adalah Pelayaran Kebangsaan ke-6. Tadi dilaporkan oleh Saudara Mendiknas, rutenya cukup menarik dari Jakarta ke Pangkal Pinang, ke Batam kurang lebih 8 hari. Sesungguhnya saya ingin ikut berlayar bersama para mahasiswa dan taruna, tetapi kegiatan saya selaku Presiden seperti ini, pagi, siang, sore, malam, pagi lagi. PR-nya banyak sekali, persoalan datang dan pergi yang harus kita kelola segala macam permasalahan dari hulu sampai hilir politik, ekonomi, sosial budaya, keamanan dan lain-lain. Semua ingin cepat, kadang-kadang sebagian saudara kita kurang sabar, tapi itulah tugas saya, kewajiban saya yang sedang saya emban dengan sebaik-baiknya seraya memohon ridho Tuhan Yang Maha Kuasa, agar semua itu dapat dilaksanakan dengan baik. Karena saya tidak bisa menyertai pelayaran saudara selama 8 hari, sekarang ini saya ingin menyampaikan pesan dan harapan, tentunya untuk keberhasilan pelayaran itu dan yang lebih penting lagi untuk perjalanan kehidupan para mahasiswa dan taruna ke depan dalam segala profesi yang tentunya adalah sama, adalah demi kemajuan rakyat, bangsa dan negara yang sama-sama kita cintai.
Para peserta Pelayaran Kebangsaan ke-6 yang saya cintai,
Sering ada pertanyaan sekarang ini muncul, dapat Indonesia menjadi negara yang maju? Can Indonesia be developed country? Dalam kancah internasional kalau kita rajin mengikuti perkembangan berita di tingkat global, China, India, bahkan sekarang Rusia telah disebut-sebut sebagai negara yang tengah tumbuh dan akan menjadi negara besar di dunia ini. Tentu Amerika Serikat dan Jepang sudah dinilai sebagai negara besar pada hubungan internasional yang sama-sama kita berada di dalamnya. Jawaban ini, sesungguhnya adalah tantangan, challenge apakah Indonesia yang kita cintai ini dapat maju seperti mereka, dapat berkompetisi dengan mereka dan menang serta berhasil dalam era globalisasi yang juga penuh tantangan yang tidak ringan ini.
Sebagai putra bangsa yang memiliki semangat tinggi, yang cinta kepada tanah airnya, yang cinta kepada bangsanya, yang cinta kepada negaranya, jawabannya haruslah bisa, Insya Allah bisa kita menjadi negara maju kalau kita betul-betul bersatu, melangkah bersama bekerja keras, mengembangkan, mendayagunakan semua potensi yang kita miliki dengan benar. Kalau saya ditanya, jawaban saya bisa. Tentu dengan sejumlah hal yang mesti kita pikirkan dan kita lakukan secara bersama untuk menjadi negara yang maju itu. Indonesia harus terus-menerus tumbuh menjadi negara yang kuat, negara yang maju dan negara yang sejahtera. Kuat secara politik, kuat secara ekonomi dan kuat secara militer atau saya luaskan dalam lingkup pertahanan dan keamanan. Kalau kita kuat secara politik, ekonomi dan militer, bangsa kita akan bisa mengarungi masa depannya, menghadapi berbagai tantangan sampai pada tingkat ancaman terhadap pertahanan dan keamanan negara.
Kita membangun sekarang ini, terus-menerus untuk menuju ke negara yang kuat, maju dan sejahtera. Maju tentunya ilmu pengetahuan dan teknologi kita kuasai. Dengan demikian, potensi yang kita miliki, modal yang kita miliki, capital yang kita miliki dapat dikembangkan, dapat dikelola dan dapat didayagunakan secara benar sehingga kita menjadi negara maju tadi, developed country. Sejahtera artinya rakyat kita dari Sabang sampai Merauke sejahtera hidupnya lahir dan batin. Kita ingat yang namanya sejahtera itu adalah mereka, semua secara adil dan merata, memiliki kecukupan dalam kehidupan sehari-harinya, pada tingkat kehidupan yang layak. Hak dasar mereka, seperti pangan, sandang, papan, kesehatan, pendidikan dan rasa aman dan lain-lainnya. Kalau kita ingin menuju Indonesia yang kuat, maju dan sejahtera maka itulah semua postur, semua kondisi, semua tingkat keadaan yang hendak kita bangun dan capai secara bersama.
Saya mengatakan tadi, kalau modal, potensi capital yang kita miliki didayagunakan dengan benar, dengan arah yang jelas, dengan strategi dan kebijakan yang tepat, dengan pengelolaan yang benar maka akan menjadi suatu kekuatan yang benar. Apa modal kita, apa potensi kita? Pertama adalah yang disebut dengan natural capital, sumber daya alam yang kita miliki, tidak perlu saya uraikan karena para mahasiswa dan taruna sudah tahu. Jangan di sia-siakan, mari kita gunakan dengan cerdas, tetapi tetap memberikan arah kesinambungan bagi generasi yang akan datang, sustainability harus kita pikirkan.
Yang kedua adalah physical capital. Hasil-hasil pembangunan yang telah kita raih hingga saat ini, infrastruktur di seluruh Indonesia. Jembatan, jalan raya, pelabuhan dan segala macam listrik, itu adalah physical capital yang sudah kita miliki. Kalau dianggap belum cukup, memang belum, tetapi yang ada jangan kita sia-siakan. Yang ketiga adalah technology atau technology capital. Kita sudah punya, tapi kita ingin terus mengembangkan sampai betul-betul kita menjadi knowledge based society, yang mengusai ilmu pengetahuan dan teknologi. Modal yang keempat adalah human capital. Para mahasiswa, para taruna, kita, human capital, manusianya. Kemudian yang kelima adalah ketika kita hidup dalam masyarakat, maka ada yang disebut dengan social capital. Tadi disebutkan oleh Mendiknas modal sosial. Jangan diabaikan, itu sangat penting kohesi sosial, kebersamaan sosial, kerukunan sosial, inovasi masyarakat itu, tekad masyarakat itu untuk bangkit dan maju. Itulah social capital. Kalau modal itu tadi kita kembangkan dengan baik dan kita daya gunakan dengan baik, saya yakin bahwa menuju negara yang maju, kuat dan sejahtera itu akan dapat kita capai.
Saudara-saudara,
Mari kita fokus melihat human capital. Manusia yang kita bangun, bangsa yang kita tuju adalah manusia atau bangsa yang kuat mentalnya, ulet, tidak cengeng, tidak mudah menyerah, tidak mudah mengeluh, tidak mudah dan gampang menyalahkan, tidak menyalahkan diri sendiri apalagi adalah manusia, mahasiswa, taruna, Menteri, saya, semua yang tough, mentalnya kuat, kepribadiannya kuat, perilakunya baik, nomor satu. Jadi, elemen pertama dari human capital adalah mentalitas, kepribadian, ketangguhan manusia, masyarakat dan bangsa, ya bangsa Indonesia.
Yang kedua adalah mereka yang cerdas, knowledgeable, menguasai pengetahuan, mengetahui informasi, teknologi yang sekarang sedang diasah para mahasiswa, para taruna, para pelajar, semua ingin menjadi orang yang cerdas, yang pandai, yang maju. Yang kedua adalah intellectual capital setelah itu tentu kita harus sehat jasmani dan rohani, kuat badan kita, sehat badan kita. Tidak ada artinya mentalnya baik, kepribadiannya baik, tidak pernah menyerah, pandai, tetapi sakit hati dan tidak kuat, tidak tough. Ini yang harus kita bangun. Sesungguhnya pelayaran kebangsaan yang sedang dilakukan ini juga berkaitan dengan kualitas sumber daya manusia, the quality of human capital yang sama kita bangun. Kita menuju kesitu. Persiapkan diri saudara-saudara untuk menjadi manusia seperti itu. Kalau manusia-manusia kita di negeri ini sudah memiliki potensi seperti itu, satu sama lain rukun, bersaudara, kompak, penuh harmoni, saling solider satu sama lain maka human capital itu sekaligus menjadi social capital. Pandai masing-masing, tetapi enggak bisa bersatu, tidak akan jadi.
Saya punya keyakinan dan punya pengetahuan, banyak putra-putri terbaik bangsa yang membanggakan di dalam negeri dan di luar negeri. Saya melihat bibit unggul yang luar biasa, banyak pelajar kita menjadi juara Olimpiade Internasional di Indonesia maupun di luar negeri. Banyak mahasiswa kita di luar negeri masuk Distinguished Graduate, banyak yang mendapatkan hak paten, banyak yang digunakan negara-negara lain sebagai skill workers yang dipuji, seperti yang saya lihat di Timur Tengah kemarin di banyak negara, banyak yang bekerja di sebuah company terkenal, Microsoft. Saya bertemu dengan mereka di Amerika Serikat tahun lalu, 40 orang putra-putri Indonesia, young man and woman, top kualitasnya dan banyak lagi.
Saya tidak menyangsikan, saya yakini banyak individu-induvidu, perseorangan-perseorangan Indonesia, putra-putri kita yang luar biasa. Persoalannya adalah dapatkah semuanya itu disatukan dengan satu semangat untuk melangkah bersama, disinergikan, dijadikan sebuah kekuatan besar untuk mencapai tujuan negara, tujuan bersama kita. Oleh karena itu, tidak berhenti pada kualitas perseorangan pada human capital tadi, tapi harus sekaligus menjadi kualitas dan kekuatan sosialnya, modal sosialnya.
Interaksi para mahasiswa 8 hari adalah potret kecil, adalah model kecil, adalah peluang meskipun kecil yang jangan disia-siakan untuk bagaimana masing-masing belajar berinteraksi, bekerja sama, bersinergi satu sama lain untuk menuju ke tujuan bangsa dan negara kita, yaitu Indonesia yang maju, kuat dan sejahtera, sebagaimana yang saya sampaikan tadi.
Saudara-saudara,
Kalau kita lebarkan lagi, akhirnya Indonesia akan maju 5 tahun lagi, 10 tahun lagi, 15 tahun lagi ke depan kalau kita semua, bangsa ini memiliki kehendak tekad, semangat yang tinggi untuk betul-betul maju dan berhasil, the will fighting spirit. Bukan, “udahlah gini aja, yang penting lumayan”, bukan. Tapi betul-betul maju-maju betulan dari Sabang sampai Merauke, semua, yang tadinya miskin terus meningkat menjadi makin sejahtera, yang tertinggal-tertinggal menjadi maju, yang tadinya ada kesenjangan, makin kecil kesenjangan itu dan akhirnya bangsa kita bersatu, tapi bersatu dalam kemajuan, dalam kemakmuran. Jadi, sangat penting tekad yang membara, keinginan yang kuat, semangat serba bisa, can do spirit. India bisa, kita harus bisa. Vietnam bisa, Indonesia meski bisa. China bisa, Indonesia bisa. Rusia bisa, kita bisa, tidak ada bedanya. Can do spirit. Nah semua itu akan kokoh, kalau kita semua yang di ruangan ini betul-betul mencintai bangsa dan negara Indonesia, mencintai kita. Tanah air kita, bangsa kita, negara kita. Kalau kita cinta pada bangsa kita, enggak rela bangsa kita terbelakang, tidak maju, bodoh, miskin, tidak rela tahun demi tahun harus kita bangun. Itu kecintaan, itulah nasionalisme masa kini, kebangsaan masa kini yang harus kita tumbuhkan dalam era globalisasi, setelah kita dulu bersatu melawan penjajah, setelah kita bersatu menghadapi segala persoalan.
Saatnya telah tiba, kita berkompetisi dengan seantero jagad yang bersama-sama, berlomba-lomba untuk menjadi negara maju dan tidak tertinggal. Nasionalisme kita, rasa cinta tanah air kita harus ke situ. Kita dulu berkorban untuk tanah air, patriotisme, hidup atau mati untuk kemerdekaan. Kita korbankan segala yang kita miliki untuk kemerdekaan. Sekarang kita berkorban, kita berjuang, kita mengambil resiko untuk memajukan semuanya itu di semua cabang.
Intinya nasionalisme, patriotisme, wawasan kebangsaan, rasa kebangsaan, cinta tanah air adalah sesuatu yang harus kita kemas kini kan, kita aplikasikan, kita aktualisasikan menghadapi tantangan masa sekarang ini. Tapi semua itu diperlukan: cinta tanah air, cinta bangsa, bangsa kita majemuk, beraneka ragam, tetapi jangan kemajemukan, keanekaragaman menjadi perpecahan tapi menjadi kesatuan. Sebagaimana 17.000 lebih pulau-pulau di Indonesia, itu bukan dipisahkan oleh lautan, disatukan oleh lautan, we are one, sama suku, suku, suku, daerah, daerah, individu, individu disatukan oleh rasa kebangsaan, oleh cinta tanah air, cinta Indonesia.
Saya mengatakan di banyak kesempatan, kalau saudara berada di luar negeri, entah pertandingan olahraga tingkat dunia, semacam world cup kemarin, begitu Indonesia Raya dikumandangkan, kita mengambil sikap sempurna, itu bisa menetes air mata kita, entah di Eropa, entah di Timur Tengah atau di Amerika. Indonesia Raya dikumandangkan, dapat medali emas, kita diam, bangga, menangis, terharu dan yang ada disitu adalah putra-putri Indonesia, tidak dilihat daerahnya mana, sukunya mana, agamanya apa, ayahnya ikut partai politik mana, tidak ada, Indonesia. Ketika kita datang ke daerah bencana, ke Nias, ke Aceh, ke Alor, ke Nabire, ke Yogya, ke Padang, ke Jember, ke Sulawesi Selatan, kita menolong dengan kasih sayang. Putra-putri Indonesia, enggak dilihat identitasnya, sukunya, agamanya, pendidikannya segala macam, kasih sayang, kedekatan, mereka bangsa kita.
Bagi yang pernah bertugas di daiki Manoala, perang di daerah operali, kalau kita sedang bertempur lawan musuh untuk Sang Merah Putih, untuk NKRI tercinta, setelah pertempuran yang hebat, kawan kita ada yang gugur, tiga hari tiga malam, akhirnya hari keempat kita rebut medan itu, kita naikkan Merah Putih hanya dengan ikat pohon disitu, kita mengheningkan cipta buat teman-teman kita yang gugur ketika merebut ketinggiin itu, menangis, karena Indonesia. Itulah patriotisme, itu cinta tanah air, cinta negara, cinta bangsa. Patriotisme dan nasionalisme bisa diaplikasi dimana saja, bukan hanya oleh prajurit-prajurit militer, siapa saja, oleh guru, oleh dokter, oleh teknolog, oleh pemuka agama, siapa saja yang baik untuk bangsanya, yang baik untuk negerinya, yang baik untuk kita semua, itulah nasionalisme dan patriotisme. Itu yang meski tumbuh dari kita semua.
Saya banyak berkunjung ke negara lain. Saya lihat pemuda-pemuda negara-negara yang maju itu cita-citanya tinggi, belajar dari sejarah, belajar dari pendahulu-pendahulunya. Mengerti tantangan-tantangan global, mengerti hakekat dari kompetisi dan persaingan dan lain-lain. Saya berharap, saudara semua bisa memiliki konstruksi pemikiran seperti ini, melangkah ke depan sesuai dengan karier saudara, profesi saudara, jenjang pengabdian saudara masing-masing menuju masa depan yang kita cita-citakan bersama. Gunakan kesempatan Pelayaran Kebangsaan ini untuk saling mengenal. Tadi dikatakan ada Suku Has yang ada di Bangka. Saya kira di Indonesia itu adalah puluhan, ratusan identitas-identitas, tapi mereka adalah keluarga besar kita semua, Bhineka Tunggal Ika. Semua kemajemukan itu indah dan harus menjadi tekad kita untuk menjadi kekuatan yang solid, yang kompak, yang tangguh mencapai tujuan yang kita harapkan semua.
Saudara-saudara,
Itulah pesan saya, harapan saya dan 8 hari jangan disia-siakan. Tulis memori, berinteraksi dengan semua mungkin pengalamannya berbeda-beda, cara pandangnya, mungkin gayanya, tapi anggaplah itu keindahan diantara keberbedaan kita. Saya ingin sukses pelayaran ini, saya ingin mendapatkan hikmah, mendapatkan pelajaran setinggi-tingginya dan harapan saya justru setelah pelayaran ini usai, saya ingin saudara semua maju ke depan lagi. Saya tunggu pengabdian saudara untuk negara kita. Dan saya katakan tadi, saya mendoakan supaya muncul putra-putri terbaik dari saudara semua yang saya berikan contoh bisa berada di ruangan ini, dilantik, diambil sumpahnya untuk mengemban tugas-tugas yang mulia.
Selamat menjalankan tugas pelayaran, selamat menempuh pendidikan, selamat untuk memajukan diri demi bangsa dan negara tercinta. Kepada para pelatih, pengarah dan segala macam, arahkan dengan baik, selamat menjalankan tugas dan Tuhan beserta kita.
Sekian.
Wassalamulaikum Warrahmatullahi Wabarrakatuh.
*****
Biro Pers dan Media
Rumah Tangga Kepresidenan



